Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Give Up | January 10th, 2012
Cast : Kyuhyun, Changmin, Yoochun, Yunho, Jungsoo, Heechul, HaeHyuk, Yesung dan cast lain menyusul
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini (?)
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini chapter 1E
.
.
.
.
The Time: Give Up | January 10th, 2012
.
Tuesday
January 10th, 2012
07:31 AM
Changmin datang ke kantor NCIS dengan senyuman seperti biasa. Dia cukup bersemangat untuk sidang pertama Kyuhyun besok. Bukannya dia ingin melihat Kyuhyun tersiksa, tetapi sepertinya dari pihak NCIS dan kepolisian sendiri kewalahan untuk mencari barang bukti. Jadi, mungkin, akan ada kesempatan untuk Kyuhyun. Mungkin dia akan bebas dari segala tuduhan.
Changmin berjalan ke arah kantor di lantai tujuh. Dia menghampiri salah satu temannya di NCIS, dia begitu senang untuk berbincang—mengganggu. Dia menghampiri meja salah satu anggota NCIS, si pekerja-lapangan, begitulah Changmin menyebutnya karena memang itulah pekerjaan yang dilakukannya. Dia memukul meja itu keras dan tersenyum lebar.
"Pagi, Donghae hyung." katanya.
Lee Donghae—si pekerja-lapangan—itu tersentak kaget. Dia memukul lengan Changmin setelahnya.
"Astaga, Changmin! Kau ingin aku mati sekarang?" tanya Donghae kaget seraya mengusap dadanya.
Changmin hanya terkekeh. Dia mengeluarkan sebatang coklat dari saku celananya dan memberikannya kepada Donghae. "Jangan marah begitu hyung. Aku hanya ingin memberimu ini." kata Changmin.
Donghae menerimanya ragu, kemudian dia menatap Changmin curiga. "Sejak kapan 'Dewa Makan' sepertimu memberikan aku coklat?" Donghae mengangkat salah satu alisnya.
"Kalau tak mau, sini kembalikan!" pinta Changmin seraya mengulurkan tangannya.
Donghae menepis tangan itu. Dia segera menyembunyikan coklat itu ke dalam lacinya di bawah meja. "Hm, terima kasih." kata Donghae cuek.
Changmin merengut pelan. "Sudah syukur aku kasih coklat hyung. Itu dari Singapore lho."
"Aku tahu. Aku tahu. Sana, sana kau pergi. Terima kasih untuk coklatnya."
"Dasar ikan tak tahu diri!"
Changmin menggerutu keras. Dia melangkahkan kakinya menjauh dari meja Donghae setelah menjulurkan lidah kearahnya. Segera Changmin berlari kearah laboratorium dimana Kibum berada, sebelum Donghae berhasil melemparnya dengan sepatu.
"Ya! Tiang listrik!"
Changmin terkekeh mendengar teriakan itu. Changmin segera membuka pintu laboratorium dan masuk kedalamnya. "Hai Kibum hyung!" dia berteriak ketika melihat Kibum tengah serius dengan pekerjaannya.
Kibum menoleh dan kemudian memperlihatkan 'killer smile'nya. Kacamata berbingkai hitam yang dikenakannya agak melorot hingga ke ujung hidung. "Hei, Shim Changmin. Kau sudah pulang dari Singapore? Kapan?" tanya Kibum seraya menghentikkan aktivitasnya.
Changmin segera berjalan menghampiri Kibum. Dia mengeluarkan sebatang coklat dari sakunya—sama seperti yang dia berikan kepada Donghae—dan memberikannya kepada Kibum. Kibum menerimanya dengan senyuman.
"Thank you." kata Kibum. Dia meletakkan coklat itu di meja—yang jauh dari peralatan untuk menganalisa cipratan darahnya—dan kembali menatap Changmin. "Oh ya, kau ke Singapore bersama Mr. Shim 'kan? Apakah ada kasus aneh disana?" Kibum bertanya lagi walaupun pertanyaan sebelumnya belum sempat Changmin jawab.
Changmin menarik sebuah kursi yang menganggur di ruangan itu. Dia segera duduk dan menyandarkan bahunya disana. Kibum tersenyum—lagi—melihatnya. "NCIS Singapore meminta Ayah untuk datang dan membantu mereka dalam kasus pembunuhan berantai di hotel Kavier. Dan aku diminta untuk ikut. Kau tahu, melelahkan sekali bekerja selama lima hari disana." Changmin tersenyum dan merenggangkan otot tangannya. "Untungnya aku pulang tadi malam. Jadi aku bisa membantu Kyuhyun untuk mengurusi kasusnya—dan membantu Jungsoo hyung untuk sidang besok."
Kibum menyandarkan tubuhnya di salah satu meja—tempat dia meletakkan coklat dari Changmin. Dia melipat kedua tangannya di dada dan menatap Changmin tak mengerti. "Kyuhyun? Bukankah dia sudah keluar dari penjara?"
Seolah ada sesuatu ketika kalimat itu meluncur masuk ke dalam indra pendengarannya, Changmin sontak membulatkan kedua bolamatanya. "MWO?" dia berteriak keras, membuat Kibum harus menutup telinganya. Changmin segera berdiri dari duduknya dan menatap Kibum tak mengerti. "Ba-bagaimana bisa? Kenapa tidak ada yang mengabariku?"
Kibum melepaskan kacamatanya dan mengaitkannya di saku kemeja—jas putih—yang dikenakannya. "Ah, maaf, maksudku bukan dibebaskan, tetapi dia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa."
"APA?" kali ini teriakan Changmin lebih keras daripada sebelumnya.
Kibum menutup telinganya kembali ketika teriakan itu menyakiti gendang telinganya. Changmin segera berlari dari ruangan milik si pennganalisa cipratan darah—yang merupakan sahabatnya itu—dan meninggalkan Kibum disana. Kibum hanya mengangkat bahunya tak mengerti. Dia memilih untuk kembali memakai kacamatanya dan kembali mengerjakan tugasnya.
.
.
The Time
Give Up | January 10th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Tuesday
January 10th, 2012
07:43 AM
Bruk!
Changmin membantingkan tangannya di meja milik Yunho. Dia membuat sang pemilik meja itu tersentak kaget. Namun Changmin tak peduli. Dia menatap Yunho marah sekarang.
"Apa yang hyung lakukan kepada Kyuhyun?" tanyanya tak sabar.
Yunho—yang semula sedang membaca artikel tentang kasus pembunuhan baru—menatap Changmin dihadapannya. Dia meletakkan kertas-kertas itu di meja tanpa merapikannya. Dia menatap Changmin tak suka. "Bisakah kau lebih sopan kepadaku?"
"Hyung hanya perlu menjawab, apa yang hyung lakukan terhadap Kyuhyun?" tanya Changmin emosi.
Yunho terkekeh pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi empuknya. Dia sama sekali tidak takut kepada Changmin yang tak pernah terlihat marah sekalipun—dia selalu terlihat santai dan nyaman dengan senyumannya di sepanjang hari. "Aku tak melakukan apapun. Yesunglah yang melakukan sesuatu." kata Yunho santai.
Changmin mengangkat salah satu alisnya. "Yesung hyung? Dokter kejiwaan itu? Mengapa?" Changmin masih belum bisa merendahkan suaranya.
Yunho menatapnya dengan wajah menantang. "Sudah kukatakan kepadamu Shim Changmin, Cho Kyuhyun itu mengalami gangguan mental, ah, maksudku dia itu gila. Bahkan dia memang menunjukkan perilaku aneh selama beberapa hari ini—ketika kau pergi ke Singapore."
Changmin menatap Yunho tak suka. Dia muak melihat senyuman di bibir sahabatnya itu. Mau bagaimanapun Changmin yakin bahwa Kyuhyun tidak gila. Mana mungkin orang gila bisa bercakap secara nyambung dengannya?
"Sekarang hyung beritahu aku, dimana Kyuhyun berada?"
.:o~o:.
Tuesday
January 10th, 2012
10:44 AM
"Disini ruangannya Tuan." kata seorang suster di rumah sakit jiwa yang Changmin datangi sekarang.
Changmin mengangguk pelan ketika suster itu menunjukkan tempat dimana Kyuhyun berada. Setelah perjuangannya untuk menemui Kyuhyun kesini—karena dia terjebak macet di jalan—dia akhirnya dapat melihat sosok rapuh itu lagi. Suster itu menunjuk kearah box yang sejak tadi di pegangnya dari pintu masuk rumah sakit. Dia memberi isyarat kepada Changmin untuk melepaskan jam tangannya.
Changmin melepaskan jam tangannya dan meletakannya ke dalam box itu. Dan kemudian suster itu membuka mulutnya. "Bisa Anda masukkan semua benda yang Anda bawa? Maaf, tapi ini untuk keamanan pasien dan Anda sendiri." Changmin mengangkat alisnya—bertanya dalam komunikasi bisu tentang barang apa saja yang harus dia letakkan. "Handphone, gunting kuku, ikat pinggang, anting, kalung, cincin, gelang dan benda lain yang sekiranya bisa membahayakan."
Changmin menggerakan dagunya dalam gerakan kecil. Dia mengeluarkan benda-benda yang disebutkan tadi—tetapi hanya yang ia pakai dan bawa. Handphone, ikat pinggang dan kalung crossnya dia masukkan ke dalam box setelah melepasnya. Suster itu tersenyum. Dia menekan beberapa digit sandi di alat di samping pintu.
Changmin menyentuh bahu suster itu—untuk bertanya—sebelum pintu itu terbuka. "Err, boleh aku tahu, mengapa Kyuhyun ada di salah satu ruangan khusus ini? Apakah dia—"
Suster itu mengangguk sebelum Changmin menyelesaikan kalimatnya. "Dia sudah berupaya untuk mengakhiri hidupnya dua kali." jawab suster itu dan pintu terbuka. "Silahkan."
Changmin menatap suster itu tak percaya. Dia melangkah pelan masuk ketika suster itu memerintahkannya—sebelum pintu menutup secara otomatis—dan menatap suster itu tak mengerti. Namun, segera setelah dia melangkah, pintu tertutup dan dia berada di ruangan putih dimana Kyuhyun berada. Changmin tahu mengenai ruangan khusus ini. Di tempat ini sama sekali tak ada dinding yang keras, semua dinding yang mengelilingi ruangan itu empuk—setidaknya tidak bisa dijadikan tempat untuk bunuh diri dengan cara membenturkan kepala ke dinding berulang-ulang.
Changmin mengedarkan pandangannya dan menemukan Kyuhyun terduduk di ujung ruangan. Dapat dilihat Kyuhyun mengenakan pakaian pasien khusus rumah sakit jiwa—semacam pakaian putih selutut dan kebesaran. Kepala Kyuhyun dibalut oleh perban, dan juga salah satu pergelangan tangannya. Hal itu membuat Changmin memikirkan sesuatu yang terjadi selama dia tidak bertemu Kyuhyun. Changmin segera menghampiri sosok itu. "Ya ampun, Kyuhyun, mengapa kau bisa berada disini?" tanya Changmin bingung. Dia segera duduk dihadapan Kyuhyun yang menatapnya dingin.
"Hei, siapa kau?" tanya Kyuhyun, dan dia memulai dengan tawaan kecilnya.
Changmin mengerutkan keningnya tak mengerti. Dia menatap mata Kyuhyun yang terlihat kosong. "Kyuhyun..."
"Aku punya satu kelinci merah muda. Dia sangat manis dan—"
Changmin menggeleng pelan. "Kyuhyun..." panggilnya lembut.
Namun Kyuhyun hanya meremas pakaian berwarna putihnya dan menatap Changmin dengan tatapan aneh. Dia tertawa kecil. "Dan dia sangat lucu. Kelinci kecil yang lucu. Dia mempunyai—"
"Kyuhyun! Jangan bercanda!"
"—suara yang imut. Rupanya sangat cantik. Ah, dia tersenyum kepadaku dan—"
"Kyuhyun!" Changmin mengguncangkan bahu Kyuhyun berkali-kali, namun namja itu hanya tertawa—tawa yang terlalu menyakitkan untuk di dengar.
"—aku cinta kelinciku, dia benar-benar—"
Plak!
"Berhenti berpura-pura gila, Cho Kyuhyun!" Changmin segera menampar pipi putih pucat itu. Kyuhyun segera menghentikan tawanya. Dia menatap Changmin dengan tatapan nanar. Wajah Kyuhyun lebih pucat dan tidak karuan dari hari terakhir dia melihatnya. Changmin menatapnya miris. "Maafkan aku." katanya pelan. "Mengapa kau bisa berada disini?"
Changmin dapat melihat Kyuhyun membuang napasnya perlahan. Dia menggelengkan kepalanya lemah. "Ini gara-gara upaya bunuh diriku yang tak berhasil." jawabnya pelan.
Changmin menggeleng pelan mendengar jawaban dari sosok lemah itu. Suaranya begitu parau. Dia mengguncangkan bahu Kyuhyun lagi dan menatapnya tak percaya. "Astaga. Kau... kenapa kau menyerah secepat itu? Bahkan kita belum menghadapi sidang pertama."
Kyuhyun menggeleng pelan. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Min. Ketika kau tak datang menemuiku pada hari Rabu, beberapa polisi dan detektif terus memaksaku untuk mengakui kejahatan yang tak pernah aku lakukan. Bahkan si dokter kejiwaan itu juga memaksaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi kepada mereka, Changmin." katanya lemah.
"Apakah Yunho hyung juga memaksamu?" tanya Changmin lagi.
Kyuhyun mengangguk menjawabnya. "Begitulah."
"Aish! Harus kuberi pelajaran dia!"
"Sudahlah Changmin. Kau tahu, aku lebih baik mati daripada diam disini dan menyiksa diriku sendiri. Memikirkan kepergian Sungmin dan tak mendampinginya ketika dia benar-benar pergi dari dunia ini sangat menyiksaku, Min. Mati rasanya lebih baik." ucap Kyuhyun lirih.
Changmin menarik tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. Dia mencoba meyakinkan teman baru yang sudah dia anggap sebagai sahabat—walaupun terlalu cepat untuk menganggapnya seperti itu. "Kau seharusnya bersyukur karena kau masih diberikan waktu untuk hidup Kyu." Changmin menatap miris kearah kepala Kyuhyun yang terbalut perban dan juga pergelangan tangannya. Changmin tahu, pasti itu ulah dari percobaan bunuh dirinya. "Jangan menyerah, kumohon."
Kyuhyun menggeleng lemah dan kemudian menundukkan wajahnya. Dia sudah tak percaya pada harapan bahwa dia akan dibebaskan—setidaknya dia bebas dari penjara selama di rumah sakit jiwa. Tetapi dia lebih memilih untuk dibebaskan dari dunia ini. Dia tidak suka hidup disini sendiri.
"Hei, hei Kyu. Lihat aku." perintah Changmin. Kyuhyun menaikkan wajahnya dan menatap Changmin. Changmin menggenggam tangan itu semakin erat. "Kau harus percaya bahwa kau bisa. Kau tak sendiri. Aku disini membantumu. Jangan berpikir bahwa kau akan kalah, berpikirlah kalau kau akan menang. Aku percaya kau tak melakukan satu kejahatan apapun. Maka dari itu buktikan kepada mereka. Jangan menjadi pecundang seperti ini Cho Kyuhyun." Changmin tersenyum kepada Kyuhyun. "Percayalah padaku."
Kyuhyun menatap Changmin ke dalam matanya. Kali ini Kyuhyun yang pemberontak terlihat sangat lemah dan rapuh. Dia butuh bantuan. Dia butuh teman. Changmin melepaskan genggaman tangannya dan segera merengkuh tubuh kurus itu ke dalam pelukannya. Dia memeluk Kyuhyun agar Kyuhyun mengerti bahwa dia tak sendiri menghadapi kasus ini. Kyuhyun hanya terdiam dalam pelukan Changmin. Dia tak bisa membalas pelukan itu. Dia tak bisa melakukan apapun. Yang terjadi dalam benaknya sekarang adalah pertarungan antara percaya atau tidak.
"Maaf Min, aku tak bisa."
.:o~o:.
Sekali lagi maaf kalau yang ini juga belum di bales reviewnya
Saya mau sekolah dulu ya
Dan oh, besok ada chap selajutnya jadi tunggu ya :D *readers : gak mau
Big thanks for MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin, Hayaka Koizumi, Hyorin, maxdisaster, widiwMin, minnie beliebers, Meong dan untuk semuanya.
Review? :3
