Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Looking Nowhere | January 3rd, 2012
Cast : Kyuhyun, Changmin, Yoochun, Jungsoo, Yunho dan cast lain menyusul
Genre : Horror | Crime | Romance
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini lanjutannya, chapter 1C. Tapi harus baca dulu chapter 1, 1A dan 1B. Okeee :D
.
.
.
.
The Time: Looking Nowhere | January 3rd, 2012
.
Tuesday
January 3rd, 2012
12:03 AM
Changmin memejamkan matanya ketika Yoochun mendorong tengkuk lehernya. Untuk memperdalam ciuman mereka. Jemari Changmin menekan Yoochun di pipinya, sedangkan tangan Yoochun yang bebas berada di pinggang lelaki yang lebih tinggi darinya beberapa senti—tetapi hal itu tidak mempersulit Yoochun ketika mereka berciuman. Changmin merasakan Yoochun mulai merebut lidahnya—dan napasnya. Yoochun semakin menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Yoochun. Menjilat dan menghisap seluruh bagian dari daging tak bertulang itu.
"Ahn... umphh..."
Changmin mendesah ketika Yoochun menciumnya semakin ganas. Yoochun mengarahkan jalannya mereka dan ketika mendekati ranjang, Yoochun segera mendorong tubuh Changmin hingga keduanya jatuh diatas ranjang—dengan Yoochun diatas tubuhnya. Yoochun menyelipkan tangannya ke dalam boxer Changmin—yang sejak tadi memang sudah mengenakkan boxer saja, begitupula dengan Yoochun. Dia menyentuh sesuatu di dalam sana. Membuat Changmin mengerang di tengah ciuman mereka. Yoochun menyeringai mengetahui kekasihnya sudah mulai terangsang.
"Mmphh... C-Chunh..."
Lagi-lagi desahan Changmin keluar dari dalam mulutnya. Hal itu semakin membuat Yoochun terangsang. Tangan Yoochun yang berada di tengkuk leher Changmin mulai beralih kearah nipple kiri Changmin, dan kemudian menekan tonjolan kecil yang sudah mengeras itu. Yoochun melepaskan ciumannya. Dia membiarkan Changmin untuk mengambil napas. Sedangkan bibir Yoochun segera turun kearah leher Changmin. Menjilatnya di beberapa bagian dan kemudian menghisapnya. Changmin menggeliat pelan. Walaupun dia sedang mencoba untuk mencari napasnya kembali, tangannya yang bebas menekan kepala Yoochun. Mengarahkan Yoochun kearah titik sensitif di lehernya. Yoochun menyeringai. Dia menggigit kulit dari leher jenjang itu dan menghisapnya kuat.
"Ahnnn... Chunh... Chunieehh..."
Desahan itu begitu memaksa Yoochun untuk berbuat sesuatu yang lebih dari ini. Yoochun mulai memijat tonjolan Changmin di bawah sana. Tubuh Changmin menggeliat mendapat sentuhan itu. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Yoochun. Mengajaknya untuk maju ke step yang lebih lanjut.
Yoochun menurunkan kembali mulutnya—lidahnya. Turun perlahan dari leher menuju dada Changmin. Yoochun mengarahkan mulutnya kearah salah satu nipple yang mengeras, dan kemudian menggigitnya kecil sebelum menghisapnya. Tubuh Changmin lagi-lagi bergelinjang nikmat.
"Ahnhh..."
Suara itu datang lagi dan membuat Yoochun semakin bersemangat. Di bawah sana, Yoochun mulai melepaskan pijatannya pada junior Changmin. Jemari Yoochun mulai beralih ke belakang twinsball Changmin, tepat kearah manhole-nya. Yoochun mengusap lubang itu dengan ibu jarinya, dengan gerakan memutar dan akhirnya dia memasukan dua jarinya ke dalam sana. Tubuh Changmin menegang—menggeliat. Changmin mengggigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang menembus dirinya—walaupun dua jari itu tentu saja lebih kecil daripada junior Yoochun—tetapi dia sudah dapat merasakan sakitnya. Rasa panas itu.
"Arkkhh... enghhnnn..."
Drrt... drrt... drrt...
Sebuah suara gesekan dari casing handphone dan permukaan meja kayu membuat Changmin sadar dari surganya. Dia segera mendorong tubuh Yoochun sehingga dua jari itu terlepas paksa dari dalam holenya—beruntung karena Yoochun belum memasukan kedua jari itu seluruhnya. Tubuh Yoochun terjatuh ke sampingnya. Changmin meringis pelan sebelum dia merangkak kearah meja nakas dimana handphonenya berada. Segera dia meraih handphone berwarna hitamnya dan mulai melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini.
Incoming Call
Park Jungsoo
Changmin segera menekan tombol hijau di layar touch screen-nya dan mulai menempelkan handphone itu di telinga kirinya. "Yeoboseyo," kata Changmin memulai.
Yoochun menggerutu pelan. Dia mengambil posisi duduk dan melihat Changmin-nya yang masih terlihat menggoda. Namun Changmin-nya kali ini lebih mementingkan teleponnya daripada dirinya yang sudah setengah jalan untuk memanjakan dirinya.
"Sekarang?" tanya Changmin kepada si penelpon. Terdapat beberapa jeda dan setelah itu Changmin mengangguk, yang Yoochun yakin anggukan itu tak dapat dilihat oleh si—pengganggu—penelpon. "Baiklah. Aku akan sampai disana sekitar limabelas menit lagi. Bye hyung."
Tutt
Telepon dimatikan secara sepihak. Changmin segera meletakkan handphone-nya kembali ke atas meja nakas dan berbalik melihat Yoochun. Dia merangkak kearah Yoochun dan mengecup bibirnya. "Mian ya?" tanya Changmin dengan senyumannya.
Yoochun tak dapat marah kepada kekasihnya. Dia hanya dapat tersenyum mengecup—melumat—bibir Changmin untuk yang terakhir. "Mau kuantar?"
Changmin turun dari atas ranjangnya. Dia berjalan kearah lemari dan mengganti boxernya yang sudah agak basah. Yoochun menelan ludahnya kasar melihat pemandangan telanjang seperti itu. Tetapi hanya sebentar. Changmin segera meraih celana jeans-nya dan sebuah kaos tipis berwarna ungu. "Tidak usah." katanya seraya memakai celana dan kaos itu. Changmin berbalik dan melihat Yoochun yang masih duduk diatas ranjang.
"Pakai jaket, Min. Kau mau naik apa? Motor atau mobil?" tanya Yoochun.
Changmin berjalan kearah cermin dan merapikan rambutnya. Dia meraih jaket berwarna putih miliknya di dekat cermin dan kemudian memakainya. "Pakai motor saja, hyung." jawabnya.
"Jangan! Pakai mobil saja! Salju diluar lebat sekali, Min. Lagipula kau mau kemana sih tengah malam seperti ini?" tanya Yoochun lagi.
Changmin berbalik dan tersenyum kearah Yoochun. "Tenang saja hyung. Aku hanya pergi menemui Jungsoo hyung di rumahnya."
Yoochun mengangguk mengerti. Dia melihat Changmin kembali berjalan kearahnya dan mengecup bibirnya.
"Aku pergi dulu ya, hyung."
"Jangan naik motor! Naik mobil saja!" perintah Yoochun.
Changmin berjalan kearah pintu kamar dan terkekeh. "Ne hyung. Arraseo."
.
.
The Time
Looking Nowhere | January 3rd, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Tuesday
January 3rd, 2012
12:26 AM
Changmin segera berlari masuk ke dalam pekarangan rumah dari pengacara yang merupakan teman baiknya. Dia merapatkan jaketnya ketika keluar dari dalam mobilnya. Udara diluar terlalu dingin dan menusuk. Changmin mengetuk pintu kayu bercat putih itu tiga kali, dan beberapa detik kemudian pintu terbuka. Memperlihatkan Jungsoo dibalik pakaian tidur malamnya.
"Masuk Min." kata Jungsoo tersenyum.
Changmin membalas senyumannya dan melangkah masuk ke dalam. Dia melepaskan sepatunya dan meletakannya di rak di samping pintu. Kemudian menutup pintu, berjalan mengikuti Jungsoo ke ruang tengah dan segera duduk di salah satu sofa yang kosong.
"Maaf Min menyuruhmu ke sini di pagi buta seperti ini."
"Gwenchana hyung." jawab Changmin.
Jungsoo melipat kedua kakinya—membuat kaki kirinya berada di atas kaki kanannya. Dia mengusap dagunya sebelum mengutarakan penyebab yang membuat dia harus menelpon Changmin beberapa hari yang lalu.
"Aku terpikir oleh ucapan Kyuhyun kemarin sore." kata Jungsoo.
Changmin mengangkat salah satu alisnya. "Tentang?"
"Sudah pasti tentang kasusnya, Min." Jungsoo memutar kedua bolamatanya. "Apakah dia mengalami gangguan kejiwaan?" tanya Jungsoo.
Changmin menggeleng mendengar jawaban itu. Dia mengerti pasti semua orang akan menanyakan hal yang sama ketika Kyuhyun menceritakan semuanya kepada orang yang tidak tepat. "Ani, hyung. Dia tidak gila."
"Lalu, mengapa dia mengat—"
"Tidak!" Changmin memotong kalimat Jungsoo. "Dia mengatakan kejujuran."
Jungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti. Dia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai merasa kedinginan. Bahkan pemanas ruangan sepertinya tidak bekerja dengan baik. "Apa maksudmu?"
Changmin tersenyum lagi. "Banyak yang tidak kita ketahui di dunia ini hyung. Kadang, dewa kematian yang mengambil alih segalanya. Mereka menyusunnya dalam sebuah permainan. Apakah hyung tahu?"
.:o~o:.
Tuesday
January 3rd, 2012
08:11 AM
"Apa kau tidur dengan baik?" kata Changmin memulai percakapan.
Kyuhyun mendongak melihat Changmin. Matanya memerah, rambutnya berantakan, dan dia benar-benar terlihat sangat kacau. Changmin tersenyum miris melihat pemuda yang duduk dihadapannya.
Kyuhyun menggeleng pelan menjawab pertanyaan Changmin. "Bahkan aku tidak tidur sama sekali, Min. Banyak yang menghantui pikiranku sekarang."
Changmin mengangkat salah satu alisnya. "Apa saja yang membebani pikiranmu? Mungkin aku dapat membantu."
Kyuhyun menggeleng lagi seraya membuang napas. Changmin benar-benar miris melihatnya. "Aku memikirkan Sungmin, diriku sendiri, dan juga untuk persidangan nanti. Bahkan Jungsoo hyung terlihat tidak mempercayai pengakuanku." katanya lemah.
"Kyuhyun, aku akan membantumu untuk memberikan semua alasan logis untuk persidangan nanti. Karena setelah persidangan itu kau sudah bukan menjadi tahanan polisi lagi, tetapi tahanan negara. Aku sudah mencoba semampuku, namun hasil yang baru kudapat masih sama seperti kemarin." Changmin menghela napas. "Tetapi aku akan tetap berusaha untuk membantumu."
Kyuhyun mengusap wajahnya yang terlihat semakin pucat. Dia menatap Changmin dengan mata yang agak bergetar. "Aku tak tahu Min..." dia mengusap hidungnya yang memerah menahan tangis. "...aku beruntung karena kau membantuku."
Changmin tersenyum. Dia menepuk bahu Kyuhyun pelan. "Tentu saja Kyu, aku akan membantumu. Kita teman sekarang."
Kyuhyun mengangguk seraya kembali mengusap wajahnya. Dia berusaha agar tak menangis. Agak tak terlihat lemah. Tetapi percuma, Changmin sudah melihat Kyuhyun sebagai orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Dan harapan Kyuhyun satu-satunya hanya Changmin. Hanya Changmin yang baru dikenalnya sejak beberapa hari yang lalu. Sejak kematian Sungmin.
"Apa kau ingin diperiksa Kyu? Kau terlihat sangat pucat sekarang—melebihi hari-hari sebelumnya. Kebetulan kekasihku adalah seorang dokter." kata Changmin.
Kyuhyun menggeleng seraya mengusap matanya. Dia berusaha untuk memperlihatkan senyuman tipisnnya—yang benar-benar terlihat memaksa.
"Jangan memaksakan diri Kyu. Kau sakit sekarang."
"Aku memang sakit sejak kematian Sungmin, Min. Entahlah bagian mana yang sakit, yang jelas dada ini terasa semakin sesak." jawabnya pelan.
Changmin tersenyum miris lagi. Dia meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. Bahkan mulai meremasnya agak kuat. Kyuhyun menatap kearah Changmin. Changmin menepuk tangan yang berada dalam genggamannya. Dia berusaha untuk memberikan semangat kepada namja itu.
"Kau pasti bisa melewati semuanya Kyu. Aku disini membantumu."
.:o~o:.
FF ini bakal dibuat kaya kehidupan asli. Jadi di tengah kasus juga, ya namanya manusia kan butuh kebutuhan lain, kaya YooMin couple tuh, kan butuh kebutuhan ranjang (?) hehe XD
Begini, saya tahu kalau chapter ini memang pendek *kabur
Tapi, inget, saya gak akan post ff ini tiap hari
Ff ini di post setiap waktunya (?)
Maksud aku, sekarang kan tanggal 3 Januari, jadi yang di post nyeritain pas tanggal 3 Januari. Yang kemarin kan nyeritainnya kehidupan Kyuhyun dll pas tanggal 2 Januari, jadi di post juga pas tanggal itu.
Dan kebetulan, saya masih menceritakan tanggal 4 Januari. Itu artinya besok ada chapter 1D. Tapi tanggal 5 Januari gak ada ya hehe XD
Okay, sekarang waktunya ngebacot
Reviewers nambah yayyy :D *jingkrak-jingkrak
Big thanks for MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin dan untuk semuanya.
Waktunya bales review :3
Tapi mian ya, ini untuk yang review di chapter 1B
BlackAngel : Yap. Changmin adalah Silent Boy hehe. Sekarang dia jadi Smiley Boy -,- apakah chingu menyadari kalau dia tersenyum terus sekarang? Wkwkwkw. Sipp, udah update nih.
kangkyumi : ohohoh thanks ya :D sip, sekarang aku jawab. Sebenernya gak ada kejadian janggal kaya gitu di dunia asli ini. Tapi kayanya kalau si dewa kematian ternyata baca fic ini, kayanya bakal ada deh *curi-pandang-ke-neraka*
HanRyuu : Ne hwaiting :3 gomawo ne~
Halcalilove12 : Ayoo ini udah update :D hm, kalau chapter belum bisa dihitung. Tapi seperti yang udah dijelasin di atas, aku bakal post ff itu setiap tanggal yang nyeritain ff ini (?) intinya biar ff ini kerasa nyata XD
Wonkyurity : Hehehe akhirnya ada yang menyadari *dziig. Gomawo ne :3 sipp, udah ada next chapie~
shakyu : Hehehe gomawo ne *hug. Oh, kalau YooMin couple tentu saja semenya itu Yoochun :D sudah terbukti kan di atas hoho
Cloud1124 : gomawo~ :3 ne gwenchana. Oke ini udah chap 1C
eunhee24 : hoho. Nah itu juga, saya juga agak miris liat Kyu yang disalahin kekekekek tapi saya seneng bikin dia kaya gitu *dicekekKyu* siiippp :D
Stella : Gwenchana kok :D itu ada NC *tapi dikit*. Sipp udah lanjut kok. Waw, ada juga yang kenal Tatu hahaha. Aku suka Tatu lho *gak-ada-yang-nanya
Cho Luna Kuchiki : Gomawo :D. Oh itu aku gak bisa jelasin, tapi lama kelamaan chingu juga bisa ngerti kok hehe. Oke, ini udah ada, maaf kalau pendek XD *kabur
WindaaKyuMin : hehehe asiikk, gomawo~. Siipp, aku buat kasus ini biar kaya nyata hehe.
Dan sekali lagi gomawo ne~
Inget, aku gak akan post tiap hari tapi aku post tiap tanggalnya biar ff ini kelihatan nyata oke ^^
Review? :3
