Akhirnya rampung juga -_- duh, pegel leherku...
No comment dulu deh dari mbak, check it out!
Hear Me Out
"Ah~ surga duniaaaa…" ucap Kazuya sembari mendekatkan kedua telapak tangannya ke depan alat pemanas ruangan di ruang loker klub peneliti idol.
"Betul banget, nyaaaa…" timpal Rin.
"Ini anak dua dikasih hati malah ngelunjak," dengus Nico. "Udah, deh… yuk, kita latihan!"
"Kau sendiri juga sibuk mengupas mikan di depan sana, Nico…" kata Takumi yang sepertinya sebentar lagi akan meledak karena kesal dengan kelakuan santainya trio oneng.
"Eeeeh? Tapi latihan di sini 'kan sempit banget!" protes Nico sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dan kita juga enggak bisa latihan di atap karena dinginnya salju," tambah Kazuya. "Fwaaah~ minum teh di depan pemanas itu memang paling mantap di musim dingin begini, ya!"
"Aduh, Kazu-kun ini lagaknya udah kayak aki-aki aja! Ohohohoho~" komentar Rin dengan nada bicara seperti nenek-nenek.
"Kamu sendiri juga enggak kalah nenek-nenek, Rin-kun! Hahahaha~" jawab Kazuya.
"Kalian ini…!" Takumi mengepalkan kedua tangannya dengan tubuh yang sudah gemetaran karena dikacangin.
"Sudah, sudah, Tacchan~" Nozomi berusaha menenangkannya. "Ah, Nicocchi, aku minta mikan-nya, yak~"
"Bahkan Nozomi juga…" Takumi hanya bisa facepalm.
"Teman-teman! Pai apelnya sudah jadi, nih~!" seru Kotori heboh sambil memasuki ruang loker dengan seloyang pai apel hangat.
"Juga kamu, Kotori…" Takumi tambah frustasi sehingga dia hanya bisa memeluk lutut di pojokkan.
"Jangan begitu, ah, Takumi-kun~" kata Kotori. "Aku, Eri-chan, dan Hanayo-chan sudah berusaha keras membuatnya, lho… kamu yakin enggak mau coba?"
"Baiklah," Takumi akhirnya mengalah. "Itadakimasu,"
"Hehehe, gimana, Takumi-kun?" tanya Hanayo penasaran. "Bagian dalamnya enggak gosong, 'kan?"
"Enak, kok," jawab Takumi. "Oh ya, Eri ke mana?"
"Dia lagi ngecek sesuatu di website Love Live di ruang OSIS," jelas Kotori.
"Lho? Kok, enggak di sini aja?" kata Takumi bingung. "Ruangan kita 'kan juga ada komputer,"
"Tadi dia ngeceknya pakai tablet-nya, terus karena baterainya mendadak nge-drop jadi Eri-chan langsung ngacir ke ruang OSIS supaya bisa numpang nge-charge," ujar Kotori.
"Owalah…" Takumi pun manggut-manggut.
"Maaf, aku telat!" kata Eri sambil ikut masuk ke ruang loker.
"Oh, hai, Ericchi~" sapa Nozomi. "Ngapain kamu nge-charge pakai di ruang OSIS segala? Hahahaha…"
"Ya… habisnya aku panik banget tadi," ujar Eri. "Namanya juga lagi lihat berita penting dan baterai tahu-tahu nge-drop 'kan kaget,"
"Berita penting? Tentang apa?" tanya Nico.
"Tentang live babak final awal Desember nanti," jawab Eri. "Apa sebaiknya kita buat lagu baru aja?"
"HAH?! Maksud lo?" Nico terang saja kaget mendengar usulan Eri.
"Apaan, sih, Eri? Kamu kira enggak repot buat ulang lagu, apa?!" tambah Maki yang enggak kalah emosi mendengarnya.
"Udah, udah, tenang dulu!" Nozomi berusaha menengahi.
"Yuk, kita ngedeprok dulu sembari diskusi," kata Kazuya. "Aku tuangkan tehnya satu per satu, ya,"
Kok, rasanya kelakuan kita mirip sama anak-anak band di anime tetangga, ya? gumam Hanayo sambil menyesap tehnya.
Setelah keadaan tenang mereka pun melanjutkan kembali diskusi.
"Jadi, apa yang membuatmu mendadak mengusulkan kalau kita sebaiknya buat lagu baru?" tanya Takumi.
"Umm… ya… aku hanya ingin suasana baru saja, gitu," jawab Eri yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu.
Maki menaikkan sebelah alisnya karena menyadari ada yang aneh dengan kelakuan Eri.
"Kalau begitu, sebaiknya kita buat lagu seperti apa, nya?" tanya Rin.
"Bagaimana kalau lagu tentang cinta?" usul Nozomi sambil nyengir dan melirik Takumi.
"A, apaan, sih?!" Takumi merasa malu dilirik dengan aneh begitu.
"Oh iya, ya! Takumi-kun 'kan sudah banyak pengalaman soal pacaran!" seru Kazuya heboh. "Pasti dia bisa buat lirik lagu yang romantis!"
"Beneran, Takumi?!" kata Nico kepo juga setengah berharap Takumi benar-benar bisa menulisnya.
"Ayolah, Takumi-kun~" rajuk Kazuya.
"Mencium Eri-chan di depan kami saja bisa, masa' menulis lirik semacam itu pakai malu-malu?" timpal Rin.
Takumi pun duduk bersimpuh dan menundukkan kepalanya. "Maaf, aku menyerah… aku enggak sanggup…"
"Yaaah, payah, nih! Enggak asyik!" dengus Kazuya sambil melipat kedua tangan di belakang kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Ta, tapi menurutku, idenya Eri-chan dan Nozomi-chan itu bagus, lho," kata Hanayo.
"E, eeeeh?!" keenam orang lainnya selain dirinya, Eri, dan Nozomi tentunya kaget.
"Tunggu, tunggu, tunggu! Apa maksudmu, Hanayo?!" seru Nico.
"Menurutku, lagu cinta itu punya impact yang bagus untuk kitanya nanti," ujar Hanayo. "Meski tema lagu semacam itu termasuk mainstream, tapi apa salahnya kita coba? Siapa tahu kalau lagu cinta yang kita buat akan menjadikan kita pemenang kompetisi Love Live tahun ini?"
"Jadi, bagaimana, Maki?" tanya Eri pada gadis yang kelihatan paling tidak setuju dengan ide ini.
"Aku sih tunggu liriknya beres dulu saja," jawab Maki cuek sambil bangkit dari tempat duduknya. "Kalau Takumi enggak mau ya aku juga enggak, jaa nee,"
Tidak ada yang tahu kalau diam-diam raut wajah si maniak tarot terlihat agak kecewa mendengar jawaban Maki.
"Mou, padahal kamu tak perlu menanggapi dengan serius celetukanku yang waktu itu, Ericchi," kata Nozomi saat mereka dalam perjalanan pulang.
Tentu saja, karena ini bisa dibilang pembicaraan yang rahasia jadi Nozomi juga baru membuka mulut begitu dirinya tinggal berdua dengan Eri.
"Enggak apa-apa, kok," jawab Eri sambil tersenyum. "Ide-idemu itu selalu menarik, Nozomi. Jadi, bukan masalah kalau kita katakan pada mereka, 'kan?"
"Ta, tapi—"
"Sssst! Udah, udah!" sela Eri sambil memberikannya permen dengan bungkus berbentuk boneka Matryoshka pada Nozomi. "Sampai ketemu besok, Nozomi!"
Nozomi menghela nafas begitu gadis ber-ponytail itu telah hilang di ujung jalan. "Dasar, kamu itu memang suka sekali merepotkan dirimu sendiri demi orang lain, ya, Ericchi?"
Srooot! Maki menyedot minumannya dengan kasar.
"Okashii…" kata Maki dengan raut wajah yang terlihat lelah.
"Hmm? Okashii (snack)? Kamu mau pesan apa lagi, Maki-chan?" tanya Rin sambil mengambilkan menu.
"Bukan… tapi okashii (aneh)!" jelas Maki. "Kalian enggak merasa kalau kelakuan Eri lumayan aneh tadi?!"
"Wa, walaupun idenya bagus?" kata Hanayo.
"Enggak! Ya… maksudku memang bagus sih idenya, tapi cobalah kalian pikir, pernah enggak, sih, si Eri mendadak ngusulin ide mendadak kayak gitu? Enggak, 'kan?" Maki tambah nafsu melepaskan uneg-unegnya.
Hanayo dan Rin pun menggeleng.
"Apa karena dia percaya sama omongan Nozomi-chan?" Hanayo berusaha menebak-nebak.
"Memangnya Nozomi pernah ngasih ide seenak udelnya begitu?" jawab Maki sinis.
"AH!" Rin tahu-tahu heboh sendiri.
"Apaan, sih, Rin?! Jangan bikin anak orang spot jantung, kenapa?!" seru Maki kesal sambil mengelus-elus dadanya karena kaget.
"I, ini Cuma asal mikir aja, sih…" kata Rin. "Jangan-jangan Eri-chan mendadak ngusulin supaya buat lagu baru karena dia sebenarnya member A-RISE, nya?!"
"Maksudmu, dia selama ini jadi mata-mata di µ's, gitu?" Hanayo malah merinding.
"Bego, ya enggak, lah!" kata Maki sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Ya udah, emang Maki-chan sendiri tahu alasannya?" dengus Rin sambil monyong karena sebal.
"Mana aku tahu, lah, bego," jawab Maki sambil menghabiskan minumannya. "Pokoknya aku merasa ada udang di balik batu dalam usulan mereka, itu saja,"
Smartphone Hanayo tiba-tiba berdering. Gadis itu mengeceknya dan mendapati pesan di chat group µ's.
BreadisJustice : "Guys, girls! Aku, Kotori-chan, dan Takumi-kun udah diskusi nih mengenai usulan Eri-chan dan Nozomi-chan tadi siang!"
RiceisJustice : "Hee? Lalu, bagaimana keputusan kalian?"
ChunChun : "Akhir pekan ini kita adakan diskusi lagi di rumah Kazuya-kun, yuk~"
CoolCats : "Memangnya Nico-kun, Eri-chan, dan Nozomi-chan udah setuju, nya?"
IchibanAidoru : "Udah dari tadi, woi… makanya jangan mager nge-scroll, dong!"
RedMelody : "Yaelah, gitu aja mesti sewot, apa?"
IchibanAidoru : "Gue 'kan sebagai senpai yang baik, ganteng, dan hebat Cuma memberi kalian sedikit nasihat, mbak tsundere gaje… bukannya situ yang sewot? Dikasih tahu malah marah enggak karuan,"
RedMelody : "Bodo, ah! Gue leave group aja kalau gini caranya!"
DancingQueen : "Eh, eh, eh… tunggu, Maki! Aduh, Nico juga jangan ngajak berantem gitu, dong!"
IchibanAidoru : "Jaaah… emang urusan gue?"
SpiritualGirl : "Nicocchi… kerocoku udah di belakang kamu, lho… dia mau pasang kertas kutukan supaya kamu apes sampai jadi om-om, kamu mau?"
IchibanAidoru : "Lu pikir gue bakal percaya? Hahahahaha, gilak, gilak! Lucu parah lu, mbak!"
Nico menengok ke belakang dan ternyata benar ucapan Nozomi.
IchibanAidoru : "Anying! Lu miara makhluk apaan, bego?! Serem, nyet!"
BreadisJustice, CoolCats, SpiritualGirl, DancingQueen : "HAHAHAHA! MPOZZZ LO!"
ChunChun : "Aduh… bisa enggak kita balik ke topik utama aja? (-_-")"
RiceisJustice : "Enggak, daripada itu… Takumi-kun lagi enggak aktif L*ne-nya, ya?"
ChunChun : "Dia masih ngedeprok bertiga sama aku dan Kazuya-kun, kok, di sini,"
RedMelody : "Lah? Terus kenapa itu anak enggak ikut diskusi?"
BreadisJustice : "Kepalanya berasap saking malu dan enggak sanggup menulis lirik lagu cinta, nih… ini juga aku dan Kotori-chan lagi ngipasin ubun-ubunnya, (-_-")"
IchibanAidoru : "EH, ANJIR! SIAPAPUN TOLONGIN GUEEEEE!" (scared to death sticker)
Semua, kecuali SamuraiClan : "Tolongin enggak, yaaaaa?" (evil sticker)
IchibanAidoru : "WOI… eh, serius ini! Nozomi! Kasih tahu mantra buat ngusirnya, dong!"
CoolCats : "Jangan, Nozomi-chan! Kebiasaan nanti!"
ChunChun : "Eh, serius, deh… (-_-") yang ngedatengin Nico-kun tuh makhluk apaan, sih?"
IchibanAidoru : "Udah! Enggak usah dibahas! Anjir, anjir, anjir! Dia malah ngejar gue sampai ke luar apartemen!"
RiceisJustice : "Nozomi-chan… udah, kasih aja mantranya, deh… aku juga ikutan merinding ini, (-_-")"
RedMelody : "Bentar, ini Eri kenapa juga ngilang, sih?"
CoolCats : "Yaelah, paling dia juga lagi ngumpet ke kamarnya Arisa-chan, nya,"
DancingQueen : "Lu kucing apa cenayang, sih?!"
RedMelody : "Weh (-_-) beneran tuh, Rin,"
CoolCats : "Buset, dah… gue jelas-jelas manusia tulen, gini, (-_-")"
SpiritualGirl : "Mantranya itu, 'Nozomi-sama no mune wa chiisai desu yo',"
Semua, kecuali SpiritualGirl dan SamuraiClan : "ANJIR LU, NOZOMI…! (0_0;)"
IchibanAidoru : "Woi! Lu kira gue ngeres kayak lu, apa?!"
SpiritualGirl : "Bodo~ yang penting aku udah kasih tahu," (teasing sticker)
Nico menarik nafas dan meneriakkan mantra itu sekencang-kencangnya, "NOZOMI-SAMA NO MUNE WA CHIISAI DESU YO!"
Keroco Nozomi pun hilang, namun Nico sekarang jadi dipandang dengan aneh oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Aduh, mak… mampus gueeeee…! kata Nico dalam hati begitu melihat seorang pendeta kuil dan polisi mendekatinya.
Alhasil, Nico diseret si pendeta dan para polisi ke kuil terdekat supaya diruwat juga memohon ampun pada dewa atas 'kemesumannya' yang tidak disengaja itu.
"Suki da! Aishiteru!" seru Kazuya sambil meniru pose Romeo dengan mengulurkan tangannya kepada Kotori.
"Waiii~ suteki yo, Kazuya-kun!" kata Kotori kesengsem. "Aku juga sayang Kazuya-kun, kok… ehehehehe!"
Ketujuh pasang mata lainnya hanya bisa menatap pasangan Romeo-Juliet kawean itu dengan aneh.
"Ini kenapa kita jadi kayak obat nyamuk di depan acara FTV tengah hari bolong, deh?" komentar Nico sambil menopang dagu dengan tangan kirinya.
"Aduh, maaf, maaf!" kata Kazuya sambil menggaruk tengkuknya. "Aku dan Kotori-chan malah jadi keasyikan gini, hehehe…"
"Tapi kalau melihat Kazuya yang melakukan kokuhaku rasanya lucu, ya?" komentar Eri sambil menahan tawa.
"E, eeeeh? Kenapa?" tanya Kazuya bingung.
"Kamu melakukannya dengan lugu begitu, siapa juga yang enggak bisa tahan ngakak melihatnya?" ujar Maki.
"Ka, kalau begitu… bagaimana kalau kita nonton ini aja?" usul Hanayo sambil menunjukkan DVD AA*C2 yang sudah di-dub oleh seiyuu Jepang.
"Hiks… aduh, kasihan si Cinta!" komentar Hanayo sambil sesenggukan.
"He-euh!" respon Eri dan Kotori yang duduk mengapitnya.
Posisi saat ini adalah Hanayo, Eri, dan Kotori duduk paling depan dekat dengan TV. Kazuya dan Rin molor di sudut ruangan. Maki yang menonton dengan ekspresi datar yang ngeselin khasnya. Nico yang entah kenapa ikutan mewek sambil memberikan komentar negatif terhadap film itu. Nozomi duduk di dekat Maki dan Nico sambil cekikikan sendiri melihat kelakuan Nico, dan… Takumi yang entah kenapa ngumpet di pojokkan sambil menutupi kepalanya dengan bantal.
"Tacchan, kamu ngapain, deh?" tanya Nozomi heran.
"Iya, nih, Takumi-kun! Kamu ngapain di situ? Ini 'kan bukan film horror!" tambah Kotori.
"Tahu, nih! Enggak asyik banget kamu, Takumi!" Eri juga ikut-ikutan.
"Ya, aku tahu… tapi… tapi… arrrgh! Harenchi desu yo!" seru Takumi.
"Kita enggak sudi dengar itu dari cowok yang paling agresif di sini, tahu…" kata keenam member lainnya sambil menatap Takumi dengan aneh.
"Apaan, sih? Orang aku enggak mau no, non—" Takumi tergagap-gagap karena layar tipis itu memperlihatkan adegan beberapa saat sebelum para tokoh utamanya berciuman.
"Uwaaaah!" Eri, Hanayo, dan Kotori tentu saja makin bersemangat dan kesengsem.
"Hiiii… uwaaaaaa!" teriak Takumi sambil secepat kilat menyambar remote dan mematikan TV.
"Iiiih, apaan, sih, Takumi?!" dengus Eri kesal.
"Ini lagi bagian yang penting juga!" tambah Kotori.
"Ugh… Takumi-kun jahat!" kata Hanayo.
"Ka, kalian ini bodoh, apa?! Itu 'kan adegan enggak senonoh yang memang enggak boleh dilihat oleh kita!" balas Takumi dengan wajah semerah tomat.
"Yaelah, woles wae, lah~" kata Nico santai. "Kita juga udah pada biasa melihat drakula pemanah yang dikit-dikit ninggalin kiss mark di leher mbak mantan ketua OSIS!"
"Ini dan itu beda, lah!" Takumi malah berusaha membela diri.
"Beda, ndasmu!" kata keenam member lainnya dengan keras sampai Kazuya dan Rin pun terbangun.
"Eh? Cepat banget selesainya?" kata Kazuya sambil meregangkan tubuhnya.
"Ugh… padahal aku masih ngantuk, nya…" keluh Rin sambil mengucek-ngucek matanya. "Kalian ini tega banget, sih!"
"Hahaha… kalian 'kan sudah tidur bahkan setelah dua menit film-nya mulai!" kata Nozomi.
Akhirnya, hasil diskusi hari itu pun… nihil.
"Rin, Hanayo," panggil Maki tiba-tiba setelah Nozomi dan Eri telah berjalan agak jauh.
"Hmm?" respon keduanya.
"Pulanglah duluan," kata Maki cepat. "Ada satu hal yang harus kupastikan dulu,"
"Ah, umm… baiklah, semoga berhasil!" kata Rin canggung.
Maki mengikuti Nozomi dan Eri diam-diam sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kamu yakin enggak apa-apa kita batal membuatnya, Nozomi?" tanya Eri khawatir.
"Hei, hei? Aku udah bilang dari kemarin kalau kamu enggak perlu terlalu serius menanggapinya, 'kan?" jawab Nozomi sambil nyengir. "Jangan mengerutkan dahimu seperti itu, dong! Gawat kalau kamu disangka satu angkatan sama obaa-sama-mu, 'kan? Hehehehe…"
"No, Nozomi!" seru Eri. "Ini 'kan demi kamu!"
"Enggak usah, Ericchi!" kata Nozomi sambil menepuk-nepuk bahu kiri Eri. "Aku hargai perasaanmu, tapi aku sudah memikirkan ulang soal celetukanku waktu itu, tahu… aku memang enggak mau karena aku enggak enak sama mereka!"
'Mereka'? Apaan, sih? pikir Maki.
"Aku akan bantuin kamu ngomong soal itu, deh! Makanya—" ucapan Eri terhenti karena melihat sosok bersurai merah yang berjalan mendekati mereka.
"Ara? Bukankah arah rumahmu bukan ke sini, Maki-chan?" tanya Nozomi sambil tersenyum seperti biasanya.
"Enggak usah banyak basa-basi," sela Maki sambil menatap keduanya dengan tajam. "Lebih baik kau katakan maksud tersembunyi di balik idemu ini, Nozomi,"
"Baiklah," kata Nozomi setelah menghela nafas. "Yuk, kita mampir ke apartemenku,"
Akhirnya terungkaplah alasan Nozomi mengusulkan ide itu. Dia ingin lagu yang akan mereka tampilkan adalah hasil pemikiran mereka semua, bukan hanya Takumi maupun Maki. Hari H sudah kurang dari seminggu. Mereka pun semakin disibukkan oleh latihan persiapan live dan kegiatan masing-masing, terutama Nico yang bekerja sambilan di restoran keluarga setiap selesai latihan.
"Kamu enggak capek, Nicocchi?" tanya Nozomi saat keduanya kembali bertemu di depan loker sepatu begitu latihan hari ini selesai.
"Hmm… maksudmu, kerja sambilan dan latihan?" Nico balik bertanya.
"Iya," jawab Nozomi sambil menundukkan wajahnya untuk menutupi raut cemas yang terukir jelas di sana.
"Kau sendiri juga ngerti kalau uang jatah bulanan dari ibuku itu enggak selalu bisa mencukupi aku dan adik-adikku, bukan?" ujar Nico sambil menghela nafas. "Apalagi kalau tiba-tiba mereka sakit, bukannya wajar kalau aku berusaha keras demi menghidupi mereka?"
"Ya, aku mengerti, kok," jawab Nozomi. "Aku juga tahu meski sudah hampir akhir tahun begini ibumu belum bisa pulang karena pekerjaannya, 'kan?"
"Ya, begitulah…" kata Nico sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepalanya. "Namanya juga pramugari,"
"Tapi… aku boleh 'kan bantu kamu mengurus rumah juga adik-adikmu?" kata Nozomi dengan mata penuh harap.
"Terserah kamu, sih…" jawab Nico cuek. "Toh, Kokoro juga bisa diandalkan untuk urusan itu,"
"Gawat, sudah jam segini!" kata Nico kemudian sambil melihat jam di smartphone-nya. "Aku duluan, ya, Nozomi!"
Nozomi hanya membalas dengan melambaikan tangan ke arah pemuda bermanik merah yang semakin jauh itu.
Huff… saljunya semakin tebal saja! kata Nozomi dalam hati sambil membuang nafasnya yang kini telah putih karena udara dingin.
Bruk! Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang ambruk di depannya.
"Eh? Dek! Kamu enggak apa-apa?!" tanya Nozomi panik sambil membopong anak itu dan memegang dahinya. "Ya ampun, panas sekali!"
"Eng, enggak apa-apa, kok…, Nico-nii-sama…" anak itu sepertinya ngelindur karena demamnya yang begitu tinggi. "Kokoro sebentar lagi sampai ke rumah dan memasak sup miso untuk Kokoa dan Kotarou…"
Nozomi tentunya tak bisa membiarkan anak itu sehingga dia dengan sigap menggendongnya dan mengambil kunci apartemen di sakunya.
Sebaiknya aku enggak kabari Nicocchi dulu, deh… takutnya dia ikut kenapa-kenapa di tempat kerjanya, gumam Nozomi sambil berjalan menembus hujan salju yang semakin ganas.
"Okaeriii!" sambut Kokoa dengan girang begitu mendengar pintu apartemennya terbuka. "Eh?! Kokoro kenapa, Nozomi-onee-san?!"
"Aku menemukannya pingsan di jalan tadi," ujar Nozomi. "Wah, kamu masih ingat aku rupanya? Hehehe, aku jadi terharu, nih…"
"A, aduh… gimana ini? Aku enggak bisa masak!" Kokoa terlihat seperti ingin menangis. "Kasihan Kotarou!"
"Ckckck… kamu lupa kalau aku ke sini enggak hanya untuk mengantar dan merawat Kokoro-chan, ya?" kata Nozomi.
"Eh? Memangnya Nozomi-onee-san bisa masak?" kedua mata Kokoa membulat.
"Tentu saja! Non-tan gitu, lhooooo…" Nozomi membanggakan diri sambil menyingsingkan kedua lengan kemeja seragamnya. "Akan kupastikan kalian kenyang dengan masakanku yang top ini, deh!"
Setelah membaringkan Kokoro di kamar dan memberinya obat juga kompres, Nozomi mulai sibuk menyiapkan makanan di dapur keluarga Yazawa.
"Aromanya… enak…" kata Kotarou sambil berjalan mendekati Nozomi.
"Hehehe, sebentar lagi juga matang, kok!" jawab Nozomi sambil mengusap-usap kepala Kotarou. "Sekarang kamu duduk yang manis saja di ruang makan, ya, Kotarou-kun! Hehehe…"
"Horeee… akhirnya… aku kesampaian… makan masakannya mama-onee-san…!" sorak Kotarou sambil melompat-lompat ke ruang makan.
Aku, mama-onee-san? Aduh, lucu banget adiknya Nicocchi itu! kata Nozomi dalam hati sambil mengaduk-aduk sup miso buatannya.
"Kokoro! 'Kan sudah kubilang kamu cukup panaskan makanan di—" seru Nico yang baru pulang sambil berlari ke dapur. "No, No, Nozomi?! Ngapain lu di sini, coba?!"
"Oi, oi… adikmu yang paling bisa diandalkan itu ambruk di jalan tadi tahu, enggak?" jawab Nozomi sambil mengarahkan sendok sup ke wajah Nico. "Kokoa enggak bisa masak dan adikmu yang paling bungsu kelaparan. Jadi, wajar kalau aku sekalian meminjam dapurmu, 'kan?"
Nico langsung jongkok dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya. "Arrrgh… aku memang kakak yang payah! Bisa-bisanya aku enggak tahu kalau adikku sakit!"
"Sudahlah, ini juga salahku, Nicocchi," kata Nozomi sambil membantunya berdiri. "Aku sengaja enggak memberitahumu karena takut kamu panik, bergegas kemari, kemudian kena apa-apa di jalan, gitu, lho… aku tuh juga khawatir sama kamu, jadi kuharap kamu mau memaafkanku, oke?"
"Ka, kalau begitu… kamu duduk manis saja bareng Kokoa dan Kotarou! Biar aku yang—" ucapan Nico terhenti karena Nozomi mendorongnya masuk ke kamarnya.
"Udah, udah! Kamu istirahat aja!" potong Nozomi. "Buruan mandi dan ganti bajumu, dasar bau!"
"Iya, deh, iya…" jawab Nico sambil berjalan menuju kamarnya.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. "Ano… aku lupa bilang padamu, Nozomi. Te, terima kasih sudah membantu keluargaku…"
"Sama-sama, Nicocchi!" jawab Nozomi sambil tersenyum lebar.
Wajah Nico merona merah begitu melihat senyuman itu. "Dasar, kalau begitu aku mandi dan bersiap-siap dulu, ya,"
Ketiga adiknya Nico langsung terlelap begitu menyelesaikan makan malam mereka. Agar tidak mengganggu, Nico mengajak Nozomi untuk mengobrol di berandanya.
"Hontou, aku lagi-lagi diselamatkan olehmu, ya, Nozomi?" Nico mengawali pembicaraan.
"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkannya," kata Nozomi. "Aku juga senang mengurusi adik-adikmu. Kamu tahu sendiri kalau aku ini anak tunggal dan tinggal sendirian karena orangtuaku selalu sibuk di luar kota, 'kan?"
"Ya, tentu saja aku tahu," jawab Nico. "Kita 'kan sudah berteman sejak kelas satu,"
"Maaf, ya, Nicocchi…" kata Nozomi sambil menunduk.
"Untuk?"
"Karena aku sudah mengganggumu waktu itu dengan keroco yang kupanggil dari ritual gaje-ku," jelas Nozomi. "Pasti kamu kesusahan banget waktu diuber-uber olehnya,"
"Hahaha… masih saja kamu memikirkannya!" gelak Nico. "Aku saja sudah lupa!"
"Ta, tapi… kamu memaafkanku, 'kan?"
"Iyalah… ngapain juga aku harus dendam kesumat hanya karena dikejar hantu kecil begitu!" kata Nico sambil nyengir. "Sudahlah, jangan pasang wajah seperti itu! Nanti cepat keriput, lho! Hahahahaha!"
"Terima kasih, Nicocchi…" kata Nozomi lega.
"Bodoh," balas Nico sambil merangkul Nozomi. "Harusnya aku yang berterimakasih padamu, tahu,"
Tu, tu, tunggu… Nicocchi? Apa yang kamu lakukan?! Aduh, pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang! kata Nozomi panik dalam hati dengan wajahnya yang semakin memanas.
"Mungkin akan sangat menyenangkan jika gadis hebat sepertimu ada di keluarga kecil ini," kata Nico setengah berbisik.
Bentar, ini dia asal celetuk atau ada maksud ingin melamarku, coba?! gumam Nozomi yang makin 'konslet'.
"Ah! Su, sudah larut, nih! Sebaiknya aku pulang!" kata Nozomi sambil lepas dari rangkulan Nico. "Jaa, Nicocchi!"
Nozomi langsung ambil langkah seribu begitu keluar dari sana.
Gawat, gawat, gawat… apa maksudnya coba tadi? kata Nozomi dalam hati begitu ia berbaring di ranjangnya sambil memeluk bantal.
Masa' sih… si bodoh itu juga memiliki rasa yang sama terhadapku…? pikir Nozomi sambil menatap foto Nico yang ia letakkan di sisi kanan ranjangnya.
Todokete setsunasa ni wa…
Namae wo tsukeyou ka "snow halation"
"Lagu yang sedih, ya?" komentar Anju yang melihat penampilan µ's bersama Tsubasa dan Allen dengan streaming langsung dari website resmi Love Live.
"Yah… berharap saja dalang di balik terciptanya lagu ini bisa meraih pujaan hatinya," kata Tsubasa.
"Huh, kau berkata seolah tahu segalanya, ya, Tsubasa?" kata Allen.
"Oh, tentu saja," jawab Tsubasa. "Aku bahkan tahu warna pantsu-mu dan Anju hari ini,"
"Mati aja deh lu!" seru Anju dan Allen sambil menendang si dahi lebar itu ke monitor. "Dasar stalker bego!"
Saat para member lainnya telah pulang dan tinggal dirinya juga pemuda pujaannya itu, Nozomi mulai berlari untuk menyusul pemuda mungil yang berjalan agak jauh di depannya.
"Nicocchi!" seru Nozomi sambil mengatur nafasnya karena berlari demi menghentikan langkah Nico.
"Oh, ada apa, Nozomi?" tanya Nico. "Apakah ada barangku yang ketinggalan di back stage?"
Kamu bisa, Non-tan… kamu bisa! Nozomi berusaha menenangkan dirinya yang gugup.
"Ada yang ingin kukatakan pada Nicocchi… dan ini sangat penting untukku!" kata Nozomi.
Nico menaikkan sebelah alisnya dan dengan sabar mendengarkan gadis bersurai ungu itu.
"Aku menyukaimu, Nicocchi… sangat menyukaimu…" ujar Nozomi dengan semburat merah memenuhi wajahnya.
Nico menggaruk tengkuknya. "Ahahaha… seperti yang diharapkan dari idol kece sepertiku, Nico Nico ni—"
"Bukan dalam arti seperti itu!" seru Nozomi.
Nozomi kembali berusaha mengatur nafasnya. "Aku jatuh cinta padamu, Nicocchi… sejak kita mulai berteman… aku tahu perasaanku ini egois dan kelewatan, tapi… aku enggak bisa menahan perasaanku yang sebenarnya kepadamu, Nicocchi!"
Wajah Nico merona merah. "Te, terima kasih, Nozomi… aku sangat senang kamu menyukai, bukan… maksudku, mencintaiku,"
"Ka, kalau begitu aku ingin—"
"Maaf!" kata Nico cepat sambil membungkukkan tubuhnya. "Aku… tidak tahu bagaimana harus membalas perasaanmu yang tulus ini!"
Air mata Nozomi mulai menetes, namun ia tetap berusaha untuk tegar.
"Enggak apa-apa," kata Nozomi sambil berusaha menghentikan air matanya yang mengalir semakin deras. "Asalkan kamu mau mendengarkanku itu… sudah cukup,"
Nozomi berlari meninggalkan Nico.
Nico membenturkan dahinya ke dinding begitu lokasi pengakuan cinta itu telah sepi.
Aku juga tidak tahu apa yang kurasakan terhadapmu, Nozomi… aku takut dan aku pikir masih banyak pria yang lebih baik untuk gadis sebaik dirimu… enggak, aku bukan si keren Nico-nii-sama! Aku enggak lebih dari pria terburuk yang pernah ada… Nico merutuki dirinya sendiri sambil menahan tangis.
