Love
Yoonmin©Indiah Rahmawati
Namaku Park Jimin, mahasiswa dari Bangtan High School, kelas 2-C. Heh... aku tak terlalu peduli dengan sekolah, pelajaran juga membosankan bagiku. Awalnya aku meminta pindah kepada orang tuaku. Tapi ada alasan kenapa aku tak memilih pindah.
"Yak! Oper kemari!"
Disinilah aku sekarang. Lapangan basket sekolah. Melihat orang-orang tengah bermain, jujur bukan mereka yang kuperhatikan. Seseorang diantara mereka, orang berambut hitam kelam yang basah karena keringat, dan tubuh ramping serta kuit putih yang setara dengan rambut hitamnya, dan jangan lupakan kaki-kaki ramping itu. sial! Melihatnya saja sudah membuatku bergairah, karena itu aku tak akan keluar dari sekolah ini sebelum mendapat pria manisku itu.
Hampir setiap hari aku memperhatikannya, tapi aku masih kurang tau siapa dia. "yak! Jiminie! Ayo makan!" seseorang merangkul leherku dari belakang, itu Hoseok, sahabat dekatku. Kami sudah lama berteman sejak kami kecil. Aku hanya mengangguk dan ikut dengannya.
"dimana Jungkook?" tanyaku
"sejak ia bertemu Tae, ia selalu menempel padanya! Dan kau tau... Jungkook, Jungkook si bocah yang malas-nya minta ampun itu, mau membaca tiga tumpuk buku diperpustakan bersama Taehyung! Kau percaya itu huh?!" omel Hoseok tak karuan.
Aku hanya mendengarkan, Kim Taehyung yang ia bicarakan adalah murid kelas 2-A. Dan Jungkook adalah temanku sejak kecil juga bersama Hoseok. Yang aku tau Jungkook mengenal Tae tak sengaja, ia bilang kalau ia bertemu biadari yang menabraknya dengan sepeda, aku dan Hoseok tak mengerti dan membuat candaan mungkin Jungkook sudah mati, kami tertawa kecuali dia, dia tak seperti dirinya saat itu. Dah hal yang diceritakan Hoseok kepadaku adalah Jungkook dengan gilanya menembak Tae saat ia sudah tau namanya.
Yah... aku tak terlalu peduli, bagus jika ia mau berubah. Heh! Harusnya itu aku tanyakan pada diriku sendiri, heh... payah...
Kami sampai dikantin dan memesan beberapa makanan. Setelah menunggu beberapa menit makanan datang dan kami segera mengambilnya dan duduk ditempat yang kosong. Seperti kebiasaan Hoseok, ia selalu mengoceh sambil makan, dan aku hanya mendengarkannya. Sesekali kami bercanda dan tertawa bersama, sampai sorot mataku melihat satu orang yang tak asing. Orang itu datang bersama teman-temannya, lalu ia kelihatan berpisah dengan teman-temannya didepan kantin. Ia masuk dan memesan makanan, setelah makanannya datang ia segera duduk tepat didepan tempatku, sayangnya aku hanya melihat punggungnya. Punggung yang basah oleh keringat, iya, dia... si manis yang selalu aku perhatikan.
"oi..." aku terkejut mendengar, aku melihat Hoseok, lalu Hoseok melihat kebelakangnya, dan melihatku lagi dan sedikit mendekat padaku "nuguya?" tanyanya menunjuk orang dibelakangnya
"Molla" kataku mengangkat bahuku, lalu kembali melihat punggung itu. Lalu entah kenapa pemilik punggung itu malah menengok kebelakang, dan secara tak sengaja mata kami saling bertemu, dengan segera aku berpura-pura memakan makananku sambil menunduk. Aku lihat ia mulai membalik badannya kembali sambil memiringkan kepalanya bingung, kelihatannya ia merasa diawasi, ini gara-gara Hoseok!
Tak lama ia pergi, aku terkejut saat tau ia sudah ada didepan pintu, "Hoseok-ah... aku duluan" kataku buru-buru. Hoseok mengomel tapi aku tak mendengarkannya. Aku segera mengikuti pria manisku, cukup lama aku memutar dan akhirnya menemukannya. Aku mengikutinya dari belakang, dan setiap ia menengok aku akan bersembunyi dibalik loker sekolah. Lalu ia memasuki salah satu ruangan, itu ruang music, aku melihatnya duduk didepan sebuah piano, ia membukanya dan mulai memainkannya...
Indah...
Itu satu kata yang muncul diotakku saat melihat dan mendengarkannya. Ia bermain dengan melodi yang indah dan melihatnya, rasanya ia seperti bersinar dengan indah dimataku. Aku tak sadarkan diri sekarang, rasanya seperti bukan duniaku saja. Lalu semua buyar saat lagu berhenti dan ada sebuah tepuk tangan, "kau bagus seperti biasanya"
Aku bersembunyi dan melihat seorang pria mendatangi pria yang kuintai sejak tadi. "apa mau mu!" ini pertama kalinya aku mendengar suaranya, haah... tapi siapa pria didepannya?
"ayolah Yoongi-ah... kita bisa bicara kan?" kata pria asing itu mendekat
"berhenti disitu..." Pria yang sudah aku tau namanya itu, sedikit mundur. Lalu ia terpojok oleh tembok.
Pria asing tadi memojokkan pria manis-Ku, "Bagaimana kalau ada sedikit bermain heh?" Pria itu benar-benar dekat.
Sialan! Aku tak bisa menahannya lagi! Aku masuk dan menepuk pundak pria itu "yak! Tak baik memaksa orang" kataku dengan santai. Pria itu terkejut dan berbalik padaku
"siapa kau?!"
"aku? Aku cuma orang yang tak sengaja lewat dan melihat ada orang mesum disini" kataku menatapnya dingin
"apa?!"
BUAK!
Pukulan tepat diwajahku. Aku terjatuh karena lupa bersiap. "ternyata dia payah" pria itu kembali berbalik. Dengan cepat aku berdiri, membalik badannya dan memukulnya tepat diwajah hingga ia terjatuh. Aku menyeka sedikit darah disudut bibirku "aku tak mau ada perkelahian..." aku melihat pria manis-Ku yang sedikit ketakutan "tapi jika kau tak pergi, aku bisa meladenimu sampai kepala sekolah datang" kataku sambil melemaskan semua jari-jariku. Ia bangun sambil memegangi pipinya dan pergi dari sana. Aish! Orang itu dasar! Mengatai orang seenaknya saja, aku mengumpat dalam hati dan mengacak-acak rambutku. Lalu aku rasakan tangan dingin memegangi tanganku, dengan segera aku berbalik dan melihat pria manis ini...
Haah... ini pertama kalinya kami saling menatap wajah masing-masing "a-apa kau tak apa?" tanya nya tanpa menghilangkan nada khawatir disana
"ah! N-ne..." untuk sesaat aku lupa daratan "ini tak masalah..." kataku memegangi sudut bibirku yang berdarah.
"b-biar aku bantu..." aku melihat kearahnya...
SKIP
Disinilah kami sekarang. Ruang UKS. Aku tengah duduk dan membiarkan pria manisku mengobatiku. Meski sudah tau namanya, tidak sopan langsung memanggilnya. Ia menempelkan plester disudut bibirku. "selesai" katanya. Aku menyentuh sudut bibirku yang sudah diberi plester "terima kasih... sudah menolongku" katanya menunduk. Aku hanya mengangguk, ia melihatku lalu tersenyum "kalau begitu aku harus pergi..." katanya membalik badannya.
"T-tunggu!" aku menghentikannya. Apa yang kulakukan!? "s-sebenarnya... dari dulu aku selalu memperhatikanmu... sejak, aku tak sengaja melihatmu dan tim basketmu menang melawan sekolah tetangga... Sejak saat itu aku mulai menyukaimu..." ia terkejut "A-apa kau mau jadi pacarku!"
.
.
.
Tebak sudah berapa bulan sekarang! 5 jawabannya lima! Dan selama 3 bulan aku mencoba meyakinkan Yoongi aku akan jadi kekasih yang baik! Dan tepat saat selesainya ujian semester, ia menerima pernyataan cintaku yang entah sudah keberapa! Dan aku sudah dua bulan bersamanya! HAAAH! Betapa senangnya diriku!
Namanya Min Yoongi, pria cantik yang sudah lama aku perhatikan, sekarang menjadi milikku. YESS! Meski belum seutuhnya, ia selalu menolah jika aku ajak... yah... kalian tau lah. Aku tak tau kenapa. Semakin kesini Yoongi bukan Yoongi yang lucu seperti yang aku kira, ia sering sekali mengomel dan memarahiku, tapi dibalik itu ia punya sisi lucu, itu yang membuatku semakin jatuh cinta padanya. Aku berjalan dengan senyum mengembang, hari ini Tim basket Yoongi akan melawan sekolah lain, aku akan mendukungnya.
"a-apa kami harus ikut juga?"
Hoseok dan Jungkook aku ajak. Mereka hanya mengikuti dari belakang. "Ayolah! Kita mendukung sekolah kita!" kataku bersemangat sambil membawa papan nama yang kubuat sendiri.
"sejak kapan kau mulai tertarik hal semacam ini" tanya Jungkook meletakkan kedua tangannya disaku celanannya
"Ayolah Jungkook... lagi pula Taehyung pasti ada disana! Dia-kan selalu melihat pertandingan ini..." kataku membuatnya menutup mulut setelah mendengar kata Tae.
"haah! Sejak kelian dimabuk asmara! Sikap kalian mulai berubah!" kata Hoseok kesal. "aku tak mau pergi!" ia mulai merajuk. Aku dan Jungkook saling berpandangan, lalu kami menarik Hoseok untuk ikut. Sampai akhirnya kami sampai dilapangan basket sekolah, permainan sudah dimulai dan masih 0-0.
"MIN YOONGI!" aku berteriak kencang, dan menyemangati Yoongi dari bangku penonton. Lalu Yoongi mengambil bola dan membawanya kedepan, dan memasukkan bola kering. Semua murid bersorak, aku sangat senang melihatnya, ia berlari membiarkan keringat membasahi lehernya. Ia tetap fokus pada pertandingan. Aku terus menyemangatinya hingga akhir pertandingan.
2-0
Itulah hasilnya, setelah pembagian mendali, semua pemain tampak beristirahat. Aku segera turun dari bangku penonton setelah menunggu mereka semua selesai istirahat, bahkan bangku penonton telah kosong. Usar pertandingan Hoseok kabur, Jungkook menemui Taehyung dan pergi. Aku? Tentu saja menunggu Yoongi-Ku! Aku menemukannya duduk sendirian sambil mengusap keringat dengan handuk. Aku mendekatinya dan menyerahkan satu botol air minum, "kau terlihat lelah"
"menurutmu?" ia mengambil botol itu, membukanya dan meminum isinya sampai setengah. "teriakanmu sangat keras tadi" katanya usai minum
"heh... tapi dengan itu kau menang kan?" kataku duduk disampingnya. Ia membuang wajah karena wajah itu merona merah sekarang. Aku tertawa pelan "haah... detik terakhir menegangkan ya?"
"siapa dulu yang memasukkannya" bangganya menunjukkan mendali yang ia kenakan
"siapa dulu yang menyemangatinya mati-matian dibangku penonton?" kataku membaliknya
"berisik!" katanya merona lagi
"auw! Lihat Yoongi sang jenius memerah" kataku mencubit pipinya. Ia hanya kesal sambil menyingkirkan tanganku, aku tertawa dengan reaksinya. Ia kembali menunduk.
SKIP
Aku berjalan disepanjang sekolah dan melewati ruang music. Aku berjalan mundur kembali keruang music, dan benar saja Yoongi disana memainkan piano kesukaannya. Aku mengendap-endap masuk dan menutup matanya "coba tebak" kataku mengubah suaraku sedikit lebih tinggi
"J-jimin-ie!" rajuknya menyingkirkan tanganku
"hehehe" aku duduk disampingnya dikursi yang lumayan lebar itu "kau suka sekali piano ya" kataku menekan beberapa not.
"ne... Ibuku sering memainkan piano saat aku masih kecil... dan ia mengajariku dengan wajah bahagia. Sampai ia sakit kanker, dan itu merenggut senyumannya untuk memainkan piano lagi..." katanya menunduk. Aku tau ibunya meninggal saat Yoongi SMP, dan itu saat ia lulus. Ia selalu menceritakan ibunya, ia benar-benar menyayangi ibunya
Aku menepuk pundaknya "aku yakin ia tersenyum..." ia melihatku "ia pasti... sedang memainkan piano dengan lagu agar kau dan ayahmu bahagia... itu pasti..." kataku mengusap air mata yang hampir menetes di matanya.
Ia tersenyum dan mengusap matanya "kau benar" ia melihat kedepan kembali "... kau... bisa main piano Jimin-ie?" tanyanya
"hanya... satu lagu" kataku, aku mulai memainkan nada yang pasti Yoongi tau, itu lagu anak-anak. Ia mulai memainkan bersamaku, menambah nadanya sehingga terdengar harmonis, sampai lagu itu selesai.
"hmm... kau cukup bagus" katanya.
"heh! Park Jimin..." kataku mengusap poniku keatas. Ia hanya mengendus kesal. Kami tertawa sesaat, dan berhenti begitu pandangan kami bertemu. Ahh... ia benar-benar indah. Dari dahi sampai dagu, Ya Tuhan... kenapa kau menciptakannya dengan semperna, entah kenapa tanganku malah mengusap wajah itu. Ia hanya diam dan menunduk, aku mengangkat dagunya. Lalu perlahan mendekatkan wajahku, memiringkan kepalaku, dan mempertemukan bibirku dengan bibirnya.
Manis...
Sangat manis...
Aku ingin lebih dari ini! Dan aku semakin memperdalam ciuman itu, dan beruntung aku karena Yoongi lengah, jadi aku bisa merasakan deretan gigi dan rongga mulutnya, haah... sangat manis. Ciuman itu semakin menjadi, sampai...
"Jimmpp..." ia mendorong bahuku, dan ciumab itu terpisah dengan benang saliva tipis disana. Ia segera mendorongku dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya, lalu berlari keluar. Aku hanya terdiam ditempat... Aku mengusap poniku kembali, ini bukan pertama kalinya, aku kadang menciumnya dan berakhir ia kabur entah kemana seperti tadi, aku juga tak mengerti. Aku putuskan berjalan keluar dari sana, dan mencari Yoongi.
Aku sudah hampir mengelilingi seluruh sekolah tapi tak menemukannya, ini sudah hampir masuk kekelas. Tinggal satu tempat yang belum kudatangi, atap sekolah. Aku menaiki tangga, dan saat ditangga terakhir, aku bisa dengar ada yang berteriak. Itu Yoongi! Dengan segera aku berlari dan mendobrak pintu
Aku lihat Pria yang waktu itu menindih Yoongi sekarang. "Breksek!" Aku segera berlari, menarik kerah belakang baju pria itu agar menjauhi Yoongi dan memukulnya habis-habisan. "Beraninya kau menyentuh Yoongi!" kataku, ia menahan pukulanku dan membalik posisi, dan memukulku
"memang kau siapa huh?!" katanya memukulku kembali. Aku menarik kerah depannya dan mendorongnya
"AKU KEKASIHNYA!" Dan memukulnya kembali. Pukul-pukulan itu tak terhenti sampai Yoongi memisahkan kami dan menjauhiku dari pria itu.
"keparat! Lihat saja nanti!" kata pria itu beranjak pergi.
"brek_"
"sudahlah Jimin-ie!" kata Yoongi menahanku. Aku hanya menurut. Kami terduduk diatap sekolah, dan Yoongi hanya bisa diam mengusap wajahku yang memar. "Mianhae..." katanya
"untuk apa minta maaf... ini bukan salahmu" kataku mengusap darah di sudut bibirku. Entah kenapa ia menahan tangan ku dan mencium sudut bibir yang terluka itu, aku cukup terkejut.
Ia menjauh dan menunduk kembali "ada alasan kenapa aku... tak pernah mau... melakukannya denganmu..." aku mendengarkannya "bukan karena tak suka... tapi... trauma" katanya
"trauma?"
"pria yang selalu menggangguku itu... mantan kekasihku" katanya, A-apa?! Mantan kekasih?! Ia punya mantan kekasih?! "kami cukup lama bersama, sampai aku tau ia hanya menginginkan tubuhku... itu membuatku takut mendekati orang lain... setelah bertemu denganmu... aku masih takut..." katanya menunduk "dan mantan kekasihku terus- terusan menggangguku itu membuatku semakin khawatir"
Aku mengerti sekarang, aku melihatnya hampir menangis, lagi. Aku memegang tangannya, dan menggenggamnya dengan kedua tanganku "dengar ya... Yoongi-ah... aku Park Jimin, berjanji akan selalu bersama mu, bahkan hingga kita mati nanti. Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia, dan aku berjanji akan selalu menjagamu..." kataku pasti sambil menatap wajahnya "Janji yang sudah kubuat... tak mungkin aku ingkari..." kataku tersenyum. "jadi Yoongi-ah... apa kau mau menerimaku hingga akhir?"
Ia tersenyum sambil mengusap air matanya "n-ne..." ia mengangguk.
"Kalau begitu berjanjilah kau akan bersamaku..."
Ia menarik nafas, dan air mata terus turun dari matanya "A-aku berjanji... akan bersama Park Jimin... sampai akhir hayatku" katanya
Aku tersenyum sambil mengusap air matanya "kau membuatku sedih kalau begini..." kataku. Ia hanya tertawa pelan, aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya, ia menerimanya dan membawaku untuk lebih panas lagi. Aku menerima tantangannya, itu pasti...
Kami berciuman cukup lama, dan panas. Aku bahkan mendorongnya hingga ia berada dibawahku. Aku semakin bergairah saat ia mulai menarik rambutku untuk meminta lebih, aku menurutinya dan leguhan itu terus muncul dari bibir indahnya. Aku melepaskan ciuman itu saat ia mulai kehabisan nafas, "bolehkan? Yoongi-ah?" tanyaku memastikan
"t-tapi... ini sudah hampir jam pelajaran" katanya
"ah! Masa bodo soal pelajaran!" kataku mulai mencium lehernya dan melepas kancingnya dengan paksa, sampai ada beberapa yang lepas
"J-jim!" ia menahan suarahnya, aku melihat wajahnya yang memerah.
"jangan menahannya, sayang" kataku berbisik ditelinganya. Tanganku mulai jahil mengusap kedua nipple nya. Ia mulai mengeluarkan desahannya, haah... "indah..." kataku lalu menciumnya kembali. Tangan kiriku mulai turun menggenggam gundukan yang mulai menegang dibawah sana. "Lihatlah... kau juga menegang..." kataku
"J-jim..." ia kembali mendesah
"hmm? Apa sayang? Aku tak tau jika kau tak bilang" kataku menatap wajah memerahnya.
Ia menggigit bibir bawahnya, "s-se-sentuh aku lebih lagi..." katanya malu-malu
Imutnya! Aku meraup nipple-nya layaknya seorang bayi, ia mulai mendesah dan menarik rambutku. Tangan kiriku membuka letsreting celananya, dan mengusap gundukan itu, dan sedikit turun menekan yang ada dibawahnya...
"J-jim... jangan disitu" katanya dengan terengah-engah.
"hmm? Disini?" aku menggodanya dan kembali menekannya, desahan sexy itu terdengar lagi. Haah! Aku tak bisa menahan diriku lagi. Aku membuka bajuku dan membuangnya kesembarang arah, lalu melepas celana Yoongi beserta celana dalamnya. Ia terkejut dan menutupi junior nya
"j-jangan lihat..." katanya malu
"sayang... tubuhmu itu indah... jangan menutupinya" kataku tersenyum, lalu mencium dahinya dan mencium bibirnya, ia kembali terbawa suasana. Tanganku turun dan meraih junior manis itu, mengocoknya perlahan dan membuat ia mendesah dalam ciuman panas itu. Tubuhnya gemetar dan berkeringat, aku melepas kan ciuman itu dan beralih pada leher putihnya.
"ahh! Jimin-ie..." desahnya, begitu aku mengocok junior nya dengan cepat. Lalu dalam beberapa detik ia keluar membasahi tanganku.
Aku melihatnya dan menjilat tanganku didepannya. Aku terkejut saat ia mendorongku dan membuatku ada dibawahnya, dengan pandangan sexy itu ia menggesekkan milikku yang masih tertutup celana pada man hole. Itu membuatku sedikit menggeram
"kau juga menegang... Jimin-iee..." katanya semakin menggesek milliknya padaku. Sial! Aku menemukan sisi lain Yoongi, dia yang sexy dan menggoda. Dan dia hanya milik Park Jimin
"mencoba menggodaku?" kataku tersenyum miring. Aku mengangkat tubuhnya dan membuka lesreting celanaku, dan mengeluarkan junior tegang yang lebih besar dari miliknya. Ia memerah dan menelan salivanya susah payah. "aku tak bisa menahannya lagi..." kataku membalik badannya dam membuatnya menungging didepanku menunjukan hole berkedut yang menggoda. "ah... aku lupa bawa condom" kataku merutuki diriku.
Lalu ia memegang tanganku "tak apa... Jimin-ie... keluarlah didalamku" katanya
Sial! Sejak kapan ia mengatakan kalimat yang menggundang hasrat seperti itu. "mian Yoongi-ah!" kataku. Meraih pinggulnya dan mulai memasukkan milikku. Sial! Ini lebih sempit dari dugaanku, aku tak peduli ini bukan pertama untuknya yang jelas, dengan begini ia akan jadi milikku!
"Aghh!" ia tersentak saat aku tak meminta izin untuk bergerak. Tubuhnya tersentak berkali-kali, desahan yang sesuai dengan ritme permainan membuatku semakin genjar menumbuk.
"kau... sangat sempit Yoongi-ahh!" kataku menggodanya, ia meraih kepalaku dan meminta sebuah ciuman. Aku memberikannya, panas dan menggairahkan. Ia terus terbawa suasana, "Y-yoongi-ahh!" aku membalik badannya hingga ia tertidur dilantai dan mengangkat satu kakinya.
"Jjimin.. ahh!" Ia mulai menaik turunkan pinggulnya, meraih pundakku, dan menatapku dengan pandangan super menggoda itu! sial!
Aku semakin mempercepat gerakanku. "kau sangat cantik Yoongi-ahh..." aku mendekatinya dan menciumnya kembali. Tubuhnya terus tersentak, dan tangannya terus memelukku. Ia mencengramku dengan kuat kelihatannya ia hampir sampai
"Jimiie..."
"bersamaan Yoongi-ah" aku mengangkat tubuhnya dan tubuh kami saling menempel, ia memelukku erat. Sekali, dua kali hentakan kami mencapai puncaknya. Cairannya membasahi bajunya serta tubuhku, dan cairanku tertanam hangat didalamnya, meski hole nya tak cukup menampung semuanya. Ia meletakkan kepalanya dibahuku, dan menghirup nafas sebanyak yang ia bisa. Aku memeluk tubuhnya yang masih terbalut seragam sekolah yang basah oleh keringat "kau lelah?"
"mian... aku membuatmu kotor" katanya mencoba menatapku.
"sudah lah... ini bukan apa-apa" kataku menyibak poninya yang basah oleh keringat. "haah..." aku membuang nafasku "gomawo..." kataku menatapnya. Ia hanya tersenyum canggung sambil menunduk. "Aish! Kau lucu sekali!" kataku mencubit kedua pipinya.
"ah! Itu sakit Jimin-ie!" katanya menyikap tanganku
"meski marah kau tetap lucu!" aku memeluknya, dan lupa kalau milikku masih ada didalamnya, dan itu membuatnya mengeluarkan leguhannya.
"Jimin... keluarkan dulu milikmu..." katany dengan wajah memerah
"eum... tak akan!"
"wa_ eummp!" aku kembali membungkamnya dengan menciumnya. Ia mencoba mendorongku, tapi aku tau ia tak akan menolak apa yang aku lakukan padanya. Bersiap untuk ronde kedua Min Yoongi. Khukhukhu...
Aku terus menghentaknya hingga puncak yang keempat kalinya, dan ia benar-benar lelah karenanya, dan aku berhenti saat bel berbunyi, aku melihat Yoongi yang tertidur, itu pasti melelahkan untuknya. Aku hanya mengusap kepalanya dan merapikan pakaiannya. Tidur yang nyenyak Yoongi-ah... aku kan menunggumu...
SKIP
Sudah seminggu sejak hari pertama kami, dan aku semakin dekat dengannya, aku akan bersamanya dan tak membiarkan seseorang menyentuhnya, heh... mengingat mantan-nya yang fanatic itu tak mungkin kubiarakan Yoongi sendirian.
"yak! Kau tak apa Jungkook-ah?!" tanya Hoseok membantu Jungkook berjalan. Iyup, aku mesih bersama mereka, kami menuju kantin.
"Tae... ia marah padaku" kata Jungkook semakin lemas untuk berjalan
"ayolah... Tae tak marah, ia hanya sensitive" kataku mencoba membantunya berjalan.
"apa yang harus kulakukan"
"yak! Ini karena cinta! Dasar sikap kalian jadi berubah" kesal Hoseok.
"katakan saja kau iri Hoseok-ah!" kataku
"Aku bisa saja mencari pacar jika aku mau! Tanpa diminta pasti muncul!" katanya melepas Jungkook dan sok didepan kami. Dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang, dan ia membantunya. Ah! Lihat siapa yang jatuh cinta sekarang, mereka sudah bertatapan lebih dari 5 menit, setelah bersikap sok keren ia kembali pada kami "lihatkan?"
"HUUUU!" aku dan Jungkook menendang Hoseok karena kesal. Kami bertiga sampai dikantin dan menemukan Yoongi dan Taehyung sedang bersama.
"Taehyung~" Jungkook segera mendekati Tae dan memeluknya meminta maaf sebanyak yang ia bisa, dan Tae hanya meng-iya kannya
"sedang apa kalian?" tanyaku dan kami langsung bergabung dengan mereka.
"dia hanya bicara soal pacarnya yang bodoh dan temannya yang mengacaukan kencan mereka" kata Yoongi menatapku, aku hanya berkata 'what?' "aku tau kau yang dimaksut Jimini-ie..."
"aku kan tak tau..." kataku menunduk, dan sebuah pukulan mendarat dikepalaku. Aku hanya mengeluh kesakitan dan mengusap kepalaku "mian-mian..." jawabku. Iyaa... beberapa hari lalu aku tak sengaja bertemu mereka dan malah mengajak Jungkook main game karena aku bosan.
"iyaa iyaa" jawab Taehyung.
"oh iya... kalian tau... Hoseok telah jatuh cinta" kata Jungkook duduk diantara Tae dan Yoongi. Kami langsung melihat kearah Hoseok yang tertawa sambil menunduk. Kami langsung meledeknya dengan semua omongannya kepada kami, dan kami hanya tertawa mendengarnya.
Setelah cukup lama, aku dan Yoongi memutuskan berdua di ruang music, sekedar memainkan music kesukaan Yoongi, aku mulai belajar piano darinya meski masih berantakan. Aku hanya diam menatapnya memain kan nada-nada yang ia mau, benar-benar indah...
"yak... kau belajar atau tidak?"
"tentu mau... tapi sedikit istirahat tak apa kan?" aku masih lekat menatap wajahnya, sampai pandangan kami bertemu
"aish! Anak ini!" ia mencubit kedua pipiku "kapan kau belajar heuh? Jika hanya menatap wajahku?"
"Ayolah Yoongi-ah... kau hal terindah yang bisa kulihat mau bagaimana lagi?" kataku membuatnya menunduk malu. "haah... suatu hari nanti kita akan menikah dan punya keluarga kecil yang bahagia"
"jangan berfikir terlalu tinggi" katanya mulai memainkan pianonya lagi
"kau tak mau itu?" aku melihatnya
"tentu mau" ia menatapku. "tapi kau harus lulus dan punya pekerjaan, baru aku mau menerima lamaranmu" katanya tersenyum
"cih! Kau cuma mau uangku ya?"
"tentu saja, kau mau memberi makan apa anakmu nanti jika bukan dengan uang" aku membuang wajahku, yang dia bilang benar kok, jadi mau bagaimana lagi. "tapi menginginkanmu saja sudah cukup bagiku... kalau tau yang mendampingiku nanti adalah kau... aku rasa aku akan baik-baik saja" katanya menatapku. Aku kembali menatapnya dan tersenyum, lalu memeluknya.
"Kalau begitu Min Yoongi... adalah milik Park Jimin, ne?"
"ne..."
Min Yoongi, aku bahagia bertemu denganmu, seluruh hatiku kuberikan padamu. Melihatmu tersenyum membuatku senang, melihatmu sedih membuatku juga sedih karena itu... mari bagi kebahagiaan dan kesedihan ini bersama hingga akhir, ne?
.
.
.
THE END
