Promise Me
"Untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada para kakak kelas dan hadirin sekalian dengan berharap urusan kalian di masa yang akan datang tetap berjalan dengan lancar maka kami persembahkan pada kalian…" ujar Kazuya.
Maki duduk di kursi piano dan mulai memainkan lagu yang dimaksud dan Kazuya menyanyikan larik pertamanya.
Aishiteru banzai! Koko de yokatta
Watashi tachi no ima ga koko ni aru
Aishiteru banzai! Hajimatta bakkari
Ashita mo yoroshiku ne
Mada gooru ja nai
"Saa!" seru Maki yang kemudian disambung oleh Takumi dan Kotori.
Daisuki da banzai! Makenai yuuki
Watashi tachi wa ima wo tanoshimou
Lalu, disambung oleh Rin dan Hanayo.
Daisuki da banzai! Ganbareru kara
Kinou ni te wo futte
Hora mae muite
Para member kelas tiga yang mendapatkan kejutan berupa lagu spesial tersebut memandang keenam member yang merupakan kouhai mereka secara bergantian dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena tak kuasa menahan rasa haru.
"Semuanya, ayo, kita nyanyikan sama-sama!" seru Kazuya.
Para hadirin yang menghadiri acara pelepasan siswa-siswi kelas tiga itu pun ikut bernyanyi dengan 'lalalala' sesuai dengan irama lagu. Para anak kelas tiga tak mampu menahan air mata mereka sehingga suasana haru memenuhi gedung aula.
"Nico, Nozomi," panggil Takumi sebelum keduanya beranjak dari ruangan.
Saat itu, Eri sudah meninggalkan mereka entah ke mana dan kenapa. Nampaknya Eri masih ingin menyendiri.
"Ada apa, Tacchan?" tanya Nozomi.
"Tolong jangan rahasiakan apapun dariku," sorot mata Takumi begitu serius. "Kalian pasti tahu hasil ujian masuk yang diterima Eri hingga membuat dia ngambek enggak jelas begini,"
Nico dan Nozomi saling pandang.
"Sebelumnya kami minta pengertianmu dulu, ya, Takumi," kata Nico kemudian. "Tolong, kamu jangan marah dulu,"
Takumi menaikkan sebelah alisnya Karena bingung.
"Kami bukannya ingin main rahasia-rahasiaan, tapi karena kami paham apa yang dirasakan oleh Ericchi maka maaf saja kami enggak bisa memberitahumu," ujar Nozomi.
"Kami merasa enggak enak kalau asal memberi tahu tanpa seizin Eri," tambah Nico. "Jadi, ada baiknya kamu coba simpulkan sendiri bagaimana hasil ujian yang diterima pacarmu itu,"
"Tunggu, jangan bilang dia gagal di keduanya?" kata Takumi.
"Umm… yah, kamu tanya langsung ke Ericchi saja, deh," jawab Nozomi. "Jaa nee, Tacchan!"
Nico dan Nozomi pun berlalu.
Maa… mungkin mereka takut aku bakal menceramahi Eri dengan blak-blakkan sampai segitu menutup-nutupinya, ya? pikir Takumi.
Takumi pun mengelilingi areal sekolah untuk mencari kekasihnya itu.
"Haaah… ternyata kamu di sini dari tadi," ucap Takumi begitu naik ke atap sekolah dan mendapati gadis bersurai pirang yang tengah melihat pemandangan di sela-sela pagar.
Takumi berjalan menghampirinya dan berdiri di sebelahnya.
"Ano, saa… aku tahu kamu belum atau bahkan enggak mau menceritakannya padaku, tapi dari tingkahmu setidaknya aku tahu bagaimana hasil yang kamu dapatkan," ujar Takumi.
"Apa maksudmu?" tanya Eri.
"Etto… mungkin aku terkesan sok tahu dan agak kurang ajar untuk menasehatimu karena aku setahun lebih muda darimu," lanjut Takumi. "Kau tahu, Eri? Satu kegagalan dalam hidup bukan berarti dunia telah kiamat untukmu,"
"Di balik kegagalan ada hikmah yang bisa kita ambil, yaitu kita masih bisa menjadi atau mendapatkan yang lebih baik lagi karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya," kata Takumi. "Makanya, jangan terlalu bersedih karena kamu masih punya banyak kesempatan untuk meraih yang lebih baik di hari esok,"
"Baiklah, aku mengerti," ucap Eri sambil duduk di atas lantai dan menekuk kedua lututnya. "Aku akan ceritakan hasil yang kuterima itu,"
Takumi ikut duduk di sebelahnya sambil membuka telinganya lebar-lebar.
"Aku… gagal masuk ke universitas pilihan pertamaku, universitas Takasugi," ujar Eri. "Namun, aku lolos di pilihan keduaku, universitas Aizen,"
"Begitukah? Selamat, ya," ucap Takumi. "Seenggaknya kamu 'kan enggak gagal di keduanya, bukan?"
"Tapi… aku sama sekali enggak merasa senang," suaranya terdengar bergetar menahan rasa frustasinya.
"Kenapa?"
"'Kenapa', hah? Bukankah sudah jelas? Aku kesal karena pilihan keduaku bukan universitas yang selevel dengan Takasugi! Ditambah lagi, aku malah lolos di sana! Tak bisakah kamu bayangkan betapa kerasnya aku belajar, tapi aku malah berakhir di Aizen?" Eri meluapkan kemarahan dan kekecewaannya.
"Seandainya… seandainya saja ayah tidak menentukan universitas Aizen sebagai cadangan… aku enggak mungkin sekesal ini, Takumi!" isak Eri.
"Aku menantikan wajahmu yang berseri-seri begitu tahu diriku diterima di universitas favorit karena berhasil mengimbangi belajar dan pacaran, namun nyatanya… aku…" Eri menangis tersedu-sedu.
Mungkin bagi sebagian orang, Eri terlihat seperti gadis yang tidak tahu bersyukur dan sombong karena masih banyak orang di luar sana yang bahkan bisa saja tidak lolos satu pun dari semua ujian masuk yang diikuti. Tapi bila dipikir lagi sebetulnya Eri tak sepenuhnya salah. Semua orang tentunya mau diterima di perguruan tinggi favorit setelah belajar dengan keras selama tiga tahun. Terlebih, bila dia termasuk pandai dan sudah seharusnya mampu untuk mengenyam pendidikan di sana.
Tidak pernah puas dengan hasil yang didapat itulah sifat alami manusia. Eri menyesal karena diterima di universitas yang tak diinginkannya yang seenaknya ditentukan oleh ayahnya tanpa diberi kesempatan untuk berkompromi agar boleh memilih universitas yang setidaknya levelnya tak jauh dari yang di pilihan pertama.
"Sekarang kutanya, kamu kuliah untuk cari kerja atau sekedar pamer status?" tanya Takumi.
Eri terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Maaf, ya, bila aku terkesan menggurui," ucap Takumi. "Semua yang diajarkan di bangku kuliah di universitas mana pun itu sama, Eri. Memang, secara level atau akreditas mungkin berbeda-beda, tapi tujuannya tetap sama, yaitu untuk bekal mencari kerja, bukan?"
"Kalau memang akreditas jurusan di universitas Aizen masih rendah, ya tinggal bagaimana kamu mengakali agar bisa mendapat pekerjaan dengan cepat tanpa terpaku pada hasil di surat kelulusan nanti, 'kan?" lanjut Takumi. "Seperti mengasah skill-mu di bidang lain untuk menambah poin plus dalam dirimu, misalnya?"
"Jadi, jangan sedih lagi, ya?" kata Takumi sambil mengusap air mata Eri. "Tuhan pasti punya rencana terbaik buat kamu,"
"Lepaskan semua rasa kesal dan kekecewaanmu, kemudian terimalah apa yang telah kamu dapat dan jalani dengan sepenuh hati," lanjut Takumi. "Aku yakin, walau kamu berkuliah di universitas yang bukan favorit, kamu akan mendapatkan hasil yang terbaik jika kamu niat dan ikhlas,"
Eri terbengang-bengong melihat sosok Takumi yang begitu dewasa.
"Ah, go, gomen! Sepertinya aku terlalu banyak bicara…" kata Takumi yang merasa canggung.
Eri menggeleng dan tersenyum. "Tidak, terima kasih banyak, Takumi,"
"Un, sama-sama," jawab Takumi sambil membalas senyumannya.
Keduanya pun saling diam untuk sesaat.
"Universitas Aizen, ya? Kudengar fakultas pendidikan gurunya cukup bagus," kata Takumi kemudian.
"Kamu mau jadi guru?" tanya Eri.
"Ah, lebih tepatnya seorang instruktur atau pelatih untuk bela diri tradisional," jelas Takumi sambil menggaruk tengkuknya. "Aku ingin meneruskan ajaran di dojo klanku karena satu-satunya pewaris hanya tinggal aku setelah aneue menikah dan meninggalkan dojo,"
"Kupikir kamu juga ingin hidup bebas begitu dewasa seperti kakakmu," kata Eri.
"Enggak, lah. Kalau bukan aku ya siapa lagi yang akan meneruskannya? Tentu saja, aku harus bertanggung jawab," jelas Takumi.
"Kamu enggak merasa terbebani?"
"Tentu saja tidak, aku sudah mencintai semua yang diajarkan oleh keluargaku di dojo sejak aku masih kecil hingga saat ini," ujar Takumi. "Makanya aku ingin banyak orang ikut mempelajarinya agar tahu betapa luar biasanya ajaran kesenian tradisional dan bela diri yang kucintai itu,"
Eri tersenyum. "Un, aku yakin kamu akan menjadi guru yang hebat,"
"Oleh karena itu, aku akan belajar sungguh-sungguh agar bisa masuk ke universitas Aizen, Eri," tukas Takumi. "Jurusan pendidikan di sana sangat bagus. Sudah kuputuskan, aku akan masuk ke sana,"
"Ta, tapi dengan prestasimu itu kupikir sebaiknya kamu melanjutkan ke universitas yang levelnya lebih tinggi, 'kan?" saran Eri.
"Aku tak peduli soal level atau akreditas, Eri," tegas Takumi. "Aku hanya ingin terus bersamamu,"
Wajah Eri merona merah. "Mou… apa, sih?"
"Agar kita bisa saling menyemangati juga, bukan? Memangnya kamu enggak mau satu kampus denganku?" tanya Takumi sambil nyengir.
"Hahaha… bohong kalau kubilang enggak mau, sih," jawab Eri.
"Sekalian mengawasimu takutnya naksir cowok lain, hahaha…" tambah Takumi.
"Sudah kuduga, ampun, deh, kamu ini…"
"Aku serius soal perasaanku padamu, Eri," ujar Takumi. "Mungkin aku terdengar egois dan posesif, tapi itu lah kenyataannya. Aku serius mencintaimu,"
"Un, terima kasih, Takumi," ucap Eri yang kembali meneteskan air mata haru. "Dasar, padahal tadi aku sudah berhenti menangis…"
Mereka berdua berdiri dan saling berhadapan.
"Kalau ada yang enggak kumengerti, aku boleh datang ke apartemenmu untuk minta diajari, 'kan?" tanya Takumi.
"Bodoh, untuk apa juga aku melarangmu?" balas Eri. "Akan kupastikan kamu belajar sekeras mungkin jadi bersiaplah untuk kelas khusus Erichika-sensei nanti, oke?"
Keduanya pun tertawa. Angin berhembus dan menerbangkan bunga-bunga sakura yang mekar membuat sepasang kekasih itu bagai ditelan lautan berwarna pink itu.
"Kamu masih punya sesuatu yang belum diberikan padaku, bukan?" tanya Eri sambil menutup matanya dan berpegangan pada bagian dada seragam Takumi.
"Ya, dan tentunya ini bukan sebagai tanda perpisahan," jawab Takumi.
Mereka berciuman di antara bunga-bunga sakura yang berterbangan. Ciuman itu bukanlah akhir dari kisah mereka atau pun perpisahan. Ciuman itu adalah awal dari kisah yang baru untuk si pemanah tampan dan ballerina yang anggun itu. Yang tentunya, hanya Tuhan yang tahu.
Takumi mengambil salah satu bunga sakura dan menyelipkannya di rambut Eri seperti jepit rambut. "Selamat atas kelulusanmu, Eri,"
"Apapun yang akan terjadi nantinya aku tak tahu, namun perasaanku tak akan pernah berubah," ujar Takumi. "Zutto anata ga suki desu ta, Erichika"
"Terima kasih, Takumi. Aku tak tahu sudah keberapa kalinya aku berterima kasih padamu," jawab Eri. "Sama sepertimu, perasaanku juga tak akan pernah berubah,"
"Terima kasih telah menerima perasaanku dan menjadi kekasihku, Takumi," ucap Eri. "Aku tak akan pernah melupakan kebahagiaan ini, kebahagiaan telah menjadi kekasih cinta pertamaku,"
Eri membalas ciuman Takumi.
"Ah, itu dia mereka! Oi, dari mana saja kalian?" sambut Nico begitu Takumi dan Eri turun ke bawah dan ikut berkumpul dengan ketujuh member lainnya di gerbang depan.
Mereka telah menyandang tas masing-masing karena bersiap untuk benar-benar berpisah.
"Selamat atas kelulusannya, Eri-san, Nozomi-san, Nico-kun," ucap seorang pemuda berambut coklat dengan sebuket bunga di tangan kirinya.
"Selamat juga atas kelulusan kalian, Tsubasa-kun, Anju-san, dan… Allen-kun," balas Eri.
Allen berjalan mendekati Takumi dan Eri kemudian membungkukkan badannya. "Aku minta maaf atas kelancanganku di UTX waktu itu, Eri-san, Takumi,"
"Aku dibesarkan dengan kurangnya perhatian dari orangtuaku sehingga aku menjadi seseorang yang egois," jelas Allen. "Aku harap kalian mau memahami kondisiku dan mengampuniku,"
"Begitu lulus dari UTX aku akan langsung diterjunkan ke perusahaan keluargaku karena posisiku sebagai pewaris tunggal makanya ini satu-satunya kesempatan bagiku untuk menyampaikan maafku sebelum aku pergi," ujar Allen.
Takumi merangkul Allen. "Ya, kami memaafkanmu, Allen,"
"Un, semoga kamu lancar-lancar saja dalam ikut membangun perusahaan keluargamu," kata Eri.
"Hontou, kalian ini benar-benar serasi, ya?" komentar Anju.
"Te, terima kasih, Anju-san," ucap Eri malu-malu.
"Sayang sekali, sepertinya aku lebih baik melupakan perasaanku yang bertepuk sebelah tangan pada kekasihmu, Eri-san," kata Anju.
"E, eh?" wajah Takumi merona merah.
"Sebaiknya kalian saling menjaga satu sama lain," kata Anju. "Aku akan senang bila hubungan kalian terus berlajut,"
"Terima kasih, Anju-san," ucap Takumi. "Terima kasih telah menyukaiku dan mendukung hubungan kami,"
Sementara itu, Tsubasa cengar-cengir sambil memainkan buket bunga dengan membentur-benturkannya pelan ke bahu kirinya di depan Maki.
"Apa, sih? Kimochi warui…" kata Maki ketus.
"Hahaha… meski sudah lulus aku enggak akan menyerah, lho," ujar Tsubasa.
"Tanpa kau beritahu aku juga sudah tahu, kok," balas Maki. "Dasar, kau ini blak-blakkan sekali, sih!"
"Karena aku sangat menyukaimu, Maki-san, wajar saja, 'kan?" jawab Tsubasa.
"Huh, terserah situ, deh," kata Maki.
Teman-teman yang lain tergelak melihat interaksi Maki dan Tsubasa.
"A, apa, sih?! Apa yang kalian tertawakan, coba?" tanya Maki kesal.
"Di luar dugaan kalian cocok, lho," kata Hanayo.
"Eh? Eeeeeh?" wajah Maki menjadi semerah tomat.
"Semangat, ya, Tsubasa!" kata Nico. "Buatlah si mbak tsundere gaje itu melupakan perasaannya padaku dan luluhkan hatinya, oke? Hahaha!"
"Dengan senang hati," jawab Tsubasa.
"Maki-chan juga sebaiknya jangan terlalu menutup diri," saran Kotori. "Jarang ada cowok segigih Tsubasa-kun, lho,"
"Kalau beneran jadi pasangan, traktir kami tur keliling dunia dengan kapal pesiar, ya, nyaaaa!" kata Rin.
"Ngaco kamu, Rin…" kata Takumi sambil menepuk jidatnya.
Maki menghela nafas. "Mu, mungkin akan butuh lama, namun kuharap kamu mau menungguku hingga tiba saatnya aku jatuh hati padamu, Tsubasa-san,"
"Akan kutunggu walau sampai jadi kakek-kakek bau tanah, kok, Maki-san," jawab Tsubasa sambil nyengir.
"Hei! Enggak selama itu juga, kali!" seru Maki.
Mereka pun tertawa.
"Oi! Ayo, semuanya! Kameranya sudah siap!" seru Kazuya setelah memasang tripod dan menyetel timer.
µ's dan A-RISE pun langsung berlari dan berdiri berjajar di depan kamera.
"Rabu raibu!" seru keduabelas remaja itu begitu kamera mengabadikan momen itu.
—FIN—
Author's note : whoops! It's not the end yet! I still have extra chapters which will be upcoming!
