Akhirnya, sampailah kita di chapter terakhir :')


Extra Chapter 03 : Will You Marry Me?

"Endcore! Endcore! Endcore!" seru para penggemar pada sang super idol yang begitu sukses di usianya yang ke-25 tahun hari ini.

Ya, konser yang digelar di Tokyo Dome pada tanggal 22 Juli hari ini juga sekaligus untuk merayakan ulang tahun sang bintang, Yazawa Nico. Selain itu, ada juga alasan lain mengapa konser akbar ini diadakan pada hari ini. Alasan lain itulah yang membuat Nico kembali ke panggung untuk membawakan lagu endcore dengan senyum yang begitu lebar di wajahnya.

"Hai, hai~! Arigatou, Nico~!" sapa Nico sambil menghentikan langkahnya di panggung utama.

"Kyaaaaa! Nico-nii-samaaaaaa!" seru para penggemarnya dengan begitu heboh sambil mengayunkan light stick mereka dengan semangat.

"Sebelum aku memulai endcore ada hal penting yang ingin kuumumkan pada kalian semua, boleh?" kata Nico.

Para penggemar kasak-kusuk. Mereka menebak-nebak jangan-jangan Nico memutuskan untuk berhenti dari dunia idol dan ini adalah konsernya yang terakhir.

Nico yang mengerti kekhawatiran penggemarnya pun melanjutkan perkataannya, "Tenang saja, ini kabar gembira, kok. Kalian takut Nico-nii-sama ini berhenti menjadi Number One Idol in The Universe, ya?"

Para penggemar bersorak penuh kelegaan.

"Ehem! Kepada sosok penting nomor dua dalam hidupku setelah ibundaku tercinta dimohon untuk segera naik ke panggung!" seru Nico.

Lampu sorot langsung memfokuskan cahayanya pada seorang wanita bersurai ungu yang duduk di kursi VIP. Wanita itu berjalan menuju panggung sambil dituntun oleh para staff konser karena wanita itu adalah orang penting bagi sang bintang.

"Nozomi-san! Nozomi-san!" sorak para penggemar.

Para penggemar Nico memang sudah kenal baik dengan Toujo Nozomi, wanita yang dipanggil untuk naik ke atas panggung saat ini juga saat konser perdana Nico saat memulai debutnya dulu. Oleh karena itu, tak satu pun dari mereka yang memendam rasa iri begitu wanita bersurai ungu itu kerap kali berada di sisi Nico. Para penggemar juga tahu mereka telah berpacaran semenjak masih di µ's sehingga mereka berharap hubungan keduanya terus langgeng bahkan kalau perlu sampai menikah.

"Mou, Nicocchi, ada apa, sih? Kamu ingin dibantuin saat memotong kue ulang tahunmu?" tanya Nozomi.

"Bodoh, buat apa aku memanggilmu untuk alasan sepele seperti itu?" balas Nico sambil mengeluarkan sekotak cincin dari sakunya.

Nozomi terkesiap melihat kotak itu.

Nico bersimpuh dengan satu lutut sebagai penopang tubuhnya dan ia juga membuka kotak berisi cincin itu di hadapan sang kekasih, "Nozomi, maukah kamu menjadi istriku?"

Nozomi tak bisa menahan air matanya karena terharu. Sambil menutupi sebagian wajahnya dengan kedua tangannya ia mengangguk berkali-kali.

"Ya, aku mau, aku mau, Nicocchi!" jawab Nozomi.

Nico tersenyum penuh arti sambil menyematkan cincin itu di jari manis calon istrinya.

"Terima kasih, Nozomi, aku mencintaimu," ucap Nico sambil mengecup kening Nozomi.

"Kyaaaaaa! Omedetou, Nico-nii-sama, Nozomi-san!" seru para penggemar yang juga ikut berbahagia.

"Terima kasih, semuanya!" balas Nico sambil melambaikan tangannya. "Karena ini adalah hari yang spesial maka Nozomi akan berduet bersamaku untuk endcore ini, setuju?"

"Yeaaaay!" sorak para penggemar.

Nico dan Nozomi pun berduet menyanyikan lagu Otomeshiki Ren'ai Juku. Mereka memutuskan untuk menyanyikan lagu tersebut untuk bernostalgia saat-saat masih menjadi school idol bersama para penggemarnya.


"Kayo, Kayo! Kalau aku memukul home run nanti tolong tangkapkan bolanya, ya! Tenang saja, pasti hanya Kayo yang bisa menangkapnya karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan melalui pukulan itu khusus untuk Kayo," itulah pesan Rin sebelum inning terakhir dimulai sambil memakaikan glove bisbol pada Hanayo.

Hmm… kira-kira apa yang ingin disampaikan Rin-kun padaku, ya? pikir Hanayo.

Sebelum memukul bola yang dilemparkan oleh lawan, Rin menyempatkan diri untuk menepuk kedua tangannya dan berdoa berharap agar pukulan home run-nya sampai pada Hanayo.

Priiit! Peluit ditiup oleh wasit begitu memastikan Rin telah masuk kuda-kuda siap untuk memukul bola. Pitcher lawan pun mengerahkan seluruh kemampuannya dalam lemparan itu.

Huffft… lakukan seperti biasa, Rin. Seperti yang biasa kau lakukan saat latihan. Pukul bolanya dan sampaikan… "keseriusanmu padanya!" seru Rin sambil memukul bola tersebut.

Para penonton di stadion banyak yang berdiri agar bisa menerima bola home run dari Rin. Awalnya, Hanayo agak kurang percaya diri sebab posisinya duduk ada di kursi paling belakang. Tapi karena dia percaya pada Rin maka Hanayo tetap mengangkat tangan kanannya yang dipakaikan glove oleh pria yang dicintainya itu.

Brugh! Bola itu pun sampai tepat di glove yang dikenakan oleh Hanayo. Hanayo mengambil bola tersebut dan terkejut dengan pesan yang terceplak oleh tinta dari glove-nya.

"Kayo, maukah kamu menjadi teman hidupku?" -Hoshizora Rin.

Hanayo menunjukkan bola hasil tangkapannya pada kamera sambil mengangguk, "Un! Aku mau, Rin-kun! Ayo, kita buat keluarga yang bahagia!"

"Unnnyatta, nyaaaaaaa!" seru Rin penuh rasa syukur.

Lamarannya diterima, ditambah lagi timnya menjadi juara. Hari ini adalah hari besar untuk Rin!


"Ara? Bu Yui dan Pak Shinsuke?" ucap Minami Ayaka, ibundanya Kotori sambil membukakan pintu pada tamunya. "Sudah lama, ya? Mari, masuk, masuk,"

Setelah keempat tamunya telah duduk dan mbok telah menyajikan teh baru lah Bu Ayaka menanyakan maksud kedatangan keluarga Kousaka itu ke kediamannya. Kotori pun duduk di sebelah ibundanya.

"Hayooo, bilang dong ke sini kita mau apa, Kazuya~" goda Bu Yui.

"Ayo, dong, onii-chan!" Yukio ikut-ikutan ngomporin.

"U, ugh… jangan menggodaku, ibu, Yukio!" seru Kazuya malu.

"Ehem!" Pak Shinsuke yang saklek berdehem keras agar Bu Yui dan Yukio menghentikan keisengan mereka.

Bu Yui dan Yukio langsung balik jaim lagi.

Kazuya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Tante Ayaka, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk menyampaikan keseriusan saya dalam menjalin hubungan dengan putri tante, Kotori-chan,"

"Saya mohon izin dan restunya untuk menikahi Kotori-chan!" ucap Kazuya dengan penuh kesungguhan sambil menundukkan wajahnya penuh hormat.

Bu Ayaka tersenyum dan berpaling pada putrinya. "Bagaimana jawabanmu, Kotori?"

"Ya, aku mau menikah dengan Kazuya-kun, ibu!" jawab Kotori sambil berlinang air mata haru.

"Begitu katanya, Kazuya-kun," kata Bu Ayaka. "Dasar, kamu ini kaku banget seperti baru kenal tante kemarin sore saja,"

Pak Shinsuke menepuk kepala Kazuya dan mengacak-acak rambutnya. "Itu baru putra ayah!"

"Un, terima kasih, ayah, ibu, Yukio!" ucap Kazuya sambil memandang kedua orangtua juga adiknya bergantian.

"Baiklah, karena lamarannya sudah oke, yuk kita atur acara pernikahan beserta tetek bengeknya!" si mbok ikutan nimbrung. "Mau saya kenalkan pada event organizer, katering, dan salon langganan saya, tuan dan nyonya sekalian?"

Widih, si mbok udah gercep (gerak cepet) aja, nih… kata kedua keluarga itu dalam hati terkesima dengan antusiasme si mbok.


"Enggak masalah sih kamu ajak aku kencan hari ini, tapi apa perlu dandanan kamu norak begitu?" kata Maki pada pria dengan wig afro warna-warni dan kacamata berkumis di sebelahnya.

"Sumpah, aku pengen jalan agak jauh dan pura-pura enggak kenal, tolong," lanjut Maki sambil menutupi sebagian wajahnya yang memerah.

"Eeeeeh?! Kenapa, Maki-san?! Se, segitu parahnya kah penyamaranku hari ini?" tanya Tsubasa.

"Menurut ngana?" balas Maki sinis.

"Ugh… ya maaf, deh…" kata Tsubasa. "Habis aku terlalu tampan, sih…"

"Bener, deh… aku pulang aja tahu gini!" kata Maki sambil berjalan cepat dan meninggalkan Tsubasa beberapa langkah di belakangnya.

"I, iya! Maafin aku, Maki-san! Aku ada perlu sama kamu hari ini, seriusan! Plis, jangan tinggalin akuuuuuu!" seru Tsubasa sambil menarik-narik bagian belakang baju Maki. "Iya, aku enggak bakal narsis lagi! Plis, aku ada perlu sama kamu!"

"Iya, iya, lepasin aku! Bajuku bisa robek, jidat lebar oon!" seru Maki.


"Jadi, kamu ada perlu apa?" tanya Maki begitu mereka sampai ke taman kota yang sepi pengunjung.

Tsubasa celingukan sana-sini. "Huffft…"

"Apaan, sih? Paparazzi lagi?" tanya Maki.

"Begitulah," jawab Tsubasa.

"Mereka kayak enggak ada artis lain yang lebih waras aja buat di-stalk, deh," komentar Maki.

"Biar kurang waras, tapi yang penting ganteng, 'kan?" Tsubasa tak mau kalah.

"Aku enggak akan nyangkal deh kalau soal itu," kata Maki cuek.

Mereka pun saling diam.

"Nee, Maki-san?"

"Hmm?"

"Kita nikah, yuk,"

"Kamu… bego, ya?" tanya Maki dengan wajah datarnya yang ngeselin seperti biasa.

"Lho? Kenapa? Aku salah apa lagi?" kata Tsubasa.

"Aku yakin teman-teman cowokku di µ's melamar pacar ataupun gebetan mereka dengan cara yang romantis, lah kamu?" ujar Maki. "Udah pakai samaran noraknya keterlaluan, di taman kota yang antah berantah, terus boro-boro bersimpuh di depanku, buka kotak cincin, dan bilang 'will you marry me?' dengan keren malah langsung ngajakin nikah tanpa ba-bi-bu,"

"Ma, maaf, deh…" kata Tsubasa down. "Aku capek banget menghindari paparazzi dan wartawan seharian ini. Membawamu ke sini agar aman dari mereka juga butuh perjuangan. Jadi, maaf kalau kurang romantis. Huh, toh kamu belum tentu menerimanya juga, 'kan?"

Maki menarik leher baju Tsubasa dan mencium bibirnya. "Apa itu cukup untuk menjawab lamaranmu?"

"Ta, tapi… kok, bisa? Bukankah kamu selalu jutek padaku?" tanya Tsubasa bingung.

"Bodoh, kamu kayak enggak paham aja kalau ke-tsundere-an-ku itu udah stadium akut, susah buat dihilangkan apalagi dengan pria yang membuatku jatuh hati," ujar Maki.

Tsubasa pun memeluk Maki erat sambil menangis penuh haru. "Syukurlah, syukurlah…"

"Bo, bodoh, kenapa malah kamu yang nangis?"

"A, aku enggak nangis! Ini cuma keringat dingin karena aku gugup banget, tahu!" Tsubasa berusaha ngeles.

"Enggak usah banyak ngeles, kuhajar juga kamu!" seru Maki gemas.

"Ah, ja, jangan, dong!"

Keduanya pun tertawa.

"Umm… apakah ibumu sudah membuatkan makan malam? Kalau belum, aku ingin mengundangmu sekeluarga untuk makan malam di rumahku," tanya Tsubasa.

"Sebentar, kutanyakan dulu, ya," kata Maki sambil sibuk dengan smartphone-nya.

Sepuluh menit kemudian…

"Mama dan papaku mau kok makan malam bersama keluargamu," ujar Maki sambil menutup teleponnya.

Tsubasa pun tersenyum. "Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang untuk kita, ya?"


"Ahahaha! Si Benedict itu ada-ada saja!" tawa pamannya Eri begitu keponakannya menceritakan alasannya ingin dipinjamkan private jet untuk menjenguk Ayase Sheryl, alias neneknya yang jatuh sakit di Russia.

"Dasar, padahal aku 'kan sudah 25 tahun, paman," dengus Eri. "Mau sampai kapan ayah memperlakukanku seperti gadis kecil, sih?"

"Maa… maklumi saja lah," tanggap pamannya santai. "Ngomong-ngomong kamu enggak mau mengajak teman atau siapa gitu untuk menemani perjalananmu ke sana?"

"Eh? Bolehkah?"

"Ya, bolehlah! Daripada kamu mati kutu karena bosan!" gelak pamannya Eri.

"Jaa… bolehkah aku mengajak pa, pacarku?" tanya Eri dengan wajah memerah.

Sorot mata pamannya berubah serius. "Benedict tahu kamu pacaran?"

Eri menggeleng. "Aku… enggak berani bilang, paman. Aku enggak mau dipisahkan darinya oleh ayah,"

"Sudahlah, tak apa," jawab pamannya Eri. "Akan paman rahasiakan soal siapa teman yang menemanimu itu dari Benedict. Toh, kamu juga anak paman makanya paman ikut senang kalau kamu juga senang,"

"Kukira paman akan kaget dan mencak-mencak begitu mendengarnya,"

"Ya ampun, untuk apa juga, Eri? Kamu sudah dewasa! Kamu bebas memilih apa yang kamu inginkan!" ujar pamannya Eri. "Kalau kamu bahagia berpacaran dengan laki-laki yang kamu maksud maka paman juga turut bahagia, nak!"

Pamannya Eri sudah pernah menikah, namun bercerai setelah istrinya mengetahui kalau beliau steril. Sehingga ia menganggap Eri dan Arisa sudah seperti anak-anaknya sendiri. Tak heran jika ia sangat menyayangi para keponakanannya itu.

"Kalau begitu, akan kusampaikan mau atau tidaknya dia nanti, ya, paman!" kata Eri sambil beranjak dari sofa.


Hari keberangkatan…

"Oh, jadi ini yang namanya Sonoda Takumi, pacarmu? Wah, hebat juga seleramu, Eri," komentar pamannya Eri sambil memerhatikan Takumi dari atas sampai bawah.

"Selamat siang, tuan," ucap Takumi sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

"Ah, benar kata Eri, kamu kaku banget!" gelak paman sambil menepuk bahu Takumi. "Panggil saja aku paman Jean!"

"Ba, baik!" jawab Takumi.

"Wah, sudah waktunya! Ayo, ayo, cepat naik!" seru Pak Jean.


"Ayahmu masih over protective padahal kamu udah tua begini?" tanya Takumi begitu pesawat lepas landas.

"Tolong, ya… ngomong 'tua'-nya jangan langsung, gitu," kata Eri. "'Jleb' banget tahu, enggak?"

"Iya, maaf pemilihan kalimatku salah," ucap Takumi.

"Sudahlah, aku enggak terlalu memikirkannya, kok," jawab Eri.

"Haaah… padahal ini usia matang di mana aku bisa sudah jadi istri seseorang, ayahku itu kenapa, sih?" keluh Eri.

"Hahaha, dimaklumi saja lah," gelak Takumi. "Toh, beliau bukannya bermaksud jahat, 'kan?"

"Tapi tetap saja aku kesal, tahu!"

"Iya, iya…" jawab Takumi sambil mengelus-elus kepala Eri.

Manik keduanya bertemu membuat keduanya saling diam untuk sesaat.

"Naa, Eri, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" tanya Takumi.

"A, apakah itu?"

Takumi melepas seatbelt-nya dan bersimpuh di depan kekasihnya sambil membuka kotak cincin yang dibawanya. "Erichika, pujaan hatiku, maukah kamu menikah denganku?"

Eri tak bisa menahan tangisnya. Ia melepas seatbelt-nya dan menghambur ke pelukan Takumi sambil menangis penuh haru.

"Ya, aku mau, Takumi!" jawab Eri. "Bahkan aku selalu memimpikan saat-saat ini,"

"Dan mimpi itu terwujud hari ini, bukan?" tambah Takumi.

Eri mengecup bibir Takumi. "Begitu sampai di Russia, ayo kita minta restu dari obaa-sama,"

"Tidak ke ayahmu dulu, nih?"

"Obaa-sama itu yang lebih sering mengurusku saat masih kecil, tahu! Bahkan bisa dibilang beliau lebih penting dari orangtuaku!" jelas Eri.

"Hahaha, baiklah! Baiklah! Jadi, bisa kamu lepaskan pelukanmu?"

"Tak bolehkah sebentar lagi? Aku begitu bahagia sampai tak ingin melepaskanmu, Takumi," rajuk Eri.

"Dasar, kamu ini ada-ada saja,"


"Ara, Erichika dan… kekasihnya, Sonoda Takumi, bukan?" sambut Sheryl yang terbaring di tempat tidur begitu Eri dan Takumi masuk ke kamarnya.

"O, obaa-sama sudah tahu?" Eri kaget karena neneknya bisa tahu hubungannya dengan pria berambut biru kehitaman di sampingnya itu.

"Tentu saja, mana mungkin aku melupakan laki-laki yang telah mengembalikan senyum di wajah cucu kesayanganku?" jawab Sheryl.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, nyonya Ayase," ucap Takumi sopan sambil meletakkan parcel buah di meja nakas. "Ini ada sedikit oleh-oleh, semoga Anda cepat sembuh, nyonya,"

"Astaga, kamu sopan sekali!" gelak Sheryl. "Tak heran Erichika bisa jatuh hati padamu,"

"O, obaa-sama!" Eri tampak tersipu mendengarnya.

"Ja, jadi, sebetulnya apa yang terjadi? Obaa-sama sakit apa?" tanya Eri khawatir.

"Ah, biasa lah, penyakit orang tua," jawab Sheryl. "Aku ceroboh karena pikun makanya jatuh, deh,"

"Lain kali berhati-hatilah, aku 'kan khawatir!" Eri tampak seperti ingin menangis.

"Ararara, jangan menangis, dong, sayang… malu sama pacarmu," ucap Sheryl sambil menyeka air mata Eri.

"Umm… kalau begitu aku akan menunggu di luar," kata Takumi. "Aku tak ingin mengganggu momen pertemuan kalian setelah sekian lama,"

"Tunggu, nak Takumi," ucap Sheryl.

Takumi menghentikan langkahnya.

"Ada hal yang ingin kamu sampaikan terkait Erichika, 'kan?" tak disangka intuisi neneknya Eri itu begitu tajam.

Takumi pun ikut duduk di salah satu bangku. Dan mereka pun mulai membicarakan banyak hal yang diakhiri dengan permohonan izin dan restu untuk menikahi Eri.

"Aku tentu saja mengizinkanmu, tapi entahlah kalau putraku yang bodoh, si Benedict itu," ujar Sheryl. "Kamu tak akan mundur begitu saja walau tahu sebetulnya Erichika sudah dijodohkan diam-diam olehnya, 'kan?"

"Tidak akan, nyonya," jawab Takumi serius. "Aku sungguh-sungguh, aku hanya ingin Eri yang menjadi teman hidupku,"

Eri mengenggam tangan Takumi sambil tersenyum.

"Pulanglah ke Jepang dan atur pertemuan dengan keluarga Ayase, Takumi," ucap Sheryl. "Tunjukkanlah kesungguhanmu pada Benedict!"

"Baik, nyonya!" jawab Takumi.


"Hei, anakku yang bodoh, ada pria yang melamar putri sulungmu, tuh. Anak itu sudah menghadapku dan mendapatkan restuku. Dia akan mengunjungi keluarga Ayase dalam waktu dekat. Jika kamu sayang Erichika maka kurang-kurangilah kekhawatiranmu yang sia-sia itu dan biarkan Erichika memilih apa yang dia mau!" itulah isi pesan yang dikirim Sheryl pada ayahnya Eri, Ayase Benedict.

Tinggal menunggu seminggu lagi hingga waktunya keluarga Sonoda berkunjung ke kediaman Ayase.

Jika memang dia pantas mendapatkan restu darimu, bunda, aku akan mempertimbangkannya, gumam Benedict usai membaca pesan tersebut.


Author's note :

Alhamdulillah akhirnya fanfict male! Umi x Eri "I won't Let You Go, You Are My Love!" ini sampai pada chapter terakhir. Cukup singkat? Ahaha, tentu saja kisah ini belum tamat sepenuhnya. Insya Allah akan mbak lanjutkan dalam season 2 fanfict ini dengan judul... rahasia, deh! Takut ada yang ngambil, hehe~

Terima kasih banyak kepada para pembaca sekalian yang telah menemani sepak terjang fanfict ini sejak 13 Juni 2016 lalu hingga pada hari ini 22 Maret 2017. Reviews kalian sangat berarti bagi mbak :") ah, pokoknya daku sayang kalian dah! Hehehe

Etto, latar waktunya, ya? Ini saat delapan tahun telah berlalu semenjak EriNozoNico lulus dari Otonokizaka. Terus nasib Allen dan Anju apa kabar? Well, tentang mereka akan saya lanjutkan di season 2 jadi dinantikan saja, ya

Sebagai akhir dari fanfict ini, mbak ingin minta tolong, boleh? Tolong tulis kesan-kesan kalian selama mengikuti fanfict ini. Boleh disertai dengan scene favorit kalian dan pairing favorit kalian beserta alasannya. Oh ya, mbak juga menampung pesan dan saran untuk season 2, kok. Ah, pokoknya segala uneg-uneg kalian selama ngikutin fanfict ini boleh lah kalian tumpahin semua di reviews, 'kay?

Sekali lagi, terima kasih banyak! Dan mohon maklumi daku yang semakin lelet nge-update fanfict :')

Dan tentang fanfict M.E Spies itu juga masih berlanjut, tapi mbak masih butuh waktu untuk kematangan segala tetek bengeknya agar ceritanya memuaskan jadi mbak harap kalian enggak bosan menunggu, hehe :3

See you in the next story,

Geppeto (Refda)