Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Make the Rules | January 21st, 2012
Cast : Kyuhyun, YooMin (YoochunxChangmin), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO (s)! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini chapter 1H. Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.
.
.
.
.
The Time: Make the Rules | January 21st, 2012
.
Saturday
January 21st, 2012
01:12 AM
Dini hari yang sangat dingin di sabtu pagi. Changmin melakukan rutinitas bergadangnya, seperti biasa bersama dengan laptop putih kesayangannya. Dan Yoochun masih setia menunggunya. Dia duduk di tepi ranjang dengan Silky a.k.a Mimax dalam pangkuannya.
Changmin memainkan tangan Silky dan menggerak-gerakannya. "Changmin umma, ayo istirahat!" kata Yoochun dengan suara yang dibuat seperti suara anak kecil berumur tiga tahun.
Changmin terkekeh pelan. Tetapi pandangannya tetap tidak bisa terlepas dari layar laptop. Dia sibuk mengetikkan kata-per-kata di lembar microsoft word. "Silky, tidur saja lebih dahulu bersama appa, ne?"
Yoochun tertawa pelan sedangkan Silky hanya menjulurkan lidahnya tidak mengerti—atau mungkin saja dia mengerti. Yoochun kembali menggerakan tangan Silky dengan gerakan imut. "Umma sudah pucat, ayo tidur."
"Aniya." Changmin tertawa. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Yoochun dan anjingnya. "Kalian tidur saja lebih dahulu, ne?"
"Ani umma. Ayo tidur bersama." kata Yoochun lagi—dengan suara yang masih dibuat seperti anak kecil.
Changmin mengangkat salah satu alisnya. Dia menatap Yoochun yang terkekeh terhadapnya. "Apa maksudnya dengan tidur bersama?" tanya Changmin.
Yoochun mengangkat bahu. Dia kemudian mengangkat tubuh Silky dan memainkan tubuhnya. "Umma sudah kangen appa ya? Ingin tidur bareng ya?"
"Ish! Diam kau Park Yoochun!" kata Changmin kesal menyadari pipinya sudah mulai memanas. Dia membalikkan tubuhnya kembali menghadap laptop dan mulai untuk menatap layar.
Yoochun tertawa puas. Dia membawa Silky ke dalam pelukannya. "Umma blushing, ya?"
"Shit, diam kau Park Yoochun!"
"Umma blushing, ne? Umma malu, ne? Umma manis sekali." kata Yoochun menggoda lagi. Dia meraih tangan Silky dan menggaruk-garukannya di kepalanya. Anjing itu hanya menggongong lembut.
Changmin menekan tombol titik dengan kasar. "Ish! Park Yoochun!"
"Omo! Park Changmin marah!" ucap Yoochun lagi.
"Sejak kapan margaku menjadi Park—" Changmin membalikkan tubuhnya dengan satu kali hentakan sebelum kalimatnya selesai. Namun segera setelah itu, yang dia terima adalah sebuah kecupan lembut di bibirnya. Matanya dapat dengan jelas menangkap sosok Yoochun yang menciumnya dengan Silky dalam pelukannya.
Yoochun segera melepaskan ciuman singkat—tetapi dalam—itu dan menatap mata Changmin intens. "Kapan kita akan menikah?" tanyanya dengan suaranya yang asli. Entah mengapa, dia begitu takut jika hubungan mereka belum terikat oleh janji pernikahan. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada seseorang yang merebut Changmin darinya.
.
.
The Time
Make the Rules | January 21st, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Saturday
January 21st, 2012
06:04 AM
Tak biasanya Yoochun dan Changmin melewati kegiatan apapun tanpa obrolan aneh maupun serius mereka. Tetapi pagi ini benar-benar berbeda. Mungkin gara-gara pertanyaan dini hari dari Yoochun. Karena memang setelah pertanyaan itu terlontar, Changmin segera mematikan laptopnya dan memilih untuk tidur. Yoochun tak mengerti dengan sifat Changmin. Dia sedang membantu seseorang dalam masalah atau dia yang sedang terlibat dalam suatu masalah?
Tetapi Yoochun benar-benar tahu apa kelemahan dari Changmin. Pergelutan batin.
"Jika kau masih membutuhkan informasi tentang kematian Sungmin, temanku, Zhoumi—dia adalah dokter yang menangani mayat Sungmin." kata Yoochun seraya memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Dia melihat Changmin yang mendongakkan wajah kearahnya. "Mungkin dia bisa membantumu untuk mencari bukti yang masuk akal agar kau bisa membebaskan Kyuhyun."
Changmin menghentikkan makannya. Dia meletakkan sendoknya diatas nasi gorengnya yang masih tersisa banyak. Bukan sifat dari Shim Changmin jika dia menyisakkan makanannya. Ini berarti ada sesuatu. Sesuatu yang membuat batin Changmin bergelut dengan kenyataan.
Yoochun menatapnya tidak mengerti. Dia meraih segelas air bening miliknya dan menyesapnya sedikit—tanpa mengalihkan pandangannya dari Changmin.
Changmin berdiri dari duduknya, dan melihat Yoochun sekilas. "Aku berangkat." Dan dia mulai berjalan keluar dari ruang makan dan kemudian pergi meninggalkan rumah mereka.
Yoochun menatap kepergian Changmin. Kemudian pandangannya beralih kearah Silky yang tengah duduk di kursi disampingnya—menatapnya dengan lidah yang menjulur keluar. Yoochun tersenyum. Dia meraih Silky dan membawa wajahnya sejajar dengan pandangannya.
"See? Umma sedang ada masalah. Sebenarnya tak baik untuk berburuk sangka, tetapi appa curiga semuanya gara-gara Cho Kyuhyun itu."
.:o~o:.
Sunday
January 15st, 2012
07:39 PM
"Yun, bagaimana? Bukankah kita akan menjemput anak kita sekarang?" tanya Jaejoong manja.
Yunho menoleh kearah istrinya yang tengah cemberut melihatnya mengenakan seragam polisinya. Yunho menatapnya dengan pandangan minta maaf. Dia tak tega sebenarnya, tetapi panggilan pekerjaan yang menghambatnya. Rencananya hari ini mereka akan menjemput anak angkat mereka di panti asuhan. Hanya menjemput saja karena kemarin mereka sudah datang kesana, menemui pemilik panti asuhan dan juga memilih anak yang akan menjadi anak mereka.
Tetapi beberapa menit yang lalu, Yunho mendapat panggilan dari kepala polisi bahwa dia diminta untuk membantunya menangani kasus baru, tentu saja dengan team NCIS. Yunho berjalan kearah Jaejoong dan memeluknya. "Maaf ya Jae, aku benar-benar harus pergi."
"Apa kau akan membiarkanku untuk menjemput anak kita sendiri? Bagaimana jika dia bertanya dimana ayahnya?" tanya Jaejoong dengan nada yang memelas.
Yunho benar-benar tak tega terhadap istrinya. Dia mencium puncak kepala Jaejoong dan kemudian mengusap rambutnya lembut.
"Bagaimana jika kita jemput dia besok?"
Jaejoong melepaskan pelukan Yunho secara paksa. "Besok, Yun? Kita sudah janji kepada Minnie akan menjemputnya hari ini. Kau ingin melihat dia kecewa karena kita tak menjemputnya sekarang?" tanya Jaejoong memaksa. "Kau jahat Yun."
"Bukan begitu Jae, tetapi aku haru—"
Tett~ Tett~
Kalimat Yunho terputus ketika suara bel dari pintu depan menginterupsi mereka. Jaejoong segera mendorong tubuh Yunho menjauh darinya dan keluar dari kamar. Dia berjalan kearah pintu utama dengan langkah cepat ketika di dengarnya bel itu berbunyi lagi. Dengan langkah tergesa, Jaejoong mendekat kearah pintu. "Tunggu sebentar," katanya dan beberapa detik setelah itu langkahnya sampai. Dia segera membuka pintu dan mendapati seseorang berdiri di hadapan rumahnya.
"Pagi, Jae umma." ucap sosok tinggi itu manis.
Jaejoong membulatkan kedua bolamatanya senang—membuat mata indahnya terlihat semakin besar. Dia segera memeluk tubuh itu dan meletakkan dagunya di bahu namja itu. "Astaga, Changminnie, akhirnya kau datang juga. Umma rindu padamu, sayang." kata Jaejoong senang.
Changmin tersenyum. Dia membalas pelukan Jaejoong dengan hangat. "Mian ya umma, aku baru main kesini lagi. Biasalah umma, NCIS." kata Changmin terkekeh.
Jaejoong mengangguk mengerti. Dia melepaskan tubuh sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri dan kemudian menatapnya. "Apa Changminnie sudah baikkan dengan Yunho appa? Kudengar hubungan kalian sedang tidak baik." tanya Jaejoong.
Changmin hendak menjawab, namun sebuah suara dari belakang tubuh Jaejoong mendahuluinya. Changmin menatap kearah pemuda itu dingin. "Berhenti berkata bahwa aku adalah ayahnya dan kau adalah ibunya, Jae. Aku tidak akan mau punya anak seperti dia. Dia itu keras kepala. Masa iya dia masih membela orang gil—"
"Cukup Yunnie!" bentakkan Jaejoong menginterupsi. "Jangan pernah mengatai orang denagn sebutan orang gila lagi, dan jangan pernah menghina Changminnie."
Yunho memutar kedua bolamatanya kesal dan kemudian membuang napas. Dia melewati tubuh Jaejoong dan Changmin menuju keluar rumah. "Aku pulang malam!" teriak Yunho sebelum akhirnya dia mengendarai motornya dan pergi dari rumah.
Jaejoong mengalihkan pandangannya dari pintu kearah Changmin yang tersenyum tipis. Jaejoong yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, mulai mengusap pipi 'anaknya'. "Kenapa Changminnie? Ada masalah?"
Changmin mengangguk pelan. Sejujurnya hanya Jaejoong-lah tempatnya untuk bercerita. Entah itu mengenai Yoochun, ayahnya, atau mendiang ibunya. Mungkin karena ibunya sudah meninggal satu tahun yang lalu, Changmin benar-benar menganggap Jaejoong sebagai ibunya. Walau pada kenyataannya, umur mereka hanya terpaut tiga tahun.
"Ceritakan saja, Minnie." kata Jaejoong. Dia mengusap bahu Changmin lembut. "Mengenai Yoochun? Atau mengenai Yunho? Maafkan dia ya..."
Changmin menggeleng pelan. Bukan karena tidak mau memaafkan Yunho, dia sebenarnya tak ada masalah dengan namja itu. Hanya saja karena 'sedikit' kesal karena Yunho selalu menganggap Kyuhyun sebagai orang gila. Changmin juga tak tahu kenapa, tetapi yang passti dia tidak suka melihat Kyuhyun dihina. "Aku sedang tidak mau membicarakannya umma."
"Aigoo, ceritakanlah Changminnie. Apa ini karena Yoochun memukulmu?" tanya Jaejoong khawatir. Walaupun Yoochun juga adalah sahabatnya, tetapi Jaejoong lebih sayang kepada Changmin—anaknya. Bahkan dia pernah mengancam akan memberikan Yoochun pelajaran jika dia berani membuat Changmin menangis. Tetapi pada kenyataannya selama dua tahun mereka berhubungan, Jaejoong belum pernah mendengar Changmin mengeluh akan hubungannya dengan Yoochun. Jadi namja cantik itu membuat satu kesimpulan bahwa namja playboy seperti Yoochun itu benar-benar sudah berubah karena mengenal Changmin.
Changmin menggeleng cepat. "Yoochun sama sekali tidak pernah memukulku hyung. Kau tahu sendiri 'kan?"
Jaejoong menggerenyitkan dahinya. "Hyung? Aku pikir kau tidak pernah memanggilku hyung lagi." Dia menatap Changmin dengan curiga.
Changmin tergagap dengan kalimat yang diucapkannya. Jika dia memanggilnya dengan panggilan formal—kecuali kepada Yunho, karena Changmin memang lebih senang memanggil Yunho dengan sebutan hyung daripada dengan sebutan appa—itu artinya memang ada masalah.
"Ceritakan padaku Minnie." kata Jaejoong lembut.
Changmin menggeleng pelan. Dia benar-benar tak bisa menceritakan hal itu. Hal yang mengganjal di otaknya. Dan tidak bisa dimengerti oleh hatinya.
Jaejoong segera memeluk tubuh tinggi itu lagi. Changmin tak membalas pelukannya. Dia hanya diam saja ketika jemari Jaejoong mengusap punggungnya lembut.
"Ceritakan saja Minnie, ada apa?"
Setelah diam selama beberapa detik, Changmin akhirnya membuka mulutnya dan bersuara. "Hyung, aku tak tahu ada apa denganku sekarang," Changmin mulai membalas pelukan itu, "tetapi dini hari tadi Yoochun hyung bertanya padaku, kapan kami akan menikah? Separuh hatiku senang mendengar pertanyaan itu, tetapi mengapa ada sesuatu yang lain yang membuatku tak merasakan apa-apa. Ma-maksudku—mengapa jantungku tidak berdebar lebih kencang daripada biasanya ketika Yoochun hyung menciumku? Mengapa jantungku malah berdebar kencang ketika... ada seseorang yang menatapku dengan tatapan meminta pertolongan? Dan aku benar-benar ingin menolongnya walaupun aku baru mengenalnya selama tiga minggu ini. A-apakah aku..."
Jaejoong melepaskan pelukannya. Dia menatap Changmin dengan tatapan tidak percaya. Tetapi Jaejoong sudah hapal betul dengan sifat Changmin yang terlalu kekanakan. Jaejoong yakin ini hanya salah satu dari sifat labilnya pada masa-masa sekarang.
"Jangan berpikir bahwa kau mencintai orang itu. Kau hanya terpesona. Kau hanya terpesona kepadanya dan hal itu tak akan berlangsung lama. Jangan pernah meninggalkan Yoochun. Kau harus janji padaku. Jangan. Pernah. Meninggalkan. Yoochun. Mengerti Shim Changmin?"
Changmin tak tahu harus menjawab apa jika mendapati Jaejoong sudah memanggilnya dengan marganya. Itu artinya Jaejoong marah—atau mungkin tidak suka dengan tindakkan Changmin yang terlalu buru-buru. Changmin menatap Jaejoong takut yang memandangnya layaknya ibu yang sedang menasihati anaknya.
"Shim Changmin, berjanjilah padaku." Jaejoong menyodorkan kelingkingnya, meminta sebuah tindakan.
Mungkin memang benar dengan apa yang dikatakan Jaejoong. Dia terlalu terburu-buru mengartikan debaran di jantungnya. Mungkin semuanya hanya karena rasa iba, simpati atau terpesona yang tak akan berlangsung lama. Mau bagaimanapun juga, Yoochun sudah menemaninya selama dua tahun ini. Dia harus bertahan dengan Yoochun. Dia harus bersama dengan Yoochun.
Changmin mengarahkan jari kelingkingnya perlahan dan mengaitkannya di kelingking Jaejoong.
Kau hanya mencintai Park Yoochun, Shim Changmin. Kau hanya mencintainya, ingat itu!, batinnya.
Jaejoong tersenyum dan menepuk kepala Changmin lembut. "Kau sudah berjanji pada umma." Nada Jaejoong berubah, menjadi manis seperti sebelumnya. "Nah sekarang, bagaimana jika kau temani umma untuk menjemput adikmu?"
Changmin menggerenyitkan dahinya. "A-adik?"
Jaejoong tersenyum senang. Dia menarik tangan Changmin keluar dari rumah itu. "Ya, adik. Kau akan menjadi kakak, Changminnie. Ayo!"
.:o~o:.
Sunday
January 15st, 2012
09:51 PM
"Taeminie, ayo ucapkan selamat tinggal pada ahjumma." kata Jaejoong seraya mengusap kepala anak kecil berumur lima tahun itu.
Taemin tersenyum kearah Jaejoong. Dia membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. "Dadah ahjumma, nanti Taeminnie main kecini lagi. Taemin akan melindukan ahjumma." teriak anak kecil berambut hitam pekat itu. Dia melihat ibu di panti asuhannya tersenyum dan melambaikan tangan. Taemin mengangkat tangan kanannya dan membalas lambaian itu. "Jaga dilimu, ahjumma. Dan teman-teman, Taemin pelgi dulu. Dadah~" dan teriakan terakhir itu dibalas oleh teriaka ceria oleh anak-anak lain di panti asuhan.
Jaejoong tersenyum. Dia menunduk sopan ketika ibu pemilik panti itu melihat kearahnya. "Kami pamit ya. Kamsahamnida Shinmin—sshi." kata Jaejoong sebelum melajukan mobilnya keluar dari gerbang panti asuhan.
Taemin menutup jendela mobilnya. Dia segera mencondongkan tubuhnya kearah depan—dimana Jaejoong duduk di kursi kemudi sedangkan Changmin disampingnya.
"Kenapa appa tidak ikut umma?" tanya Taemin dengan nada yang benar-benar imut.
Changmin mengacak rambut anak kecil itu gemas, membuat si empunya mengerucutkan bibirnya. Jaejoong tertawa pelan, dia tidak mengalihkan pandangannya dari arah jalanan. "Appa sedang bekerja, sayang."
"Appa cedang bekelja? Pasti appa kelen cekali membawa pistol. Bang! Bang!" seru Taemin senang. Dia mengaitkan jarinya—meniru sebuah senjata—dan membuat gerakan menembak layaknya seorang polisi. Taemin sudah tahu bahwa Yunho bekerja sebagai polisi. Bukankah, kemarin sudah menjadi pendekatan dan pengenalan dari Jaejoong dan Yunho ketika mengunjungi panti asuhan?
Changmin tertawa pelan melihat Taemin yang begitu senang.
"Oh ya, Changmin hyung kenapa kemalin tidak ikut ke panti acuhan? Kalau Changmin hyung ikut kan kita bica belmain dulu cama teman-teman Taeminnie dicana. Cemuanya baik lho hyung. Hyung pasti cuka deh." kata Taemin antusias. Hal itu mengundang tawa Jaejoong dan Changmin lagi.
"Taeminnie, sekarang kita jemput Wookie hyung ya." kata Jaejoong manis.
Taemin mengerjapkan matanya berulang kali dengan gerakan imut. Kemudian dia memiringkan kepalanya bingung. "Wookie hyung? Ciapa, umma?" tanyanya polos.
Changmin juga memiringkan wajahnya—karena dia memang tidak mengenal nama itu. Jaejoong menoleh kearah Taemin sebentar dan kemudian kembali memusatkan pandangannya kearah jalanan. "Dia yang nanti akan menemanimu di rumah jika umma sedang bekerja, sayang."
"Bekelja? Umma tidak bilang padaku jika umma juga bekelja. Aku kan ingin di lumah cama umma." Changmin dapat melihat mata anak itu mulai berkaca-kaca.
Jaejoong tersenyum lembut. Dia menghentikkan mobilnya ketika rambu lalu lintas di luar sana yang semula berwarna hijau berganti menjadi warna merah. "Minnie tenang saja. Umma tidak bekerja tiap hari kok. Umma sudah punya banyak anak buah, jadi pekerjaan umma hanya perlu mengontrol saja ke kantor." ucap namja cantik itu lembut.
Taemin mengangguk mengerti. Jaejoong mengusap setitik air mata disudut mata kecil yang indah itu.
"Jangan menangis, ne?" tanya Jaejoong.
Taemin mengangguk lagi—dengan bibir yang agak mengerucut. Dia mengusap matanya pelan. "Tapi, Wookie hyung baik tidak umma?"
"Wookie hyung baik kok. Taemin pasti senang dengannya."
Taemin akhirnya mengangguk lagi. Dia menghempaskan tubuhnya di jok belakang dan kembali mengucek matanya. "Umma, boleh aku tidul cebental?" dan kemudian Taemin menguap dengan gerakan manis.
Jaejoong mengangguk. Dia meraih stirnya ketika rambu lalu lintas sudah berubah warna kembali menjadi hijau. Jaejoong melajukan mobilnya kembali. "Tidurlah, Minnie."
Dan sedetik setelah kalimat itu terlontar, Taemin segera memejamkan matanya dengan kaki yang dia naikkan keatas jok. Jaejoong terkekeh pelan sedangkan Changmin hanya menatap Jaejoong. Jaejoong yang merasa diperhatikan menoleh kearah Changmin sebentar.
"Kenapa juga, sayang?"
Changmin menggeleng pelan. "Sekarang panggilan Minnie untuk dua orang. Ish, aku ingin menjadi anak kecil lagi."
Dan setelah itu Jaejoong tertawa. Ternyata Changmin memang masih berpikiran seperti anak-anak.
.:o~o:.
Huooooo, akhirnya selesai juga chapter ini
Tenang saja, ini sudah detik-detik menuju chapter 2 kok
Maaf ya kalau bosan dengan cerita ini, saya benar-benar ingin membuat FF ini dengan alur pendek agar terlihat seperti kehidupan nyata
Nah, sekarang waktunya balas review :3
Cloud1124 : Annyeong juga :D Siiip, ini ada YooMin lagi (dikit tapi hehe), sabar ya, aku belum menemukan adegan untuk Yesung. Thanks yaaaaaaaaa *blowkiss hehe
BlackAngel : Ne annyeong jugaaaaaaaa ^^ dan maaf, chap ini gak ada nc (chap depan juga kayanya gak ada) yaaaappp gomawo jugaaaaaaaaaa :D
kangkyumi : Yap, mian di chap ini gak muncul HanChul, tapi ada Taemin kan? (gak nanya) makasih ya masih baca fic aku ini kekeke *hug
widiwMin : Ne :) Heechul kakaknya Sungmin. Junsu lagi aku pikirin perannya, tunggu ya hehe. Okeeeeee :D gomawoooo
Hyeri : Main kalau banyaaaaaak, maaf juga kalau bosen. Nah, kira-kira Changmin suka gak sama Kyu? Di chapter ini udah dijawab :D
Meong : Yap. Kyuhyun pasti dapat pairing, tinggal tebak-tebakan aja hehehe. Ne gomawooooo
VitaMinnieMin : Annyeong juga :D huooooo untuk semuanya makasih yaaaaaaaaaaa, aku seneng akhirnya ada reader baru. Makasih juga nunggu nextnya dan kasih semangatnya, ini udah ada kok hehehe. Ehm, belum waktunya NC-an dijabarin haha (bilang aja males bikin NC kekeke)
Big thanks for readers MinnieGalz, elfishy, shihyun sparkyumin, kangkyumi, KyuHyunJiYoon, anonym, eunhee24, putryboO, BlackAngel, HanRyuu, Halcalilove12, Wonkyurity, shakyu, Cloud1124, Stella, Cho Luna Kuchiki, WindaaKyuMin, Hayaka Koizumi, Hyorin, maxdisaster, widiwMin, minnie beliebers, Meong, Hyeri, VitaMinnieMin dan untuk semuanya.
FF INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI
Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan
Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.
