Sebelumnya, mbak ingin minta maaf karena update chap yang semakin enggak teratur -_- hontou sumimasen desu ta!

Selain itu, karena plot yang makin rumit dan mungkin (?) beberapa bukan make over dari anime-nya lagi jadinya agak sulit memikirkan kelanjutannya, hehehe... /slapped

Intinya gitu, sih... jadi, semoga kalian bisa maklum -_-" terlebih mulai tanggal 17 Agustus hingga seterusnya nanti mbak bakal sibuk ospek dan Senin depan sudah mulai kuliah jadi ya tadi... bisa-bisa update makin enggak karuan kapannya /slappedagain

Ta, tapi mbak bakal usahakan tetap update dan memberikan yang terbaik, kok 0_0; tetap dukung mbak yak di perkancahan fiksi Love Live ini~ /ngarep

Udah, ah! Gitu aja curcolnya! Check it out!

Blue Christmas

"Enggak terasa besok sudah natal saja, ya?" kata Kazuya sambil membaringkan kepalanya ke atas meja di ruang klub peneliti idol.

"Lalu, tak lama setelah itu tahun baru, nya!" timpal Rin.

"Waktu berjalan begitu cepat, ya!" kata Hanayo.

"Dasar, obrolan kalian ini sudah seperti lansia di panti jompo saja!" komentar Nico.

"Siapa pun juga senang menjelang natal, tahu, Nico-kun!" dengus Kazuya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Tapi bukannya nanti kamu bakal sibuk membantu keluargamu menjaga toko, Kazuya-kun?" celetuk Kotori.

"AH! Aku lupa!" seru Kazuya heboh. "Huweee… maaf aku enggak bisa mengajakmu kencan, Kotori-chan!"

"Hahaha… yosh, yosh, enggak apa-apa, kok!" kata Kotori sambil mengelus-elus kepala Kazuya. "Asalkan jangan sampai lupa hadiah natal untukku, oke?"

"Mana mungkin aku lupa, Kotori-chan~!" jawab Kazuya sambil memeluk Kotori hingga pipi mereka saling beradu. "Serahkan saja padaku!"

"Dasar, padahal kalian 'kan sudah bukan anak kecil lagi," kata Nico sambil menghela nafas.

"Ma, maaf, Nico-kun…" kata Hanayo. "Kami juga sudah dengar tentang ayahnya Nico—"

"Sudah, sudah… enggak apa-apa, kok, Hanayo!" jawab Nico cepat sambil nyengir seperti biasanya. "Beliau sudah wafat sejak aku masih SD jadi aku juga sudah terbiasa,"

"Sayang sekali kita juga enggak bisa mengadakan pesta natal bersama, ya?" keluh Maki. "Takumi sibuk dengan kejuaraan Kyuudo-nya dan kalian yang kelas tiga juga sibuk dengan urusan belajar persiapan untuk ujian akhir,"

"Apa boleh buat, nya… sepertinya kita baru bisa ketemu setelah tahun baru," kata Rin lesu.

"Tapi kelihatannya yang enggak bersemangat menjelang natal dan tahun baru itu enggak hanya kau, ya, Nico-kun?" celetuk Maki tiba-tiba.

"Eh? Maksudmu?" tanya Nico bingung.

"Meski terlihat tegar, aku yakin Eri agak kesepian karena kesibukan Takumi. Lalu, entah kenapa Nozomi lebih sering menyendiri akhir-akhir ini," ujar Maki. "Bukannya kau sudah berteman dengannya sejak kelas satu? Masa' kau enggak tahu apa yang membuatnya jadi enggak bersemangat begitu?"

"E, enggak, kok! Aku enggak tahu apa-apa!" jawab Nico bohong.

"Hmm… kok, kesannya tingkahmu mencurigakan begitu?" kata Maki sambil bertopang dagu.

"Berisik, ah!" seru Nico kesal.

"Terserah, sih… lagian bukan berarti aku peduli juga," kata Maki cuek.

Huffft… baguslah! kata Nico lega dalam hati.

Eri pun tiba dan ikut duduk di salah satu kursi di ruangan itu tanpa bicara sepatah kata pun.

"Oi, oi… ngambek juga enggak usah kelewatan gitu, mbak…" kata Nico sambil tetap asyik mengunyah cemilannya. "Serem, tahu…"

"Sssst! Nico-kun! Jangan kayak gitu, ah!" Kotori berusaha memperingatkan.

"Langsung saja, deh," kata Maki sambil pindah posisi duduk ke sebelah Eri. "Kamu ada masalah lagi dengan Takumi?"

Eri hanya diam sambil tetap menggenggam smartphone-nya dengan gemetaran.

"Ah, lama, deh!" kata Nico sambil merebut paksa smartphone dari genggaman gadis seperempat Russia itu.

"Apa, sih? Apa, sih?" tanya Rin kepo sambil berjalan mendekati Nico. "Wajahmu sampai serius, gitu, Nico-kun,"

"Kamu lagi lihat apa, sih, Nico-kun?" tanya Hanayo juga.

Nico menghela nafas. "Bentar… ini password-nya apa, ya, Eri?"

Gubrak! Ternyata dahinya sampai berkerut begitu karena mencoba meng-unlock smartphone-nya Eri, toh.

"Main rebut, tapi enggak tahu password untuk membukanya," ledek Kazuya. "Malu, nih, yeeee…"

Wajah Nico tentu saja merah padam karena malu. "Humph!"

Eri meng-unlock smartphone-nya dan menunjukkan penyebab mengapa dirinya begitu uring-uringan saat itu pada Maki.

"Wah, seperti yang diharapkan dari ace klub Kyuudo, populer seperti biasanya, ya?" komentar Maki sambil melihat foto itu. "Tapi kalau foto yang ini bukannya editan-nya berlebihan, ya? Ketara banget bohongnya,"

"Yaelah, foto editan maniaknya Takumi aja heboh banget kamu, Eri," kata Nico dengan agak sinis.

"Kalau menurutku, bukan soal editan atau apa, sih, Nico-kun," kata Kotori. "Masalahnya, siapa yang sampai hati memanas-manasi Eri-chan begini?"

"Uwaaah… mana message-nya parah, gitu!" tambah Kazuya ngeri.

Foto yang dimaksud di sini adalah foto Takumi yang tengah dikerubungi para siswi yang juga peserta kejuaraan Kyuudo, baik dari Otonokizaka maupun dari sekolah lain. Salah satu fotonya ada yang menunjukkan Takumi tengah tersenyum dengan kiss mark di lehernya dan ada perempuan di sebelahnya yang sengaja dibuat blur wajahnya tengah tersenyum penuh kemenangan. Ya, itulah foto editan yang dimaksud Maki.

Message-nya kurang lebih berbunyi seperti ini, "Bagaimana, mbak bule kecentilan? Sudah cukup panas melihat foto-foto mesra kami dengan Sonoda-kun? HAHAHA! Lihat? Kami yang berkecimpung di bidang yang sama dengan Sonoda-kun lebih lihai darimu, kau tahu? Harusnya cewek yang baru kenal sambil lalu dengan Sonoda-kun sepertimu itu enggak usah sok-sok nempel dan mengaku-ngaku pacarnya, deh! Oh ya, kalau Bu Minami tahu soal ini, bagaimana tuh nasibmu? HAHAHA! Peduli? Enggak, sih… ngapain juga mesti peduli sama cewek pengganggu sepertimu?"

"Hahahaha… provokasi kelas teri banget ini, mah," komentar Maki. "Aku yakin, Eri sudah pernah menerima surat dari haters-nya yang bahkan jauh lebih parah dari ini,"

"Eeeeeh? Memangnya Maki-chan enggak gemas atau kesal membacanya?" tanya Kazuya gregetan.

"Kesal, sih, ada meski sedikit," jawab Maki tenang. "Tapi dari yang kubaca, si cewek pelaku teror gaje ini enggak lebih dari cewek barbar yang cemburu pada kedekatan Takumi dan Eri, tapi dianya sendiri enggak ada usaha untuk menggapai Takumi, kurang lebih gitu,"

"Kalau memang dia penggemar yang baik mestinya dia ikut senang bila idolanya bahagia, lah," kata Nico.

"Ano… Nico-kun? Yang lagi kita omongin ini Takumi-kun, lho…" kata Kazuya. "Memangnya Nico-kun sendiri enggak tahu betapa ganasnya penggemar Takumi-kun itu?"

"Enggak, dan emang gue enggak mau tahu," jawab Nico masa bodo. "Secara karena Takumi itu musuh gue untuk soal adu popularitas,"

"Plis, lah… lu aja baru beken setelah drama Rom-Jul pas bunkasai lalu!" kata Maki sambil memandang Nico dengan geli.

"Bawel, ah!" dengus Nico.

"Hahahaha… dasar, enggak tahu malu!" ledek Rin.

"Udah! Lu enggak usah ikut ketawa, deh, bocah meong!" bentak Nico.

"Nico-kun kowai, nya~" goda Rin.

Sementara Nico, Rin, dan Maki ribut enggak jelas, Kotori dan Hanayo tetap fokus mencoba menyelidiki chat itu.

"Ada apa, Hanayo-chan?" tanya Kotori yang penasaran mengapa Hanayo terlihat begitu serius melihat chat itu.

"Bukannya ini dari Kidou-san, wakil ketua klub Kyuudo yang kita mintai tolong untuk ikut mengerjai Eri-chan waktu itu, ya?" kata Hanayo sambil menunjuk nama akun pengirim message dan foto-foto itu.

"Enggak, enggak mungkin itu dari dia," jawab Nico sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Hubungan dia dan Eri enggak ada masalah, kok,"

"Be, berarti akun dia dibajak?!" kata Hanayo.

"Kemungkinan begitu," jawab Maki. "Kamu enggak ingat pernah melakukan sesuatu pada orang lain hingga dia ada rasa benci padamu, Eri?"

Eri hanya diam saja sambil tetap menunduk.

"Ah, percuma! Kalau dia sudah begitu sih kita enggak bisa apa-apa!" kata Nico sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karena gregetan dengan kelakuan Eri.

"Nee, Eri-chan? Curhatlah pada kami," bujuk Kotori sambil mengelus-elus punggung Eri. "Kita juga enggak akan ember, kok… ya, 'kan, teman-teman?"

Semuanya mengangguk-angguk.

"Aku sendiri juga enggak ngerti apa yang kurasakan ini," Eri mulai bicara setelah diam beberapa saat.

"Ya, aku cemburu, tapi aku memaklumi karena memang Takumi itu populer hingga para siswi di luar Otonokizaka pun mengidolakannya," ujar Eri.

Tubuh Eri gemetaran dan air matanya mulai menetes. "Aku memang enggak terpengaruh dengan provokasi itu, tapi… ada satu sisi dalam diriku yang takut…"

"Takut karena?" tanya Kotori sambil menggenggam kedua tangan Eri.

"Aku takut Takumi akan terasa semakin jauh dariku karena ada banyak hal yang tidak kuketahui tentangnya kemudian muncul seseorang yang berhasil memikat hatinya karena lebih mengerti dirinya," jelas Eri.

"Aku tahu, aku ini egois, posesif, cengeng, dan selalu saja merepotkannya…" isak Eri. "Bahkan aku sampai berpikir dia asal jalan denganku demi bisa melupakan perasaannya yang dulu padamu, Kotori…"

Nico berdiri di depan Eri dan menyentil dahi gadis itu dengan keras. "Bangun, bakka Erichika!"

"I, ittai! Apa-apaan kamu, Nico?!" seru Eri kesal sambil memegangi dahinya yang perih.

"Nico-kun, kupikir itu juga agak keterlalu—"

Nico langsung membekap mulut Kazuya yang hendak ngoceh itu dengan tangan kanannya. "Udah, mending kalian diam dulu,"

"Akhirnya, kau serius juga, ketua bego," kata Maki.

"Maksud lo dari tadi gue enggak serius, apa?!" gerutu Nico.

"Ngaca saja sendiri, hahaha…" sindir Maki sambil memelintir rambutnya.

Setelah kepalanya dingin, Nico kembali melanjutkan ucapannya.

"Eri, lo pikir diri lo itu egois dan posesif, memangnya selama ini Takumi enggak begitu?" kata Nico.

"Lo enggak ingat waktu lo nyaris diserang Allen waktu itu? Takumi bahkan sampai babak belur demi melindungi lo, tahu,"

"Setelah lo membentaknya karena dia lupa ultah lo, dia langsung ke apartemen lo tengah malam demi bisa mengucapkan selamat dan memberi hadiah,"

"Dia mungkin agak agresif karena sering mencium lo atau kadang meninggalkan kiss mark di leher lo, itu kenapa? Karena dia sayang sama lo, Eri," ujar Nico.

Nico menghela nafas. "Kita ngerti kalau lo lagi pergolakan batin, antara cemburu dan ingin tetap kuat dalam menghadapi masalah ini, tapi… maaf, sepertinya memang lo sendiri yang harus merenung kemudian melepaskan uneg-uneg lo itu langsung ke Takumi,"

"Eh? Jadi, ceritanya kau lepas tangan, nih?" kata Maki sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Bodoh," jawab Nico sambil membuka pintu. "Aku saja enggak lebih dari laki-laki payah yang hanya bisa membuat seorang gadis baik-baik menangis,"

Nico pun berlalu.

Hah? Apa maksudnya, coba? pikir Maki heran.

Karena juga merasa tak tahu harus apa demi meringankan beban Eri, Maki pun ikut berlalu.

"Huh! Atmosfernya malah jadi tambah enggak enak gara-gara Nico-kun, nih!" dengus Rin.

"Coba kalau yang menasihati tadi adalah Nozomi-chan," kata Hanayo.

"Tapi entah kenapa, aku merasa kalau Nozomi-chan akan mengatakan hal yang sama dengan Nico-kun kalau dia ada di sini," celetuk Kotori sambil tersenyum.

"EEEEH?!" seru Kazuya, Rin, dan Hanayo dengan heboh.

"Dan jujur saja, aku sendiri juga enggak suka saat Eri-chan berpikir Takumi-kun asal jalan dengan Eri-chan demi melupakan perasaannya terhadapku," lanjut Kotori.

"Gomen, Kotori…" kata Eri yang merasa bersalah.

"Jangan minta maaf padaku, tapi Eri-chan sendiri sebaiknya buang jauh-jauh prasangka atau pemikiran kalau Takumi-kun mengajak Eri-chan jadian demi tujuan seperti itu, oke?" jawab Kotori.

"Ya, terima kasih, Kotori…" kata Eri sambil tersenyum tipis.

"Aku yakin, perasaan Takumi-kun padamu itu tulus, kok," ujar Kotori. "Jika tidak, mungkin Takumi-kun akan diam saja saat Eri-chan dalam bahaya, bukan?"

"Intinya, Eri-chan harus percaya pada Takumi-kun," tambah Kazuya.

"Keep positive thinking, nya!" kata Rin sambil memainkan maracas-nya.

"Terima kasih, teman-teman…" kata Eri terharu.

"Hihi, syukurlah kalau perasaanmu sudah menjadi lebih baik, Eri-chan," kata Hanayo lega.

"Oh ya, apa Eri-chan sudah menyiapkan hadiah natal untuk Takumi-kun?" tanya Kotori kemudian.

"Ju, justru itu… aku ingin minta tolong kamu dan Hanayo," ujar Eri malu-malu.

"Wah, memangnya Eri-chan mau membuat apa?" tanya Kazuya penasaran. "Apa mungkin roti? Uwaaah… beruntungnya Takumi-kun!"

"Kayaknya hanya Kazu-kun yang mengharapkan roti untuk hadiah natal, nya…" kata Rin.

"Eeeeh? Tapi roti 'kan enak!" dengus Kazuya.

"Mo, mou! Pokoknya, ini rahasia antara aku, Kotori, dan Hanayo!" kata Eri.

"Ah, pelit, nih~!" goda Kazuya.

"Sudahlah, Kazuya-kun," kata Kotori. "Aku juga merasa kalau kamu dan Rin-kun bakalan ember, sih…"

"Eeeeeh?" seru Kazuya dan Rin kecewa.

Eri hanya tergelak memperhatikan mereka.


Meski dibilang sebaiknya aku mengatakannya langsung ke Takumi, tapi tetap saja… gumam Eri.

Eri asyik berjalan tanpa memerhatikan sekeliling. Dia tidak tahu ada tangan yang hendak mencelakainya. Tangan itu hendak mendorongnya jatuh dari tangga.

Kena kau! kata si pelaku dalam hati sambil tersenyum licik.

Grab! Ada tangan lain yang sukses menghentikan tangan jahat si pelaku.

"Apa yang ingin kau lakukan padanya, ketua fansclub-nya Sonoda Takumi, Inugami-san?" tanya sang penyelamat pada si pelaku.

"I, ini bukan urusanmu, Toujo!" seru Inugami sambil melepaskan lengannya yang digenggam erat oleh Nozomi.

"Bukan urusanku? Kau jelas-jelas berniat mencelakai sahabatku, Inugami-san," kata Nozomi. "Mana mungkin aku diam saja,"

"HAH? Memangnya salah jika aku melakukannya?" Inugami tertawa sinis hingga Eri tersadar dari lamunannya dan menoleh ke belakang.

"Nah, Eri, biar kami perkenalkan," kata Nico sambil merekam kejadian itu dengan smartphone-nya. "Inilah pelaku dibalik pembajakan akun sosial media milik Kidou-san yang mengirimimu foto dan message yang menjengkelkan itu, Inugami Kyouko,"

"Ya, Yazawa?! Hei! Hentikan rekamanmu itu!" seru Inugami.

"Tidak akan sebelum kau mengaku, dasar cewek barbar!" balas Nico.

"Chat yang kamu maksud itu yang ini, 'kan, Yazawa-kun?" tanya Nozomi sambil memperlihatkan riwayat chat yang begonya belum dihapus oleh Inugami di smartphone-nya.

Yazawa-kun? Kenapa Nozomi memanggil Nico seperti itu? pikir Eri.

"He, hei! Kembalikan hp-ku!" seru Inugami sambil melompat-lompat berusaha meraih smartphone-nya yang diangkat Nozomi dengan begitu tinggi.

Keributan yang mereka buat memancing perhatian para siswa maupun siswi di sekitar sana.

"Bagus, saksi telah berkumpul," kata Nico dengan senyum penuh kemenangan.

"Bukankah sebaiknya kau mengaku saja, Inugami-san?" bujuk Nozomi dengan dingin.

Inugami mengepalkan kedua tangannya. "Ini semua salahmu, Ayase Eri!"

"Kau merebut posisi sebagai ketua OSIS dariku juga orang yang kusukai! Bagaimana mungkin aku tidak membencimu?!" bentak Inugami.

"Inugami, aku bisa jelaskan—" Eri berusaha menenangkannya.

"Mau sampai kapan kau sok jaim begitu, hah?!" potong Inugami. "Kau berubah dari si ketua OSIS sombong yang jutek menjadi school idol yang sok murah senyum dan ramah pada semuanya, jijik tahu, enggak?!"

"Padahal aku sudah cukup bahagia mengaguminya dari jauh, tapi kau… kau…!" ucapan Inugami terhenti saat Wada memegang bahu kirinya.

"Dan yang kau lakukan ini salah, Inugami," ucap Wada.

"HAH?! Bukannya kau juga membenci cewek Russia sialan itu, Wada?!" seru Inugami.

"Memangnya, kau sudah ada usaha apa untuk menggapai orang yang kau sukai itu?" desak Wada.

"A, aku…" Inugami tergagap-gagap.

"Belum, bukan? Lantas bila orang itu menyukai kaichou, apakah itu salah?" lanjut Wada.

"Ta, tapi aku hanya…" Inugami berusaha membantah.

"Hanya apa? Mengancamnya, memanas-manasinya, dan juga berniat mencelakainya," sela Wada. "Jika orang yang kamu sukai itu sampai tak pernah me-notice-mu, aku juga tak akan heran, Inugami,"

"Aku kesal, kesal sekali…" kata Inugami sambil duduk bersimpuh dan menangis tersedu-sedu. "Semua surat cinta dariku juga para penggemar yang lain tak pernah sekalipun dilihatnya, tapi perempuan yang kubenci malah bisa dekat bahkan memikat hatinya, bagaimana mungkin aku tidak cemburu?"

"I, itu salah, Inugami-san!" seru Eri.

Semua pasang mata terfokus pada gadis bersurai blonde itu.

"Takumi selalu senang menerima surat darimu dan teman-temanmu! Dia tidak membalasnya, bukan berarti tidak membacanya! Dia hanya tidak ingin menjadi seorang pemberi harapan palsu dengan memperlakukan semua surat itu sama rata dan adil!" ujar Eri.

"Tapi kenapa dia malah memilih—"

"Sudah, cukup sampai di situ, Inugami-san," sela Kidou. "Lebih baik kau jelaskan padaku yang korban dari rencana jahatmu ini juga pada Wada, si mbak bagian kedisplinan siswa di OSIS,"

"Baiklah…" kata Inugami menyerah.

Dirinya pun dibawa oleh Kidou dan Wada untuk diinterogasi lebih lanjut.

"Oh, hai, Eri!" sapa Takumi yang baru tiba. "Ada apa sampai koridor ramai begini?"

Nah, kalau mau bicara inilah saatnya, bakka Erichika! kata Nico dalam hati.

Bukannya menjawab, Eri malah berbalik dan berusaha menjauh dari Takumi.

EEEEEH?! Si bego itu ngapain, sih?! gerutu Nico.

Nozomi menghela nafas dan juga bermaksud beranjak dari sana, namun Nico dengan cepat menangkap lengannya.

"Tunggu, Nozomi, kita harus bicara," kata Nico serius.


"Hei, Eri! Hah… hah… tunggu aku! Kamu kenapa, sih?" tanya Takumi sambil berusaha mengejar gadis itu.

Eri naik ke atap sekolah dan bermaksud mengunci pintunya agar bisa lolos dari Takumi, namun tepat sebelum pintu berhasil ditutup, Takumi menahannya dengan kakinya dan ia juga berhasil menangkap lengan Eri.

"Hah… hah… akhirnya, aku berhasil mengejarmu," kata Takumi sambil mengatur nafasnya.

Eri memalingkan wajahnya.

"Aku baru saja ingin memberitahumu tentang hasil pertandingan hari ini, tapi kamu malah lari dariku seperti ini," ujar Takumi. "Kamu kenapa, sih? Aku salah apa, Eri?"

Eri hanya terdiam sambil tetap memalingkan wajahnya.

"Eri! Lihat aku dan jawablah aku!" seru Takumi dengan nada yang agak keras. "Bagaimana bisa aku tahu apa yang kamu mau kalau kamu hanya diam? Apa kamu mencoba untuk menguji kepekaanku lagi seperti waktu ulang tahunmu waktu itu?"

"Aku juga enggak ngerti, Takumi…" kata Eri sambil membenamkan wajahnya ke dada Takumi.

"Eh?"

"Aku enggak ngerti apa yang kurasakan ini, Takumi…"

"Tu, tunggu! Apa maksudmu?" tanya Takumi sambil memegang kedua bahu mungil itu.

"Aku takut, aku takut kamu akan meninggalkanku, Takumi…" ujar Eri dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.

"Enggak, aku enggak akan meninggalkanmu, Eri," jawab Takumi. "Makanya, bisakah kamu jelaskan apa yang membuatmu lari dariku tadi?"

"Sa, saat kejuaraan Kyuudo tadi kamu dikerubungi banyak siswi yang juga peserta kejuaraan itu, 'kan?" tanya Eri.

"Umm… i, iya, sih…" jawab Takumi dengan hati-hati. "Kamu… cemburu?"

"Itulah yang aku enggak mengerti, Takumi," ujar Eri sambil terus terisak.

"Maksudmu?"

"Ya, aku cemburu, namun aku berusaha kuat dan memakluminya karena mengerti betapa populernya dirimu," jelas Eri. "Dadaku terasa sesak karena aku tak bisa mengerti dan ikut menyukai Kyuudo layaknya mereka. Rasanya aku seperti mengecewakanmu dan aku takut kamu akan terasa semakin jauh dariku,"

Takumi menghela nafas. "Eri, kamu sendiri pernah bilang padaku, bukan? Kalau kamu mencintaiku bukan karena fisik, kecerdasan, atau latar belakangku yang pewaris dojo Sonoda, 'kan?"

"Lalu?"

"Begitu juga denganku, Eri," jawab Takumi sambil tersenyum. "Aku jatuh cinta padamu dan mengajakmu jadian bukan demi melupakan perasaanku pada Kotori,"

"Apa benar begitu?" tanya Eri dengan kedua bahu yang gemetaran.

"Maksudmu aku menciummu, memelukmu, atau menggigit lehermu demi memuaskan hasrat nafsuku, begitu?" balas Takumi. "Tentu saja bukan, Erichika,"

"Lalu, kenapa? Padahal awalnya aku yang begitu ngotot ingin mendapatkanmu, tapi setelah aku berusaha menyadarkanmu setelah penolakan itu kamu begitu mudahnya mencuri ciuman pertamaku dan menyatakan perasaanmu!"

"Maaf, kalau alasan ini menyinggungmu, Eri," kata Takumi sambil mendekap Eri.

"Eh?"

"Kamu mengingatkanku pada aneue sebelum dia menikah dan meninggalkan dojo," ujar Takumi. "Bukan maksudku menjadikan ini sisterzone atau apa, aku benar-benar tulus mencintaimu sebagai kekasihku, Eri!"

"Takumi, jangan-jangan kamu… siscon?" tebak Eri sambil mundur beberapa langkah dan memandangnya dengan agak geli.

"ENGGAK! Serius, enggak!" jawab Takumi cepat sambil bergidik ngeri. "Ya, ya… aku menyayangi aneue, tapi bukan berarti lebih dari itu! Aku merasa kehadiranmu memiliki arti yang penting semenjak kamu berusaha menyadarkanku waktu itu, rasanya seperti mengisi kekosongan dalam hatiku,"

"Jadi, intinya kamu menganggapku sebagai apa, Takumi?!" seru Eri yang sudah pusing dengan cara menjawab Takumi yang terkesan berputar-putar.

"Sebagai pacarku, kekasihku, Ayase Eri!" jawab Takumi. "Aku… mencintaimu, sangat mencintaimu… kau bilang agar aku tidak meragukan perasaanmu terhadapku, tapi sekarang kubalik, apakah kamu meragukan perasaanku terhadapmu?"

"Walau aku enggak mengerti kegiatan yang kamu ikuti?"

"Untuk apa kamu khawatir soal itu?"

"Walau aku egois, cengeng, dan menyebalkan…?"

"Aku menyukai semua hal tentangmu, bukankah kau juga begitu?" jawab Takumi. "Kau menyukai aku yang egois, posesif, gampang marah, dan membosankan ini, 'kan?"

Senyum kembali terukir di wajah putih pucat itu. "Terima kasih, Takumi…"

"Iya, iya, kumaafkan, kok," jawab Takumi. "Tapi jangan mengira aku siscon lagi, ya?"

"Sebentar, jadi sekarang kamu marah karena itu?"

Keduanya pun tertawa.


Haaaah… jadi, malam natal tahun ini aku sendirian lagi, ya? gumam Eri setelah melihat pesan dari ayah, ibu, dan Arisa di smartphone-nya.

"Oh, kamu baru pulang, Eri?" sapa Takumi sambil mengambil sepatu di lokernya.

"Ah, iya, nih!" jawab Eri. "Kamu sendiri kenapa juga baru pulang? Memangnya masih ada kegiatan di klub Kyuudo?"

"Hanya perayaan kecil-kecilan, kok," ujar Takumi sambil menggaruk tengkuknya.

"Perayaan?"

"Umm… tadi aku belum sempat mengatakannya padamu," jawab Takumi. "Aku dan teman-teman di klub Kyuudo berhasil memenangkan kejuaraan Kyuudo tahun ini,"

"Ja, jadi… sekolah kita juara satu tingkat nasional?" kedua mata Eri membulat.

Takumi mengangguk sambil tersenyum kemudian Eri melompat ke arahnya dan memeluknya erat.

"Kalian berhasil, Takumi! Selamat, ya!" seru Eri heboh sambil mengacak-acak rambut Takumi.

"O, oi… hentikan, Eri! Kau mengacak-acak rambutku!" dengus Takumi.

"Duh, aku harus melakukan sesuatu untuk merayakan keberhasilanmu, nih!"

"Sudahlah, kakak kelas tiga sepertimu sebaiknya enggak usah repot-repot hanya karena hal begini, kok," kata Takumi sambil tersenyum.

"Ma, mana bisa begitu! Ini sejarah, Takumi! Ini pertama kalinya sekolah kita berhasil jadi juara nasional!" rajuk Eri sambil menggoncang-goncangkan kedua bahu Takumi.

"Iya, iya… makanya tenang dulu, oke?" kata Takumi.

Eri pun menurut dan mulai kalem.

"Kamu enggak usah repot-repot menyiapkan pesta untukku, sebagai gantinya bagaimana kalau kamu ikut ke rumahku hari ini?" tawar Takumi.

Eri yang telmi pun mencoba mencerna maksud tawaran itu. Wajahnya pun menjadi semerah tomat begitu mengerti maksudnya.

"Tu, tunggu, tunggu, tunggu! Ini terlalu cepat, Takumi! Aku belum siap!" seru Eri sambil mundur beberapa langkah.

"Bodoh, kau ini mikir apa, sih?" dengus Takumi. "Memangnya di rumahku enggak ada manusia lagi selain aku?"

"Eh? Maksudmu?"

Takumi menghela nafas. "Aku ingin kamu ikut merayakan natal bersama keluargaku, Eri,"

"Ta, tapi… kamu 'kan lagi letih-letihnya setelah pertandingan tadi! Mana bisa aku—"

"Sudah, kalau kau ingin merayakan kemenanganku, maka ikutlah denganku!" sela Takumi sambil menarik lengan Eri.


"Oh, Takumin dan Eri-chan? Selamat datang!" sapa Izumi yang tengah mendekorasi ruang keluarga.

"Hei, aneue… tak bisakah kau mengerjakannya lebih cepat lagi?" dengus Takumi sambil bertolak pinggang.

"Ugh… hanya sekali ini saja kamu boleh nge-bos, ya, Takumin…" gerutu Izumi sambil menahan tinjunya.

"Wah, sudah lama juga tidak bertemu denganmu, ya, Eri-chan? Apa kabar, nak?" tanya ibunya Takumi, Sonoda Hidemi.

"Ba, baik, tante," jawab Eri.

"Jangan hanya berdiri di situ, duduklah," kata ayahnya Takumi, Sonoda Reiji sambil menepuk bahu Eri.

"I, iya, om," jawab Eri gugup. "Ma, maaf merepotkan!"

"Hahaha… Eri-chan ini memang kaku, ya!" gelak Bu Hidemi. "Santai saja, anggap saja ini rumahmu sendiri,"

"Karena memang sebentar lagi kamu juga akan jadi bagian dari rumah ini, kikikikik," timpal Izumi sambil cekikikan dengan girang layaknya siamang.

Takumi dan ayahnya langsung spontan menimpuknya dengan gelas plastik. "Kau mendingan diam, deh!"

"Dah aku mah apa atuh, si putri yang tertukar?" kebiasaan mellow Izumi pun kumat.

Eri begitu bahagia karena dirinya tak lagi sendirian di malam natal. Setelah berbaikan dengan Takumi dia malah diajak ikut merayakan natal bersama keluarganya. Menurut gadis seperempat Russia itu, natal tahun ini adalah yang paling bahagia untuknya.


"Terima kasih, Takumi!" kata Eri begitu keduanya berdiri di gerbang depan kediaman Sonoda. "Ini adalah natal terbaik untukku!"

"Ka, kalau kamu ingin tahu sebenarnya setiap tahun keluarga kami jarang sekali merayakan natal," ujar Takumi sambil menggaruk tengkuknya.

"Eh? Jadi, kalian sampai repot-repot begitu demi aku?"

"Ya, daripada kamu kesepian di apartemenmu, begitu pikirku," jawab Takumi.

Lagi-lagi air mata membasahi kedua pipi gadis itu.

"Mou… dasar Takumi bodoh…" isak Eri. "Sejak kapan kamu jadi peka begini?"

"Bu, bukan soal peka atau apa, kok! Aku hanya ingin menghabiskan malam ini denganmu," ujar Takumi. "Aku juga ingin seenggaknya kamu lebih mengenal lagi tentang keluargaku, begitu,"

Salju pun mulai turun dari langit malam.

"Ah, salju!" kata Takumi sambil mendongakkan kepalanya.

Eri jinjit dan memasangkan syal rajutannya di leher Takumi. "Merry Christmas, Takumi, daisuki dayo,"

Wajah Takumi memerah dan matanya berkaca-kaca. "Dasar, jangan bilang kamu pulang telat demi membuat ini?"

"Ya, kenapa? Kesannya jadul, ya?" tanya Eri sambil nyengir.

"Tapi, kok, rasanya panjang banget syalnya?" tanya Takumi bingung.

"Bodoh," kata Eri sambil melilitkan sebagian syal itu ke lehernya. "Agar bisa begini, dong,"

Jarak di antara wajah keduanya kini begitu dekat. Eri memejamkan matanya sambil tersenyum kemudian Takumi mencium bibirnya. Momen itu begitu romantis dengan cahaya remang-remang dari lampu jalan dan salju yang turun dari langit.

"Ini hadiah natal untukmu, Eri," kata Takumi sambil memasangkan jepit rambut berbentuk kristal es di surai pirang itu.

Eri tersenyum dengan air mata yang masih menitik karena terharu. "Terima kasih, Takumi,"

"Ayo, kuantar kamu ke apartemenmu," kata Takumi sambil menggenggam tangan Eri.

"Oi, Takumin!" panggil Izumi tiba-tiba.

Takumi menoleh. "Apa? Kau ingin melaporkannya pada ayah dan ibu soal yang tadi?"

"Bodoh, buat apa juga? Kami sudah bertahun-tahun hidup satu atap dan berbagi darah keturunan klan Sonoda denganmu, tahu," jawab Izumi sambil bersandar di pintu. "Tanpa kau bilang pun kami juga tahu kau sering menyambar bibir Eri-chan,"

"Ugh…" wajah Takumi memanas karena malu.

"Sudahlah, kami sih cuek saja kalau kau ingin menciumnya seperti apapun juga," ujar Izumi. "Tapi kami tidak akan mengampunimu kalau kamu sampai mencoreng kehormatan dan kesuciannya sebagai wanita, ingat itu, adikku yang bodoh!"

"Kalau kau serius mencintainya, maka jagalah dia seutuhnya!" lanjut Izumi. "Aku, ayah, dan ibu merestui hubungan kalian, kok!"

Takumi pun tersenyum. "Ya, terima kasih banyak, Izumi-nee-san!"

Mereka berdua pun berlalu. Lalu, Izumi mencubit kedua pipinya.

"Ta, Takumin… dia kembali memanggilku, Izumi-nee-san…" Izumi tampak begitu tersentuh.

Izumi dengan cepat masuk kembali dan berseru, "Ayah, ibu! Ayo, kita minum-minum demi merayakan kembalinya si manja Takumin!"

Ajakan itu disetujui oleh kedua orangtuanya meski yang tumbang lebih dulu karena sake adalah si biang keladinya sendiri, si sableng Izumi.


Sementara itu, Nico dan Nozomi…

"Ikut liburan denganmu ke rumah nenekmu di Gunma?" tanya Nico.

"Ya, bagaimana?" kata Nozomi.

"Walau aku sudah membalas perasaanmu seperti itu?"

"Intinya, kamu mau atau enggak?"

"Ba, baiklah… aku mau!" jawab Nico.

"Baguslah," kata Nozomi yang masih terdengar cuek.

"Tapi setelah itu tolong panggil namaku seperti biasanya, dong," pinta Nico.

"Hmm?"

"Aku akan ikut dan menuruti semua keinginanmu, makanya jangan jaga jarak denganku seperti itu, kumohon!"

"Baiklah, Nicocchi," jawab Nozomi sambil nyengir.

Senyum dari si maniak tarot pun kembali.


Akhirnya, Takumi dan Eri pun sampai di depan apartemen Eri.

"Nee, Takumi?" panggil Eri.

"Ya?"

"Kamu sibuk enggak saat tahun baru nanti?"

"Enggak, kok," jawab Takumi. "Kenapa memangnya?"

"Tahun ini aku yang kebagian membereskan villa milik keluargaku di daerah Gunma, nih…" ujar Eri sambil menghela nafas dengan lesu. "Mana villa-nya besar banget lagi, kamu mau enggak ikut dan membantuku? Tenang saja, setelah itu kita kencan di lokasi wisata di sana, kok! Mau, ya? Onegaiii!"

"Baiklah, aku mau," jawab Takumi setelah berpikir beberapa saat.

"Benarkah? Wah, aku akan sangat tertolong!" kata Eri kegirangan.

"Tapi kamu jangan lupa bawa buku-buku pelajaranmu, lho…" Takumi memperingatkan. "Libur tahun baru bukan berarti kamu boleh santai,"

"Iya, iya… kamu sudah seperti ayahku saja, deh!" dengus Eri.

Keduanya pun tertawa.

"Kalau begitu, sampai ketemu tahun baru nanti, ya, Eri!" kata Takumi sambil melambaikan tangannya.

"Ya, terima kasih atas pesta malam ini, Takumi!" balas Eri.