Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Find Out | January 1st, 2012

Cast : Kyuhyun, Sungmin, dll

Genre : Horror | Crime | Romance

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!

Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!

A/n : Ini lanjutannya. TAPI HARUS BACA DULU CHAPTER 1 NYA

Thank you bagi yang sudah membaca WARNING!

.

.

.

.

.

The Time: Find Out | January 1st, 2012

.

Sunday

January 1st, 2012

12:01 AM

Kyuhyun memejamkan matanya. Merasakan kenikmatan yang benar-benar dia tunggu. Ketika daging-daging lembut itu memijat miliknya. Menjepitnya. Benar-benar membuatnya berada di puncak kenikmatan.

Kyuhyun semakin menghujamkan miliknya, lalu mengeluarkannya lagi hingga sebatas kepala dan menghujamkannya lagi. Dan kegiatan itu terasa sangat nikmat. Ditambah dengan desahan-desahan seksi dari milik tubuh dibawahnya. Kyuhyun berharap malam ini tak akan pernah berakhir. Ya, itu yang Kyuhyun harapkan.

"Ahn... Kyuh... oh oh..."

Kyuhyun merasa sudah menemukan titik itu. Dia menghujamnya beberapa kali. Dan di setiap gerakannya, desahan itu kembali terdengar. Membangkitkan gairahnya. Membawa dia kepada puncak kenikmatannya.

"Sungmin-ah... ah... saranghae! Oh... oh..."

Namun...

Kyuhyun merasakan pijatan lembut pada miliknya berhenti. Mengendur. Desahan itu berhenti membelai gendang telinganya. Gerakan di bawah tubuhnya. Rintihan dan suara kenikmatan itu. Ada apa?

Kyuhyun membuka matanya dan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

"Astaga!"

Sungmin-nya, terbaring kaku di bawah tubuhnya. Dengan tubuh mereka yang masih menyatu. Mulutnya terbuka. Wajahnya pucat. Kulitnya mendadak menjadi dingin—sedingin es. Ada beberapa lebam di tubuhnya. Dan keluar darah dari hidungnya.

Kyuhyun membelalakan matanya. Dia segera mencabut miliknya dari dalam Sungmin. Dan kemudian mengguncangkan tubuh itu.

"Sungmin! Sungmin! Apa yang terjadi? Jangan bercanda! Lee Sungmin!"

Tetapi sosok itu tak menjawab. Masih terbujur kaku disana. Kemudian sebuah goresan muncul di perut Sungmin. Secara tiba-tiba. Kyuhyun membelalakan matanya. Goresan itu—seperti ditusuk pisau—mengeluarkan darah dan mengalir membasahi tubuh Sungmin. Kyuhyun membulatkan matanya—lebih lebar dari sebelumnya. Dia kembali mengguncangkan tubuh Sungmin yang sangat lemah—tanpa nyawa.

"Sungmin! Bangun! Bangun!"

Dengan seluruh akal yang masih bisa Kyuhyun kendalikan, dia meraih handphone-nya di meja nakas dan mulai menekan tiga angka yang hanya terpikirkan olehnya.

9-1-1

"Hallo? Ada keadaan darurat di jalan Namdeusan nomor 13. Pacar saya—meninggal secara tiba-tiba..."

.

.

The Time

Find Out | January 1st, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

January 1st, 2012

02:01 AM

Kyuhyun menjambak rambutnya frustasi. Kali ini Kyuhyun sudah mengenakan celana jeans selututnya dan kaos tipis berwarna hijau. Malam—pagi—ini terlalu dingin dengan menggunakan pakaian seperti itu. Mengingat dengan salju yang turun diluar sana. Tetapi itu bukan suatu masalah bagi Kyuhyun. Setelah dia menelpon nine-one-one, beberapa menit kemudian para polisi dan ambulans datang. Dengan segera ambulans itu membawa tubuh Sungmin yang mati secara tiba-tiba ke rumah sakit. Sementara Kyuhyun ditahan dirumah itu. Polisi sedang mencari barang bukti dan mengintrogasi Kyuhyun sendiri. Dia tidak diperbolehkan untuk ikut kesana.

Kyuhyun duduk di sofa dengan gelisah. Dibelakang tubuhnya, dua orang polisi tengah berdiri—mengawasinya. Tetapi bukan itu yang ia khawatirkan. Hanya kekasihnya. Hanya Lee Sungmin-nya yang ia khawatirkan sekarang.

"Ehm," laki-laki yang duduk di sofa dihadapan Kyuhyun—di ruang tengah—berdeham untuk mendapatkan perhatian Kyuhyun. Kyuhyun mengangkat wajahnya dan melihat kearah laki-laki yang memakai seragam polisi itu. Yang memakai name tag bertuliskan 'Jung Yunho' di dada kirinya. Dia memandang wajah itu dengan tatapan yang begitu tak peduli—atau kesal, tak dapat dijabarkan. "Baiklah Kyuhyun-ssi, kami sudah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih masuk akal dari Anda. Sekarang, katakan kebenaran kepada kami sebelum semuanya dibawa ke kantor polisi."

Kyuhyun mengacak rambutnya. "Aku sudah mengatakan kebenaran! Aku tak membunuhnya! Dia mati secara tiba-tiba!" dan nada yang lebih tinggi itu melambangkan kekesalannya. Kekesalannya selama introgasi yang menekan dirinya. Yang memaksa dirinya untuk mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan.

Jung Yunho—nama polisi itu—mengusap dagunya. Dia membenarkan posisi duduknya dan menatap Kyuhyun yang kembali menjambak rambutnya. "Lebih baik Anda katakan yang sebenarnya sebe—"

"Sudah kuberikan jawaban yang jujur kepadamu sejak tadi! Aku. Tidak. Membunuhnya. Dia mati secara tiba-tiba! Astaga! Kau harus percaya itu!" Kyuhyun menjerit marah.

"Bukannya kami tidak mau mengerti dan percaya. Tapi dari semua penjelasan yang—"

"Jawaban apa yang ingin kau dengar?" Kyuhyun memotong kalimat polisi itu lagi. "Kau ingin mendengar bahwa aku membunuhnya? Bahwa aku memukulinya dan menikamnya? Apa buktinya jika kalian ingin jawaban seperti itu? Aku benar-benar tak melakukan apapun yang membuatnya meninggal! Aku sudah menjelaskan semuanya!"

Yunho menggeleng mendengar jawaban itu. Dia tak terlalu suka dengan nadanya. "Jika Anda memang tidak membunuhnya, bisakah Anda menjelaskan semuanya dengan sesuatu yang lebih masuk akal? Yang dapat dicerna oleh akal sehat?" tanya Yunho lagi.

Kyuhyun menggeram. Dia memukul meja dan berdiri dari duduknya. "Bukan aku yang membunuhnya! Sudah kuberitahu semua kebenarannya! Sekarang bisa kau lepaskan aku dan bawa aku kepada Sungmin?" tanya Kyuhyun dengan penuh emosi.

Yunho berdecak kecil. Dia menunjuk kearah dua orang polisi yang berdiri di belakang tubuh Kyuhyun. "Bawa dia ke kantor polisi."

Kemudian Kyuhyun merasakan kedua tangannya ditarik kebelakang. Dan kemudian masuk ke dalam sesuatu yang membuatnya susah bergerak. Kyuhyun yakin tangannya telah diborgol ketika dia mendengar suara 'klik' dari pengunci borgol. Kyuhyun berjalan pasrah ketika polisi itu menggiringnya bersamanya. Masuk ke dalam mobil polisi yang sama sekali tak mau ia naiki.

.:o~o:.

Sunday

January 1st, 2012

04:03 AM

Kyuhyun duduk di sebuah ruangan gelap. Hanya diterangi oleh satu buah lampu remang-remang yang berada di atas kepalanya. Dia duduk gelisah disana. Disebuah bangku. Sikunya bertumpu pada meja. Menahan kepalanya yang terasa pening. Berbagai pertanyaan dan perasaan gelisah ditambah khawatir bercampur menjadi satu. Semuanya berkecamuk. Membuatnya benar-benar seperti orang gila sekarang.

Kemudian pintu di ruangan itu terbuka. Kyuhyun menengadahkan kepalanya melihat siapa yang datang. Polisi lagi—atau mungkin detektif. Entahlah, yang pasti dia mengenakan jas—kemeja—dengan tulisan NCIS di punggungnya. Tetapi bukan si polisi bernama Jung Yunho ataupun dua polisi yang menggiringnya ke mobil. Kali ini berbeda. Dia terlihat seumuran dengan dirinya. Tetapi Kyuhyun tak peduli akan hal itu.

"Kyuhyun-ssi," katanya, memanggil namanya.

Dia segera mengambil posisi duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi Kyuhyun—terhalang oleh meja. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Laki-laki itu menatapnya dengan senyuman sementara Kyuhyun sendiri membalasnya dengan tatapan datar. Dengan tatapan acuh.

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi.

"Apa kabar, Kyuhyun-ssi?" tanya pemuda itu tersenyum.

Kyuhyun membuang napas mendengar pertanyaan itu. "Tak usah basa-basi denganku. Apa kau akan memaksaku untuk mengatakan apa yang terjadi dan setelah itu kau mengatakan bahwa aku gila?" tanya Kyuhyun emosi.

Pemuda itu tertawa ringan. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan—ke arah Kyuhyun. "Aku memang akan memaksamu untuk mengatakan semuanya. Tetapi aku berjanji tak akan mengatakan bahwa kau gila, Kyuhyun-ssi." katanya sopan.

Kyuhyun memutar kedua bola matanya. "Kenapa tak kau bawa saja aku ke rumah sakit sekarang? Aku harus bertemu dengan Sungmin!"

"Kau bisa melakukannya setelah menjelaskan semuanya secara detail kepadaku, Kyuhyun-ssi." Pemuda itu masih bersikeras. Dan dia tersenyum lagi. "Dan namaku Shim Changmin, jika kau ingin tahu." lanjutnya.

Kyuhyun membuang napas berat. Dia benar-benar kesal sekarang. Dia berada di puncak kekesalannya. Mengapa semua polisi bodoh—menurutnya—itu menanyainya dengan pertanyaan yang sama? Dan pada akhirnya Kyuhyun yakin bahwa dia akan dianggap gila. Padahal Kyuhyun sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Sungmin. Dia sudah berusaha untuk memberikan semua kejujuran pada pihak polisi.

"Kau bisa tanyakan kepada polisi bernama Jung Yunho itu, 'kan? Aku sudah menjelaskan semuanya kepadanya dan dia tak mau percaya." kata Kyuhyun.

Changmin—pemuda itu—lagi-lagi tersenyum. Cukup manis untuk seorang polisi—detektif—yang tak bisa ramah kepada orang yang dicurigai sebagai tersangka. "Bisa kau jelaskan detailnya, Kyuhyun-ssi?"

"Aku sudah menjelaskan semuanya kepada si Jung Yunho itu." Kyuhyun menekankan kalimat itu. "Sekarang bisa kau bawa aku ke rumah sakit?" tanya Kyuhyun emosi.

Changmin menggeleng pelan dengan senyumnya. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Coba kau ceritakan kembali kepadaku. Semuanya pasti akan berbeda, Kyuhyun-ssi." kata Changmin yang masih dengan ramah menimpali ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun membuang napas—lagi. "Kau ingin aku mengatakan apa?"

"Tentang semuanya. Semua yang terjadi sebelum dan sesudah kematian. Aku berjanji tak akan mengatakan kau gila, Kyuhyun-ssi."

Kyuhyun menjambak rambutnya, sepertinya kegiatan itu menjadi kebiasaan baru baginya selain bermain PSP. Dia tak bisa mengatakan semuanya lagi jika pada akhirnya dia benar-benar disangka gila dan akan dimasukan ke rumah sakit jiwa. Dia tak mau hal itu terjadi.

Changmin yang melihat hal itu tersenyum—lagi. "Sebaiknya kau bisa bekerjasama denganku, Kyuhyun-ssi." Changmin menghela napasnya. "Karena Lee Sungmin adalah temanku ketika di sekolah dasar."

.:o~o:.

Sunday

January 1st, 2012

06:06 AM

"Aku tidak melihat kebohongan di mata itu, Yunho hyung." kata Changmin.

Changmin meraih secangkir kopi miliknya—yang diletakkan diatas meja dihadapannya. Dia meneguk kopi panas itu sedikit, dan setelah itu dia kembali meletakannya di atas meja. Kemudian dia tersenyum kearah laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. Di dalam ruangan tempat khusus untuk berdiskusi.

"Jangan menjadi gila, Changmin-ah!" kata Yunho dengan nada marah. "Lagipula darimana kau tahu bahwa dia tak berbohong? Kau tidak mengenalnya, bukan?"

Changmin tertawa pelan. Dia meletakkan kedua tangannya diatas meja dan melipatnya. "Oh, hyung lupa ya? Aku ini adalah seorang detektif, bukan polisi. Tentu saja aku bisa mengetahuinya. Lagipula aku sudah belajar selama bertahun-tahun, hyung." Changmin mengetuk meja sekali dengan jarinya—hanya sekedar main-main. "Dan untuk pertanyaan hyung yang terakhir, kami sudah berteman sekarang." Changmin merekahkan senyumannya.

Yunho memutar kedua bolamatanya. Dia meraih cangkir kopi miliknya dan mulai menyesapnya dikit. "Okay, sekarang apakah dia menceritakan hal yang berbeda kepadamu?" Yunho meletakkan cangkirnya kembali, "Tentang kematian tiba-tiba dari kekasihnya ketika mereka sedang bercinta? Dengan luka tikaman dan lebam yang muncul secara tiba-tiba? Bagaimana caranya kau menjelaskan semua itu? Eum?"

Changmin mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu hyung." Dan kemudian dia nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Tapi aku yakin sebentar lagi kita akan tahu kebenaran. Kita akan mengetahui bahwa semua yang diucapkan oleh Cho Kyuhyun itu benar."

"Aku tak percaya pada ucapanmu." Yunho berdiri dari duduknya. "Mungkin kau juga harus masuk rumah sakit jiwa setelah ini."

.:o~o:.

Sunday

January 1st, 2012

07:11 AM

"Satu luka tusuk di perut, pukulan keras di kepala, beberapa lebam di sekujur tubuh, dan tubuh yang membeku—seperti tubuh manusia yang berbaring di selimuti salju selama puluhan menit. Itu laporan yang kami terima dari rumah sakit." kata Yunho. Dia merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya—dari rumah sakit—dan menumpuknya menjadi satu. Setelah itu dia menatap Changmin dengan wajah menantang. "Sekarang bisa kau jelaskan bagaimana bisa kau masih mempercayai Kyuhyun setelah semua luka ini mengarah pada kekerasan, penyiksaan dan pembunuhan?"

Changmin menggelengkan kepalanya, dengan senyuman yang tak pernah luput dari wajahnya. "Tetapi Kyuhyun tidak gila. Aku bisa mengenali kondisi psikisnya."

"Jangan hanya menebak dengan alasan bodoh seperti itu. Mungkin dia tidak mau mengaku karena dia sedang mabuk, atau mungkin dia adalah seseorang yang sadistis, atau bahkan mungkin saja korban bernama Sungmin itu adalah seorang masokis. Dan mungkin saja Sungmin melakukan seks lebih dari kemampuan tubuhnya menerima siksaan. Dan mungkin Kyuhyun lupa diri dan menikamnya. Semua itu bisa terjadi 'kan Shim Changmin?" tanya Yunho dengan nada yang menantang.

Changmin tertawa. "Kau terlalu sering berkata mungkin, hyung. Dan juga, alasanku tidak bodoh."

"Bukan berarti karena kau adalah anak dari kepala NCIS, alasanmu bisa diterima dengan mudah Shim Changmin. Kau dan Cho Kyuhyun itu tak masuk akal! Ucapan kalian tak masuk akal!"

Changmin berdiri dari duduknya. "Aku tidak mengatakan sesuatu yang mengangkut bahwa aku adalah anak dari kepala NCIS dan aku bisa melakukan semuanya. Tidak hyung. Aku hanya menemukan sebuah kejujuran pada penuturan Kyuhyun. Tidakkah hyung melihatnya?" tanya Changmin.

Yunho menggeleng dan membuang napas secara bersamaan. Bagaimana caranya untuk meyakinkan sahabat yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri? Dia terlalu keras kepala untuk hal itu. Bahkan Yunho memijat pelipisnya sekarang, dia terlalu pusing.

"Jangan diambil pusing hyung. Mungkin aku dapat menjelaskan semuanya kepada hyung." Changmin tersenyum sebelum memutar dirinya dan keluar dari ruangan itu.

.:o~o:.

Sunday

January 1st, 2012

07:52 AM

"Jadi, apakah aku sudah dapat menemui Sungmin sekarang?" tanya Kyuhyun berharap. Dia menatap Changmin yang duduk di hadapannya. Di ruangan yang sama ketika mereka terakhir berbicara beberapa jam yang lalu.

Changmin menggeleng dengan senyumannya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan melipat kedua tangannya di dada. "Pemakamannya akan dilaksanakan besok. Keluarganya yang menginginkan. Sekarang keluarga dari Sungmin sedang berada di rumah sakit. Kau tak boleh pergi kesana."

"Mengapa aku tak boleh pergi kesana?" tanya Kyuhyun, agak kesal.

"Pertama, pihak keluarganya ada di rumah sakit, mereka semua menyalahkanmu. Kami tidak mau ada suatu kerusuhan yang terjadi. Kedua, kau memang tak diperbolehkan untuk meninggalkan kantor polisi. Ketiga, ada beberapa pertanyaan lagi yang ingin kutanyakan kepadamu. Apakah kau sanggup?"

Kyuhyun terdiam. Dia menundukkan kepalanya dan mengacak rambutnya—membuat rambut hitamnya yang sudah tak beraturan semakin berantakan. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Sungmin-nya telah meninggal. Sungmin-nya telah pergi. Pergi ketika mereka merayakan hari ulang tahunnya dan juga pergantian tahun. Yang disambut gembira oleh seluruh warga di dunia.

"Apakah kau bisa, Kyuhyun?" tanya Changmin lagi—menyadari kondisi Kyuhyun yang agak tak memungkinkan.

"Ya," Kyuhyun mengusap matanya yang sempat menjatuhkan setetes air mata. Dia menaikkan wajahnya dan menatap Changmin. "Ya, aku bisa."

Changmin tersenyum—lagi. "Okay, mungkin pertanyaannya agak pribadi. Pukul berapa kalian mulai..." Changmin mengangkat kedua jari di kedua tangannya, dan menggerakannya. "...melakukan seks?"

"Pukul... pukul duabelas malam. Kupikir tepat pada pukul itu. Kami sudah merencanakannya sebelumnya." jawab Kyuhyun pelan.

"Apakah ini kali pertamanya kalian bercinta? Maksudku, kalian, kau bersama Sungmin. Bukan kau bersama orang lain—itu jangan dihitung."

Kyuhyun mengangguk. "Ini pertama kalinya bagi kami."

"Oh, berarti kalian belum mengetahui perilaku seks masing-masing." Changmin bergumam pelan. Dia berusaha untuk merekam setiap kalimat yang keluar dari dalam mulut Kyuhyun. "Apakah kau seorang sadistis dan Sungmin seorang masokis? Karena bisa berbahaya jika kalian berdua bertemu."

Kyuhyun menggeleng menjawab pertanyaan Changmin. "Aku bukan seorang—singkatnya, kami berdua bukan sadomasokisme."

"Apakah kalian mabuk sebelum melakukan seks?"

"Tidak." Kyuhyun mengibaskan tangannya. "Aku masih ingat bahwa kami tidak meminum minuman keras. Hanya sekedar meminum jus jeruk—itu juga pada pukul delapan jika aku tak salah."

Changmin mengangguk dengan senyumannya. Seolah dia sedang memproses segala detail informasi ini. "Apakah kau mengkonsumsi obat-obatan terlarang?"

"Tidak. Aku tidak pernah menyentuh benda seperti itu."

"Apakah kau pernah atau mungkin sering memukulnya?" tanya Changmin.

"Aku tidak pernah bermain fisik kepadanya. Kami pernah bertengkar—dua kali—hanya karena masalah sepele. Mungkin hanya dia yang pernah menamparku, tetapi aku tidak. Aku tidak berani untuk menyakitinya." Dan dada Kyuhyun sedikit sesak ketika membicarakan tentang Sungmin. Dia sakit. Dia tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan kekasihnya—yang sekarang sudah menjadi mayat. Bahkan dia adalah calon tersangka sekarang. Dia agak tertekan.

"Apakah kau menaruh kekesalan ketika dia memukulmu?"

"Aku tidak pernah kesal kepadanya. Aku tidak pernah membencinya. Aku begitu mencintainya." jawab Kyuhyun dengan nada yang sedikit serak. Mungkin dia sedang menahan tangis sekarang.

"Begitu?" Changmin membenarkan posisi duduknya—mencondongkan tubuhnya kearah Kyuhyun. "Jadi dari semua detail yang kau ceritakan dini hari tadi dan sekarang, kau bermesraan—maksudku berciuman—dengan Sungmin kira-kira pukul sepuluh malam, kemudian kalian menyiapkan kue ulang tahunnya dan segala perlengkapan lain. Dan pada pukul sebelas malam, Sungmin mulai berpakaian... umm, ya begitulah, dan kalian sudah mulai terangsang. Benar, bukan?" tanya Changmin penuh selidik—tetapi tak dapat menghilangkan senyuman di wajahnya.

Kyuhyun mengangguk pelan.

Changmin mulai melanjutkan kalimatnya melihat anggukan Kyuhyun. "Lalu kalian berdua melakukan hubungan seksual. Tanpa ada paksaan dari kedua belah pihak. Semuanya sudah didasari oleh keinginan masing-masing. Benar?" Changmin dapat melihat Kyuhyun mengangguk lagi. "Dan dari kedua belah pihak tak ada seorangpun yang mengalami gangguan mental. Tak ada si sadistis dan si masokis. Dan semuanya didasari oleh cinta, benar bukan?"

Kyuhyun lagi-lagi hanya mengangguk lemah.

"Sekarang, yang menjadi pertanyaan dari segalanya adalah luka tusuk dan beberapa lebam di tubuh Sungmin. Darimana asalnya?" tanya Changmin.

"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Sudah kuceritakan padamu bahwa luka tusuk, lebam dan darah dari hidung Sungmin itu datang secara tiba-tiba. Aku sama sekali tak melakukan apapun yang berhubungan dengan fisik—maksudku menyakitinya."

"Ya, aku percaya padamu. Aku sama sekali tak mencium bau alkohol pada dirimu, dan juga kau terlihat sehat—maksudku tak memakai narkoba. Tetapi dari kondisi kejiwaanmu—ah, tadi dokter kejiwaan, maaf, sudah datang kesini 'kan untuk memeriksa kondisimu?" tanya Changmin sebelum melanjutkan kalimatnya.

Kyuhyun mengangguk lagi. Dia menatap jam dinding di salah satu dinding ruangan. "Pukul enam pagi, baru saja."

"Okay. Tadi aku dapat laporan dari temanku—detektif juga maksudku—tentang hasil dari pemeriksaan pertamamu. Maaf, karena memang untuk kasus membingungkan seperti ini kondisi kejiwaanmu harus diperiksa beberapa kali. Dan dari laporan yang kuterima, mentalmu agak terganggu."

Kyuhyun tak dapat bernapas lega. Sejak beberapa jam yang lalu—lebih tepatnya setelah dia dibawa ke kantor polisi—dia merasa dadanya begitu sesak dan sekarang rasanya semakin sesak. Memikirkan Sungmin dan juga memikirkan dirinya sendiri. Apakah dia akan dinyatakan sebagai tersangka?

"Tetapi kami tak menemukan satupun barang bukti yang mengarah pada pembunuhan dan kekerasan. Karena dapat dengan jelas, luka lebam dari tubuh Sungmin bukan berasal dari tangan kosong, melainkan menggunakan sebuah benda—entah itu tongkat baseball ataupun barang keras lainnya. Tetapi..." Changmin menghentikkan kalimatnya. Kyuhyun menatapnya takut—karena kali ini senyuman dari bibir Changmin menghilang. Kyuhyun menelan ludahnya kasar. "Tetapi kau masih bisa ditetapkan sebagai tersangka sebelum semua kasus ini terkuak kebenarannya."

Kyuhyun hendak untuk protes ketika dia memukul meja dengan telapak tangannya.

Namun Changmin segera kembali berbicara, sebelum Kyuhyun sempat untuk membuka mulutnya. "Tenang dulu, Kyuhyun. Aku mungkin dapat membantumu. Tetapi sepertinya terlalu sulit karena kasus ini terdengar agak—atau bahkan sangat—aneh di telingan orang-orang."

"Jadi bagaimana caranya meyakinkan mereka bahwa aku mengatakan kejujuran?" tanya Kyuhyun takut.

Changmin menggeleng pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Pernah mendengar kisah kematian secara tiba-tiba seorang gadis di Rusia setahun yang lalu? Yang terjadi tepat pada tanggal ini?"

Kyuhyun menggeleng pelan. Dia penasaran dengan nada Changmin yang terdengar serius.

"Dia meninggal dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya, padahal sang temannya itu hanya berbalik—mengalihkan pandangan—sekitar tiga detik untuk mengambil kopernya. Bukankah hal itu sangat tak masuk akan mengingat mereka sedang berada di sebuah bandara? Yang tentu saja penuh dengan saksi mata. Tetapi tak ada satupun tahu."

Kyuhyun membuka mulutnya—secara tak sengaja. Otaknya masih belum bisa menerima cerita singkat itu. "Bu-bukankah itu—"

"Sepertinya, kisah Sungmin sama seperti gadis Rusia itu."

.:o~o:.

Nyeahahahaha

Ini dia untuk yang penasaran

Oh ya, inget ini chapter 1A bukan chapter 1

Jadi harus baca chapter 1 dulu sebelum baca yang ini oke~

Besok ada chapter 1B