Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Apologize | January 4th, 2012
Cast : Kyuhyun, Changmin, Yoochun, Yunho, Jungsoo, Heechul dan cast lain menyusul
Genre : Horror | Crime | Romance
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini chapter 1D
.
.
.
.
The Time: Apologize | January 4th, 2012
.
Wednesday
January 4th, 2012
01:14 AM
Changmin duduk di hadapan laptopnya sejak dua jam yang lalu. Bukannya dia belum puas dengan data kematian setiap pergantian tahun yang ditemukannya, tetapi dia menemukan sesuatu yang ganjil—walaupun kasus itu memang terasa ganjil. Dia terus menekuni layar laptopnya. Matanya sudah terasa perih—menginginkan istirahat. Tetapi dia mengacuhkannya demi kasus Kyuhyun. Demi Kyuhyun yang baru beberapa ini menjadi temannya.
Yoochun masuk ke dalam kamar mereka. Sejak Changmin pulang ke rumah dan langsung bercumbu dengan laptopnya, Yoochun memilih untuk menonton televisi di ruang tengah. Namun kali ini dia jengah. Dia bosan jika harus menikmati tontonan tengah malam yang disajikan di televisi. Karena menurutnya acara itu tidak mengasikan. Hanya diulang-ulang dari malam-malam kemarin. Yoochun menutup pintu dan berjalan mendekati Changmin di mejanya. Dia mengusap kepala Changmin dan kemudian mencium helaian-helaian rambutnya.
"Kukira kau tertidur di ruang tengah." kata Changmin.
Yoochun hanya tersenyum di balik kegiatannya menciumi rambut Changmin. Rambutnya wangi mint. Aroma yang sangat disukai Yoochun. Tetapi tentu saja Yoochun lebih menyukai aroma asli dari Shim Changmin. Ya aromanya ketika mereka sedang bergumul diatas ranjang, mungkin.
"Tidur yuk." kata Yoochun. Dia memperhatikan Changmin yang sibuk mengetikkan kalimat-kalimat yang tidak mau dia pahami di laptonya. Terlalu memusingkan bagi Yoochun sendiri.
"Ngajak tidur atau ngajak 'tidur'?" tanya Changmin jahil.
Yoochun terkekeh seraya mengusap pipi Changmin. Tangannya perlahan turun dari dada hingga ke perut Changmin. Dia menempelkan pipinya pada puncak kepala Changmin. "Tidur yang manapun aku mau." kemudian dia terkekeh.
Changmin tertawa pelan seraya masih mengetikkan sesuatu di laptopnya. Dia menatap layar itu dengan serius sedangkan Yoochun hanya menikmati aroma dari rambut Changmin. Namun, tangan Yoochun sudah mulai menyelinap masuk ke dalam bajunya.
"Aku masih sibuk, hyung." kata Changmin. Kemudian dia memukul tangan Yoochun yang mulai menuyentuh nipple-nya. "Jangan menggodaku."
Yoochun tertawa tanpa mau mengeluarkan tangannya dari balik kaos yang dikenakan Changmin. "Oh, Changminnie tergoda ternyata?"
Changmin tersenyum kecil. Dia menekan tombol titik pada keyboard—ketika kalimat terakhirnya sudah selesai—dan kemudian berbalik menghadap Yoochun. Yoochun terpaksa mengeluarkan tangannya dari balik kaos Changmin dan melepaskan pipinya dari puncak kepala namja tinggi itu. Changmin menatap Yoochun yang balik menatapnya.
"Bukankah kau sudah mendapatkan banyak info tentang kematian pergantian tahun baru—begitu kau menyebutnya. Benar, bukan?" tanya Yoochun pelan. Dia mengacak rambut Changmin. "Mengapa kau masih sibuk?"
"Kapan aku tidak sibuk, hyung?" tanya Changmin.
Yoochun berpura-pura berpikir. Dia menengadahkan kepalanya ke langit-langit. "Mungkin, sekarang?" dia mengembalikan pandangannya kepada Changmin dan mengedipkan sebelah matanya—menggoda.
Changmin terkekeh pelan. "Tetapi kenyataannya aku sibuk sekarang hyung."
"Oh my God, Shim Changmin. Tak tahukah kau bahwa aku sudah cukup tersiksa kemarin?" tanya Yoochun dengan wajah memelas.
Changmin tertawa—lagi. Dia menaikkan tubuhnya dan mencium bibir namja itu selama beberapa detik. "Aku janji ketika aku sudah tak sibuk. Okay? Sekarang, aku benar-benar harus membantu Kyuhyun."
.
.
The Time
Apologize | January 4th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Wednesday
January 4th, 2012
09:17 AM
Changmin kecil berjalan mengendap di dalam kelasnya yang sepi. Teman-temannya masih berada di lapangan, karena sekarang memang sedang pelajaran olahraga. Namun dengan alasannya yang mengatakan bahwa dia akan ke kamar kecil, dia bisa bebas dari pelajaran itu untuk beberapa saat. Bukan niatnya untuk tidak mengikuti pelajaran dari Kang seonsaengnim, tetapi dia mempunyai niat untuk mencuri sesuatu. Memang terdengar jahat, tetapi dia ingin tahu dengan isi curahan hati seorang Lee Sungmin. Namja manis yang selalu dianiaya oleh geng-nya. Dia cukup jahat karena tidak pernah menolong Sungmin ketika dibully oleh Thunder, Joon dan Mir—begitulah mereka akrab memanggilnya. Dia hanya diam saja.
Changmin menghampiri bangku di ujung ruangan. Tempat dimana Sungmin duduk seorang diri. Dia membuka ransel Sungmin dengan cepat dan mengoreh isinya. Setelah menemukan sebuah diary berwarna merah muda, dia segera menutup ransel itu kembali dan beranjak kearah bangkunya. Dengan cepat Changmin membuka diary itu. Mencari tulisan yang mungkin mengenai dirinya—tetapi lebih banyak mengenai geng-nya. Changmin tersenyum miris melihat tulisan yang sedikit luntur oleh sesuatu. Mungkin gara-gara... air mata?
Changmin membuka halaman demi halaman dengan cepat. Dia mencoba mencari sebuah tulisan yang mungkin dapat mengetuk hatinya. Dan akhirnya dia menemukan beberapa kalimat itu.
Hei, Shim Changmin, ah maksudku Silent Boy. Kau tahu? Aku berharap kau dapat membelaku karena aku pikir kita dapat menjadi teman. Tetapi lagi-lagi kau hanya diam. Kapan kau bisa mengatakan kepada teman-temanmu bahwa kita bisa menjadi teman—mungkin?
Cklek
Pintu kelas terbuka. Changmin segera memasukkan diary itu ke dalam tasnya yang memang terbuka pada saat itu. Dia gelagapan melihat siapa yang datang, namun dengan segera dia merubah mimik wajahnya menjadi dingin.
Changmin menutup seleting ranselnya dan kemudian bergegas berjalan kearah pintu. Dia mengacuhkan Sungmin yang menatapnya. Ketika satu langkah kakinya mencapai keluar, Changmin dapat mendengar bahwa Sungmin memanggil namanya.
"S-Shim Ch-Changmin..."
Tetapi Changmin hanya mengacuhkan panggilan itu dan hilang dari pandangan Sungmin.
Changmin tersenyum miris mengingat memorinya beberapa tahun yang lalu. Dia begitu menyadari bahwa dia terlalu jahat kepada Sungmin. Changmin melihat tulisan lain di diary itu—yang mengarah untuknya.
Hei, Silent Boy, terima kasih sudah menjengukku di rumah sakit. Aku tahu itu dari Heechul hyung. Kau memberiku bunga 'kan? Terima kasih. Bunganya indah—walaupun sudah mulai layu karena aku tak sadarkan diri.
Changmin menutup diary merah muda itu dan meletakkan kembali di dashboard mobil.
"Mianhae Sungmin."
Dia keluar dari mobilnya dan setelah itu menutup pintunya. Changmin menatap sebuah rumah mewah dihadapannya. Rumah yang kini diselimuti oleh duka. Changmin berjalan kearah pintu rumah dan menekan bel di samping pintu bercat putih itu.
Tett~ tett~
Dia menekan bel dua kali. Dia merasa berdosa untuk datang kesini. Bagaimana pun juga dia—gengnya—dahulu sudah membuat Sungmin pulang ke rumah dengan air mata dan telur di rambutnya, hampir setiap hari. Beberapa saat kemudian dia mendengar derap langkah seseorang dari balik pintu dan sedetik kemudian pintu terbuka. Nampaklah seorang namja yang Changmin perkirakan umurnya lebih tua darinya. Tentu saja, Changmin tahu orang itu tetapi dia berniat untuk pura-pura tidak tahu.
"Selamat pagi, Tuan." kata Changmin tersenyum. Dia mengeluarkan lencana NCIS-nya dan memperlihatkannya kepada pemuda itu—hanya sekedar untuk memberitahu siapa dia.
Pemuda itu menatapnya dari kepala hingga kaki. "Bukankah kau Shim Changmin?"
Glek. Changmin menelan ludahnya. Bagaimana namja ini masih bisa mengenalnya padahal dia hanya bertemu dengannya satu kali, ketika dia menjenguk Sungmin setelah kejadian tenggelam di danau dan memberikan sebucket bunga kepadanya. Bagaimana bisa?
"N-ne. Saya Shim Ch—"
"Kau masih bisa menampakkan wajahmu disini setelah belasan tahun yang lalu kau menyiksa adikku selama di sekolah dasar? Setelah kau dan gengmu membuatnya dituduh sebagai pembunuh? Apakah kau masih punya muka untuk datang kesini?" tampak kekesalan di wajah namja yang cantik itu.
Changmin tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang. Dia mengaku dia bersalah, tetapi bisakah dia mendapat kata maaf? Walaupun itu hanya sekali dia akan sangat mensyukurinya.
"Mianhamnida Heechul hyu—"
"Jangan panggil namaku!" Pemuda bernama Heechul itu memotong ucapan Changmin dengan kasar.
Changmin menatap Heechul takut. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia benar-benar tak pantas untuk berada di hadapan orang yang tengah berduka sekarang.
"Mianham—"
"Pergi sekarang juga!"
Changmin menunduk minta maaf. Dia tidak ingin membuat keributan disini. Dia hanya tersenyum miris dan mundur dari tempatnya berdiri.
"Pergi!"
"A-aku hanya ingin mengatakan bahwa aku turut berduka atas kematian Sungmin."
Heechul memukul pintu dengan tangannya. Dia penuh emosi sekarang. "Keluar sekarang juga!"
"Sekali lagi mianhamnida."
Changmin menunduk dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Dia sudah tahu bahwa dia tidak mungkin dimaafkan.
.:o~o:.
Wednesday
January 4th, 2012
10:11 PM
"Changmin, bukankah kau harus ke Singapore besok? Cepatlah tidur." kata Yoochun lembut.
Changmin menggeleng pelan. Dia memandang lagit dengan pandangan kosong. Mereka diam dalam beberapa saat. Dan semuanya dibuyarkan oleh pertanyaan Changmin selanjutnya.
"Apa kesalahanku memang terlalu sulit untuk dimaafkan, hyung?" tanya Changmin pelan. Dia menatap Yoochun yang duduk disampingnya—di balkon kamar mereka—dengan tatapan menyakitkan.
Yoochun menoleh dan kearah Changmin dan menatapnya miris. Dia mengusap pelan kepala namja tinggi itu. Changmin segera mengistirahatkan kepalanya di bahu Yoochun, menikmati sentuhan lembut itu. "Bukan tak bisa dimaafkan Min. Mereka baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka pasti masih terpukul Min. Kau datang di waktu yang tidak tepat."
Changmin menggeleng dan membuang napas. "Aku pikir aku memang tidak bisa dimaafkan hyung." Dan kemudian dia memejamkan matanya.
Yoochun mencium kening Changmin dan kembali mengusap kepalanya lagi. Dia kemudian menatap kearah langit gelap—berharap menemukan bintang—tetapi yang dia lihat hanya awan-awan yang memenuhi langit. Yoochun membuang napasnya perlahan.
"Mengapa kau membuang napas hyung?" tanya Changmin pelan.
Yoochun menoleh dan tersenyum melihat Changmin yang masih memejamkan matanya. Dia mencium kening Changmin lagi. "Aku hanya kasihan kepadamu Min. Kau sepertinya terlalu bermasalah dengan masalah Kyuhyun. Menurutku, kemarin-kemarin kau sudah melupakan kesalahanmu terhadap Sungmin, sampai akhirnya kau mengungkit masa lalu itu lagi. Semuanya gara-gara kau mengenal Kyuhyun, Min."
.:o~o:.
Saya juga tahu kalau ini pendek lagi
Mianhae~
Saya mau ingetin lagi,
Saya gak post ff ini tiap hari
Mianhae belum bisa bales review lagi, saya buru-buru
Beneran nih
Mianhamnida m(_ _)m
Yang pasti saya seneng karena reviewers sudah bertambah :D
Big thanks for MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin, Hayaka Koizumi, Hyorin, maxdisaster, widiwMin, minnie beliebers, Meong dan untuk semuanya.
Review? :3
