Damn... Damn... damn... what I do to have you here? Here? Here?
I wish you were here...
But Right Now I Wish You were Here…
"Ohayou!"
"Hei, bro! Gimana libur tahun baru lo?"
"Eh, sis… selama liburan kamu mendekam di bawah kotatsu mulu, ya? Kayaknya kamu tambah gembul, deh!"
"Haaaah… mana ada liburan kalau sudah kelas tiga begini! Yang kulakukan hanya belajar dan belajar di rumah! Ugh… rasanya nasibku tak jauh beda dengan calon pengantin yang sedang dipingit!"
"Hahahahahaha! Bisa aja lu, bro!"
Itulah beberapa percakapan dari para siswa juga siswi di kelasnya Eri, Nozomi, dan Nico. Yap, hari ini para peserta didik di SMA Otonokizaka kembali ke sekolah.
"Hai, Nicocchi!" sapa Nozomi sambil menepuk seorang pemuda yang tengah berdiri di dekat jendela kelas. "Kok, tumben kamu enggak pakai cardigan pink favoritmu? Lupa, ya?"
Pemuda itu menoleh, namun dia bukanlah Nico melainkan salah satu teman sekelasnya yang postur tubuh dan potongan rambutnya mirip Nico.
"Eh? Fujimoto-kun, ya?" kata Nozomi malu. "Aduh, sori! Sori! Kukira Nicocchi!"
"Hahahahaha… iya, enggak apa-apa, kok, Toujo-san," jawab Fujimoto.
"Lho? Mbak mantan wakil ketos enggak tahu?" Wada mendadak ikut nimbrung.
"Hmm? Enggak tahu apaan?" Nozomi balik bertanya dengan bingung.
Wada awalnya menunduk karena ragu apakah harus mengatakannya pada Nozomi atau tidak.
"Yazawa enggak bisa masuk hari ini…" ujar Wada dengan gemetar. "Semalam dia terkena musibah, dia ditabrak lari saat hendak membelikan obat untuk adiknya yang alerginya kambuh…"
Kedua mata Nozomi terbelalak, mulutnya menganga karena tak sanggup berkata-kata. Ia pun hanya bisa berdiri mematung karena shock mendengarnya.
Wali kelas mereka pun masuk ke kelas dan para murid kelas tiga segera kembali ke bangku masing-masing.
"Sensei," panggil Nozomi begitu pelajaran berakhir sambil berjalan menghampiri wali kelasnya itu.
"Oh, ada apa, Toujo-san?" tanya sang wali kelas, Bu Kisaki.
"Boleh aku minta alamat rumah sakit tempat Yazawa-kun dirawat?" kata Nozomi dengan sopan. "Aku ingin mengantarkan fotokopi catatan dan latihan soal pelajaran hari ini padanya,"
Bu Kisaki meng-unlock smartphone miliknya dan mengirimkan alamat rumah sakit beserta kamar rawat inapnya Nico melalui e-mail. "Nah, sudah sensei kirim, ya, Toujo-san,"
"Terima kasih banyak, sensei," ucap Nozomi sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
"Sensei sangat berterimakasih kamu mau repot-repot mengantarkan catatan dan soal latihan, tapi tadi sensei dengar dari ibunya sampai saat ini Yazawa belum juga siuman dari komanya," ujar Bu Kisaki dengan wajah yang terlihat pucat karena mengkhawatirkan anak didiknya itu.
Nozomi mencoba tersenyum seperti biasa untuk menutupi rasa sedihnya. "Kalau begitu, aku akan mendoakannya di Kanda Myojin agar dia segera sadar, sensei!"
"Dasar, kamu ini memang anak yang baik, ya, Toujo-san?" komentar Bu Kisaki. "Sensei titip salam pada keluarganya Yazawa, ya,"
Tak terasa waktu pulang sekolah pun tiba. Nozomi mengatur nafas sambil sesekali mengelus-elus dadanya untuk mengurangi rasa cemasnya yang berlebihan pada pemuda yang telah menolaknya itu.
Jangan pikirkan kemungkinan terburuk dulu, Nozomi… Musibah ini adalah ujian dari Dewa dan tentu pasti ada hikmah yang bisa diambil olehku maupun… dia, gumam Nozomi berusaha tegar.
Saat menggumamkan 'dia', Nozomi dapat merasakan air matanya yang ingin memaksa keluar dari manik zamrudnya itu. Nozomi pun dengan cepat menyeka kedua matanya dengan lengan blazer-nya sebelum ada teman sekelas yang melihatnya.
Tenanglah, tenang, Nozomi… Nicocchi akan baik-baik saja! Nozomi berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Begitu keluar dari kelas, Nozomi melihat Takumi dan Eri yang berpapasan di koridor. Keduanya saling bertatapan dalam diam, namun setelah itu mereka melanjutkan langkah masing-masing tanpa bertegur sapa.
Dasar, kali ini mereka kenapa lagi, coba? gumam Nozomi heran sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Yo, Ericchi!" sapa Nozomi sambil menepuk bahu Eri.
"Oh, hai, Nozomi…" jawab Eri datar.
Nozomi menghela nafas. "Sudah, enggak usah sok kuat gitu, deh…"
"Bagaimana kalau kamu curhat padaku? Kamu lagi ada masalah sama Tacchan, 'kan?" bujuk Nozomi.
"Enggak apa-apa, kok," jawab Eri setelah ia menghela nafas dengan berat. "Lagipula kamu ingin menjenguk Nico, 'kan? Kalau terlalu sore nanti kamu malah enggak kebagian jam besuk, lho,"
"Hmm… be, benar juga, sih…" kata Nozomi sambil menggaruk tengkuknya. "Kalau begitu, besok saja deh kamu ceritanya, oke? Aku duluan, ya, Ericchi!"
Eri melambaikan tangannya pada sosok bersurai ungu yang kini telah hilang di ujung koridor.
Nozomi mengetuk pintu ruangan tempat Nico berada. Setelah mendapatkan respon 'masuk' dari seorang wanita di sana, Nozomi pun membuka pintu dengan perlahan.
"Ara? Nozomi, ya?" kata wanita berambut hitam panjang sambil membersihkan bekas air mata di pipinya.
Bibi Sora pasti sedih sekali… pikir Nozomi sambil duduk di salah satu kursi yang berada di samping ranjang.
"A, aku… baru saja membuat ini, nih!" Nozomi berusaha mencairkan suasana sambil mengambil rangkaian origami seratus bangau dari tasnya. "Aku enggak sanggup membuat sampai seribu, tapi tenang saja, Bi! Aku sudah mengisinya dengan doaku!"
"Hihihi…" Bu Sora tertawa kecil melihat kelakuan Nozomi.
"Oh ya, aku juga sudah fotokopi catatan dan latihan soal untuk Nicocchi," lanjut Nozomi sambil meletakkan tumpukkan kertas itu di atas meja. "Supaya begitu sembuh, dia enggak ketinggalan pelajaran,"
"Terima kasih banyak, Nozomi," kata Bu Sora terharu. "Sejak kelas satu kamu selalu saja dibuat repot oleh putraku,"
"Bi, bibi ini bicara apa? Bukannya wajar sebagai teman kita harus setia baik di saat suka maupun duka?" jawab Nozomi.
"Hahaha… iya, iya," kata Bu Sora.
Cklek! Pintu ruangan kembali terbuka. Tampaklah ketiga adiknya Nico, yaitu Kokoro, Kokoa, dan Kotarou.
"Wah, ada Nozomi-onee-san!" seru Kokoa heboh sambil melompat ke pelukan Nozomi.
"Hei, Kokoa! Jangan berisik!" tegur Kokoro.
"Iya… nanti… tidurnya onii-sama jadi… terganggu…" timpal Kotarou dengan polos. "Kalau… tidurnya terganggu… nanti onii-sama… bakal lama sembuhnya…"
Anak bungsu di keluarga Yazawa itu mengira Nico tengah tidur karena pengaruh obat. Wajar saja, sebab Kotarou masih terlalu kecil untuk tahu bahwa kakak tertuanya itu tengah berada di antara hidup atau mati. Suasana terasa agak canggung begitu Kotarou berkata demikian.
"Kalau begitu, ibu keluar dulu untuk membeli minuman, ya," kata Bu Sora sambil beranjak dari kursinya. "Kalian bertiga tunggulah yang tenang dengan Nozomi-onee-san, ya!"
"Baik, Bu!" jawab ketiga bocah itu menurut.
Namanya juga anak kecil. Karena terlalu lama menunggu, Kotarou pun tertidur di atas sofa.
"Hiks… hiks…" Kokoa tiba-tiba terisak setelah Kotarou terlelap.
"Arara? Ada apa, Kokoa-chan?" tanya Nozomi khawatir sambil memeluk gadis kecil berjaket kuning itu.
"Onii-sama enggak akan kenapa-kenapa, 'kan?" kata Kokoa dengan tubuh yang gemetar karena tidak bisa menahan kesedihannya.
"Onii-sama enggak akan meninggal, 'kan?" lanjut Kokoa sambil menatap Nozomi.
"Tu, tunggu, Kokoa! Jangan bilang begitu! Kalau kamu bilang begitu… aku… aku… huwaaaa…." Kokoro juga ikut menangis.
Nozomi hanya bisa menunduk dalam diam sambil memeluk kedua gadis kecil itu.
Tak lama kemudian, terbesitlah ide dalam pikiran Nozomi untuk memperbaiki suasana hati kedua anak itu. Kedua tangannya turun perlahan ke bagian pinggang Kokoro dan Kokoa kemudian menggelitik mereka.
"Tu, tunggu! Apa yang kau lakukan, Nozomi-onee-san?! Ge, geliiii!" jerit keduanya sambil berusaha melepaskan diri.
"Hihihi… lihat? Kalian jadi bisa tersenyum lagi, 'kan?" kata Nozomi sambil nyengir dan menghentikan kelitikannya.
"O, onee-san?" cengiran Nozomi membuat mereka teringat saat Nico menghibur mereka.
"Number one idol in the universe itu kuat, lho!" kata Nozomi mantap. "Ditambah lagi, dia adalah seorang kakak yang sangaaaaaaat baik! Jadi, aku yakin Dewa sayang sekali padanya!"
"Intinya, kalian enggak usah kelewat cemas dan bersedih," ujar Nozomi. "Daripada duduk tanpa melakukan apa-apa, bagaimana kalau setiap pagi atau sore kalian ikut aku berdoa di Kanda Myojin?"
"Un!" jawab Kokoro dan Kokoa kompak.
"Maaf lama, anak-anak!" kata Bu Sora sambil masuk kembali ke dalam ruangan.
Nozomi dengan sigap membawakan kantung belanjaan di tangan Bu Sora.
"Oh, aduh! Maaf, lagi-lagi bibi malah merepotkanmu, Nozomi," kata Bu Sora merasa tak enak. "Padahal kamu 'kan tamu,"
"Ah, bibi ini kaku sekali denganku!" dengus Nozomi. "Mana bisa aku membiarkan bibi kesulitan membuka pintu dengan belanjaan yang berat seperti ini!"
"Iya, nih… soalnya tadi bibi sekalian membeli susu kaleng dan keperluan lainnya untuk di rumah," ujar Bu Sora.
"Hmm… pasti bakal repot mengurus rumah, adik-adiknya Nicocchi, juga Nicocchi nantinya, ya, bi?" komentar Nozomi.
"Iya, apalagi saudara juga kerabat kami rumahnya sangat jauh dari Tokyo," jawab Bu Sora. "Mau minta tolong juga rasanya enggak enak jadi mau tak mau bibi mesti bolak-balik dan ambil cuti agar semuanya tuntas,"
Kalau Nicocchi mendengar ini pasti dia akan merasa begitu bersalah, pikir Nozomi.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang menjaga Nicocchi?" tawar Nozomi. "Dengan begitu bibi bisa mengurus urusan di rumah dengan tenang,"
"Ma, mana bisa begitu! Kamu 'kan harus sekolah!" jawab Bu Sora tidak setuju.
"Aku hanya akan ke sini saat pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah dan sorenya saat pulang sekolah, kok, bi," ujar Nozomi. "Dengan begitu kegiatanku di sekolah juga enggak akan terganggu,"
"Ba, baiklah kalau kamu memaksa," Bu Sora akhirnya setuju setelah berpikir beberapa saat. "Bibi minta tolong padamu, ya, Nozomi!"
"Un! Serahkan saja padaku!" jawab Nozomi sambil nyengir.
Keesokan harinya saat jam istirahat, Eri pun menceritakan penyebab mengapa dirinya menjaga jarak dengan kekasihnya pada Nozomi.
"Ternyata… ada kejadian seperti itu saat libur tahun baru di Gunma kemarin, ya?" kata Nozomi sambil merapikan tumpukan kartu tarotnya.
"Ya, kami memutuskan untuk menjaga jarak tanpa memutuskan hubungan kami sebagai sepasang kekasih," ujar Eri. "Kurasa, untuk sementara inilah yang terbaik,"
"Begitukah?" jawab Nozomi.
"Eh? Apa maksudmu, Nozomi?"
"Kelihatan sekali kalau kalian tampak tersakiti akan keputusan itu, Ericchi," jelas Nozomi. "Aku tahu betapa dekatnya hubungan kalian makanya aku yakin kalian tak bisa menahan rasa rindu pada satu sama lain,"
"Ta, tapi aku hanya ingin bisa fokus pada uji—"
"Jadi, kamu pikir Tacchan itu pengganggu?" desak Nozomi.
"Bukan begitu!" bantah Eri dengan volume suara yang agak keras.
"Lalu, apa? Kau tahu, Ericchi? Kau terlihat begitu menyedihkan sekarang," balas Nozomi.
"Aku tahu… aku tahu itu," jawab Eri sambil memegangi dahinya dengan tangan kanannya.
"Aku mencintainya, tapi di saat yang sama aku juga takut kepadanya…" jelas Eri.
"Tapi setidaknya dia belum sampai berbuat jauh, 'kan?" tanya Nozomi.
"Memang, sih… tapi aku…" jawab Eri terbata-bata.
Nozomi menghela nafas. "Jangan main jutek-jutekan begitu, deh… rasanya seperti bukan kalian saja,"
"Selagi hubungan kalian masih sebagai sepasang kekasih bukankah masih ada kesempatan bagi kalian untuk memperbaikinya?" lanjut Nozomi. "Ajaklah dia pulang bersama dan bicarakan mengenai hubungan kalian baik-baik,"
"Dari yang kamu ceritakan, Tacchan itu sedang tengah 'desperate' karena tak lama lagi akan berhubungan jarak jauh denganmu, 'kan?" ujar Nozomi. "Kalau begitu, katakanlah sesuatu yang dapat menenangkannya,"
"Ya, terima kasih, Nozomi," senyum kembali terukir di wajah gadis bersurai pirang itu. "Kamu memang sahabat terbaikku,"
"Sama-sama, Ericchi," jawab Nozomi sambil menepuk-nepuk punggung Eri. "Selama perasaan kalian satu sama lain masih sama pasti tak akan sulit untuk memulai hubungan kembali,"
"Tak lama lagi kita akan beranjak dewasa jadi memang sudah seharusnya hubungan pacaran yang hingga seperti itu agak kita hindari, bukan?" lanjut Nozomi. "Terlebih lagi, kamu merahasiakan soal ini dari orangtuamu,"
"Haaaah… kamu ini memang dewasa sekali, ya, Nozomi?" komentar Eri.
"Bodoh, aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, kok," jawab Nozomi. "Belum tentu juga yang kukatakan betul semua, aku juga masih dalam proses belajar sama sepertimu, Ericchi,"
"Aku tak peduli apakah itu salah atau benar," ucap Eri. "Berkatmu, aku merasa menjadi lebih baik. Terima kasih, Nozomi,"
Nozomi tersenyum mendengar ucapan Eri. Ia lega karena bisa meringankan beban sahabat kesayangannya itu.
Pulang sekolah…
"Ah, itu orangnya!" kata Nozomi begitu dirinya dan Eri melihat Takumi mengambil sepatu dari loker.
"Ayo, Ericchi," kata Nozomi setengah berbisik sambil mendorong Eri ke arah punggung yang akan menjauh itu.
Bruk! Eri pun sukses menabrak punggung Takumi.
"Ta, Takumi?" panggil Eri.
"Ada apa? Cepatlah menjauh sebelum ada yang ember," respon Takumi dingin.
"Aku tak peduli," jawab Eri sambil membenamkan wajahnya ke punggung pemuda itu. "Semenjak masalah dengan Inugami-san waktu itu, banyak yang sudah tahu kalau kita pacaran,"
"Lalu, apa? Kau ingin Bu Minami juga tahu dan membuat kita dikeluarkan dari sekolah?" balas Takumi.
"Bisa enggak, sih, kamu meresponku dengan lebih lembut?!" bentak Eri.
Takumi pun diam menunggu gadis itu menjelaskan apa yang diinginkannya.
"Aku hanya ingin bicara denganmu, kau tahu? Tapi kenapa kamu harus sentimen begitu padaku?" ujar Eri. "Memangnya kamu pikir salah siapa hingga kita jaga jarak begini, hah?!"
Takumi berbalik dan menyelipkan surai pirang Eri ke salah satu telinga gadis itu. "Kamu mau ikut denganku makan crepes?"
"E, eh?"
"Aku yang traktir, ayo!" kata Takumi cepat.
Begitu Eri selesai mengganti sepatunya, Takumi menarik lengannya dengan agak tak sabaran. Eri menoleh ke belakang dan Nozomi hanya nyengir sambil memberikan tanda peace dengan jarinya.
Good luck, Ericchi! kata Nozomi dalam hati.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Takumi begitu mereka berdua telah membeli crepes dan mulai berjalan menuju Kanda Myojin.
"Akan jauh lebih baik lagi setelah kita mendiskusikan masalah kita tentunya," jawab Eri.
"Ya, aku tahu, aku mengerti itu," ujar Takumi. "Sebelum kita mendiskusikan hal itu, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"
"Hmm?" respon Eri sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kumohon, jawablah dengan jujur, bagaimana perasaanmu terhadapku?" manik amber itu menatap manik biru muda di sebelahnya dengan serius.
Eri menelan ludah dengan kasar dan menggigit bibir bawahnya. "Aku… takut padamu, Takumi…"
Takumi tentu saja agak shock mendengarnya, namun dia juga sadar diri mengapa gadis pujaannya menjawab seperti itu.
"Aku tidak membenci ciumanmu, pelukanmu, juga belas kasihmu yang lainnya," ujar Eri. "Tapi aku takut ketika kamu melakukannya dengan agresif sambil menunjukkan senyummu yang mengerikan itu. Rasanya, aku seperti menghadapi laki-laki yang berbeda meskipun aku tahu itu kamu,"
"Aku enggak memaksamu untuk berubah, tapi kumohon, kurangilah belas kasihmu yang menyerempet batas itu," kata Eri. "Keluargamu memang merestui hubungan kita, namun tidak denganku. Kau tahu? Sampai sekarang aku belum pernah bercerita mengenai hubungan kita pada ayah dan ibuku. Satu-satunya anggota keluargaku yang tahu hanyalah Arisa,"
"Maaf, aku sama sekali tidak tahu kalau orangtuamu begitu ketat," ucap Takumi.
"Ibuku mungkin hanya santai saja bila aku menceritakannya, namun lain cerita jika aku mengatakannya pada ayah," jelas Eri. "Karena aku adalah anak pertama yang telah lama didambakan beliau maka tak heran jika beliau begitu keras dan over protective dalam membesarkanku,"
Takumi tiba-tiba menempelkan dahinya ke dahi gadis itu sambil memegang pipi kirinya. "Bagaimana reaksi beliau kalau aku melamarmu nanti, ya?"
Wajah Eri spontan merah padam. "A, a, apa maksudmu?!"
"Hahahaha… kamu memang manis saat tersipu, ya, Eri?" gelak Takumi.
"Tu, tunggu! Kamu serius mengatakan itu?"
Takumi menyilangkan kedua lengannya di belakang kepala. Dia berjalan mendahului Eri lalu berbalik, "Entahlah? Kamu maunya gimana?"
Ugh… kok, bisa sih dia mengatakan itu dengan nada main-main? keluh Eri.
"Oh? Apa jangan-jangan kamu begitu mengharapkannya, Eri?" goda Takumi.
Eri menatap Takumi dengan aneh kemudian menyentil dahi pemuda itu dengan keras.
"I, ittai! Apa yang kau lakukan, Eri?!" seru Takumi sambil memegangi dahinya yang memerah.
"Huh! Lagian masih SMA sudah main lamar-lamar saja!" dengus Eri sambil memunggunginya.
"Oh, ayolah… aku hanya menggoda—"
"Kalau kamu memang serius, maka berusahalah yang terbaik dari sekarang!" sela Eri. "Dasar Takumi bodoh!"
Takumi hanya tersenyum sambil berjalan mengekori gadis itu.
Bodoh, kamu kira aku main-main? kata Takumi dalam hati.
Di lain tempat, gadis muna' bersurai merah tengah menatap partitur lagu versi solo milik senpai-nya yang kini masih terbaring koma di rumah sakit. Manik ungunya tampak sendu bagai langit yang penuh dengan awan berwarna kelabu, tanda hujan deras akan segera turun membasahi bumi.
Bodoh, padahal aku begitu membencimu, tapi kenapa air mataku tak bisa berhenti menetes? gumam Maki sambil menggenggam partitur itu erat-erat hingga kertas itu mulai lecek.
Maki bangkit dari kursi piano-nya. Ia meraih kertas, pulpen, dan amplop hendak menulis sesuatu. Sesuatu yang penting untuknya juga ketua bodoh ber-cardigan pink itu.
Aku tak tahu apakah kita masih bisa bertemu lagi, tapi ini lah yang kurasakan… Maki mulai mencurahkan isi hatinya dalam surat itu.
"Sudah hampir seminggu, ya, nya?" celetuk Rin keesokan harinya saat makan siang bersama Maki dan Hanayo.
"Nico-kun… apakah dia baik-baik saja?" kata Hanayo lirih.
Rin memiringkan kepalanya sedikit sambil memperhatikan Maki yang sejak tadi hanya diam sambil meminum jus kotaknya.
"Maki-chan, kamu enggak apa-apa, nya?" tanya Rin.
"Ah, iya, maaf," jawab Maki. "Aku enggak apa-apa, kok,"
Rin pun berdiri. "Baiklah, sudah kuputuskan! Kita akan menjenguk Nico-kun saat pulang sekolah nanti, nya~!"
"Tu, tunggu, Rin-kun! Bukannya jumlah penjenguknya dibatasi?" Hanayo memperingatkan. "Setahuku, yang menjenguk Nico-kun enggak boleh lebih dari dua orang!"
"Ya sudah, kalau begitu Maki-chan jalan duluan lalu setelah itu kita baru menyusul, gimana?" usul Rin.
"A, aku enggak usah ikut cukup kalian sa—"
"Maki-chan!" Rin menatap Maki penuh harap agar dia ikut layaknya kucing yang tengah meminta makanan.
"Huh… baiklah," kata Maki kemudian.
Hari ini kamu belum juga bangun, ya? gumam Nozomi sambil menaruh bunga di vas kecil yang terletak tak jauh dari ranjang tempat Nico berada.
Nozomi duduk di tepi ranjang sambil membelai rambut hitam itu dengan lembut. "Lihatlah dirimu yang semakin kurus, mau sampai kapan kamu menjadi sleeping beauty begini, coba?"
Nozomi tak bisa menahan air matanya. Ia menangis sambil menggenggam tangan kiri Nico.
"Bakka… Nicocchi no bakka…!" isak Nozomi.
"Kau bercita-cita menjadi idol nomor satu agar bisa membahagiakan ibu dan adik-adikmu, 'kan? Kalau begitu, kenapa kamu masih saja mau terjebak di sini?" lanjut Nozomi. "Aku bukannya melantur… aku sudah berdoa setiap hari agar bisa melihat senyummu kembali lantas kenapa, Nicocchi…?"
"Kumohon, kumohon… bukalah matamu…" ucap Nozomi yang suaranya semakin memelan. "Aku mencintaimu…"
Detektor detak jantung menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sedikit demi sedikit, namun semakin jelas ditambah dengan tangan kiri Nico yang mulai bergerak. Ya, ungkapan perasaan yang tulus dari gadis berdialek Kansai itu berhasil membangunkan pemuda yang telah tertidur dalam jangka waktu yang lama itu.
Nico membuka matanya perlahan-lahan dan ditatapnya gadis bersurai ungu yang tengah terisak sambil menggenggam tangan kirinya itu. "No… zo… mi?"
Nozomi menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Padahal harapannya nyaris pupus, namun dewa malah memberikannya keajaiban.
"Kamu masih mengingatku? Oh, tunggu! Satu tambah satu berapa?" kata Nozomi heboh.
"Bodoh, kau ini ngomong apa, sih?" kata Nico sambil bangkit perlahan. "Kau kira aku amnesia, apa?"
"Ni, Nicocchi… huwaaaa…!" Nozomi memeluk Nico dengan erat sambil menangis lumayan keras.
Nico membalas pelukan itu dan mengelus-elus rambut Nozomi dengan lembut. "Maaf, ya, aku pasti sangat merepotkanmu,"
"Bakka… bakka!" isak Nozomi.
"Oi, Nozomi," panggil Nico tiba-tiba.
Nozomi mendongakkan kepalanya dan Nico mendekatkan wajah gadis itu dengan wajahnya.
"Ni, Nico—"
Nico mencium bibir gadis maniak tarot itu. Begitu selesai menciumnya, Nico kembali memeluk Nozomi.
"Bodoh, apa yang kau lakukan? Kau bahkan menolakku waktu itu!" kata Nozomi.
"Justru kau yang bodoh, memangnya kau tidak mengerti makna ciuman tadi?" balas Nico.
"Eh?"
"Tetaplah bersamaku, Nozomi," ujar Nico sambil tersenyum. "Biarkan aku yang melindungimu sekarang hingga nanti,"
"Tu, tunggu, jadi maksudmu…?"
"Waktu itu aku menolakmu karena tidak yakin akan perasaanku, namun tidak lagi sekarang," jelas Nico. "Aku juga mencintaimu sejak kita mulai berteman,"
Astaga, apakah ini mimpi? Cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku, dewa? kata Nozomi dalam hati.
"Jadilah pacarku, Nozomi," ucap Nico sambil mengulurkan tangannya.
Nozomi mengusap air matanya yang tersisa. "Kamu tidak sedang mengerjaiku, 'kan?"
"Bo, bodoh! Aku serius!" seru Nico sambil memalingkan sedikit wajahnya yang merah padam. "Cepat jawab! Aku malu, tahu!"
Nozomi menerima uluran tangan Nico. "Kalau begitu, ya, aku mau menjadi pacarmu, Nicocchi,"
Tidak disangka, Maki menyaksikan saat Nico bangun hingga pernyataan cinta itu. Maki kembali memasukkan amplop yang ia ingin berikan pada Nico ke dalam saku blazer-nya. Gadis itu menahan tangis sambil menunduk dan bersandar di dinding.
"Oh! Maki-san!" sapa Tsubasa yang tengah membawa seikat bunga untuk menjenguk Nico. "Hahaha… yang namanya jodoh memang tidak ke ma… na?"
Tsubasa terkejut mendapati gadis yang tengah mati-matian menahan tangis itu. Tsubasa pun mencoba mencari tahu penyebabnya. Ia mengintip ke dalam ruangannya Nico dan berhasil menarik kesimpulan.
"Rupanya kamu bisa jatuh cinta juga, ya?" kata Tsubasa.
"Berisik! Siapa bilang aku jatuh cinta padanya?!" Maki berusaha menampik.
"Lalu, kamu menangis karena apa? Karena dia siuman juga setelah koma selama hampir seminggu? Bohong banget," kata Tsubasa. "Kamu sakit hati karena keduluan Nozomi-san, 'kan?"
"Urushai! Urushai!" seru Maki sambil menutup kedua telinganya.
Tsubasa menarik paksa tubuh Maki hingga kepala gadis itu terbenam di dadanya.
"Menangislah sepuasmu," kata Tsubasa. "Tak ada yang bisa mengalahkan rasa pada cinta pertama, Maki-san,"
Maki menangis tanpa suara di dada Tsubasa.
"Eh? Maki-chan kenapa, nya?" tanya Rin yang baru tiba di koridor itu bersama Hanayo.
Tsubasa menoleh. "Ah, hai, Rin-kun,"
"Nee, nee, Tsubasa-kun, apa yang terjadi? Kenapa Maki-chan menangis?" tanya Rin cemas.
"Ah, ini? Gomen, gomen! Sepertinya aku menjitaknya terlalu keras saat main janken tadi, aku minta maaf, ya!" jawab Tsubasa bohong.
"Tsu, Tsubasa-kun masih suka main janken?" kata Hanayo yang lumayan terkejut.
"Umm… iya, sih, kenapa?" Tsubasa balik bertanya.
"Ku, kukira idol yang elegan dan cool seperti Tsubasa-kun lebih memilih permainan yang dewasa seperti biliar!" ujar Hanayo. "Tapi ternyata… su-te-ki~!"
"Hahahaha…" Tsubasa tergelak sekenanya sambil menggaruk tengkuknya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian enggak masuk ke dalam, nya?" tanya Rin.
"Yah, begitulah… jumlah penjenguknya dibatasi," jawab Tsubasa. "Paling nanti hanya Maki-san yang boleh masuk karena dia anak direktur rumah sakit ini,"
"Sa, sayang sekali, nya…" kata Rin kecewa.
"Kalau begitu, kami titip bingkisan ini, ya," kata Hanayo sambil menyerahkannya pada Tsubasa. "Kabari kami kalau Nico-kun sudah siuman, ya!"
Rin dan Hanayo berlalu.
Tsubasa mengambil seikat mawar kecil yang ia selipkan dalam ikatan bunga yang akan diberikannya pada Nico. Ia pun menyerahkannya seikat mawar kecil itu pada Maki.
"Kau tahu? Waktu berbicara dengan kalian di UTX, aku tidak hanya sekedar menggodamu, Maki-san," ujar Tsubasa.
"Apa maksudmu?"
"Aku serius, aku sangat menyukaimu," ucap Tsubasa.
"Dan kau tahu, Tsubasa-san? Aku tak bisa…"
"Ya, makanya aku akan tetap menunggumu,"
"Bakka nano?"
"Ya, aku memang bodoh makanya aku akan berjuang lebih keras lagi," jawab Tsubasa. "Agar aku berhasil membuat hatimu luluh, jaa~"
Maki hanya bisa menatap seikat mawar yang digenggamnya ketika punggung Kira Tsubasa semakin menjauh.
