Heigh-ho~ maaf banget karena update chap ini lumayan lama, hontou gomen!
Sesuai dengan yang mbak katakan di chap sebelumnya kalau mbak ada ospek dan persiapan masuk kuliah selain itu memikirkan plot untuk chap ini juga lumayan sulit, ugh... -_-"
Tapi mbak yakin tak akan mengecewakan, kok (jaaah, pede beudh lu, Ref? /plaaak)
Check it out!
Trapped in Saltwater Room
Bam!
"Ngggh… ummph… Ta, Taku…"
Percuma, ciuman dari pemuda bermanik amber itu malah semakin ganas.
"He, hentikan, Taku… ummph!"
Rontaan dan penolakan yang dilakukan sang gadis berdarah seperempat Russia itu malah membuat si pemuda menaikkan level permainannya. Ya, kini lidahnya tengah beradu dengan panas dengan milik sang gadis.
"Fwaaah… hah… hah…"
Wajah gadis itu memerah, air matanya menitik, dan keringat membasahi kedua pelipisnya. Menyedihkan? Membuat siapa pun merasa iba? Tidak, bagi si pemuda ekspresi gadis itu nampak begitu… erotis dan membuatnya semakin bernafsu untuk mengekspresikan rasa sayangnya pada gadis itu.
"Mou… kumohon, Takumi… hentikan! Aku enggak suka kamu yang seperti ini!"
Pemuda itu menyeringai dan kembali memojokkan gadis itu ke dinding.
"Tidak akan, Erichika sayang…" tangan kanannya memegang dagu sang gadis seolah tengah menawannya.
"Tidak, Takumi! Kumohon!" gadis bersurai pirang itu berusaha menghindari kontak mata dengan si pemuda.
"Malam ini kau sulit sekali untuk menurut, ya?"
"Tu, tunggu, Taku…"
"Sebaiknya kau menuruti semua kemauanku karena kau akan menjadi milikku sepenuhnya,"
"Eh? Ti, tidak… tunggu…"
Beberapa jam sebelumnya…
"Baru kali ini kita datang berbarengan seperti ini, ya?" komentar Eri begitu menghentikan langkahnya di depan terminal bus dan melihat kekasihnya.
"Bagus lah, itu artinya kau sudah bisa datang tanpa ngaret, 'kan?" sindir Takumi.
"Ugh… maklum sedikit, kenapa? Keperluan perempuan itu 'kan lebih banyak!" Eri berusaha membela diri.
"Hahahaha… bukannya kau telat karena berdandan mati-matian demi menarik perhatianku?" balas Takumi.
Wajah Eri merona merah. Memang itu lah kenyataannya sehingga ia tak bisa membalas perkataan Takumi.
"Mou! Dasar Takumi bodoh!" Eri malah ngambek.
"Oh, ayolah… aku hanya bercanda, maafkan aku, oke?" kata Takumi sambil menepuk-nepuk kepala Eri. "Ah, busnya sudah datang! Ayo, Eri!"
"Aih, aih, kalian sedang kencan menjelang tahun baru, ya?" tanya seorang nenek yang duduk di dekat mereka.
"E, eh… ano… ka, kami—" Eri tergagap-gagap menjawabnya karena tak ingin orang-orang yang juga duduk dan mendengar pembicaraannya dengan si nenek menjadi salah paham.
Takumi langsung merangkul Eri. "Kami hanya sepupuan, kok. Kakak sepupuku yang bule jadi-jadian ini telat ke acara keluarga di Gunma sehingga aku terpaksa mengantarnya karena dia belum begitu familiar dengan daerah di luar Tokyo, nek,"
"Owalah, begitu, toh?" si nenek manggut-manggut. "Padahal kalau kalian betulan pasangan yang tengah kencan pun nenek juga maklum, kok,"
"Eh?" Eri dan Takumi pun cengo.
"Dulu waktu masih muda, aku juga sering kencan dengan pacarku seperti ini," si nenek malah nostalgia. "Kami banyak melakukan ini dan itu, pokoknya dia laki-laki yang luar biasa untukku~"
Wajah hingga kedua telinga Eri memerah mendengar cerita ambigu itu. Seorang pemuda berusia sekitar 20an yang sepertinya adalah cucu si nenek tampak kewalahan dan berusaha menegur wanita tua yang mulai berceloteh dengan ngaco itu.
"Tak disangka hubungan kami langgeng terus dan akhirnya dia menikahiku," ujar si nenek. "Aku berpikir mungkin akan sangat luar biasa jika anak-anak muda yang berpacaran di masa sekarang bukan hanya sekedar untuk menurutkan hawa nafsu, namun sebagai niat dan pertimbangan untuk masa depan mereka sendiri bersama orang yang mereka kasihi itu, bukankah itu romantis?"
"Betul, betul," timpal seorang tante-tante berbadan tambun yang juga duduk di dekat si nenek. "Pergaulan bebas karena pacaran semakin menjadi-jadi. Benar kata nenek, alangkah bagusnya jika hubungan pacaran itu sendiri menjadi tali silaturahmi dengan keluarga calon suami atau istri sehingga anak-anak muda itu akan berpikir berkali-kali untuk meniru gaya berpacaran ala orang-orang barat,"
"Wah, syukurlah masih banyak orang-orang dewasa yang peduli dengan perkembangan anak-anak muda seperti bibi dan nenek," kata Takumi sambil tersenyum. "Soalnya, dari cerita teman-temanku yang berpacaran di sekolah, orangtua mereka cuek-cuek saja meski anak mereka berduaan dengan pacarnya di rumah bahkan tak tahu kalau mungkin mereka berbuat jauh,"
"Itu sudah tak bisa dipungkiri lagi mengingat semakin rendah kesadaran dan moral saat ini, dek," cucu si nenek itu pun ikut bicara. "Di masa sekarang, budaya gila kerja semakin parah sehingga membuat interaksi antara orangtua dan anak semakin berkurang. Nah, kalau anak mereka sampai terjerumus ke pergaulan bebas begitu, bagaimana? Dari berbagai sumber yang kubaca kebanyakan orangtua malah maklum karena adanya pemikiran 'aneh jika menikah, tapi belum pernah berhubungan suami-istri sebelum itu', begitu,"
"Hmm… kakak ini mahasiswa jurusan psikologi, ya?" tebak Takumi.
"Hahaha… begitulah," jawab pemuda itu sambil menggaruk tengkuknya karena tersipu malu. "Aku dan teman-temanku pernah membagikan kuisioner tentang ini ke masyarakat di daerah sibuk seperti Tokyo makanya jadi tahu banyak, deh,"
Tidak terasa bus pun telah sampai di tujuan.
"Kamu sok alim begitu, enggak ngaca kamu?" sindir Eri begitu keduanya telah berjalan agak jauh dari halte bus.
"Maksudmu?" jawab Takumi.
"Kamu 'kan sering menciumku, meninggalkan kiss mark di leherku, bahkan kadang tidur satu ranjang denganku," ujar Eri. "Dan kamu sok ikutan diskusi soal pergaulan bebas? Kamu ini muka tembok atau apa, sih?"
"Maaf, deh…" kata Takumi sambil menggaruk tengkuknya. "Rasanya setiap berduaan denganmu aku jadi lepas kendali karena kamu… begitu cantik, Eri, dan aku begitu menyukai juga menyayangimu,"
"Ya, ya, ya… aku sudah sering dipuji begitu, kok," jawab Eri datar. "Aneh banget kalau ada yang berpikir kashikoi kawaii Erichika ini enggak cantik,"
"Lah? Kok, kamu malah jadi narsis?" kata Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Enggak seneng?" balas Eri sambil melirik Takumi dengan tajam.
"Iya, deh, iya…" Takumi pun mengalah.
"Ternyata enggak begitu kotor, ya?" celetuk Takumi setelah menyentuh bagian atas perapian, tempat berbagai bingkai foto keluarga Ayase diletakkan. "Kukira debunya bakal lebih tebal dari ini,"
"Sudah, jangan banyak komentar," kata Eri. "Lebih baik kamu lap debu di perabotan-perabotan yang tinggi saja sana,"
"Siap, Bu…" jawab Takumi santai.
Setelah membersihkan dan merapikan villa itu selama setengah jam, mereka duduk mengelilingi meja kotatsu di ruang tengah. Eri meminta Takumi untuk memukulnya dengan kipas kertas jika ia tertidur saat belajar.
"Umm… Takumi, bisa kamu ajari aku yang ini? Aku agak lupa penyelesaian di bagian akhirnya," pinta Eri.
"Oh, program linear, ya?" kata Takumi. "Kemarikan pensilmu, biar kuajari sambil kutulis rumusnya,"
Tulisannya rapi sekali, seperti anak perempuan saja, gumam Eri.
"Bagaimana? Kau sudah mengerti, belum?" tanya Takumi setelah mengakhiri penjelasannya.
"Ya, terima kasih," jawab Eri sambil tersenyum. "Untung saja aku mengajakmu, hihihi,"
"Kalau begitu, gimana kalau kamu yang gantian mengajariku sekarang?" tanya Takumi.
"Oh, boleh, boleh…" jawab Eri. "Pelajaran apa?"
"Kimia unsur," ujar Takumi.
"Hei? Itu pelajaran anak kelas tiga, lho! Memangnya pelajaran kimia kelas dua sudah kamu kuasai semua, apa?" Eri berusaha memperingatkan.
"Sudah, kok," jawab Takumi. "Aku tertarik dengan materi punya anak kelas tiga, enggak apa-apa, 'kan?"
Setelah belajar selama kurang lebih tiga jam dan makan siang, mereka memutuskan untuk tidur siang di kamar masing-masing agar tidak mengantuk saat menunggu pergantian tahun malam nanti.
Hari sudah sore. Takumi dan Eri pun mandi lalu bersiap-siap untuk berjalan-jalan di lokasi wisata yang terletak tidak jauh dari villa.
"Nee, Takumi! Takumi!" seru Eri heboh sambil menarik-narik lengan Takumi begitu mereka sampai di lokasi wisata.
"Hmm?"
"Hai, chiizu~!" kata Eri sambil memotret selfie dirinya dengan sang kekasih.
"O, oi… bilang-bilang kalau mau memotret, dong!" protes Takumi. "Argh… pasti ekspresiku aneh banget tadi!"
"Hahahaha… gomen, gomen!" kata Eri sambil nyengir. "Yuk, kita ulang. Hai, chiizu!"
Takumi merangkul Eri sambil menunjukkan senyumnya yang 'keep calm and stay cool' itu. Saat melihat hasil selfie-nya, wajah Eri memerah entah karena tersipu atau bahagia bisa berfoto bersama dengan pemuda tampan yang dicintainya.
"Ericchi~!" panggil Nozomi sambil berjalan mendekati mereka berdua dengan Nico di sebelahnya.
Eri balas memeluk Nozomi. "Wah, kok, kalian ada di sini juga?"
"Yaaaa… banyak hal ini-itu jadinya kami memutuskan untuk ke sini," Nozomi tampak malas untuk menjelaskan.
"Kalian nge-stalk kami lagi, pasangan mak comblang?" ledek Takumi.
"Enggak, elah!" jawab Nico kesal. "Untuk apa juga gue menghabiskan libur tahun baru gue dengan stalk pasangan gaje macam kalian? Hih! Sori, dah!"
"Hahahaha… ayolah, Nico? Takumi hanya bercanda, kok," Eri berusaha menenangkannya.
"Baiklah, biar kutebak lagi," kata Takumi setelah berdehem. "Kalian baru aja jadian dan kencan, ya?"
"Hehe… ping pong~!" Nozomi membenarkan.
"Enggak, woi! Plis, jangan percaya apa kata cewek mesum ini, deh!" sela Nico. "Gue Cuma bantu-bantu di rumah neneknya Nozomi di sini soalnya beliau lagi kurang sehat dan butuh orang yang mau mengurus kebun sayurnya, gitu, lho…"
Mata Eri dan Takumi membulat seolah tak percaya dengan penjelasan Nico.
"Udah, kalau memang kencan ya mengaku saja, deh…" kata Takumi.
"Aku enggak percaya Nico sebaik ini sampai rela kerja keras di malam pergantian tahun!" tambah Eri.
"Heh! Lu berdua mau gue jorokkin ke jurang?" ancam Nico.
Nozomi tertawa geli melihat kelakuan ketiga temannya itu.
"Hahahaha… sudah, sudah," Nozomi berusaha melerai. "Yang dikatakan Nicocchi itu benar, kok. Dia memang kumintai tolong untuk ikut bantu-bantu di rumah nenekku,"
"Noh, denger, enggak?" kata Nico puas sambil bertolak pinggang dengan sok karena akhirnya Nozomi membelanya.
"Iya, bos shota… ampun…" Takumi dan Eri mengalah sambil tetap meledek Nico.
"Shota, mbahmu! Rese banget sih lu pada!" kata Nico tsukkomi.
"Habis seru banget nge-bully kamu, Nico! Hahahaha!" Eri tertawa dengan begitu puas.
"Apalagi kau ada bakat-bakat maso," timpal Takumi.
"Gue normal, woi! Maso dari mana, nyet?!" seru Nico kesal.
"Aduh, Nicocchi… ngomongnya…" Nozomi tampak kewalahan sehingga hanya bisa facepalm.
"Karena sudah berkumpul begini, bagaimana kalau kita menunggu malam pergantian tahun bersama-sama?" usul Eri.
Dan ketiga temannya itu pun setuju.
"Dingiiiin!" seru Eri dan Nico sambil menggigil.
Tahun baru tinggal menunggu hitungan menit.
"Silakan amazake-nya! Gratis dari kami, pihak pengelola lokasi wisata!" seru seorang ibu-ibu paruh baya dari stand-nya dengan heboh.
Nozomi mengambilkan dua gelas amazake untuk dirinya dan Nico, sedangkan saat Eri hendak mengambil untuk dirinya dan Takumi, amazake-nya habis sehingga si ibu penjaga stand pun permisi dulu untuk mengambil kembali stoknya.
Setelah menunggu sebentar, tiba-tiba ada seorang nenek yang sepertinya gantian menjaga stand itu dan tengah mengaduk amazake yang baru dituangkannya ke dalam wadah besar di sana.
"Wah, nenek tak menyangka ada bule yang suka amazake," komentar si nenek sambil memberikan dua gelas amazake pada Eri.
"Ahahaha… aku hanya blasteran, kok, nek," jawab Eri merendah. "Ha, hatchiiih!"
"Hohoho, cepatlah cari tempat yang agak hangat dan minumlah amazake itu, nak!" kata si nenek sambil tersenyum.
"Ya, terima kasih, nek…" jawab Eri dengan pipi yang merona merah.
"Ini, Takumi," kata Eri sambil memberikan salah satu gelas pada Takumi.
"Ah, iya," jawab Takumi sambil menerima gelas itu. "Terima kasih, Eri,"
Setelah meneguk sedikit amazake-nya, Eri merasa kerongkongannya terasa agak panas dan perih.
Tunggu, jangan bilang kadar alkohol di amazake ini… gumam Eri dengan keringat dingin yang membasahi kedua pelipisnya.
Benar saja, tubuh Takumi limbung ke belakang sehingga ia bersandar di pohon untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sambil memegangi kepalanya yang pusing.
"Ta, Tacchan?! Kamu kenapa?!" seru Nozomi kaget sambil menghampiri Takumi.
"Eri, jangan-jangan amazake yang dibuat nenek itu…" bisik Nico pada Eri.
Eri hanya mengangguk sambil menelan ludah.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke villa-mu dengan mobil nenekku, Ericchi!" kata Nozomi sambil memapah Takumi.
Nico duduk di depan sebagai supir, Nozomi di sebelahnya, sedangkan Takumi dan Eri duduk di belakang.
"Duduklah dulu, Takumi," kata Eri setelah membiarkan Takumi duduk di ranjang. "Aku mau ke kamar sebelah dulu untuk mengganti baju,"
Setelah selesai mengganti baju dengan piyamanya, Eri kembali ke kamar Takumi untuk memberinya obat.
Bam! Betapa terkejutnya Eri setelah menutup pintu, Takumi berdiri dan melakukan kabedon padanya. Manik amber itu menatapnya dengan nanar.
"Ta, Takumi? Bisakah kamu kembali duduk?" tanya Eri berusaha tetap cool. "Nanti pusingmu tambah parah, lho,"
Percuma, Takumi mengabaikannya. Jarak di antara wajah mereka semakin menyempit.
"Tu, tunggu, Taku… hngggh… ummph!" Takumi sukses menyegel bibir merah muda itu dengan ciumannya.
Eri berusaha mendorong Takumi agar ia melepaskannya, namun cengkeraman di kedua bahunya begitu kuat hingga Eri menjadi semakin lemas.
"He, hentikan, Taku… nggggh…!" rontaan itu pun sia-sia karena Takumi menaikkan level permainannya dengan memasukkan lidahnya secara paksa ke dalam mulut Eri.
Lidah keduanya beradu dengan panas dan mesra meski yang paling bernafsu dalam permainan itu adalah Takumi sendiri. Eri tak bisa menahan suara-suara aneh yang secara refleks dikeluarkannya tatkala lidah kekasihnya itu menjamah setiap sudut dalam mulutnya. Saliva mereka bercampur menjadi satu. Eri seolah termabukkan oleh serangan lidah dari kekasihnya itu.
"Fwaaah… hah… hah…" Eri berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya begitu Takumi menarik keluar lidah miliknya.
"Mou… kumohon, Takumi… hentikan! Aku enggak suka kamu yang seperti ini!" seru Eri.
Takumi menyeringai dan kembali memojokkan gadis itu ke dinding.
"Tidak akan, Erichika sayang…" tangan kanannya memegang dagu Eri seolah tengah menawannya.
"Tidak, Takumi! Kumohon!" Eri berusaha menghindari kontak mata dengan kekasihnya itu.
"Malam ini kau sulit sekali untuk menurut, ya?"
"Tu, tunggu, Taku…"
"Sebaiknya kau menuruti semua kemauanku karena kau akan menjadi milikku sepenuhnya,"
"Eh? Ti, tidak… tunggu…"
Takumi menggigit leher Eri hingga sang korban menjerit-jerit kesakitan.
"Ngggh… aaaaaaargh… hentikan, Takumi! Kumohon! Aaaaaaaaanghn…!" desahan dan teriakan, semua dilakukan Eri demi lepas dari permainan itu.
Takumi berhenti menggigitnya dan membenamkan wajahnya ke dada Eri.
"Rasamu adalah obat paling mujarab untukku, Eri…" kata Takumi.
Eri menghela nafas. "Sudahlah, ayo, kau harus minum dulu obatmu,"
Keduanya duduk di atas ranjangnya Takumi. Setelah meminum obat dari Eri, keduanya duduk dalam diam.
"Eri?" panggil Takumi.
"Ya?"
Tanpa ba-bi-bu, Takumi menarik paksa Eri hingga tubuh gadis itu terbaring di atas ranjang kemudian Takumi langsung mengunci pergerakan gadis itu dengan menempatkan kedua tangan di tiap sisi bahu milik Eri.
"Kena kau," kata Takumi sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tunggu, jadi, kamu menjebakku?!" seru Eri. "Apa maumu, Takumi?! Apakah French kiss yang kau lakukan sambil memojokkanku ke dinding tadi masih belum cukup?"
"Bodoh, tentu saja belum," jawab Takumi sambil menjilati leher yang pucat itu.
"Ah! Ngggh…!" desah Eri sambil mencengkeram seprai begitu lidah kekasihnya mulai menyentuh salah satu bagian tubuhnya yang paling sensitif itu.
"Aku… ingin menciummu lagi, Eri," pinta Takumi dengan mata yang memelas.
Eri memalingkan wajahnya seolah menolak permintaan itu.
"Apa kau membencinya?" tanya Takumi. "Jadi, hanya aku yang merasakan perasaan ini?"
Eri tak tahan melihat puppy eyes sang kekasih sehingga ia pun mengalah.
"Baiklah, ciumlah aku, Takumi," kata Eri pasrah.
Takumi tersenyum puas. Ia pun memegang pipi kiri Eri dan mencium kembali bibir yang menggoyahkan iman itu. Eri awalnya menikmati ciuman itu, namun lama kelamaan ia merasakan rasa perih bercampur rasa anyirnya darah. Eri pun sadar kalau Takumi menggigit bagian bawah bibirnya hingga ia terluka.
"Ngggh… i, ittai! Hentikan, Takumi!" seru Eri sambil mendorong Takumi menjauh.
Senyum mengerikan kembali terukir di wajah yang tampan itu.
"Aku sudah terbiasa jatuh cinta berkali-kali tatkala melihat senyummu, Eri," ujar Takumi. "Namun, ada yang membuatku begitu penasaran, bagaimana rupamu saat aku melukaimu hingga darah mengalir dari sisi bibirmu yang manis itu?"
Eri mulai menangis. "Kau kejam, Takumi…"
"Ya, itu karena aku mencintai segala hal tentangmu, Eri," jawab Takumi. "Bangunlah, biar kuobati lukamu,"
Setelah membersihkan lukanya, Takumi mengoleskan obat merah yang ia celupkan sedikit pada kapas. Begitu selesai keduanya kembali duduk di atas ranjang dengan canggung kembali.
"Maafkan aku, Eri," kata Takumi kemudian. "Aku salah, aku telah melukaimu,"
Eri diam saja sambil terus menunduk.
"Aku janji tak akan menggigit bibirmu lagi," ujar Takumi. "Jadi, bolehkah aku menciummu lagi?"
"Bodoh, kau kira aku akan mempercayaimu semudah itu?" balas Eri. "Aku tak mau menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama, Takumi bodoh!"
"Oh, ayolah… kumohon, Eri!" rajuk Takumi. "Aku akan melakukannya selembut mungkin! Menurutmu, kapan lagi kita bisa bermesraan seperti ini?"
"Haaah… terserahlah," kata Eri sambil berbaring di atas ranjang. "Ayo, lakukanlah,"
Kedua bibir itu kembali memadu kasih. Seolah merasa ini adalah kesempatan yang langka, baik Eri maupun Takumi menikmati momen romantis itu. Mulai dari ciuman biasa hingga French kiss kembali mereka lakukan. Saat Eri tengah dimabukkan oleh permainan lidah itu, Takumi membuka kancing piyama Eri satu demi satu. Begitu semua kancing itu telah terbuka, tangannya mulai meraba area sekitar perut dan pinggang gadis itu hingga membuat si pemilik tubuh tersentak.
"Ummph… ngggh…! A, apa yang kamu… nggghn…!" Eri tak bisa menahan sensasi geli tatkala tangan yang besar itu menyentuh kulitnya yang mulus.
Bosan dengan area sekitar perut, tangan itu pelan-pelan beralih ke bagian ulu hati, nyaris menyentuh salah satu bukti kewanitaan milik Eri. Tentu saja, Eri menjadi semakin takut dan air matanya kembali menetes. Wajah memerah yang menyedihkan itu, deru nafas yang tak beraturan itu, serta air mata yang membasahi pipi itu bekerja sama memohon agar Takumi menghentikan permainannya. Terlebih lagi, Eri tak mengenakan bra-nya karena jika tak ada kejadian ini ia ingin lekas tidur.
"Kumohon… jangan lakukan lebih jauh lagi, Takumi…" Eri memohon. "Kalau boleh jujur aku takut pada sisi agresif dalam dirimu!"
Takumi tersentak dan ia kembali teringat akan nasihat dari Izumi untuk menjaga Eri seutuhnya. Takumi bangkit dan bermaksud untuk keluar dari kamar.
"Tu, tunggu, Takumi!" seru Eri.
Tanpa menoleh Takumi hanya bisa menjawab, "Maafkan aku, Eri…"
Begitu Takumi berlalu, Eri membenamkan wajahnya ke atas bantal.
Apa-apaan perasaan ini? Aku berkata 'tidak' di mulut, namun hatiku mengatakan sebaliknya. Aku takut dan ingin lepas dari permainannya, tapi ada satu sisi dalam diriku yang menginginkan belas kasihnya lebih banyak lagi. Payah… apakah ini yang disebut murahan? pikir Eri sambil terisak.
Saat fajar tiba, Takumi mendapati Eri tengah berdiri merenung di beranda. Ia pun menghampiri gadis itu dan berdiri di sebelahnya.
"Kau masih marah padaku, Eri?" tanya Takumi kemudian.
"Entahlah," jawab Eri. "Sepertinya sudah enggak, sih,"
"Eh?"
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Takumi," ujar Eri. "Kamu berpikir jarak di antara kita akan semakin jauh karena ujian kelulusan tinggal sebentar lagi, bukan?"
Takumi hanya diam mendengarnya.
"Eri, apa lebih baik kita putus saja?" kata Takumi tiba-tiba.
Kedua mata Eri membulat. "Tunggu! Apa maksudmu?"
"Rasanya bohong jika alasan dibalik ciuman itu semata-mata karena aku menyayangimu," jelas Takumi. "Aku selalu memaksakan kehendakku dan menyakitimu, Eri… kau tidak pantas untuk terus jalan dengan laki-laki brengsek sepertiku, masih banyak laki-laki di luar sana yang pastinya akan menyanyangi—"
"BODOH! Dasar Takumi bodoh!" seru Eri sambil memukul-mukul dada Takumi.
"Eri…"
"Aku begitu bahagia karena pria yang merupakan cinta pertamaku mengajakku jadian, tidakkah kamu mengerti?" isak Eri. "Sekarang hanya karena salah paham, kamu ingin lari dan memutuskan hubungan denganku? Kenapa kamu selalu kejam padaku, Takumi?!"
"Eri! Bukan itu maksudku!"
"Lalu, apa?! Aku marah, Takumi!" bentak Eri.
"Aku hanya tak ingin menyakitimu lagi, Eri," ucap Takumi.
Eri menarik leher baju Takumi dan menatap pemuda itu lekat-lekat.
"Jangan jadi penakut, Takumi," kata Eri. "Setiap hubungan pasti ada saatnya kita salah paham atau saling menyakiti, tapi apa? Berkat semua rasa pahit itu kita belajar untuk saling memahami dan bersikap lebih dewasa lagi, bukan? Malah kalau kata orangtua, semakin sering bertengkar biasanya suatu hubungan akan menjadi semakin erat,"
Eri mencium bibir Takumi. "Jadi, jangan putuskan hubungan ini, oke?"
"Tentu," jawab Takumi. "Aku mencintaimu, Eri,"
"Un!" balas Eri sambil menempelkan kepalanya ke dada yang bidang itu.
"Oh ya, rasanya kita melupakan satu hal," kata Takumi.
"Benar juga," jawab Eri. "Bagaimana kalau kita ucapkan bersama-sama?"
Takumi pun mengangguk.
"Se, no! Akemashite omedetou!" ucap keduanya bersamaan.
Kemudian keduanya pun tertawa. Berkat malam tahun baru, hubungan mereka menjadi semakin kuat dan sedikit demi sedikit mereka mulai belajar untuk bersikap lebih dewasa.
