Ya, maaf sudah membuat kalian lama menunggu. Menjelang hampir tamatnya fanfict ini jadi mbak mesti mikir matang-matang, hehe.

Hmm? Kenapa mbak ganti nama user?

Yaaa... entah kenapa pengen juga gitu punya username keren /plaaak

rpy610 itu kan kesannya kayak anak SD baru bikin email, hahaha

Tadinya mau ganti nama jadi PuppetMaster gitu cuman kayaknya chuuni banget jadinya Geppeto aja, deh xD intinya kan sama-sama ahli boneka, wkwkwkwk

Dan hari ini tanggal 15 Maret, happy birthday to my first best girl in µ's!

Udah, deh, curhatnya. Enjoy, guys!


Extra Chapter 02 : NicoNozoEri's Campus Life, 2nd Year MakiRinPana, 3rd Year KazuKotoTaku Short Story

Musim semi yang baru telah datang, tanda tahun ajaran baru telah tiba. Siswa-siswi kelas satu naik tingkat menjadi kelas dua dan siswa-siswi kelas dua naik tingkat menjadi kelas tiga. Yukio dan Arisa pun kini telah resmi menjadi siswa di SMA Otonokizaka.

µ's telah dibubarkan, namun bukan berarti keenam sisa anggotanya keluar dari klub peneliti idol. Hanayo kini menjabat sebagai ketua klub dan Maki sebagai wakil. Mereka berenam masih terdaftar resmi sebagai anggota. Ya, hanya sebagai anggota bukan sebagai member dari µ's.

Kini, keenam remaja itu disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Rin yang kini sibuk sebagai pemain utama di klub bisbol, Hanayo yang sibuk dengan kegiatannya di klub pengurus hewan peliharaan sekolah, Maki yang kembali bergabung dengan klub PMR, dan trio kelas dua yang sibuk mengurus OSIS ditambah Takumi yang kini menjabat sebagai ketua klub Kyuudo dan Kotori yang juga kembali bergabung dengan klub PMR.

Lalu, siapa yang menjadi school idol di klub itu? Yap, Arisa dan Yukio. Anggota baru di klub itu hanya mereka berdua sehingga grup school idol yang dibentuk pun hanya beranggotakan mereka berdua saja.


"Nee, nee, Takumi-kun! Begitu semua kerjaan ini selesai, kita mampir ke konbini, yuk!" ajak Kazuya.

Takumi merapikan tumpukan dokumen yang diurusnya. "Maaf, aku sudah ada janji,"

"Heh? Dengan siapa?" tanya Kotori penasaran. "Sepertinya akhir-akhir ini kamu jarang pulang bareng kita, ya, Takumi-kun?"

"De, dengan Eri…" jawab Takumi dengan wajah merona merah.

"Duh, jangan terlalu sering mengganggunya, dong, Takumi-kun! Eri-chan juga pasti sibuk dengan kegiatan kampusnya," Kazuya sok ceramah.

"Apa, sih? Kalau dia sibuk pasti aku pun tahu diri dan enggak mengunjunginya," jawab Takumi.

"Maa, maa, Kazuya-kun hanya merasa kesal karena kita sudah jarang pulang bareng bertiga seperti dulu," Kotori berusaha menengahi. "Ya, 'kan, Kazuya-kun?"

"Ja, jangan dijelaskan, dong, Kotori-chan!" dengus Kazuya sambil menutupi wajahnya yang merah dengan sebelah tangannya. "Kalau dia kegeeran, gimana?!"

"Aku juga enggak bakal geer kalau hanya dikagenin kamu, Kazuya," balas Takumi dengan wajah datar. "Lain cerita kalau yang kangen itu Eri,"

"Noh, 'kan! Aku jadinya dipermalukan sama Takumi-kun!" rengek Kazuya. "Kotori-chan jahat, ih!"

"Hehehe, tapi memang benar, 'kan?" kata Kotori sambil mengelus-elus kepala kekasihnya itu.

"Ah, kerjaanku sudah selesai," kata Takumi. "Aku pulang duluan, ya,"

"Un, hati-hati di jalan dan sampaikan salam kami pada Eri-chan, ya, Takumi-kun!" kata Kotori.

"Tentu, sampai ketemu besok!" jawab Takumi.

"Kalau diingat-ingat lagi bukannya sekarang Eri-chan tinggal di apartemen yang terpisah dari keluarganya agar lebih dekat jalan ke kampus, ya?" celetuk Kazuya begitu Takumi berlalu.

"Iya, sih… kenapa memangnya?" tanya Kotori.

"Kira-kira mereka ngapain berduaan di satu atap begitu, coba? Ditambah lagi Takumi-kun agresif begitu,"

"Hahaha, jangan berpikiran negatif dulu, ah!" gelak Kotori. "Takumi-kun ke sana hanya untuk diajari materi-materi ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi sama Eri-chan, kok!"

"Ya, tapi mengingat mereka berdua yang dulu pacarannya udah sampai French kiss begitu…"

"Mou, kamu jadi tak seperti biasanya, nih, Kazuya-kun," komentar Kotori sambil menghela nafas. "Apa karena kamu kangen berat dengan saat-saat kita masih sering pulang bareng dengan Takumi-kun?"

"Bu, bukan begitu! Aku hanya khawatir…" sangkal Kazuya.

"Sudahlah, kamu enggak perlu sekhawatir itu," ucap Kotori. "Oh ya, baru-baru ini Takumi-kun curhat padaku,"

"Hmm? Curhat soal apa?"

"Soal perasaannya pada Eri-chan," ujar Kotori. "Dia bilang dia serius ingin dengannya,"

"EEEEH? Kalau begitu, bukankah itu berarti…"

"Nah, Kazuya-kun juga tahu maksudnya, 'kan?" kata Kotori. "Takumi-kun ingin menjadikan Eri-chan sebagai istrinya di masa depan nanti,"

"Iiiih, Takumi-kun ikut-ikutan aja, nih!" dengus Kazuya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hahahaha… dasar, Kazuya-kun," Kotori hanya bisa tertawa garing.

Setelah diam beberapa saat Kotori paham maksudnya dan wajahnya langsung semerah tomat. "EEEEEH? Jadi, ucapanmu waktu kencan saat Valentine itu…"

"Iya, aku serius, kok," ujar Kazuya dengan sorot mata yang penuh kesungguhan. "Bukan demi materi dengan menggabungkan butikmu dan toko keluargaku, tapi memang karena aku tak ingin melepaskanmu. Aku ingin kamu terus berada di sisiku, menjadi teman hidupku, Kotori-chan,"

"Ka, Ka, Kazuya-kun, kamu enggak habis salah makan, 'kan?" Kotori masih konslet.

Tanpa banyak bicara, Kazuya melepaskan pita hijau di seragam Kotori dan membuka dua kancing teratas. Kemudian Kazuya mencium leher gadis itu hingga meninggalkan kiss mark di sana.

"Ngggh!" Kotori meringis begitu kekasihnya menciumi lehernya.

"Apa ini belum cukup untuk membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh menginginkanmu?" tanya Kazuya. "Asal kamu tahu, Kotori-chan, aku juga laki-laki dan tidak menutup kemungkinan kalau aku ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Takumi-kun pada Eri-chan terhadapmu,"

"Ma, maafkan aku, Kazuya-kun…" ucap Kotori. "Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai kekasihku yang lugu dan kekanakkan bahkan tidak mengerti bagaimana untuk bersikap romantis,"

"Haaaah… sudah kuduga begitu, kok," kata Kazuya sembari menghela nafas. "Salahku juga yang tak pernah berani untuk meniru Takumi-kun,"

"Ta, tapi menurutku kamu tak perlu meniru Takumi-kun demi terlihat keren di depanku, kok!" kata Kotori. "Aku tetap suka dirimu yang kekanakkan dan imut,"

Bam! Kazuya memojokkan Kotori ke dinding dan mengangkat dagu gadis itu dengan tangannya yang satu lagi.

"Lalu, apakah kamu akan tetap suka pada Kousaka Kazuya yang seperti ini?" tanya Kazuya.

Ekspresinya berubah, Kazuya tampak seperti orang lain. Jantung Kotori berdegup kencang karena tak menyangka kekasihnya yang carefree itu bisa menjadi seagresif ini.

"Ka, Kazuya-kun…" Kotori sedikit takut pada pemuda yang tengah 'menawannya' itu.

"Bolehkah aku menciummu… sambil memasukkan lidahku?" tanya Kazuya.

Kotori hanya mengangguk pelan.

"Jaa, kalau kamu sudah tak sanggup kamu boleh mendorongku," ucap Kazuya.

Kazuya dan Kotori pun berciuman dengan begitu panas di ruangan itu. Keduanya tampak seperti siluet yang ditimpa sinar mentari senja dari jendela.


Ting tong! Takumi menekan bel apartemen Eri.

"Ya, sebentar!" ucap si pemilik rumah.

Cklek! Pintu pun terbuka dan menampakkan gadis seperempat Russia yang mengenakan kaos sleeveless berwarna hitam dan celana panjang berwarna putih tengah mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk.

Wajah Takumi pun merona melihat gadis yang dicintainya nampak begitu seksi karena baru selesai mandi. "Ah, ma, maaf! Apakah aku datang terlalu cepat? Kamu pasti masih capek…"

Eri langsung memeluk Takumi erat. "Ya, dan capekku hilang karena ada kamu,"

"A, aku ke sini untuk belajar, oke? Jadi, jangan coba-coba menggodaku," ujar Takumi.

"Huh, kelakuan sok jaimmu itu masih enggak berubah, ya?" dengus Eri. "Ya sudahlah, ayo, masuk,"

"Ojamashimasu," ucap Takumi sambil melepas sepatunya.

Takumi pun duduk ngedeprok di ruang tengah yang terdapat meja pendek. Sementara itu Eri sibuk menyiapkan teh dan kudapan untuk tamunya itu.

"Jadi, bagaimana rasanya jadi anak kelas tiga?" tanya Eri sambil meletakkan cangkir teh di depan Takumi.

"Apanya yang bagaimana? Ya, biasa saja lah," jawab Takumi.

"Oh ayolah, masa' enggak ada yang bisa kamu ceritakan padaku?"

"Huh, ya kira-kira rasanya seperti kembali jadi anak kelas satu lagi karena aku hanya disibukkan oleh kegiatan klub Kyuudo, tapi sekarang ditambah tugasku sebagai wakil ketua OSIS dan persiapan ujian," jelas Takumi.

"Hmm… selain itu? Ayolah, ceritakan saja sembari melepas penat," kata Eri.

"Aku merasa kesepian," ujar Takumi.

"Eh? Kenapa?"

"Karena kamu sudah enggak di Otonokizaka lagi," jelas Takumi. "Rasanya aneh dan ya… sepertinya itu karena aku merindukanmu, Eri,"

Wajah Eri memanas. "Ta, tapi kamu 'kan tetap bisa main ke sini kalau kangen aku, bukan?"

"Hmm… gimana, ya? Kesannya beda saja dibandingkan saat kita masih bisa bertemu di sekolah," jawab Takumi sambil menggaruk tengkuknya. "Terlebih kamu sudah mahasiswa, sedangkan aku sendiri masih siswa,"

"Hahaha, ayolah, kamu terlalu memikirkannya, Takumi!" gelak Eri. "Jenjang pendidikan bukan masalah, 'kan? Tahun depan 'kan kita sudah bisa bertemu lagi seperti masih di SMA jika kamu lulus ujian masuk ke Aizen,"

"Ah, ya, benar juga," kata Takumi.

"Nah, ayo, kita mulai kelas khusus Erichika-sensei hari ini!" seru Eri dengan begitu bersemangat.

"Ou…" Takumi ikut bersorak dengan datar.

"Ah, Takumi enggak asyik, nih! Yang semangat, dong!" dengus Eri.

"Hahahaha," Takumi hanya tergelak.

"Hei!"

"Ah, maaf, maaf, habisnya kamu terlihat lucu saat berseru dengan heboh begitu," ujar Takumi.

"Huh! Memangnya aku badut?" dengus Eri.

"Baiklah, baiklah, mohon bimbingannya, Erichika-sensei," ucap Takumi sambil menundukkan kepalanya.


Eri mengajari materi-materi yang belum dipahami oleh Takumi. Setelah yang diajari telah mengerti, Eri pun menyuruhnya untuk mengerjakan soal-soal agar Takumi semakin memahami materi yang tadinya belum ia mengerti itu. Sementara Takumi sibuk mengerjakan latihan soal, Eri beranjak ke dapur untuk memasak makan malam.

Dasar, rasanya seperti sudah menikah saja, gumam Eri dengan senyum lebar di wajahnya sambil meracik bumbu masakan.

Sembari menunggu masakannya matang, Eri kembali ke ruang tengah untuk melihat perkembangan Takumi.

"Hayo, kamu sudah sampai mana, Takumi?" sapa Eri.

Ternyata Takumi tertidur sambil membaringkan kepalanya ke atas meja. Eri manyun karena ia mengira pacarnya itu malas-malasan. Sebelum membangunkannya, Eri mengecek hasil kerjanya. Eri tersenyum melihatnya karena semua jawabannya sempurna.

Dia sudah berjuang, ya? Maa, biarlah dia tidur dulu, kata Eri dalam hati sambil membaringkan Takumi di karpet dan memberikan bantal sebagai alas kepalanya juga menyelimuti tubuhnya.


"Ngggh…" Takumi terbangun karena mencium aroma salad buah yang begitu segar.

"Oh, kamu sudah bangun?" sapa Eri sambil memasukkan salad buah yang selesai dibuatnya ke kulkas.

"Huh, kenapa kamu enggak membangunkanku? Sudah jam berapa coba sekarang?" Takumi tampak tidak tenang.

"Dasar, mana tega aku membangunkanmu yang tertidur karena kecapekan begitu?" balas Eri.

"Tapi tetap saja—"

"Sudah, sudah, enggak usah khawatir soal hari yang sudah malam," kata Eri. "Aku sudah telepon tante Hidemi kalau kamu akan menginap di apartemenku karena hujan badai,"

"Eh? Serius?" tanya Takumi sambil menyingkap gorden.

Ternyata benar kata Eri.

"Cuaca sekarang memang sulit diperkirakan, ya?" kata Eri.

"Huh, harusnya kamu membangunkanku tadi," keluh Takumi.

"Kayaknya tadi ada yang bilang kangen sama aku, nih? Siapa ya orangnya?" goda Eri.

"Ugh…" Takumi tak berkutik dan ia hanya bisa memasang ekspresi kecut mendengarnya.

"Mandilah dulu," kata Eri. "Baju gantimu plus pakaian dalamnya sudah kusiapkan di dalam kamar mandi,"

"Tu, tunggu, tunggu, kenapa kamu sampai nyetok pakaian ganti untuk cowok, coba?" tanya Takumi kaget.

"Ya, tentu saja untuk persiapan kalau-kalau kamu terpaksa menginap seperti sekarang, 'kan?" jawab Eri.

"Ta, tapi, Eri!"

"Hmm? Kenapa?"

"Apa tidak apa aku menghabiskan satu malam hanya berduaan denganmu begini?" tanya Takumi khawatir.

"Haaah… kamu sudah menyesal dengan apa yang kamu lakukan di Gunma, 'kan?" kata Eri. "Berarti kamu bisa menahan diri untuk enggak melakukan yang aneh-aneh terhadapku, dong?"

"Haaah…" Takumi hanya bisa menghela nafas dengan berat.

"Buktinya, ibumu saja mengizinkan, bukan? Bukankah itu berarti beliau percaya padamu?" tambah Eri.

"Baiklah," ucap Takumi kemudian. "Terima kasih, Eri,"

"Ya, sama-sama," jawab Eri. "Kalau mau berendam air hangatnya juga sudah kusiapkan,"


"Itadakimasu!" ucap Eri dan Takumi bersamaan.

"Masakanmu lezat sekali, Eri," puji Takumi setelah suapan pertama. "Aku tak tahu ternyata kamu pintar memasak,"

"Wah, benarkah? Syukurlah!" kata Eri lega.

"Tapi makan di satu meja seperti ini… rasanya kita seperti suami-istri saja, ya?" komentar Takumi.

"Ah, begitukah?" Eri menanggapi sekenanya agar tidak ketahuan kalau dia juga berpikiran sama dengan Takumi.

"Oh ya, nanti aku tidur di ruang tengah saja, ya," kata Takumi.

"Enggak boleh!" kata Eri dengan agak keras.

"Eh?"

"Kalau kamu sampai masuk angin, aku mesti jelasin apa ke ibumu?" lanjut Eri. "Sudahlah, kita tidur berdua di kamarku!"

"Ta, tapi tempat tidurmu itu 'kan single bed, Eri! Nanti kamunya enggak nyaman, bagaimana?"

"Huh, enggak usah sok cari alasan, deh…" kata Eri. "Intinya aku ingin kamu tidur di sisiku malam ini, oke? Aku juga yakin kamu menginginkannya,"

"Haaah… baiklah," Takumi pun setuju.


"Nee, Takumi?" panggil Eri pada pemuda yang berbaring memunggunginya itu.

"Hmm?"

"Kamu sudah mengantuk?"

"Mana mungkin," jawab Takumi. "Tadi aku sudah tidur cukup lama dan sekarang jantungku berdebar-debar karena tidur di satu ranjang denganmu,"

"Dasar, rasanya seperti pertama kali mengenalmu, deh," ujar Eri. "Tak biasanya kamu sok jaim dan menjaga jarak begini. Apakah ini karena kamu sedang fokus memikirkan ujian?"

"Bukankah begini lebih baik?" balas Takumi. "Aku jadi tak perlu melihatmu tersakiti,"

Eri memeluk punggung yang besar itu dan membenamkan wajahnya di tengkuk Takumi. "Kau tahu? Kini, aku yang merasa kesepian,"

"Kesepian dari mana? Jelas-jelas aku di sini,"

"Aku kesepian karena kamu tampak seperti orang lain, Takumi," ujar Eri.

"Huh, lalu aku harus bagaimana?"

"Bagaimana dengan tidur menghadap ke arahku?"

Takumi berbalik dan berbaring menghadap gadis itu.

Eri pun tersenyum. "Kamu belum bisa tidur, 'kan? Maukah kamu mendengarkan ceritaku?"

"Tentu, akan kudengarkan," jawab Takumi sambil membelai lembut pipi kanan Eri.

"Aku pindah ke Jepang saat aku berusia delapan tahun," Eri memulai ceritanya. "Orangtuaku mendaftarkanku ke sekolah negeri. Setiap pulang sekolah, aku selalu diejek oleh teman-temanku karena warna rambutku yang aneh,"

"Hari demi hari aku mencoba bersabar, tapi lama-lama aku tak bisa menahan tangisku. Begitu tangisku pecah, mereka malah semakin jadi menggangguku," lanjut Eri. "Lalu, kamu tahu apa yang terjadi?"

"Ada seorang anak laki-laki berambut biru kehitaman yang membelaku. Aku sama sekali tak mengenalnya bahkan sepertinya dia dari SD yang berbeda denganku," wajah Eri tampak berseri-seri saat menceritakan pahlawannya itu.

"Tapi dia malah melindungiku bahkan dia juga mengatakan sesuatu yang membuatku begitu berbunga-bunga," ujar Eri. "'Rambutmu itu indah, seharusnya kamu tak perlu menutupinya dengan topi. Itu 'kan tanda yang diwariskan oleh kedua orangtuamu yang tentunya sangat menyayangimu,' begitu katanya, bukankah itu manis?"

"Tak lama setelah itu, kedua teman-temannya yang tak dapat kulihat dengan jelas karena tertimpa sinar matahari senja memanggilnya, 'Umi-kun, ayo pulang!' dan dia pun meninggalkanku. "Haaah… kuharap aku bertemu lagi dengannya!"

"Hmm? Berarti cinta pertamamu itu bukan aku, dong?" kata Takumi.

"Ta, tapi itu hanya perasaan anak kecil berumur delapan tahun! Masa' sudah dihitung cinta pertama, sih?" protes Eri.

"Hahahaha, oh ya, dan kamu beruntung karena anak laki-laki yang kamu maksud itu sudah berada sangat dekat denganmu," ujar Takumi.

"De, dekat denganku? Jangan bilang kalau dia fans fanatik yang menguntitku ke mana-mana!" kata Eri ngeri.

"Bodoh, mana mungkin," kata Takumi. "Oh ya, dan namanya bukan Umi,"

"Eh? Maksudmu?"

"Namanya adalah Takumi. Ya, akulah anak itu, Eri," Takumi mengaku. "Aku juga ingat akan kejadian sore itu,"

"Be, berarti…"

"Ya, Tuhan sangat sayang padamu karena kamu kembali dipertemukan olehku, si cinta pertamamu," lanjut Takumi sambil tersenyum.

Eri pun menghambur ke pelukan Takumi. "Ureshii,"

"Benar-benar tidak disangka, ya?" kata Takumi.

"Mungkin titel gadis yang penuh keberuntungan di µ's milik Nozomi sebaiknya dioper padaku, ya? Hihihi," gelak Eri.

Takumi pun ikut tertawa.

"Karena hari sudah larut, bagaimana kalau kita tidur?" saran Takumi.

"Tunggu," kata Eri sambil menarik bagian lengan kaos yang dikenakan Takumi.

"Hmm?"

"Sudah sedekat ini, apakah kamu tak ingin menciumku?" tanya Eri.

Ekspresinya begitu memelas hingga membuat wajah Takumi memanas.

"Baiklah," kata Takumi dan mereka pun berciuman sambil berpelukan dengan begitu mesra.

"Oyasumi," ucap Takumi.

"Un, oyasumi," jawab Eri.


"Yo, Nozomi!" sapa Nico pada kekasihnya yang tengah menjadi pengajar sukarelawan di TK yang tak jauh dari kampusnya Nozomi.

"Oh, hai, Nicocchi!" balas Nozomi sembari menghampirinya. "Kuliah dan rekamanmu sudah selesai?"

"Ya, makanya mumpung masih sore aku sekalian mampir ke sini," jawab Nico. "Oh ya, jam lima sore nanti tim bisbol Otonokizaka akan bertanding di stadion dekat sini, kamu mau ikut nonton denganku, enggak? Si Rin sekarang jadi ace di sana, lho,"

"Oh iya, ya, kompetisi bisbol musim semi sudah dimulai, ya?" kata Nozomi sambil menerawang. "Un, aku mau, deh! Aku penasaran bagaimana penampilan Rin-kun di lapangan bisbol nanti, hehe,"

"Kalau aku sih lebih penasaran bagaimana Hanayo menyemangati si cowok meong itu," kata Nico sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Ah! Nozomi-sensei, itu kakak yang di poster itu, 'kan? Yang idol itu!" seru salah satu anak didiknya.

Nico pun jongkok untuk mensejajarkan pandangannya dengan anak itu. "Yap, tepat sekali, tapi aku baru akan mulai debut dua bulan yang akan datang saat single pertamaku rilis,"

"Jadi, intinya aku ini masih idol pemula," ujar Nico rendah hati.

Eh? Enggak biasanya Nicocchi ngerendah begini, apa doi salah makan, ya? gumam Nozomi.

"Ba, bagiku onii-chan sudah terlihat seperti idol sungguhan, kok!" kata anak itu.

"Eh?" Nico agak kaget mendengarnya.

"Onii-chan dulu anggota school idol µ's, bukan? Kakakku penggemarmu makanya aku tahu kalau onii-chan itu keren!" tambah anak itu. "Oleh karena itu, berjuanglah, onii-chan!"

Nico pun tersenyum lebar. "Baik, kalau begitu kemarilah, anak-anak! Nah, sekarang ikuti Nico-nii-chan, ya? Se, no, Nico Nico nii~!"

"Nico Nico nii~!" anak-anak TK itu pun mengikuti Nico.

"Dua bulan lagi Number One Idol in The Universe, Yazawa Nico ini akan merilis single pertama dan memulai debutnya. Jadi, bilang pada keluarga kalian untuk membeli single-ku dan mendukungku, ya~" kata Nico.

"Baik, onii-chan!" seru anak-anak itu dengan patuh.

Geh, ujung-ujungnya malah promosi ini anak… kata Nozomi dalam hati.

"Wah, sudah jam setengah lima!" seru Nico sambil melihat jamnya. "Karena onii-chan dan Nozomi-sensei mau mendukung teman kami yang akan bertanding, Nozomi-sensei izin pulang duluan, ya~"

"Un, bye, bye!" seru anak-anak itu sambil melambaikan tangan mereka.


"Fyuuuh… untunglah kita enggak telat," kata Nico sambil duduk di salah satu bangku penonton.

"Nee, Nicocchi, gimana kalau kita duduk lebih ke sana yang ada Hanayo-chan?" usul Nozomi.

"Fufufu, udah, di sini aja," kata Nico sambil cekikikkan. "Lihat! Dia pakai kostum cheerleader 'Takaramonozu', 'kan? Lebih baik kita duduk di sini saja supaya bisa merekamnya diam-diam, hehehe,"

"Wah, iseng banget kamu," komentar Nozomi.

"Nanti kalau dia sudah mulai heboh bersoraknya baru kita dekati dan kita godain, hahaha," lanjut Nico.

Pertandingan pun dimulai. Di inning awal, Otonokizaka berhasil memimpin, namun tidak disangka menjelang pertengahan pertandingan tim lawan mampu membalikkan keadaan sehingga membuat Otonokizaka tertinggal cukup jauh. Sepertinya tim lawan sengaja membiarkan Otonokizaka memimpin duluan untuk mencari tahu kelemahan mereka.

Tim Otonokizaka mulai terlihat depresi, tapi di tengah suasana yang tak menyenangkan itu Rin tetap tersenyum dan menyemangati teman-temannya. Rin pun mengemukakan idenya agar mereka bisa menang di pertandingan ini.

Tim Otonokizaka pun menyudahi time out mereka dan kedua tim pun kembali ke pertandingan. Para pemain di tim Otonokizaka kini telah bersemangat kembali berkat Rin. Mereka pun mulai merebut angka demi angka menyusul tim lawan. Tak terasa selisih poin hanya tinggal satu lagi. Kalau Rin berhasil memukul home run maka dia bisa membuat temannya di base ketiga home in ditambah dengan dirinya sehingga mereka bisa mencetak dua angka dan memenangkan pertandingan.

Nyatanya, memukul home run tidak semudah itu. Suasana menjadi tegang karena Rin telah mendapat dua strike. Satu strike lagi maka perjuangan Otonokizaka hanya akan sampai di sini. Rin pun berusaha menenangkan diri sambil berulang kali menarik nafas dan membuangnya.

"Rin-kun! Berjuanglah!" seru Hanayo. "Setelah pertandingan ini selesai, ayo kita ikut tantangan makan ramen porsi raksasa di kedai dekat stasiun makanya berjuanglah!"

Semua orang tertawa mendengar perkataan Hanayo, namun perkataan itu sukses membuat Rin kembali berapi-api. Melihat Rin telah siap, pitcher lawan melempar bolanya.

Aku akan memenangkan pertandingan ini dan juga… kata Rin dalam hati.

"Memenangkan tantangan makan ramen porsi raksasa itu, nyaaaaaaa!" lanjut Rin sambil berseru dengan keras dan memukul bolanya.

Semua orang di sana langsung cengo mendengar seruan konyol Rin sampai-sampai mereka baru sadar Rin telah memukul home run.

"Yattaaaa!" seru Hanayo karena senang Otonokizaka telah menang.

"Hanayo-chan tahu banget bagaimana membuat Rin-kun mengeluarkan seluruh kemampuannya, ya?" kata Nozomi.

"Benar-benar deh meong maniak ramen itu," komentar Nico.

"E, eeeh? Nozomi-chan? Nico-kun?! Sejak kapan kalian di sini?" tanya Hanayo yang kaget karena pasangan mak comblang sudah duduk di sebelahnya.

"Udah dari tadi, lumayan lama kayaknya, hehe," jawab Nozomi.

"Kayaknya keren nih kalau kamu kuusulkan untuk gabung ke klub cheerleader-nya Otonoki," kata Nico sambil menunjukkan rekamannya.

"Uwaaaaah! Jangan, Nico-kun! Memalukaaaaaan!" seru Hanayo panik. "Ugh… dareka tasuketeeeee!"


Maki manyun melihat cowok berambut cokelat muda dan berjidat lebar telah stand by lengkap dengan mobil pribadinya di depan tempat bimbelnya

"Konbawa, Maki-san~" sapa Tsubasa.

"Kamu kalau kuliah titip absen terus, apa?" kata Maki. "Kayaknya kamu makin sering aja ngikutin aku ke mana-mana,"

"Ah, hanya perasaanmu, mungkin~? Kebetulan saja jadwal senggangku bertepatan dengan saat kamu otw ke sekolah, hahahaha," jawab Tsubasa.

"Ayolah, kamu tak harus selalu menjemputku seperti ini," kata Maki sambil menghela nafas. "Keberadaanmu mengundang perhatian banyak orang, tahu,"

"Bukankah sudah kubilang? Aku tak akan menyerah semudah itu," tegas Tsubasa.

"Selama kamu belum membenciku tak masalah, 'kan?" lanjutnya.

"Huh, terserahlah," kata Maki sambil masuk ke dalam mobil.


"Keluarganya Allen baru saja membuka restoran keluarga baru," Tsubasa mencoba memulai pembicaraan. "Mau mampir? Sandwich-nya enak, lho,"

"Ya, boleh lah," jawab Maki cuek.

"Kamu lagi kelaparan ya makanya rese?" goda Tsubasa. "Tuh, makan aja dulu Sne*kers di keropak,"

"Apaan, sih? Dan lagi, enggak usah pakai nge-endorse, deh!" seru Maki.

"Hahahaha!" Tsubasa hanya tertawa.

Tak terasa mereka pun sampai di restoran yang dimaksud.

"Ah, irashai!" sapa Allen yang tengah mengelap meja.

Maki kaget melihatnya. "Tunggu, bukannya keluargamu yang punya restoran ini? Kenapa kamu malah jadi pelayan?"

"Kata orangtuaku, kalau mau jadi pemimpin maka aku harus belajar dari posisi paling bawah dulu," ujar Allen.

"Ya, tapi enggak salah juga sih orangtuamu menyuruh begitu," kata Tsubasa. "Enggak heran restoranmu penuh sama pelanggan perempuan wong pelayannya ganteng begini!"

"Hahahaha, kalau begitu kalian mau duduk bareng Anju?" tawar Allen sambil menunjuk meja di mana terdapat member perempuan A-RISE satu-satunya itu duduk. "Sekalian ngobrol-ngobrol, sudah lama juga kita enggak ketemu, bukan?"

"Oh, boleh, boleh, yuk, Maki-san!" kata Tsubasa.

Ketiganya pun menghampiri meja yang dimaksud.

"Hai, Maki-san, Tsubasa!" sapa Anju.

"Hai, Anju! Makin seksi aja kamu setelah jadi mahasiswi? Hehehe," goda Tsubasa.

"Jangan godain cewek lain depan gebetan, dong, leader," tegur Anju sambil menyeruput tehnya.

"Maa, aku 'kan pangling, hahaha!" kata Tsubasa sambil menggaruk tengkuknya.

"Nah, kalian mau pesan apa?" tanya Allen sambil menyiapkan tab untuk mencatat pesanan.

"Aku mau sandwich smoked beef dan minumnya ice tea. Oh ya, tomatnya yang banyak, ya," kata Maki.

"Siap! Dan perlu kamu tahu, sayuran yang kami pakai ini kualitas premium, lho!" ujar Allen.

"Benarkah? Pasti tomatnya segar sekali!" kata Maki.

"Hihihi, Maki-san benar-benar suka tomat, ya?" komentar Anju.

"Kalau begitu aku pesan hot chocolate saja dan jangan lupa whipped cream-nya yang banyak, ya!" kata Tsubasa.

"Oke, mohon ditunggu sebentar, ya," kata Allen sambil berlalu ke dapur.

"Lho? Anju-san enggak pesan sesuatu?" tanya Maki.

"Tadi aku sudah makan duluan di sini sebelum kalian datang," jelas Anju. "Aku belum pulang karena ingin santai dulu sembari menyusun proporsal karya ilmiah di sini,"

"Heh? Begitu jadi mahasiswa kalian jadi nampak berbeda, ya?" komentar Maki.

"Kalau aku? Aku?" tanya Tsubasa sambil sok imut.

"Enggak ada perubahan, sama aja ngeselinnya!" jawab Maki.

"Ugh… hatiku hancur…" kata Tsubasa sambil membenamkan wajahnya ke atas meja.

"Hihihi, kapan nih kalian jadiannya?" tanya Anju.

"Kapan ya enaknya~?" goda Maki pada Tsubasa.

"Ih, jangan gantungin abang atuh, neng! 'Kan galau jadinya!" rajuk Tsubasa.

"Bukankah itu harusnya kata-kata cewek, ya?" balas Maki.

"Leader itu pria yang baik, lho, Maki-san," ujar Allen sambil meletakkan pesanan mereka di atas meja.

"Sasuga, pelayanan di restoranmu memang top, Allen!" puji Anju sambil mengacungkan jempol.

"Hahaha, thanks, Anju," jawab Allen.

"Kembali ke yang kubilang barusan, Kira Tsubasa ini adalah pria yang baik dan hebat," jelas Allen. "Dia baru begini lebay karena suka banget sama kamu, Maki-san,"

"He-euh! He-euh!" Tsubasa tampak bangga sambil menyeruput hot chocolate-nya.

"Leader nge-fly banget deh gara-gara dibelain sama Allen," komentar Anju.

"Oh, jelas lah!" kata Tsubasa sambil melipat kedua tangan di depan dada dan manggut-manggut.

"Iya, iya, aku juga tahu kamu pria yang hebat, tapi…" kata Maki sambil mengelap sekitar bibir Tsubasa yang belepotan whipped cream. "Beri aku waktu supaya aku bisa memastikan perasaanku padamu, oke?"

Wajah Tsubasa memerah karena Maki kini begitu dekat dengannya. Allen dan Anju langsung bertingkah seperti ibu-ibu rumpi.

"Aduh, akhirnya dipeduliin sama gebetannya~" goda Allen.

"Makin cenat cenut deh itu kokoro, hahahaha~" timpal Anju.

"Ba, bawel, ah!" seru Tsubasa malu.

"Hahahaha, leader bisa malu juga ternyata!" ledek Allen.

"Ugh…. Awas ya kalian berduaaaa!" seru Tsubasa.

"Uwaaah, leader yang lagi jatuh cinta serem, ya? Suit suit~" Anju ikut-ikutan.

"Hahaha," Maki tergelak melihat kelakuan mereka.

Maa, sepertinya tidak buruk kalau aku berpindah hati pada si jidat lebar itu, ya? pikir Maki.