Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: January 1st, 2012

Cast : KyuMin :D

Genre : Horror | Crime | Romance

Rated : NC-17

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!

Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO's! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!

A/n : Ini birthday + new year fic khusus untuk Sungmin. Tapi! Saya yakin FF ini beda sama FF yang laen hahaha XD

Thank you bagi yang sudah membaca WARNING!

.

.

.

.

.

Dua jam menjelang pukul 00:00

Sungmin berjalan pelan terhadap Kyuhyun yang tengah berdiri di hadapan meja dapur. Memandangi—mungkin—sebuah kue tart yang didominasi oleh strawberry dan warna merah muda. Tentu saja, itu adalah warna kesukaan dari Lee Sungmin. Kekasih dari Cho Kyuhyun. Namja tampan yang sangat maskulin, dan juga sangat mencintai sang 'kelinci merah muda-nya'.

Sungmin tersenyum sebelum akhirnya dia memeluk tubuh itu dari belakang. Membuat Kyuhyun sedikit tersentak namun setelah itu dia tertawa. "Lihat apa, Kyu?" tanya Sungmin manja.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya—membuat Sungmin memeluk dari depan sekarang. Kyuhyun mengusap rambut hitam Sungmin dan mencium ujung hidungnya. "Lihat kamu, cantik." jawab Kyuhyun menggoda.

Pipi Sungmin bersemu merah muda. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun tersenyum melihatnya.

"Diluar dingin." gumam Sungmin.

Kyuhyun mendorong bahu Sungmin—dan membuat pelukannya terlepas. Sungmin merengut—karena dia baru memeluk tubuh itu dan sekarang sudah dilepas. Dia memegang bahu Sungmin dan menatap wajahnya dalam jarak yang begitu dekat. Sungmin menahan napasnya. "Aku akan membuatmu hangat." dan Kyuhyun menyeringai.

Sungmin memukul perut Kyuhyun pelan, dia tahu arti seringai itu. "Ulang tahunku masih dua jam lagi, Kyu." Sungmin mencium bibir Kyuhyun sekilas. "Sabarlah sedikit."

Kyuhyun terkekeh—lagi—mendengar ucapan kekasihnya. Dia memeluk pinggang Sungmin dan mendorongnya kearah meja makan. Kyuhyun mencondongkan wajahnya kearah Sungmin dan membuat kedua bibir itu berdekatan. Kemudian mereka saling berciuman. Berciuman hangat di tengah dinginnya malam bertabur salju. Menunggu waktu itu datang.

Satu jam menjelang pukul 00:00

Sungmin berdiri di depan pintu kamar mandi—dalam kamar mereka berdua. Setelah bercumbu di dapur tadi Kyuhyun segera beralih ke kamarnya. Sementara Sungmin segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia tahu apa yang harus dilakukannya kali ini. Membawa kekasihnya ke dalam surganya? Tentu saja. Sungmin akan memberikan semuanya di hari ulang tahunnya yang hanya tersisa beberapa menit lagi. Beberapa menit lagi sebelum pukul duabelas malam. Beberapa menit lagi sebelum tahun berganti. Beberapa menit lagi sebelum umurnya bertambah. Beberapa menit lagi sebelum Kyuhyun memilikinya seutuhnya.

Dia, Cho Kyuhyun yang sangat dia cintai.

Cho Kyuhyun yang sangat mencintainya.

Sungmin menekan handel pintu kamar mandi dan menariknya kearah dalam. Dia dapat melihat Kyuhyun duduk tersenyum—menyeringai—di atas ranjang. Sungmin melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi. Memperlihatkan seluruh tubuhnya.

Dia memakai kemeja putih tipis yang kebesaran, dan panjangnya hanya sepaha atasnya. Memperlihatkan paha mulusnya—walaupun dia seorang namja. Hanya memakai pakaian itu dan celana dalam yang menutupi daerah pribadinya. Tapi daerah itu akan terjamah sebentar lagi oleh namja yang tengah menahan napas di hadapannya. Sungmin merasakan pipinya memanas. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan yang sangat kelaparan. Seperti binatang buas yang melihat mangsa dihadapannya. Mau bagaimanapun juga, Kyuhyun tak dapat memungkiri bahwa leher jenjang putih, kedua nipple yang terlihat menyembul dari balik pakaiannya, dan juga tubuh rampingnya itu membuat dirinya tergoda. Dan menegang.

Sungmin berjalan kearah Kyuhyun. Mereka akan melakukan malam terindah dari malam-malam sebelumnya.

Tetapi, dewa kematian tak menyukai hal itu.

.

.

The Time

January 1st, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

January 1st, 2012

12:00 AM

"Hnhh... Kyuh~,"

Sungmin meremas seprai ranjangnya dengan sangat keras. Hujaman Kyuhyun pada bagian bawah tubuhnya membuatnya kesakitan. Terlalu sakit memang, karena ini kali pertamanya. Dia belum pernah disentuh siapapun. Hanya Kyuhyun yang melakukannya. Sekarang. Di hari ulang tahunnya.

Sungmin dapat merasakan peluh dari tubuhnya bercampur dengan peluh Kyuhyun. Bersatu bersama tubuhnya. Sungmin hanya dapat memejamkan matanya, dan mendesah. Dia tak dapat melakukan apapun ketika Kyuhyun menjilat wajahnya, melumat bibirnya, dan menyentuh titiknya.

Suara-suara bising dari terompet dan kembang api yang diyalakan oleh semua orang—tetangga dan orang-orang di sekitar rumahnya—tak menyamarkan suara desahan Sungmin. Kyuhyun dapat mendengar dengan jelas suara itu. Dan dia dapat melihat pemandangan terindah di hadapannya. Mata yang terpejam. Mulut yang terbuka. Wajah yang memerah. Dan suara itu... membuat gairah Kyuhyun semakin meningkat.

"Ahn... Kyuh... oh oh..."

Desahan seksi itu selalu keluar, ketika Kyuhyun menggerakannya. Menghujam titiknya. Memanjakan tubuhnya. Sungmin benar-benar dalam kenikmatannya sekarang. Dia dapat mendengar suara Kyuhyun, desahan itu, dan rasa nikmat itu.

Sungmin mencoba membuka matanya di tengah seluruh kenikmatannya.

Dan semuanya berubah.

Sungmin mengerjapkan matanya beberapa kali.

Dia bersumpah tengah berhubungan ranjang dengan kekasihnya. Dia benar-benar merasakan kenikmatan itu. Tetapi dimana dia sekarang? Dimana kekasihnya sekarang? Dimana desahan itu sekarang? Dimana rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan itu sekarang?

Dimana dia sekarang?

Sungmin menatap pakaiannya. Sama seperti satu jam yang lalu—pukul sebelas malam. Kemeja putih kebesaran yang dia gunakan untuk menggoda Kyuhyun. Bahkan dia masih memakai celana dalamnya. Tetapi apa yang terjadi? Apakah tadi hanya mimpi? Tidak, tidak! Sungmin bersumpah bahwa itu semua bukan mimpi! Ciuman Kyuhyun, sentuhan Kyuhyun dan tubuh Kyuhyun... dia yakin itu semua bukan mimpi!

Oh, Tuhan! Apa yang terjadi?

Sungmin menatap ke depan. Dia tidak tahu dia berada dimana sekarang. Di hadapannya hanya ada salju yang terhampar luas. Berwarna putih bersih. Dan dingin mengenai telapak kakinya yang tak memakai alas apapun. Astaga! Logika Sungmin benar-benar belum dapat menerima semuanya. Apa ini? Salju? Dia dimana sekarang? Dimana Kyuhyun? Ini benar-benar tak masuk akal ketika Sungmin berada disini. Ketika dia sedang berada di tengah kenikmatan dan sekarang dia berada di tengah hamparan salju yang luas?

Demi Tuhan! Ada apa ini?

"Kyuhyun!" Sungmin berteriak pada angin, dan tak ada yang menjawabnya.

Kemudian Sungmin merasakan sesuatu yang dingin turun mengenai pelupuk matanya. Sungmin mengerjap sekali. Dia menyentuh sesuatu itu dan menengadahkan kepalanya ke atas. Dan dia menemukan salju mulai turun secara perlahan. Bersatu dengan salju-salju yang sudah berada di bawah kakinya. Di tempatnya berpijak.

Sungmin membuka telapak tangannya, membiarkannya di udara dan membuat beberapa butir salju dingin itu jatuh ke telapak tangannya. Sungmin mengerjap. Dia dapat merasakan dinginnya salju itu. Rasa dingin yang mulai menusuk kulitnya yang setengah telanjang. Ini bukan mimpi. Ini benar-benar bukan mimpi.

Sungmin menjatuhkan tangannya sesuai dengan arah gravitasi. Dia membiarkan butiran salju yang semula berada di tangannya jatuh ke tanah—ke salju lain. Sungmin mulai melangkahkan kakinya—membiarkan dinginnya salju menusuk telapak kakinya. Dia tak peduli. Dia harus mengetahui dimana dia sekarang, dan dimana Kyuhyun berada.

"Kyuhyun!" panggil Sungmin lagi.

Dan tak ada yang menyahut.

Setelah lama berjalan, Sungmin menyadari bahwa dirinya telah berada di sebuah kota. Kota yang dapat dengan mudah ia kenali. Kota yang sudah sering dia lihat.

Ini kota tempat tinggalnya.

Sungmin merekahkan senyumannya. Dia melanjutkan langkahnya dan tak sengaja kaki telanjangnya menginjak sesuatu. Sungmin merendahkan tubuhnya dan meraih benda yang tak sengaja diinjaknya. Sebuah jam tangan digital. Dan masih menyala. Dia menatap jam tangan berwarna hitam itu dengan seksama.

01:00 AM

Sunday

2012-01-01

Pukul satu pagi? Itu sudah memakan satu jam dari waktunya bercinta dengan Kyuhyun. Dan, Sungmin benar-benar merasa jika ini semua hanya mimpi. Hanya bualan fantasinya. Pasalnya, jam tangan ini menunjukan pukul satu pagi, sedangkan langit diatasnya? Langit mendung yang menurunkan butiran-butiran salju. Seperti pukul tujuh pagi yang mendung. Astaga! Lelucon apa ini?

"Cho Kyuhyun!" Sungmin berteriak lagi untuk memastikan bahwa semuanya bukan mimpi.

Dan memang semuanya nyata! Dia tidak bermimpi!

Sungmin membawa jam itu dalam genggaman tangannya. Dia mulai kembali melangkahkan kakinya. Sementara seluruh pikirannya sedang bergelut dengan kenyataan. Dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Apa yang sedang terjadi terhadapnya. Apa yang membuatnya berada di tempat ini sekarang.

Sungmin melihat ada beberapa toko yang atapnya tertutup salju berjajar di pinggir jalan. Sungmin tahu tempat ini. Tetapi tempat ini masih berada sangat jauh dari rumahnya. Jauh, bahkan Sungmin memperkirakan akan sampai di rumahnya—dengan berjalan kaki di tengah dinginnya udara—sekitar empatbelas jam. Cukup lama memang. Tetapi itu adalah waktu tercepat yang diperkirakan Sungmin. Kota Seoul terlalu luas jika di jamah dengan berjalan kaki, bukan?

Sebuah toko yang berukuran minimalis—namun terlihat modis—itu terlihat menyala. Ada beberapa cahaya dari dalam sana. Warna ungu, merah muda, hijau, dan beberapa warna lain menyala bergantian. Sinarnya terlihat dari celah-celah jendela. Sungmin tertarik untuk pergi kesana. Bukan karena ada warna merah muda, tetapi karena mungkin—hanya mungkin—dia akan menemukan seseorang di dalam sana yang dapat menjelaskan kepadanya bagaimana semua ini bisa teradi. Apa hanya halusinasinya saja? Ataukah semua ini memang benar-benar nyata? Sungmin tak tahu sebelum dia sampai dan menemukan seseorang.

"Hello?" kata Sungmin.

Dia berjalan kearah pintu toko—yang terbuat dari kaca—dan mulai mendorongnya ke dalam. Bermaksud untuk masuk ke dalam sana. Sungmin masuk ke dalam ruangan itu secara perlahan. Dia mengikuti arah dari cahaya itu. Lampu yang berkedip. Dan ada sebuah ruangan yang Sungmin yakin adalah sumber dari cahaya itu.

Sungmin masuk ke dalam ruangan itu dan dia mengetahui darimana cahaya itu berasal.

Lampu-lampu kecil yang digantung secara berjajar. Yang berkedip secara bergantian untuk memberikan warna satu-per-satu. Memberikan keindahan oleh cahayanya. Sungmin mengerjapkan matanya. Bukan takjub karena indahnya cahaya lampu. Tetapi karena tulisan di cermin besar yang berada di ruangan itu, yang ditulis oleh sesuatu yang berwarna merah—merah itu terlalu pekat dan kental untuk dikatakan berasal dari cat air. Di sampingnya ada sebuah boneka badut besar yang terlihat agak menyeramkan.

Happy Birthday Lee Sungmin

Empat kata itu membuat Sungmin membatu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah dia sedang berada di salah satu toko di kotanya? Tetapi mengapa ada ucapan selamat ulang tahun yang ditujukan kepadanya? Memangnya siapa pemilik toko ini? Bahkan seingat Sungmin dia tak mempunyai teman yang memiliki—atau bekerja di—toko.

"A-ada seseorang di sini?" tanya Sungmin dengan nada gemetar.

Dan tak ada yang menjawabnya.

Sungmin melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan tubuh yang agak bergetar. Dia mulai takut dengan apa yang sedang dilaluinya. Sungmin melewati boneka badut besar itu—bahkan tingginya hampir setubuhnya—dan mendekati cermin itu. Sungmin dapat melihat pantulan dirinya. Agak pucat—mungkin gara-gara kedinginan. Sungmin menyentuhkan jarinya ke permukaan cermin—yang terdapat tulisan. Dia menyentuh salah satu huruf pada kata 'Sungmin' dan mencoleknya sedikit. Cairan ini kental. Dan baunya amis. Ini seperti... darah?

Krrk

Sebuah suara membuat Sungmin terlonjak kaget. Dia menoleh kearah sumber suara—di sampingnya. Dari arah boneka badut besar yang semula wajahnya menghadap ke depan kini mulai berputar—menatap dirinya. Mata Sungmin segera membelalak. Badut itu membuka mulutnya dan tertawa.

"Happy birthday Lee Sungmin. Happy birthday." Badut itu tertawa seraya mengucapkan kalimat itu dengan suara menyeramkan. Bahkan tawanya membuat Sungmin tersungkur ke belakang—karena kaget dan takut.

Badut itu tertawa. Lebih keras. Lebih menyeramkan.

Sungmin segera berdiri dari jatuhnya. Dengan kaki yang gemetar, dia berusaha menggapai pintu.

"Happy birthday Lee Sungmin. Happy birthday. Happy birthday. Hahahaha."

Sungmin tak dapat menahan rasa takutnya. Dia segera berlari mencapai pintu dengan tangannya yang masih menggenggam jam tangan. Dengan segera digapainya pintu keluar dari toko. Dan Sungmin masih dapat dengan jelas mendengar tawanya, dan kalimatnya.

Sungmin terjatuh di depan pintu—akibat dari larinya yang terbirit-birit. Dinginnya salju menyentuh perut dan dadanya. Dingin itu menusuk kulitnya. Tetapi dia tak peduli. Sungmin segera bangkit dari jatuhnya dan berlari kearah jalanan. Berlari menjauhi toko itu. Berlari dari suara yang sangat terdengar menyeramkan dalam pendengarannya.

Dan setelah menjauh, Sungmin menghentikkan larinya. Dia mengatur napasnya yang terasa agak melambat dan berat. Sungmin benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa yang terjadi kepadanya sekarang. Tak sengaja matanya bertemu dengan layar dari jam digital yang kini dikenakan di tangan kirinya.

02:00 AM

Sunday

2012-01-01

Sudah pukul dua pagi? Secepat itukah? Sungmin bersumpah dia baru melihat jam yang menunjukkan pukul satu pagi beberapa menit yang lalu. Tetapi apa yang terjadi sekarang?

"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" Sungmin menjambak rambutnya dan jatuh terduduk di hamparan salju. Dia memejamkan matanya. Berusaha untuk rileks dan fokus. Mungkin ini semua hanya mimpi. Hanya bayangan saja. Hanya halusinasi.

Sungmin berharap dapat menemukan Kyuhyun diatas tubuhnya ketika dia membuka mata.

Sungmin membuka matanya. Dan tak ada yang berubah. Hanya hamparan salju luas di tengah jalan. Di tengah kota. Dan dia yang terduduk disana.

Sungmin menundukkan wajahnya. Dia menekan kepalanya dengan kedua tangannya. Berusaha membuat otaknya dapat berpikir. Memberi tahu kepadanya apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sedang dia alami. Tetapi semuanya tak menghasilkan satu jawaban apapun.

"Kyuhyun..."

Sungmin memanggil nama itu pelan. Berharap dengan panggilan lemah itu Kyuhyun dapat berada di hadapannya. Meraih tangannya. Memeluk tubuhnya yang mulai menggigil dan membawanya kembali dalam kehangatan.

"Kyuhyun, please Kyu..."

Sungmin dapat merasakan ada butiran basah yang perlahan turun dari matanya. Sungmin kembali menutup matanya. Menggumamkan nama 'Kyuhyun' berulang-ulang. Memanggil namanya dalam panggilan lemahnya. Dalam tangisnya. Sungmin tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

"Tuhan, apa yang terjadi padaku? Dimana Kyuhyun?"

Dan setelah kalimat itu terlontar, Sungmin dapat merasakan sebuah pelukan lembut di lehernya. Sebuah pelukan dari belakang tubuhnya. Sungmin membuka matanya dan menaikkan wajahnya. Tangan ini... hangatnya, wanginya... Sungmin mengenal semuanya. Yang selalu memeluk tubuhnya. Menyeka air matanya. Membelainya.

Sungmin merekahkah senyumannya dan berbalik.

"Kyuhyu—"

Tak ada siapapun disana.

Senyuman itu hilang segera dari wajah Sungmin. Sungmin merasakan matanya kembali memanas. Tidak, dia tidak suka dikatakan sebagai lelaki yang cengeng. Tetapi, apa yang dialaminya sekarang begitu menyiksa batinnya. Sungmin tak sanggup menghadapi semuanya. Dia butuh pelukan kekasihnya sekarang.

Sungmin mengembalikan pandangannya ke depan dan menemukan sesuatu di hadapannya.

"Happy birthday Lee Sungmin. Nyeahahahaha!"

Badut yang dia temui di toko itu kini sedang berdiri di hadapannya. Dengan seringai dan tawa menakutkannya. Mata Sungmin segera membelalak lebar. Dia berusaha untuk berdiri sebelum badut itu lebih mendekat kearahnya.

"Happy birthday Lee Sungmin. Happy birthday. Nyeahahaha! Hahahaha!"

Sungmin segera berdiri dari duduknya dengan tergesa. Badut itu berjalan kearahnya. Dan Sungmin segera berlari ke sembarang arah.

"Ya Tuhan! Ya Tuhan! Selamatkan aku!"

Sungmin berdoa dalam usahanya untuk berlari. Sedangkan badut itu kini berlari mengejarnya. Wajahnya yang begitu menyeramkan membuat Sungmin benar-benar ketakutan. Apalagi dengan kalimat yang ditujukan khusus kepadanya.

Sungmin berlari di jalanan yang tertutup salju itu. Jalanan benar-benar membuat telapak kakinya terasa ditusuk oleh ribuan jarum es. Sangat dingin dan menusuk.

Badut yang berlari di belakang tubuhnya masih tertawa. Dia berusaha menggapai-gapai tubuh Sungmin yang larinya mulai melambat. Sungmin lelah. Tetapi ia takut. Benar-benar takut dengan apa yang dihadapinya sekarang.

"Happy birthday Lee Sungmin! Happy! Birthday! Nyeahahahaha!"

Sungmin menoleh ke belakang sesekali. Badut itu tertawa—dengan langkahnya yang begitu cepat. Sungmin mengembalikan pandangannya. Berusaha mencari tempat yang dapat melindunginya.

"Tolong aku! Ya Tuhan! Siapapun tolong aku!"

Tak ada pilihan lain. Sungmin harus memilih satu diantara banyak bangunan yang akan menjadi tempatnya untuk berlindung. Tetapi dia takut. Dia takut akan menemukan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada badut itu disana.

"Lee Sungmin! Happy birthday!"

Sungmin menemukan satu bangunan. Sebuah sekolah dasar. Dia memilih untuk berlari kesananya. Dan ketika dia membelokkan arahnya...

Brukk

"Gotcha!"

Sungmin merasakan tubuhnya terhempas mengenai dinginnya salju di tanah dengan sangat keras. Badut itu berhasil menangkapnya. Memegang salah satu kakinya. Dan menariknya.

"Happy birthday Lee Sungmin! Happy birthday!"

Sungmin berusaha menggapai-gapai sesuatu untuk membuat tubuhnya bertahan—agar badut itu tak dapat menarik tubuhnya. Namun salju di bawah tubuhnya tak dapat membantunya. Sungmin meronta keras. Kakinya menendang-nendang berharap mengenai badut itu. Tetapi tak bisa. Yang dia dengar hanya tawa menakutkan. Dan kalimat itu lagi.

"Tolong! Tolong aku! Kumohon!"

Sungmin menangis lagi kali ini. Terisak. Dia begitu takut. Bahkan benar-benar takut. Badut itu membawa—menggusur—tubuhnya di salju. Membuat salju dingin itu menggesek tubuhnya. Menghasilkan rasa nyeri dan dingin yang menusuk secara bersamaan. Tetapi rasa itu tak sebanding dengan rasa takutnya.

"Tolong! Please! Please!"

Sungmin menjerit. Dengan tenaga yang dia kumpulkan, dia menendang tangan badut yang menarik kakinya. Dan genggaman itu terlepas. Kaki itu terjatuh mengenai salju. Sungmin segera merangkak mundur dan berdiri setelahnya. Dapat dia lihat raut wajah badut itu berubah. Sungmin segera berlari kearah gedung sekolah dasar yang sudah dia pilih. Sebelum badut itu kembali mengejar dan menangkapnya.

"Happy birthday Lee Sungmin!"

Sungmin berlari menaiki tiga tangga kecil di depan pintu bangunan itu. Sungmin menoleh dan mendapati badut itu berlari kencang kearahnya. Dengan sekali dorongan kuat, Sungmin mendorong pintu kayu besar dihadapannya dan masuk ke dalam.

Di dalam sana, sebuah cahaya putih datang. Menyilaukan mata. Dan membuat Sungmin memejamkan matanya segera. Cahaya itu begitu menyakiti matanya. Dia tak sanggup untuk kembali membuka matanya sebelum cahaya itu memudar.

Dan perlahan, Sungmin dapat mendengar tawa-tawa ringan khas anak kecil terdengar di hadapannya. Tawa senang ketika anak-anak kecil bermain. Tawa itu bergema di telinga Sungmin. Matanya perlahan terbuka, dan mendapati cahaya putih itu memudar. Hilang pada akhirnya.

Dan Sungmin dapat melihat apa yang terjadi sekarang di hadapannya.

Sebuah koridor sekolah. Tepat di hadapannya ada tiga anak perempuan sedang bermain lompat tali. Dengan tawa mereka. Dengan candaan mereka. Sungmin memberanikan diri untuk mengambil langkah dengan perlahan. Dia melewati tiga anak kecil itu.

Ketika seorang anak perempuan melompat diantara tali itu, kedua anak perempuan yang memegang tali dan memutarnya menghitung. Menghitung setiap gerakan temannya. Menghitung satu-persatu. Dan tawa muncul menghiasi wajah mereka.

"Tigapuluh empat... tigapuluh lima... tigapuluh enam..."

Sungmin mengingat pada waktu. Dia mensejajarkan layar jam digital yang dikenakannya dengan matanya.

03:00 AM

Sunday

2012-01-01

Sudah pukul tiga dini hari? Bagaimana bisa waktu berjalan secepat itu?

Sungmin mengembalikan pandangannya ke arah koridor. Sungmin tak bisa merekahkan senyumannya. Dia bersyukur bertemu dengan orang lain disini. Tetapi semuanya terlihat seperti bayangan dalam pengelihatannya. Seperti tidak nyata. Seperti sebuah memori lama yang kembali berputar.

Sungmin melanjutkan langkahnya. Meninggalkan tiga anak perempuan itu. Kini Sungmin melewati dua anak laki-laki yang berjalan berdampingan. Mereka tertawa bersama. Membicarakan sesuatu dengan nada suara yang terdengar samar di telinga Sungmin. Lalu mereka tertawa lagi. Dan berjalan di samping Sungmin seperti tanpa menyadari keberadaannya.

Sungmin melanjutkan langkahnya. Mendekati loker-loker yang berajajar rapi. Disana ada empat orang anak laki-laki yang berkumpul di depan salah satu loker yang terbuka. Tetapi Sungmin tak mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Pintu loker yang terbuka itu membatasi jarak pandangannya. Dia harus mencapai kesana dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.

Ketiga anak laik-laki itu tertawa, sedangkan salah satu anak laki-laki yang berdiri paling belakang itu tidak. Dia hanya diam sementara mereka tertawa terhadap sesuatu di dalam loker. Kadang mereka—seperti—memukul sesuatu itu. Atau menendang. Sungmin benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi. Tetapi dia merasa bahwa dia sangat familiar dengan keadaan ini. Dengan para wajah ini. Hanya satu jawaban yang dapat menjawab rasa penasarannya. Sungmin sampai dihadapan loker, dibelakang keempat anak tadi.

"Pecundang! Kau pecundang!"

Mereka—kecuali satu anak yang hanya diam itu—berteriak pada sesuatu di dalam loker. Bukan sesuatu lagi, Sungmin dapat melihat bahwa mereka berteriak mengejek pada seseorang di dalam loker. Yang meringkuk kesakitan. Yang tubuhnya penuh dengan telur dan cangkang telur itu sendiri. Yang sangat Sungmin kenali.

"Lee Sungmin pecundang! Kau pecundang! Dasar lemah! Pecundang!"

Dia. Dirinya ketika berumur delapan tahun yang berada disana. Meringkuk kesakitan dan ketakutan. Beberapa lebam di dekat lutut dan tangannya. Sungmin kecil yang lemah. Sungmin kecil yang dianiyaya. Yang tak bisa melawan. Sungmin kecil beberapa tahun yang lalu.

Itu dirinya.

"Pecundang!"

"Dasar lemah!"

"Bodoh!"

Sungmin menahan mulutnya. Dirinya dahulu begitu dianiaya. Ditindas. Tak mempunyai satupun teman. Dan dia sangat terpuruk. Dia tak sanggup melihat dirinya yang dulu. Yang benar-benar tak bisa melakukan apapun.

"Mati saja!"

Mereka menendang Sungmin kecil itu lagi. Membuatnya meringis dalam diam. Menahan isakan dari dalam mulutnya. Sementara ketiga anak kecil itu tertawa meremehkan lagi. Sungmin tak dapat melakukan apapun yang dapat mengubah memorinya.

Sungmin kecil mencuri pandangannya kearah anak laki-laki yang hanya diam—yang merupakan salah satu dari geng mereka. Dia meminta pertolongannya dengan tatapan bisu. Dia hanya dapat menangis. Berharap anak laki-laki itu mau membantunya. Tetapi dia hanya diam. Diam tak melakukan apapun. Dia hanya menuruti perintah ketiga anak itu.

"Dasar payah!"

"Lemah!"

"Bodoh!"

"Pecundang!"

"Menjijikan!"

Suara itu begitu menyakiti pendengaran Sungmin. Dia tak sanggup untuk mengingat memori lamanya. Semuanya terlalu menyakitkan. Terlalu membuatnya sesak. Sungmin menutup kedua telinganya. Mencoba untuk membuat memori itu hilang dari benaknya. Berharap agar ia melupakannya. Menghapusnya.

Sungmin memejamkan kedua matanya.

"Jangan diingat! Jangan! Lupakan! Lupakan! Lee Sungmin, lupakan! Lupakan semuanya! Lupakan!"

Dan semua suara itu perlahan menghilang dari pendengaran Sungmin. Secara perlahan. Dengan beberapa hembusan angin keras di sekitarnya. Sungmin memberanikan dirinya untuk melepaskan tangannya—membuka matanya.

"Di-dimana ini?" tanyanya pelan.

Kini dia berada di sebuah hutan—di tepi danau tepatnya. Dia berdiri disana, dan sepertinya dia begitu familiar dengan kondisi ini.

Sungmin mengingat waktu. Dia melihat layar jam yang dikenakannya.

04:00 AM

Sunday

2012-01-01

Sudah pukul empat? Kali ini Sungmin tak sekaget biasanya. Dia sudah tahu bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat disini—di tempat yang membuatnya bingung.

Sungmin melangkahkan kakinya kearah anak-anak yang berkumpul di atas jembatan kayu. Yang hanya mempunyai panjang sekitar tiga meter dari sisi danau. Seperti jembatan untuk menaiki perahu—mungkin. Dia mendekati mereka dengan perlahan dan dia mulai mendengar sesuatu.

"Cepat sekarang!"

"A-aku tidak mau..."

"Danau itu tidak dalam! Ayo cepat kau!

"A-aku..."

"Heh! Lemah! Cepat masuk ke dalam danau sebelum kami yang mendorongmu! Cepat!"

Sungmin merasa memori di benaknya mulai kembali berputar.

Ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Masih sama ketika dia berumur delapan tahun. Ketika sekolah mereka mengadakan perkemahan di hutan. Sungmin masih ingat ketika ketiga geng empat anak laki-laki itu menyeretnya ke tepi danau—kecuali untuk satu anak laki-laki yang pendiam. Dan Sungmin tak dapat melakukan apapun. Tenaganya kalau oleh tiga orang.

Sungmin mendekati mereka. Dia melihat dirinya dahulu yang menangis ketika mereka mendorong dirinya ke tepi danau. Tetapi dia masih bersikukuh berdiri di atas jembatan. Menangis dengan sesekali melirik kearah anak laki-laki pendiam itu. Meminta pertolongan.

"Cepat masuk!"

"Ta-tapi itu dalam..."

Salah satu anak laki-laki—yang merupakan ketua geng—itu menjambak rambut Sungmin. "Cepat masuk atau kami yang mendorongmu!"

"Kumo...hon... jangan lakukan itu..."

"Cepat masuk ke dalam!"

Sungmin kecil kembali menjatuhkan pandangannya pada si 'silent boy'. Tetapi dia hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Sungmin benar-benar meminta pertolongannya.

"Kumohon... jangan..."

"Kau benar-benar ingin melawan kami?" si ketua geng itu menarik kerah seragam Sungmin. Dia menatap wajah ketakutan Sungmin kecil dengan wajah menantangnya. Anak laki-laki itu memajukan langkahnya—otomatis membuat Sungmin melangkah mundur. Bahkan kaki Sungmin sekarang sudah berada di tepi kayu. Tubuh Sungmin bergetar ketakutan. "Kau sudah berani melawan ya?"

Sungmin kecil menggeleng takut. "Ti-tidak... a-ku tid—"

"Kalau begitu cepat masuk!" anak laki-laki itu mendorong tubuh Sungmin dengan sekali gerakan. Namun tangan kecil Sungmin memegang erat baju si ketua geng itu. Membuatnya jatuh ke dalam danau bersama Sungmin.

BYUURR

"Oh tidak! Thunder cepat panggil guru kesini!"

Dan Sungmin benar-benar mengingat detail kejadian itu. Dia menelan air dengan sangat banyak. Di usianya yang masih delapan tahun, dia masih belum bisa berenang di air dalam. Sama seperti si ketua geng. Keduanya meminta pertolongan. Dan yang terakhir Sungmin ingat hanyalah gelap.

Sungmin memejamkan matanya. Andai saja si 'silent boy' itu menolongnya lebih awal, dia dan si ketua geng tak akan jatuh ke dalam danau. Dia tidak akan semakin tak mempunyai teman. Karena setelah kejadian itu, mereka semua menyalahkan Sungmin. Hanya karena dia selamat sedangkan anak laki-laki yang merupakan ketua geng itu tidak. Dia hilang dan baru ditemukan dua hari kemudian. Sungmin tak tahu apakah dia harus mensyukuri bahwa dirinya masih hidup pada saat itu atau menyesal karena dia tak ikut mati. Jika saja dia ikut mati atau setidaknya hanya dia yang mati, penderitaanya di sekolah dasar tidak akan bertambah panjang dan membuatnya semakin dikucilkan.

Sungmin hanya dapat mengenang masa lalu kelamnya.

Sungmin membuka matanya. Dan sekelilingnya kembali berubah. Dia kembali berada di hamparan salju. Di tempat semula dia duduk sebelum dikejar badut itu. Dan udara di sekitar tubuh Sungmin kembali berubah. Dingin. Dia masih sadar bahwa dia masih memakai kemeja putih yang tipis itu. Dan pakaian itu tak dapat memberikannya kehangatan. Dia menggigil kedinginan. Dia membutuhkan sesuatu yang dapat menghangatkannya. Yang dapat membantunya melewati sesuatu yang aneh yang menimpa dirinya.

Sungmin kembali mendekatkan layar jam tangan digital yang dikenakannya.

05:00 AM

Sunday

2012-01-01

Pukul lima pagi dan Sungmin masih tidak dapat menemukan Kyuhyun? Astaga, Sungmin yakin ini adalah kota Seoul—di sudut yang jauh dari rumahnya. Tetapi mengapa dia bisa berpindah masuk ke dalam memori dulunya? Memori yang sudah lama ia pendam? Memori yang membuatnya merasa sesak? Dia tak mengerti dengan semua yang terjadi. Dia benar-benar tak mengerti semuanya.

"Kyuhyun, please..."

Bibir tipis itu kembali memanggil sebuah nama. Nama dari seseorang yang benar-benar dia butuhkan sekarang. Sungmin melipat lututnya hingga meyentuh dada. Kemudian dia memeluk kakinya. Dan menenggelamkan kepalanya di antara lutut dan dada. Menangis lagi. Tangisan memilukan yang tak dapat di dengar oleh siapapun. Termasuk oleh Kyuhyun.

"Kyuhyun, please... hiks, Kyuhyunie..."

Terlalu memilukan untuk di dengar. Terlalu menyakitkan. Sungmin benar-benar tak sanggup menghadapi semuanya sendiri. Dia butuh seseorang.

"Hiks... please Kyuhyunie, please..." pintanya lemah.

Dan tangisnya hanya dapat di dengar oleh butiran-butiran salju yang turun jatuh mengenai kepalanya.

Setelah lama menangis, Sungmin menghentikannya. Dirinya sudah merasa sangat kedinginan. Salju-salju itu begitu menusuk kulitnya. Sungmin mengangkat wajahnya dan tak sengaja pandangannya melihat kearah jam di tangan kirinya.

06:00 AM

Sunday

2012-01-01

Dan sekarang pukul enam datang.

Sungmin membuang napasnya dan kemudian menyeka air matanya. Dia harus kuat. Dia mencoba untuk kuat. Dia sadar sekarang bahwa dia menghadapai semuanya sendiri. Maka dari itu dia harus kuat. Dia harus bisa menghadapi semuanya sendiri.

Sungmin berdiri dari duduknya dan segera memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. Dan kemudian Sungmin berbalik sekedar untuk mengganti arah yang akan dilaluinya.

Buk!

Seseorang memukul Sungmin dengan sebuah sekop salju. Sungmin segera terjatuh ke salju di tanah. Dia menyentuh kepalanya—yang merupakan titik dari pukulan itu. Kepalanya terasa pening dan segala di sekelilinya terlihat berputar. Sungmin tak bisa melihat siapa yang memukulnya. Semuanya terlihat samar-samar.

Sungmin meringis pelan—lemah. Masih dengan tangan yang menyentuh kepalanya dia berusaha bangkit—hanya sekedar untuk duduk agar tubuh bagian punggungnya tak menyentuh salju dingin. Dan perlahan pengelihatannya mulai membaik.

Dia melihat seseorang yang berdiri di hadapannya dengan sebuah sekop salju.

"U-umma?"

Sungmin mengerjapkan matanya beberapa kali agar pandangannya semakin membaik. Dan setelah itu, Sungmin yakin yang berdiri di hadapannya adalah ibu kandungnya.

"U-umma? K-kau benar umma?" tanya Sungmin lemah.

Perempuan yang dipanggil 'umma' itu hanya menatap Sungmin marah. Dia mengangkat tangannya yang memegang sekop salju dan kembali memukulkannya kearah Sungmin—kali ini di lengannya.

Buk!

"Argh! Umma, apa yang kau lakukan?" Sungmin merintih seraya memegang lengannya. Yang ia yakin akan tampak warna kebiruan setelahnya.

Namun perempuan itu kembali mengangkat sekopnya tinggi, dan dengan keras memukulkannya kembali kearah Sungmin—kali ini di paha kirinya.

Sungmin merintih. Apapun yang terjadi sekarang dia yakin bahwa itu bukan ibunya. Sosok perempuan itu bukan ibunya. Walaupun wajah itu sama tetapi naluri Sungmin mengatakan bahwa perempuan itu bukan ibunya.

Sesuatu yang salah memang terjadi kepada dirinya—kurang lebih semenjak dia mendapati dirinya berada disini, sendirian.

Sungmin segera bangkit—dan dengan susah payah menahan rasa sakit di kepala, lengan serta pahanya—ketika perempuan itu kembali mengangkat sekop salju itu tinggi. Dan berniat untuk memukulkannya kembali kearah Sungmin.

Sungmin berlari kearah yang menjauh dari perempuan itu dengan susah payah. Dengan terpincang-pincang. Dia meringis kecil di tengah larinya. Tetapi dia harus menahan rasa sakit itu, mengingat perempuan yang berwajah persisi seperti ibunya itu mulai berlari mengejarnya. Dan jarak dari keduanya tak begitu jauh—bahkan sangat dekat.

Sungmin melirik ke belakang, dan jarak perempuan itu semakin mendekat. Perempuan itu mengangkat sekopnya tinggi dan mulai berteriak-teriak tak jelas. Suaranya terdengar menakutkan. Menambah ketegangan yang Sungmin lalui.

"Please... please... lari Sungmin! Lari!" perintahnya pada dirinya sendiri.

Perempuan di belakangnya menggeram. Berusaha mencapai Sungmin. Sungmin melirik ke belakang. Dia benar-benar kesulitan berdiri dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya dan dengan jalanan yang di penuhi salju—karena beberapa kali kakinya tenggelam karena salju. Sungmin merasakan napasnya mulai terasa berat. Dia sudah kesulitan untuk berlari. Dia tak kuat.

"Raaaahhhh!"

Perempuan itu menggeram lagi. Sungmin mencoba untuk mempercepat kecepatannya, namun nasib baik memang tak pernah datang kepadanya—setidaknya ketika di tempat ini.

Buk!

Perempuan itu berhasil memukul punggungnya hingga dia jatuh menghempas salju—dengan wajah yang berada di bawah, mencium salju secara kasar. Sungmin meringis. Dia segera membalikan tubuhnya dan mendapati perempuan itu melayangkan satu pukulan lagi, di dadanya.

"Ugh,"

Sungmin merasakan dadanya terasa panas, sangat sakit. Dia mulai terbatuk sedikit dan sebuah cairan ikut keluar dengan batuknya. Teksturnya kental dan berbau amis. Darah.

Buk! Buk!

Perempuan itu memukul lagi dada Sungmin, dan kemudian perutnya. Tubuh Sungmin menekuk, kesakitan. Sungmin kembali mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Dan kali ini mengotori salju putih di bawahnya.

"Please... jangan... lakukan lagi..." pinta Sungmin lemah.

Tetapi perempuan itu kembali menggeram. Dengan segala kekuatannya dia mengangkat kembali sekop salju dan memukulkannya pada kaki Sungmin. Berkali-kali.

Buk! Buk! Buk!

Pukulan itu terlalu bertubi-tubi. Membuat tubuh Sungmin bergelung, menahan sakit. Tetapi perempuan itu tetap memukulkan sekop salju itu secara kasar dan keras dengan geraman dari dalam mulutnya. Sungmin merasakan ada air mata yang jatuh dari salah satu matanya. Pukulan itu terlalu keras. Bahkan sangat keras.

"Arghh... please, hentikan..."

Sungmin melihat perempuan itu mengangkat kembali sekopnya tinggi. Berusaha untuk mengambil jarak yang akan mempengaruhi kerasnya suatu pukulan. Dan ketika perempuan itu akan memukul lagi, Sungmin memejamkan matanya.

"Kumohon hentikan!" pintanya menjerit.

Dan, tak ada pukulan lagi yang diterimanya.

Sungmin merintih dengan air mata yang kini mulai berjatuhan lebih banyak—agak tertahan dengan matanya yang menutup. Sungmin memeluk tubuhnya sendiri—berusaha untuk mengurangi rasa sakitnya.

Dan dia membuka matanya secara perlahan.

Tak ada siapapun di hadapannya. Tak ada lagi perempuan yang mirip ibunya dengan memegang sebuah sekop salju. Tak ada lagi geraman itu. Dia sendiri lagi sekarang.

Sungmin segera menangis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia menggigil dan meringkuk kesakitan. Rasa dingin yang menusuk kulit dan sakit di sekujur tubuh benar-benar perpaduan yang sangat tepat untuk menyiksanya. Ditambah dengan kenyataan bahwa dia disini sendiri sekarang. Dan segala memori kelam yang kembali terulang. Semuanya sangat menyiksa raga dan batinnya.

Sungmin tak sanggup.

"Hiks... kumohon hentikan semua lelucon ini Tuhan... kumohon..." pinta Sungmin dalam tangisnya.

Dia meringkuk kesakitan di tengah salju yang jatuh di atas tubuhnya. Salju yang menemani rasa sakit yang menyiksanya dalam tangisan.

Sunday

January 1st, 2012

07:00 AM

Sungmin masih meringkuk kesakitan. Dia tak ingin beranjak dari posisinya. Semuanya terlalu sakit untuk dilalui. Terlalu sakit untuk dilalui seorang diri.

Sunday

January 1st, 2012

08:00 AM

"Aku hanya mimpi buruk. Ini semua hanya mimpi buruk. Ayo Lee Sungmin, bangun! Bangun! Kau harus bangun!"

Sungmin memejamkan matanya—dengan tubuh yang masih meringkuk kesakitan dan kedinginan. Tangannya masih memeluk tubuhnya yang sudah sangat terasa dingin. Bahkan warna kulitnya sudah melebihi putih pucat. Dia kedinginan. Dia butuh kehangatan.

Sunday

January 1st, 2012

09:00 AM

"Kyuhyun, keluarkan aku dari sini. Please, bantu aku keluar dari semua mimpi buruk ini. Kumohon..."

Sunday

January 1st, 2012

10:00 AM

Sungmin sudah tak tahu bagaimana caranya meminta kepada Tuhan. Sejak tadi hatinya memohon dan meminta pertolongan, tetapi Tuhan tetap tak mendengar. Atau mungkin sekarang Tuhan sedang tertawa melihat Sungmin tersiksa seperti ini.

Sekarang Sungmin menyesal karena dirinya sudah tak pernah datang ke gereja.

Sunday

January 1st, 2012

11:00 AM

"Sekali ini saja Tuhan... hiks... bawa aku keluar dari semua mimpi buruk ini. Kumohon..."

Sunday

January 1st, 2012

12:00 PM

Sungmin membuka kedua kelopak matanya. Dia sudah lelah untuk menangis. Dia sudah lelah untuk meminta dan memohon pertolongan. Dia yakin pertolongan itu tak akan datang kepadanya. Pertolongan itu tak akan menyelamatkannya.

Dia mungkin sudah ditakdirkan untuk menderita.

"Kalau kau ingin mengambil nyawaku, ambilah sekarang ya Tuhan. Semuanya terlalu sakit."

Sunday

January 1st, 2012

01:00 PM

Tak ada gunanya juga Sungmin mengeluh.

Dia bangun dari posisi sebelumnya. Seluruh tubuhnya benar-benar sudah terasa sangat dingin. Dan beberapa lebam biru di tubuhnya mulai terlihat. Rasanya begitu sakit.

Sungmin mulai berdiri dengan susah payah. Ada beberapa darah di sekitar tubuhnya—mungkin gara-gara darah yang memuncrat keluar dari mulutnya. Dadanya terasa begitu sakit. Bahkan dia sedikit kesulitan untuk bernapas.

Salju masih belum berhenti turun. Hanya salju yang masih setia menemani kesendirian Sungmin. Menemaninya menghadapi rasa sakit. Walaupun terkadang butiran salju itu seperti mengejeknya. Mengejek segala kesakitan Sungmin yang hanya dapat ia lalui seorang diri. Tanpa siapapun.

Sunday

January 1st, 2012

02:00 PM

Sungmin melangkahkan kakinya dengan lemah dan terpincang. Bahkan kaki telanjang itu terkadang terperosok masuk ke dalam tebalnya salju di jalanan. Namun dia tetap berjalan. Berusaha untuk mencari sebuah jalan keluar. Wajahnya sudah terlihat sangat pucat. Dia kelelahan. Dia lelah menangis. Dia lelah menghadapi segalanya sendiri. Dia lelah dengan semuanya.

"Kyuhyun, kuharap kau berada disini..."

Sungmin terjatuh dari jalannya. Dia jatuh terduduk dengan lutut yang menumpu berat tubuhnya. Dan Sungmin segera menatap langit.

"...dan memelukku sekarang juga."

Sosok rapuh itu kemudian menangis lagi. Bukan keinginannya. Tetapi dia terlalu sakit untuk menghadapi semuanya.

Sunday

January 1st, 2012

03:00 PM

"Happy birthday sayang."

Sebuah suara. Suara yang begitu lembut membelai gendang telinga Sungmin. Sungmin menurunkan wajahnya—dari menghadap langit. Dia berharap dapat melihat sosok pemilik suara itu secara nyata. Bukan sekedar halusinasinya.

Dan dihadapannya kini, sudah berdiri sosok yang selalu Sungmin ucapkan dalam doanya. Sosok yang sangat ingin ia temui sekarang juga. Sosok yang tengah melebarkan kedua tangannya ke samping. Meminta sebuah pelukan.

"Happy birthday Minnie."

Sungmin menggelengkan kepalanya secara perlahan. Dia tak percaya bahwa sosok di hadapannya adalah Kyuhyun-nya. Dia pasti hanya berhalusinasi. Dia pasti hanya mengigau. Kyuhyun tak mungkin ada disini sekarang. Kyuhyun tak mungkin ada di mimpi buruknya.

"Kemarilah sayang."

Sungmin menggeleng lagi.

Sunday

January 1st, 2012

04:00 PM

"Aku Kyuhyun, Minnie. Peluklah aku, kau pasti kedinginan."

Sungmin menggeleng. Dia tak ingin percaya dengan apa yang berdiri di hadapannya. Air mata perlahan turun lagi menuruni pipi pucatnya. Jatuh tanpa ada pertahanan.

"Kau bukan Kyuhyun."

Sunday

January 1st, 2012

05:00 PM

"Minnie, aku Kyuhyun. Kau tak ingin memelukku, eum?"

Sungmin tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Berdiri dan memeluk tubuh itu? Apakah harus?

Sunday

January 1st, 2012

06:00 PM

"Aku mencarimu kemana-mana, Minnie. Kau tak mencintaiku lagi?"

Sungmin menggeleng lemah. Bukan itu maksudnya. Bukan itu. Dia berdiri perlahan dari posisi jatuhnya.

Sunday

January 1st, 2012

07:00 PM

"Kemarilah Minnie. Kemarilah."

Sungmin melangkahkan satu kakinya secara perlahan. Dia melupakan segala rasa sakit dan dingin yang menyiksa tubuhnya. Dia ingin kehangatan dari pelukan itu sekarang.

Sunday

January 1st, 2012

08:00 PM

"Kemarilah, aku tak akan menyakitimu. Aku mencintaimu, Minnie."

Sungmin melangkahkan langkah keduanya. Berusaha mendekati sosok itu. Dia meneteskan air matanya lagi. Tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika hati kecilnya berkata lain dengan apa yang ia lakukan.

Sunday

January 1st, 2012

09:00 PM

Sungmin melangkahkan lagi kakinya. Kini dua kali sehingga jarak diantara tubuh mereka kini hanya sekitar satu langkah. Kyuhyun tersenyum di hadapannya sedangkan Sungmin masih tak percaya dengan apa yang berada dihadapannya.

"Kemarilah Minnie. Aku akan membuatmu hangat."

Sunday

January 1st, 2012

10:00 PM

Sungmin melangkahkan kakinya untuk yang terakhir. Yang menghapus jarak tubuhnya yang menggigil dengan tubuh hangat Kyuhyun. Mata Sungmin begitu sendu dan kosong. Kyuhyun tersenyum. Dia menarik Sungmin dalam pelukannya.

Tuhan, katakan jika ini semua adalah akhir. Katakan jika ini semua akhir. Kumohon ya Tuhan.

Sungmin membalas pelukan itu ragu.

Sunday

January 1st, 2012

11:00 PM

"Happy birthday Lee Sungmin."

Cleb!

Dan setelah itu yang dapat Sungmin lakukan adalah membelalakan matanya lebar. Dia tak percaya dengan apa yang baru ia rasakan di sekitar perutnya. Menusuknya.

Sungmin menaikkan wajahnya—dengan mulut yang terbuka, tak percaya—kearah Kyuhyun yang menyeringai. Laki-laki yang berdiri dihadapannya itu menusukkan sebilah pisau tajam di perutnya. Sungmin tak peduli darimana Kyuhyun mendapatkan pisau itu. Yang kini dia pikirkan adalah rasa sakitnya dan... mengapa?

"W-wae Kyu?" tanya Sungmin lemah.

Kyuhyun hanya menggeleng dengan senyumannya. Dia mengusap rambut Sungmin pelan.

"Happy birthday Sungmin."

Sungmin memejamkan matanya ketika dia merasakan semuanya terasa berat. Terlalu menyakitkan. Dia tak percaya dengan semua yang terjadi terhadapnya.

Ada apa ini, ya Tuhan?

Sungmin merasakan bahwa punggungnya bersentuhan dengan sesuatu yang lembut. Sangat lembut dan membuatnya nyaman. Dan dia merasakan sebuah pelukan hangat di tubuhnya.

Bahkan Sungmin tak merasakan sakit dari lebam dan luka tusuk di tubuhnya. Dia bahkan tak merasa kedinginan dan tak menyentuh dinginnya salju itu.

Ya Tuhan, apakah mimpi buruk itu sudah berakhir?

Sungmin dapat merasakan tubuh bagian bawahnya kembali sakit. Terasa sakit ketika ada sesuatu yang menembus dirinya. Memasuki dirinya.

Dengan samar-samar Sungmin dapat mendengar suara desahan itu lagi. Desahan dari kekasihnya.

Tuhan, apakah ini semua memang sudah berakhir?

Sungmin membuka kedua matanya dan mendapati Kyuhyun berada diatas tubuhnya lagi. Dan tubuh mereka berdua telanjang. Sungmin tak dapat menahan rasa bahagianya. Dia sudah terbangun dari semua mimpi buruk?

"Kyuhy—un..."

Kata-katanya terputus ketika sesuatu yang tajam menembus perut kirinya. Rasanya sangat sakit. Lebih sakit ketika kau melihat siapa yang menikamnya. Siapa yang menusukkan pisau itu ke dalam perutnya. Siapa yang menyeringai diatas tubuhnya.

"Kyu... w-wae... wae..."

Monday

January 2nd, 2012

12:00 AM

"Happy birthday Lee Sungmin. Bahagialah karena 'Dia' memilihmu pada waktu kelahiranmu. Memilihmu untuk bermain sebelum ajal menjemputmu. Kau senang, bukan?"

"K-K-Kyuh..."

Kyuhyun menutup kedua kelopak mata Sungmin.

"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."

Dan Satu Januari-mu sudah berakhir.

.:o~o:.

Yang mau ff-nya lanjut baca dulu ya author's note, penting deh ^^

A/n : Ya ampun! Astaga! YA TUHAN YA TUHAN YA TUHAN! *teriak gak jelas

Kalau ff ini adalah sebuah film, mungkin aku bisa bikin sesuatu yang menegangkan, mengagetkan (?), memiris hati dan memilukan. Tapi kalau lewat tulisan kayanya lebih susah, jadinya kaya gini.

Sebenernya maksud aku FF ini gak akan kaya gini. Sebenernya aku nambahin scene-scene lain, tapi ada dua alasan. Pertama, aku udah habis ide jadi beberapa jam terakhir di FF dijadikan sangat cepat *ngerti kan maksudku?* dan kedua kalau nambahin scene lagi, FF ini kayanya bakal kepanjangan. Because, ini udah 28 lembar untuk sekedar one shot -,- astaga cangkeul *maaf, bahasa sunda keluar*

Maaf jika hasilnya kurang memuaskan. Maksud saya membuat fic ini hanya untuk membuat birthday fic yang berbeda dari biasanya. Beneran deh, birthday fic kan biasanya happy-happyan, atau enggak kalau genrenya horror pasti si pemeran utamanya mati dihari ulang tahunnya, terus jadi hantu. Itu mah keseringan. Makannya saya buat yang berbeda. Dan mungkin agak gak masuk akal! Hahahahahahahaha! *ketawa puas

Buat yang gak ngerti, saya kayanya ada rencana untuk membuat...

February 2nd, 2012

Yang akan di post pada tanggal itu juga *gue punya waktu satu bulan buat bikin ff-nya nyahahaha*

Dan penjelasan MUNGKIN akan ada di chapter itu.

Dan oh ya, maaf ya kalau gak ngerti. Ini benar-benar fic yang nonsense, because aku suka hal yang berbau misterius. Aku suka buat readers bingung dan pusing nyahahahaha *dijambakreaders

Hehe mungkin segitu aja deh penjelasan saya.

Dan oh ya, satu lagi!

Readers : =,='

Nanti sore aku mau post lanjutan dari ff ini, tapi bukan lanjutan juga. Tapi kalau mau ngerti baca aja, mungkin bisa ngebantu. Tapi kayanya yang bisa bikin ngerti banget sih di ff yang judunya February 2nd, 2012 nanti hahahaha

Readers : jadi maksud lu apa thor?

Gak ada maksud apa-apa. Cuma pengen buat readers pusing jiahahahaha.

Nah, ada yang bersedia membayar saya dengan reviewnya?

Readers : -,-

Dan oh ya, buat kalian Happy New Year ya, dan juga untuk Lee Sungmin Happy Birthday ^o^

Dan untuk adikku tercinta, Han Youngmin a.k.a Tasya yang selalu nemenin aku ketika buat ff nyampe bergadang, Happy Birthday juga ya sayang

Dan oh ya, ada lagi, saya mau pamer hehe, adik saya si Youngmin itu fujoshi termuda lho—setahu aku. Habisnya dia suka yaoi dan yuri dari umur 7 tahun :D *sekarang dia ulang tahun yang ke 9*

Ketularan kakaknya sih kayanya hahahaha *evil laugh

Readers : bejat lu thor!

Ah udah deh

Dan oh ya

Readers : oh ya mulu, kapan beresnya lu ngebacot?

Maaf ya buat TVXQ aku gak buat ff special untuk ulang tahun kalian yang ke 8, habisnya aku juga sibuk buat bikin surprise party buat nae umma ^^ soalnya dia ulang tahun bareng TVXQ *curcol mulu

Dan buat hari natal juga maaf aku gak buat ff special natal. Maaf ya~

Yasudah deh, akhir kata...

Ada yang mau kasih saya review?