Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Clincher | January 11th, 2012
Cast : Kyuhyun, Changmin, Yoochun, Yunho, Jungsoo, Heechul, HaeHyuk, Yesung dan cast lain menyusul
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini chapter 1F
.
.
.
.
The Time: Clincher | January 11th, 2012
.
Wednesday
January 11th, 2012
01:11 AM
Dini hari yang sangat dingin, seperti biasa Changmin masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih sibuk dihadapan laptopnya. Dan seperti biasa, kekasih yang baik seperti Yoochun akan menemaninya hingga dia tidur—walaupun hasilnya mereka berdua akan bergadang bersama.
Yoochun duduk diatas ranjang. Memperhatikan gerakan Changmin yang begitu serius di mejanya. Changmin membelakangi tubuh Yoochun—tetapi dia tidak terlalu peduli akan hal itu. Yoochun merasa kasihan kepada kekasihnya. Dia berdiri dari duduknya—sejak dua jam yang lalu—dan mulai mendekati tubuh Changmin. Dipeluknya leher namja itu dan dia mulai menciumi setiap helai rambut Changmin. Mencium wangi mint dari sana.
"Hyung, kau tidak usah selalu menemaniku bergadang setiap hari. Kau bisa tidur lebih dahulu." kalimat Changmin diiringi dengan suara dari jari-jari lincahnya memainkan keyboard.
Changmin dapat merasakan Yoochun menggeleng—dari gerakan pipi Yoochun di puncak kepalanya. Changmin hanya membuang napas pelan dan tetap serius pada pekerjaannya di layar laptop.
"Kau tidak lelah, Min?" tanya Yoochun lembut.
Changmin menggeleng pelan. Dia membaca beberapa kalimat yang dia ketik di laptop dan mulai menjawab setelah itu. "Kumohon hyung, kau beristirahatlah. Kau terlalu baik untuk menemaniku setiap malam seperti ini."
Yoochun menggeleng lagi—dan Changmin bisa merasakan gerakannya. "Aku hanya ingin menemanimu, Min."
Yoochun dapat mendengar Changmin membuang napas lagi. Yoochun hanya tersenyum tipis. Dia mengecup helaian rambut hitam yang agak ikal itu berkali-kali. Membuat pemiliknya terkekeh pelan.
"Astaga," Changmin menghentikkan aktivitasnya dan berbalik menatap Yoochun—hingga kini dia berhadapan langsung dengan dada namja itu. Changmin menengadahkan kepalanya. "Aku belum menepati janjiku, ya?"
Yoochun tersenyum seraya menaikkan salah satu alisnya. Dia berpura-pura untuk tidak mengerti. "Hm, janji apa ya?"
Changmin memukul kepala Yoochun. Memang adegan itu tidak sopan mengingat umur mereka terpaut dua tahun dengan Yoochun yang tentu saja lebih tua. Tetapi pemuda itu hanya menanggapinya dengan kekehan lembut, yang tentu saja mengundang senyuman untuk Changmin. "Oh baiklah, aku tidak mau tidur denganmu." Changmin mengerling jahil.
Yoochun merengut. Hal itu membuat Changmin tertawa lagi. "Kau jahat Min." kata Yoochun pura-pura marah.
Changmin berdiri dari duduknya. Segera dia mengalungkan lengannya di leher Yoochun. Yoochun menyeringai. Dia segera menarik pinggang Changmin dan membawa mereka lebih mendekat. Menghapus setipis angin yang menjadi penghalang diantara keduanya ketika Yoochun mulai untuk menyatukan kedua belah bibir mereka. Dan mereka mulai berciuman lebih intens, meninggalkan laptop Changmin yang masih menyala di meja.
.
.
The Time
Clincher | January 11th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Wednesday
January 11th, 2012
12:31 PM
Changmin berjalan di sekitar lantai tujuh di gedung NCIS. Dia berniat untuk menemui beberapa rekannya lagi. Untuk mengistirahatkan pikirannya mengenai kasus Kyuhyun—walaupun itu bukan tanggung jawabnya. Mungkin mengobrol dengan Donghae atau Eunhyuk—yang keduanya bekerja sebagai pekerja lapangan—bisa mengurangi beban pikirannya. Mungkin dengan tertawa dia dapat merasa lebih tenang.
Changmin berjalan mendekati meja Donghae. Dia melihat Donghae tengah sibuk dengan laptopnya—entah sedang apa. Dengan seringai di wajahnya dia memukulkan telapak tangannya secara keras di meja Donghae, berniat untuk membuatnya kaget.
Brak!
"Ya!" Donghae segera berteriak kaget dan mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Donghae mengusap dadanya kemudian. Dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang berada di otak namja tinggi itu. "Astaga! Kau benar-benar ingin membunuhku ya?"
Changmin terkekeh. Dia mundur beberapa langkah ketika melihat Donghae melepas sepatunya. "Whoa, calm down. Aku datang kesini untuk damai." kata Changmin terkekeh.
Donghae membatalkan niatnya untuk memukul Changmin. Jika sepatu itu benar-benar mengenai kepala Changmin, bisa-bisa dia dipecat dari NCIS karena telah melukai anak dari sang ketua, Mr. Shim. Padahal dia sudah sangat beruntung untuk masuk NCIS. Dia adalah salah satu dari anak muda berbakat yang beruntung karena dapat masuk team yang sama hebatnya seperti CSI—bahkan menurutnya mereka itu lebih hebat daripada FBI. Donghae menggerutu pelan. Dia mendorong laptopnya ke samping meja dan menatap si dewa makan itu. "Jadi, kau datang kesini untuk apa? Apa Kyuhyun mengamuk di rumah sakit jiwa—kudengar dia dimasukan kesana, benar bukan?"
Changmin menggeleng dengan senyumannya. Dia kembali berjalan mendekati meja Donghae dan menumpukan tangannya disana. "Hyung bisa temani aku makan siang?" tanya Changmin.
Donghae tahu, diotak Changmin pasti hanya akan ada makanan. Dia memutar bolamatanya perlahan. "Aku tidak bisa, Min."
"Bagaimana dengan monyetmu itu? Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Changmin jahil.
Donghae menatap Changmin kesal. "Jangan memanggil Hyukie dengan—"
"Aish, hyung. Kau masih mau memungkiri bahwa kekasihmu itu memang seekor monyet? Eoh? Kau terlihat seperti ikan tak tahu diri."
Donghae menggeram kesal. Dalam hatinya dia benar-benar mengutuk orang termuda yang bekerja di NCIS itu. Dia benar-benar terlihat seperti setan—walaupun wajahnya terlihat seperti malaikat.
"Jika kau menggangguku sekali lagi, aku akan mem—"
"Hei Changmin. Tumben kau baru datang jam segini?"
Changmin dan Donghae segera mengalihkan pandangan mereka kearah sumber suara. Dilihatnya Hyukjae atau lebih tepatnya Eunhyuk sudah berdiri di samping mereka dengan sekotak susu strawberry yang tengah diminumnya. Changmin tersenyum. Dia segera memeluk Eunhyuk dan hal itu membuat Donghae tambah geram.
"Hyukie hyung. Temani aku makan siang ne?"
"Oh okay, kebetulan aku juga sudah lapar." kata Eunhyuk seraya memamerkan gummy smile-nya.
Changmin tersenyum menang. Dia menatap Donghae dan menjulurkan lidahnya—mengejek.
"Tapi kau yang bayar ya?"
Seketika itu juga Changmin melepaskan pelukan itu secara kasar. Dia menatap Eunhyuk yang terkekeh seperti manusia—monyet—tanpa dosa. Donghae yang melihat hal itu ikut tertawa. Bahkan tawanya sangat keras hingga membuat beberapa orang yang berada disana terganggu konsentrasinya.
"Cih, aku mau makan sendiri saja."
Changmin berbalik dan berniat meninggalkan keduanya. Namun tangan Eunhyuk segera menahannya. Dia tersenyum kecil memandang Changmin yang memandangnya kesal. "Tenang Min, aku hanya bercanda." kata Eunhyuk yang membuat Changmin memperlihatkan kembali senyumannya. Eunhyuk mengalihkan pandangannya terhadap Donghae dan bertanya padanya, "Hae kau mau ikut?"
Donghae menggeleng. Dia menarik lagi laptopnya ke hadapannya. "Kalian berdua saja." katanya. Dia kemudian memfokuskan kembali pandangannya ke arah layar. "Oh ya, tapi aku titip spaghetti ya?"
Changmin memutar kedua bolamatanya dan menarik Eunhyuk keluar dari kantor NCIS.
.:o~o:.
Wednesday
January 11th, 2012
12:56 PM
"APA? Donghae hyung melamarmu?" tanya—teriak—Changmin keras.
Eunhyuk segera menyumpal mulut Changmin dengan tisu yang berada di dekatnya. Dia segera memandang ke orang-orang yang berada di restoran itu dengan pandangan meminta maaf. Mereka semua memandang kearah tempat dimana Eunhyuk dan Changmin duduk, akibat teriakan Changmin yang memang tidak bisa dikatakan pelan itu. Eunhyuk tersenyum malu kearah semua orang. Kemudian dia mengembalikan pandangannya terhadap Changmin. Dia menatap namja tinggi yang tengah membersihkan mulutnya dari tisu itu dengan pandangan kesal.
"Kau tidak usah mengumumkan hal itu kepada semua pengunjung restoran, 'kan?" tanya Eunhyuk dengan nada pelan yang ditekankan.
Changmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terkekeh, "Aku hanya kaget hyung. Dan aku juga ikut bahagia mendengar hal itu."
Eunhyuk tersenyum malu, dengan pipinya yang bersemu. Dia memukul kepala Changmin pelan dan membuat si empunya kepala itu meringis. "Aku senang mendengar responmu, tetapi kau terlalu berlebihan, Min."
Changmin menyesap coca-cola-nya sedikit. Dia mengusap sisa tisu yang masih menempel di ujung bibirnya. "Lagipula aku benar-benar senang hyung. Akhirnya si ikan busuk itu—" Changmin menghentikan kalimatnya ketika melihat Eunhyuk memberikan death-glare kepadanya. Changmin tersenyum minta maaf. "Err, maksudku akhirnya Donghae hyung melamarmu juga setelah kalian berpacaran sekitar... kurang lebih tiga tahun ya hyung?" tanya Changmin.
Eunhyuk mengangguk dengan senyumannya. Tak disangka si maknae setan dari NCIS itu mengingat berapa lama dia dan Donghae berhubungan—berpacaran.
"Nah, itu artinya sebentar lagi kalian menikah dan disana pasti akan banyak makanan!"
Plak!
Satu pukulan lagi mendarat di kepala Changmin. Membuat Changmin merengut dan meringis kesakitan. Dia mengusap kepalanya dan melihat Eunhyuk yang kembali menatapnya kesal.
"Kenapa sih kau jadi senang memukulku?"
"Kenapa sih di otakmu itu hanya ada makanan? Apa tidak ada hal lain selain itu? Eum?" tanya Eunhyuk kesal.
Changmin menggeleng dan kemudian tertawa pelan. Dia mencondongkan tubuhnya dan mencubit kedua pipi Eunhyuk. Membuat si empunya menatapnya heran.
"Hehe maaf hyung. Aku sangat bahagia kok mendengar kabar itu. Kapan kalian akan menikah kalau begitu?"
Eunhyuk tersenyum melihat reaksi Changmin. Setan NCIS itu memang orang yang paling mengerti tentang semua orang. Tak disangka bahwa dari semua sifat kejahilannya, semua anggota NCIS menyukainya.
"Tanggal empatbelas Februari, ketika valentine." jawab Eunhyuk. Dia meraih coca-colanya dan menyesapnya. "Ngomong-ngomong, kapan kau dan Yoochun akan bertunangan?"
.:o~o:.
Wednesday
January 11th, 2012
15:00 PM
Changmin membuka pintu yang berada di hadapannya. Kemudian dia melangkah masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya berada disana. Changmin dapat melihat bahwa ayahnya sedang menekuni lembaran-lembaran kertas yang berada dihadapannya. Changmin menutup pintu dan bersamaan dengan itu ayahnya mengalihkan pandangannya terhadap Changmin. Dia membenarkan letak kacamatanya dan menyuruh Changmin untuk duduk.
"Ada apa Changmin-ah? Kau butuh sesuatu?"
Changmin menggeleng. Sebenarnya ada sesuatu yang dia butuhkan. Dan itu begitu penting. Namun dia mengurungkan niatnya untuk sementara. Dia harus mencari waktu yang tepat untuk meminta hal itu kepada ayahnya.
"Apa kau ada masalah?" tanya ayahnya lembut.
Changmin menggeleng lagi. Walau usianya sudah duapuluhdua tahun, tetapi dia masih sering bertingkah seperti anak kecil. Lihatlah dia yang menunduk seperti itu. Dia bahkan terlalu manis untuk dilihat.
"Jadi ada apa, Minnie?"
Changmin menggeleng lagi menjawab pertanyaan ayahnya. Ayahnya mengangkat bahu dan kemudian meletakkan kertas-kertas yang semula ditekuninya di atas meja. Beliau menyandarkan bahunya di sandaran kursi dan memperhatikan Changmin.
"Kalau kau seperti itu, pasti ada yang sedang kau pikirkan. Benar, 'kan?"
Changmin akhirnya membuka mulutnya. "Ani."
Ayahnya mengangguk mengerti. Changmin pasti akan menceritakan masalahnya jika dia sudah tenang. Maka dari itu ayahnya memilih untuk diam dan mencari topik pembicaraan yang baru.
"Oh ya, ayah sudah membelikan dua tiket untukmu dan Yoochun berlibur ke Bali—ayah dengar pulau Bali yang berada di Indonesia itu sangat indah, bukan? Selama ini ayah melihat kau terlalu sibuk untuk kasus Cho Kyuhyun. Maka dari itu, ayah memberimu waktu libur selama seminggu. Bagaimana? Kau bisa berangkat lusa nanti." kata ayahnya. Dia mengeluarkan dua lembar tiket dari dalam rak di bawah mejanya dan menyodorkannya kearah Changmin.
Changmin menatap kearah tiket itu dan ayahnya secara bergantian. Sang ayah yang mendapat respon yang kurang baik mulai menatap Changmin khawatir.
"Ya, kalau kau tidak ingin pergi tidak apa. Ayah bisa memberikan kedua tiket ini kepada Donghae dan Eunhyuk. Tetapi, bisakah kau memberikan ayah alasan mengapa kau tidak ingin pergi? Biasanya kau selalu tersenyum, Min-ah. Tetapi sekarang apa masalahmu? Apa Yoochun menyakitimu?"
Changmin menggeleng. Dia menatap ayahnya dengan tatapan memohon.
"Ayah harus membebaskan Kyuhyun."
Mr. Shim menggeleng pelan. Dia meletakkan kedua lembar tiket itu diatas meja dan kemudian menatap mata anaknya itu dalam. "Kau sudah meminta ayah untuk melakukan itu ribuan kali Changmin. Sekarang ayah ingin tanya, mengapa kamu benar-benar ingin Kyuhyun untuk bebas? Dia bukan seseorang yang spesial untukmu, 'kan?" dan ayahnya melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan ayah."
"Dan mengapa kau lebih mementingkan namja bernama Kyuhyun itu daripada Yoochun yang sudah menemanimu selama dua tahun ini? Ya ampun, Shim Changmin, ayah benar-benar bangga kepada Yoochun. Dia benar-benar melindungimu. Bahkan dia sering mengabaikan pekerjaannya di rumah sakit, hanya untuk menemanimu menyelidiki kasus dari malam hari hingga pagi di rumah. Apakah dia masih kurang baik untukmu? Bahkan, rumah yang kalian berdua tempati sekarang? Rumah itu Yoochun yang membelinya walaupun ayah sudah memaksanya untuk tidak melakukan hal itu. Ayah memaksanya untuk menggunakan uang ayah. Tetapi dia tidak mau. Kau seharusnya bersyukur, laki-laki playboy seperti dia sudah berubah 360 derajat gara-gara mengenalmu." kata ayahnya mulai dengan emosi. Changmin menunduk, tak dapat menjawab. Ayahnya menghela napas. Dia menggeleng melihat kelakuan anak semata wayangnya. "Sekarang kau masih ingin membebaskan Kyuhyun? Changmin, dia ada di rumah sakit jiwa sekarang. Dia sudah—"
"Dia tidak gila!" bentak Changmin memotong perkataan ayahnnya.
Ayahnya tersentak dengan bentakan secara tiba-tiba itu. Changmin membelalakan matanya. Dia tidak percaya dengan mulutnya yang dengan berani membentak ayahnya. Dia tidak pernah melakukan hal itu. Sama sekali tidak pernah sepanjang umur hidupnya. Tetapi dia juga tidak percaya kepada mulutnya yang mengatakan bahwa Kyuhyun tidak gila. Jika ayahnya tahu bahwa Kyuhyun memang benar-benar tidak gila, kemungkinan Kyuhyun akan langsung dijebloskan ke dalam penjara dengan segala tuduhan pembunuhannya ditambah dengan tuduhan membohongi pihak kepolisian bahwa dia gila. Hal itu tidak boleh terjadi.
"Apa maksudmu bahwa Kyuhyun tidak gila?" akhirnya pertanyaan itu terlontar dari dalam mulut ayahnya.
Changmin dapat merasakan tubuhnya menegang. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia harus bisa menerapkan ilmu bersandiwara yang sudah dia pelajari ketika di sekolah menengah dahulu. Kali ini adalah waktunya.
"Maksudku dia memang tidak gila. Hanya saja, mungkin gara-gara percobaan bunuh dirinya, mungkin ada sedikit benturan yang membuatnya seperti orang gila. Aku yakin ayah, dia akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu." jawab Changmin berbohong.
Ayahnya mengangguk pelan. "Lagipula, Changmin..." beliau membenarkan posisi duduknya. "Jika apa yang kau ucapkan itu benar, Kyuhyun akan tetap masuk penjara setelahnya."
"Ya, aku tahu ayah. Tetapi bukankah dia akan menjadi tahanan polisi untuk beberapa hari sebelum bukti-bukti ditemukan?"
Ayahnya mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
Changmin tersenyum mengingat rencananya yang belum sempurna. Dia berdiri dari duduknya dan menatap ayahnya. "Kalau begitu, ayah berikan saja dua tiket itu kepada Donghae hyung dan Eunhyuk hyung."
.:o~o:.
TODAY IS MY BIRTHDAY \^o^/
Yaaaayyyyy aku 16 tahun sekarang :D
Hm, dan untuk temanku Nada juga happy birthday :p
Untuk Hyolyn Sistar juga happy birthday :D ada yang baca FF Alice in the Dorm? Yang mainnya Sistar sama Secret lho #promosi
Begini ya, saya tahu pasti kalian menantikan tentang sidang pertama? Benar bukan? *bahasa gue -,-* Tapi, sidang diundur (atau mungkin dibatalkan) mengingat Kyuhyun masuk RSJ *mampus lho Cho* #plak *diparut* (?) #abaikan
Bukannya apa-apa, tapi saya sudah punya rencana baru. Jadi KYU MASUK RSJ AJA YAAAAAAAA! *digampar
Maaf kalau tambah ngebosenin, tapi dibalik adegan-adegan ini (?) ada yang tersembunyi lho. Ini jugamasih introducing cast baru, pokoknya alur cerita ini lambat deh (?)
Intinya, terima kasih untuk semuanya :D
Saya mau bales review sebelum saya mandi, mau sekolah nih hehehe XD
eunhee24 : mianhae ya, tapi kan sekarang udah ada lanjutannya. Semoga gak mengecewakan. Mengenai pairing? Itu bisa ditebak-tebak lewat chap ini kan? Hehehe *ditabok
kangkyumi : aslinya, yang kejam itu saya -_- *ngaku
Wonkyurity : Yeeyy~ review juga (?) Oh untuk hal itu chapter satu bakalan sampai huruf ... sebelum nyampe ke chapter 2, tapi tenang aja, gak akan sampai 1Z kok -,- thanks udah penasaran, sekarang udah lanjut nih XD
Cloud1124 : Ah, buat pairing bisa ditebak di chap ini mungkin masalah bisa berubah atau enggaknya hahaha *dibakar* habis aku bingung Yesungnya harus ngapain, jadi aja Cuma dibayar buat nama doang *dilempar ddangkoma* hehe masalah sidang udah dijelasin di atas, sidangnya diundur (atau gak jadi) karena author punya rencana baru *oops
Cho Luna Kuchiki : Hahaha XD MinKyu shipper nih ngerusuh *kaya sendirinya gak pernah ngerusuh aja -,-* hehe masalah sidang udah dijelasin di atas, Kyuhyun gila dan author punya ide baru? Otomatis sidang dibatalkan haha XD
Oh ya, buat yang nanya saya punya ide ini darimana, saya punya ide ini dari otak saya sendiri, MURNI, ketika saya berpikir... kalau tanggal 1 Januari ada yang mati tiba-tiba seru gak ya? Hehehe gara-gara pikiran itu noh XD
Big thanks for MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin, Hayaka Koizumi, Hyorin, maxdisaster, widiwMin, minnie beliebers, Meong dan untuk semuanya.
Review? :3
PS : Yang suka MinKyu saya punya FF judulnya Gloomy Sunday, silahkan yang mau baca :D *promosi :p
