Cepat banget update-nya? Hahaha... kaget yak? /slapped
Etto... pertama-tama mbak ingin minta maaf dulu karena menggeser rate dr T jadi M (padahal maunya tengah2 antara T dan M karena memang enggak vulgar amat sih...)
Hmm? Kenapa?
Ah... karena readers tahu sendiri dari semua chapter ini ada aja adegan yang... mengguncang kestabilan iman, 'kan? /bahasamuketinggianmbak
Jadi, mbak putuskan akan lebih baik menggeser rate-nya supaya dedek-dedek gemesh yang usianya di bawah 17 atau 18 tahun juga readers yang enggak nyaman membaca dengan konten demikian untuk menghindari membaca fiksi ini, oke? Supaya enggak ada yang protes atau koar-koar drama gajebo di reviews juga, sih... ugh, tahu sendiri kalau mbak biar sangar sangar pervy tapi hati masih Hello Kitty :3 /sokimutlu
Hmm... okei, gitu aja sih intinya.
Oh iya, momen NicoNozo di sini terinspirasi dari anime Tonari no Kaibutsu-kun, hehehe...
What are you waitin for? Let's check it out!
Slack Off
Tidak terasa Jepang telah memasuki musim gugur. Ya, musim yang kata para pasangan adalah musim penuh cinta selain tiga musim lainnya dikarenakan suasana dingin nan sejuk juga pohon-pohon yang mulai menggugurkan daunnya. Musim gugur juga berarti tanda bagi para anak sekolah untuk mengenakan seragam mereka lengkap dengan blazer atau cardigan mereka kembali.
Para murid kelas tiga di Otonokizaka pun harus mengucapkan selamat tinggal untuk sementara pada kegiatan klub mereka dan menyerahkan tanggung jawab pada para junior-nya, seperti Eri, Nozomi, Wada, dan anak-anak OSIS lainnya yang menunjuk anak-anak kelas dua untuk mengambil alih posisi mereka. Wajar saja, sebab para murid kelas tiga mulai memasuki musim-musim try out dan pendalaman materi yang diadakan setiap dua hari sekali setelah pulang sekolah.
Eri yang sejak diajak bergabung dengan µ's oleh Kazuya pun menaruh kepercayaan pada pemuda berambut ginger itu agar menjadi ketua OSIS menggantikan dirinya. Tentu saja, awalnya Takumi protes habis-habisan mengingat Kazuya yang selebor sekali bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja patut dipertanyakan. Namun dikarenakan tidak ada sistem pemilihan calon anggota OSIS dengan mengambil suara dari tiga angkatan maka keputusan Eri adalah mutlak.
Ah, ya… selain itu, setelah 'insiden Allen' tempo hari entah mengapa tindakan Takumi semakin sulit ditebak. Pemuda itu mulai sering menarik Eri ke ruang klub peneliti idol, tepatnya ke sisi paling dalam di mana terdapat ruang yang lumayan luas dengan loker khusus para anggota. Kemudian setelah duduk di lantai dalam diam, Takumi tiba-tiba memeluk dan mencium bibir Eri. Kelakuannya ini tidak terjadi sekali atau dua kali bahkan hampir setiap hari setiap ia melihat Eri tengah gabut atau saat jam istirahat makan siang.
"Nee, Takumi? Kali ini bisakah kamu jelaskan ada apa denganmu?" Eri mencoba mengajaknya bicara.
Takumi bangkit dan menutup gorden kemudian ia memojokkan Eri yang tengah duduk di atas lantai ke loker di belakangnya sambil bersimpuh. Tatapan Takumi tampak kosong seolah ia tengah depresi akan sesuatu, namun tak pernah bisa ia katakan pada kekasihnya itu.
"Umm… Takumi?" Eri berusaha menyadarkannya sambil memegang tengkuk Takumi.
Takumi pun memanfaatkan kesempatan itu dengan mencium bibir sang gadis seperempat Russia itu. Walau sudah jadian lumayan lama sejak sebelum musim panas tetap saja Eri tidak terbiasa dengan ciuman Takumi yang sering tiba-tiba itu apalagi jika Takumi menciumnya tanpa ada maksud atau alasan tertentu.
"Tu, Ta… Takumi… ummmph…" tak heran kalau Eri merasa begitu sesak dan meronta agar Takumi menghentikan aksinya itu.
Takumi menghentikan ciumannya dan mengambil jeda sebentar.
"Takumi?" panggil Eri dengan wajah memerah.
Tanpa mengidahkan panggilan gadis itu, pemuda bermanik amber itu kembali menyambar bibir merah muda sang gadis pemilik surai blonde itu. Eri pun mengerti kalau Takumi tengah tertekan atau depresi akan sesuatu sehingga pemuda itu melampiaskannya dengan menciumnya meski bisa dibilang dengan 'agak paksa'. Eri akhirnya menerima dengan lapang dada ciuman mesra dari sang kekasih sambil balas mendekapnya dengan erat.
"Nee, Takumi? Tolong, dengarkanlah aku," kata Eri begitu Takumi selesai menciumnya. Kini mereka masih berpelukan dengan dagu yang ditempelkan ke bahu satu sama lain.
Takumi hanya terdiam sambil menunduk.
"Maukah kamu ceritakan padaku apa yang membuatmu berubah sampai seperti ini?" tanya Eri. "Kumohon, padamu,"
Takumi menggeleng seperti anak manja yang tengah dongkol atau ngambek akan sesuatu.
"Mou… apakah kamu tidak percaya padaku? Lantas kenapa kamu lari padaku hampir setiap hari demi melampiaskan perasaanmu yang enggak jelas itu?" Eri tetap tidak menyerah untuk membujuknya. "Kau tahu? Aku sangat takut padamu saat ini!"
"Eh?" tentu Takumi kaget mendengarnya karena meski sedikit ia pun mulai merasa bersalah pada gadis itu yang sudah seperti 'samsak' untuk melampiaskan semua uneg-unegnya.
"Kalau aku ada salah padamu aku minta maaf padamu… hiks…" kartu ace andalan Eri pun mulai bergerak, yakni air matanya yang mulai menetes. "Kalau kamu sakit aku akan berusaha untuk merawatmu… kalau kamu ada masalah maka curhatlah padaku… apakah kepercayaanmu segitu dangkalnya padaku? Memangnya, kamu pikir aku ini siapa untukmu…?"
Takumi merasa terenyuh kemudian ia memeluk sambil mengelus-elus kepala Eri. "Maaf, Eri… maafkan aku…"
"Makanya katakanlah padaku, dasar, Takumi bodoh…!" isak Eri sambil membenamkan wajahnya pada dada kekasihnya itu.
"Boleh saja," jawab Takumi sambil menyeringai. "Tapi ada syaratnya,"
"HAH? Apaan, sih?!" seru Eri kesal karena Takumi kebanyakan maunya.
"Aku ingin menggigit lehermu," kata Takumi sambil tersenyum mengerikan.
"E, eh…? Tu, tunggu! Kumohon, apapun selain itu!" pinta Eri. "Kita sedang di sekolah, Takumi! Bagaimana kalau ada yang melihat?!"
"Itu mustahil, Eri," jawab Takumi. "Kamu lupa kalau ruang loker di klub kita tidak ada CCTV-nya?"
Ah, iya juga… gumam Eri yang semakin berkeringat dingin.
"Atau kau ingin kucium hingga bel pendalaman materi berbunyi?" Takumi menawarkan opsi lain.
"Ba, baiklah…" kata Eri pasrah. "Tapi kamu janji akan mengatakan alasan dari apa yang kamu lakukan sampai hari ini, 'kan?"
"Tentu saja," jawab Takumi sambil kembali tersenyum manis. "Nah, aku permisi sebentar, ya…"
Takumi membuka seluruh kancing blazer Eri, melepas pita hijau di kerah gadis itu, dan membuka tiga kancing atas kemeja Eri hingga branya agak terekspos. Setelah persiapan selesai, Takumi mulai menciumi leher gadis itu sambil sesekali menggigit beberapa bagian dengan nafsu.
"Ngggggh…" desah Eri sambil mencengkeram bagian dada pada blazer Takumi. "I, ittai!"
"Sabar lah, sedikit lagi…" kata Takumi manja sambil menempatkan tangan kanannya di bahu kanan Eri untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Pa, pastikan kamu menggigit bagian yang tidak terlihat dari luar, oke?" kata Eri sambil menahan sakit. "Aku akan tutup mulut jika kamu menuruti kata-kataku,"
"Dengan senang hati, Erichika-ku," jawab Takumi sambil menggigit bagian dekat tulang selangka yang tentunya akan tersembunyi jika kemejanya kembali dikancingkan.
"Aaaaaaaargh…!" Eri menjerit begitu keras tatkala Takumi menggigit bagian itu.
Ya, Takumi menggigitnya lebih kuat dibandingkan yang tadi seolah benar-benar niat untuk menghadiahkan kiss mark di kulit putih pucat itu.
"Oke, oke, stop di situ, aho samurai!" kata Nico yang tahu-tahu sudah ada di ruangan bersama Nozomi sambil menarik seragam Takumi layaknya anak kucing.
"Oh, ayolah, Nico-senpai~" rajuk Takumi sok imut.
"Kau ingin kuhajar sampai jelek, ya?" balas Nico yang urat-uratnya sudah seperti ingin mencuat keluar.
Nozomi masih saja diam sampai-sampai Nico gregetan.
"Oi, cewek mesum berdada besar! Katakanlah sesuatu, sialan!" seru Nico sebal.
"Ka, kalian… sudah melebihi ekspektasi mama, hiks…" lagi-lagi tingkah keibuan yang jijay ala Nozomi pun keluar.
"Gue hajar lu sampai 'kempes' beneran, dah!" Nico masih saja tsukkomi.
"Ah, oke, okei…" kata Nozomi cuek. "Sini, biar kubantu kamu merapikan pakaian dan rambutmu, Ericchi,"
"Te, terima kasih, Nozomi…" kata Eri lemas.
Setelah seragam dan rambutnya kembali normal, mereka berempat pun duduk di ruangan utama klub peneliti idol untuk membicarakan masalah yang dipendam Takumi.
"Ah, baiklah… jadi, kau ada masalah apa sampai sesadis itu pada Eri hampir seminggu ini?" tanya Nico mengawali percakapan.
Takumi malah diam saja sambil merengut.
"Oi, tinggal jawab apa susahnya, sih?!" seru Nico naik pitam sambil mencengkeram leher seragam Takumi.
"Sabar, Nicocchi, sabar…" Nozomi berusaha menenangkan Nico.
"Sabar, ndasmu! Kau juga lakukan sesuatu, kek!" jawab Nico. "Kamu enggak kasihan sama Eri, apa?!"
"Hahaha, iya, iya… maka dari itu Nicocchi kalem dulu, oke?" kata Nozomi sambil mengedipkan sebelah matanya kayak bocah cacingan.
Nico menghela nafas dan berusaha mendinginkan kepalanya. "Ya, baiklah…"
"Nah, biar aku yang tanya, deh," kata Nozomi kemudian. "Kamu ada masalah apa, Tacchan? Siapa tahu kami bisa bantu kamu, boleh, 'kan?"
Takumi menggaruk tengkuknya. "Ini… masalah pribadiku dengan Eri dan jujur saja aku enggak begitu ingin ada pihak lain yang ikut campur,"
"Oi!" Nico sudah kembali bangkit saja untuk menghajar junior-nya itu.
Nozomi berusaha menghentikan Nico dengan menghalanginya dengan lengan kirinya. "Masalah pribadi? Serius bisa kamu selesaikan sendiri?"
"Ya, aku harap begitu," jawab Takumi.
"Kasih jawaban yang jelas, kek, sialan! Jangan kamu permainkan tubuh anak orang demi 'dear diary' harianmu, bodoh! Kau pikir tubuh perawan itu murah, apa?!" bentak Nico yang emosinya belum juga turun dari tadi. "Kalau kami enggak datang ke sini mungkin kau akan mengambil milik Eri, ya, 'kan?! Jawab gue, Sonoda Takumi!"
"Tutup mulutmu, senpai kerdil," kata Takumi yang tersinggung sambil menatap Nico tajam.
"HAH? Udah berani ngelawan lo sekarang sama gue?" jawab Nico tak kalah sengit. "Silakan, Takumi! SILAKAN! Dan gue akan menyebarkan apa saja yang telah lo lakukan pada Eri sejak di hotel waktu itu, biar tahu rasa lo!"
"Duh, udah, udah, udah!" Nozomi berdiri di antara mereka untuk menghentikan pertengkaran itu. "Kalian jangan pada kayak bocah begini, dong! Mama 'kan jadi kewalahan, tahu!"
"LU JUGA ENGGAK USAH SOK MAMA-MAMA-AN, DEH!" balas Takumi, Nico, dan Eri. "Jijik tahu, enggak?!"
Nozomi pun duduk sambil memeluk lutut di pojok ruangan. "Iya, dah mah hayati teh apa atuh?" kata Nozomi sok melodramatis.
"Udahlah, cuekin aja si mama rada-rada itu," kata Nico kemudian. "Aku juga bingung mau bantu kalian bagaimana kalau Takumi saja enggak mau buka mulut,"
"Yuk, Nozomi!" kata Nico sambil menyeret Nozomi keluar ruangan. "Percuma aja kita comblangin dua anak sok eksis ini!"
Nico dan Nozomi pun berlalu sambil membanting pintu.
"Sekarang kamu mau ceritakan padaku, 'kan, Takumi?" kata Eri sambil mengelus-elus pipi kekasihnya itu. "Anggap saja sekarang aku ini Izumi-san supaya kamu enak cerita kenapa-kenapanya,"
Takumi bergidik ngeri mendengar nama itu dan langsung mundur menjauhi Eri seperti orang yang melihat kecoa saja.
"Lah? Kamu kenapa?" tanya Eri bingung.
Takumi pun bangkit dari kursinya. "Sudahlah, bel sebentar lagi akan berbunyi jadi kapan-kapan saja ceritanya,"
"Tunggu!" seru Eri sambil menarik lengan Takumi.
Takumi pun menoleh dan menatap gadis itu.
"Kamu jangan curang, dong!" protes Eri. "Kamu sendiri yang bilang akan mengatakannya! Aku juga sudah ikhlas ridho membiarkan leherku digigitmu demi bisa membantu menyelesaikan masalahmu!"
Takumi memeluk Eri dan menepuk-nepuk punggungnya. "Udah, nanti akan kuberitahu kalau waktunya tepat. Sekarang lebih baik kamu tenangkan dirimu dulu agar bisa belajar dengan tenang, oke? Kamu ingin kita tetap pacaran dan nilai-nilaimu juga tetap bagus, begitu, 'kan?"
Eri menghela nafas. "Baiklah, tapi kamu janji enggak akan PHP-in aku, 'kan?"
"Janji, lah," jawab Takumi sambil mengecup dahi kekasihnya itu. "Berjuanglah, Eri,"
Pipi Eri pun merona merah. "Ya, aku balik ke kelas dulu, ya,"
"Oh? Kau sudah selesai?" sapa Takumi yang tengah bersandar di pintu gerbang SMA Otonokizaka.
"Tunggu, kenapa kamu menungguku?" tanya Eri yang lumayan terkejut akan kehadiran pemuda berambut biru itu. "Aku bahkan enggak memintamu melakukannya, 'kan? Ugh… aku jadi merasa bersalah, nih!"
"Yo, Eri-chan!" sapa Kazuya yang bersembunyi di belakang Takumi.
"Selamat sore, Eri-chan!" Kotori ternyata juga ikut.
"Bahkan Kazuya dan Kotori juga?" kata Eri. "Mou! Kamu jangan merepotkan mereka, dong, Takumi!"
"Ahahaha… bukan begitu, Eri-chan!" kata Kazuya sambil menggaruk tengkuknya. "Malah kami yang ingin merepotkan kalian, nih!"
"Eh? Apa maksudmu, Kazuya?" tanya Eri bingung.
"Lihat, lihat!" seru Kotori heboh sambil menunjukkan pamflet yang mempromosikan kafe yang baru buka di depan stasiun. "Ayo, kita houkago double date ke sini, Eri-chan!"
"Ho, houkago double date? Tu, tunggu! Tunggu! Ada apa, sih, dengan kalian hari ini?" Eri tentu saja bingung menerima ajakan itu, terlebih lagi ini pertama kalinya Kazuya dan Kotori begitu lugas memamerkan hubungan mereka.
"Hihihi, masa' kamu lupa, Eri-chan?" gelak Kotori sambil merangkul lengan kanan Kazuya. "Aku dan Kazuya-kun 'kan sudah resmi jadian sejak kita pulang dari TC kemarin itu, lhoooo…"
"Makanya, kami yang bisa dibilang masih awam ini ingin sharing bareng kalian yang… sudah tidur satu ranjang dua kali," ujar Kazuya sambil melirik mereka dengan mata jahilnya yang seperti biasa.
"Mo, mou! Kazuya! Jangan katakan itu, dong!" seru Eri panik sambil menutup mulut Kazuya dengan kedua tangannya. "Kamu juga katakan sesuatu, dong, Takumi!"
"Aku sih memang sudah setuju mau ikut mereka," jawab Takumi. "Tinggal menunggu jawabanmu saja sebetulnya dari tadi, tuh,"
"E, eh? Begitu, ya?" Eri entah kenapa merasa dirinya begitu cengo.
"Hahaha! Sudahlah, enggak usah dipikirkan!" kata Kazuya sambil merangkul ketiga temannya itu. "Yuk, kita capcuuuuus!"
"Ou!" sorak Kotori tak kalah semangat.
"Uwaaah… kafe ini memang hebat!" kata Kazuya sambil memegangi perutnya yang membuncit karena kekenyangan.
"Hehehehe, saking murahnya kamu sampai khilaf tiga gelas parfait, ya, Kazuya-kun?" kata Kotori sambil membersihkan sekitar bibir Kazuya yang belepotan krim.
Takumi hanya menatap Kazuya dengan agak ngeri karena tidak disangkanya nafsu makan pemuda berambut ginger itu semakin parah begitu masuk SMA.
"Ah! Tapi tenang saja, Takumi-kun!" kata Kotori tiba-tiba. "Aku akan membantunya diet, kok! Jadi, jangan marah, oke?"
Takumi hanya diam sambil mengaduk-aduk es krimnya. Wajahnya pucat dan agak memerah. Eri yang khawatir pun menempelkan telapak tangannya ke dahi Takumi. Benar saja, pemuda itu demam tinggi sehingga Eri pun membantunya berdiri.
"Gomen, Kazuya, Kotori! Takumi sepertinya mulai demam, nih! Kami pulang duluan, ya!" kata Eri pamit sambil berlalu dengan memapah Takumi.
Sepanjang perjalanan, Takumi terus menyandarkan kepalanya ke bahu Eri sehingga gadis itu hanya bisa menatapnya penuh iba.
"Temanmu tidak apa-apa, nona?" tanya Pak supir taksi sambil melihat keduanya melalui kaca spion.
"Sepertinya dia kecapekan banget," jawab Eri. "Makanya, aku sengaja memanggil taksi bapak supaya bisa mengantarnya pulang,"
"Hmm… baguslah, ternyata masih banyak anak muda yang peduli pada sesamanya," kata Pak supir. "Pemuda itu beruntung sekali punya teman yang baik seperti nona, ya,"
"Hehehe, terima kasih, Pak," ucap Eri sambil tersenyum.
Mereka pun sampai di depan kediaman Sonoda. Eri pun memapah Takumi ke kamarnya dan membaringkannya di futon. Kemudian ia keluar menuju dapur untuk mengambil kain kompres, air dingin, dan obat-obatan.
"Lho? Sejak kapan aku sudah di rumah?" tanya Takumi begitu Eri menempelkan kompres ke dahinya.
"Hei? Kamu enggak sadar sudah kupapah dari kafe sampai sini, apa?" kata Eri sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Serius? Kamu? Bukannya tubuhku berat, ya?" tanya Takumi sangsi.
"Ya, habis… gimana lagi? Masa' sih aku tega membiarkanmu ambruk di jalan?" jawab Eri. "Untung saja, aku menyadari keadaanmu lebih cepat!"
Takumi menutupi kedua matanya dengan lengan kirinya dan air matanya mulai menetes. "Maaf… maafkan aku, Eri…"
"Iiiih, apaan, sih? Dikit-dikit kamu nangis dan minta maaf, tapi kamu enggak pernah menjelaskan alasan di balik semua itu!" dengus Eri. "Aku 'kan sudah bilang, percayalah padaku! Kalau ada yang mengganggu atau menyakitimu maka katakanlah padaku! Kamu kenapa, sih?"
Takumi pun bangun dan memeluk Eri. "Aku takut, Eri…"
"Takut akan?"
"Aku takut kejadian yang menimpamu di UTX terjadi lagi karena kelemahanku…" jelas Takumi. "Setiap hari aku berlatih, berlatih, dan berlatih, namun… aku tetap takut, Eri…"
Eri menghela nafas. "Dasar, jadi itu yang membuatmu sampai seagresif itu selama hampir seminggu ini?"
"Aku ingin mengatakannya padamu, tapi kalau kukatakan pasti kamu akan menjawab itu semua bukan salahku dan itu sama sekali enggak membuatku tenang!" ujar Takumi. "Apa yang harus kulakukan agar kamu selalu aman dan selalu di sisiku, Eri? Kumohon, jawablah aku…"
"Udah, udah… jangan nangis lagi, oke?" kata Eri kalem sambil mengelus-elus punggung Takumi. "Aku mengerti perasaanmu, kok,"
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Hmm… bagaimana kalau kamu mulai mengajariku bela diri?" usul Eri.
"HAH?" Takumi tentu saja cengo.
"Ya… kamu 'kan bukan Tuhan yang selalu siap menolong hambanya setiap waktu dan di mana pun, 'kan?" ujar Eri. "Jadi, kupikir akan lebih baik kalau aku seenggaknya tahu dasar-dasar bela diri supaya kalau kamu sedang jauh dariku, aku tetap bisa melindungi diriku sendiri, bagaimana?"
"Kamu sanggup?" tanya Takumi cemas.
"HALO? Kamu lupa kalau aku ini 'kashikoi kawaii Erichika', ya?" jawab Eri dengan sedikit narsis.
"Dasar, bela diri itu bukan balet, tahu!" dengus Takumi.
"Tapi tubuhku cukup lentur untuk itu, kok!" jawab Eri membela diri. "Aku juga bisa split yang merupakan dasar dari bela diri!"
"Ya sudah, tapi kamu serius, 'kan?" Takumi pun menyerah.
"Huh! Tentu saja!" jawab Eri mantab. "Mohon bantuannya mulai besok, ya, master Sonoda!"
"Dasar, kamu ini ada-ada saja," komentar Takumi yang gemas menanggapi kelakuan pacarnya itu.
Di atap sekolah…
"Yak, misi kita sukses, Nozomi!" kata Nico yang ternyata semenjak tadi menguping pembicaraan Takumi dan Eri dengan menugaskan Kazuya dan Kotori untuk memasang penyadap di tas pasangan itu.
Nozomi tidak menjawab. Saat menoleh, Nico baru sadar sejak tadi Nozomi tertidur sambil bersandar di bahunya.
Huh! Harusnya tiap hari saja kau tidur, bodoh… sial, kenapa dia begitu manis saat tidur, sih? kata Nico dalam hati.
"Nggggh… Nicocchi? Bagaimana?" Nozomi tiba-tiba terbangun.
"Ah, bangun juga lo," kata Nico. "Sukses, kok,"
"Apa kataku? Kalau kepala kita dingin semua masalah juga beres, 'kan?" kata Nozomi dengan bangga karena memang double date itu adalah rencananya.
"Iya, iya, terima kasih, Bu!" jawab Nico cuek.
"Heh, siapa juga yang ibumu?" dengus Nozomi.
"Hahahaha!" Nico hanya tertawa sehingga membuat semburat merah memenuhi wajah si gadis maniak tarot itu karena terpesona.
"Hoaaaahm… masih sore, tapi aku udah ngantuk saja," keluh Nozomi sambil menutupi mulutnya yang tengah menguap lebar.
Bruk! Nico pun menarik paksa bahu Nozomi hingga kepala gadis bersurai ungu itu terbaring di pahanya.
"Ni, Nicocchi?" Nozomi tentu saja kaget dan lumayan sakit juga dibanting walau dengan ringan seperti itu.
"Tidurlah dulu," kata Nico sambil melipat kedua tangan di belakang kepalanya dan bersandar ke tembok. "Supaya nanti kamu bisa belajar lagi di rumah,"
"A, adik-adikmu, gimana? Mereka menunggumu, 'kan?" tanya Nozomi yang merasa tak enak.
"Tenang, Kokoro sudah kuajari cara menghangatkan makanan, kok," jawab Nico sambil nyengir. "Aku sudah memasak tadi pagi jadi dia tinggal menghangatkannya saja, hehe… adik-adikku itu pintar, lhoooo… kayak kakaknya ini!"
"Sasuga Nicocchi, hihihi…" gelak Nozomi. "Kalau begitu, bangunkan aku begitu langit mulai gelap, oke?"
"Siap, komandan!" jawab Nico sambil memberi hormat.
Gadis bersurai ungu itu pun mulai terlelap dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.
