Pegel -_- sumpah leher gue pegel...

Dan alhasil, fict mbak kembali memanjang, bwahahahahaha! /ketawarajasetan

Etto... mungkin ada pembagian dialog yang kurang merata, jadi mohon maklum -_- te~he :P

Oh ya, dan chap ini terinspirasi dari salah satu episode di serial anime SKET Dance yang berjudul "Switch Off"

Check it out, my beloved readers tachi yo!

Brothers

Pipipip! Pipipip! Bunyi alarm sukses menarik keluar sang pemuda berambut orange dari alam mimpi. Setelah meregangkan tubuhnya yang kaku dan mengacak-acak rambutnya sendiri, ia melirik tanggal yang ditunjukkan oleh jam digital di meja belajarnya. Ia menghela nafas dengan berat padahal hari ini adalah hari yang spesial untuknya. Kini pemuda bernama Hoshizora Rin itu telah menginjak usianya yang ke-15 tahun.

"Rin! Cepat bangun!" seru sang ibu, Hoshizora Ayame dari bawah. "Hari ini kamu ada janji membuat kue bersama teman-temanmu di rumah Kazuya-kun, 'kan?"

"Iyaaa! Aku akan segera turun!" jawab Rin.

Setelah mandi dan menyiapkan segala keperluannya, Rin pun turun ke ruang makan untuk sarapan bersama ayah dan ibunya.

"Bukankah ini hari Sabtu?" kata ayahnya, Hoshizora Shun saat melihat putranya turun dengan pakaian pergi yang telah lengkap. "Mau ke mana kamu sepagi ini?"

"Aku dan teman-temanku ada janji untuk membuat kue dan mendiskusikan banyak hal mengenai live kami selanjutnya di rumah Kazu-kun," ujar Rin sambil menggigit roti panggangnya.

"Ibu benar-benar kaget, lho," kata Bu Ayame sambil tetap sibuk membereskan dapur. "Ibu sama sekali tak menyangka kalau kamu yang pemalu mau ikut menemani Kayo-chan menjadi idol,"

"Jadi? Bagaimana? Apakah kamu menikmatinya, nak?" tanya Pak Shun antusias.

"Tentu saja," jawab Rin. "Teman-teman di sana sangat baik juga seru,"

"Baguslah kalau kamu senang," kata Bu Ayame. "Walau sebenarnya ayah dan ibu merindukan sosokmu saat berdiri di mound sebagai pitcher,"

"Maaf, Yah, Bu…" kata Rin sambil menunduk karena merasa bersalah.

"Sudahlah, nak," kata Pak Shun sambil menepuk-nepuk bahu Rin. "Selama kamu menikmati hari-harimu dan tersenyum, itu semua pun cukup untuk membuat kami merasa tenang,"

"Hontou, ibu benar-benar bersyukur kamu berteman dengan Kayo-chan," ujar Bu Ayame. "Karena gadis itu, kamu bisa kembali bangkit setelah kejadian itu,"

"Sa, sayang! Sudahlah, jangan bawa-bawa topik itu!" seru Pak Shun.

Rin bangkit dari kursinya dan meraih tasnya. "Aku sudah selesai, aku berangkat, ya,"

"I, iya… umm… hati-hati di jalan, nak!" kata Pak Shun.

"Selamat ulang tahun, Rin!" kata Pak Shun dan Bu Ayame sambil melambaikan tangan mereka.


Benar, sudah tiga tahun berlalu semenjak kejadian itu, gumam Rin.

"Oi, Rin! Mau jalan ke mana kamu?" tegur Maki.

Buugh! Rin pun sukses menabrak tiang listrik karena melamun.

"Mou, Rin-kun! Kamu enggak apa-apa?" tanya Hanayo khawatir.

"Aduduh… iya, iya, aku enggak apa-apa," jawab Rin sambil memegangi dahinya.

"Sudah! Sini, kulihat dulu!" kata Hanayo cepat sambil memegangi kepala Rin dan menyingkap poni yang menutupi dahinya.

Wajah Rin merona merah karena jarak antara wajahnya dengan wajah si gadis berpipi chubby itu begitu sempit.

"Yosh! Sudah kuperiksa dan enggak apa-apa!" kata Hanayo sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan puas.

"Hei, kalian! Jangan lemot, dong!" seru Nico. "Kami tinggal baru tahu rasa!"

"Ditinggal juga enggak jadi masalah, keleus?" balas Maki. "Rumah Kazuya 'kan tinggal lima rumah dari sini juga sampai!"

"Sudah, sudah…" Eri berusaha menengahi mereka. "Yuk, kita lanjut jalan lagi!"

"Ngomong-ngomong, itu apa, Kotori?" tanya Takumi setelah melirik kantung plastik besar yang ditenteng gadis itu sejak tadi.

"Hihihi, roti untuk Kazuya-kun, dong~" jawab Kotori sambil tersenyum kegirangan. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah senangnya begitu menerima ini, hehehe…"

"Kuharap kau mau bertanggung jawab dengan membantunya diet," kata Takumi.

"Tacchan, kamu tuh ribet banget soal badan, ya?" komentar Nozomi. "Lama-lama kamu kupakaikan rok juga, nih!"

Eri tentu saja langsung tertawa geli sehingga tak heran Takumi sampai manyun karena malu diledek begitu.

"Wah, sampai juga kita!" kata Nozomi sambil hendak menekan bel.

"Dasar, anak kurang ajar!" terdengar suara Kazuya yang begitu marah dari dalam begitu Nozomi hampir menekan bel.

Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung membuka pintu untuk mengetahui apa yang terjadi. Mereka terkejut begitu melihat Kazuya yang tengah mencengkeram leher baju Yukio, adiknya dengan wajah yang merah karena marah besar.

"Oi, oi, onii-chan? Bukankah kau terlalu berlebihan?" kata Yukio dengan ekspresi meremehkan. "Ibu dan ayah saja hanya diam begitu mendengarnya padahal yang punya sepeda motor itu mereka,"

"Mereka juga enggak sanggup berkata-kata karena yang kamu lakukan ini bukan sekali atau dua kali, sialan!" bentak Kazuya. "Untuk apa sebetulnya uang sebanyak itu?!"

"Urusi saja urusanmu, dasar kakak berotak udang!" jawab Yukio tak kalah keras.

"Kami enggak pernah mendidikmu jadi seorang bengal begini, Kousaka Yukio!" seru Kazuya. "Cepat jawab pertanyaanku! Untuk apa uang sebanyak itu sampai kau menjual sepeda motor milik ayah?!"

"Huh! Kalau itu bukankah kau sendiri juga paham, onii-chan?" kata Yukio sambil melirik Kotori yang berdiri di pintu masuk. "Ada perempuan yang kusukai dan sebentar lagi adalah ulang tahunnya, bukankah wajar kalau aku mengumpulkan uang untuk memberikannya hadiah yang terbaik?"

"Perempuan mana yang membuatmu sinting begini, hah?!" tanya Kazuya yang semakin kesal dibuatnya.

"Enggak ada artinya onii-chan tahu juga," jawab Yukio sambil melepaskan diri dari cengkeraman. "Lagipula, kehilangan sepeda motor pun bukan masalah besar, 'kan? Toh, kita masih bisa mengantar pesanan pelanggan dengan berjalan kaki!"

Kazuya menarik kembali baju Yukio dan mengepalkan tangan kanannya. Ia bersiap untuk memukul wajah adiknya itu.

"Tunggu! Kazu—" Eri bermaksud maju untuk menghentikan perbuatan Kazuya, namun Takumi menghalanginya dengan lengan kirinya.

"Ta, Takumi?!" Maki tentu saja kaget dengan sikap Takumi juga Kotori yang tidak ada usaha untuk menenangkan Kazuya.

"Kalau Kazuya sampai main tangan seperti itu berarti alasannya marah itu benar," jelas Takumi.

"Kami 'kan sudah mengenalnya sejak kecil," tambah Kotori. "Jadi, kalian tenang saja, oke?"

"Apa?! Pukul lah!" kata Yukio dengan nada menantang pada Kazuya.

Ayah, ibu, juga teman-temannya menatap dengan penuh kecemasan. Kazuya pun menurunkan tangannya dan mendorong Yukio hingga punggungnya membentur pintu dengan begitu keras.

"Hah! Lihat? Kau terlalu lembek untuk melakukannya, kakak bodoh!" ejek Yukio.

"Enggak ada gunanya juga aku mengotori tanganku untuk menyadarkan bocah ingusan yang tengah dimabuk cinta sepertimu," ujar Kazuya dingin. "Lenyaplah dari hadapan kami, dasar sampah!"

"Huh! Tanpa kau suruh juga aku akan pergi!" jawab Yukio sambil berlari meninggalkan mereka keluar dari toko kue tradisional Jepang Homura.

Atmosfer perlahan-lahan menjadi agak lebih baik begitu Yukio telah menghilang di ujung jalan. Tapi tentu saja ketegangan masih tetap terasa di antara keluarga Kousaka.

"Oh, maaf, ya, nak? Gara-gara putra kami jadinya canggung begini," kata ibunya Kazuya, Kousaka Yui. "Sudah, kalian masuk lah dulu,"

"Dinginkan kepalamu, Kazuya," kata ayahnya Kazuya, Kousaka Shinsuke sambil menyingkap tirai dapur. "Tidak enak dengan teman-temanmu, nah, ayah siapkan dulu kue untuk kalian, ya,"


Di ruang tengah kediaman Kousaka…

"Jadi, bisa kau ceritakan pada kami apa yang terjadi dengan Yukio, Kazuya?" Takumi memulai pembicaraan.

Kazuya meremas kepalanya sendiri, mungkin saking stress-nya menghadapi kelakuan adiknya. "Anak itu benar-benar sudah kelewatan!"

"Kelewatan? Memangnya, apa yang dilakukannya?" tanya Nozomi.

"Sejak sekitar dua minggu yang lalu dia mulai sering meminta tambahan uang pada ayah dan ibu tanpa alasan yang jelas," ujar Kazuya. "Sepertinya dia jadi begitu karena ada anak perempuan yang memikat hatinya,"

"Tapi hadiah macam apa yang ingin diberikannya sampai butuh uang sebanyak itu, coba?" tanya Maki.

"Itu dia, aku sama sekali enggak tahu…" jawab Kazuya frustasi. "Memukulnya saja aku tidak sanggup,"

Rin menghela nafas berat. "Seharusnya kau memukulnya tadi,"

Semua pasang mata di sana tertuju pada pemuda berambut orange itu. "Eh?"

"Kalau kau benar-benar menyayangi adikmu, seharusnya kau memukulnya tadi," kata Rin sambil bangkit dan meraih tasnya. "Maaf, aku ingin pulang duluan,"

Rin pun berlalu.

"Hanayo-chan, apakah biasanya Rin-kun seperti itu?" tanya Kotori khawatir.

"Un… dia memang agak sensitif untuk masalah seperti ini," jelas Hanayo.

"Kenapa begitu?" tanya Eri.

Hanayo hanya terdiam sambil terus menunduk.

"Hanayo-chan, kumohon… beritahu kami," pinta Kazuya. "Gara-gara aku lepas kendali, rencana kita untuk memberi surprise padanya jadi berantakan, makanya kumohon padamu!"

"Bukankah kita teman?" tambah Maki sambil mengedipkan sebelah matanya. "Apapun yang terjadi di masa lalu, Rin dan kamu tetaplah teman kami, Hanayo,"

"Baiklah," Hanayo menyerah. "Sebenarnya…"


Tiga tahun yang lalu…

Sebenarnya Hoshizora Rin bukanlah anak tunggal. Dia memiliki seorang adik kembar perempuan bernama Hoshizora Ran. Berbeda dengan Rin yang memiliki tubuh atletis dan stamina yang kuat, Ran adalah gadis yang lemah sehingga mudah jatuh sakit. Tak heran, dirinya sering tidak masuk sekolah.

Seorang anak yang lemah dan tidak populer seperti Ran merupakan mangsa yang empuk untuk para penindas di sekolah maupun tempat bimbelnya. Gadis itu sering diperbudak oleh sekelompok gadis kecentilan yang merasa diri mereka adalah ratu sejagat. Mungkin karena pernah berbagi tubuh dalam kandungan sang bunda, Rin pun tahu kalau adiknya adalah korban penindasan di sekolah meski sang adik terus memasang poker face-nya.

"Nee, Ran?" panggil Rin dalam suatu kesempatan ketika dia makan siang dengan adiknya di sekolah.

"Ya, nii-chan?" respon gadis berambut pendek sebahu itu dengan sopan seperti biasa.

"Bagaimana kesanmu setelah bisa masuk sekolah lagi?"

"Hehehe, aku sangat senang!" jawab Ran. "Teman-temanku seru dan baik sekali padaku!"

Rin seketika merasakan sesak di dadanya. Ya, jawaban itu bohong. Bahkan senyum manisnya sekalipun.

"Sudahlah, lebih baik kamu jujur saja padaku," kata Rin sambil meluruskan kakinya. "Miyamoto Karin, anak centil itu dan teman-temannya menindasmu, 'kan? Aku tahu itu,"

"Ah, nii-chan terlalu berlebihan, ah!" gelak Ran. "Itu cara gaul anak-anak perempuan sekarang, lho! Masa' nii-chan enggak tahu, sih?"

Rin menatapnya dengan sendu. Ada apa gerangan dengan adiknya sampai berterus terang padanya pun tidak mau?

"Cara gaul, ndasmu!" dengus Rin. "Jelas-jelas mereka memperbudakmu, 'kan? Kenapa juga kamu harus menuruti mereka?"

"Mereka hanya minta tolong padaku, kok!" Ran membela diri. "Bukannya wajar jika sesama teman saling membantu?"

"Membantu? Kamu bilang membelikan mereka makan siang, membawakan tas mereka, bahkan membelikan barang-barang mahal yang mereka inginkan itu kamu bilang saling membantu?" kata Rin. "Kamu itu enggak lebih dari dimanfaatkan oleh mereka, Ran!"

"Cukup! Jangan mengatakan hal yang jelek tentang teman-temanku, nii-chan!" seru Ran sambil bangkit dari kursinya.

"Aku bilang begini demi kamu, Ran!" jawab Rin. "Aku punya banyak teman yang lebih baik dari mereka jika kau ingin kukenalkan!"

"Nii-chan bilang begitu karena nii-chan keren dan populer!" balas Ran. "Nii-chan mana mungkin mengerti sebahagia apa aku karena setelah mendekam cukup lama di rumah sakit akhirnya aku punya teman!"

"Justru karena aku mengerti makanya—"

"Mou! Bakka nii-chan! Aku membencimu!" seru Ran sambil berlari meninggalkan Rin dan menitikkan air matanya.

Semenjak itu, hubungan di antara mereka semakin merenggang. Ran selalu menghindari Rin, baik di sekolah maupun di rumah. Karena kini mereka duduk di kelas 6 SD, orangtua mereka mendaftarkan mereka untuk belajar di bimbel. Saat di tempat bimbel pun Ran selalu pura-pura tidak mengenal Rin.

Kemudian hari itu pun tiba…

Plaak! Bu Ayame menampar Ran dengan begitu keras.

"Apa-apaan kamu, nak?!" seru ibundanya dengan air mata yang mengalir deras.

Ran tidak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya.

"Jawab ibu, nak! Jawab!" seru Bu Ayame yang semakin histeris.

"Sayang, sayang! Tenanglah!" kata Pak Shun sambil berdiri di antara mereka.

"Tuh, 'kan? Sudah kuduga, ada yang enggak beres denganmu semenjak kamu mulai bergaul dengan Miyamoto Karin dan teman-teman satu gengnya," Rin pun ikut bicara dengan dingin.

"Kesampingkan dulu soal anak itu," kata Bu Ayame sambil menghela nafas. "Sebetulnya untuk apa uang sebanyak itu, nak? Bahkan kamu sampai hati mengambil uang dari dompet ayah dan ibu, begini,"

Hp Ran bergetar karena ada panggilan masuk. Ran mengangkatnya dan meng-iya-iya-kan si lawan bicaranya.

"Maaf, aku ada urusan," kata Ran cuek sambil memakai sepatunya. "Sudah, ya!"

Bu Ayame duduk bersimpuh dengan lemas sambil memegangi kepalanya, sedangkan Pak Shun berusaha menenangkannya sambil mengelus-elus punggung sang istri.

Walau sebenarnya Rin sudah tak mau tahu lagi apa mau adiknya itu, kakinya seolah bergerak sendiri hendak menyusul kembarannya itu. Ia pun tiba di tempat yang dituju si adik, gedung bimbel tempat dirinya dan Ran belajar demi persiapan ujian kelulusan.

Rin menyipitkan matanya, hendak mengetahui siapa anak-anak perempuan yang seperti tengah mengeroyok gadis berambut orange yang berdiri di ujung atap tanpa pagar pengaman itu.

"HAH? Hanya segini uang yang kamu dapat?!" seru Miyamoto Karin sambil melemparkan uang itu kembali pada Ran. "Sudah kubilang, ikutlah dengan paman yang kukenalkan tempo hari agar yang kamu dapat juga banyak! Otakmu itu ada isinya, tidak, sih?!"

"Ma, maaf, Karin-san…" kata Ran yang kedua bahunya gemetaran karena takut.

"Heh! Lancang banget kamu memanggilku dengan sok akrab begitu!" bentak Karin. "Aku enggak ingat pernah membolehkanmu untuk melakukannya!"

"Ta, tapi… kau bilang aku boleh memanggilmu begitu kalau aku menuruti semua kata-katamu!" jawab Ran.

"Ya, kamu memang menurut, tapi! Misi terakhir dariku ini gagal kamu jalani!" ujar Karin. "Ayo, teman-teman! Gadis kampungan macam dia bukan lagi teman kita!"

Saat Karin hendak melengos meninggalkan Ran bersama teman-temannya, Ran menarik lengan Karin demi menghentikannya.

"Ku, kumohon! Aku akan lakukan apapun yang kalian minta!" kata Ran sambil menangis. "Tetaplah jadi temanku!"

"SINGKIRKAN TANGAN KOTORMU, PECUNDANG!" teriak Karin sambil mendorong Ran dengan keras.

Ran yang berdiri di bibir 'jurang' itu pun alhasil terjun bebas begitu ketua geng anak-anak penindas itu mendorongnya. Langit semakin gelap dan hujan mulai turun membasahi tempat kejadian perkara, tempat gadis yang merupakan korban penindasan itu jatuh di antara tumpukkan kantung sampah.

"RAAAAN!" teriak Rin sambil berlari secepat mungkin.

Langkah kaki Rin tak cukup cepat untuk menunda pekerjaan sang dewa kematian. Saat sampai di tempat jatuhnya sang adik, massa telah berkerumun lengkap dengan aparat kepolisian dan ambulans yang hendak mengevakuasi jenazah.

"Tidak! Ran! RAAAAN!" seru Rin shock saat para petugas forensik membawa gadis yang telah dibungkus dalam kantung jenazah melewatinya.


Malamnya di kantor polisi…

"Karena tidak ada saksi yang melihatnya, maka kami simpulkan adinda Hoshizora Ran jatuh dari gedung bimbel itu karena kecelakaan," ujar polisi yang duduk di depan Rin dan kedua orangtuanya.

Rin menggeritkan giginya dan bangkit dari kursinya dengan kasar sambil menggebrak meja.

"Itu tidak mungkin!" seru Rin. "Aku melihat dengan jelas kalau adikku didorong oleh anak yang menindasnya di atap itu!"

"Ri, Rin…" ibunya berusaha menahan tangis. "Sudahlah, nak…"

"Kalau begitu, siapa anak yang mendorongnya? Apakah kamu melihatnya dengan jelas?" tanya Pak Polisi.

"Miyamoto Karin!" jawab Rin dengan emosi yang memuncak. "Dia melepaskan tangan adikku dengan kasar hingga adikku terjungkal ke belakang dan jatuh dari gedung berlantai lima itu!"

"Sayang sekali, nak," kata Pak Polisi. "Kesaksianmu tak bisa kami terima,"

"Tunggu?! Apa maksudmu?!" seru Rin.

"Kami juga sudah mewawancarai adinda Karin," ujar Pak Polisi. "Dia bersaksi kalau adinda Ran berusaha mencelakakannya dengan menarik lengannya sehingga mau tak mau ia membela diri dengan mendorongnya. Karena panik dan takut dia tidak sadar tenaga yang dikeluarkannya berlebih sehingga adinda Ran pun jatuh,"

"Itu bohong! Adikku itu punya fisik yang lemah dan ini adalah pertama kalinya dia mendapat teman!" bantah Rin. "Dia tidak mungkin sampai hati mencelakakan teman pertamanya!"

"Lalu, apa kau dengar apa yang mereka bicarakan hingga membuat adinda Ran jatuh dari gedung itu?" desak Pak Polisi.

Rin terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Ya sudahlah, tidak ada yang perlu diributkan," kata Pak Polisi kemudian. "Intinya, ini hanya kecelakaan apalagi kesaksian teman-teman dari adinda Karin juga serupa, bahwa adinda Ran menarik lengan adinda Karin seperti ingin mencelakainya,"

"Berapa banyak… uang yang kalian terima…?" tanya Rin dengan tubuh yang gemetar karena menahan amarah.

"Apa katamu? Katakanlah dengan jelas!" seru Pak Polisi.

"Berapa uang yang diberikan oleh Miyamoto Karin untuk membungkam mulut kalian?!" ulang Rin dengan volume suara yang lebih keras.

"Anak sialan!" rutuk Pak Polisi.

"Dari reaksimu sudah ketahuan kalau kau disuap olehnya, iya, 'kan?!" teriak Rin. "Harusnya kau malu pada lambang sakura di dadamu dan kode etik yang kau katakan!"

Terjadi keributan dalam ruangan sempit itu karena Rin berusaha memojokkan polisi itu. Kemudian salah satu anggota polisi ikut turun tangan dan memukul bagian tengkuk bocah berambut orange itu. Pukulan itu pun sukses membuat Rin kehilangan kesadarannya.


Rin pun lulus dengan hati yang hampa. Ia menjalani hari-harinya tanpa semangat dan rasa peduli bahkan pada dirinya sendiri hingga tak heran rambutnya memanjang. Saat pagi dia ke sekolah, malamnya dia merutuki dirinya sendiri yang gagal menyelamatkan adiknya. Siklus itu berlangsung setiap hari dan mengubah sosok pemuda yang ceria itu menjadi seorang ansos yang mudah main tangan bila disinggung.

Rin sekelas dengan seorang gadis pendek berkacamata yang kerap kali ditindas teman-temannya, sama seperti Ran. Gadis itu selalu menuruti kata-kata para ratu sejagat itu. Namun, gadis itu cukup cerdik. Bila para penindas itu meminta salinan PR atau contekan saat ulangan, dia malah berbaik hati mengajari mereka. Ketulusannya malah mengubah para penindas itu menjadi sahabat baiknya.

Namun, tidak semuanya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Masih ada saja yang terang-terangan memalaknya atau pun menindasnya. Tubuh Rin seolah bergerak sendiri melihat penindasan di kelasnya itu. Tangan kanannya mengambil bola bisbol di laci meja dan melemparkannya dengan kuat hingga si penindas meloncat ke belakang karena takut wajahnya bonyok.

"Apa-apaan kau, Hoshizora?!" seru si penindas kesal. "Kau ingin membunuhku, apa?!"

"Berisik…" kata Rin. "Bukankah kakimu masih bisa berjalan dengan normal dan uang yang tersimpan di dompetmu juga banyak? Lantas, kenapa kau masih menyuruh-nyuruh Koizumi?"

"HAH? Urus saja urusanmu sendiri!" jawab si penindas. "Memangnya Koizumi itu siapa bagimu?"

"Dia teman sekelas kita!" ujar Rin. "Kenapa juga kalian harus memperlakukannya berbeda dengan anak-anak lain?!"

Para penindas itu pun melengos pergi. "Ugh… sudahlah! Yuk, kita cabut!"

Para anak kecentilan itu pun berlalu.

"Te, terima kasih, Hoshizora-kun," kata Hanayo yang gugup sekaligus takut karena anak laki-laki yang berpenampilan seperti preman itu menolongnya.

"Kalau kau memang tidak mau, kenapa kau diam saja?" tanya Rin. "Mereka tak akan pernah berhenti memperbudakmu kalau seperti itu,"

"Apa boleh buat? Mereka 'kan mengandalkanku, hihi…" gadis itu malah bangga dengan keadaannya itu.

Rin pun menghela nafas. "Terserah kau saja,"

"A, ano… Hoshizora-kun!" seru Hanayo saat Rin hendak keluar dari kelas.

"Ada apa lagi?" respon Rin jutek.

"A, aku… ingin mengajakmu mampir ke suatu tempat sepulang sekolah nanti," ujar Hanayo. "Kumohon!"

Rin risih melihat gadis itu yang mengajaknya hingga membungkukkan tubuhnya seperti itu bagai orang yang harga dirinya rendah.

"Angkat kepalamu, mata empat," kata Rin. "Aku akan ikut denganmu,"

Hanayo tersenyum lega. "Be, benarkah? Terima kasih!"

Pertama kali setelah sekian lama, Rin merasakan debaran di hatinya tatkala gadis berpipi chubby itu tersenyum kepadanya.


"Barber shop?" kata Rin sambil menaikkan sebelah alisnya begitu dia dan Hanayo sampai ke tempat yang dituju.

"Kupikir, kamu perlu make over sedikit," kata Hanayo sambil terkikik. "Ayo, kita masuk!"

Setelah rambutnya dikeramas, banci pegawai salon mulai sibuk memotong rambutnya.

"Aww… purrfect!" puji banci yang memotong rambutnya begitu selesai.

"Hihihi, lihat? Kamu tampak lebih baik sekarang," kata Hanayo sambil tersenyum puas.

"Dasar, aku tidak punya banyak uang untuk omong kosong ini," dengus Rin sambil mengorek-ngorek dompet recehnya.

"Tenang saja, salon ini milik kakak sepupuku jadi gratis untukmu," ujar Hanayo. "Ya, 'kan, Tsurugi-san?"

"Mou! Tentu saja, non Hanayo!" jawab banci itu dengan centil. "Apalagi kalau untuk pacarmu yang semanis itu, uuuuu… gemes deh eykeh!"

"Kalau begitu, sampaikan salamku pada Mina-nee, ya!" kata Hanayo sambil berlalu dari sana dengan diekori oleh Rin.


Kehadiran gadis penggila nasi putih itu memberikan warna pada kehidupan Rin. Sedikit demi sedikit cahaya kembali bersinar di mata pemuda itu. Karena tak ingin masa mudanya menjadi sia-sia, ia pun mulai mencoba menyibukkan diri seperti anak remaja pada umumnya, yaitu dengan bergabung dengan klub bisbol di sekolahnya.

Tak butuh waktu lama hingga Rin ditempatkan sebagai pemain utama. Jenius saat berada di atas mound juga saat dirinya menjadi batter. Home run dan strike out yang dihadiahkan pada lawan-lawannya sudah bukan hal yang aneh. Ia berhasil kembali bersinar berkat seorang Koizumi Hanayo, gadis mantan korban penindasan yang mengingatkannya pada mendiang adiknya.

"Terima kasih, Koizumi-san," kata Rin begitu mereka selesai menerima sertifikat kelulusan dua tahun kemudian.

"Untuk?" tanya Hanayo bingung.

"Untuk semuanya," jawab Rin singkat.

"Hahaha… sudahlah," kata Hanayo. "Itu wajar sebagai teman,"

"Nee, Hoshizora-kun?" panggil Hanayo setelah mereka sempat diam untuk beberapa menit.

"Ya?"

"Bagaimana kalau kita memanggil satu sama lain dengan lebih akrab lagi?" usul Hanayo.

"E, eh? Tapi… aku tak enak kalau sampai orang-orang salah paham!" jawab Rin ragu.

"Semua orang juga tahu betapa akrab dan dekatnya kita, 'kan?" kata Hanayo. "Kurasa, mengubah nama panggilan pun bukan suatu hal yang aneh bagi kita untuk ke depannya juga,"

"Ba, baiklah…," kata Rin setuju. "Ka, Kayo…"

"Hihihi, begitu, dong, Rin-kun!" kata Hanayo puas sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Rin. "Saat di Otonokizaka nanti juga tetaplah memanggilku begitu, oke?"

"Ya, aku janji," jawab Rin.


Kembali ke masa sekarang…

"Selamat ulang tahun, Ran," kata Rin sambil meletakkan seikat bunga di atas nisan adiknya itu.

Rin merapatkan kedua tangannya dan berdoa. Begitu selesai ia berjalan keluar dari pemakaman dan agak terkejut begitu mendapati kedelapan orang temannya menunggunya.

"Rin-kun, bantulah aku!" seru Kazuya sambil membungkukkan tubuhnya. "Bantu aku mengembalikan Yukio seperti dulu!"

"Walaupun aku sudah kurang ajar seperti tadi?" tanya Rin.

"Aku sudah menceritakan semua yang kutahu tentangmu, Rin-kun," ujar Hanayo. "Karena kamu lah yang paling mengerti akan hal ini makanya kami mohon bantuanmu,"

"Kayo…" kata Rin sambil menundukkan wajahnya.

"Kalau aku jadi adikmu, aku akan sangat senang dan bangga karena kamu selalu berusaha yang terbaik demi melindungiku," kata Maki. "Tapi jangan salah paham! Itu hanya permisalan, oke?!"

"Pupupu… enggak usah muna', deh, mbak?" ledek Nico.

"Berisik!" seru Maki kesal.

"Baiklah," kata Rin. "Ayo, kita sadarkan Yukio-kun,"


Lusanya saat pulang sekolah, mereka bersembilan mengikuti Yukio yang keluar dari SMP-nya sambil terus dirangkul oleh gadis yang tampak sangat kecentilan.

"Lho? Kenapa dia enggak bareng Arisa-chan?" celetuk Kotori.

"Be, benar juga! Jadi, gadis yang dia sukai itu bukan…" kata Takumi.

"Tentu saja bukan, bodoh!" potong Eri. "Adikku mana mungkin sampai seperti itu!"

"Hahaha… oh, ayolah, Ericchi? Mereka bukan bermaksud begitu!" kata Nozomi sambil menepuk-nepuk kepala Eri.

Saat hampir sampai ke kediaman Kousaka, Arisa datang dari arah yang berlawanan. Gadis berkulit putih pucat itu melirik sebentar tangan Miyamoto Reika, gadis yang menempel dengan jablaynya pada sahabatnya itu.

"Selamat sore, Yukio-kun, Miyamoto-san!" sapa Arisa sambil tersenyum ramah.

"Se, selamat sore," balas keduanya dengan agak canggung.

"Tadinya aku ingin beli kue kesukaan nenekku di rumah Yukio-kun, tapi aku lupa kalau uangku baru saja habis untuk membeli keperluan sekolah, hehehehe…" Arisa malah curhat sendiri. "Kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah, ya!"

Eri menatap adiknya yang berjalan menjauh sambil tetap memasang topeng poker face-nya itu. Dia pun mengerti mungkin ini perasaan Rin ketika adiknya disakiti dulu.

"Nee, nee, Yukio-kun?" panggil Reika.

"Ya, Reika-ku sayang?"

"Huh! Kamu gombal banget, sih!" kata Reika sambil mencubit pipi Yukio gemas.

"Ittai~! Ayolah, kamu butuh sesuatu, 'kan?" tanya Yukio.

"Aku heran, kok, kamu bisa dekat dengan anak bule yang aneh itu, sih?" kata Reika mencibir.

"Apaan, sih? Orang dia sendiri yang nempel-nempel padaku!" jawab Yukio.

"Tapi kamu enggak menyukainya, 'kan?" selidik Reika.

Yukio terdiam sebentar. "Enggak, lah! Mana mungkin!"

Eri rasanya ingin menghajar Yukio saat itu juga, tapi untunglah masih ada Takumi dan Kotori yang berusaha menahannya.

"Nee, Yukio-kun? Kamu sayang Reika, 'kan?" tanya Reika sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Yukio.

"Hehehe, jawab enggak, ya~?" goda Yukio.

"Iiish, kamu mah, gituuuu!" kata Reika.

"Makanya, dari tadi kutanya, kamu lagi ada maunya, 'kan?" jawab Yukio.

"Kamu tahu aja, ih!" kata Reika. "Aku mau minta uang lagi sama kamu, boleh?"

"Apa sih yang enggak untuk princess-ku ini?" balas Yukio. "Jadi, kamu butuh berapa?"

"Sekitar segini, lho…" Reika membisikkannya langsung ke telinga Yukio. "Ada kelab malam yang keren, tapi sayang, itu khusus perempuan… ya? Boleh, ya?"

"Tentu sa—" sebelum Yukio sempat menjawab, Nozomi sudah berdiri di depan mereka sambil memegang benda yang merupakan jimat Reika hingga Yukio tergila-gila.

"Ara? Jimat jaman batu, toh?" komentar Nozomi sambil memperhatikan bros dengan batu akik yang warnanya senada dengan pita seragam Reika di tangannya.

"Huh? A, apa yang terjadi denganku?" Yukio pun sadar. "Mi, Miyamoto?! Lepaskan tanganku, dasar perempuan menjijikan!"

Nozomi membanting bros itu ke tanah dan menginjaknya hingga hancur.

"Pantas saja aku merasa tidak asing dengan kejadian yang menimpa Yukio-kun," kata Rin sambil berdiri di depan Reika dan melipat kedua tangan di depan dadanya. "Rupanya kau adik dari Miyamoto Karin, ya?"

"HAH? Memangnya kau siapa?!" kata Reika. "Jangan sok akrab dengan onee-sama!"

Rin menjambak rambut gadis centil itu tanpa ragu dan menatapnya tajam. "Aku adalah Hoshizora Rin, kakak kembar dari Hoshizora Ran, anak yang dibunuh kakakmu tiga tahun yang lalu, camkan itu!"

Reika pun lari pontang-panting meninggalkan mereka.

"Oi, Rin…" panggil Nico. "Apa enggak apa-apa kau bilang begitu?"

"Enggak apa-apa," jawab Rin. "Kudengar, Karin sendiri sekarang menjadi gila karena perbuatannya itu,"

"Eh?" mereka yang ada di sana terang saja kaget.

"Katanya, dia stress karena dihantui oleh Ran, hahaha…" ujar Rin sambil menempatkan kedua lengan di belakang kepalanya. "Palingan dia hanya merasa bersalah, bukan? Toh, karma itu nyata adanya,"

"Ehem!" Eri berdehem cukup keras hingga yang lain membisu.

Eri berjalan mendekati Yukio dan menepuk bahunya. "Karena masalah Kousaka bersaudara sudah beres, bisakah kamu menyusul Arisa, Yukio?"

"A, Arisa? Memangnya, apa yang telah kulakukan?" Yukio tentu saja masih linglung karena baru sadar dari efek jimat itu.

"Susul atau kugantung…?" ancam Eri dengan ekspresi yang mengerikan.

"Takumi, kau ngajarin apa sih ke Eri?" tanya Maki setengah berbisik.

"Dasar-dasar bela diri biasa, kok…" jawab Takumi yang tak kalah merinding melihat sisi yandere tak terduga dari pacarnya itu.

"Aku yakin, itu karena keagresifanmu, deh, kayaknya?" kata Kotori.

"Hadeuh…" mereka pun menghela nafas sambil memasang pose 'Pusing Kepala Barbie'.

"Baiklah, aku akan menyusulnya!" kata Yukio sambil berlari mengejar Arisa.


"Arisa!" seru Yukio tepat sebelum Arisa memasuki lobi apartemen.

"Apa? Bukankah kamu ingin bersenang-senang dengan Miyamoto-san?" respon Arisa dingin, tapi kedua bahu mungilnya tampak gemetaran dengan jelas karena menahan tangis.

Bruuuk! Yukio melakukan dogeza tanpa merasa malu pada pandangan orang di sekitarnya.

"Maafkan aku, Arisa!" kata Yukio. "Semua yang kukatakan itu bukanlah dari diriku yang sebenarnya karena Miyamoto cabe-cabean itu mengguna-gunai aku!"

"Kamu yakin enggak ngelindur?" respon Arisa masih terdengar dingin.

Yukio bangkit dan memeluk gadis yang jauh lebih pendek darinya itu dari belakang.

"Hentikan, Yukio-kun…" air mata Arisa mulai menetes. "Aku malu…"

"Enggak akan kulepas sampai kau mau memaafkanku," jawab Yukio frustasi.

"Baiklah, aku memaafkanmu, tapi dengan satu syarat…" kata Arisa sambil menoleh ke belakang dan menatap pemuda berambut merah kecoklatan itu.

"Apapun akan kulakukan jika itu bisa membuatku dimaafkan olehmu, Arisa," kata Yukio serius.

"Ikutlah denganku melanjutkan pendidikan di SMA Otonokizaka," kata Arisa sambil tersenyum. "Dan jadilah school idol bersamaku!"

"Eh?"

"Aku tahu, kamu sudah melupakan keinginanmu untuk bersekolah di UTX, bukan?" ujar Arisa. "Apalagi karena kesuksesan Kazuya-san, onee-chan, juga teman-teman yang lainnya,"

"A, aku…" wajah Yukio memerah karena gengsi.

Chu! Arisa sukses menghadiahkan kecupan di pipi yang memanas itu sehingga membuatnya semakin merah seperti tomat.

"Bagaimana? Kamu mau, 'kan?" tanya Arisa sambil tersenyum jahil.

"Ya, tentu…" jawab Yukio yang klepek-klepek karena ciuman yang tiba-tiba itu.

Para member µ's sebenarnya memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Uwaaah… tsadeeest!" komentar Nico sampai bergidik ngeri.

"Kelakuan calon adik iparmu memang enggak jauh darimu, ya, Tacchan?" goda Nozomi.

"Oi…!" Takumi terang saja malu.

"Oke, karena urusan sudah beres semua… ayo, kita makan nabe untuk merayakan ultah Rin-kun yang hampir terlupakan!" seru Kazuya heboh.

"Ou!" seru kedelapan member lainnya.

Kok, agak nyesek, ya, dibilang 'hampir terlupakan', nya? kata Rin yang merasa ngenes dalam hati.