Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Find the Truth | January 2nd, 2012
Cast : Kyuhyun, Changmin, Yoochun dan cast lain menyusul
Genre : Horror | Crime | Romance
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini lanjutannya, chapter 1B. TAPI HARUS BACA DULU CHAPTER 1 NYA dan CHAPTER 1 A
Thank you bagi yang sudah membaca WARNING!
.
.
.
.
The Time: Find Out | January 1st, 2012
.
Monday
January 2nd, 2012
01:02 AM
Changmin duduk di hadapan laptop apple putih miliknya yang berada di meja kerja kamarnya. Dia begitu serius menekuni sesuatu yang sedang dikerjakannya sejak pulang dari kantor polisi—sekitar pukul setengah duabelas malam tadi. Matanya sudah sedikit memerah—mungkin gara-gara kelelahan. Tetapi dia lebih senang untuk duduk disana. Mengutak-atik sesuatu yang membuatnya penasaran. Untuk mencari tahu tentang kisah si gadis Rusia lebih detail. Dia harus mencari akar dari permasalahannya.
Changmin mengarahkan kursor ke salah satu artikel yang dia harap dapat membantunya untuk mengetahui tentang si gadis Rusia bernama Volkova itu—yang sekarang mungkin sudah tenang di alam sana. Namun sesuatu yang panas menyentuh pipinya yang agak memucat, membuatnya menghentikkan aktifitasnya dan menoleh ke arah itu. Dia dapat melihat sebuah mug berisi coklat panas yang ternyata bersentuhan dengan kulitnya. Dan dia melihat siapa yang melakukannya.
"Ya! Hyung, kau mengagetkanku!" kata Changmin marah.
Pemuda yang dipanggil 'hyung' itu terkekeh. Kemudian dia menyodorkan salah satu mug—dari dua—berisi coklat panas yang memang sudah dibuat khusus untuk Changmin. Changmin menerimanya. Dia merasa agak kedinginan, mengingat dengan udara dingin di luar sana—bahkan salju masih berjatuhan. Changmin meneguk coklat panas itu sedikit. Dan ketika cairan coklat agak kental itu masuk melalui mulutnya, rasanya membuat tenggorokan dan perutnya terasa lebih hangat. Changmin tersenyum. Pemuda itu membalas senyumannya dan kemudian meneguk coklat panas miliknya.
"Lanjutkan besok saja. Tadi pagi juga kau tak tidur." kata pemuda itu perhatian."Lihat tuh, matamu sudah memerah dan kau terlihat agak pucat. Jangan sampai kau sakit."
Changmin tertawa pelan. Dia menyesap coklat panasnya lagi sedikit. Rasanya membuat lidahnya terasa hangat. Sebelumnya dia merasa seluruh anggota tubuhnya membeku—kedinginan. Bahkan dia merasa bahwa pemanas ruangan di kamar mereka tak bekerja sekarang. "Tak apa Yoochun hyung. Aku tak mungkin sakit kok." katanya percaya diri.
Yoochun—pemuda itu—memutar kedua bolamatanya. Dia mendudukan dirinya di atas ranjang. Changmin segera membalikkan tubuhnya—melihat kearah Yoochun—dan membelakangi laptopnya. Changmin menumpukan lengan kirinya pada sandaran punggung teratas di kursi, sedangkan tangan kanannya juga menumpu di sana tetapi dengan memegang mugnya. Changmin menyesap lagi coklat panasnya. Dia melihat Yoochun yang memperhatikannya.
"Wae?" tanya Changmin, risih dengan tatapannya.
Yoochun menggeleng. "Kau terlihat agak pucat Min. Memangnya seberapa berharganya kasus baru itu sehingga kau sangat menekuninya? Eum?" tanya Yoochun lembut.
Changmin menggeleng tidak tahu. "Entahlah hyung. Tetapi kasus ini menyangkut dengan temanku di SD yang sering kuceritakan hyung. Kau ingat Lee Sungmin? Aku pernah menceritakannya beberapa tahun yang lalu."
Yoochun terlihat berpikir. Dia mengarahkan bolamatanya kearah langit-langit. Seolah dapat mengingat tentang cerita Changmin beberapa tahun yang lalu. "Ah, yang memanggilmu dengan nama 'Silent Boy' ya?" tanya Yoochun kemudian.
Changmin mengangguk dan sedetik kemudian dia menggeleng cepat. "Ya. Tapi dia tidak memanggilku—euh maksudku dia memanggilku seperti itu di dalam diary-nya. Ingat bukan bahwa aku mencuri diary miliknya?"
Yoochun terkekeh. "Ya, bad boy. Kau sangat jahat karena tidak membantunya."
"Jangan ingatkan aku pada masa lalu itu lagi, hyung. Aku sangat merasa bersalah kepada Sungmin." kata Changmin pelan. Dia menyesap coklat panasnya lagi—namun kali ini lebih banyak.
Yoochun tersenyum miris melihat ekspresi Changmin. Pemuda tinggi itu memang sudah pernah menceritakan tentang masa lalunya kepada Yoochun. Tentang begitu jahatnya ia karena tidak mau membantu Sungmin yang di-bully oleh geng-nya. Tentang bagaimana dia selalu merasa kasihan melihat Sungmin yang selalu menangis sendiri. Tentang bagaimana egois-nya dia, yang membiarkan Sungmin disiksa agar dia masih terus dianggap oleh geng yang terkenal di sekolahnya ketika sekolah dasar dahulu.
Ah, lupakan, itu masa lalu.
Yoochun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Changmin. Dia mengusap rambut hitam yang agak ikal itu. Changmin tersenyum tipis mendapati sentuhan lembut itu. Kemudian Yoochun merendahkan tubuhnya, dan mencium bibir milik pemuda yang merupakan kekasihnya itu. Bukan mencium yang hanya sekedar menempel, tetapi saling menelusupkan bibirnya diantara bibir dari kedua belah pihak. Changmin dapat merasakan bibir Yoochun yang hangat, dan rasa coklat yang begitu manis. Dan setelah menyalurkan perasaan sayangnya, Yoochun melepaskan ciuman yang tak lebih dari lima detik itu dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Tubuhmu benar-benar dingin Min. Istirahatlah dulu." kata Yoochun seraya mengusap pipi Changmin.
Changmin menggeleng. Dia membalikkan posisi duduknya—menghadap laptop lagi—sehingga membelakangi Yoochun. Changmin meletakkan mugnya diatas meja—disamping tangan kirinya. Dia mulai kembali lagi pada layar laptopnya. Yoochun mengambil posisi di samping kiri Changmin, menatapnya yang mulai kembali fokus terhadap laptop.
"Tanggung hyung, sedikit lagi." kata Changmin seraya mengarahkan kursornya kearah deretan tulisan yang kini berjajar di layar laptopnya.
Yoochun kembali merendahkan tubuhnya, kali ini untuk melihat layar laptop Changmin. "Apa itu?"
Changmin membaca judul dari artikel tersebut. "Ini kisah tentang kasus yang sepertinya sama dengan kasus Sungmin."
"Begitu?" Yoochun mengangkat sebelah alisnya, bingung.
Changmin menghela napasnya cepat. Dia mulai membaca deretan-deretan kalimat yang tersusun pada beberapa paragraf di layar laptopnya. Sedangkan Yoochun hanya memperhatikan, memperhatikan setiap gerakan dari kekasihnya. Menurut Yoochun pekerjaan itu begitu menyenangkan—untuknya. Hanya dia yang dapat menikmati pekerjaan 'mengamati Shim Changmin dengan detail'.
"Volkova. Gadis berumur sembilanbelas tahun. Meninggal pada tanggal satu Januari duaribu sebelas. Luka tusuk tiba-tiba muncul di sekujur tubuhnya hanya dalam kurun waktu kurang lebih dari tiga detik. Hingga saat ini pelaku tidak ditemukan. Itu kesimpulan dari kasus ini. Dan semuanya terjadi pada pergantian tahun."
Yoochun menatap kearah layar. "Huh? Maksudnya?"
"Ketika pergantian tahun di Rusia, Volkova sedang bersama dengan seorang temannya, Lena. Mereka sedang berada di bandara untuk keberangkatan mereka ke Australia. Saat itu bandara memang agak ramai. Mereka mengobrol seperti biasa, layaknya obrolan para gadis ketika berkumpul. Koper Lena berada di belakang tubuhnya. Lena berbalik untuk membawa kopernya kehadapannya, ketika dia berbalik kembali Volkova sudah mendapati luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya. Padahal Lena yakin dia hanya berbalik sekitar tiga detik. Dalam kasus itu tak ada saksi mata. Tak ada tersangka. Tak ada barang bukti. Tak ada sidik jari. Tak ada jejak kaki. Semuanya terjadi secara misterius. Kau tahu, sepertinya tanggal itu memang sudah terkutuk." jelas Changmin. Dia meraih mugnya kembali dan menyesap coklat panas itu sedikit. "Itu cerita singkatnya dariku." lanjutnya.
"Lalu? Kenapa kisah ini disangkutpautkan dengan Sungmin? Apa gadis itu lahir pada tanggal satu Januari juga?" tanya Yoochun mulai penasaran.
Changmin meletakkan mug itu kembali ke tempat asalnya. Dia menggeleng pelan seraya memfokuskan dirinya terhadap layar laptop—membaca berbagai artikel.
"Untuk semua itu aku belum mempunyai penjelasan lagi. Sedikitnya seperti itu bukti kecil yang kumiliki sekarang." Changmin tersenyum senang.
"Bukti kecil? Apanya?"
Changmin mengarahkan pandangannya kearah Yoochun. Dia menatap wajah itu dengan senyumannya. "Bukti bahwa di dunia ini sesuatu yang tidak masuk akal bisa saja terjadi. Mungkin itu rencana Tuhan, malaikat atau mungkin dewa kematian." Dia menyeringai kecil.
Yoochun mengacak rambut Changmin. "Sebenarnya kau ini detektif, polisi, pengacara atau paranormal? Aku tak mengerti pada sifat anehmu itu, Min." kata Yoochun seraya menggeleng pelan.
Changmin hanya memberikan senyumannya.
.
.
The Time
Find the Truth | January 2nd, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Monday
January 2nd, 2012
08:32 AM
Changmin memperhatikan Kyuhyun yang berjalan bolak-balik di sekitar meja—masih di ruangan yang sama seperti kemarin—sejak sepuluh menit yang lalu dia mendudukan tubuhnya di kursi. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Changmin agak khawatir melihatnya, karena sejak kemarin Kyuhyun memang tak pernah berhenti untuk gelisah, khawatir dan takut. Changmin agak miris melihat keadaanya—walaupun keadaannya juga tidak jauh berbeda mengingat mata Changmin sudah memerah dan dia kelelahan. Tangan Changmin masih berada di atas kertas yang dibawanya—tanpa membacanya. Dia hanya memperhatikan Kyuhyun.
"Kyuhyun," akhirnya Changmin mulai membuka mulutnya. "Hari ini Sungmin dimakamkan." lanjutnya.
Kyuhyun menghentikan aktivitas berjalan-bolak-balik-seperti-setrikanya. Dia menatap kearah Changmin berada. Matanya seolah mengatakan bahwa dia kaget dengan berita singkat itu. "A-apa? Sekarang? Lalu, kau masih belum membebaskanku?" tanya Kyuhyun dengan sedikit emosi.
Changmin mengangkat kedua alisnya. "Bukan aku yang tidak mau membebaskanmu." katanya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu mengangkat satu tangannya—menyuruh Kyuhyun untuk duduk. Kyuhyun yang mengerti dengan isyarat itu mulai duduk di kursinya, dengan segala emosi yang bercampur di benaknya. Itu cukup untuk membuat kepalanya agak pening sekarang. "Dan sekarang kemungkinan kau ditetapkan sebagai tersangka adalah sembilanpuluh delapan persen."
"A-apa?" tanya Kyuhyun tak percaya.
"Sidang pertamamu akan dilaksanakan sembilan hari lagi. Pada tanggal sebelas Januari. Kumohon persiapkan dirimu, Cho Kyuhyun." kata Changmin, dan dia mulai memperlihatkan senyuman di wajahnya. "Dan untuk pengacara, aku sudah menyewakannya untukmu. Dia akan datang sekitar beberapa jam lagi. Dan untuk semua yang berangk—"
Kyuhyun memukul meja sebelum Changmin mengakhiri kalimatnya. Dengan terpaksa Changmin menelan lagi kalimat yang belum dia lontarkan. Dia melihat Kyuhyun yang menatapnya marah. "Kau bilang kau akan membantuku dalam kasus ini. Tetapi apa buktinya? Kau membuatku ditetapkan sebagai tersangka! Apa kau hanya bermain-main denganku? Kau pikir gara-gara Sung—"
"Kyuhyun," kata Changmin menginterupsi. Changmin meraih kertas-kertas di atas meja—yang dibawanya—lalu melihatnya satu-per-satu. Dia membaca kertas-kertas sekilas, berusaha mencari kertas mana yang dia cari. "Aku sudah mencoba untuk membantumu." lanjutnya lagi. Dia membaca beberapa lembar lagi dan menemukan kertas mana yang dia cari. Changmin menyodorkan kertas yang dimaksudnya kearah Kyuhyun. Kyuhyun hanya menatap Changmin dan kertas itu bergantian. "Dan sepertinya, apa yang Sungmin alami bukan sesuatu yang dapat dicerna oleh akal sehat."
"Ma-maksudmu?" tanya Kyuhyun tak mengerti.
Changmin memerintahkan Kyuhyun untuk melihat kertas itu. Kyuhyun yang mengerti dengan perintah bisu itu mulai meraih kertas yang berada di hadapannya. Dia menatapnya bingung dan memilih untuk membaca deretan-deretan kalimat disana.
"Yang pertama adalah Xavier. Dia tinggal di Australia. Meninggal secara tiba-tiba ketika dia sedang berbincang dengan teman-temannya. Xavier terjatuh dari duduknya—di kursi—dan tiba-tiba tubuhnya penuh dengan luka tusuk. Hal itu terjadi secara tiba-tiba. Tanpa ada benda atau apapun yang melukai tubuhnya. Kejadian itu terjadi pada perayaan tahun baru 1997. Yang kedua adalah Wu Yang Huang. Pemuda China itu meninggal secara tiba-tiba ketika sedang meraih handphone di meja. Tubuhnya tiba-tiba terbakar oleh sesuatu yang sama sekali tidak ada. Bahkan teman-temannya bersumpah bahwa tidak ada sesuatu yang memungkinkan api untuk menyulut tubuhnya. Kejadian itu terjadi pada perayaan tahun baru 2000." jelas Changmin.
Kyuhyun menatap Changmin dengan pandangan tak mengerti, bingung dan tak percaya—bahkan Changmin sendiri tak dapat mengartikan tatapan itu. Kyuhyun memegang kertas itu dan kembali menatapnya tak mengerti.
Changmin melanjutkan ceritanya sebelum Kyuhyun sempat bertanya. "Yang ketiga adalah Justine. Dia tinggal di California. Meninggal secara tiba-tiba ketika lehernya tiba-tiba terputus ketika dia sedang menyalakan TV untuk menonton bersama dengan kekasihnya. Dan kejadian itu terjadi pada malam tahun baru 2001. Yang keempat adalah Nabila. Dia adalah gadis berumur duabelas tahun dari Indonesia. Meninggal secara tiba-tiba ketika dia sedang berada di kamar mandi. Ketika mayatnya ditemukan, tubuhnya sudah terpisah tiga bagian. Dan sama sekali tidak ditemukan jejak kaki pelaku, padahal darah sudah menggenang di lantai kamar mandi. Dia meninggal pada pergantian tahun 2005. Yang kelima adalah Volkova. Aku sudah menceritakannya kemarin. Gadis Rusia yang meninggal secara tiba-tiba ketika temannya mengalihkan pandangan darinya sekitar tiga detik. Tubuhnya tiba-tiba mendapat luka tusukan di beberapa bagian. Tidak ada sidik jari. Tidak ada saksi mata. Kejadian terjadi di bandara pada malam pergantian tahun baru 2011, kemarin." Changmin mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tipis.
Kyuhyun melempar kertas itu ke atas meja. Dia benar-benar tak mengerti dengan semua yang diceritakan Changmin. Wajahnya benar-benar sudah diselimuti dengan berbagai emosi.
Changmin yang melihatnya melanjutkan beberapa kalimatnya yang belum selesai. "Ada beberapa lagi yang meninggal, tetapi aku tak bisa menemukan kisahnya. Aku hanya mendapatkan informasi mengenai nama mereka. Pergantian tahun 2010, gadis Arab bernama Sarah Tanish. Pergantian tahun 2009, gadis Thailand bernama Paavana Oaisara. Pergantian tahun 2008, anak kecil dari America, Nathan Edward. Pergantian tahun 2007, gadis bernama Im Shinra dari Korea Utara. Pergantian tahun 2006, laki-laki bernama Aroon Sittichai dari Thailand lagi. Pergantian tahun 2004, gadis dari Rumania, Anamarie. Pergantian tahun 2003, gadis dari Jerman bernama Katelijn Gerarda. Pergantian tahun 2002, seorang laki-laki bernama—"
"Cukup!" Kyuhyun memotong kalimat Changmin. Changmin menatap Kyuhyun, tertarik pada pertanyaan yang akan keluar dari dalam mulutnya. "Jadi kejadian tak masuk akal itu berturut-turut terjadi pada malam pergantian tahun baru? Begitu maksudmu?" tanya Kyuhyun tak mengerti—alisnya bertaut bersama keningnya.
Changmin mengangkat sebelah bahunya. "Well, begitulah."
"Tahun berapa semuanya berawal?" tanya Kyuhyun lagi.
"Tahun 1996. Kejadian tak masuk akal itu terjadi untuk pertama kalinya kepada gadis Jepang bernama Umeko Mitsushima. Aku tidak mendapat cerita lebih lengkap mengenai gadis itu. Yang aku tahu, semuanya bermula pada tahun itu. Pada malam pergantian tahun." jawab Changmin.
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Logikanya sedang beradu dengan segala kenyataan. Kenyataan yang sulit diterima oleh akal sehat. Yang benar-benar tak bisa diterima.
"Ja-jadi jika kasus Sungmin seperti ini... artinya tak ada penjelasan yang masuk akal dan... dan aku..."
Changmin mengangguk mantap. Dia merapikan beberapa kertas yang berserakan itu dan melihat Kyuhyun. "Kau akan dipenjara, tentu saja."
.:o~o:.
Monday
January 2nd, 2012
04:11 PM
Cklek
Kyuhyun mengalihkan perhatiannya ketika seseorang masuk ke dalam ruangan yang ditempati dirinya. Dia berharap yang datang adalah Changmin, yang akan membawa sebuah kabar—kabar baik maupun kabar buruk—untuk dirinya. Tetapi yang dia dapati berbeda dari yang diharapkan. Seorang lelaki—yang cukup manis dan cantik untuk seukuran laki-laki dewasa—masuk ke dalam ruangan itu. Tersenyum kearah Kyuhyun dan mengambil tempat duduk di kursi yang selalu diduduki Changmin—seraya membawa sebuah tas seperti koper kecil di tangannya. Kyuhyun tak terlalu terkejut dengan kehadirannya—karena sebelumnya dia sudah diberitahu akan ditemui oleh pengacara untuk kasusnya. Tetapi Kyuhyun benar-benar berharap Changmin yang datang. Entah mengapa dia merasa beruntung ketika ada salah satu detektif yang berada di pihaknya. Dan juga mengerti dirinya. Bahkan dia yang memberitahu kisah tentang kejadian tak masuk akal lainnya. Entah sekarang dia harus bersyukur atau tidak.
"Sore Kyuhyun-ssi." kata pemuda itu.
Kyuhyun mengangguk pelan. Dia memperhatikan pemuda berambut coklat tua yang terlihat sangat lembut itu. Kemudian Kyuhyun melihat pemuda itu tersenyum kearahnya, memperlihatkan lesung pipinya.
"Nama saya Park Jungsoo. Saya pengacara Anda untuk kasus ini. Dan sepertinya umur kita terpaut agak jauh. Benar 'kan Kyuhyun-ssi?" tanya pemuda yang bernama Jungsoo itu.
Kyuhyun mengangguk lagi. Dia mengetukkan jari-jarinya di meja—bukan karena kesal, tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. "Panggil saja aku Kyuhyun."
Jungsoo tersenyum, "Kalau begitu panggil saja aku hyung. Okay?"
Kyuhyun mengangguk pada akhirnya.
Jungsoo tersenyum lagi. Dia mengangkat koper—tas—itu keatas meja dan mulai menekan beberapa angka di kunci sandi yang berada di antara belahan tas tersebut. Kemudian tas berwarna coklat kehitaman itu terbuka. Jungsoo mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah berisi beberapa tulisan. Dia mendorong tas itu ke samping meja—dan membuat kertas-kertas yang semula sudah dia ambil berada dihadapannya sekarang. Berhadapan dengan Kyuhyun. Kyuhyun menatap kertas itu. Jungsoo terlihat mengeluarkan sebuah kacamata dari dalam saku bajunya. Setelah mengusap kaca itu dengan kain kemejanya, dia mengenakan kacamata berbingkai putih itu dan segera menatap kertas-kertas itu serius. Sepertinya kertas-kertas itu berisi dengan biodata atau apalah mengenai Kyuhyun.
"Jung—err, maksudku hyung, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Kyuhyun pelan.
Jungsoo menghentikan aktivitasnya dari hadapan kalimat-kalimat pada kertas itu. Dia membenarkan posisi kacamatanya yang melorot hingga hampir ke ujung hidungnya dan kemudian menatap Kyuhyun. "Tentu saja."
Kyuhyun menelan ludahnya kasar. Dia menatap Jungsoo ragu. "Ba-bagaimana jika kasusku ini... tidak masuk akal?"
.:o~o:.
A/n :
Big thanks for MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, dan untuk semuanya. Maaf belum bisa bales review m(_ _)m
Thanks untuk yang sudah mau membaca
Saya gak akan post tiap hari ya
Tapi, untuk besok ada chapter 1C ^^
Review? :3
