So much feels on Erichika's birthday, bwahahahahaha! Ups... /enoughwiththatjokes


Our Final Decision

"112… 113…"

Arisa dan Yukio memperhatikan secara bergantian papan pengumuman di depan mereka dan kertas yang berisikan nomor ujian masuk mereka. Ya, hari ini adalah pengumuman hasil ujian masuk para calon peserta didik baru di SMA Otonokizaka.

"Ah, nomorku ada!" seru Yukio.

"Be, benarkah, Yukio-kun? Aku juga!" kata Arisa.

Mereka berdua tersenyum lebar dan berpelukan dengan erat karena bahagia setelah melihat hasil yang mereka dapatkan. "Yatta!"

"Yatta! Kita berhasil, Yukio-kun! Kita berhasil!" seru Arisa heboh.

"Iya, iya…" Yukio hanya manggut-manggut menanggapi gadis bersurai pirang pucat di depannya itu.

"µ's! Aku akan masuk µ's!" lanjut Arisa.

Kemudian gadis itu berlari menghampiri kakaknya dengan kegirangan.

"Onee-chan! Aku akan masuk µ's!" seru Arisa.

"Oh, kamu lulus, ya? Omedetou," ucap Eri.

"µ's, ya…?" gumam Yukio dari jauh.


"Aku pulang," ucap Yukio sambil membuka pintu kediaman Kousaka.

"Bagaimana, nak?" tanya Kousaka Yui, ibu dari dua bersaudara itu.

"Dasar, kenapa kau tak langsung mengirimiku e-mail, sih? Padahal sudah kubilang kalau aku ingin menemanimu!" dengus Kazuya.

"Oh, tapi aku lulus, kok," ujar Yukio.

"Benarkah? Yokatta!" ucap Bu Yui dengan lega.

"Oi, kok, kamu terlihat enggak senang begitu, sih? Kamu lulus, lho! Teriak 'banzaaai', kek, gitu seenggaknya!" kata Kazuya heran.

"Nee, onii-chan?"

"Hmm?"

"Kalau para senpai kelas tiga telah lulus, bagaimana dengan µ's ke depannya?" tanya Yukio dengan ekspresi yang sendu.

Padahal awalnya, Yukio sama sekali tak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Kazuya dan teman-temannya. Namun seiring waktu sikapnya terhadap µ's berubah. Hal itu terbukti dengan dirinya yang mengikuti ujian masuk di SMA Otonokizaka, bukan di UTX.

Kazuya yang mendengar pertanyaan sang adik hanya bisa terdiam. Benar juga, apa yang akan dirinya lakukan jika Eri, Nozomi, dan Nico lulus nanti?


"Jadi, begini lah jadwal kita selanjutnya mendekati hari H konser penutupan kompetisi Love Live tahun ini," ucap Takumi mengakhiri penjelasannya di klub peneliti idol keesokan harinya.

Tak lama setelah ujian akhir untuk anak-anak kelas tiga lalu, hasil kompetisi Love Live diumumkan. Ya, pemenang Love Live tahun ini adalah µ's sehingga mereka lah yang mendapat kesempatan untuk menutup kompetisi ini.

"Kazuya? Kau mendengarkan tidak, sih?" tanya Takumi yang sedari tadi mengamati sahabatnya yang pikirannya seperti terbang entah ke mana.

"Eh? Oh, maafkan aku, Takumi-kun… ehehehe…" jawab Kazuya sambil menggaruk tengkuknya.

"Haaah… ya sudah, semua yang kujelaskan sudah kuketik di fotokopian yang kubagikan pada kalian," kata Takumi. "Lihat saja di situ kalau kamu lupa apa yang kubicarakan tadi,"

"Ah, iya, terima kasih," ucap Kazuya canggung.

"Oh ya, Arisa-chan dan Yukio-kun lulus ujian masuk, bukan?" celetuk Maki kemudian.

"Hmm? Ah, iya, mereka akan menjadi peserta didik resmi SMA Otonokizaka musim semi nanti," ujar Kazuya.

"Arisa-chan sudah lama ingin bergabung dengan µ's, bukan? Aku yakin, dia pasti senang sekali," kata Kotori.

Kazuya hanya mengangguk dengan manik birunya yang terlihat sendu. Dia dilema, namun ia tak bisa mengatakannya.

"Kalau begitu, kita akan dapat member baru, dong?" kata Hanayo yang tampak antusias.

"Jumlah anggota kita jadi sepuluh orang, nya!" timpal Rin.

"He, hei! Jangan bahas hal ini sekarang!" tegur Maki.

Rin dan Hanayo pun sadar diri. Raut wajah mereka yang tadinya begitu bersemangat kini menjadi murung. Maki, Hanayo, dan Rin pun menundukkan wajah mereka karena merasa membuat atmosfer semakin terasa tidak nyaman.

"Kalian… akan lulus, ya?" tanya Hanayo pada trio anak kelas tiga.

Eri, Nozomi, dan Nico juga tak kalah murung, namun untuk mencairkan suasana Nozomi pun menggoda pacarnya.

"Entahlah? Kalau aku dan Ericchi sih sudah pasti lulus, sih… hehehe," ucap Nozomi sambil melirik iseng kekasihnya. "Kalau Nicocchi gimana, yaaa?"

"Ya lulus lah!" jawab Nico kesal.

Bukannya membuat suasana menjadi lebih baik, ucapan Nozomi malah membuat para member lainnya semakin galau. Kemudian, Eri bangkit dari kursinya dan menepuk tangannya sekali.

"Kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini sampai Love Live berakhir, bukan?" kata Eri. "Nah, ayo, kita latihan lagi!"


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Kazuya?" tanya Takumi pada Kazuya saat mereka warming up sebelum memulai jogging sore di lapangan sekolah.

"Eh?" respon Kazuya bingung.

"Terlihat jelas di wajahmu, lho," tambah Kotori.

Kazuya yang semula tengah meregangkan kedua kakinya pun melipat keduanya sambil menundukkan sedikit wajahnya.

"Yukio bertanya padaku bagaimana dengan µ's ke depannya kalau para member kelas tiga telah lulus," ujar Kazuya.

"Begitukah?" kata Kotori.

"Kalau kau sendiri maunya bagaimana, Kazuya?" tanya Takumi.

"Aku ingin tetap menjadi school idol," jawab Kazuya. "Soalnya, aku suka bernyanyi dan aku juga ingin terus menampilkan live, tapi…"

"Kamu ingin µ's tetap begini adanya, begitu?" Kotori mencoba melanjutkan jawaban Kazuya.

"Hmm…" respon Kazuya murung.


"Aku juga inginnya begitu," ucap Takumi melanjutkan obrolan mereka yang tadi begitu jogging di mulai. "Tapi jika tiga anggotanya sudah lulus, apakah masih pantas disebut sebagai µ's?"

"Benar juga, sih…" kata Kotori.

Kenapa harus ada yang namanya 'kelulusan'? gumam Kazuya.

"Lanjutkanlah!" Nico yang ber-jogging di belakang mereka tiba-tiba ikut nimbrung. "Meskipun ada anggotanya yang keluar atau lulus, kalian harus tetap lanjut dengan nama µ's karena itulah yang namanya idol!"

"Idol, ya?" tanggap Kotori lesu.

"Yap, terlebih jika kalian tidak mengganti namanya, kami yang lulus tentunya akan lebih senang lagi, jadi- ugh!" ucapan Nico terhenti karena ia terjungkal ke belakang gara-gara menabrak Nozomi yang memang sengaja berhenti.

"Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan ini sampai Love Live berakhir, 'kan?" Nozomi memperingatkan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya, aku tahu, kok!" jawab Nico sambil memalingkan wajahnya.

"Aku masih ragu kalau itu pilihan yang terbaik," kata Hanayo tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Hanayo?" tanya Eri.

"Soalnya, Arisa-chan dan Yukio-kun ingin bergabung dengan µ's, bukan?" jelas Hanayo. "Bukankah sebaiknya kita menjawab harapan mereka dengan baik? Jika aku ada di posisi mereka, pasti berat rasanya,"

"Kayo sendiri maunya gimana?" tanya Rin.

"Eh?" Hanayo agak bingung dengan pertanyaan Rin.

"Kamu ingin melanjutkan µ's?" lanjut Rin.

"Ka, kalau soal itu…" Hanayo tampak ragu-ragu.

"Kenapa sih kalian sungkan begitu?" sela Nico karena gregetan dengan para kouhai-nya itu. "Lanjutkanlah!"

"Meskipun aku, Eri, dan Nozomi telah lulus 'kan µ's masih punya kalian berenam!" lanjut Nico.

"Bukannya aku sungkan atau apa, tapi bagiku µ's itu adalah kita bersembilan ini," jawab Hanayo. "Bukan lagi µ's namanya kalau salah satu dari kita tidak ada,"

"Perasaanku sama seperti Hanayo, tapi aku juga mengerti apa yang dikatakan oleh Nico-kun," kata Maki. "Berat rasanya untuk mengganti nama µ's makanya akan lebih baik jika kita tidak menggantinya,"

"Ya, 'kan? Makanya sudah kubilang, lanjutkanlah!" kata Nico.

"Menurutmu bagaimana, Ericchi?" tanya Nozomi.

Kedelapan pasang mata terfokus pada gadis bersurai pirang itu. Mereka menanti jawaban dari dirinya yang sejak tadi tak banyak bicara tentang masalah ini.

"Bukan aku yang akan memutuskannya," kata Eri setelah berpikir sesaat. "Yang memutuskannya adalah kalian berenam, Kazuya,"

"Karena kami sudah pasti akan lulus dan kami tidak akan bisa menjadi school idol lagi," jelas Eri. "Jadi, kami tidak berhak untuk menentukan bagaimana µ's sebaiknya ke depannya, itulah pendapatku. Kalian berenam lah yang memutuskannya, itu keputusanku,"

"Eri…" ucap Nico.

"Benar juga, sih," kata Nozomi.


Sepulang sekolah…

"Pada akhirnya kita tetap membahasnya, ya?" kata Kotori.

"Apa boleh buat, 'kan? Akan berakibat buruk kalau kita terus menahan perasaan ini hingga hari H Love Live," ujar Takumi.

"Jadi, bagaimana baiknya sekarang?" tanya Maki.

"Kita yang harus memutuskannya, 'kan?" kata Hanayo.

"Ini terlalu rumit," tambah Rin.

"Un, tapi yang dikatakan oleh Eri-chan itu benar," jawab Kazuya. "Yang tersisa hanyalah kita berenam tahun depan, jadi memang sudah seharusnya kita yang memutuskannya,"

"Iya, sih," kata Takumi.


Kotori, Maki, Hanayo, dan Rin melanjutkan langkah ke arah rumah masing-masing. Yang tersisa tinggal Kazuya dan Takumi yang kini telah sampai di depan kediaman Kousaka.

"Kalau begitu, sudah, ya," kata Kazuya yang hendak masuk.

"Kazuya," panggil Takumi.

"Hmm?"

"Tolong pikirkan baik-baik keputusanmu setelah itu kita akan membahasnya lagi, oke?" pesan Takumi.

"Ya, tentu," jawab Kazuya sambil masuk ke dalam rumahnya. "Jaa, Takumi-kun,"

"Aku pulang," ucap Kazuya.

"Selamat datang," sambut Yukio dari ruang tengah.

Kazuya menoleh dan didapatinya sang adik bersama Arisa tengah duduk mengelilingi kotatsu.

"Ah, Kazuya-san, boleh lihat aku sebentar, tidak?" kata Arisa sambil berjalan menghampiri pemuda berambut ginger itu.

"Etto, µ's… musicstart!" seru Arisa sambil membentuk huruf V dengan jarinya kemudian mengangkatnya. "Bagaimana, Kazuya-san? Aku sudah latihan, lho,"

"Ya, bagus, kok," kata Kazuya sambil tersenyum palsu.

"Be, benarkah? Wah, aku senang sekali!" kata Arisa.

"Umm… jadi, apakah dengan begini aku bisa bergabung dengan µ's?" tanya Arisa kemudian.

Kazuya hanya tergelak dengan garing karena tidak tahu harus menjawab apa.

"Arisa!" tegur Yukio. "Onii-chan sedang sibuk untuk Love Live, sebaiknya kamu tidak mengganggunya,"

"O, oh…" Arisa tampak merasa bersalah.

"Ahaha… maaf, ya," kata Kazuya. "Anggap saja seperti rumahmu sendiri,"

Kazuya pun berlalu ke kamarnya.


"Lanjutkanlah!"

"Kalau tiga anggotanya sudah tidak ada, apakah masih pantas disebut µ's?"

"Kalianlah yang memutuskannya, itu keputusanku,"

"Benar juga, sih,"

"Jadi, apakah dengan begini aku bisa bergabung dengan µ's?"

Malam itu, Takumi, Maki, Hanayo, Rin, Kotori, dan Kazuya masih terbayang-bayang percakapan tentang µ's tadi sore. Keenam orang itu benar-benar galau, tidak tahu harus berbuat apa.

"Aku juga tidak tahu," kata Kazuya sambil berbaring miring ke kanan.


Keesokan paginya…

"Aku berangkat, ya, Bu," kata Kazuya pada ibunya yang tengah menyiram tanaman di teras toko.

"Pada akhirnya, aku belum memutuskan apa-apa," Kazuya berbicara pada dirinya sendiri.

"Onii-chan!" panggil Yukio yang berdiri di depannya bersama Arisa.

"Ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu, boleh, 'kan?" kata Yukio kemudian melirik Arisa agar maju dan mengatakan apa yang mereka maksud.

"Ano, nee… aku tidak jadi bergabung dengan µ's," kata Arisa.

"Eh?" Kazuya terang saja kaget.

"Di µ's yang kusukai tidak ada aku di dalamnya makanya aku ingin membuat grup school idol sendiri yang harasho bersama Yukio-kun," jelas Arisa.

"Hehe, tolong ajari kami, ya, se, senpai!" kata Yukio. "Apa coba yang kukatakan? Hahaha…"

Kazuya terdiam mendengarnya.

"Umm… enggak boleh, ya?" tanya Yukio.

Kazuya menggeleng. "Boleh, kok,"

Kemudian dirinya memeluk Arisa dan Yukio.

"O, onii-chan?" Yukio agak kaget begitu kakaknya memeluk dirinya dan sahabatnya.

"Benar juga, ya?" kata Kazuya. "Padahal itu sudah jelas, tapi kenapa aku bisa sampai lupa?"

"Ganbatte, nee!" kata Kazuya sambil melepas pelukannya dan menepuk bahu kedua anak itu.

"Baik!" jawab keduanya.


Pada akhir pekan, Kazuya memanggil kedelapan anggota µ's untuk berkumpul di taman kota.

"Yosh, ayo, kita bersenang-senang!" seru Kazuya bersemangat sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas.

"Bersenang-senang?" tanya Nico.

"Kukira ada apa sampai kamu memanggil kami di hari Minggu begini," kata Eri.

"Bukannya hari ini libur?" kata Nozomi.

"Justru karena hari ini libur, bukankah sebaiknya kita sesekali pergi bersama-sama untuk memperbaiki mood?" ujar Kazuya. "Dengan begitu, kita bisa tampil dengan perasaan yang nyaman, bukan?"

"I, iya juga, ya!" tanggap Takumi dengan agak tergagap.

"Hari ini juga cukup hangat, 'kan?" timpal Kotori.

"Ada buku yang bilang kalau bersenang-senang bagus untuk kesehatan mental!" sambung Hanayo.

"Iya, lho! Daripada gabut enggak jelas di rumah?" tambah Maki.

"Kalian kenapa, sih?" tanya Nico curiga. "Enggak biasanya kalian ngotot sampai seperti ini,"

"Enggak apa-apa, 'kan? Semenjak µ's terbentuk, kita 'kan belum pernah bersenang-senang bersama," kata Kazuya.

"Tapi apa yang akan kita lakukan?" tanya Nico.

"Aku mau ke taman bermain, tempat Eri-chan dan Takumi-kun kencan waktu itu, nya!" seru Rin.

"Bocah banget, ih…" cibir Maki. "Aku mau ke galeri seni,"

"Ah, kalau aku mau ke toko merchandise idol," kata Hanayo.

"Nah, lho? Kok, beda semua?!" kata Nico.

"Gimana, nih, Kazu-chan?" tanya Nozomi.

"Hmm… yuk, kita kunjungi semuanya!" kata Kazuya memutuskan.

"HAAH?!" Eri, Nozomi, dan Nico tentu saja kaget mendengar keputusan itu.

"Ayo, kita pergi ke semua tempat yang kita inginkan," kata Kazuya. "Kita putuskan masing-masing mau ke mana kemudian kita pergi ke sana!"

"Hah? Rencana macam apa, tuh?" komentar Nico.

"Tapi, sepertinya seru, nih!" kata Nozomi.

"Apa boleh buat, baiklah!" kata Eri.

"Mari… berangkaaaaaaat!" seru Kazuya heboh sambil meloncat kegirangan.


Destinasi pertama mereka adalah toko merchandise idol.

"Hebat! Di sana-sini ada merchandise µ's! µ's, lho!" seru Kazuya.

"Me, memalukan…" kata Takumi.

"Di, di, di, di mana koleksi Blu-Ray-nya, yaaaa?" Hanayo heboh sendiri.

Kemudian, ke game center.

"AAAAH! Aku kalah!" seru Kazuya yang kalah telak bermain game dance battle dari Nico.

"Fufufu, sekarang aku lah dancer terbaik di alam semesta!" Nico tampak menyombongkan diri.

"Dia kesal karena waktu itu kalah terus, ya?" kata Hanayo.

"Daripada itu…" kata Maki sambil melirik Eri dan Nozomi yang tengah berduel hockey dengan sengitnya.

"Terima ini!" seru Eri.

"Hei, aku belum selesai!" balas Nozomi.

Mereka berdua bertanding dengan sengit sampai Kotori yang berdiri di dekat papan skor hanya bisa tertawa sekenanya karena kewalahan.

Lalu, ke kebun binatang.

"Wuaaaah!" mereka bersembilan gemas melihat para penguin di sana.

Mereka melihat para flamingo dan mencoba berdiri dengan satu kaki seperti para unggas itu.

"Sasuga, yang pro memang beda…" kata Takumi.

Ke bowling center.

"Ternyata bermain bowling itu seru, ya!" kata Eri sambil tersenyum lebar karena dirinya berhasil menjatuhkan semua pinnya alias, strike.

"Harasho…" kata kedelapan temannya.

Ke galeri seni.

"Nyaha~" kata Rin sambil meniru pose salah satu patung di sana.

Hanayo tampak berusaha menahan tawa.

"Sssst! Yang tenang, dong!" tegur Maki dengan agak keras.

"Sssst!" Hanayo dan Rin balas menegurnya.

Kemudian mereka bermain bebek-bebekan di danau, mengunjungi kuil, dan melihat Tokyo Sky Tree.


"Berarti tinggal tempat yang ingin dikunjungi Kazuya, ya?" kata Eri.

"Un, aku ingin ke pantai," kata Kazuya.

"Pantai?" Eri bingung karena tiba-tiba Kazuya berubah pikiran.

"Ya, aku ingin ke pantai yang hanya ada kita di sana lalu melihat pemandangan bersembilan saja di sana, bolehkah?" kata Kazuya.

"Se, setuju, nya!" seru Rin monoton.

"Te, terdengar seperti petualangan, ya? Hayuk, hayuk!" timpal Hanayo.

"Kamu yakin mau pergi ke sana sekarang?" tanya Eri.

"Tentu, ayo!" kata Kazuya.


"Kazuya," panggil Maki begitu mereka berhasil masuk ke kereta dan duduk di sebelahnya.

"Hmm?"

"Apa hatimu sudah siap untuk mengatakan'nya'?" tanya Maki.

"Un," jawab Kazuya singkat.

Mereka pun sampai di tujuan.

"Pas banget menjelang matahari terbenam, nya!" seru Rin.

"Pasti karena kekuatan spiritual, ya!" kata Nozomi.

"Hu, humph! Pemandangan saat matahari terbenam ternyata tidak jelek, ya?" kata Nico yang gengsian.

Kazuya memandang kedelapan temannya yang bermain-main air laut dari belakang dengan senyum getir, terlebih ketika melihat Eri, Nozomi, dan Nico. Kazuya berjalan menghampiri mereka dan menggandeng tangan Takumi dan Kotori kemudian diikuti keenam temannya yang lain sehingga kini tangan mereka saling bertautan.

"Kalau saat training camp kita melihat matahari terbit bersama-sama," kata Eri. "Sekarang kebalikannya, ya?"

"Benar juga, ya," timpal Nozomi.

"Ano, nee…" kata Kazuya kemudian dan teman-temannya pun diam mendengarkannya.

"Kami sudah membahasnya, kami berkumpul dan memutuskan bagaimana µ's ke depannya saat Nozomi-chan, Nico-kun, dan Eri-chan lulus nanti," ujar Kazuya. "Kami mengeluarkan pendapat masing-masing dan tidak disangka-sangka semuanya sama,"

"Jawaban kami sama dan kami sudah memutuskannya," lanjut Kazuya.

"Se, no—" seruan Kazuya terhenti karena ia berusaha menahan perasaannya yang sebenarnya. "Ugh, ma, maaf… sekali lagi, se, no!"

"Setelah Love Live berakhir, µ's akan dibubarkan!" seru Kazuya, Kotori, Takumi, Hanayo, Rin, dan Maki bersama-sama.

Eri, Nozomi, dan Nico menatap keenam adik kelasnya itu dengan sendu.

"Ternyata, memang bukan µ's namanya kalau bukan kita bersembilan anggotanya," kata Kazuya. "Kita bersembilan lah µ's,"

"Kami juga sudah tahu kalau di setiap pertemuan pasti akan ada yang datang dan pergi," tambah Takumi.

"Tapi bukan itu masalahnya," sambung Maki.

"Kita bersembilan lah µ's," ucap Hanayo.

"Aku tidak sanggup kalau kurang, bahkan satu pun," timpal Rin.

"Bukan µ's lagi namanya kalau satu orang tidak ada," kata Kotori.

"Begitu, ya?" kata Eri yang terlihat tenang.

"Eri?!" Nico kaget dengan tanggapan Eri.

"Aku juga setuju, kok," kata Nozomi.

"Nozomi…" kata Nico.

"Bukankah itu sudah jelas? Perasaanku saat memandang µ's dan saat memberinya nama adalah saat ada kita bersembilan," ujar Nozomi yang air matanya sebentar lagi menetes. "Bagiku, kitalah µ's,"

"Aku… aku juga tahu itu! Aku juga merasa seperti itu, tapi…" kata Nico sambil membelakangi Eri dan Nozomi. "Kamu tahu perasaanku saat menjadi school idol, 'kan? Karena sudah kelas tiga aku ingin menyerah, tapi akhirnya aku menemukan keajaiban! Menemukan para idol yang hebat, menemukan sahabat dan seseorang yang kucintai, makanya jika harus berakhir seperti ini aku—"

"Karena itulah kami akan terus menjadi idol!" seru Maki sambil berdiri di depannya. "Aku berjanji! Apapun yang terjadi kami akan tetap melanjutkannya!"

"Maki…" kata Nico.

"Tapi aku hanya ingin µ's menjadi milik kita! Aku tidak mau lanjut sebagai µ's jika tidak ada Nico-kun di dalamnya! Aku tidak mau!" ujar Maki.

"Kayo, padahal kita sudah berjanji untuk tidak menangis, tapi aku… aku tidak bisa menahannya…" kata Rin sambil terisak di bahu Hanayo.

"AAAAH!" teriak Kazuya tiba-tiba.

"Eh?" kedelapan temannya cengo.

"Sudah waktunya! Kalau kita enggak cepat-cepat, kita bisa ketinggalan kereta!" seru Kazuya sambil berlari berbalik ke arah stasiun.

Ia berlari dengan air mata yang mengalir.


Sesampainya di stasiun…

"Keretanya… masih lama, lho?" kata Eri setelah melihat jadwal keberangkatan kereta.

"Ahahaha… maaf," kata Kazuya.

"Kazuya-kun?" kata Kotori.

"Kalau kita terus berada di sana, air mata kita tak akan berhenti mengalir, ehehe…" ujar Kazuya.

"Dasar, kau benar-benar sukses menipu kami, ya, Kazuya?" kata Takumi.

"Duh, padahal aku sudah berlari sekuat tenaga, lho!" dengus Maki.

"Tahu, nih! Padahal kita sudah bersantai-santai demi menghemat tenaga kita!" tambah Nico.

"Aku masih ingin melhat lautnya, nya!" rajuk Rin.

"Tapi, syukurlah kita sampai di sana, ya?" kata Takumi.

"Benar, kita berhasil sampai di pantai yang hanya ada kita bersembilan," timpal Eri. "Bahkan di stasiun ini pun hanya ada kita,"

"Suteki~" kata Hanayo.

"Nee, gimana kalau kita berfoto?" usul Kazuya.

"Oh, boleh, boleh," kata Hanayo setuju. "Kebetulan aku bawa tripod,"

Kazuya menggeleng dan menunjuk photo box di sana. "Bukan dengan smartphone, tapi ayo, kita berfoto bersama di sana,"

Tentu saja, photo box itu terlalu sempit untuk mereka bersembilan sehingga mereka begitu gaduh saat mengambil foto. Hasil fotonya? Jelas saja banyak yang aneh bahkan Nico dan Rin sempat jadi 'penampakan' karena hanya sebagian kepalanya dan tangannya yang terpotret.

Mereka tertawa melihat hasilnya, namun…

"Hahahaha… ugh, hiks… hiks…" Hanayo terisak.

"Kayo, kamu menangis, tuh!" kata Rin.

"Habisnya… saking senangnya aku tak bisa menahan air mataku, hiks…" ujar Hanayo.

"Jangan menangis! Aku enggak mau nangis! Kita 'kan sudah tertawa dan tersenyum lebar tadi!" Rin berusaha kuat, namun pada akhirnya ikut menangis sambil menutupi kedua matanya dengan punggung tangan kanannya.

"Mou! Sudah, hentikan!" kata Maki sambil menunduk dan ikut meneteskan air mata. "Sudah kubilang… hentikan, 'kan…?"

"Aneh, ya? Kenapa aku… malah menangis?" kata Kazuya.

"Kazuya-kun…!" Kotori menangis sambil membenamkan wajahnya di dada kekasihnya itu.

"Ugh… huhuhu…" Takumi yang biasanya tegar pun pecah tangisannya di pelukan Eri, kekasihnya.

Eri meneteskan air mata tanpa suara sambil membelai lembut rambut Takumi.

"Mou! Jangan cengeng begini, dong!" seru Nico. "Cukup! Hentikan tangisan kalian!"

"Anata…" panggil Nozomi pada pacarnya itu.

"Kau juga jangan sempat-sempatnya ngejayus, deh, Nozomi…" kata Nico sambil memandangnya dengan aneh.

Tanpa ba-bi-bu, Nozomi memeluk erat pemuda bermanik merah itu.

"Bo, bodoh! Aku enggak akan nangis! Enggak akan!" Nico berusaha tegar, namun pelukan Nozomi yang semakin erat membuat tangisannya ikut pecah. "Enggak akan! Aku… aku… huwaaa!"

Stasiun itu memang sepi. Satu-satunya tanda kehidupan hanya tangisan dari kesembilan remaja yang tengah dihadapkan pada dua kata, 'bubar' dan 'berpisah'.


Bugh! Nozomi mendorong pelan Nico agar ia berdiri di dekat Maki begitu mereka turun dari kereta.

"O, oi! Apa-apaan, sih kamu, Nozomi?!" seru Nico kesal.

"Antarlah Maki-chan pulang, Nicocchi," kata Nozomi.

"Ngomong apa kamu? Arah rumah kami saja berlawanan!" Nico tidak setuju. "Lagipula, bukannya kau ingin pulang bersamaku?"

"Maki-chan!" kata Nozomi. "Kamu ada perlu dengan si bodoh itu, 'kan?"

Maki mengenggam erat lengan baju Nico sambil mengangguk.

Nico menghela nafas. "Huh, baiklah… ayo, jangan lelet, mbak tsundere gaje!"

Saat hendak berlalu, Maki berbalik dan tersenyum berterimakasih pada Nozomi yang memberinya kesempatan meskipun ia tak bisa memiliki ketua bodoh itu.

"Jaa, kalau begitu aku juga akan pulang," kata Takumi.

Langkahnya terhenti karena sang kekasih menarik lengannya. "Aku akan mengantarmu,"

"Bicara apa kamu? Ini sudah larut! Tak usahlah kau repot-repot mengurusiku!" seru Takumi sambil melepaskan genggamannya. "Kalau kamu ada apa-apa di jalan, gimana?!"

"Sesekali kita gantian, enggak apa-apa, 'kan?" kata Eri.

"Kau ini keras kepala seka—"

"Kashikoi kawaii Erichika ini 'kan sudah belajar dasar-dasar bela diri dari Sonoda-sensei!" sela Eri sambil membusungkan dadanya dan bertolak pinggang. "Makanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"

Takumi berbalik dan berjalan mendahuluinya. "Terserah kau saja,"

Takumi dan Eri pun berlalu.

"Lagi-lagi, Takumi-kun akan berpisah dengan orang yang dicintainya seperti waktu itu, ya?" celetuk Kazuya.

"Waktu itu, nya?" tanya Rin.

"Saat kakaknya, Izumi-onee-san keluar dari kediaman Sonoda untuk tinggal dengan suaminya," jelas Kotori. "Ditambah lagi, kepribadiannya yang tegas dan bisa diandalkan berubah 180 derajat,"

"Makanya, Takumi-kun begitu kehilangan sosok yang sangat dihormati dan dicintainya waktu itu karena kakaknya itu sudah menjadi panutannya dalam bushido," ujar Kazuya. "Sama seperti sekarang, dia akan sulit bertemu dengan Eri-chan yang sangat dicintainya,"

"Kasihan Takumi-kun," kata Hanayo sedih.

"Tapi menurutku, mereka akan baik-baik saja meski harus terpisah jarak dan waktu," kata Nozomi.

"Eh?"

"Selama ini, aku dan Nicocchi selalu memerhatikan mereka," ujar Nozomi. "Mereka sudah mempelajari banyak hal dan memahami satu sama lain selama hampir setahun ini makanya aku yakin mereka akan baik-baik saja,"

"Arigatou, Nozomi-chan," kata Kotori sambil bersandar di tembok.

"Eh? Ada apa tiba-tiba?" tanya Nozomi bingung.

"Kalau Nozomi-chan dan Nico-kun enggak pernah berusaha mendukung Eri-chan mungkin aku dan Kazuya-kun akan terus merasa bersalah pada Takumi-kun," ujar Kotori. "Karena kami seperti 'meninggalkannya' dan hubungan kami sebagai sahabat sejak kecil pun bisa jadi putus karenanya,"

"Bodoh, kamu ngomong apa, sih?" kata Nozomi. "Kalau mau berterimakasih maka katakanlah pada Ericchi,"

"Memang benar aku mendukungnya, namun hanya sebatas itu," ujar Nozomi. "Ericchi lah yang berusaha keras hingga Tacchan pun jatuh cinta padanya dan move on darimu, Kotori-chan,"

"Tapi biar bagaimana pun juga enggak masalah kalau kami berterimakasih padamu, bukan, Nozomi-chan?" kata Kazuya.

"Tidak hanya berhasil menyatukan Eri-chan dan Takumi-kun, tapi Nozomi-chan berhasil menyatukan kita bersembilan menjadi µ's, bukan?" tambah Rin.

"Mou… baiklah," kata Nozomi. "Douitashimashite,"


Eri dan Takumi berjalan dalam diam dengan Takumi yang kini berjalan di belakang Eri. Sepanjang perjalanan pemuda itu terus menunduk begitu pula dengan gadis bersurai pirang di depannya.

Bakka! Apa yang kupikirkan? Semakin lama aku bersamanya malah membuatku ingin terus menangis, bukan? Tapi jika harus berpisah dengannya pun aku… Eri bergumam hingga tak terasa ia kembali menangis sambil sesenggukan dan menghentikan langkahnya.

Bodoh! Aku benar-benar bakka Erichika… Eri merutuki dirinya sendiri yang dilema.

Tanpa mengucap sepatah kata apapun, Takumi memeluk Eri dari belakang dengan melingkarkan kedua lengannya di leher gadis itu.

"Maaf, maafkan aku, Takumi…" kata Eri sambil terisak. "Tidak seharusnya aku menangis lagi seperti ini, tapi aku… aku tak bisa menahan air mataku!"

"Mengingat sebentar lagi akan semakin sulit untuk bertemu denganmu… aku enggak tahan lagi!" seru Eri. "Meski aku tahu kita masih bisa terhubung melalui telepon, e-mail, dan media sosial, tapi aku… aku…"

"Eri, tolong lihat aku…" kata Takumi pelan.

"Eh?" Eri menoleh ke belakang dan Takumi pun mencium bibirnya.

Pemuda itu tak kalah sedihnya dengan Eri sehingga air mata membasahi kedua pipinya saat mencium gadis itu. Eri tidak meronta maupun menolaknya. Perasaannya sama dengan Takumi. Mereka berciuman menumpahkan segala rasa yang memberatkan hati.

Jalanan itu sepi sehingga memang tepat jika mereka memutuskan untuk melepas segala beban dalam benak mereka dengan ciuman itu. Bisa dibilang, ciuman itu adalah ciuman yang paling menyayat hati bagi keduanya meski bukan berarti itu adalah yang terakhir seolah mereka akan dipisahkan oleh takdir yang lebih ekstrim, seperti maut.

"Maaf, bolehkah aku memelukmu dulu seperti ini?" tanya Takumi.

"Ya, peluklah aku selama yang kamu mau, kekasihku," jawab Eri sambil bersandar di dada Takumi.


"Jadi, kamu ada perlu apa denganku?" tanya Nico pada gadis bersurai merah di sebelahnya.

"Maaf," kata Maki lirih.

"Hah?"

"Maaf, mungkin aku tak bisa menyampaikannya dengan baik," ujar Maki.

"Oh ayolah, aku tahu kamu enggak pintar ngomong," kata Nico santai.

"Aku… enggak membencimu," ucap Maki.

"Eh? Serius? Hanya itu?" tanya Nico.

"Ya, aku menyukaimu, Nico-kun," Maki pun menyatakan perasaannya.

"Maaf, Maki…" Nico merasa bersalah pada gadis itu.

"Enggak apa-apa, Nico-kun," kata Maki. "Aku tahu aku tak akan bisa memilikimu, tapi yang penting kamu tahu apa yang kurasakan terhadapmu,"

"Bukan begitu maksudku…" kata Nico sambil menunduk dan mengepalkan kedua tangannya.

"Eh?"

"Aku menyukai kalian berdua, baik kamu maupun Nozomi," jelas Nico. "Makanya saat Nozomi menyatakan perasaannya setelah live 'snow halation' waktu itu aku benar-benar bingung,"

"Karena niatku menjadi idol sungguhan aku berniat untuk tidak terlalu memikirkan apa yang kurasakan pada kalian berdua," lanjut Nico. "Tapi pada akhirnya aku benar-benar kepikiran,"

"Pada awalnya aku menolak Nozomi karena tak yakin dengan perasaanku. Selain itu, aku juga mana mungkin mengencani dua perempuan sekaligus, bukan? Mana ada perempuan yang mau diduakan, 'kan?"

"Aku menyukaimu, Maki," kata Nico sekali lagi. "Aku menyadari betapa banyaknya kesamaan antara diriku dan dirimu sehingga tanpa sadar kau terus ada dalam pikiranku,"

"Aku menyukaimu dan kupikir aku hanya perlu sampai di situ tanpa berusaha mengajakmu jadian," ujar Nico. "Kita baru saling mengenal sehingga aku takut akan menyakitimu bila aku mengajakmu jadian,"

"Lalu, pada akhirnya kamu memilih Nozomi karena sudah lama mengenalnya?" tanya Maki.

"Juga untuk membalas budinya karena telah banyak menolongku," jawab Nico.

"Tapi… apa kamu memiliki perasaan yang sama terhadapnya?" desak Maki.

Nico menghela nafas. "Lelaki kardus, itu kalau kata ABG zaman sekarang, ya? Hahahaha… aku… benar-benar lelaki yang kurang ajar, ya?"

"Jadi, sebetulnya kamu serius menjalani hubungan dengannya atau enggak, sih?" tanya Maki kesal. "Kalau Nozomi mendengarnya, aku yakin dia akan sangat sedih!"

"Ya, aku serius, kok," jawab Nico. "Tapi sepertinya aku harus belajar banyak dan lebih memahami tentangnya agar perasaanku semakin kuat terhadapnya,"

"Nih," kata Maki sambil memberikan amplop berisi surat yang akan diberikannya waktu itu.

"Hmm? Apa-apaan amplop lecek ini?" tanya Nico.

"Bodoh, itu surat cintaku untukmu," jelas Maki dengan wajah memerah. "Yah, walau isinya lebih seperti surat kematian, sih…"

"EEEEH?! Maksud lo?" tanya Nico merinding.

"Aku tadinya ingin meletakkannya di altarmu kalau kamu enggak bangun lagi waktu itu, haha…" ujar Maki. "Jadi, maaf saja kalau isinya agak sedikit menyinggung dirimu 'yang masih hidup' ini, oke? Hahaha…"

"Dasar kau ini," dengus Nico. "Yah, tapi terima kasih atas suratnya, akan kusimpan baik-baik,"

"Nee, Nico-kun?"

"Hmm?"

"Waktu aku patah hati karena melihatmu jadian dengan Nozomi, Tsubasa-san lah yang menghiburku," ujar Maki. "Dia juga mengatakan kalau pernyataan sukanya padaku di UTX itu bukan main-main,"

"Jadi, sekarang kau galau mesti gimana, gitu?"

"Un," jawab Maki sambil mengangguk.

"Baru ditolak kemudian ada seseorang yang menyatakan perasaannya padamu," kata Nico. "Yah, itu memang rumit, sih…"

"Bahkan dia bilang dia akan berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hatiku," tambah Maki. "Nee, Nico-kun? Apakah menurutmu aku bisa berpindah hati padanya?"

"Haaah… kita ini memang benar-benar mirip, ya!" kata Nico sambil meregangkan lengannya dengan menariknya ke atas. "Sepertinya hubungan kita enggak akan berhenti sampai di sini, ya, Maki?"

"Eh? Maksudmu?"

"Karena kita akan tetap jadi saudara yang saling menasihati satu sama lain, bukan?" jelas Nico. "Hora? Kita semua tergabung dalam satu keluarga, yaitu µ's, bukan?"

"Ahahahaha… benar juga," gelak Maki. "Kalau begitu untuk sekarang dan seterusnya aku mohon bantuanmu, ya, ketua bego?"

"Begitu juga denganku, ya, mbak tsundere gaje?" balas Nico.

Keduanya pun tertawa.