Huweee... maaf karena update semakin lemot :'(
Oh ya, setelah mbak diskusi dengan mbak Lemonchi akhirnya mbak memutuskan untuk kembali ke rate T sesuai dengan summary yang telah mbak edit
Kenapa? Etto... mungkin mbak belum siap mental menulis yang vulgar-vulgar, ohohohohoho... /slapped
Memang sih... ultah Eri masih lama, tapi enggak mungkin juga mbak tega membuat para pembaca yang sudah mendukung mbak selama ini digantungin begitu lama /apasihRef
Udah, intinya gitu, sih... let's check it out!
Happy Birthday, Dear Erichika
"Ayase-san tampaknya senang sekali, ya?"
"Baru kali ini gue lihat dia kegirangan seperti itu,"
"Ih, kalian ini kayak enggak tahu aja? Besok 'kan hari ula—"
Siswi teman sekelas Eri yang hendak nyeletuk itu pun langsung dibekap mulutnya oleh Wada dan Nico lalu ditarik ke luar kelas.
"Oi, jangan cengengesan aja, mbak," tegur Nozomi membuyarkan lamunan Eri. "Masih bersih banget itu tugas pendalaman materi matematika dari Tanaka-sensei!"
"Duh, kamu ganggu aja, deh, Nozomi~" dengus Eri yang senyumannya malah semakin lebar seperti orang bego. "Kamu lupa kalau tugas ini dikerjakan di kertas ulangan, ya?"
"Oh, bagus lah," jawab Nozomi. "Kukira kamu udah lupa dunia,"
"Dasar, benar kata Nico kalau mulutmu itu harus disekolahkan lagi, ya?" kata Eri sambil tersenyum kecut.
"Lagian, siapa juga yang enggak geli lihat cewek yang biasanya jutek macam ibu tiri tahu-tahu cengengesan sendiri kayak orang yang otaknya geser?" sindir Nozomi.
"Huh, biarin!" jawab Eri sambil nyengir.
Nozomi pun menghela nafas. "Boleh aja sih kegirangan menantikan hari esok, asal jangan sampai jeblok aja itu nilai!"
"Hahaha, beres, Bu!" jawab Eri sambil memberi hormat.
"Siapa juga yang ibumu?!" protes Nozomi.
"Lah? Biasanya juga gayamu sok ke-mama-mama-an, 'kan?" balas Eri.
Keduanya pun tertawa.
Smartphone Eri berdering. Eri membukanya dan mendapati pesan dari chat group µ's yang memberitahukan kalau latihan hari ini dibatalkan karena hujan deras. Eri menghela nafas karena dirinya jadi tidak bisa bertemu Takumi (yang memang beberapa hari ini tak bisa ikut latihan karena fokus di klub Kyuudo) dan juga karena dirinya lupa membawa payung sehingga tak bisa pulang. Koperasi sekolah sudah tutup dan Eri juga malu untuk menggunakan payung milik siswa yang ketinggalan di ruang OSIS. Eri pun mau tak mau duduk di ruang klub sambil menunggu hujan reda.
"Oh, Eri-chan? Kok, belum pulang?" sapa Kazuya begitu masuk ke ruang klub.
"Aku lupa bawa payung, nih," jawab Eri.
"He? Enggak biasanya Eri-chan yang teliti bisa lupa juga," komentar Kazuya.
"Te, teliti? Biasa saja, kok!" kata Eri tersipu malu. "Kamu terlalu berlebihan, Kazuya!"
"Oh ya, gimana kesanmu setelah jadi ketua OSIS?" tanya Eri sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Ahahaha… rasanya aku ngerti kenapa kalian bisa begitu disiplin," jawab Kazuya lemas. "Kerjaan yang enggak ada habisnya, atribut seragam harus lengkap, dikit-dikit disuruh guru, ugh… repot, deh, intinya!"
"Bagus, 'kan? Dengan begitu kamu bisa tunjukkan ke wakil ketua OSIS yang bawel itu kalau kamu bisa berubah jadi pribadi yang lebih baik berkat kegiatan di OSIS, hehe," ujar Eri.
"Sebelum bisa menunjukkannya aku sudah lemas duluan karena terus dimarahi olehnya, tahu…" jawab Kazuya sambil membenamkan kepalanya ke atas meja. "Pacarnya Eri-chan itu raja tega banget, deh…"
"Hihihi… memangnya kamu dimarahi karena apa lagi, sih?" tanya Eri. "Coba kamu ceritakan,"
"Eri-chan sendiri tahu kalau ngerjain kerjaan OSIS itu butuh banyak tenaga, 'kan? Waktu aku mau membeli roti melon-nya Ibu Kantin, Takumi-kun langsung menarikku balik ke ruang OSIS, dan tahu enggak aku dikasih apa buat mengganjal perut? Biskuit oat! Gila, apa, tuh anak? Memangnya aku anak cewek yang lagi diet, apa?!" gerutu Kazuya. "Biar dibilang oat itu lama dicernanya dan bisa membuat perut kenyang lumayan lama, tapi… ya ngerti lah ya, Eri-chan?
Eri pun manggut-manggut. "Hmm… lalu, ada lagi, enggak? Enggak usah malu-malu curhat denganku, Kazuya,"
"Akhir-akhir ini Yukio sering ngeles ke ibu kalau dia ada bimbel atau pendalaman materi sehingga shift jaga toko pun dilimpahkan padaku," lanjut Kazuya. "Makanya aku bingung gimana caranya aku bagi waktu supaya latihan, kerjaan di OSIS, dan membantu ibuku jaga toko bisa tuntas semua, tapi ya gitu… Takumi-kun tetap aja enggak mau tahu,"
"Baiklah, nanti aku marahi Takumi," kata Eri sambil mengelus-elus kepala Kazuya seperti adiknya sendiri. "Oh ya, ngomong-ngomong hari ini kamu enggak ada kerjaan OSIS?"
"Ada, sih…" jawab Kazuya.
"HAH? Terus, kamu ngapain di sini?"
"Ngumpet dari kejaran Takumi-kun," jelas Kazuya. "Tahu, enggak? Aku diuber-uber sama dia sampai muterin sekolah sebanyak lima kali!"
"Uwah… hebat juga kamu bisa lolos dari dia," komentar Eri.
"Takumi-kun 'kan lagi diharamkan sama pelatihnya untuk pergi ke klub lain," ujar Kazuya. "Makanya dia enggak mungkin mengejarku sampai ke sini,"
"Hahaha... kamu ini ada-ada saja," gelak Eri. "Kotori di mana?"
"Dia ada urusan mendadak makanya enggak bisa ikut bantu ngerjain kerjaan OSIS," jelas Kazuya. "Ini juga sebetulnya aku ada shift jaga toko, gara-gara dikejar Takumi-kun aku jadi enggak bisa pulang,"
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang mengerjakan tugasmu?" tawar Eri.
"Eh?! Ja, jangan, Eri-chan! Nanti aku bisa direbus Takumi-kun!" tolak Kazuya yang merinding membayangkan hukuman yang akan diberikan Takumi padanya.
"Tenang, kamu pulang saja, gih," kata Eri. "Takumi juga enggak mungkin ngecek ruang OSIS karena itu juga termasuk zona haram yang ditetapkan pelatihnya, 'kan?"
"I, iya, sih…" jawab Kazuya. "Tapi aku beneran ngerasa enggak enak sama Eri-chan, nih!"
"Udah, enggak apa-apa!" kata Eri sambil mendorong Kazuya keluar dari ruang klub. "Kasihan ibumu kerepotan di rumah, sudah, sana pulang!"
"Haaaah… padahal aku sudah mengerjakannya selemot mungkin sembari menunggu, tapi hujannya malah makin deras," keluh Eri begitu selesai memakai sepatunya.
Eri pun berdiri sambil bersandar di loker sepatu yang tepat berada di depan pintu.
"Kamu belum pulang?" Eri tersentak mendengar suara nge-bass yang dirindukannya.
Matanya berkaca-kaca begitu menoleh ke sosok bermanik amber yang kini berdiri di sebelahnya. "Ta, Takumi…"
"Hei, apa-apaan tampangmu itu?" tanya Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tanpa ba-bi-bu Eri pun langsung memeluk pacarnya itu dengan erat. "Aku kangen padamu, bodoh!"
Takumi tentu saja panik dan langsung memperhatikan sekeliling berharap tidak ada orang yang melihat momen itu.
"Oh, oke, oke! Jadi, bisa lepaskan aku sekarang?" kata Takumi.
"Haha, enggak biasanya kamu jaim," ledek Eri sambil melepaskan pelukannya.
"Be, berisik…" kata Takumi sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
"Iya, iya, kamu enggak mau ketahuan tengah menjalin hubungan denganku, 'kan?" kata Eri. "Terutama sama pelatihmu yang anggun itu,"
"Hei? Aku enggak bilang begitu, ya," jawab Takumi. "Kamu kok dikit-dikit cemburu, sih? Bahkan sama Ayu-sensei, pelatihku?"
"Heh? Jadi, kamu sudah seakrab itu sampai memanggil nama kecilnya, ya?" kata Eri.
"Jangan salah paham! Semua anak klub Kyuudo juga memanggilnya seperti itu!" jawab Takumi.
"Iya, iya, maaf…" kata Eri cuek.
"Dasar, kamu sendiri kenapa belum pulang, coba?" tanya Takumi.
"Hmm… kenapa, ya~? Karena nungguin kamu, deh, kayaknya?" jawab Eri dengan agak manja.
"Palingan lupa bawa payung, ya, 'kan?" balas Takumi dengan ekspresi datar yang lumayan ngeselin.
"Cih! Takumi enggak asyik!" dengus Eri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, maaf, deh kalau aku enggak asyik," jawab Takumi sambil mengambil payung lipat di tasnya. "Yuk, kita pulang bareng,"
Senyum kembali terlukis di wajah putih pucat itu begitu pemuda bermanik amber mengulurkan tangan kepadanya.
Canggung! Sumpah, kapan terakhir kali kita saling diam begini, coba?! kata Eri dalam hati karena selama perjalanan keduanya sama-sama membisu.
Eri memperhatikan bagian kiri seragam Takumi yang basah kuyub karena terkena tetesan air hujan. Wajar saja, sebab payung itu tidak cukup besar untuk digunakan berdua sehingga Takumi cuek saja dirinya basah kuyub demi melindungi Eri. Setiap berusaha bergeser agar keadaannya impas pun Takumi langsung menarik dan mendekapnya. Ingin rasanya Eri berbicara akan hal itu, namun melihat Takumi yang begitu letih karena latihan di dojo membuat gadis itu mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk tetap diam.
"Kyaaa!" jerit Eri sambil memegangi roknya agar tidak tersingkap tertiup angin.
Selain semakin deras, angin juga bertiup kencang sehingga mereka mau tak mau harus menemukan tempat untuk berteduh kalau tidak ingin payung itu rusak karena tidak kuat menerima terjangan badai. Setelah berjalan sedikit, mereka menemukan taman dengan saung (gazebo) di pinggirnya. Keduanya pun berlari dan berlindung dari hujan di sana.
"Bagaimana progress belajarmu untuk persiapan ujian akhir?" tanya Takumi yang berusaha memecah keheningan.
"Hmm… lancar-lancar saja, kok," jawab Eri. "Walau ada beberapa pelajaran kelas dua yang lupa, hehe…"
"Kalau begitu, bagaimana kalau ada waktu senggang kita belajar bersama di rumahku?" tawar Takumi. "Aku juga ada materi fisika yang belum kumengerti, kamu mau 'kan mengajariku?"
"Heh? Bahkan yang ranking satu dari satu angkatan kelas dua masih minta tolong senpai-nya, ya?" goda Eri.
"Hei… aku serius, tahu!" jawab Takumi. "Materi yang satu itu ada hubungannya dengan integral, sedangkan Makita-sensei, guru fisikaku enggak mau mengajari kami dasar-dasar turunan dan integral!"
"Lho? Memangnya, kalian belum dapat materi integral saat kelas matematika?" tanya Eri.
"Belum, makanya aku juga bingung dengan kurikulum sekarang ini," ujar Takumi. "Guru sebagai fasilitator, tapi anak muridnya yang keblingsatan ke sana kemari,"
"Sudah, sudah… syukuri aja," kata Eri sambil mengelus-elus kepala Takumi. "Anggap saja bekal persiapan mental sebelum ketemu dosen saat kuliah nanti,"
"Iya juga, sih…" jawab Takumi.
"Oh ya, Takumi, kamu tahu enggak besok hari apa?" Eri berusaha memberikan kode tentang ulang tahunnya.
"Hari Rabu tanggal 21 Oktober, ada apa dengan hari itu?" Takumi malah balik bertanya.
"Eh? Serius?" kedua mata Eri membulat.
"Iya, ada apa, sih?" tanya Takumi bingung.
Eri pun berpikir mungkin Takumi disuruh teman-temannya supaya pura-pura bego begitu Eri memberinya kode tentang ulang tahunnya besok.
"Ahahaha… enggak apa-apa, kok!" kata Eri.
"Hei… aku penasaran, nih, serius!" dengus Takumi.
"A, aku baru ingat kalau besok ada diskon besar-besaran di kafe depan stasiun saat kita double date waktu itu, hahaha…" Eri berusaha ngeles agar Takumi tidak kepo lebih jauh.
"Huh, soal makanan, toh?" kata Takumi. "Dasar, lebih baik kamu enggak sering-sering jajan, lho,"
"Kamu kalau jadi perempuan pasti rempongnya minta ampun, ya, soal diet dan olahraga?" ledek Eri.
"Tahu, deh! Aku sih bodo amat kalau kamu jadi chubby atau gembul!" kata Takumi sambil meluruskan kakinya. "Toh, aku akan tetap menyukaimu,"
Semburat merah memenuhi wajah Eri. "Ma, makasih…"
"Ah! Hujannya sudah reda!" seru Takumi sambil menengadahkan tangannya ke luar saung. "Tinggal gerimis kecil, sih… tapi sudahlah! Yuk, kita pulang!"
Takumi pun mengantar Eri hingga sampai ke depan pintu apartemennya karena hari sudah gelap.
"Nee, Takumi?" panggil Eri sambil memegang kenop pintu.
"Ya?"
"Kamu… benar-benar enggak tahu ada apa besok?" Eri bertanya dengan wajah penuh harap.
"Diskon di kafe depan stasiun, 'kan?" jawab Takumi sambil nyengir. "Kamu sendiri yang bilang begitu tadi, memangnya ada lagi selain itu?"
"Ah, enggak, enggak ada, kok…" kata Eri sambil membuka pintu. "Terima kasih sudah mengantarku, Takumi,"
Mou! Sudahlah, kamu bukan anak kecil lagi, Erichika! Takumi 'kan lagi masa-masanya sibuk di klub itu, aku harus bisa ngertiin dia! kata Eri sambil menepuk-nepuk pipinya begitu masuk ke kamarnya.
Tapi… besok 'kan adalah hari yang spesial untukku, apa enggak apa-apa membiarkannya seperti ini? gumam Eri sedih.
"Eh, mantan ketua OSIS! Tanggung jawab lo!" tiba-tiba salah satu anak perempuan yang merupakan anggota klub Kyuudo melabrak Eri keesokan harinya.
"Maaf, maksud kamu apa, ya?" jawab Eri tak kalah sengit.
"Gara-gara nganterin lo pulang, ace klub kami jadi enggak bisa ikut tanding karena flu berat!" ujar gadis itu. "Wajar dong kalau kami nyalahin lo!"
"Hei… aku diantarnya karena dia khawatir padaku dan berniat menolongku!" Eri berusaha membela diri. "Memangnya salah kalau menolong orang lain?"
"Udah, deh! Enggak usah banyak alasan!" seru anak itu sambil mendorong Eri hingga punggung gadis itu membentur dinding di belakangnya. "Bagus, bagus… lagi-lagi klub kami gagal tembus ke tingkat nasional, deh! Dan ini semua salah lo, ingat itu!"
Eri tak bisa menjawab maupun melawan karena ia merasa bersalah pada Takumi.
Gomen, Takumi… kata Eri dalam hati sambil menahan tangis.
"Happy birthday, dear Erichika!" seru teman-temannya begitu Eri masuk ke ruang klub peneliti idol.
Mata Eri berkaca-kaca karena terharu. "Pantas saja seharian ini kalian ngacangin aku, jadi, kalian sibuk menyiapkan semua ini?"
"Hehehehe…" Kazuya menggaruk tengkuknya.
"Sudah, enggak usah banyak planga-plongo, cepatlah make a wish dan tiup lilinnya!" perintah Nozomi. "Soalnya, ini ice cake! Jadi, kita harus gercep (gerak cepet)!"
Eri menghitung jumlah member di sana dan mendapati satu orang yang absen. "Takumi… dia sakit, ya?"
Kazuya dan Kotori pun saling pandang.
"Gara-gara aku, dia flu berat dan enggak bisa ikut pertandingan… hiks…" Eri mulai terisak. "Seandainya aku melupakan rasa gengsiku dan memakai payung yang terlantar di ruang OSIS, hiks…"
Teman-temannya saling pandang. Mereka bingung apakah harus memberitahukan yang sebenarnya kalau 'dilabraknya Eri' juga bagian dari rencana mereka. Tapi Nico memberikan bahasa isyarat agar mereka tidak membocorkannya agar ini juga menjadi surprise.
"Bego kamu, Nicocchi! Tacchan aja enggak tahu kalau hari ini Ericchi ultah!" bisik Nozomi.
"Heh, kulakban juga tuh mulutmu!" kata Nico kesal.
"Tapi sebaiknya gimana, dong? Aku lama-lama enggak tega membiarkan Eri-chan nangis begitu padahal dia enggak salah apa-apa," kata Kotori.
"Iya, aku juga!" timpal Hanayo.
"Bagaimana kalau kita biarkan Eri yang mengatakannya sendiri ke Takumi?" usul Maki.
"Jadi, kita lepas tangan nih, ceritanya, nya?" tanya Rin.
"Ya, habis… mau gimana lagi?" kata Maki sambil mengerutkan dahinya.
"Aku setuju," kata Kazuya. "Supaya Takumi-kun bisa lebih peka pada Eri-chan, begitu maksudmu, 'kan, Maki-chan?"
"LU MENDING NGACA, DEH…" kata keenam temannya dengan ekspresi datar yang menyindir.
"A, are…?" Kazuya merasa terpojokkan.
"Ya sudah, ayo, kita potong saja kuenya," kata Eri sambil menyeka air matanya. "Repot kalau keburu mencair,"
Padahal kamu ingin memberikan potongan pertama pada Tacchan, ya, Ericchi? gumam Nozomi sambil menerima first cake dari Eri.
Sial, kenapa juga kejuaraan Kyuudo musim gugur bertepatan dengan ulang tahun Eri, sih? rutuk Nico sambil cemberut.
"Selamat ulang tahun, Erichika sayang!" sambut ayah, ibu, Arisa, juga neneknya begitu Eri sampai ke apartemennya.
"Terima kasih…" kata Eri lesu.
"Hei, hei, kamu kenapa lesu begitu, sayang?" tanya ayahnya. "Hari ini anak pertama ayah sudah 17 tahun, lho! Kok, kamu yang ulang tahun malah enggak sesenang ayah, sih?"
"Sudahlah, Benedict," kata neneknya Eri. "Mungkin Erichika capek,"
"Kami sudah memasak makanan kesukaan onee-chan, lho!" kata Arisa. "Aku dan ibu yang membuatnya, kalau memakannya pasti onee-chan langsung semangat lagi!"
"Wah, hebat kamu, Arisa," puji Eri. "Kamu bantuin ngapain? Mencuci peralatan masak?"
"Hei! Aku benar-benar membantunya memasak!" dengus Arisa.
Mereka pun tertawa.
"Sudah, sudah, mau sampai kapan kita mengobrol di depan pintu?" kata ibunya Eri, Ayase Yoshino. "Cepatlah kamu mandi dan ganti baju, Eri,"
"Baik, Bu," jawab Eri.
Setelah Eri selesai mandi dan mengganti bajunya, keluarga itu pun kembali melanjutkan perayaan itu dengan makan malam bersama. Meski ini adalah kesempatan langka karena keluarganya bisa berkumpul dengan lengkap, Eri tetap terlihat sedih walau yang tahu apa sebetulnya yang dirasakannya hanyalah sang nenek, Ayase Sheryl.
"Kalau begitu, aku balik ke kamar, ya," kata Eri sambil bangkit dari kursinya. "Terima kasih atas kejutannya, obaa-sama, ayah, ibu, Arisa. Aku senang sekali… sudah, ya,"
Kamu memang benar-benar enggak tahu, ya, Takumi? kata Eri dalam hati sambil memperhatikan lock screen smartphone-nya.
Ulang tahun Eri akan berakhir satu jam lagi, namun tiba-tiba smartphone Eri berdering. Mata Eri terbelalak saat mendapati siapa yang meneleponnya.
"Takumi…?" kata Eri sambil menerima panggilan itu.
"Oh, kamu belum tidur?" tanya Takumi. "Apa aku mengganggumu?"
"Enggak, kok," jawab Eri. "Bagaimana keadaanmu? Bukannya kamu flu berat?"
"Flu berat? Kamu ngomong apa, sih?"
"Eh? Tapi kata Kidou-san tadi…"
"Aku enggak masuk sekolah karena ikut kejuaraan Kyuudo di kota sebelah, masa' kamu enggak tahu?" ujar Takumi.
Oh, berarti aku memang dikerjai anak-anak yang kerjasama dengan wakil ketua klub Kyuudo, ya? pikir Eri.
"Oh ya, dan klub kami berhasil tembus ke tingkat nasional yang pertandingannya akan diselenggarakan saat musim dingin nanti!" lanjut Takumi.
"Begitu? Bagus lah…" kata Eri dingin.
"Lho? Kok, nada bicaramu begitu, sih?" tanya Takumi. "Kamu ngambek karena enggak bisa ke kafe itu denganku?"
"Kamu… benar-benar enggak tahu ada apa hari ini?" Eri kembali menanyakan pertanyaan itu.
"Sudah, deh… lebih baik kamu katakan padaku apa yang kamu maksud," kata Takumi yang mulai jengkel.
"HARI INI ULANG TAHUNKU, TAKUMI BODOH!" bentak Eri sambil menangis.
Takumi tentu saja kaget. "Be, begitukah? Maaf, aku sama sekali enggak ta—"
"Aku 'kan sudah menanyakannya padamu dua kali, tapi… kenapa kamu enggak ada usaha untuk mencari tahu apa yang kumaksud?!" seru Eri. "Aku juga mengalah dan berusaha untuk enggak merepotkanmu yang sibuk dengan kejuaraan musim gugur, tapi… apakah kamu bisa bayangkan perasaanku yang sejak tadi menunggu kejutan darimu…?"
"E, Eri… sumpah, maafkan a—"
"Sudahlah, kamu memang dasarnya enggak peka! Aku membencimu!" seru Eri sambil mengakhiri percakapan.
Bodoh, kenapa aku malah marah padanya? Jangankan mengucapkan selamat atas kemenangannya, aku malah egois akan urusanku sendiri… mana aku membentaknya seperti itu lagi… Eri menangis sambil memeluk bantal karena merasa bersalah.
"Maafkan aku, Takumi," Eri mengirimkan private message ke akun SamuraiClan milik Takumi.
Pesan itu hanya di-read oleh Takumi, namun tidak dibalas.
Sekarang pasti dia benar-benar membenciku… kata Eri sambil membenamkan wajahnya ke bantal begitu melihat status pesannya.
Smartphone Eri kembali berdering 30 menit sebelum jam menunjukkan pukul 00:00.
"Selamat ulang tahun yang ke-17, Eri," kata Takumi dari seberang sana. "Maafkan aku karena terlalu sibuk sampai tidak peka terhadapmu,"
Eri masih terisak. Dia malu dan takut untuk menjawab ucapan itu.
"Bisa kamu keluar sekarang?" tanya Takumi.
"Eh?"
"Aku sudah ada di depan pintu apartemenmu," ujar Takumi.
Eri pun berlari kecil dan membukakan pintu apartemennya. Didapatinya lah kekasihnya yang tengah berdiri sambil tersenyum getir. Takumi pun langsung mendekap tubuh yang ramping itu dengan begitu erat.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, dear Erichika…
And I will always love… you
Takumi menyanyikan lagu itu dengan membisikkannya langsung ke telinga Eri.
"Bagaimana? Apakah kini kau memaafkanku?" tanya Takumi.
"Ya, tentu saja," jawab Eri yang tangisannya telah reda. "Terima kasih, Takumi…"
Takumi mengalungkan kalung dengan pendant berwarna biru muda ke leher Eri. "Ini hadiah dariku,"
"Te, terima kasih…"
"Maaf, aku hanya bisa memberikanmu yang murah," kata Takumi. "Tapi coba kamu arahkan pendant-nya ke arah sinar bulan,"
Pendant itu pun berubah warna menjadi biru tua. "Ha, Harasho! Kalung murah, apaan! Kamu enggak ngerampok, 'kan?!"
"Hahahaha… sembarangan aja kamu!" gelak Takumi. "Itu dari aneue,"
"Eh? Jadi, ini kalung kakakmu?"
"Enggak, dia kebetulan punya banyak kalung seperti ini dari bonus setelah menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Yuuki-san," ujar Takumi.
"Yuuki-san? Maksudmu, Anju yang dari A-RISE itu?"
"Iya, tak apa kalau aku menyebutnya Yuuki-san, 'kan?"
"Dasar, aku enggak cemburu, kok!" kata Eri. "Sampaikan terima kasihku pada Izumi-san, ya!"
"Tentu,"
"Nee, Takumi?"
"Hmm?"
"Bolehkah aku minta satu hadiah lagi?"
"Dan apakah itu?"
"Aku… rindu ciumanmu, Takumi…" ujar Eri malu sambil membenamkan wajahnya ke dada Takumi.
Wajah Takumi tak kalah merahnya kemudian ia pun mengangkat wajah Eri dengan tangan kanannya. Saat hampir menghadiahkan kecupan di bibir gadis itu, Takumi berubah pikiran dan hanya mengecup dahinya.
"Eh? Tu, tunggu! Kenapa?" tanya Eri kecewa.
"Entah kenapa aku merasakan hawa pembunuh dari rumahmu," jawab Takumi ngeles sambil menggaruk tengkuknya. "Sudahlah, kapan-kapan saja, sudah, ya!"
Hawa pembunuh? Apaan, sih? kata Eri dalam hati.
Eri tidak tahu kalau neneknya, Ayase Sheryl sedari tadi memperhatikannya.
Oh, jadi pemuda itu yang berhasil mengembalikan senyum di wajahmu, ya, cucuku? kata Ayase Sheryl dalam hati sambil tersenyum.
