Hai, hai, lama juga ya gue enggak update, wkwk? Maklum, khilaf malas-malasan selama liburan.

Maaf ya, hehe :')

Extra Chapter 01 : Mogyuu~

14 Februari a.k.a hari Valentine adalah hari besar yang dinanti-nanti mereka yang telah merdeka dari status jomblo. Yaa… berhubung author-san yang mungkin agak terburu-buru untuk menyelesaikan main arc untuk fanfiction ini (atau mungkin pikun karena faktor usia /enggakgitu) maka kali ini kita akan flashback ke hari itu. Tentunya, kalian penasaran apa saja yang dilakukan para couple di hari itu, bukan?


—TakuEri—

Makanan kesukaanku? Kalau harus memilih satu mungkin manju Homura. Oh ya, dan aku benci minuman berkarbonasi, Eri terngiang-ngiang obrolannya tempo hari dengan Takumi.

Eri menanyakannya agar tak salah memberi hadiah saat Valentine tiba nanti. Kalau membelinya langsung di toko manisan tradisional keluarganya Kazuya entah kenapa Eri merasa kurang puas karena mungkin bukan hasil jerih payahnya sendiri. Jadi, gadis seperempat Russia itu pun memutuskan untuk membuat manju sendiri untuk sang kekasih.

Berhubung momennya Valentine mungkin aku akan membuat yang isi coklat juga. Hitung-hitung aku bisa ikut nyobain, hehe~ gumam Eri sambil ngiler sedangkan tangannya sibuk memilah-milih bahan untuk membuat manju di rak supermarket.

"Lihat! Lihat! Tampan sekali anak SMA itu!" kata salah satu pengunjung saat melihat seorang pemuda berambut biru kehitaman dengan tas berisi perlengkapan Kyuudo tersandang di bahu tengah sibuk memilah-milih bahan untuk membuat manisan.

"Wah, mungkin anak itu ingin bertukar hadiah Valentine dengan pacarnya? Indahnya masa muda~" komentar ibu-ibu yang lain.

Eri dan pemuda itu pun menoleh karena penasaran (atau mungkin risih) dengan ibu-ibu yang heboh dengan gajenya itu. Mata keduanya pun bertemu dan mereka sama-sama berkeringat dingin saking kagetnya.

Ngapain kamu?! kata mereka berdua dalam hati.

Eri pun berjalan memutar dan menarik si pemuda itu menjauh dari sana.


"Kamu ngapain, sih? Kamu enggak malu apa main-main ke rak bahan untuk membuat kue?!" tanya Eri heboh padanya.

"Lah? Aku ke sana juga karena ada barang yang kubutuhkan untuk membuat kue, keleus," jawab Takumi. "Memangnya segitu anehnya apa kalau laki-laki memberi coklat hasil tangannya sendiri untuk perempuan yang disukainya?"

Begitu menyadari bahwa dia baru saja membocorkan kejutan pada kekasihnya itu, wajah Takumi langsung bersemu merah dan ia pun langsung menggaruk tengkuknya sambil membuang muka.

Wajah Eri juga tak kalah merahnya. Bukan karena malu, melainkan karena saking senangnya dan terkejut melihat sisi manis dari Takumi.

"Be, berhubung saat tanggal 14 Februari nanti libur karena hari Sabtu dan orang-orang di rumahku pergi semua, ba, bagaimana kalau kita membuat kuenya bersama-sama?" tawar Eri yang gugup luar biasa.

E, eeeeh? Apakah aku terlalu berani? Eri bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia merasa itu bukan tawaran yang bagus.

"Ma, maa… boleh saja, kok," jawab Takumi setuju. "Rasanya akan lebih tepat jika aku minta diajari oleh gadis yang ingin kuberi coklat langsung ketimbang minta tolong diajari Kotori dan kawan-kawan,"

"Tahu sendiri teman-teman kita mulutnya 'keran bocor' semua," lanjut Takumi.

"Hahaha… aku paham banget soal itu," jawab Eri.

"Hmm… kalau begitu, aku mesti sampai di apartemenmu jam berapa?" tanya Takumi kemudian.

"Jam sembilan pagi saja, deh," jawab Eri. "Jaa, sampai ketemu besok, Takumi,"


Keesokan harinya di apartemen keluarga Ayase…

"Ah, cepat juga kamu datangnya," sambut Eri sambil membukakan pintu.

"Ahahaha… sepertinya aku terlalu bersemangat," jawab Takumi sambil nyengir.

"Ngomong-ngomong, kamu mau buat apa?" tanya Eri begitu keduanya berada di dapur dan mulai menyiapkan alat dan bahan masing-masing.

"Truffle chocolate," jawab Takumi. "Kamu sendiri?"

"Ma, ma, manju… spesial buatan pattisier Erichika," jawab Eri dengan wajah merah padam saking malunya.

Bagaimana tidak malu? Mungkin hanya Eri yang membuat manju untuk hadiah Valentine.

"Pffft… hahahaha!" Takumi tertawa lepas mendengarnya hingga matanya berair.

"Mo, mou! Jangan tertawakan aku, Takumi bodoh!" dengus Eri. "Salahmu sendiri menjawab pertanyaanku waktu itu dengan manju!"

"Ahahaha… ya, tapi bukan berarti kamu harus memberikanku manju, bukan?" balas Takumi. "Diberi coklat biasa juga enggak apa-apa, kok. Membuat manju itu lumayan sulit, lho…"

"Ja, jadi kamu maunya kubuatkan apa untuk hari ini?" tanya Eri.

Takumi tersenyum usil sambil merangkul pinggang Eri. "Bagaimana kalau 'kamu' saja yang jadi hadiah Valentine?"

Eri yang paham maksudnya pun langsung mendorong Takumi agar melepaskannya. "Bakka nano?!"

"Oh, ayolah… aku hanya bercanda, Erichika sayang~" ujar Takumi.

"Kok, kamu mendadak sok manis begini, sih? Kamu salah makan?" tanya Eri merinding.

"Sembarangan…" kata Takumi.

"Haaah… ya sudah, bagaimana kalau kita sama-sama membuat truffle chocolate?" usul Eri.

"Enggak masalah, sih…" jawab Takumi.

Tangan keduanya mulai sibuk meracik truffle chocolate khas masing-masing sambil sesekali saling bertanya dan mengajari ketika ada langkah yang kurang dimengerti dalam pembuatannya.

"Selesai!" seru keduanya hampir bersamaan.

Eri tampak berpikir sebentar. "Nee, bagaimana kalau kita memakannya di ruang tengah? Kebetulan aku baru beli banyak film baru,"

"Oh, boleh, boleh~" jawab Takumi. "Ada film horror, enggak?"

"Enggak, lah!" jawab Eri. "Kenapa juga kamu maunya nonton itu di hari seperti ini, coba?!"

"Yaa… supaya aku bisa terus dipeluk olehmu seperti di rumah hantu waktu itu, hehe," jelas Takumi.

"Halah, modus banget kamu," kata Eri.

"Jaa, kalau film yang sedih gitu ada, enggak?" tanya Takumi.

"Ada, sih…" jawab Eri. "Kenapa? Lagi pengen baper?"

"Lagi ingin menyeka air matamu dan memelukmu, hehe,"

Eri menghela nafas. "Dasar, kamu diajarin ngegombal sama siapa, sih? Geli, sumpah…"

"Jangan dingin begitu, dong… aku 'kan sedang berusaha supaya enggak menjadi cowok yang membosankan dan kaku di matamu," ujar Takumi.

"Bodoh, mau kamu ketus, enggak asyik, kaku, atau apapun di depanku juga enggak jadi masalah, kok," ucap Eri. "Toh, itu lah Sonoda Takumi yang kutahu dan kusuka,"

"Tunggu, diketusin kok kamu malah suka? Jangan-jangan kamu masokis?" tanya Takumi dengan polosnya.

"Enggak gitu juga, woi! Gue S, tahu!" bantah Eri.

"Hee? Aku baru tahu ada S yang pasrah-pasrah saja saat 'diserang' seperti waktu tahun baru di Gunma kemarin," ledek Takumi.

"Oi? Jadi, kamu menyerangku dalam keadaan sadar waktu itu?" selidik Eri.

"E, enggak, kok! Sumpah! Aku beneran mabuk gara-gara amazake!" jawab Takumi berusaha meyakinkan Eri.

"Hontou ni?" tanya Eri curiga.

"Hontou da yo!" jawab Takumi.

"Ya sudah, aku percaya saja," ucap Eri sambil mengangkat bahu. "Ayo, kita ke ruang tengah,"


"Kamu mau nonton film apa?" tanya Eri sambil meletakkan DVD-DVD film yang ia maksud di atas meja ruang tengah.

"Hmm… ini saja, deh," kata Takumi sambil mengambil DVD film animasi berjudul 'Hal' (baca : Haru).

"Oh iya, anime movie satu itu lumayan sedih," timpal Eri. "Memangnya kamu belum pernah nonton? Itu film lama, bukan?"

"Sudah, tapi enggak sampai habis karena ada urusan mendadak," jelas Takumi.

"Baiklah, kusetel, ya," kata Eri sambil memasukkan DVD tersebut ke player-nya.

Film dimulai dan keduanya saling diam untuk beberapa saat karena fokus menonton. Bagi kalian yang belum tahu bagaimana cerita dalam anime movie berjudul 'Hal' ini, kalian bisa cari sendiri di Internet. Intinya, ini salah satu anime movie ber-genre romance yang cukup bagus dan direkomendasikan oleh author-san (dan Takumi tentunya? Hahaha). Ah, oke… cukup nge-endorse-nya.

"Boleh kucoba coklat buatanmu?" lagi-lagi mereka kompakan.

Keduanya langsung membuang muka karena malu, namun setelah itu masing-masing kembali menatap lawan bicaranya perlahan. Mereka pun tergelak.

"Pffft… hahahaha!" mereka berdua pun tertawa.

"Dasar, kita ini kenapa, sih? Pakai malu-malu meong segala seperti baru jadian kemarin saja!" komentar Takumi.

"Iya, nih! Kenapa tahu-tahu kita saling jaim begini, coba?" timpal Eri sambil mengusap matanya yang berair.

"Ehem! Jaa, itadakimasu!" ucap Takumi sambil merapatkan kedua tangannya dan mulai mengambil salah satu coklat buatan Eri.

"Ba, bagaimana?" tanya Eri deg-degan begitu Takumi menelan coklat tersebut.

"Oishii! Manisnya pas. Kau memang hebat, Eri!" puji Takumi.

Wajah Eri pun bersemu merah. "Kalau begitu, sekarang giliranku mencoba coklat buatanmu, ya,"

"Oishii!" seru Eri.

"Eh? Serius?" tanya Takumi dengan kedua mata membulat.

"Ish… ngapain aku bohong juga?" jawab Eri. "Di luar dugaan, kamu pintar masak juga, ya, Takumi?"

"Enggak heran kalau ibu-ibu di supermarket juga naksir kamu, hahaha," goda Eri.

"Oi, oi… itu pujian atau hinaan?" tanya Takumi pura-pura ngambek.

"Hahahaha… menurutmu?" balas Eri.

"Baiklah, baiklah, terima kasih atas pujiannya!" ucap Takumi yang tersipu malu sambil menggaruk tengkuknya.

Eri tampak begitu gembira sampai-sampai ia menutupi bibirnya yang tengah senyum-senyum sendiri dengan tangan kanannya.

"Senang banget, mbak?" komentar Takumi.

"Oh, ya iya lah!" jawab Eri. "Aku enggak menyangka kegiatan yang sederhana bisa begini menyenangkannya ketika kulakukan berdua denganmu,"

"Hu, humph! Sekarang kamu yang mencoba untuk menggodaku?"

"Apa, sih? Kamu tuh enggak cocok banget sok tsundere gitu, tahu… geli, seriusan!"

"Ba, bakka! Siapa juga yang… enggak malu kalau dibilang begitu?!" seru Takumi sambil menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di atasnya.

"Hihihi, sudah lama aku enggak melihatmu malu seperti ini~"

"U, urushai!"

"Diiih… ngambek, nih?"

"Iya, lah! Masalah?"

"Jaa, sebagai permintaan maaf aku akan melakukan sesuatu un-tuk-mu, bagaimana?" tanya Eri sambil membisikkan langsung ke telinga Takumi dengan nada bicara yang terdengar nakal.

"Ha, hah?"

Eri merangkul lengan kiri Takumi. "Nee, Takumi? Apa kamu ingin mencoba French kiss rasa coklat ala Erichika?"

Wajah Takumi tentu saja jadi panas lagi. "A, a, apa yang kau katakan, Eri?! Pa, padahal aku sudah menahan diri untuk enggak melakukan apapun padamu!"

Eri menjatuhkan Takumi ke atas sofa dan duduk di atas tubuh pemuda itu agar dia tak bisa kabur.

"Berarti aku boleh mempermainkanmu hari ini, 'kan?" goda Eri sambil menggelitik dagu Takumi.

"He, hentikan, Eri! Kalau tiba-tiba keluargamu pulang dan melihat kita, bagaimana?!"

"Bakka Takumi… aku sudah bilang kalau mereka akan pulang larut hari ini," jawab Eri sambil menyingkap kerah baju Takumi dan mulai menciumi leher pemuda itu.

"Ngggh… he, hentikan, Eri!" desah Takumi karena tak kuat menahan sensasi geli yang ditimbulkan dari hembusan nafas dan isapan-isapan kecil gadis berambut blonde itu.

"Nah, sekarang kamu mengerti bagaimana rasanya berada di posisiku, bukan?" tanya Eri. "Jangan harap aku akan membiarkanmu berada di atasku hari ini!"

Eri mengambil salah satu coklat buatannya dan mulai mengemutnya. Begitu dirasa porsinya cukup dan tidak akan membuat kekasihnya tersedak, Eri menunduk untuk mendekatkan wajahnya dengan Takumi. Posisinya kurang-lebih setengah telungkup di atas dada Takumi.

"Kamu… sudah menanti-nantikannya sejak kuundang ke sini, 'kan?" tanya Eri lagi.

Takumi pun hanya bisa pasrah begitu lidah rasa coklat itu menyapa lidah miliknya. Di luar dugaan, Eri yang biasanya pasif dalam berciuman bisa memimpin permainan lidah itu hingga membuat Takumi tak berdaya. Lidahnya menjamah seluruh permukaan dalam mulut Takumi untuk memastikan pemuda itu menghabiskan coklat spesial yang ia berikan dari mulut ke mulut itu.

"Hah… hah… hah…" Takumi berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya begitu Eri menarik kembali lidahnya.

"Hihihi, ternyata kamu juga bisa membuat ekspresi seperti itu, ya, Ta-ku-mi~?" goda Eri. "Apa kamu mau lagi?"

"Ba, bakka nano?!"


"Takumiii! Makan malam sudah siap!" seru ibunya dari luar kamar.

Masa' ini anak sudah tidur sesore ini? gumam Bu Hidemi sambil mengintip ke dalam kamar anak bungsunya itu.

Ibunya langsung menutup kembali pintu kamarnya setelah memastikan keadaan putranya yang saat itu seperti nyaris semaput. Jiwanya seperti akan mencuat keluar dari tubuhnya dan di lehernya terdapat banyak kiss mark.

"Ma, maa… biar saja, deh…" ucap Bu Hidemi sambil beranjak kembali ke ruang makan seolah berpura-pura tidak melihat apapun.

Izumi yang hari itu kebetulan mengunjungi rumah pun mengepalkan tangan kanannya sambil menatap langit malam dengan ekspresi puas.

Good job, calon adik iparku! kata Izumi dalam hati.

Kakak sableng emang.


—KazuKoto—

"Yahoooo! Piknik! Piknik!" seru Kazuya kegirangan seperti anak kecil sambil hiking ke lokasi piknik bersama Kotori.

"Hihihi, kamu seperti anak kecil saja, Kazuya-kun!" gelak Kotori.

"Nee, nee, bekal apa saja yang kamu bawa untuk piknik kita, Kotori-chan?" tanya Kazuya yang kepo setengah mati.

"Ra-ha-sia~" jawab Kotori. "Nanti keterkejutanmu berkurang kalau kuberitahu sekarang,"

"Hmm… ya sudah, deh," kata Kazuya sambil melanjutkan langkahnya.


"Kirei!" Kotori terkagum-kagum begitu mereka sampai di tujuan.

"Hehehe, deshou?" Kazuya tampak membanggakan diri.

"Aku enggak tahu ada lokasi piknik sebagus ini di pinggir kota," kata Kotori. "Sasuga, Kazuya-kun!"

"Ehehehe~" Kazuya hanya cengar-cengir sambil menggaruk tengkuknya.

Lokasi mereka menggelar tikar saat ini adalah daerah di kaki gunung yang berada di pinggir kota. Lokasinya sungguh strategis untuk camping atau pun piknik karena pemandangannya yang indah dan lokasinya yang aman karena jauh dari binatang serta serangga yang berbahaya.

Mereka tak ada rencana untuk camping, namun Kazuya tetap memasang tenda untuk persiapan kalau-kalau cuaca kurang bersahabat. Sementara itu, Kotori menggelar tikar dan mengeluarkan bekal makan siang mereka.

"Wah, sepertinya enak…" komentar Kazuya yang mulai ngences.

"Hehehe, tendanya sudah jadi, 'kan? Yuk, kita makan bekalnya, Kazuya-kun!" ajak Kotori.

"Un! Itadakimasu!" seru Kazuya sambil mengambil salah satu onigiri.

"Hmm… umai!" puji Kazuya. "Kotori-chan memang hebat!"

"Ehehehe~ arigatou, Kazuya-kun~" ucap Kotori.

"Pasti aku bakalan gembul kalau Kotori-chan jadi istriku," celetuk Kazuya. "Masakanmu enak-enak, sih!"

"E, eeeeh?" wajah Kotori bersemu merah. "Ka, kamu terlalu berlebihan, Kazuya-kun…"

"Bukannya keren kalau kita menikah? Kita bisa menggabungkan butikmu dan usaha keluargaku. Uwaaah… membayangkannya saja aku sudah meleleh!" kata Kazuya heboh sendiri dengan imajinasinya.

"Ja, jadi… Kazuya-kun serius ingin de, denganku?" tanya Kotori.

"Un!" jawab Kazuya mantap sambil membaringkan kepalanya di atas pangkuan Kotori.

"Datte, Kotori-chan ga daisukiiiii!" seru Kazuya kemudian sambil mengecup pipi kekasihnya itu.

"Moudemo arigatou, Kazuya-kun!" jawab Kotori sambil memberikan coklat Valentine-nya. "Aku juga sayang Kazuya-kun!"

"Oh, itu coklat untukku? Arigatou!" ucap Kazuya.

Kemudian pemuda berambut ginger itu berdiri dan mulai memetik bunga-bunga di sana dan merangkainya menjadi kalung. Lalu, Kazuya pun memasangkan kalung rangkaian bunga itu ke leher Kotori.

"Aku enggak tahu ini dihitungnya hadiah Valentine atau balasan di hari White Day nanti," kata Kazuya. "Tapi kalau kamu mau kuberikan hadiah lagi saat 14 Maret nanti juga enggak masalah, kok,"

"Terima kasih, Kazuya-kun," ucap Kotori. "Kencan seperti ini lagi juga enggak apa-apa, kok, hehe…"

"Umm… kamu suka?"

"Tentu saja!" jawab Kotori. "Aku baru tahu Kazuya-kun pandai merangkai bunga, hehe~"

Kazuya menghela nafas lega. "Maaf kalau hadiahnya enggak sebanding dengan coklatmu,"

"Kazuya-kun ngomong apa, sih? Apa hubungannya sebanding atau enggaknya? Yang penting usaha dan tulusnya, bukan?" kata Kotori.

"Ehehehe… syukurlah kalau kamu suka," ucap Kazuya.

"Daripada itu… apa aku boleh sedikit egois hari ini?" tanya Kotori.

"Hmm? Maksudmu?"

"Aku ingin camping satu malam ini saja bersamamu, bo, bolehkah?" tanya Kotori malu-malu.

Kazuya yang sepertinya masih polos pun menanggapinya dengan semangat seperti saat mereka menginap bersama saat masih kecil dulu. "Un! Boleh, boleh! Nanti malam kita buat api unggun dan berdansa seperti penutupan bunkasai, yuk! Setelah itu, setelah itu… kita akan bertukar cerita seram! Lalu, lalu…"

"Hihihi," Kotori hanya tertawa kecil melihat kekasihnya yang heboh sendiri.

Kazuya-kun memang kekanakkan dan belum cukup dewasa untuk bersikap romantis atau mungkin agresif seperti Takumi-kun, namun itu lah yang kusuka sejak pertama kali bertemu hingga seterusnya, kata Kotori dalam hati.

"Nah, sambil menunggu sore, bagaimana kalau kita menjelajahi daerah sekitar lokasi camping kita?" usul Kazuya.

"Umm… memangnya kamu yakin enggak akan nyasar?" tanya Kotori ragu.

"Kita hanya akan main ke sungai yang dekat dari sini, kok," jawab Kazuya. "Ikan di sana besar-besar, lho!"

"Oh ya, kamu sudah bawa baju renang, 'kan?" tanya Kazuya.

"Iya, dan sudah kupakai sebagai dalaman, kok," jawab Kotori.

"Sip, kalau begitu kita berangkaaaaat!" seru Kazuya bersemangat sambil menggandeng tangan Kotori.


"Untunglah udaranya cukup hangat," komentar Kotori sambil memasukkan kedua kakinya ke dalam air. "Uh, tapi tetap saja airnya dingiiiin!"

"Kotori-chan!" panggil Kazuya yang sudah masuk ke dalam air.

Kotori menoleh dan Kazuya menyipratkan air ke wajahnya.

"Hehehe, Kotori-chan kena!" kata Kazuya sambil tersenyum usil dan membentuk peace dengan kedua jarinya.

"Ehehehe, lihat pembalasanku! Ei!" seru Kotori tak mau kalah sambil menembakkan pistol airnya.

"Kotori-chan curang!" rajuk Kazuya.


Malamnya…

"Karena hari ini libur berarti kita harus nyanyi lagu itu!" kata Kazuya.

"Ah, benar juga! Lagu itu, ya~" jawab Kotori.

"Baiklah, yuk, kita duet, Kotori-chan! Soalnya, enggak ada Hanayo-chan, sih…"

"Hahaha, ya sudah, yuk!"

I know happy holiday, happy holiday
Itsumo no basho ni te atsumare
I say happy holiday, happy holiday
Hanashite kyou wa nandemo Happy time

Uwasa no Chokoreeto (o~ishii!)
Narande mita yo (torokeru ne)
Horonigasa to koi to (issho)
Dakara dakara amaku setsunaku

Ima ga subete
Sore na no ni kako ga karuku ki ni natta
Henda souda watashi rashikunai yo henda yo

Chotto kiite hoshikatta nayami no tane
Kotoba ni shitara waraete kita no
Kotori no oyatsu ni shichau ka na

I know happy holiday, happy holiday
Tanoshiku nareru yo atsumare
I say happy holiday, happy holiday
Minna no koe de shiny day
I know happy holiday, happy holiday
Sunao ni kokoro ga hajikeru
I say happy holiday, happy holiday
Daisuki dakara iinda yo Happy time

Nijiiro Makaron mo (choudai!)
Hitokuchi no mahou (kiechau yo)
Kowareyasusa ai no (bouken)
Demo ne demo ne motto hoshii no

Ima wa ima de
Arifureta hibi no urei keshi satte
Nanda kanda watashitachi rashikute nanda ka

Yappa makerarenai ne joujou egao de
Karada no soko ni nemuru genki ga
Harikiri Sutairu kuri dashita

We are dancing everyday, dancing everyday
Tanoshiku ugoite sukkiri
You are dancing everyday, dancing everyday
Minna ni kuru yo sunny day
We are dancing everyday, dancing everyday
Sugao de oshaberi hajikero
You are dancing everyday, dancing everyday
Daisuki dakara iinda ne Dancing girls

I know happy holiday, happy holiday
Tanoshiku nareru yo atsumare
I say happy holiday, happy holiday
Minna no koe de shiny day
I know happy holiday, happy holiday
Sunao ni kokoro ga hajikeru
I say happy holiday, happy holiday
Daisuki dakara iinda yo Happy time

Choko choko Chokoreeto (o~ishii! )
Maka maka Makaron (oishii ne)
Torokeru yona koi o (shiyo?)
Dakara dakara amaku setsunaku

"Yey!" seru keduanya begitu selesai menyanyikan lagu tersebut.

"Padahal masih musim dingin, tapi langitnya cerah sekali, ya!" komentar Kotori sambil menengadah melihat langit malam yang penuh bintang.

"Ini benar-benar lokasi kencan terbaik, ya!" timpal Kazuya. "Bagaimana kalau kapan-kapan kita ke sini lagi?"

"Un!" jawab Kotori sambil mengangguk.

Karena malam semakin larut, keduanya pun memutuskan untuk masuk ke tenda. Sembari menunggu rasa kantuk, mereka saling bertukar cerita mulai dari yang seram sampai ujung-ujungnya ngegosipin teman-teman di µ's, terutama Takumi.


"Kalau dipikir lagi, kisah asmara di µ's seperti drama saja, ya?" celetuk Kazuya.

"Karena?" tanya Kotori.

"Eri-chan suka Takumi-kun, tapi Takumi-kun menolaknya karena menyukai Kotori-chan, tapi Kotori-chan menolak Takumi-kun karena menyukaiku, tapi aku sendiri waktu itu belum ada rasa seperti itu, hahaha…" ujar Kazuya bernostalgia.

"Hmm…"

"Eh, ta, tapi sekarang aku suka, maksudku… sayang Kotori-chan, kok! Beneran, deh!" kata Kazuya panik takut kekasihnya salah paham.

"Jadi, Kazuya-kun tidak mengajakku jadian karena merasa bersalah telah merebut first kiss-ku, kan?" selidik Kotori sambil berakting sok dingin.

"Te, tentu saja tidak!" tegas Kazuya.

Kotori pun tergelak melihat wajah Kazuya yang merah padam lengkap dengan ekspresi panik khasnya. "Oh sudahlah, Kazuya-kun. Aku hanya menggodamu,"

Kazuya menekuk kedua kakinya dan sedikit membenamkan wajahnya hingga sebatas hidung untuk menutupi rona di wajahnya. "Kau tahu, Kotori-chan? Waktu mendengar pernyataan cintamu aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu rasa suka dalam artian romantis itu apa,"

"Saat kamu meminta agar aku menjadikanmu sebagai pacarku pun aku sungguh takut. Aku takut tak bisa menjagamu karena pada dasarnya aku hanya lelaki lugu yang kekanakkan dan juga bila aku jadian denganmu aku merasa bersalah pada Takumi-kun," jelas Kazuya.

"Gomen, Kazuya-kun," ucap Kotori lirih. "Aku pasti sudah sangat merepotkanmu,"

"Tidak, kok. Lagipula hubungan kita saat ini sudah bukan dari rasa sepihak saja, bukan?" jawab Kazuya.

Kotori pun tersenyum. "Terima kasih karena telah menyukaiku juga, Kazuya-kun,"

"Tapi untunglah ada Eri-chan yang tidak lekas menyerah dan tetap menyukai Takumi-kun dengan tulus," kata Kazuya. "Ditambah lagi, sepertinya Takumi-kun lebih bahagia bersamanya,"

"Andaikan waktu itu Kotori-chan jadian dengan Takumi-kun, pasti aku akan merasa sedih dan tak rela," lanjut Kazuya. "Entah kenapa aku tak ingin dirimu direbut oleh Takumi-kun,"

"Eh? Eeeeeeeh?" Kotori terang saja kaget.

"Sepertinya aku telah menyukaimu sebelum aku menyadarinya, ya?" gelak Kazuya.


—RinPana & NicoNozo—

"Yahooo! Taman bermain, nya!" Rin bersorak heboh sambil melompat-lompat layaknya anak kecil begitu memasuki taman bermain.

"Rin-kun, tunggu aku!" seru Hanayo sambil mengikuti langkah si pemuda meong dengan tergopoh-gopoh.

"Ah, go, gomen, Kayo!" ucap Rin merasa bersalah sambil menghentikan langkahnya.

"Un, enggak apa-apa, kok, Rin-kun!" jawab Hanayo sambil tersenyum. "Akunya saja yang berjalan terlalu lambat,"

"Ma, maaf! Aku jadinya terkesan memaksa Kayo berlari!"

"Sudah, sudah, memang aku saja yang enggak bisa menyamakan pace-ku denganmu," Hanayo berusaha menenangkannya. "Kalau enggak bersemangat bukan Rin-kun namanya, hehehe,"

"Ka, kalau begitu…" ucap Rin sambil mengamit tangan Hanayo. "Bagaimana kalau kita berjalan sambil bergandengan?"

"E, eeeeeh?" wajah Hanayo merona merah.

"De, dengan begitu… Kayo enggak akan tertinggal di belakangku, boleh enggak?"

Hanayo senang Karena Rin begitu peka. "Tentu, ayo, kita coba setiap wahana di sini, Rin-kun!"

"Un, tension agaru, nyaaaa!" dasar Rin, dia kembali berlari sehingga membuat dewi beras kita terseret-seret.

"Dareka tasuketeeeeee!" jerit Hanayo.


Sementara itu, pasangan mak comblang tengah mengawasi dari kejauhan.

"Huh, Rin-kun payah, nih!" gerutu Nozomi.

"Kayak kau sendiri enggak payah saja, Nozomi," kata Nico.

"Hmm? Maksudmu, Nicocchi?"

"Kukira kau mengajakku ke taman bermain untuk kencan, tapi nyatanya malah nge-stalk pasangan canggung itu," ujar Nico.

"Tapi hari ini 'kan Valentine, Nicocchi! Tidakkah kau berpikir akan ada kemajuan dalam hubungan mereka di hari spesial ini?"

Nico menghela nafas berat. "Ya sudahlah, aku memang enggak bisa ngapa-ngapain lagi kalau jiwa emak-emakmu membara seperti ini,"

"Mereka mau naik cangkir putar, ayo, Nicocchi!" seru Nozomi cuek sambil menyeret Nico.

"Ah, oke, aku juga ikutan, deh," kata Nico yang dari awal memang kurang antusias. "Nico Nico tasuketeeee…"


"Tanoshii, nyaaa!" seru Rin sambil memutar stir cangkir dengan semangat.

"Huwaaaaa!" jerit Hanayo sambil berpegangan erat pada tempat duduknya. "Pusiiiiing!"

"Nozomi, pelan-pelan! Gue mau muntah!" seru Nico.

"Jangan berisik, Nicocchi! Aku mau mendekati cangkir tempat RinPana berada! Kita bisa ketahuan kalau kamu berisik, tahu!" jawab Nozomi.

"Setidaknya peduli lah sedikit pada pacarmu yang ganteng ini!" dengus Nico sambil tetap berusaha sok ganteng maksimal (?).

Nozomi menyodorkan plastik hitam pada Nico. "Nih, kalau mau muntah,"

Bener-bener deh ini cewek, kata Nico dalam hati.


"Ini kubelikan lemon tea hangat, Kayo," kata Rin sambil menyodorkan gelas kertas berisikan minuman tersebut. "Maaf, ya, sudah membuatmu pusing,"

"Ka, Kayo, kamu marah, ya?" tanya Rin khawatir.

"E, enggak, kok," jawab Hanayo. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Habis Kayo lebih banyak diam dari biasanya, apa Kayo enggak betah?"

"Ah, Rin-kun ini…" kata Hanayo. "Masa' iya aku langsung ngambek hanya karena dibuat pusing di cangkir putar?"

"Terus, kenapa Kayo diam saja? 'Kan aku khawatir,"

"Aku diam karena keasyikan memperhatikanmu, Rin-kun," jelas Hanayo. "Karena hanya dengan melihatmu ceria sudah menjadi kesenangan tersendiri untukku,"

"Ja, jadi intinya Kayo enggak marah, 'kan?" tanya Rin lagi.

"Enggak, kok," jawab Hanayo sambil menggeleng.

"Yosh, kalau begitu, kita naik wahana yang juga bisa membuat Kayo tersenyum, nya!" kata Rin memutuskan.

"Eh, enggak mesti begitu, kok. Aku ikut apa yang Rin-kun mau saja,"

"Kayo enggak mau egois sedikit?" sela Rin.

"E, eh, tapi…"

"Tak ada artinya kalau hanya aku yang senang di kencan hari ini," ujar Rin. "Dan lagi, aku akan merasa bersalah jika membuatmu sakit karena naik wahana yang enggak kamu sukai,"

"Baiklah, biar aku yang memimpin kencan kita hari ini," ucap Hanayo sambil tersenyum dan mengamit tangan Rin. "Ayo, Rin-kun!"


"Lihat? Tanpa bantuan kita Rin juga sudah bisa peka sendiri," kata Nico. "Oi, kamu dengerin aku enggak, sih?"

Nozomi ternyata tengah asyik mengunyah pop corn.

"Yeuh, makan enggak bagi-bagi, nih!" dengus Nico sambil meraup beberapa pop corn.

"Eh, tunggu, Nicocchi! Jangan dimakan!" seru Nozomi.

"Hah? Memang kena—" wajah Nico langsung merah seperti kepiting rebus begitu menyadari rasa pedas yang teramat sangat. "Pe, pedas! Pedas!"

"Kamu sih main comot punya orang," kata Nozomi.

"Kukira saus hah… hah… berwarna kecoklatan di pop corn itu karamel, tahu!" jawab Nico sambil mengipas-ngipas lidahnya.

"Bodoh, aku 'kan enggak suka karamel," ujar Nozomi sambil memberikannya air mineral dan pop corn bersaus karamel. "Nih, bagianmu makanya kalau mau minta makanan tuh dilihat dulu. Sudah tahu kamu enggak bisa makan makanan pedas!"

"Iya, iya… maaf, Bu…" kata Nico.

"Siapa juga yang ibumu?"

"Iya, beb… iya…"

"Udah, ah! Nozomi aja! Bab-beb-bab-beb! Geli, tahu,"

"Setelah ini kita berhenti saja ya nge-stalk-nya?" pinta Nico.

"Yaaaah… Nicocchi enggak asyik, nih," dengus Nozomi sambil mengerucutkan bibirnya.

"Terakhir kali kita ke sini saat mengawasi Takumi dan Eri juga kita enggak terlalu menikmati wahananya, 'kan?" ujar Nico. "Kau tahu, Nozomi? Aku sangat menantikan kencan kita di sini supaya bisa bersenang-senang denganmu,"

Wajah Nozomi langsung merona merah. "Be, begitukah? Ma, maaf, Nicocchi,"

"Aku yakin pasangan canggung itu baru akan pulang setelah menonton parade nanti malam," lanjut Nico. "Kita akan lanjut mengawasi mereka di sana, bagaimana?"

"Baiklah, kalau begitu, mari kita bersenang-senang!" seru Nozomi dengan riang.


Hari itu pasangan RinPana dan NicoNozo sangat menikmati kencan di taman bermain itu. Pasangan RinPana tetap terlihat romantis meski mereka belum jadian. Kedua sahabat itu sesekali ber-selfie ria di dekat wahana dan bersama maskot taman bermain sambil mengenakan bando kembaran yang dibeli di toko pernak-pernik taman bermain itu. Sedangkan pasangan NicoNozo hampir terus terlibat dalam momen kocak, seperti Nico yang digoda banci, Nico yang disangka penculik saat membantu anak yang tersesat, dan masih banyak lagi. Daripada momen kocak mungkin lebih tepatnya momen apesnya Nico. Sang pacar, alias Nozomi hanya ketawa-ketiwi melihat keapesan Nico.

Tanpa terasa sudah hampir saatnya matahari terbenam. Beberapa wahana pun ditutup karena akan diadakan parade, kecuali wahana yang memang bertemakan romantis mengingat hari ini adalah hari Valentine. Karena telah puas mencoba seluruh wahana, pasangan RinPana pun menonton parade sembari melepas penat sebelum pulang. Tak lupa, pasangan mak comblang mengawasi mereka dari kejauhan.

"Haaah… capeknya, tapi hari ini sangat menyenangkan!" ucap Hanayo. "Terima kasih telah mengajakku kemari, Rin-kun!"

"Hehehe, sama-sama, Kayo! Habis aku dipaksa menerima tiket taman bermain ini oleh Nico-kun jadi kuajak saja kamu daripada tiketnya mubazir!" ujar Rin.

Si meong oon itu! Ngapain dia jujur-jujur amat soal itu, sih?! gerutu Nico dalam hati.

"Ahahaha, benar juga, sih… teman-teman kita yang lain juga sibuk dengan pacar masing-masing," jawab Hanayo.

Fiuh… untunglah Hanayo enggak terlalu sensitif soal 'daripada tiketnya mubazir'. Ampun, deh! Si Rin itu asal ceplas-ceplos saja! kata Nico dalam hati.

Parade pun dimulai. Gemerlap lampu warna-warni juga para penari dan maskot yang menari dengan ceria membuat setiap pasang mata yang menonton terkagum-kagum.

"Kirei, nya~" kata Rin.

Hanayo diam-diam mengecup pipi pemuda berambut orange itu. Rin betul-betul tak menyadarinya hingga butuh beberapa detik untuk sistem syarafnya merespon pada sensasi lembut dan hangat di pipinya. Wajah Rin pun merah padam.

"Ka, Ka, Ka, Kayo?! Apa yang baru saja kamu—" tanya Rin panik.

Hanayo meletakkan telunjuknya di bibir Rin. "Rin-kun bilang enggak akan merebut ciuman pertamaku sebelum mendapat restu dari orangtuaku, bukan? Maka tak apa kalau aku yang memulainya, bukan?"

"Eh, eh, eh, tapi itu… kalau kita sudah begitu… kita akan melangkah ke dunia orang dewasa, seperti Takumi-kun dan Eri-chan juga Nozomi-chan dan Nico-kun, 'kan? A, aku belum siap!" kata Rin konslet.

"Hihihi, Kazuya-kun dan Kotori-chan enggak kamu anggap telah melangkah ke dunia orang dewasa?" goda Hanayo.

"Ka, Kazuya-kun 'kan enggak jauh beda denganku, nya!" jawab Rin ngeles. "Hanya bedanya dia sudah mengajak Kotori-chan jadian,"

"Memangnya Kayo benar-benar ingin jadian denganku?" tanya Rin.

"Enggak, kok," jawab Hanayo. "Karena Rin-kun sudah berkomitmen untuk mendapat restu dari orangtuaku, 'kan? Jika memang benar sampai kita berdua menjadi suami-istri, bukankah itu artinya kita memang sudah menjadi sepasang kekasih sejak saat ini?"

"Ke, kekasih? Tapi Kayo tahu sendiri kita tak pernah melakukan apa yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih…"

"Itu bukan masalah, bukan? Untuk mengekpresikan rasa cinta ada lebih dari sekedar ciuman," ujar Hanayo. "Kita romantis dengan cara kita sendiri,"

"Ini coklat untukmu, Rin-kun," ucap Hanayo kemudian sambil memberikan coklat berbentuk kepala kucing yang imut. "Semoga kamu suka!"

"Wah, terima kasih, Kayo!" ucap Rin sambil memeluk erat Hanayo.

Nozomi dan Nico yang mengawasi dari jauh ikut terperangah mendengar perkataan Hanayo. Tak disangka gadis itu memiliki sikap yang dewasa dan luar biasa sabar menjalin hubungan asmara dengan Rin.

"Hiks… hiks… kalau tahu Kayo-chan sudah se-expert ini dalam percintaan harusnya aku enggak perlu mengawasi mereka," kata Nozomi.

"Dari awal juga enggak ada yang memintamu untuk nge-stalk mereka, mbak," jawab Nico.

"Tapi ya gimana, atuh? Namanya juga kepo!" Nozomi membela diri.

"Ya, ya, ya, urusan kita udah beres, 'kan? Yuk, pulang!" kata Nico sambil menyeret Nozomi.

"EEEH? Jangan pulang dulu, dong! Siapa tahu Hanayo-chan akan mencium bibir Rin-kun!"

"Mereka terlalu bocah untuk melakukan itu, bodoh. Sudahlah, ayo kita pulang! Aku akan mentraktirmu makan yakiniku,"

"Hehehe, asyik~" sorak Nozomi.

Nico hanya menghela nafas berat dan terus diam.

"Baik, baik, aku enggak lupa, kok. Nih, coklatmu," ucap Nozomi kemudian sambil membenturkan coklat itu pelan ke kepala Nico.

"A, apa, sih? Aku enggak berharap banget kamu memberikan coklat, kok!" kata Nico muna'.

"Enggak usah sok tsundere, deh. Mau mulutmu kujejali pop corn pedas lagi?" balas Nozomi.

"Iya, iya, terima kasih, Nozomi," jawab Nico sambil membuka bungkus coklat itu dan melahapnya.

"Hei, hei, bukannya kita akan makan yakiniku?" tanya Nozomi.

"Enggak masalah, 'kan? Toh, perutku keroncongan,"

"Awas gendut, lho,"

"Malah lebih baik gemukan, deh. Aku capek diledek ibuku terus,"

"Lah? Ibumu meledek gimana?"

"'Kamu punya pacar tubuhnya berisi, kamu sendiri malah kayak lidi,' begitu katanya," ujar Nico sambil melahap coklatnya dengan wajah masam.

"Hahahaha… ada-ada saja bibi Sora!" gelak Nozomi.

"Kalau begitu, kapan-kapan aku akan memasakan makanan yang bergizi untukmu, deh," tukas Nozomi.

"Enggak usah, lagian aku lebih jago masak daripada kamu,"

"Oh, gitu? Kalau begitu, aku boleh makan yakiniku sebanyak mungkin dong nanti?" kata Nozomi sambil tersenyum licik. "'Kan Nicocchi lebih jago masak daripada aku,"

"Apa hubungannya coba?!"

"Yosh, hari ini kita pesta yakiniku besar-besaran!" sorak Nozomi.

"Oiii…"

Mari mengheningkan cipta sejenak untuk dompetnya Nico.


—TsubaMaki—

"Pakaianmu kok gembel banget, sih? Bukannya kamu orang kaya?" itulah yang diucapkan Maki begitu bertemu pemuda berdahi lebar center A-RISE itu.

"Be, belum apa-apa kamu sudah bikin aku sakit hati, nih…" kata Tsubasa sambil berusaha bangkit setelah menerima komentar pedas gebetannya itu.

"Heran saja sama style-mu yang kelewat sederhana ini," kata Maki.

"Justru itu tema kencan kita hari ini," ujar Tsubasa. "Dengan dresscode sederhana kita akan menikmati jalan-jalan yang murah meriah dan menyenangkan,"

"Ah, bilang saja kamu lagi bokek atau memang pelit," sambar Maki.

"Maa, maa… tapi akhirnya kamu menerima ajakan mas-mas bokek ini, 'kan?" balas Tsubasa.

"Ja, jangan geer, ya! Kalau bukan karena teman-temanku asyik dengan pacar masing-masing dan ibuku begitu bersemangat mendengar aku diajak jalan olehmu, aku juga enggak akan datang!"

"Hahaha, tenang saja! Aku akan mengajakmu ke banyak tempat yang mengasyikkan, ayo!" seru Tsubasa sambil mengamit tangan Maki.


Tsubasa mengajak Maki mengunjungi daerah-daerah tongkrongan remaja seusianya yang belum pernah dikunjungi sang scarlet princess. Maklum, karena ayahnya yang tegas dan berharap banyak pada si putri tunggal untuk meneruskan rumah sakit miliknya, Maki pun lebih banyak diam di rumah.

"Wah, aku tak tahu kalau ada kafe yang menyuguhkan teh seenak ini dengan harga yang murah!" ucap Maki setelah menyeruput teh pesanannya.

"Tak hanya itu keunggulan kafe ini, lho," kata Tsubasa.

"Eh?"

"Tuh, ada piano di sudut sana, 'kan? Kamu coba mainkan, deh,"

"Hah? Mana mungkin aku tiba-tiba melakukan hal yang mengundang perhatian orang banyak!"

"Wah, aku tak tahu kalau Nishikino Maki-san sepemalu, bukan, semalu-maluin ini, nih?" ledek Tsubasa.

Graaak! Maki pun bangkit dari kursinya.

"Lihat saja! Akan kubuat kamu terbengong-bengong begitu melihat permainanku!" seru Maki sambil menunjuk Tsubasa.

Setelah menyetel ketinggan kursi yang nyaman untuknya, Maki mulai memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Lagu yang sangat sederhana, namun karena dimainkan oleh ahlinya yang telah juara di berbagai kontes piano membuat semua yang ada di kafe itu terkagum-kagum.

Seisi kafe bertepuk tangan usai Maki memainkan piano. Sang manajer kafe pun menghampiri Maki.

"Selamat, karena Anda telah berhasil membuat seluruh pengunjung bertepuk tangan maka pesanan Anda dan pacar Anda gratis!" ucap sang manajer.

"Pa, pa, pacar?!" seru Maki dengan wajah merah padam.

"Hehehe," Tsubasa hanya nyengir sambil membentuk V dengan kedua jarinya.


"Dasar, jadi aku hanya dimanfaatkan supaya bisa makan dan minum gratis tadi?" dengus Maki sekeluarnya dari kafe.

"Hahaha, mana mungkin! Jarang ada yang dapat tepuk tangan dari seluruh pengunjung seperti tadi, lho!" ujar Tsubasa.

"Dan jujur saja daripada terbengong-bengong, lebih tepatnya aku semakin jatuh cinta kepadamu, Maki-san," lanjut Tsubasa.

Wajah Maki merona merah dan ia pun segera membuang muka untuk menyembunyikannya dari Tsubasa.

"Ahahaha, kamu mirip sekali dengan kucingku. Kalau kugoda, juteknya minta ampun, tapi saat enggak ada aku malah uring-uringan karena kangen," kata Tsubasa.

"Halooo? Aku enggak sampai uring-uringan gitu, lho, ya. Ngapain juga aku kangen sama kamu?" balas Maki.

"Yaaah… jadi, kamu belum jatuh cinta denganku, nih?" jawab Tsubasa.

"Malah aku heran bisa-bisanya kamu suka bahkan jatuh cinta padaku padahal kita baru kenal setelah aku menjadi school idol," ujar Maki.

"Mungkin kamu enggak ingat, tapi kita dulu pernah bertemu saat masih kecil," jawab Tsubasa.

"Hah? Kapan? Di mana?"

"Kalau mau tahu jawabannya, cepetan suka sama aku, dong~"

"Diiih… enggak jelas,"

"Ngomong-ngomong, Allen-kun dan Anju-san ngapain hari ini?" tanya Maki.

"Mereka mah sibuk mempersiapkan macam-macam untuk meneruskan bisnis keluarga," jelas Tsubasa.

"Berarti hanya kamu anak pemilik perusahaan besar yang hidupnya kelewat santai, ya?"

"Ahahaha, soalnya orangtuaku membebaskanku untuk menjadi apa yang kumau sesuai minat dan bakatku," ujar Tsubasa.

"Hmm… sepertinya menyenangkan sekali hidupmu," komentar Maki.

"Memangnya kamu sendiri terpaksa menjadi dokter untuk meneruskan ayahmu nanti?" tanya Tsubasa.

"Enggak, kok. Malah sejak dulu aku sangat mengidolakan profesi ayahku itu," jawab Maki. "Maa, beliau memang keras dan tegas dalam mendidikku, tapi aku sendiri juga maklum karena beliau dapat berhasil menjadi dokter dan memiliki rumah sakit sesukses sekarang benar-benar dari nol. Bila aku memang ingin menjadi seperti dia maka aku juga enggak boleh kalah dalam bekerja keras,"

Tsubasa pun tersenyum. "Itu artinya hidupmu juga tak kalah menyenangkan, bukan?"

"Karena kamu punya mimpi yang ingin diwujudkan dan kamu berusaha keras untuk menggapainya," lanjut Tsubasa. "Dan hidupmu akan lebih menyenangkan lagi setelah jatuh cinta juga denganku, hehe~"

"Huh, masih saja!"


Di depan kediaman Nishikino…

"Nih, untuk Valentine," ucap Maki sambil memberikan sekotak cookies hangat pada Tsubasa.

"Wah, terima kasih!" Tsubasa tampak kegirangan.

"Jangan geer, itu hanya giri choco," tegas Maki.

"Tapi suatu saat akan jadi honmei choco, 'kan?" jawab Tsubasa.

"Huh, ngarep banget, sih…"

"Iya, dong~ hahaha!" gelak Tsubasa. "Akan kuberikan balasan yang lebih wow saat white day nanti, jaa nee~"