Hahaha... it took me quite really long time to accomplish this chapter
Maji gomen -_-
Mungkin ada beberapa momen yang diharapkan lebih oleh kalian (readers) di chap ini, tapi gue agak skip karena buntu ide (LOL). Oh ya, juga ada scene di mana gue sisipkan lagu dari serial lain, tapi bukan berarti pindah haluan jadi crossover, ya... karena ya gue pikir lagu itu mendukung dan pas banget untuk scene itu.
Err... untuk lebih jelasnya bisa kalian simak sendiri. Enjoy!
Prom Nite
"Ichi!"
"Ni!"
"San!"
"Yon!"
"Go!"
"Roku!"
"Nana!"
"Hachi!"
"Kyuu!"
"µ's… music start!" seru kesembilan remaja yang tergabung dalam grup school idol pemenang Love Live tahun ini.
Donna ashita ga matterun darou? Nante ne
(Boku wa) Bokutachi wa sukoshi zutsu tesaguri shi teta
Hagemashi atte butsukari atta tokide sae
(Wakatteta) onnaji yume o mi teru to
Mezasu no wa ano taiyou
Ookina kagayaki o tsukamaeru
Itsuka no negai e to chikadzuite
Hikari no naka de utaunda Sensation!
Kiseki sore wa ima sa koko nanda
Minna no omoi ga michibiita basho nanda
Dakara hontou ni ima o tanoshinde
Minna de kanaeru monogatari yume no Story
[Mabushii na!] [Ii na!] [Oide yo!]
[Ureshii na!] [Ii na!] [Motto ne!]
Hitotsu ni nare kokoro… KiRa-KiRa!
Usai menampilkan live 'KiRa-KiRa Sensation!', kesembilan remaja itu membungkukkan tubuh mereka satu per satu kepada para penonton sambil menyebutkan nama lengkap mereka. Mereka pun kembali ke backstage dan mendapati ketiga teman yang selalu mendukung penampilan mereka sejak µ's baru beranggotakan tiga orang hingga saat ini. Terdengar seruan dari para penonton yang meminta mereka untuk melakukan endcore. Mika, Fumiko, dan Hideko tersenyum sambil menunjukkan kostum yang telah mereka siapkan secara diam-diam sebelumnya untuk persiapan endcore seperti ini, misalnya.
Kazuya, Takumi, Kotori, Maki, Hanayo, Rin, Nico, Nozomi, dan Eri tak bisa menahan air mata mereka karena terharu dengan banyaknya orang yang mendukung mereka sampai mereka bisa sejauh ini. Mereka mengusap air mata mereka dan menerima kostum itu. Mereka pun kembali ke panggung untuk menampilkan endcore dengan lagu 'Bokura wa Ima no Naka de'.
"Hima…" kata Nico.
"Da…" sambung Eri.
"Na…" dan diakhiri oleh Nozomi.
Ujian akhir sekolah dan ujian masuk universitas telah selesai. Tinggal menunggu waktu hingga penyerahan ijazah kelulusan dan wisuda sehingga tak heran jika Nico, Eri, dan Nozomi begitu jenuh saking gabutnya.
"Ngobrol apa, nih, enaknya?" tanya Nico. "Aku bosan banget,"
"Hmm… kemarin kamu ikut ujian masuk ke universitas mana saja, Nicocchi?" tanya Nozomi. "Meski sudah 'di-tag' Fujimiya-san, kamu tetap lanjut kuliah, 'kan?"
"Oh, iya, lah. Tentu saja aku lanjut kuliah," jawab Nico. "Aku ikut ujian masuk ke universitas Sakata dan jurusan yang kuambil manajemen bisnis,"
"Wah, kamu enggak ikut ujian masuk ke universitas lain untuk cadangan?" tanya Eri.
"Kamu ngomong apa, sih? Universitas Sakata itu baru diresmikan jadi universitas negeri jadi persaingannya enggak begitu ketat," ujar Nico. "Aku yakin lulus, kok. Lagipula aku cukup percaya diri dengan kemampuanku di pelajaran ekonomi dan matematika berkat seseorang,"
Saat mengucap 'berkat seseorang' wajah Nico agak merona sehingga dia tak langsung menatap kedua lawan bicaranya. Yang merasa disebut pun hanya cengar-cengir karena merasa berguna untuk yang terkasih.
"Kalau kalian, gimana?" Nico balik bertanya.
"Kalau aku ikut ujian masuk universitas Okita dan universitas Echizen. Aku mengambil jurusan pendidikan anak usia dini di keduanya," ujar Nozomi. "Soalnya aku ingin jadi guru TK,"
"Wah, jarang, lho, ada orang sepertimu yang mengambil jurusan yang bukan untuk mengejar materi," komentar Eri. "Kamu memang cocok, sih, di bidang itu kalau menurutku,"
Nico hanya tersenyum karena kagum dengan pilihan kekasihnya itu. Gadis bersurai ungu itu tidak memikirkan jurusan apa yang akan cepat membuatnya kaya, namun dia lebih memikirkan untuk mengabdi pada profesi yang akan dijalaninya nanti begitu menyandang gelar sarjana. Tak heran bila Eri juga Nico terkagum-kagum pada Nozomi.
"Kalau kamu, Ericchi?" tanya Nozomi.
"Aku ikut ujian masuk universitas Takasugi dan universitas Aizen, lalu jurusan yang kuambil sama seperti Nico, yaitu manajemen bisnis," ujar Eri. "Soalnya, aku ingin membuka usaha toko aksesoris karena hobiku membuat kerajinan tangan,"
"Eh?! Kok, bedanya jauh banget, Eri?" seru Nico kaget. "Universitas Takasugi dan universitas Aizen itu 'kan bagai bumi dan langit!"
Eri menghela nafas dengan berat dan mengangkat bahunya. "Aku hanya menuruti apa kata ayahku,"
"Ta, tapi… lo 'kan pinter, Eri! Kenapa universitas cadangannya malah bukan universitas yang tergolong favorit?" tanya Nico.
"Maa… maa… Nicocchi juga tahu kalau papanya Ericchi itu saklek banget, 'kan?" kata Nozomi.
"O, oh, iya," kata Nico. "Maaf, Eri… aku ngomong seenaknya aja,"
"Hahaha, iya, enggak apa-apa," jawab Eri. "Yang kamu katakan memang benar, kok,"
Nico dan Nozomi tahu betul kalau Eri punya standar yang tinggi bahkan pada dirinya sendiri. Mereka tahu kalau Eri sebenarnya sangat ingin universitas yang dicadangkannya memiliki level atau akreditas yang tidak jauh berbeda dengan universitas Takasugi, tapi apa daya mereka tak tahu harus berkata apa.
"Ya, pokoknya kita sama-sama berdoa saja agar dapat pilihan yang terbaik dan kita inginkan," ucap Nozomi untuk memperbaiki suasana. "Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita mampir ke Kanda Myojin untuk berdoa?"
"Sebelum itu…" sela Inaba yang tiba-tiba ikut nimbrung. "Kalian enggak lupa kalau kita ada rapat untuk persiapan pesta Prom Night, 'kan?"
Wajah Nico tampak masam mendengarnya. "Aku 'kan enggak ikut, boleh lah aku langsung pulang?"
"Wah, jangan begitu, dong, Yazawa-kun?" Inaba mencoba membujuknya. "Ini 'kan untuk syukuran dan senang-senang selepas ujian,"
"Aku enggak tertarik, jaa," ucap Nico dingin sambil berlalu pulang.
"Haaaah…" Inaba langsung lemas karena kecewa.
"Kenapa kamu loyo begitu, sih? Bukannya acara itu enggak diwajibkan?" tanya Eri.
"Tentu saja aku lemes karena aku enggak ada teman lagi untuk diajak jadi MC saat Prom nanti," ujar Inaba. "Soalnya, Yazawa-kun itu salah satu teman seangkatan kita yang paling memorable semenjak berhasil mengubah pandangan orang-orang terhadapnya karena sukses memerankan Romeo di bunkasai,"
"Kami mengerti perasaanmu, tapi sepertinya Nicocchi punya alasan tertentu kenapa dia enggak mau ikut Prom," ujar Nozomi. "Aku akan coba tanyakan padanya nanti,"
"Benarkah? Terima kasih banyak, Toujo-san!" ucap Inaba.
"Tapi jangan berharap banyak padaku, lho…" kata Nozomi.
Cih, sudah kubilang kalau aku tak tertarik! Dia disuruh sama Inaba, apa?! gerutu Nico sambil membaca e-mail yang baru diterimanya dari Nozomi di apartemennya.
Ting tong! Bel apartemennya berbunyi. Nico beranjak dari sofa untuk membukakan pintu. Dia terkejut saat mendapati siapa di balik pintu, yaitu sang bunda dengan Nozomi.
"Konbawa, Nicocchi~" sapa Nozomi dengan riang seperti biasanya.
"Ngapain kamu?" tanya Nico dingin.
Bu Sora langsung refleks menyikut putra sulungnya yang badung itu. "Ahahaha… maaf, ya, anak tante memang kurang ajarnya enggak ketulungan dari dulu! Nah, yuk, kita masuk, Nozomi!"
"Permisi~" kata Nozomi sambil mengekori Bu Sora.
Kini, Nico dan Nozomi sama-sama duduk di sofa ruang tengah, sedangkan Bu Sora sibuk ke sana kemari membereskan barang-barangnya dan menyiapkan teh untuk tamunya.
"Kalian akhirnya jadian juga, ya? Omedetou," ucap Bu Sora sambil meletakkan cangkir-cangkir berisi teh di atas meja ruang tengah.
Nozomi hanya cengar-cengir, sedangkan Nico membuang muka demi menutupi wajahnya yang merona merah.
"Tante sempat khawatir kalian enggak ada kemajuan, lho," ujar Bu Sora. "Syukurlah, sekarang kalian sudah jadian,"
"Ya ampun, tante sampai sebegitu khawatirnya!" kata Nozomi sambil tergelak.
Nico hanya cuek saja membiarkan pacar dan ibunya asyik mengobrol sendiri. Di luar dugaan, pembicaraan mereka tak pernah ada yang menyinggung soal pesta Prom Night.
"Aku pulang dulu, ya, tante," kata Nozomi sambil memakai sepatunya.
"Ya, hati-hati di jalan, nak," balas Bu Sora. "Segera lah menuju rumahmu sebelum gelap, oke?"
"Tentu," jawab Nozomi. "Terima kasih banyak, tante,"
Setelah menutup pintu, Bu Sora menghampiri putra sulungnya yang tengah menyeduh susu untuk si bungsu, Kotarou.
"Nico, boleh bicara sebentar?" tanya Bu Sora.
Nico menghentikan pekerjaannya dan ikut duduk di sofa ruang tengah bersama ibunya.
"Ada apa, bu?" tanya Nico.
"Angkatanmu enggak mengadakan pesta atau sejenisnya untuk syukuran setelah selesainya semua ujian?" Bu Sora langsung bertanya to the point.
"A, apa, sih, bu? Mendadak menanyakan hal seperti itu," Nico berusaha menghindar. "Kalaupun ada juga enggak penting-penting banget,"
"Sudah, jawab saja, ada atau enggak?" desak ibunya.
Nico menyerah. "Iya, ada pesta Prom Night, bu,"
"Haaah… sudah ibu duga,"
"Aku tak mau ikut, bu," tegas Nico.
"Lho? Kenapa?" tanya ibunya yang agak kaget mendengarnya.
Nico tak menjawab dan hanya bisa menopang dagu dengan mata yang sendu.
Ibunya menghela nafas. "Nak, kamu tahu? Keadaan keluarga kita sudah tak sesulit dulu,"
"Adik-adikmu sudah mulai besar dan mandiri, pekerjaan ibu juga semakin baik keadaannya, tak ada yang perlu kamu khawatirkan,"
"Tapi, bu—"
"Berlaku lah seperti anak remaja pada umumnya, sayang," ucap Bu Sora sambil mengelus rambut Nico dengan lembut. "Jangan kamu tahan perasaanmu itu,"
"Berbeda dengan dulu, sekarang enggak ada lagi yang menindasmu, 'kan?" tanya Bu Sora.
Nico menggeleng. "Tidak, kok, bu. Sekarang aku sudah punya teman-teman yang baik,"
"Nah, kalau begitu untuk apa kamu menghindari pesta itu? Itu pesta yang dihadiri oleh tiga angkatan tahun ini, 'kan? Ini 'kan momen yang tepat untuk bersenang-senang dengan para adik kelasmu di µ's sebelum kamu lulus," ujar Bu Sora.
"Tu, tunggu! Ibu tahu dari mana soal pesta itu?" tanya Nico. "Jangan bilang Nozomi memanas-manasi i—"
"Bodoh, tentu saja dari lembar edaran ini," jawab ibunya cepat sambil menunjukkan selembar kertas yang telah lecek. "Kamu enggak pintar menyembunyikannya, sih… kalau kamu mau merahasiakannya dari ibu harusnya jangan kamu bawa sampai rumah, dong,"
"Tapi meski kamu berhasil merahasiakannya dari ibu, ibu yakin teman-temanmu akan berusaha keras untuk membujukmu agar ikut pesta itu," lanjut Bu Sora.
"Ya, ibu benar," kata Nico sambil tersenyum tipis.
"Jadi, bagaimana keputusanmu?"
"Aku akan ikut," jawab Nico.
"Jadi, begitulah…" Nico mengakhiri penjelasannya keesokan harinya di ruang klub perihal pesta itu.
Kazuya dan Rin langsung menghambur memeluk Nico dengan erat. "Yattaaaaa!"
"Oi! Lepaskan aku! Kalian ingin memelukku sampai aku semaput, apa?!" seru Nico.
Eri bangkit dari kursinya dan menepuk tangannya sekali. "Baiklah, bagaimana kalau disimpan dulu 'kya, kya'-nya?"
"Plis, lah… kita heboh juga enggak sampai teriak 'kya, kya' juga, nya…" kata Rin. "Kita belum 'belok', kok, Eri-chan…"
"Oh iya, µ's kebagian menampilkan drama musikal, ya?" kata Kazuya.
"Ya, dan teman-teman meminta kita untuk menampilkan lagu-lagu baik itu yang dibawakan oleh µ's, sub unit, atau unit tertentu dari Blu-Ray atau single, seperti 'soldier game', 'Garasu no Hanazono', dan lain sebagainya," jelas Takumi.
"Tapi sebelum itu cerita apa yang akan kita bawakan nanti?" tanya Kotori.
"Eh? Kita sendiri juga yang harus membuat ceritanya?!" tanya Hanayo dengan agak kaget.
"Lepas tangan banget nih anak-anak yang ngurus acara," keluh Maki. "Merepotkan banget, deh!"
"Bagaimana kalau kita menceritakan tentang µ's?" usul Nozomi.
"Tentang µ's?" kata kedelapan orang lainnya.
"Yap, kita bercerita mulai dari Kazu-chan yang memiliki ide untuk membentuk grup school idol demi menyelamatkan Otonokizaka dari penutupan sampai ke masa kini," jelas Nozomi.
"Lalu, di adegan tertentu kita sisipkan lagu-lagu grup kita, begitu, 'kan?" tambah Kazuya dengan bersemangat.
"Tepat sekali!" jawab Nozomi.
"Ano… apa kita perlu menceritakan tentang bagaimana jadiannya para pasangan di grup kita?" tanya Kotori.
"EEEEEH?!" respon Takumi, Eri, dan Nico dengan heboh dan wajah merah padam.
"Oh, boleh, boleh~" kata Nozomi setuju sambil tersenyum jahil.
"Seriusan lo?!" seru Nico.
"Toh, enggak ada guru yang ikut berpartisipasi di pesta ini, kok. Jadi, kalaupun mau bikin drama percintaan yang ada ciuman dan lain sebagainya juga no problem, hehe," ujar Nozomi. "Tanpa kita beritahu juga sebetulnya hampir semua anak udah pada tahu kalau Tacchan dan Ericchi, Kazu-chan dan Kotori-chan, serta aku dan Nicocchi jadian, bukan?"
"Ditambah lagi, perjuangan sampai masing-masing pasangan jadian juga enggak mudah, ya?" timpal Maki.
"Tapi, toh, apalah aku yang termasuk 'kubu ditolak dan kena PHP'? Hahaha…" lanjut Maki sarkastik sambil melirik si ketua bego.
"Gomen, Maki!" Nico langsung merapatkan kedua tangannya memohon ampun.
"Apalah aku yang mesti nunggu sampai dewasa dan direstui orangtua? Hahaha…" Hanayo juga enggak mau kalah sambil melirik Rin.
"Gomen, Kayo!" kali ini Rin yang memohon ampun.
"Wah, kalian langsung nikah, nih?" goda Nozomi. "Rin-kun gentleman banget, ya? Hahaha…"
Rin yang mendengarnya hanya tersipu malu.
"Baiklah, cukup bercandanya, oke?" kata Eri. "Yuk, kita lanjutkan diskusinya!"
Sepulang sekolah…
"Lho? Kamu belum pulang, Nicocchi?" tanya Nozomi begitu naik ke atap sekolah.
"Maa… begitulah," jawab Nico seadanya.
Nozomi pun ikut berdiri di sampingnya. "Masih kepikiran soal Prom?"
Nico hanya menghela nafas berat.
"Kali ini, kamu keberatan di mananya?" tanya Nozomi. "Ibumu sudah mengizinkanmu, biaya sudah ditanggung komite sekolah untuk seluruh siswa maupun siswi yang menghadiri acara itu, lantas kenapa kamu masih lesu?"
Nico diam saja dengan wajah memerah. Sepertinya dia gengsi untuk mengatakan alasan di balik kemurungannya.
"Iiiish… masa' sama pacar sendiri main rahasia-rahasiaan, sih?" dengus Nozomi sambil monyong saking gregetannya.
"Aku… enggak bisa berdansa," aku Nico pelan sambil memalingkan wajahnya.
"Hah? Apaan?" Nozomi sok-sok budeg.
"Ugh… harus banget kuulangi, apa?!" gerutu Nico yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Lagian, mana ada idol yang suaranya pelan macam liliput gitu, coba? Ew…" ejek Nozomi sambil memasang ekspresi jijik.
Nico berdehem. "Aku enggak bisa berdansa, puas? Silakan tertawa sepuasmu,"
Kedua mata Nozomi membulat kemudian ia tersenyum. "Jaa, bagaimana kalau kita latihan di sini sekarang?"
"Eh?"
Nozomi mengulurkan tangannya dan mulai menuntun Nico untuk mengikuti setiap langkahnya.
Take my hand, take a breath
Pull me close and take one step
Keep your eyes locked on mine
And let the music be your guide
Won't you promise me?
(Now won't you promise me?)
(That you'll never forget)
We'll keep dancing
(To keep dancing)
Wherever we go next
It's like catching lightning, the chances of finding
Someone like you
It's one in a million, the chances of feeling
The way we do
And with every step together
We just keep on getting better
So can I have this dance?
(Can I have this dance?)
Can I have this dance?
Take my hand, I'll take the lead
And every turn will be safe with me
Don't be afraid, afraid to fall
You know I'll catch you through it all
And you can't keep us apart
(Even a thousand miles can't keep us apart)
'Cause my heart is wherever you are
It's like catching lightning, the chances of finding
Someone like you
It's one in a million, the chances of feeling
The way we do
And with every step together
We just keep on getting better
So can I have this dance?
(Can I have this dance?)
Can I have this dance?
Oh, no mountain's too high and no ocean's too wide
'Cause together or not, our dance won't stop
Let it rain, let it pour, what we have is worth fighting for
You know I believe that we were meant to be! Oh!
It's like catching lightning, the chances of finding
Someone like you
It's one in a million, the chances of feeling
The way we do
And with every step together
We just keep on getting better
So can I have this dance?
(Can I have this dance?)
Can I have this dance?
Can I have this dance?
Can I have this dance?
Bagai adegan di mana Gabriella mengajari Troy berdansa dalam serial TV 'High School Musical', mereka berlatih berdansa di bawah lembayung senja yang memberikan nuansa romantis sambil berduet menyanyikan lagu berjudul 'Can I Have This Dance?' tersebut.
"Hmm? Ternyata kamu hafal juga lagu itu, ya, Nicocchi?" komentar Nozomi sambil mengakhiri latihan mereka.
"Maa… dulu sewaktu aku masih kecil, ibuku sering menonton berbagai macam serial TV yang salah satunya adalah 'High School Musical'. Mungkin itu penyebabnya aku lumayan hafal nada di lagu-lagu OST dalam serial itu meski dulu aku belum tahu bagaimana menyanyikan liriknya yang berbahasa Inggris itu, haha…" ujar Nico.
"Aku berpikir para aktor dan aktris dalam serial itu sangat hebat karena dapat berakting dan bernyanyi di waktu yang sama sehingga sejak kecil pun aku telah bermimpi ingin menjadi idol yang multi talent seperti mereka untuk membuat banyak orang tersenyum," tambah Nico. "Hahaha… lucu, ya?"
Nozomi menggeleng. "Enggak, kok. Menurutku, itu sesuatu yang mengagumkan,"
Nico dapat merasakan bahwa yang dikatakan gadis bersurai ungu itu bukan main-main sehingga dia cukup lega. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memandang sebelah mata terhadap apa yang dicita-citakannya.
"Lihat? Siapa bilang kamu enggak bisa?" kata Nozomi.
"Bodoh, itu 'kan karena aku dituntun olehmu," jawab Nico.
"Heh? Biasanya kamu menyombongkan diri, deh…" komentar Nozomi. "Apa besok akan turun salju gara-gara Nicocchi merendah, ya? Hahahaha…"
"Be, berisik, ah!" seru Nico kesal.
"Kalau begitu, bagaimana kalau sekali lagi?" tawar Nozomi.
"Huh, baiklah," jawab Nico.
Hari H, pesta Prom Night…
"Selamat malam, semuanya!" sapa Inaba dan Nico selaku MC dalam pesta malam ini.
Semua hadirin langsung bersorak heboh membalas sapaan kedua pemuda itu.
"Yaa… akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba juga, ya, Nico-kun?" tanya Inaba.
"Hah? Acara apaan?" balas Nico balik bertanya.
"Iiish… pesta yang sekarang kita adakan ini, lho, Nico-kun! Prom! Prom!"
"Heh? Segitu ditunggu-tunggunya, ya?"
"Ya, iyalah!" jawab Inaba sambil menepuk jidatnya.
"Enggak, sih… gue enggak segitu nunggu-nunggunya," kata Nico. "Malah kayaknya gue ditarik paksa agar mau ikut dan nemenin lo jadi MC supaya acara ini enggak 'krik', deh, hahaha…"
"Duh… jangan buka kartu gitu atuh, Nico-kun!" seru Inaba malu.
Semua hadirin tertawa melihat tingkah mereka, namun di antara sekian banyak orang itu ada yang sejak tadi sibuk memperhatikan penampilannya saking gugupnya.
"Enggak nyangka si ketua songong itu bisa ngelawak juga, ya, Ericchi?" kata Nozomi sambil menepuk gadis yang sejak tadi was-was tak karuan itu.
"Oh? Ah, iya, ya…" jawab Eri sekenanya.
"Dasar, dari tadi kamu sibuk ngapain, sih, Eri?" tanya Maki yang ikut nimbrung. "Gaunmu enggak ada bagian yang kurang bahan, kok,"
"Iya, tahu! Percaya diri lah sedikit, Eri-chan!" Kotori berusaha menyemangatinya.
"Un! Eri-chan sangat cocok mengenakan gaun berwarna biru muda itu!" timpal Hanayo. "Rasanya aku seperti melihat—"
"Cinderella, ya, 'kan?" sela Takumi yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Eri sambil menggenggam salah satu tangan si gadis seperempat Russia itu.
"Ta, Ta, Takumi?!" Eri tergagap-gagap karena orang yang paling diharapkan untuk tidak melihat sisi memalukan dari dirinya itu malah menampakkan diri.
"Takumi, apa-apaan dandananmu itu?" tanya Maki sambil menahan tawa.
"Pakai kacamata dan ponimu dirapikan dengan gel begitu, hahaha! Kamu lagi menyamar?" tambah Nozomi.
"Duh, bawel banget, sih, kalian!" gerutu Takumi.
"Nozomi-chan dan Maki-chan kayak enggak tahu aja kalau fans-nya Takumi-kun yang ganas-ganas itu ngebet banget ingin berdansa dengannya di pesta ini," kata Kazuya sambil berjalan menghampiri mereka dengan kedua tangan yang disilangkan di belakang kepala.
"Eh? Jadi, Takumi-kun beneran menyamar, nya?" tanya Rin.
"Iya, lah… namanya juga seleb-nya Otonoki," goda Kotori.
Mereka semua pun tertawa, kecuali Takumi yang makin manyun karena diledek terus.
Eri menarik kepala Takumi pelan agar sejajar dengan wajahnya. Ia membuka kacamata yang dikenakan pemuda itu dan mengembalikan style rambutnya seperti semula.
"Berhubung kamu sudah menemukan gadis yang ingin kamu ajak berdansa, maka tak apa jika aku membuka samaranmu, 'kan?" tanya Eri sambil tersenyum manis.
Wajah Takumi merona merah. "I, iya…"
Kemudian, Takumi mendekap gadis bersurai pirang itu. "Warna biru muda memang paling cocok untukmu, Eri. Kamu cantik sekali malam ini,"
Wajah Eri sukses bersemu merah kembali mendengar pujian sang kekasih. "Ma, makasih, Takumi…"
"Aku senang akhirnya kamu mengenakan setelan pakaian bernuansa terang," kata Eri.
"Hahaha… kau tahu lah konsultan fashion kita bawelnya seperti apa," jawab Takumi sambil melirik Kotori.
Takumi mengenakan setelan jas berwarna putih sedangkan kemeja dalamannya berwarna hitam ditambah dasi berwarna biru tua. Wajar saja jika dia harus menyamar tadi demi bisa selamat dari kejaran fans-nya karena penampilannya yang cukup mencolok.
"Awalnya memuji satu sama lain dan saling kesengsem," kata Nozomi. "Padahal udahannya cipokan juga di belakang panggung, hahaha…"
"Itu mah enggak usah ditanya lagi," timpal Kazuya.
"Betul banget, nya~" Rin ikut-ikutan.
"Kalian bertiga enggak bisa ya sehari aja enggak ngeledek orang?" gerutu Eri.
"Minta disabun banget mulut kalian bertiga ini," tambah Takumi.
"Maa… maa… sudahlah," Kotori dan Hanayo berusaha melerai.
"Makanya jangan pacaran kalau enggak mau di-bully, hahaha…" Maki ikut-ikutan meledek.
"Lu enggak usah ikutan, deh, mbak tsundere gaje!" kata Eri dan Takumi kompak.
"Kok, kalian ikut-ikutan manggil aku 'mbak tsundere gaje' kayak si ketua bego, sih?!" dengus Maki.
"Heh! Siapa yang lu panggil, 'ketua bego'?!" Nico yang entah dengan kekuatan apa bisa mendengar percakapan mereka dan jadi ikutan ribut.
"MC MAH DIEM AJA, DEH!" balas kedelapan anggota µ's itu.
"Etdah, kok, gue diperlakukan kayak anak tiri begini, sih?!" kata Nico.
"Duh, sudah, sudah! Daripada ribut enggak jelas seperti mereka, bagaimana kalau kita langsung mulai pesta dansa untuk mengawali acara pada malam hari ini?" Inaba berusaha menengahi.
"Maksud lo 'ribut enggak jelas' itu apa, ya, I-na-ba?" tanya kesembilan idol yang rusuh itu.
"Eh? Ya… gitu, deh?" Inaba berusaha agar enggak terlibat keributan lebih jauh.
"Music start!" seru Wada pada staff yang mengurus musik dan sound system.
"Sudahlah, ngelawaknya kita tunda dulu, deh, guys," kata Kazuya. "Yuk, Kotori-chan!"
Kotori menerima uluran tangan Kazuya sambil tersenyum lebar.
"Mohon bantuannya, princess-ku," kata Takumi sambil meraih tangan Eri.
"Apaan, sih? Lagi belajar ngegombal nih ceritanya?" balas Eri sambil menaikkan sebelah alisnya dan mulai berdansa dengan kekasihnya itu.
Takumi hanya tertawa mendengarnya. "Lho? Memang kenyataannya kalau kamu princess-ku, bukan?"
"Mou, berhentilah membuatku malu, Takumi!" dengus Eri.
Takumi tiba-tiba terdiam sejenak sambil memerhatikan wajah Eri dengan serius.
"Umm… ada apa, Takumi?"
"Perasaanku saja atau wajahmu terlihat lebih pucat dari biasanya, Eri?" tanya Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Pe, perasaanmu saja mungkin!"
"Masa'?" kata Takumi sambil menempelkan dahinya ke dahi gadis itu untuk memperkirakan kondisinya apakah ia demam atau tidak.
"Tu, tu, tunggu, Takumi! Kamu terlalu dekat!" seru Eri panik sambil berusaha menjauh.
"Apakah itu masalah bagimu?" tanya Takumi sambil menatap Eri lekat-lekat dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Eri tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membalas perkataan Takumi.
"Mou… bakka!" ucap Eri pelan sambil membenamkan wajahnya ke dada kekasihnya itu.
"Mungkin sebaiknya kita istirahat dulu," saran Takumi sambil melepaskan pelukannya. "Duduklah, aku akan mengambilkanmu teh dan kue,"
Eri pun duduk di salah satu kursi yang disediakan.
Aku bahagia telah menjadi kekasihmu, Takumi… kata Eri dalam hati sambil menahan air matanya yang hampir menetes karena terharu.
"Nih," ucap Takumi sambil menyodorkan sesuap chocolate cake dengan garpu. "Ayo, buka mulutmu,"
"E, eeeeh? Su, sudahlah, Takumi! Aku bisa makan sendiri, kok…" tolak Eri dengan halus. "Daripada itu… kok, cepat banget kamu ngambil kuenya? Kamu lari?"
Takumi tergelak. "Yah, mau bagaimana lagi? Aku khawatir sejak tadi kondisimu beda dari biasanya karena mungkin belum makan atau semacamnya makanya kupikir aku bisa membuatmu merasa lebih baik dengan mengambilkan manisan kesukaanmu,"
"Mou… kamu benar-benar berlebihan, deh!" kata Eri.
"Maka dari itu, buka mulutmu, dong," perintah Takumi lagi. "Aku yakin kamu akan lebih bersemangat memakan kuenya jika disuapi olehku, 'kan?"
"Diiih… pede banget, mas?" ledek Eri.
"Oh, enggak mau nih ceritanya? Ya sudah, kuenya kulempar ke wajahnya Kazuya saja, aaah…" balas Takumi iseng.
"Woi, kok, malah aku yang kena?" protes Kazuya dari jauh.
"Eh, tunggu, tunggu! Baiklah, aku mau!" seru Eri sebelum Takumi benar-benar serius dengan candaannya itu. "Tapi sisanya kamu yang habiskan, ya? Aku sedang enggak terlalu mood untuk makan yang manis-manis soalnya,"
"Wah, seorang Erichika bahkan bisa enggak mood memakan coklat?" goda Takumi. "Hahaha… sugoi, sugoi~"
"Tu, tunggu! Ugh… berhentilah menggodaku, Takumi!" dengus Eri.
Bugh! Nozomi yang berdiri di dekat pasangan Takumi-Eri pun menyikut Nico di sebelahnya dengan agak kasar.
"Oi! Apaan, sih, Nozomi?!" seru Nico kesal sambil memegangi pinggang yang barusan disikut pacarnya itu.
"Kamu sekali-sekali mencontoh Tacchan, dong!" kata Nozomi sebal dengan mulut yang penuh oleh kue. "Aku belum pernah melihatmu melakukan hal yang membuatku berdebar-debar semenjak first kiss itu! Humph!"
Nico memperhatikan bibir Nozomi yang belepotan krim. Lalu, dia berjalan mendekati Nozomi terus hingga gadis bersurai ungu itu terpojok ke dinding yang sekitarnya agak sepi dari para peserta Prom lainnya.
"Baiklah, kabedon? Agak jadul, sih… tapi untuk seorang ketua bego dan enggak peka macam Nicocchi melakukan kabedon saja sudah luma— ummph!" Nico menghentikan celotehan Nozomi dengan mencium bibirnya.
Meski sesaat, Nozomi dapat merasakan lidahnya sempat bersentuhan dengan lidah milik pemuda bermanik merah yang tengah 'menawannya' itu. Nico mencium Nozomi sambil membersihkan krim yang menempel di bibir gadis itu.
"Masih kurang?" tanya Nico sambil mencolek krim yang terletak agak jauh dari bibir gadis itu kemudian menjilatnya.
Bukan berdebar-debar lagi, ini mah jantungan namanya! kata Nozomi dalam hati.
Nozomi tidak tahu harus membalas apa. Wajahnya merah padam dan pikirannya terasa kosong. Singkat kata, konslet.
"Uwaaah… Nico-kun berani sekali!" komentar Hanayo yang mencuri-curi pandang dari sela-sela jarinya.
Rin memegang bahu kanan Maki dan berkata dengan sok keren, "Tenang, Maki-chan! Masih ada aku dan Kayo, nya! Makanya, ayo, kita berdansa bertiga, nyaaaa!"
"Diam kamu! Jangan buat aku terlihat makin ngenes di sini, cowok meong enggak jelas!" bentak Maki.
"Huweee… Maki-chan kejam, nya! Tolong aku, Kayoooo!" Rin bertingkah seperti anak kecil sambil bersembunyi di belakang Hanayo.
"Candaanmu juga agak kelewatan, sih, Rin-kun…" kata Hanayo.
"Eeeeh? Aku enggak bercanda, kok! Aku 'kan hanya ingin menghibur Maki-chan yang enggak punya pasangan untuk berdansa, nya!" ujar Rin dengan lugunya.
"Ahahaha…" Maki hanya bisa mengelus-elus dada karena perkataan polos Rin beberapa kali terasa 'jleb' di hatinya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau berdansa denganku, nona?" tawar seorang pemuda berambut coklat dengan topeng berbentuk kacamata yang biasa dikenakan di pesta Masquerade.
Ekspresi Maki dan Rin langsung terlihat aneh karena melihat penampilan norak bin lebay pemuda yang bernama tak lain adalah Kira Tsubasa itu.
"Wah, norak," komentar Maki dan Rin dengan datarnya.
"Duh, sadis banget kalian berdua," kata Tsubasa yang terlihat terpukul mendengar komentar kedua orang itu.
"Tsu, Tsu, Tsubasa-san! Tenang saja! Bagiku, kamu tetap terlihat keren!" ucap Hanayo dengan mata berbinar-binar.
"Hanayo-san…" Tsubasa tampak tersentuh.
"Walau penyamaranmu norak habis, sih!" lanjut Hanayo.
Gubraks! Sama saja ternyata.
"Heh? Kenapa kau bisa ada di sini, Tsubasa-san?" tanya Kazuya yang ikut nimbrung bersama Kotori.
"Yah, pesta Prom di UTX agak ngebosenin, sih," ujar Tsubasa sambil menggaruk tengkuknya. "Makanya, aku iseng saja main ke sini karena kudengar kalian juga mengadakan pesta Prom, hehe,"
"Daripada itu, kenapa kamu diizinkan masuk sama para siswa penerima tamu di depan?" tanya Maki.
"Kubilang saja, 'aku ingin menembak Nishikino Maki-san, komposer sekaligus member grup school idol kebangaan SMA Otonokizaka," begitu," jelas Tsubasa.
"Ba, ba, bakka nano?! Bisa-bisanya kamu ngeles sampai begitu!" ucap Maki dengan nada tinggi karena malu sekaligus kesal.
"Hahaha… enggak, kok! Aku hanya bercanda, Maki-san!" kata Tsubasa. "Aku bilangnya karena diundang oleh leader µ's, kok! Tenanglah, oke?"
Nico berdiri di antara Maki dan Tsubasa kemudian menepuk-nepuk bahu mereka. "Nah, kau dengar sendiri betapa niatnya Tsubasa, bukan? Bagaimana kalau kau terima ajakannya untuk berdansa sekali ini saja, Maki?"
"Ah, enggak apa-apa, kok, Nico-kun! Kalau memang itu mengganggu Maki-san maka aku akan kembali ke UTX saja," kata Tsubasa.
"Bodoh, apakah itu yang akan dilakukan seorang Kira Tsubasa?" balas Nico.
"Etto… aku hanya tak ingin membuat seseorang terganggu melihatku berdansa dengannya makanya—" Tsubasa berusaha menjelaskan.
"Ah, lama!" seru Nico yang sudah bukan main gregetannya sambil mendorong Maki hingga gadis itu jatuh ke pelukan Tsubasa.
"Tu, a, apa yang kau lakukan, ketua bego?!" seru Maki.
"Nah, ayo, kita lanjutkan berdansa dengan pasangan masing-masing, guys~" kata Nico cuek sambil menarik teman-temannya menjauh dari sana.
Maki menghela nafas berat. "Ugh…"
"Sudah kuduga, memang tak bisa, ya?" tanya Tsubasa.
"Aku… kesal padamu, Tsubasa-san," ujar Maki.
"Eh?"
"Meski aku terang-terangan menolakmu, kamu tetap tak pernah menyerah demi mendapatkan hatiku," lanjut Maki. "Dan itu benar-benar membuatku kesal,"
"Kalau begitu aku minta ma—"
"Sudahlah, itu bukan salahmu," potong Maki. "Untuk lebih tepatnya aku kesal pada diriku sendiri karena iri dengan kegigihanmu, Tsubasa-san,"
"Hanya karena ditolak dan tak bisa memiliki dia yang merupakan cinta pertamaku, aku langsung uring-uringan enggak jelas dan tanpa sadar marah padamu, Rin, juga teman-temanku yang lain yang berusaha menghiburku," jelas Maki. "Oleh karena itu, biarkan aku yang meminta maaf padamu,"
"Ya, tak apa-apa, Maki-san," jawab Tsubasa. "Setidaknya aku lega karena kamu tak sampai membenciku,"
"Kalau begitu, bagaimana jika kita mulai berdansa saja?" tawar Maki. "Karena kita tak tahu apakah kita masih bisa seperti ini di waktu yang akan datang, bukan?"
"Un, baiklah. Ayo, Maki-san," ucap Tsubasa sambil mengulurkan tangannya.
"Dengan senang hati," jawab Maki.
Kembali ke Takumi dan Eri…
"Eri… Eri… hei, Eri?" Takumi berusaha memanggil gadis yang terbengang-bengong itu.
"Eh, ah, ada apa?" Eri balik bertanya.
Takumi menatapnya penuh selidik. "Ah, baiklah, sepertinya kau memang sakit, Eri,"
"Aku akan jelaskan pada anak-anak acara bahwa kamu enggak bisa ikut main di drama nanti," kata Takumi sambil beranjak dari kursinya.
"Jangan!" seru Eri sambil menarik tangan Takumi.
"Kamu harus sadar kalau kamu tuh sakit, Eri! Aku paling enggak suka kalau kamu sok kuat begini!" balas Takumi dengan nada agak tinggi. "Kalau kamu sampai kenapa-kenapa, memangnya aku dan teman-teman lainnya enggak khawatir, apa?"
"Kumohon, Takumi… aku sudah sangat menantikan penampilan kita," ujar Eri. "Aku ingin bermain peran bersama kalian dan aku ingin berduet menyanyikan lagu spesial yang telah dibuatkan teman-teman untuk kita di penghujung drama musikal kita nanti,"
"Aku tak ingin melihatmu menyanyikan 'Storm in Lover' sendirian, Takumi," ucap Eri. "Aku ingin menyanyikannya bersamamu,"
Takumi menghela nafas. "Baiklah, namun pastikan jangan sampai dirimu terluka, Eri,"
"Ya, terima kasih, Takumi," jawab Eri.
"Otsukare!" ucap Kotori pada trio lily white yang kembali ke backstage usai menampilkan live giliran mereka.
"Oh ya, di mana Eri?" tanya Takumi sambil menerima sebotol air mineral dari staff.
"Iya, ya, sebentar lagi penampilan kalian, ya?" timpal Kazuya.
"Tadi dia buru-buru ke toilet," jelas Nico.
"Mungkin dia gugup karena akan berduet untuk pertama kalinya denganmu, Tacchan? Hehehe," tambah Nozomi.
Sebenarnya, Nico dan Nozomi berusaha menutupi sesuatu tentang apa yang sebetulnya terjadi pada Eri.
Sementara itu, Eri tengah melihat pengumuman hasil ujian masuk di salah satu bilik toilet.
Enggak, ini enggak mungkin, 'kan? kata Eri dalam hati begitu melihat hasil ujian masuk perguruan tinggi di smartphone-nya.
Bagaimana aku mengatakan hasil seperti ini padanya setelah berjanji seperti itu? gumam Eri sambil menangis tanpa suara.
"Ah, okaeri, Eri-chan!" sambut Kazuya begitu Eri kembali ke backstage.
"Ayo, sudah waktunya, Takumi," ucap Eri sambil menunduk untuk menyembunyikan kesedihan yang masih tersisa di wajahnya.
Dakkara nigecha dame
Obiecha dame
Mitsume aeba storm in lover…
Meski suasana hatinya kacau, Eri masih bisa membawakan lagu itu dengan baik bersama sang kekasih.
Begitu penampilan pasangan itu selesai, ketujuh member µ's lainnya ikut naik ke panggung dan memberi hormat kepada para penonton sebagai tanda usainya drama. Karena penampilan mereka sudah selesai, mereka diperbolehkan untuk pulang lebih dulu.
"Memakai seragam sekolah itu memang paling nyaman, ya! Untunglah kita enggak disuruh memakai kostum yang aneh-aneh saat drama tadi!" kata Kazuya.
"Cerita yang kita bawakan tentang µ's dan kehidupan kita di Otonoki, 'kan? Kurasa, seragam kita memang sudah lebih dari cukup untuk itu," kata Nozomi.
"Bagaimana kalau kita lanjut karaoke sebagai pesta Prom khusus µ's, nya?" usul Rin.
"Hei, hei, enggak sadar apa kalau sekarang sudah larut?" tegur Maki.
"Hahaha… jam delapan bagi anak mami itu masuk kategori 'sudah larut', ya?" ledek Nico.
"Apa katamu?!" seru Maki kesal.
"Bweeek!" ledek Nico sambil menjulurkan lidahnya.
Eri berjalan agak lambat sehingga dia berada agak jauh di belakang dari teman-temannya.
Langkahku terasa berat… ke, kenapa ini? Kepalaku pusing sekali… gawat… gumam Eri yang keseimbangan tubuhnya semakin goyah.
Takumi yang menyadari kondisi Eri segera mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Brugh! Untunglah, Takumi sempat menangkap tubuh yang nyaris menghantam tanah itu.
"Eri! Ericchi! Eri-chan!" Takumi dan teman-temannya menyerukan namanya bergantian.
Mereka kaget sekaligus panik melihat Eri yang tiba-tiba jatuh dan kesadarannya semakin memudar itu.
"Oi, bertahanlah, Eri! Eri!" seru Takumi.
Ah, gawat… suara mereka terasa semakin jauh… aku enggak bisa mendengar apa yang dikatakannya… Eri pun jatuh pingsan.
"Apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Hanayo.
"Baiklah, akan kuhubungi anak buah papaku!" kata Maki.
Takumi menahan tangan Maki yang hendak menelepon anak buah ayahnya. "Maaf, bolehkah aku saja yang merawatnya di apartemennya?"
"Tunggu, biar bagaimana pun Eri harus diperiksa! Kalau dia pingsan karena penyakit yang lebih parah, bagaimana?!" seru Maki.
"Kalau begitu, cukup minta anak buah ayahmu untuk memasangkan infus di apartemennya," ucap Takumi. "Eri hanya pingsan karena kadar gula darahnya rendah dan stress berlebihan,"
"Lagipula, aku ingin mencoba meringankan bebannya," ujar Takumi sambil membelai rambut sang kekasih dengan lembut.
"Aku setuju dengan Tacchan," kata Nozomi. "Bisa repot kalau ayahnya Ericchi tahu anak kesayangannya masuk rumah sakit gara-gara ikut pesta ini. Takutnya beliau salah paham dan malah menuntut pihak penyelenggara acara,"
"Tapi biar bagaimana pun juga—" Kotori yang sepikiran dengan Maki berusaha mengutarakan pendapatnya.
"Argh! Apa sih yang kalian khawatirkan? Nozomi sudah berteman dengan Eri sejak kelas satu! Makanya, dia tahu betapa over protective-nya bokapnya Eri itu, ngerti enggak, sih?!" ujar Nico kesal. "Lo juga udah pastikan Eri tumbang karena kurang makan, 'kan, Takumi?"
"Ya, ditambah sedikit demam," jawab Takumi.
"Baiklah, aku hanya akan minta tolong anak buah papa untuk memasangkan infus," ucap Maki sambil kembali sibuk dengan smartphone-nya.
Ngggh… di mana ini? Langit-langit ini… kamarku? gumam Eri sambil membuka matanya perlahan.
"Oh, syukurlah, kau sadar juga," ucap Takumi yang duduk di kursi yang ia tempatkan di sisi kiri ranjang.
"Kamu yang membawaku ke sini?" tanya Eri.
"Ditambah bantuan teman-teman yang lain, kok," jawab Takumi memperjelas. "Aku tak mau ayahmu khawatir jadi aku minta Maki agar kamu dirawat di apartemenmu saja,"
"Kamu enggak pulang saja? Ini sudah larut," kata Eri yang merasa tidak enak. "Aku takut ayahku salah paham melihatku berduaan dengan laki-laki begitu beliau pulang bersama ibu dan Arisa nanti,"
"Aku sudah izin pada ibuku jadi aku akan pulang setelah memastikan kamu makan dengan cukup dan minum obat" jawab Takumi. "Lagipula dari pesan yang ditempel ayahmu di pintu kulkas, mereka baru akan sampai di rumah sekitar dua setengah jam lagi,"
"Oh ya, tadi aku pinjam dapurmu untuk membuatkanmu bubur," ujar Takumi sambil menyodorkan sesendok bubur pada gadis itu. "Aku enggak akan pulang sebelum kamu menghabiskannya,"
Eri pun terpaksa menurut dan memakan bubur yang dibuatkan oleh Takumi. Setelah makanannya habis, ia pun meminum obat. Keduanya pun terdiam karena merasa canggung.
"Sekarang kamu bisa ceritakan padaku apa yang membuatmu begini, 'kan? Apa karena sesuatu yang kamu lihat di toilet sebelum kembali ke panggung tadi?" tanya Takumi.
Eri refleks menutup kedua telinganya dan membenamkan wajahnya di kedua lutut yang ditekuknya.
"Ceritakanlah padaku, Eri," bujuk Takumi. "Aku merasa bodoh karena tak tahu harus berbuat apa untuk membuatmu merasa lebih baik,"
"Hentikan, aku enggak ada masalah apa-apa," Eri berusaha mengelak sambil bersandar dan tidak menatap langsung kekasihnya itu.
Tanpa banyak bicara Takumi memeluk Eri dengan erat.
"Ta, Takumi?"
"Bodoh, kenapa kau merasa sulit untuk menceritakan masalahmu? Jangan buat aku semakin bingung, Eri," ucap Takumi setengah berbisik.
"Sudah kubilang, aku enggak ada masalah apa-apa!"
"Tentang pengumuman hasil ujian masuk, 'kan?" Takumi menebak tepat sasaran.
Eri terdiam.
"Apapun hasilnya, kau bisa ceritakan padaku. Aku tak akan berkomentar yang aneh-aneh makanya—"
"HENTIKAN," kata Eri dengan nada agak tinggi.
"E, Eri?"
"Maaf, aku ingin menyendiri dulu," ucap Eri lirih. "Ayo, kuantar kamu ke depan sekalian aku ingin mengunci pintu,"
"Kamu yakin tak mau mengatakannya?" tanya Takumi setelah mereka sampai di pintu.
Lagi-lagi, Eri hanya diam.
"Baiklah, semoga kamu cepat sembuh," ucap Takumi sambil mencium kening Eri. "Jangan sungkan untuk curhat padaku, Eri,"
Maaf, aku belum bisa memberitahumu, Takumi… ucap Eri dalam hati begitu Takumi berlalu.
Bagaimana sebetulnya hasil ujian yang diterima oleh Eri?
