Jongup menciumi bibir dari dua orang gadis yang lebih tua darinya dengan penuh gairah. Dia duduk di salah satu sofa, ditemani dengan dua gadis itu di samping kanan dan kirinya. Jongup tersenyum puas, meremas dada dari salah satu gadis dan membuatnya mendesah.
"Ouch, kau nakal sekali anak kecil." Desah salah satu dari mereka, yang mengenakan topeng berwarna biru.
Jongup, dengan topeng hitam—yang hanya menutupi matanya, sama seperti dua gadis itu—menyeringai. Bersamaan ketika gadis yang memakai topeng berwarna kuning itu menarik si topeng biru berdiri sebelum mengusap paha Jongup.
"Kita akan ambil minuman lagi, kau tunggu disitu."
Jongup memainkan alisnya. "Okay, Babe."
Dan setelah kedua gadis itu meninggalkan Jongup sendiri, pandangan Jongup menangkap seseorang yang berdiri di depan mejanya dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya.
"Ah, hi Baby. Mau ikut berkumpul, hm?"
Ia Ren.
Ia mengenali Jongup dari suaranya, dan ketika ia mendekat untuk memastikan, ia benar. Ren segera mendekati Jongup dan duduk di atas pangkuannya. Jongup yang semula akan menenggak minumannya lagi, lebih memilih menyimpan kembali botolnya dan melayani Ren.
"Whoa, whoa, whoa~ tidak sabaran sekali, Honey."
Ren hanya tersenyum di balik topeng. Kedua tangannya melingkar di leher Jongup sebelum Ren menaikkan sedikit topengnya, hanya untuk memperlihatkan bibirnya.
"Kau sangat misterius. Oh, oh, sepertinya aku mengenal bibir ini..." Jongup menggigit bibir bawah Ren. "Kapan kita bertemu?"
Ren menyelipkan lidahnya dalam mulut Jongup dan membukanya. "Seminggu yang lalu."
Belum sempat Jongup mengatakan apapun, Ren telah membawanya ke dalam sebuah ciuman yang liar. Dia menghisap bibir atas dan bawah milik Jongup, lalu menciumnya lebih dalam.
"Umh~"
Ren mengarahkan tangannya perlahan, dari memeluk mulai ke posisi mencekik. Jongup tidak menyadari hal itu, hanya membalas ciuman dan menikmati gesekan tubuh Ren yang mengenai membernya. Ren mengarahkan kedua ibu jarinya di bawah jakun Jongup, dan ketika ia memperdalam ciumannya dan menjadi lebih liar, Ren menekan kedua ibu jarinya terhadap leher Jongup dan mencekiknya.
Kedua mata Jongup membelalak lebar di balik topeng itu, namun Ren hanya menahan Jongup lewat ciuman, dan mencekiknya sekuat dan secepat yang dia bisa.
"Khh...ukh..."
"Umhh~ mm~"
Dan ketika Ren membiarkan kuku dari ibu jarinya membantu mencekik Jongup, ia berhasil merebut napas dari namja kedua yang dibunuhnya pagi ini.
Ren melepaskan bibirnya dari bibir Jongup. Turun dari pangkuannya perlahan, lalu menundukkan tubuh Jongup hingga kepalanya berada di atas meja. Membuatnya terlihat seperti orang mabuk yang sudah tidak sadarkan diri.
Ren menyeringai, memperbaiki posisi topengnya lalu berjalan menjauh dari sana sebelum akhirnya kedua gadis itu kembali ke meja Jongup.
"Eh, dia pingsan?"
Gadis bertopeng biru itu menepuk bahu Jongup, namun tidak ada respon. Gadis bertopeng kuning hanya mengangkat bahunya dengan minuman di tangannya.
"Well, cari namja lain. Dia sudah terlalu mabuk untuk bermain."
Dan dua gadis itu akhirnya memilih untuk meninggalkan Jongup, atau lebih tepatnya mayat Jongup.
.
.
Masquerade Party
A Thriller Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"An Angel has turned into a Demon"
A sequel of Watch It!
.
.
.
Minhyun bersama JR masuk ke dalam ruangan mereka, dimana Aron berada disana, meminum wine seperti orang frustasi. JR menutup pintu, sedangkan Minhyun mengambil tempat duduk di samping Aron.
"Kau melihat Ren?"
Aron mengarahkan pandangannya ke arah Minhyun dalam sedtik lalu kembali meminum wine-nya. "Aku tidak tahu."
JR menatap keduanya bergantian. "Apa kalian 'menyentuh' Ren?"
Aron dan Minhyun mengarahkan pandangannya ke arah. Pandangan marah dari namja itu.
"Tch, kalian tahu apa yang aku maksud."
Keduanya terdiam selama beberapa saat, dalam kebisuan. Dan akhirnya Minhyun memilih untuk berdiri, tanpa menatap JR.
"Ayo kita cari Ren."
"Diam di tempatmu, Brengsek!" JR menunjuk Minhyun dengan jarinya, dan Minhyun tersentak dengan panggilan itu.
Kini JR mengarahkan pandangannya ke arah Aron. "Apakah kau juga 'menyentuhnya'?"
"Itu bukan urusanmu—"
"Cukup jawab 'ya' atau 'tidak'!" JR berteriak penuh amarah.
Aron mengalihkan pandangannya ke arah lain. "W-well, sedikit... blow job dar—"
"FUCK YOU!" JR berteriak lebih keras. "Argh! Kenapa kalian seperti—"
"Seperti apa? Ha? Lalu apa yang kau lakukan? Kenapa kau juga melakukan 'itu' padanya? Apa alasanmu?! Karena mencintainya?! Kau pikir hanya kau yang mencintainya? Kau pikir setelah Baekho meninggal kau bisa sepuasmu untuk mendapatkannya?!"
Kali ini JR yang terdiam karena kalimat dari Minhyun.
"Aku... aku menahan perasaan ini sejak lama. Kau pikir hanya kau yang mencintainya dan tidak membiarkan orang lain memiliki perasaan yang sama?! Aku! Aku juga mencintainya! Dan melihatmu kemarin bersama Ren... God! Aku ingin membunuhmu, JR!"
"JR... Minhyun... stop it!"
"Fuck you, Aron! Kau juga menyentuh Ren! FUCK!"
"Setelah Baekho meninggal, kau pikir kau pahlawan di matanya? Ha? Lihat! Siapa yang melakukan ini padanya?! Itu Yongguk! Temanmu! Temanmu, Brengsek!"
"Yongguk berbuat seperti itu sama sekali bukan salahku! Itu murni bukan kesalahanku!"
"Guys... kita harus berhenti memperdebatkan ini dan—"
Buagh!
"Jangan menghindar dari semuanya, Aron! You bastard!"
Buagh!
Buagh!
Sementara di balik pintu ruangan itu, Ren menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangisnya. Ia hanya bisa mendengarkan mereka saling berteriak satu sama lain, saling memukul dan akhirnya saling mengeluarkan kata-kata kasar. Bahkan sekarang semuanya terdengar samar. Ren sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini terjadi dalam hidupnya. Mereka bersahabat. Dan melihat mereka seperti ini karenanya, membuat ia ingin segera menyelesaikan semuanya dan pergi dari dunia.
Ren memutar langkahnya, berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
-000-
"Kau mabuk, Sayang~ mmh~"
"Aku tidak mabuk~"
Cklek!
Himchan membuka pintu sebuah kamar dengan seorang gadis seksi dalam pelukannya. Mereka saling berciuman penuh nafsu. Himchan menutup pintu dengan kakinya, membaringkan gadis itu di ranjang dan menyeringai.
"Aku tidak mabuk~"
Gadis itu mengarahkan pandangannya ke samping, dimana Ren—memakai topengnya—duduk di sebuah sofa dekat ranjang tersebut dengan sebotol wine di tangannya.
Himchan mengerjapkan matanya lalu menyipitkannya. "Ada orang lain disini, Sexy?"
Gadis itu mengangguk. "Y-yeah."
"Well, let's have a threesome."
Ren menyeringai dan naik ke atas ranjang bersama wine-nya. Dengan satu kali pukulan, ia memukul kepala gadis itu memakai botol wine hingga pecah dan cairan itu membasahi kepala si gadis dan bercampur dengan darah.
"E-eh? Kau baru membunuh gadis itu..." Himchan masih menyipitkan matanya.
Ren menyeringai. Dia membuka topengnya secara perlahan, memperlihatkan wajahnya ke arah Himchan. Masih dengan mulut botol—dengan ujungnya yang sudah pecah dan membentuk pecahan tajam—ia berjalan mendekati Himchan dan memeluk lehernya dengan satu tangan.
"Tidak... dia hanya tertidur, dan akan terbangun di Neraka."
"R-Ren?" Himchan berusaha membenarkan pandangannya.
Ren menggigit bibir bawah Himchan yang sedikit mabuk, membuat Himchan membuka mulutnya.
"Dan kau akan menyusulnya..." setelah terkikik, Ren membuka lebar mulut Himchan dan menusukkan ujung tajam itu ke dalam mulut Himchan. Himchan tersedak, lalu terjatuh di lantai. Ren segera duduk di atas perutnya, menusukkan pecahan itu ke dalam mulutnya lagi berulang kali. Merobek lidah, pita suara bahkan kerongkongannya.
"Yeah... ahahahaha~ Neraka... kau pergi ke Neraka, Himchan~ hahaha... Neraka~"
-000-
Ren melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan dimana ia membunuh Himchan dan seorang gadis. Ia telah memakai topengnya lagi. Namun, ketika ia menutup pintu, ia menemukan seseorang berdiri di hadapannya. Ia memakai topeng, berwarna putih, sama seperti yang Ren kenakan.
Namja itu menaikkan topengnya perlahan dan memperlihatkan wajahnya.
"J-Junhong..." Ren menggigit bibir bawahnya.
Zelo memandang Ren dengan penuh perasaan bersalah, matanya memerah, menahan tangis sejak tadi.
"Aku minta maaf, Hyung... a-aku minta maaf atas semua yang dilakukan oleh hyungdeul-ku... j-juga aku... maaf... k-kau boleh membunuhku juga..." Zelo tertawa dalam rasa sakit. Ren menatapnya dengan tidak tega. "Ini menyakitiku setiap hari, H-Hyung... p-perasaan bersalah ini menyiksaku... k-kau bisa membunuhku sekarang... please... aku hanya ingin meminta maaf padamu... juga mewakili seluruh Hyung-ku... m-maaf... biarkan aku—"
"Ssh, shh..." Ren meletakkan jari telunjuknya di bibir Zelo. "Ssh... tidak perlu meminta maaf..."
"T-tapi Hyung... ini sangat menyiksa—"
"Ssh..." lagi-lagi Ren menghentikan kalimat Zelo.
Zelo terdiam, berusaha menahan tangisnya.
"Sekarang cari tempat duduk, tunggu aku disana, aku akan bicara padamu nanti..."
Zelo menggeleng perlahan.
"Pergilah... aku akan menyusulmu, Junhong..."
"H-hyung.. I'm so sorry..."
Ren menggeleng pelan. Bicaranya begitu lembut kepada Zelo. Zelo hanya bisa mengikuti apa yang ia minta. Meninggalkan Ren sendirian di balik topengnya. Tanpa ia tahu bahwa namja cantik itu tengah menangis dalam diam.
-000-
Ren merintih kuat lalu meremas kepalanya.
Ia mengerjapkan mata dan menyadari bahwa dia terduduk di lantai toilet. Matanya basah karena air mata. Ren berdiri perlahan untuk membasuh wajahnya. Dia membuka topengnya perlahan kemudian menyalakan keran di wastafel.
Ren menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia menyedihkan. Ini seperti bukan dirinya. Ia membiarkan dirinya di sentuh siapapun dan sekarang ia membunuh manusia.
Ren terkikik kecil.
Ini bukan dirinya, sama sekali bukan dirinya. Yeah, dirinya yang sebenarnya sudah mati, sejak dia bersumpah untuk membalaskan segala dendamnya sendiri.
"Ren... kau baik-baik saja?"
Ren tersentak ketika mendengar sebuah suara memanggil namanya. Ia mengarahkan pandangannya ke bilik toilet paling ujung yang terbuka, tempat ia membunuh Youngjae. Disana ia melihat seseorang keluar dari dalam bilik, membuka topengnya perlahan dan memperlihatkan wajahnya yang penuh air mata.
"Aku tahu kau akan melakukan ini Ren..."
"D-Daehyun..."
Daehyun menggeleng pelan lalu tertawa kecil. "Kau mengambil jalan terbaik dengan membunuh, Ren. Bunuh mereka... aku muak."
Ren menggigit bibir bawahnya ketika Daehyun berjalan mendekat.
"Bunuh saja... aku tidak tahan dengan kehidupan ini. Orangtuaku hanya haus harta... membiarkan anaknya di perbudak, hingga akhirnya memperkosa seseorang... yaitu kau. P-padahal aku sudah berusaha untuk melindungimu... namun... ck... aku pecundang. Aku tidak bisa melawan Yongguk... dia... shit... aku tidak ingin membicarakannya. Sekarang bunuh aku..."
Ren menggeleng lagi. Air mata perlahan jatuh dari matanya.
"Come on, Ren. Kau akan membantuku untuk lepas dari semua ini. Please... kau hanya perlu membunuhku..."
Ren menggigit bibirnya semakin keras.
"Ren... please... aku sudah terlalu lelah untuk hidup... lakukan seperti apa yang kau lakukan terhadap Youngjae..."
Ada perasaan bersalah di hati Ren. Namun ada juga kemarahan disana. Ia masih tidak bisa membayangkan, bagaimana Daehyun yang hanya tinggal diam, melihatnya diperkosa dan akhirnya ikut memperkosanya. Rasa sakit itu masih ada. Dendam itu masih ada. Ren menjerit dan memukul cermin dengan sikutnya sekuat tenaga. Penuh dengan kemarahan dan dendam.
Prang!
Cermin itu pecah dalam sekali gerakan. Rasa sakitnya terlalu kuat, membangkitkan tenaganya. Ia meraih salah satu pecahan yang memanjang dan runcing, mengarahkannya kepada Daehyun.
"Kalau begitu..." Ren menyeringai. Berubah seratus depalanpuluh derajat dari dirinya yang ketakutan beberapa detik lalu. "Gores lehermu menggunakan ini."
Daehyun memandang pecahan cermin itu dan Ren secara bergantian.
"Come on, sudah lama kau ingin bunuh diri. Apa aku benar?" Ren terkikik kecil.
Daehyun meraih pecahan itu perlahan, namun hanya dia memegangnya, belum melakukan apapun.
"Aku ingin kau yang melakukannya untuk dirimu sendiri." Dia berjalan mendekat, seiringan dengan Daehyun yang berjalan mundur.
"O-okay... okay Ren... I'll do it..."
Ren menyeringai. Mendorong tubuh Daehyun ke dalam bilik kamar mandi terujung, dimana mayat Youngjae berada dan berdiri di depan pintunya.
"Aku menunggumu..."
Daehyun menatap pecahan cermin di tangannya dengan ragu. Dia takut. Jujur dia takut untuk mengakhiri hidupnya. Bukan karena rasa bersalahnya kepada Ren, dia juga pernah meniduri beberapa orang karena dipaksa oleh Yongguk. Dan juga dengan begitu tersiksanya ia diperbudak seperti ini. Maka dari itu, memilih untuk mengakhiri hidup adalah jalan terbaik menurutnya.
Ren tersenyum menatap Daehyun yang ketakutan dengan apa yang akan dilakukannya. Namun tak lama setelah itu, Daehyun mendekatkan sisi tajam dari pecahan itu ke arah lehernya.
"Waktuku tidak banyak~" ucap Ren.
Daehyun menggigit bibir bawahnya keras. Pikirannya masih bergelut dengan akal sehatnya. Ia tidak bisa melakukannya, walaupun ia menginginkan lepas dari semuanya.
Dan tanpa mengulur waktu lebih lama, walau Daehyun berat hati untuk melakukannya, tetapi pecahan itu menggores lehernya kemudian. Entah kenapa, keinginan Ren malam ini selalu diwujudkan oleh semua orang.
Ren tertawa, melihat goresan itu semakin dalam. Merobek kulit leher Daehyun secara memutar dari arah jakunnya, memutuskan urat-urat, tersedak dan akhirnya kehilangan napasnya.
Darah yang mengalir dari luka itu memberi kepuasan bagi Ren. Tertawa kecil melihat tubuh itu terjatuh dan akhirnya menutup bilik toilet itu. Tapi—
Daehyun membuang napasnya. "Ren... kau baik-baik saja?"
Ren mengerjapkan matanya dan melihat Daehyun berdiri di hadapannya. Tidak memegang apapun. Ren mengedarkan pandangannya dan mendapati bahwa sama sekali tidak ada cermin yang pecah disana.
"Ren? Gwenchana?"
Ren yakin ini semua bukan ilusinya. Daehyun masih terdiam menatapnya.
Mata Ren memerah sampai urat-uratnya menegang.
"Tidak! Kau harus mati Daehyun! Kau harus mati!"
Daehyun mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aku bersyukur menemukanmu disini, Ren. Maafkan aku atas kejadian itu, Ren. Aku bersedia menyerahkan diri kepada polisi dan menyeret yang lainnya. Tapi… berikan aku waktu."
Kedua mata Ren semakin bergetar dan memerah. Ren menyerang Daehyun—mendorong tubuhnya kasar di dalam bilik itu hingga menabrak Youngjae di belakangnya.
"Kau harus mati! Kau harus mati! Kau brengsek! Kalian merusakku! Hiks… kalian harus mati!"
"Ren! Ren!" Daehyun berusaha menahan tangan Ren yang memukulinya. "Sadarlah."
"Kau harus mati seperti Youngjae! Kau harus mati sama seperti—"
Daehyun mencengkram kedua tangan Ren keras dan membuatnya berhenti. Lalu dia menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa maksudmu? Youngjae—a-apa yang kau maksud?"
Ren meronta, berusaha membuat cengkraman itu lepas. Airmata tidak kunjung berhenti keluar. Tapi dia tersadar,
tidak ada Youngjae di bilik itu.
-000-
HOLLAAAAAAAAAA :D
Sepertinya lama sekali ff ini dianggurkan ya uhuhu maafkan daku *kasihcintasatusatu*
Nah, apakah ada yang bingung dengan chapter ini? Iya? Tidak?
Hehe dan untuk yang bertanya aku dapat inspirasi darimana, jawabannya entahlah, semuanya mengalir begitu saja di otak. Maaf kalau jawabannya tidak memuaskan, tapi itu kenyataannya u.u
So, ditunggu reviewnya. Semoga jangan pada ngamuk karena ff ini baru dilanjutin lagi
Cium peluk hangat dari Yuri Masochist :3
Review?
