Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Beautiful You | January 15th, 2012

Cast : Kyuhyun, YooMin (ChangminxYoochun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi dan cast lain menyusul (DBSJ = DongBangSuJu)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!

A/n : Ini chapter 1G. Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.

.

.

.

.

The Time: Beautiful You | January 15th, 2012

.

Sunday

January 15th, 2012

06:49 AM

"Kau telat bangun lagi Yun." kata seorang namja cantik yang mengenakan apron berwarna merah muda ketika suaminya keluar dari kamarnya dan menghampirinya di dapur.

Yunho terkekeh. Dia berjalan mendekati Jaejoong yang tengah menggoreng telur mata sapi dan kemudian memeluknya. "Kau harum Jae," kata Yunho menggoda istrinya.

Jaejoong tersenyum. Dia memukul lengan Yunho yang melingkar di pinggangnya. "Itu karena aku sudah mandi. Menyingkirlah Yun, aku tak mau masakanku gosong lagi karenamu." perintah Jaejoong.

Yunho menggeleng. Dia menelusupkan wajahnya di perpotongan antara bahu dan rahang Jaejoong. Jaejoong terkekeh pelan. Kebiasaan Yunho yang selalu bermanja-manja dengannya. Namun ketika dirasakannya Yunho mulai menjilat kulit-kulit sensitif di lehernya, Jaejoong kembali memukul lengan Yunho—kali ini lebih keras.

"Ya! Yunnie-ah! Menyingkirlah! Kau tidak ingin sarapan dengan telur gosong 'kan?" tanya Jaejoong agak keras.

Yunho terkekeh. Dia menjauhkan wajahnya dari leher Jaejoong dan melepaskan pelukannya. Dengan terpaksa dia berjalan kearah meja makan dan duduk di salah satu kursi. Dia tidak mau berakhir dengan tragis jika mengganggu ritual masak dari Jung Jaejoong.

"Hari ini pulang jam berapa Yun?" tanya Jaejoong seraya mematikan kompornya—setelah telur terakhir yang dia goreng sudah matang.

Yunho menggeleng. Dia meraih secangkir air bening di meja—yang sudah Jaejoong siapkan—dan mulai meneguknya agak banyak. "Sepertinya larut malam lagi, Jae. Ada kasus baru." jawabnya.

Jaejoong hanya berkata 'oh' tanpa suara. Dia meletakkan telur dari dalam wajan ke atas roti yang sudah disusun manis di atas piring. "Istirahatlah yang cukup Yun." kata Jaejoong seraya berbalik kearah Yunho. Dia membawa dua piring yang sudah berisi sandwich itu ke meja makan dan kemudian meletakkan salah satu piring dihadapan Yunho. Setelah itu Jaejoong duduk di kursi yang bersebrangan dengan Yunho. "Oh ya, bagaimana kabar Changmin? Dia sudah lama tak main kesini Yun."

Yunho memutar kedua bolamatanya seraya memotong sandwichnya dengan pisau. Kemudian dia menusukkan potongan sandwich kecil itu menggunakan garpu dan mulai memakannya. "Dia sedang sibuk dengan orang gila." kata Yunho acuh.

"Orang gila? Ayolah Yun, jangan mengejek orang lagi. Sifatmu itu buruk sekali." ucap Jaejoong yang hanya dibalas oleh kekehan Yunho.

"Lagipula Kyu—maksudku orang itu memang gila, Jae." ucap Yunho.

Jaejoong hanya mengangkat bahunya pelan. Dia malas menanggapi ucapan suaminya yang menurutnya agak keterlaluan. Jaejoong memasukkan potongan sandwich kecil ke dalam mulutnya, dan kemudian dia menatap Yunho. "Yun, kalau bisa ajak Changmin main kesini ya? Terakhir dia kesini... sepertinya malam setelah natal kemarin. Ya Yunnie, ya? Please~" Jaejoong merajuk suaminya yang hanya menggeleng pelan.

"Kalau dia tidak sibuk juga pasti datang sendiri. Mana mungkin si monster makan itu melupakan masakanmu? Dia pasti akan datang kesini kalau kelaparan, Boojae." kata Yunho acuh.

Jaejoong menusukkan garpunya di potongan sandwichnya yang masih besar. "Aish, Yun, kau tinggal menyuruh Changminnie main kesini saja susah sekali sih!"

"Lagipula kau juga Jae, mengapa kau menganggap si tiang listrik itu seperti anakmu sendiri?" kata Yunho, merengut kesal. "Kau terlihat lebih sayang kepada Changmin daripada kepada suamimu sendiri."

"Cih, ayolah Yunho, jangan bertingkah seperti anak umur lima tahun. Lagipula aku memang sayang kepada Changmin, dan aku memang menganggapnya sebagai anakku sendiri."

"Ya Tuhan, aku tak sudi mempunyai anak seperti dia." Yunho menghentikkan aktivitas makannya dan berdiri dari duduknya. "Lagipula, hubungan Changmin dan aku sedang tidak baik. Mana mungkin dia akan menerima ajakanmu untuk bermain kesini."

.

.

The Time

Beautiful You | January 15th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

January 15th, 2012

01:14 PM

"Kenapa belum berangkat, Min?" tanya Yoochun seraya mengenakkan jaket berwarna biru tuanya.

Changmin menggeleng. Dia hanya mengutak-atik iPad apple putihnya dengan serius di atas ranjang. Yoochun tersenyum. Dia mendekati Changmin dan mencium bibirnya sekilas.

Changmin menaikkan wajahnya—meninggalkan pandangannya dari layar iPad. Dia menatap Yoochun yang meraih kupluk berwarna senada dengan jaketnya di atas meja. "Hyung mau kemana? Tidak pergi ke rumah sakit?" tanya Changmin heran.

Yoochun menggeleng. Dia mengacak rambut lembut Changmin dan membuat pemiliknya makin menatapnya heran.

"Hyung pergi dulu ya." kata Yoochun tanpa menjawab pertanyaan Changmin. Dia berjalan kearah pintu kamar dan kemudian keluar dari sana.

Changmin hanya mengganti tatapan herannya menjadi acuh. Dia mengangkat bahunya dan kembali menfokuskan pandangannya ke layar iPad.

.:o~o:.

Sunday

January 15th, 2012

03:22 PM

"Silahkan Tuan." kata suster itu tersenyum—mungkin sekarang dia sudah hapal terhadap Changmin. Pintu terbuka dan Changmin segera melangkah masuk ke dalam setelah meletakkan barang-barang yang dianggap dapat berbahaya ke dalam box putih—seperti biasanya. Kemudian dua detik setelah itu pintu tertutup. Changmin berbalik dan mulai melangkah mendekati Kyuhyun yang sedang duduk di atas ranjangnya—memeluk lututnya.

"Hai Kyuhyun. Bagaimana kabarmu?" tanya Changmin. Dia mengambil tempat untuk duduk disamping Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh kearah Changmin, "Tumben baru datang jam segini?" tanya Kyuhyun balik tanpa menjawab pertanyaan Changmin.

Changmin mengangkat bahunya pelan. "Tadi ada urusan sebentar. Jadi bagaimana? Apa kau sudah merubah pikiranmu? Eum?"

Kyuhyun menggeleng tidak tahu. Dia menyembunyikan wajahnya di antara dada dan lutunya. "Aku belum mempunyai jawaban untuk itu."

"Kyu, ayolah. Kau tidak bisa diam terus disini. Kau harus keluar. Setidaknya rumah sakit jiwa bukan pilihan yang tepat. Cepat atau lambat semua orang akan tahu bahwa kau sebenarnya tidak gila." kata Changmin seraya memelankan nada suaranya. Dia menatap kearah kamera di sudut ruangan. "Kau harus keluar dari sini."

"Tidak Min." Kyuhyun menggeleng lagi. "Setidaknya berikan aku waktu untuk berpikir."

Changmin mengusap punggung Kyuhyun lembut. Dia menatap miris namja berkulit putih pucat itu. "Kyu," Changmin memelankan suaranya lagi. "Jika pihak kepolisian mengetahui bahwa kau berpura-pura gila, tuduhanmu masuk ke dalam penjara semakin bertambah. Pembunuhan dan membohongi pihak kepolisian. Dan hal itu dapat membuat waktumu di dalam penjara semakin bertambah juga." Changmin menghela napasnya. "Kau harus keluar dari sini Kyu."

"Aku tidak bisa." Kyuhyun meremas pakaiannya erat. "Dan aku tidak mau."

"Mengapa Kyu? Mengapa? Aku bisa membantumu Kyu! A-aku akan membantumu." kata Changmin seraya mengguncangkan bahu Kyuhyun. Dia menatap Kyuhyun dengan tatapan memohon.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Dia menatap Changmin yang duduk disampingnya dengan tatapan dingin. "Kenapa kau membantuku? Aku tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku. Mengapa kau ingin membantuku?" tanya Kyuhyun agak keras. Dia menatap Changmin seraya menggelengkan kepalanya. "Jangan membantuku. Jangan pernah membantuku! Aku bisa mengurus hidupku sendiri! Kau tidak perlu membantuku!"

"Kyu..." Changmin menatap Kyuhyun dengan pandangan nanar. Sementara namja yang memakai pakaian putih selutut itu hanya menatapnya dingin.

"Kau bisa pergi sekarang. Terima kasih karena sudah datang untuk menjengukku."

.:o~o:.

Sunday

January 15th, 2012

05:01 PM

"Hati-hati Heechulie." kata seorang perempuan yang sudah mulai tua dengan lembut. Dia menatap anaknya yang yang tengah memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil—dan dibantu oleh menantunya.

Heechul tersenyum. Dia berjalan mendekati ibu dan ayahnya di muka pintu dan kemudian mengecup pipi keduanya lembut. "Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan kalian berdua?" tanya Heechul.

Ibunya menggeleng dan tersenyum. Dia mengusap pipi anaknya dengan gerakan perlahan. "Kau sudah menemani umma dan appa selama dua minggu disini." katanya seraya mengarahkan pandangannya kearah seorang namja yang berdiri di samping mobil dengan senyumannya. "Lagipula, kasian 'kan suamimu ditinggal di China selama dua minggu?"

Heechul terkekeh pelan. Dia memeluk ibunya erat dan mencium keningnya. "Umma, aku akan merindukanmu."

Ayahnya tertawa pelan. Dia menepuk punggung anak tertuanya. "Jangan berlebihan Heechul."

Heechul melepaskan pelukan terhadap ibunya dan kemudian memeluk ayahnya. "Jika ayah perlu aku, jangan sungkan-sungkan untuk menelponku." Dan kemudian pelukan itu terlepas.

Ayahnya menepuk kepala Heechul. Membuat namja cantik berambut hitam seleher itu menatapnya. "Ayo berangkat. Appa dan umma baik-baik saja kok. Lihat, suamimu sudah menunggumu sejak tadi." kata ayahnya terkekeh seraya menunjuk kearah suami Heechul dengan dagunya.

Heechul tersenyum. Dia memeluk kedua orangtuanya lagi sebelum meninggalkan mereka. "Jika umma dan appa membutuhkan aku, telepon saja. Okay?" tanyanya seraya mendekati suaminya di samping pintu mobil.

Kedua orangtuanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Hangeng—yang merupakan suami dari Heechul—tersenyum dan kemudian membukakan pintu kepada seseorang yang sudah menjadi istrinya selama kurang lebih satu tahun terakhir.

"Jaga dirimu." kata ibunya.

Heechul mengangguk dan kemudian masuk ke dalam mobil. Hangeng menunduk sopan dan kemudian masuk juga ke dalam mobil—di tempat kemudi. Dan kemudian mobil itu melaju, keluar dari pekarangan rumah bercat putih itu.

Heechul menatap kearah jendela—menatap kedua orangtuanya yang mulai terlihat menjauh dari pandangan matanya. Dia tersenyum ketika melihat kedua orangtuanya masuk ke dalam rumah. Dalam batinnya dia hanya bisa berharap agar kedua orangtuanya melupakan kesedihan atas kematian anak kedua mereka, yang merupakan adiknya, Sungmin.

Heechul mengalihkan pandangannya ke sampingnya, dimana suaminya tengah serius mengemudikan mobilnya. Heechul tersenyum. Dia mengalihkan kembali pandangannya kearah jalanan dan menemukan sesuatu yang berbeda dari perkiraannya.

"Han, ini bukan jalan menuju bandara kan?"

Hangeng mengangguk. "Tentu saja bukan, sayang."

"La-lalu, mengapa kita kesini? Han, bagaimana jika kita ketinggalan pesawat ke China?" tanya Heechul heran.

Hangeng menoleh sekedar untuk tersenyum. Dia kembali memusatkan pandangannya terhadap jalanan. "Kalau kita kembali ke China, mobil ini bagaimana?"

Heechul langsung merutuki kebodohannya. Tetapi dia masih bingung, mengapa namja ini membawa mobil sedangkan mereka akan kembali ke China?

"Tetapi kena—"

Hangeng menghentikan mobilnya ketika diluar sana rambu lalu lintas menunjukkan warna merah. Dia menepuk stirnya pelan dan kemudian memandang istrinya. "Chulie, kita akan tinggal di Seoul."

"A-apa?" Heechul masih belum bisa mencerna kalimat yang diucapkan oleh Hangeng. Dia menggerenyitkan keningnya—menatap suaminya tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah membeli rumah di Seoul. Dan beberapa hari kemarin aku sudah membawa seluruh pakaian dan barang lainnya milik kita di China ke rumah itu." kata Hangeng santai.

Heechul semakin menatapnya tak mengerti. "Di sini? Lalu, bagaimana dengan perusahaanmu di China? Astaga! Apa yang kau pikirkan?"

"Hei Chulie, tenanglah." kata Hangeng lembut. "Kau ingat bukan kalau keluargaku mempunyai dua perusahaan? Aku mengurus yang berada di China dan ayahku yang mengurus perusahaan di Seoul. Dan sekarang kami berdua bertukar posisi. Cukup simple bukan?"

"Ya, tapi untuk apa kau melakukan hal itu?" tanya Heechul, masih tak mengerti.

Hangeng tersenyum. Dia mengusap kepala istrinya dan menatapnya lembut. "Agar kau bisa pergi ke rumah orangtuamu dengan mudah jika kau rindu pada mereka. Dan juga, agar lebih mudah untuk kita berziarah ke makam Sungmin. Kau senang bukan? Lagipula jika kita tinggal disini, aku juga bisa lebih mudah untuk bertemu dengan adikku, Zhoumi."

Heechul menatap Hangeng tak percaya. Bahkan mulutnya terbuka hampir seluruhnya. Hangeng meraih kembali stir mobil ketika rambu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Dan dia kembali melajukan mobilnya dengan senyuman. Heechul masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh namja yang duduk disebelahnya. Namja yang melakukan sesuatu yang tidak dapat dipercaya olehnya.

"Ya—ya ampun, Han... mengapa kau melakukan semua ini?"

Hangeng tersenyum. Dia menoleh kearah Heechul yang menatapnya bingung. "Tentu saja untuk membuatmu bahagia, sayang."

Heechul tak tahu apa yang harus dia katakan sekarang. Suaminya rela untuk menukar pekerjaan dengan ayahnya—yang tentu saja lebih berat—hanya untuk dirinya. Dia segera meraih handphone-nya di dalam saku celananya dan mulai menekan beberapa angka.

"Hei, siapa yang akan kau hubungi?" tanya Hangeng seraya mencuri pandangan kearah Heechul.

Heechul menoleh kearah Hangeng. "Tentu saja aku akan mengabari kedua orangtuaku."

"Tenang saja Chulie, mereka berdua sudah tahu." kata Hangeng tenang.

"Sudah tahu?" Heechul membulatkan matanya. "Ba-bagaimana bisa?"

"Mereka sudah mengetahui rencanaku ini sejak seminggu yang lalu. Tenang saja."

Heechul menggeleng tidak percaya—bukan tidak percaya terhadap ucapan Hangeng, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Hangeng. Dengan cepat Heechul memeluk tubuh suaminya dan tersenyum bahagia. "Astaga Han, terima kasih. Aku bisa mengurangi rasa khawatirku terhadap mereka, daripada ketika kita di China. Terima kasih, Han."

.:o~o:.

Sunday

January 15th, 2012

11:20 PM

Changmin menatap jam dinding di samping lemari. Jarum panjang berwarna merah itu menunjuk kearah angka empat sedangkan jarum pendeknya menunjuk ke angka sebelas. Sejak dia pergi beberapa jam yang lalu, kekasihnya itu sama sekali belum menghubungi dirinya. Dan dia juga belum pulang. Changmin khawatir akan hal itu. Apalagi salju diluar sana masih lebat—mengingat sekarang masih bulan Januari. Dia sudah menghubungi nomor Yoochun, tetapi selalu saja tak diangkat. Hal itu menambah kehawatiran Changmin.

Tetapi pekerjaan mengenai rencananya untuk membuat Kyuhyun bebas dan beberapa kasus pembunuhan lain menahannya. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, dan juga dia tidak bisa untuk mencari Yoochun. Changmin sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

Changmin menghentikkan aktivitasnya dari laptop. Dia meraih handphone-nya yang berada di samping laptop dan mulai menekan angka satu agak lama. Speed dial untuk kekasihnya. Teleponnya terhubung, tetapi...

Tutt... tutt... tutt...

Tak diangkat.

"Shit!" Changmin menggerutu dan melempar handphone-nya ke meja. Dia menumpukkan kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya disana. Kepalanya agak pening—mungkin gara-gara banyak pikiran. Dan dia memilih untuk memejamkan matanya—sekedar untuk beristirahat.

Beberapa menit berlalu. Changmin yakin dia sudah diam dalam posisi seperti itu selama puluhan menit. Tetapi kekasihnya itu tetap saja belum datang—atau belum balas menghubunginya. Changmin tak tahu harus berbuat apa sekarang.

Kemudian dia merasakan ada sesuatu yang lembut dan menggelitik di betisnya. Gerakannya berulang. Dan rasanya benar-benar sangat lembut. Changmin menaikkan wajahnya secara perlahan. Dia segera menolehkan pandangannya kearah sesuatu yang menggelitik betisnya. Dan dapat dia lihat, seekor anak anjing berbulu putih tengah mengusapkan kepalanya manja di betis Changmin. Dan di mulut anjing itu menggigit setangkai mawar segar berwarna merah. Changmin tersenyum. Dia meraih anak anjing itu dan mengangkatnya ke udara.

"Astaga, apa yang kau lakukan Park Yoochun?" tanya Changmin senang.

Yoochun yang berdiri di muka pintu ikut tersenyum. Dia berjalan mendekati Changmin dan anak anjing itu. Walaupun sebelumnya Changmin tak melihat Yoochun berdiri di muka pintu, tetapi namja itu tahu bahwa Yoochun yang melakukan semua ini. Memangnya siapa lagi yang akan melakukan hal yang romantis terhadapnya?

Changmin meraih setangkai mawar di mulut anjing itu dan menciumnya. "Dalam rangka apa kau memberikanku bunga dan anak anjing yang lucu ini?" tanya Changmin seraya menggesekkan hidungnya di kepala anak anjing West Highland Terrier berwarna putih yang sedang menjulurkan lidahnya keluar itu.

Yoochun menggeleng. Dia mengacak rambut Changmin, membuat Changmin menoleh kearahnya dan Yoochun segera mengecup bibir itu. "Agar kau punya teman—jika aku lembur di rumah sakit."

Changmin meletakkan mawar itu diatas keyboard laptopnya. Dia mendekatkan wajah anjing itu kepadanya dan membuat si anak anjing menjilat wajahnya. "Siapa namanya?"

"Aku menamakannya Mimax." kata Yoochun seraya terkekeh.

"Mimax? Nama apa itu?" Changmin tertawa pelan seraya mengalihkan pandangannya kembali kearah Yoochun.

Yoochun mengangkat bahunya. Dia mengecup kening kekasihnya yang tampak senang dengan hadiah yang diberikannya. Changmin tersenyum semakin lebar.

"Aku ingin namanya Silky." Changmin mengembalikan pandangannya terhadap si anak anjing. "Karena dia begitu lembut."

"Terserah padamu, tetapi aku akan tetap memanggilnya Mimax. Nama itu keren."

Changmin tertawa lagi. Dia membawa anjing itu dalam pelukannya dan kembali menatap Yoochun.

"Oh ya, mengapa kau tak mengangkat teleponku sejak tadi? Kau membuatku khawatir hyung."

Yoochun merendahkan tubuhnya dan mengecup bibir Changmin lagi. Dia mengacak rambut hitam agak ikal itu—yang merupakan kebiasaannya—dan menatapnya manis. "Maaf. Aku melakukan itu hanya karena aku ingin memberikan kejutan untukmu. Lagipula, aku pergi selama itu bukan hanya untuk membeli Mimax. Aku perlu membantunya untuk menyesuaikan baumu agar dia bisa langsung akrab padamu—tadi aku membawa beberapa barangmu. Aku juga perlu membeli tempat makannya, susunya, makanannya, dan keperluan lain. Jadi aku baru pulang larut malam seperti ini." Yoochun mendekatkan kembali wajahnya kearah Changmin dan mengecup bibirnya untuk yang kesekian kali di malam itu. "Maaf ya?"

Changmin mengangguk. Dia mengacak-acak bulu putih milik anjing barunya itu dengan gemas. "Gomawo, hyung."

Yoochun tersenyum puas. Changmin menolehkan pandangannya kembali terhadap Yoochun, dan dengan segera Yoochun mencium—menghisap—bibir milik kekasihnya. Changmin menerima ciuman itu. Dia meresponnya dengan tempo cepat—sesuai dengan tempo yang diberikan Yoochun. Mereka berciuman secara intens. Sangat dalam. Hingga Changmin lupa bahwa ada anak anjing dalam pangkuannya.

Changmin mulai berdiri dari duduknya—sehingga Silky a.k.a Mimax turun dari pangkuannya. Yoochun menarik tengkuk leher Changmin, dan dia mulai memainkan lidah Changmin dengan lidahnya. Tangan Yoochun mendorong kursi yang mengahalangi jalan Changmin. Dan dengan mulut mereka yang masih saling memanjakan, mereka berdua berjalan mendekati ranjang. Changmin segera naik keatas ranjang dengan Yoochun yang berada di atas tubuhnya.

Dan mereka mulai melakukan sesuatu ketika tangan Yoochun membuka seluruh pakaian miliknya dan juga pakaian milik Changmin. Melemparnya ke sembarang arah.

Silky hanya naik keatas kursi yang semula di duduki Changmin. Menjatuhkan diri dan kemudian tertidur disana. Mengacuhkan suara-suara yang sama sekali tidak dimengerti oleh anak anjing yang berumur empat bulan itu.

.:o~o:.

Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan

Eum, siapa yang kangen HanChul? Nih, ada momen-nya hohoho XD

Hm, karena ini masih chapter 1 (chapter 1G maksudnya) jadi ini masih introducing lagi ya~

Kalian harus bersabar menunggu apa yang saya rencakan XP

Oh, siapa yang connect? Kenapa nama anjingnya Mimax? Karena itu adalah Micky + Max = Mimax x 2535 + 5633 – 8032 = ? *nah lho?*

Yasudah, ayo bales review chapter 1F XD

MinnieGalz : AMIN ^^ gomawo ne? Olalala, Kyu ketemu Ming lagi? Hmm... sepertinyaaaaaaaaaaaaaaa *kabur* kapan kapan hahaha #plak

Hyeri : Oh, itu artinya jangan diinget hehe *diinjek*

kangkyumi : Karena Kyu gila *pasang wajah innocent* nah lho? Itu pertanyaan yang tidak mesti dijawab oleh author *direbus* Ohehehehe makasih ya ucapan selamatnya. Amin :)

Wonkyurity : Ne ^^ gomawo ya~ amin :D siiipp ini udah ada chapter 1G nya

Cloud1124 : Gomawo ne ^o^ OMG, makasih ya~. Mereka NC-an kok, tapi kagak diceritain khu khu khu *disate YooMin*. Huouoooo HaeHyuk-nya emang married, tapi ntar Februari. Pengen Yesung? Nanti ya, aku harus mikir dia didatenginnya dimana ._. Pasti di RSJ *dimutilasi Yesung*

Cho Luna Kuchiki : Saya juga tukang rusuh hoho XD OMG :O saya nista? Emang :p *digeplak* ini lanjutannya asaya persembahkan~

eunhee24 : Asiiiikkk gomawo~ saya gak bilang lho :3 Ya ampun, Yesung dibilang cocok jadi dokter kejiwaan ._.

Big thanks for readers MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin, Hayaka Koizumi, Hyorin, maxdisaster, widiwMin, minnie beliebers, Meong, Hyeri dan untuk semuanya.

FF INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI

Review? :*