Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Repeat | February 1st, 2012
Cast : Kyuhyun, YooMin (YoochunxChangmin), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Kibum, Leeteuk, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Shindong dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee nyempil satu)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : Ini chapter 1J. Next chapter udah masuk chapter 2. Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.
.
.
.
.
The Time: Repeat | February 1st, 2012
.
Wednesday
February 1st, 2012
08:11 AM
"Umma! Kemalilah!" teriak Taemin dari dekat pohon cemara yang tertutp oleh salju—hampir seluruhnya—di halaman belakang rumahnya. "Kita belmain salju! Sebental lagi salju akan mencail!" lanjutnya.
Jaejoong tertawa kecil. Dia merapatkan jaket putih yang dikenakannya dan keluar melalui pintu belakang. Dia dapat melihat Taemin sedang bergulingan di taman yang kini masih tertutupi salju tebal. "Taeminnie, salju tidak akan mencair secepat itu. Ini masih awal Februari." kata Jaejoong. Dia berlari kearah Taemin dan memeluknya—membuat dia ikut berguling di atas salju.
Taemin tertawa ketika Jaejoong menangkapnya. Dan tawanya semakin keras ketika Jaejoong menggelitik perutnya. Tubuh Taemin berguling—tetapi tidak dapat lepas dari dekapan Jaejoong. "Ahahaha umma! Umma lepas! Hahahaha! Umm—hahaha!" pinta Taemin diselingi dengan tawanya. Matanya sampai menutup saking gelinya.
"Minnie tidak bica lepas dari umma." kata Jaejoong.
Taemin masih tertawa dalam pelukan itu. Dia mencengkram jaket Jaejoong keras. "Umma! Hentik—hahaha! Umma!"
Jaejoong akhirnya melepaskan pelukan itu. Taemin segera berguling hingga menjauh beberapa senti dari tubuh Jaejoong. Mereka berdua tertawa lagi—namun tawa yang lebih halus diselingi dengan napas yang terengah. Jaejoong menoleh kearah anaknya, memandang wajah Taemin yang mulai memerah.
"Umma jahat." kata Taemin seraya tersenyum.
Jaejoong menyeringai pelan. Dia kembali menggelitiki tubuh Taemin yang berusaha menjauh darinya.
"Ahahaha umma lepas!" pinta Taemin.
Jaejoong melepaskan tangannya—yang hanya menggelitiki tubuh itu sekitar lima detik. Dia tertawa lagi. "Taeminnie~" kata Jaejoong gemas. Dia mencubit kedua pipi anaknya.
Taemin menggembungkan pipinya imut. "Kau menyakiti pipiku, umma."
Dan Jaejoong hanya terkekeh mendengar pengakuan itu. Jaejoong segera merentangkan kedua tangannya dan Taemin segera berguling kearah Jaejoong—hingga pemuda cantik itu memeluknya.
"Taemin cayang umma."
Jaejoong mengecup puncak kepala Taemin dengan lembut. "Umma juga sayang Taemin." Dan mereka berpelukan dengan sangat erat.
"Ehm! Apa aku mengganggu kalian?" suara seseorang menginterupsi acara berpelukan Jaejoong dan Taemin.
Taemin dan Jaejoong segera mengedarkan pandangan mereka ke sumber suara—dari arah pintu belakang. Mereka melihat seorang namja tinggi yang mengenakan jaket tebal berwarna putih, celana jeans panjang, dan kupluk hitam di kepalanya. Namja itu melangkah ke halaman belakang dan mendekati mereka. Taemin segera melepaskan pelukan Jaejoong. Dia segera berdiri dan berlari kearah namja itu. Namja itu dengan sigap menangkap tubuh Taemin dan mengangkatnya ke udara.
"Changmin hyung!" jerit Taemin senang.
Jaejoong tersenyum. Dia bangun dari posisinya dan berdiri. Changmin segera mencium pipi Taemin yang merona—kedinginan—kemudia menggesekkan ujung hidungnya di ujung hidung Taemin.
"Kangen Changmin hyung?" tanya Changmin.
Taemin mengangguk. Dia memeluk leher Changmin erat. "Hyung jahat. Cudah lama tidak main kecini!" kata Taemin yang langsung mengerucutkan bibir mungilnya.
Jaejoong berjalan mendekati Changmin. Dia memukul pelan kepala Changmin, "Taemin benar. Kau sudah lama tidak main kesini." dan kemudian memeluknya. "Umma merindukanmu."
Changmin terkekeh pelan. "Hanya satu minggu umma."
"Satu minggu lebih tiga hari." kata Jaejoong menginterupsi. Dia melepaskan pelukan itu dan kemudian mengacak rambut Taemin. "Kau janji akan sering kesini untuk menemani Taemin."
Changmin membenarkan posisi Taemin yang berada dipangkuannya—dengan kaki yang melingkar di perut Changmin. "Aku banyak urusan umma. Maaf ya?"
Jaejoong tersenyum. Dia mengacak rambut Changmin—yang tertutup kupluk hitamnya—kemudian.
"Changmin hyung, aku mau celita cecuatu!" ucap Taemin dan kemudian menatap Jaejoong. Meminta sebuah privacy.
Jaejoong terkekeh. "Baiklah, baiklah. Umma akan ke dalam. Kau mengobrol saja dengan Changmin hyung, umma akan membuat coklat panas bersama Ryeowook. Okay?"
Taemin bersorak dalam pelukan Changmin. "Okay umma!"
Jaejoong tersenyum. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dan kemudian menghilang dari batas pandangan Changmin dan Taemin.
"Okay. Sekarang Taemin punya pembicaraan penting apa kepada Changmin hyung?" tanya Changmin seraya menurunkan Taemin dari pangkuannya.
Taemin segera menarik tangan Changmin ke arah dua ayunan yang tertutup salju—yang memang berada di halaman itu. Dia menyingkirkan salju yang mengendap di salah satu kursi ayunan dan kemudian duduk disana. Changmin melakukan hal yang sama. Dia melihat Taemin yang mulai menggoyangkan ayunan itu dengan tempo pelan.
"Akhil-akhil ini aku celing belmimpi buluk hyung." kata Taemin pelan.
Changmin memandang Taemin dengan sebuah senyuman. Sosok kecil ini mungkin belum terbiasa dengan mimpi buruk. "Mimpinya seperti apa?" tanya Changmin lembut.
Taemin menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang menggemaskan. Membuat Changmin ingin mencubit kedua pipi gembul itu sekarang. "Aku tidak tahu, hyung. Aku hanya mendengal ada cuala aneh di mimpiku."
"Suara apa?" Changmin mengangkat salah satu alisnya.
"Katanya, halus ada yang dikolbankan. Aku tidak mengelti apa itu hyung, tapi aku takut."
Changmin terdiam sebentar. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh anak kecil itu. Taemin memang terlihat ketakutan ketika menceritakannya, dan kalimat itu memang terdengar agak janggal di telinganya.
"Aku takut hyung..."
"Hayoo! Sedang membicarakan apa? Membicarakan umma ya?"
Changmin dan Taemin segera mengalihkan pandangan mereka kearah Jaejoong yang berjalan mendekati mereka—dari dalam rumah. Jaejoong berjalan kearah mereka dengan senyumannya.
"Ani umma. Aku sedang mengajari Taeminnie mengucapkan huruf 'S'. Terkadang dia bisa tetapi kadang juga tidak bisa." Changmin mengalihkan pandangannya kearah Taemin. "Coba katakan 'pasti'."
Taemin tersenyum mengikuti sandiwara itu. Ya setidaknya Jaejoong tak akan curiga. "Pasti."
"Coba katakan 'sekarang'."
"Cekalang."
Jaejoong dan Changmin tertawa melihat Taemin. Memang benar, Taemin kadang bisa mengatakan huruf 'S' kadang tidak bisa. Hal itu membuat Taemin tertawa juga.
.
.
The Time
Repeat | February 1st, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Wednesday
February 1st, 2012
09:03 AM
Kibum melihat layar ponselnya kesal. Ini sudah ke-delapan kalinya sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Tetapi ketika dia angkat panggilan itu, sama sekali tak ada suatu suara yang menjawabnya. Walaupun Kibum sudah memanggil-manggil—dan mendiamkan telepon selama beberapa waktu—suara dari sebrang sana tak kunjung terdengar. Hal itu semakin membuat Kibum kesal. Mau bagaimanapun juga hal itu membuat pekerjaan Kibum terganggu.
Kibum meletakkan handphone-nya ke atas meja dengan agak kasar. Dia kembali pada mejanya untuk memeriksa cipratan darah pada sebuah remote TV—untuk kasus pembunuhan baru. Namun baru beberapa detik dia beranjak, handphone-nya sudah berdering kembali.
Incoming Call
010-3200-4719
Kibum membuang napas. Dia berbalik dan segera meraih handphone-nya. Dengan gerakan malas, Kibum menekan tombol hijau dan segera mendekatkan telepon pada telinga kirinya.
"Katakan sesuatu atau aku tak akan pernah mengangkat teleponmu lagi."
Dan suara ancaman Kibum sepertinya tak membuat si penelpon takut. Dia—yang tak Kibum ketahui siapa—masih diam dan tak bersuara. Kibum memutar kedua bola matanya dan kembali meletakkan handphone-nya di atas meja. Bersamaan dengan hal itu, seseorang masuk ke dalam laboratoriumnya.
"Hei, Kibum-ah!"
Kibum segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia melihat Donghae yang telah menutup pintu masuk ke dalam laboratorium berjalan menghampirinya.
"Ada apa Donghae-ah?" tanya Kibum.
Donghae mengangkat bahu. Dia berjalan kearah meja—dimana ada handphone Kibum disana—dan menyandarkan tubuhnya di meja itu. Donghae menumpukan tangannya di pinggiran meja dan menatap Kibum dengan cengirannya.
"Kau bisa membantuku?" tanya Donghae.
Kibum mengangguk. "Tentu saja."
Donghae terkekeh pelan sebelum mengutarakan tujuannya. "Aku sedang bingung memilih tempat untuk berbulan madu nanti. Kau ada ide? Pernikahan kami hanya tinggal tigabelas hari lagi tetapi aku masih belum ada ide untuk berbulan madu."
Kibum melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya dan melipatnya. "Kenapa tidak di pulau Jeju?" tanyanya seraya meletakkan kacamata itu disamping handphone-nya.
Donghae menggeleng tak suka. "Aku ingin keluar negeri."
"Bagaimana kalau di Bali?" tanya Kibum.
"Aku sudah kesana bersama Hyukie beberapa minggu yang lalu. Masa kau lupa? Itu kan hadiah dari —sebenarnya bukan hadiah sih, itu karena Changmin tak mau pergi pada hari itu."
Kibum terkekeh pelan. Dia hanya berniat bercanda saja.
"Bagaimana kalau ke Hawaii?"
Drrt... drrt...
Donghae segera menolehkan pandangannya ke belakang tubuhnya—ketika dia merasakan meja itu bergetar lembut. Sementara Kibum hanya melihat telepon genggamnya dengan tatapan acuh dan malas.
Incoming Call
010-3200-4719
Kibum menekan tombol merah dengan cepat. Donghae menatap sahabatnya tak mengerti.
"Kenapa tak diangkat, Kibum-ah?" tanya Donghae heran.
Kibum mengangkat bahunya. Dia melihat handphone-nya dengan acuh. "Sudah sejak tadi ada seseorang yang menelponku, tetapi dia tak mau berbicara sejak tadi. Sudahlah, biarkan saja."
Donghae hanya mengangkat bahu menanggapi. Dia juga akan malas jika ada penelpon pengganggu seperti itu.
"Mungkin jika kau melacak nomor itu, kau bisa tahu orangnya." kata Donghae memberi saran. "Kulihat Shindong sedang tak sibuk tadi." lanjutnya mengingat si pelacak telepon di NCIS—Shindong—itu memang hanya sedang duduk santai seraya memakan keripik kentang di meja kerjanya.
Kibum melipat kedua tangannya malas. "Nanti saja. Tidak terlalu penting juga." katanya. "Oh ya, jadi kira-kira negara mana yang ingin kau dan Eunhyuk kunjungi? Apakah kau setuju ke Hawaii?"
.:o~o:.
Wednesday
February 1st, 2012
11:41 AM
Kyuhyun meremas jeruji besi yang berada di hadapannya. Tidak ada emosi sama sekali. Dia hanya melakukan kegiatan itu untuk mengurangi rasa bosannya. Kemudian Kyuhyun melihat Yunho berjalan menghampirinya. Dia berdiri dengan wibawanya di hadapan Kyuhyun.
"Mulai bosan, Kyuhyun?" tanya Yunho seraya mengangkat salah satu alisnya.
Kyuhyun menggeleng dan tersenyum tipis. "Aku hanya tak punya kerjaan."
"Itu artinya kau bosan." Yunho berdecak pelan. "Apa kau sudah bisa menerima bahwa tempatmu memang disini?"
Kyuhyun mengangkat bahunya. "Mungkin." Dia berjalan ke samping beberapa langkah—menjauhi tubuh Yunho. "Mungkin aku sudah bisa menerimanya."
Yunho terkekeh pelan. Dia menggeleng dengan tatapan yang merendahkan. "Kalau begitu, selamat bersenang-senang."
.:o~o:.
Wednesday
February 1st, 2012
10:49 PM
Changmin berjalan mendekati pintu kamar mandi yang terbuka. Dia masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya dan melihat Yoochun tengah menyikat giginya. Changmin tersenyum tipis. Dia menghampiri Yoochun—dihadapan cermin dan wastafel—dan merebut sikat gigi yang diapit oleh gigi atas dan gigi bawah Yoochun.
Yoochun menoleh dan melepaskan tangannya dari sikat gigi. Dia membiarkan Changmin mengambil alih—menyikat giginya dengan gerakan yang beraturan.
"Hali hinih ha hehadang?" tanya Yoochun dengan bahasa yang agak sulit di mengerti—mengingat sikat gigi yang membatasi kemampuannya untuk berbicara.
Changmin terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya kearah Yoochun agar bisa menyikatnya dengan lebih baik. "Nanti saja bicaranya, aku tak mengerti."
Yoochun mengangguk paham. Dia membiarkan Changmin menyikat giginya dengan serius. Yoochun hanya memperhatikan kekasihnya. Memperhatikan bulu matanya yang panjang, wajahnya yang manis dan kedua bolamata indahnya. Yoochun bersyukur bahwa lelaki dihadapannya itu adalah miliknya.
Akhirnya pekerjaan itu selesai. Yoochun mengambil segelas air dan mulai berkumur. Changmin membersihkan sikat gigi itu di air bersih yang mengalir dari keran. Setelah bersih dia meletakkan sikat gigi berwarna biru itu di gelas—bersama dengan sikat gigi merah miliknya. Yoochun membuang air yang dikumurnya ke wastafel.
"Kau sudah sikat gigi Min?" tanya Yoochun seraya menolehkan pandangannya terhadap Changmin.
Namun yang Yoochun terima bukan sebuah jawaban, tetapi sebuah ciuman dalam yang menghisap dari Changmin. Ciuman yang hanya berlangsung selama lima detik.
"Aku merasakan suatu firasat buruk hyung."
.:o~o:.
Wednesday
February 1st, 2012
10:52 PM
Mr. Shim menepuk bahu Donghae—membuat namja yang tengah sibuk dihadapan laptopnya itu terlonjak kaget. Mr. Shim tertawa pelan. Dia melihat Donghae yang menatapnya seraya mengusapi dadanya—dengan pandangan yang seolah mengatakan 'jika kau bukan bos-ku, sudah kubunuh kau'.
"Lembur?" tanya Mr. Shim.
Donghae mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut di lantai tujuh itu. Suasananya agak mencekam juga—mengingat sekarang sudah pukul sebelas malam—kurang. Tetapi dia masih bisa tenang, pasalnya masih ada Shindong yang sedang bermain game di laptopnya, Kibum dan calon istrinya yang sedang berada di dekat jendela—membicarakan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh Donghae.
"Ah, sepertinya. Bos tahu sendiri 'kan kalau pembunuhan di dekat mall tadi membutuhkan banyak penyelidikan?" tanya Donghae. Dalam hatinya dia mengutuk kesal karena hobi Mr. Shim dan anaknya yang sering mengangetkannya—atau mungkin hanya karena Donghae yang terlalu berlebihan.
Mr. Shim mengangguk. Dia melihat arlojinya untuk membaca jam. "Okay, ini sudah larut." katany seraya mengembalikan pandangannya kearah Donghae. Dia menempuk bahu pemuda itu. "Sukses untuk pernikahannya ya?"
Donghae mengangguk dengan senyumannya. "Terima kasih, bos."
Dan kemudian Mr. Shim melangkahkan kakinya ke arah lift. Selanjutnya, menghilang dari batas pandangan Donghae. Donghae melempar pandangannya kearah Shindong. Dia meraih kertas—yang tak terpakai—di bawah mejanya, dan kemudian menggulungnya. Lalu dengan gerakan kasar, Donghae melemparkan kertas yang mendarat sempurna di kepala Shindong.
"Ouch!" Shindong mengaduh pelan. Dia mem-pause game-nya dan menatap Donghae kesal. "Apa maumu ikan basi?" tanyanya.
Donghae terkekeh pelan. "Apa hari ini kau akan lembur?"
"Aku akan pulang sebentar lagi—dua menit lagi." jawabnya acuh. Dia memutar kedua bolamatanya dan kembali kearah layar laptopnya.
Donghae mengangkat bahunya. Dia mengarahkan pandangannya kearah Kibum dan Eunhyuk—yang masih serius membicarakan sesuatu seraya memegang secangkir kopi di tangan masing-masing. "Hyukie-ah, apa kau sudah selesai dengan pembicaraanmu?" tanya Donghae.
Eunhyuk menoleh dan menggeleng—terganggu. "Belum! Jangan menggangu obrolanku dengan Kibum!" balasnya kesal.
Donghae terkekeh pelan. Dia mengangkat bahunya lagi dan kemudian kembali pada pekerjaannya.
.:o~o:.
Wednesday
February 1st, 2012
11:00 PM
"Hnnh..."
Jaejoong melenguh pelan ketika tangan Yunho mulai beralih masuk ke dalam bajunya—meraba perut ratanya. Tubuhnya bergelinjang. Sentuhan Yunho benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Apalagi mengingat bibirnya yang dilumat rakus oleh suaminya.
Yunho menarik lidah Jaejoong dengan mulutnya. Sedangkan tubuhnya menghimpit tubuh Jaejeoong di ranjang—dengan dia yang berada di atas tubuhnya. Jaejoong melenguh lagi. Tangan Yunho naik perlahan kearah salah satu nipple Jaejoong, dia mencubit nipple itu lalu memelintirnya dengan gerakan yang agak kasar.
"Uhmmh... Yun...nie... ah..."
Kemudian tangan Yunho turun dengan gerakan cepat. Tangan besar itu meraba selangkangan Jaejoong yang hanya terbalut oleh piyama tipis. Jaejoong mencengkram bahu Yunho, merasa bahwa sentuhan itu membuat tubuhnya bergelinjang nikmat. Dan setelah itu, tangan Yunho meremas kasar sesuatu yang mulai menegang di bawah sana.
"Y-Yunnie... aah..."
"Umma!"
Jaejoong segera mendorong tubuh Yunho menjauh darinya. Dia menatap Yunho kaget mendengar suara teriakan anaknya—yang terdengar menjerit dengan keras.
"Yun, Taemin!"
Jaejoong segera turun dari ranjangnya. Begitupula dengan Yunho. Beruntung karena mereka masih berpakaian lengkap—sehingga tak mempersulit mereka untuk segera mendatangi Taemin. Jaejoong keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kearah kamar Taemin—yang terletak beberapa meter dari kamarnya. Dan suara jeritan Taemin semakin terdengar jelas ketika namja cantik itu semakin mendekat.
Jaejoong segera membuka pintu kamar Taemin dengan kasar dan masuk ke dalamnya. "Ada apa Taemin-ah?" tanya Jaejoong panik.
Jaejoong segera berlari kearah Taemin yang duduk menangis di atas ranjang. Dia memeluk tubuh kecil itu yang bergetar ketakutan. Yunho menyusul di belakang Jaejoong. Dia menatap anak angkatnya dengan khawatir.
"Umma... hiks, Taeminnie takut umma. Taemin takut." isak anak kecil berumur lima tahun itu.
Jaejoong mengusapi punggung Taemin lembut—berusaha menenangkannya. Sementara Taemin mencengkram piyama Jaejoong erat, dan menyembunyikan wajahnya di bahu itu.
"Sshh, tenang Taeminnie. Umma disini. Kau hanya mimpi buruk. Sshh, tenang. Ada umma disini." kata Jaejoong lembut.
Taemin menggigit bibir bawahnya. Dia membiarkan air matanya jatuh begitu banyaknya membasahi baju ibunya. Taemin menggeleng pelan.
"A-aku takut umma... hiks..."
Yunho menggeleng pelan. Dia mengusap rambut Taemin lembut.
"Appa juga ada disini. Jangan takut Taeminnie."
Taemin mencengkram piyama Jaejoong semakin erat. Perlahan, dia mendekatkan mulut kecilnya kearah telinga Jaejoong, dan membisikkan sesuatu disana. "Di-dia datang, umma. Dia bilang bahwa ciapapun yang belhubungan dengan si pemain peltama, akan menjadi pemain celanjutnya." Taemin menahan isakannya dan meremas piyama Jaejoong keras. "D-dia bilang... pe-pemain itu akan mati."
.:o~o:.
Baca dulu Author's note dong~
A/n : Hollllla~
Semoga para chingudeul gak bosen ya sama FF saya ini :'(
Next chapter adalah chapter 2 (untuk yang bertanya chapter 2nya kapan hehe)
Nah *kecup basah readers* *readers minggat* saya mau bales review ^^
Oh ya, pada baca FF SAW saya ya kekeke *promosi*
lee jungmin : hehe rahasia :p *digeplak* oh, saya belum dapat ilham untu ff teenage. Gomawo ya~
Black Angel : Hehe X) hamil apa sakit yaaahhh kekeke rahasia. Gomawo ya~
Leeyasmin : Hebat kumaha euy kekeke gomawo ya~
Kulkasnya Changmin : Imin -.- hohoho. Dukung YooMin nih hohoho. Gomawo ya hehe~
Cloud1124 : Sama-sama :) Wah, punya feeling juga hahaha *digampar*. Pengen MBLAQ? Wah, gak tau ya, soalnya untuk SAW V pake voting untuk siapa yang mainnya hehe. Gomawo ya~
Meong : Apa hayooooh hehe. Misterinya bakal ada lagi kok, tapi bukan sekarang ;). Okeeee gomawo ya~
Cho Luna Kuchiki : Adegan pingsan? Dipertimbangkan ekekekke. Eits, ending rahasia hohoho gomawo ya~
kangkyumi : Hahaha dasar :p Changmin emang bandel, maunya ngerjain readers biar pusing ohohoho *ditabok Yoochun* siiippp. Gomawo ya~
Hikari : Hehehe gomawo ya :D ahahaha itu rahasia deh pokoknya. Ya chingu, ff ini bakal punya chapter yang panjang hehe semoga gak bosen. Wah, jadi YooMin shipper ohoho. Gomawo ya~
widiwMin : Iya, udah biar aja, gak usah pikirin Sungmin lagi *ditabok Sungmin*. Eh, Junsu? Emm dia... ada deh kekeke *digampar* gomawo ya~
shakyu : Yah, kenapa dong kelewat? *muka melas* Eh gomawoooooo~ nah ini 1J silahkan hehe
Big thanks for readers MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon
anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin | ma'on clouds |Leeyasmin | lee jungmin | Hikari dan untuk semuanya.
FF INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI
Ada ELF Bandung gak yang nanti nonton SS3 3D di Blitz?
Review? :3
Who's next?
Changmin? Yoochun? Kyuhyun? Kibum? Eunhyuk? Donghae? Yunho? Jaejoong? Taemin? Hangeng? Heechul?
