Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: February 2nd, 2012
Cast : Kyuhyun, YooMin (YoochunxChangmin), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee nyempil satu)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! GAK MASUK AKAL! SUMPAH!
A/n : CHAPTER 2 OLALALA. Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.
.
.
.
.
Satu jam menjelang pukul 00:00
Eunhyuk meletakkan cangkir kopinya di atas meja Donghae. Membuat calon suaminya itu melihat kearahnya. Donghae tersenyum sementara Eunhyuk hanya menatapnya dengan tatapan biasa.
"Kibum kemana, sayang?" tanya Donghae seraya menggeser laptopnya ke sebelah kanan. Dia menatap Eunhyuk seperti binatang buas yang menatap mangsanya.
"Dia sedang mengambil kartu uno di tas-nya. Sebentar lagi juga dia kembali." jawab Eunhyuk. Dia melihat Donghae yang menatapnya mesum. Eunhyuk memutar kedua bolamatanya. "Shindong mana? Ajak dia juga untuk main uno bersama." dan kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Namun matanya sama sekali tak menangkap sosok Shindong.
"Dia baru saja pulang, tiga menit yang lalu." Lalu Donghae memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Eunhyuk memukul kepala Donghae pelan. "Kita bulan madu di Hawaii."
"Hawaii?" Donghae mengangkat salah satu alisnya. "Pasti si penganalisa darah itu yang memberikanmu saran."
Eunhyuk mengangkat kedua bahunya. "Aku memang ingin kesana."
"Kenapa tidak ke Jepang saja?" tanya Donghae seraya melipat kedua kakinya—membuat kaki kanannya menjadi tumpuan kaki kiri diatasnya.
Eunhyuk menggeleng. "Terlalu dekat."
"Thailand?"
"Itu juga dekat. Pokoknya keputusanku jatuh ke Hawaii, titik."
Donghae mengangkat dagunya, terlihat berpikir. Dan sebelum dia menyetujui, Kibum sudah datang dengan kartu uno dan sebuah spidol merah dalam genggamannya. Dia menarik sebuah kursi yang berada di sekitar situ dan membawanya ke samping Eunhyuk.
"Ayo kita lembur."
Dan kemudian mereka tertawa.
Tanpa mengetahui bahwa sang dewa kematian telah memilih satu dari mereka untuk menjadi pemain selanjutnya.
.
.
The Time
February 2nd, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Thursday
February 2nd, 2012
12:00 AM
"Ya! Akhirnya kau kalah Lee Donghae!" teriak Eunhyuk seraya melemparkan kartu uno di tangannya ke atas meja. Dia tertawa puas bersama Kibum yang melihat Donghae merengut pelan.
Kibum meraih spidol merah di dekat cangkir kopi milik Eunhyuk dan membuka penutupunya. Donghae membuang napasnya kesal. Dia melempar kartu uno-nya ke meja secara kasar.
"Argh! Kenapa aku harus kalah?" jerit Donghae tidak terima.
Dia melihat Eunhyuk yang hanya nyengir—dengan beberapa coretan spidol di wajahnya—dan Kibum yang hanya tertawa dengan spidol dalam genggamannya.
Eunhyuk memukul tangan Donghae. "Lihat! Wajahmu juga akan penuh tinta merah sekarang!" kata Eunhyuk seraya menunjuk kearah wajahnya.
Kibum terkekeh pelan. Dia cukup bangga dengan permainannya—mengingat wajahnya masih bersih dari spidol karena dia selalu memang. Kibum menarik lengan Donghae untuk menagih kekalahannya.
"Tapi jangan coret banyak-banyak, Kibum-ah!" kata Donghae memperingatkan.
Kibum tertawa pelan. Donghae mencondongkan wajahnya kearah Kibum. Kibum segera mendekatkan ujung spidol pada wajah Donghae. Dan dengan tanpa dosa, Kibum mencoretkan segaris warna merah di dahi Donghae.
Donghae merengut pelan melihat Kibum dan Eunhyuk tertawa. Donghae segera meraih cermin kecil di meja di belakang tubuhnya—sepertinya milik salah satu pekerja lapangan NCIS yang tertinggal. Dia kemudian memandangi wajahnya yang kini tercoret oleh segaris warna merah di dahinya.
"Aish, Kibum. Garis ini terlalu panjang." Donghae mengeluh pelan.
Eunhyuk memutar kedua bolamatanya. Dia menarik cermin itu dari tangan Donghae dan meletakkannya di meja secara kasar.
"Aish, kau manja sekali sih." kata Eunhyuk kesal yang hanya dibalas oleh kekehan Donghae. Eunhyuk merebut spidol dari tangan Kibum dan kemudian menarik wajah Donghae. "Pejamkan matamu." perintah Eunhyuk.
Donghae menyeringai pelan. Dia mengelus dagu Eunhyuk lembut. "Ah, kau mau menghukumku dengan ciuman ya?" tanya Donghae menggoda.
Kibum tertawa pelan melihat tingkah pasangan yang akan menikah dalam beberapa hari lagi itu. Sedangkan Eunhyuk memukul kepala Donghae yang hanya dibalas oleh cengiran dari si empunya. Eunhyuk memutar kedua bolamatanya.
"Pejamkan saja matamu. Kalau spidol itu kena matamu, itu bukan salahku."
Donghae akhirnya mengangguk mengerti. Dia kemudian memejamkan matanya dan tersenyum.
"Ayo, Hyukie jagi. Apa yang akan kau gambar di wajahku?"
Donghae tersenyum menunggu ujung spidol yang dingin itu menyentuh kulitnya. Namun...
Sama sekali tak ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Bahkan, Donghae tak bisa mendengar suara tawa Kibum lagi.
Di tengah rasa penasarannya, Donghae membuka kedua matanya.
Dan semuanya berubah.
Dia berada di hamparan salju yang luas. Salju dingin yang membuat tubuhnya agak menggigil. Donghae mengerjapkan matanya tak mengerti.
"H-Hyukie? Kibumie?"
Dia memutar tubuhnya untuk melihat sekelilingnya. Hanya ada hamparan salju yang luas dengan beberapa bangunan yang mengelilingnya.
Dimana dia?
Dimana calon istrinya?
Dimana sahabat terbaiknya?
Donghae bersumpah tengah duduk di kursi di meja kerjanya yang berhadapan dengan Eunhyuk dan Kibum. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Dimana dia sekarang?
"Eunhyukie?"
Apa yang terjadi kepadanya?
Donghae melihat pakaiannya, masih sama seperi sebelum dia memejamkan matanya. Bahkan tak berubah sama sekali. Donghae menyentuhkan jarinya ke dahi dan menggosoknya sedikit. Kemudian dia mendekatkan jari itu ke hadapan wajahnya, ada bekas spidol berwarna merah. Garis yang dibuat oleh Kibum di keningnya.
Tetapi dimana dia sekarang?
"Eunhyukie? Kibum-ah? Hei, kalian dimana?" teriaknya.
Namun sama sekali tak ada yang menjawab panggilannya.
Donghae menggeleng tak mengerti, bahkan dia benar-benar tak mengerti. Dia mendekatkan jam tangannya kearah pandangan matanya.
01:00 AM
Thursday
2012-02-02
Pukul satu pagi? Donghae bersumpah bahwa beberapa menit yang lalu masih pukul duabelas malam. Tetapi kenapa sekarang sudah pukul satu? Dan kenapa juga dia bisa berada di tempat yang sama sekali tak ia ketahui dimana secara tiba-tiba? Apa Donghae sedang bermimpi sekarang?
"Hyukie?"
Donghae menjerit lagi. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun jawaban atau suara yang terdengar. Donghae melangkahkan kakinya secara perlahan. Dia tak tahu harus kemana. Yang penting dia harus terus berjalan.
Dan sampailah dia di hadapan sebuah gereja yang bangunannya menjulang tinggi—setinggi pohon cemara di halaman depan gereja sekitar duabelas kaki. Sangat—atau bahkan terlalu—tinggi hingga beberapa butir salju yang menggumpal turun dari puncak cemara. Donghae menatap gereja besar dan mewah itu dengan kening yang berkerut. Apa ini sebuah mimpi? Mengapa ketika jam menunjukkan pukul satu pagi dini hari tetapi langit tetap menunjukkan warna langit yang mendung—seperti pukul tujuh pagi yang mendung? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Hyukie?"
Hanya nama itu yang bisa dia panggil dalam rasa bingungnya sekarang. Donghae tak tahu harus melakukan apa dan pergi kemana. Yang jelas, kakinya mulai melangkah perlahan. Mendekati pintu kayu gereja setinggi dua meter yang sedikit terbuka dan memberikan celah. Membuat suara samar terdengar dari dalam gereja. Hal itu otomatis membuat Donghae penasaran. Mungkin di dalam sana ada seseorang—atau banyak—yang dapat membantunya menjawab pertanyaan yang sedari tadi berputar di benaknya.
Didorongnya pintu kayu itu secara perlahan dan melihat ke dalamnya.
Ada sebuah pernikahan.
Ada banyak saksi yang berdiri dihadapan kursi panjang—yang terbuat dari kayu—dengan rapi. Banyak bunga yang bertebaran di seluruh ruangan—dan digenggam oleh beberapa saksi pernikahan yang menonton upacara suci itu. Ada pendeta yang berdiri di depan altar bersama dengan sepasang mempelai—yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki—yang saling memandang dengan senyuman tulus di wajah mereka berdua. Dan mereka terlihat sangat bahagia ketika sebuah pertanyaan tentang janji setia mereka dilontarkan.
Donghae mengerjapkan matanya berulang-kali.
Thursday
February 2nd, 2012
02:00 AM
"Dan Lee Hyukjae, apakah kau bersedia untuk menerima Kim Kibum sebagai suamimu, menemaninya di kala suka maupun duka, di kala kaya maupun miskin, di kala sehat maupun sakit hingga akhir hayat kalian?"
Tu-tunggu! Siapa katanya?
Donghae dapat melihat laki-laki dibalik tuxedo putih itu mengangguk. "Aku bersedia."
Dari semua wajah yang berada di dalam gereja itu tersenyum, kecuali Donghae. Pendeta itu menutup kitabnya dan senyumannya semakin merekah. "Sekarang, dipersilahkan kepada kedua mempelai untuk berc—"
"Berhenti!"
Donghae menerobos beberapa orang yang berdiri di sekitar jalan menuju altar—menabrak para pengiring pengantin maupun para saksi dengan gerakan kasar. Dengan langkahnya yang tak bisa ditahan, dia berjalan cepat mendekati altar.
"What the fuck is going on here?"
Sungguh, itu bukan kalimat pernyataan datang dari seseorang ataupun kalimat sopan lainnya yang patut diucapkan di dalam gereja. Namun Donghae sama sekali tak peduli akan hal itu. Yang ia pedulikan adalah laki-laki berambut bleaching yang hampir saja dicium oleh laki-laki yang memakai tuxedo hitam. Yang keduanya dikenal baik oleh Donghae sendiri.
Donghae menarik tangan laki-laki yang mengenakan tuxedo putih dan membawanya ke hadapannya. "Apa yang kau lakukan, Hyukie-ah?" tanyanya tegas. Dia mencengkram pergelangan tangan itu erat.
"Lepaskan Hae!" Eunhyuk—laki-laki bertuxedo putih—itu menjerit. Dia meronta agar cengkraman di tangannya lepas—atau setidaknya mengendur.
Kibum—laki-laki bertuxedo hitam itu—menghampiri Donghae. "Apa yang kau lakukan?"
Donghae mengalihkan pandangannya kearah Kibum dan menatapnya marah. "Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang kau lakukan dengan calon istriku?"
"Dia bukan calon istrimu, dia sudah sah menjadi istriku sekarang."
Donghae berdecih pelan. "Lelucon busuk apa yang kau katakan?" dia mendorong bahu Kibum keras dan hendak untuk menarik Eunhyuk keluar dari gereja.
Seluruh saksi di dalam gereja itau diam. Tak bersuara dan tak berkutik sedikitpun. Sama seperti pendeta yang juga ikut terdiam. Namun, Donghae sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, kapan dia mabuk sehingga dia bisa mengigau sejauh ini? Bermimpi semenakutkan ini?
"Ayo kita pergi dari sini!"
Donghae menarik lengan Eunhyuk paksa dan menyeretnya keluar. Namun langkahnya terhenti ketika suara Eunhyuk menginterupsi.
"Lepaskan aku, Hae-ah! Aku mencintai Kibumie, tak bisakah kau mengerti hal itu?"
Deg!
Kalimat itu seperti sebuah tombak yang menusuk tepat di dada Donghae. Donghae membalikkan tubuhnya secara perlahan dan melihat Eunhyuk yang menatapnya penuh kebencian.
"Apa kau tak mengerti juga bahwa aku sebenarnya tak mencintaimu?"
Dan tubuh Donghae terasa sangat dingin sekarang—bukan karena salju yang masih memenuhi jalanan di luar sana. Bukan juga karena hawa dingin dari luar sana. Tetapi karena kalimat itu.
"Katakan kalau kau sedang bercanda, Hyukie-ah."
"Aku tidak bercanda." Eunhyuk menoleh kearah Kibum yang memperhatikan mereka. "Aku mencintai Kibum dan aku tak mencintaimu."
Donghae menggeleng dan terkekeh pelan. "Oh my fucking God! Bangunkan aku sekarang juga!"
"Kau tidak bermimpi, Hae."
Donghae menggeleng lagi—kali ini dengan gerakan kasar. Tanpa ingin mendengar bualan dari keduanya, Donghae segera mencengkram salah satu lengan Eunhyuk lagi dan menariknya keluar.
"Aish, lepakan aku Hae. Kau menyakitiku!" jerit Eunhyuk seraya meronta.
Donghae tetap bersikukuh membawa Eunhyuk keluar dari dalam gereja. Amarahnya sudah di ubun-ubun. What the fuck is going on? Dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Mengapa dia bisa berada disini dan melihat sebuah pernikahan yang membuatnya kesulitan untuk mengontrol emosi? Bahkan dia ingin membunuh Kibum sekarang.
"Kita pulang sekarang!"
Eunhyuk meronta ketika langkah mereka sudah keluar dari gereja. Donghae tetap tak ingin melihat ke belakang, tak ingin melihat Eunhyuk-nya. Dia hanya fokus melihat ke depan dan membawa Eunhyuk bersamanya.
"Aku adalah istri sah Kibum dan aku mengandung anaknya sekarang!"
A-apa?
Blush!
Donghae berbalik dan mendapati bahwa dia hanya menggenggam angin. Hanya menggenggam udara di sekitarnya. Bahkan dia sama sekali tak melihat gereja yang baru beberapa detik yang lalu ia datangi.
Sekarang semuanya adalah hamparan salju berwarna putih bersih.
"Brengsek! Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?"
Dia marah. Dia menggeram kesal. Dengan rahangnya yang mulai mengeras, Donghae menjatuhkan diri ke hamparan salju dan menonjoknya. Melampiaskan kemarahnya. Berharap kegiatan itu dapat membantunya berpikir normal. Membantunya untuk keluar dari sesuatu yang dia anggap sebagai mimpi.
Tetapi ini adalah kenyataan.
"WAE?"
Thursday
February 2nd, 2012
03:00 AM
Donghae menggigit giginya sendiri. Tak ada cara lain untuk melampiaskan kekesalannya. Kenapa sesuatu ini harus terjadi. Dia yakin dia sedang bermain kartu uno dengan Eunhyuk dan Kibum. Dan Donghae berani bersumpah bahwa kegiatan itu nyata! Bukan mimpi!
Tetapi mengapa semua yang dirasakannya begitu terasa nyata? Dongha belum pernah merasakan mimpi yang sangat terlihat nyata seperti ini. Sangat terasa seperti nyata.
Dengan kendalinya, Donghae berdiri dari posisinya dan menatap lurus ke depan. Dia tidak tahu harus kemana, yang pasti kakinya sudah mulai melangkah dan posisinya segera berubah ketika langkahnya semakin mejauh. Membuat jejak langkah dari sepatu yang dipakainya.
Cuaca memang dingin, tetapi kepalanya terasa sangat panas.
"Hyukie-ah..." dia memanggil nama itu, dengan panggilan yang sangat liri. Entahlah, seluruh emosi sedang bertarung di kepalanya.
Dan langkah Donghae terhenti ketika dia melihat sebuah rumah tua dihadapannya.
Tu-tunggu!
Sejak kapan ada bangunan lagi disini?
Jarak dari kakinya dengan pintu rumah itu hanya berjarak sekitar satu meter. Jarak yang sangat pendek untuk seseorang yang baru menyadari bahwa di hadapannya ada sebuah rumah.
Donghae tak mengenal rumah itu. Sama sekali tak ada bayangan. Namun, entah mengapa instingnya memerintahkan dia untuk masuk kesana. Untuk masuk ke dalam rumah itu.
Dan dengan langkah pelan, Donghae memajukan kakinya dan membuat dia berada tepat dihadapan pintu dari kayu yang sudah lapuk itu sekarang.
Cklek
Krieett
Thursday
February 2nd, 2012
04:00 AM
"Hallo?"
Sebuah kata meluncur dari mulutnya sebagai awal untuk masuk ke dalam rumah yang tidak Donghae ketahui rumah siapa. Dan seperti perkiraan Donghae, ketika dia masuk ke dalam ruangan usang itu bau kayu lapuk menguar di hidungnya. Bahkan dia bisa mendengar cicitan dari tikus-tikus di berbagai sudut. Ruangan tamu sebagai pembuka terlihat sangat kotor. Donghae yakin rumah ini sudah lama ditinggalkan. Atau bahkan memang dibiarkan untuk tidak dihuni.
Donghae melangkah masuk ke dalam rumah itu. Dia menendang beberapa perabotan yang berserakan di lantai dengan jaring laba-laba yang membungkusnya. Donghae tak tahu kenapa dia memilih untuk masuk ke dalam rumah itu. Padahal yang harus dicarinya sekarang adalah sebuah jawaban. Jawaban dari pertanyaan, 'dimanakah dia sekarang?'.
"Aarrrkkkhhh..."
Terdengar suara menakutkan dari ruangan lain yang berada di rumah itu. Suaranya terdengar agak samar. Namun Donghae yakin bahwa itu adalah sebuah runtihan kesakitan.
"Aarrrkkkhhh..."
Suara itu terdengar lagi. Mulai jelas sekarang. Donghae tak bisa membedakan suara wanita atau pria yang dia dengar, tetapi Donghae yakin orang itu pasti membutuhkan sebuah pertolongan.
"H-hallo?"
"Aarrrkkkhhh..."
Kali ini suara itu terdengar lebih jelas. Bahkan kali ini terdengar suara sesuatu seperti diseret. Sesuatu yang diseret sehingga menimbulkan sebuah bunyi gesekan dari sesuatu itu dan lantai kayu dibawahnya.
"Khhhh..."
Dan sekarang suara itu bukan terdengar dari satu sumber. Melainkan dua. Ruangan lain di sisi kanan Donghae mulai mengeluarkan suara yang hampir sama. Sebuah rintihan.
Karena rasa penasarannya, Donghae kembali mengambil langkah untuk maju dan mendekati ruangan yang lebih dekat dengan posisinya.
"Aarrkkhhh..."
Terdengar lagi. Dan pintu dari ruangan yang tak menutup secara sempurna itu akhirnya terbuka dengan sangat lebar. Dengan gerakan perlahan.
Donghae dapat melihat siluet bayangan yang akan menampilkan wujudnya dalam beberapa detik lagi.
"Khhhh..."
"Aaarrkkkhhh..."
Dan akhirnya sosok itu menampilkan wujudnya.
Deg!
"Ya Tuhan!"
Jeritan itu keluar dari mulut Donghae secara tiba-tiba ketika dia melihat sosok itu. Sosok seorang wanita dewasa dengan tubuh setengah badan merangkak di lantai—berusaha menggapainya. Dengan usus yang menggontai keluar, darah di seluruh tubunya dan kepala yang bocor membuat Donghae menahan napasnya. Apalagi ketika dilihatnya wajah yang sangat familiar di kepalanya.
"U-umma?"
Sosok itu hanya mengerang tak jelas. Dia merangkak dengan tangannya dan menggeser tubuhnya agar dapat menyentuh Donghae. Tubuh Donghae bergetar. Dia merasakan ada yang salah terhadap semuanya. Ibunya sudah meninggal dua tahun yang lalu.
"Kkhhh..."
Suara satunya lagi. Donghae membalikkan tubuhnya dan melihat sosok seorang pria dewasa yang juga memiliki setengah badan. Yang merangkak berusaha untuk mendekati tubuhnya. Matanya melorot keluar dari tempatnya, menggantung dengan darah yang ikut keluar dari sana. Ususnya juga mengontai keluar—ikut terseret di lantai sesuai dengan gerakannya. Dan yang membuat napasnya seolah terhenti, adalah wajahnya. Ayahnya yang sangat dia cintai. Yang sudah pergi terlebih dahulu bersama ibunya. Meninggalkannya sendiri ketika dia masih butuh kedua orangtua yang seharusnya menyemangatinya. Kedua orangtua yang seharusnya bangga melihat anaknya masuk ke dalam suatu organisasi besar untuk menyelidiki kasus.
Seharusnya mereka masih ada jika Donghae tak menyetir mobil saat itu.
Jika Donghae marah pada saat itu.
Jika Donghae dapat mengontrol emosinya ketika dia membawa kedua orangtuanya bersamanya.
Seharusnya mereka masih hidup sekarang.
Thursday
February 2nd, 2012
05:00 AM
"Raaakkkkhhh!"
Keduanya menggeram panjang. Donghae mendapati pipinya mulai basah. Dia menangis. Setelah sekian lama dia tak pernah menangisi lagi kedua orangtuanya, kali ini terjadi lagi.
"Umma... appa..."
"Rrrakkkhhh!"
Donghae tak tahu harus berbuat apa sekarang. Memeluk mereka atau pergi dari rumah ini.
Jarak dari wanita itu mulai dekat dengan jarak Donghae. Dekat. Bahkan sangat dekat.
"Umma..."
"RRAKKKHHH!"
Mata Donghae melebar ketika sosok itu menarik kakinya. Donghae tak bisa menahan keseimbangannya, membuatnya terjatuh dan menghempas lantai kayu dengan sangat keras. Suara dari kayu lapuk yang patah terdengar di telinganya. Namun bukan itu permasalahannya, tetapi sosok ini.
"Umma..."
"Raakkkhhh..."
Sosok dari pria dewasa itu pun kini sudah dekat dengan Donghae yang terduduk dalam posisi jatuhnya. Dia tak tahu harus berbuat apa, tetapi instingnya memerintahkan dia untuk segera lari. Untuk menjauh dari kedua sosok itu.
"RRAKKKHH!"
Keduanya menggeram panjang dengan suara menakutkan. Donghae segera meronta. Dia harus pergi segera. Tangannya meraih tangan wanita yang meremas kakinya erat. Dan dengan rasa berat di dadanya, Donghae meraih tangan itu dan menepisnya dengan kasar.
Dia tahu dia salah.
"RRKKHHH!"
Sebuah tangan mencakar tengkuknya. Donghae berbalik dan melihat sosok pria dewasa itu yang melakukannya. Air mata sudah hampir terjatuh kembali dari matanya. Namun dia harus bertahan. Kedua orangtuanya sudah tak ada dan Donghae harus yakin bahwa ini adalah ilusinya. Bukan kenyataan. Bukan kebenaran.
Donghae membawa tubuhnya mundur. Berusaha mendekati pintu utama. Sosok itu merangkak lebih dekat. Dan sangat dekat. Dengan seluruh usahanya Donghae memundurkan tubuhnya dengan keras, dengan punggungnya yang menabrak pintu dan Donghae memejamkan matanya segera.
Thursday
February 2nd, 2012
06:00 AM
Perlahan Donghae mulai membuka matanya yang masih basah karena air mata. Dan pandangan di sekelilingnya berubah. Dia sudah tidak berada di dalam rumah tua itu, dia berada di atas hamparan salju lagi sekarang.
Rasanya dingin...
dan menyakitkan.
Melihat lagi sosok kedua orangtuanya yang telah tiada. Yang kehilangan nyawa karena ulahnya. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mati, mengapa harus dua sosok yang sangat dia cintai dalam hidupnya. Terlebih untuh ayahnya.
"Appa... umma... maafkan aku..."
Dia terisak kecil di dalam air matanya. Kini dia tak punya siapapun lagi, kecuali Eunhyuk.
Dia sudah berjanji untuk menjaga Eunhyuk selamanya. Bersama disisinya. Tetapi... dimana Eunhyuk sekarang?
Thursday
February 2nd, 2012
07:00 AM
Donghae berdiri dari posisinya. Kini bukan saatnya untuk membuka duka yang sudah lama ia pendam sangat dalam. Sekarang waktunya untuk mencari jawaban. Dimana kekasihnya dan dimana dia sekarang.
Donghae memegang tengkuk lehernya. Basah, lengket dan perih, itulah kesan pertama ketika dirasakannya ada tiga goresan disana. Donghae mendekatkan tangannya ke wajahnya. Dan beanr saja, dia melihat cairan berwarna merah pekat di sela-sela jarinya. Dan baunya sangat mengganggu indra penciumannya.
"Ukh..."
Rintihan pelan keluar dari mulutnya. Namun dia tak memperdulikan luka itu, dia memilih untuk mengambil langkah dan mencari sebuah jawaban.
Ah, dia ingat. Dia harus melihat jam sekarang.
Donghae mendekatkan layar dari jam tangan yang dikenakannya ke depan matanya.
08:00 AM
Thursday
2012-02-02
A-apa? Pukul delapan? Donghae bersumpah terakhir dia melihat jam, jam menunjukkan pukul satu pagi—walaupun langit tak menujukan demikian. Tetapi, bagaimana bisa waktu berjalan dengan secepat itu? Donghae yakin jam tangannya tak rusak sama sekali.
"Oh my fucking God! Beritahu dimana aku sekarang!" jeritnya.
Tangan Donghae meninju angin, membuatnya menjadi pelampiasannya.
"Jika Kau tak ingin aku hidup, tak usah lakukan hal ini!"
Dia menendang salju dibawah kakinya dan kemudian mengacak rambutnya frustasi.
Sudah lelah dia menghadapi semuanya.
Thursday
February 2nd, 2012
09:00 AM
Donghae melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Dia tak tahu mengapa hal ini harus terjadi terhadapnya. Dia sama sekali tak punya jawaban untuk hal itu.
Thursday
February 2nd, 2012
10:00 AM
"Bagaimana?"
"Dua korban hampir kehabisan darah, sedangkan anaknya hampir tak sadarkan diri!"
"Cepat! Bawa mereka!"
Suara-suara itu terdengar sangat familiar di telinga Donghae. Bukan dari si pemilik suara, tetapi dari kalimat-kalimat itu. Kalimat yang pernah menjadi kalimat paling menegangkan dalam hidupnya. Dimana dia masih bisa selamat ketika kedua orangtuanya sekarat.
Donghae melihat ke depan dan kini dirinya sedang berada di depan halaman rumah sakit yang dipenuhi dengan banyak orang. Dan juga beberapa ambulans. Donghae merasakan matanya kembali panas. Tak usah untuk bertanya kepada siapapun tentang seseorang yang dimaksud. Itu sudah pasti dia, dan kedua orangtuanya setelah kecelakaan itu terjadi.
"Panggil Dr. Yoochun dan Dr. Zhoumi! Kami membutuhkan mereka segera!"
"Dokter, pasien ini hampir kehilangan denyut nadinya!"
"Jangan sampai kita kehilangan dia!"
"Dokter, pasien membutuhkan darah segera!"
"Cepat bawa mereka!"
Donghae hanya menggelengkan kepalanya dengan gerakan pelan melihat pemadangan itu. Matanya berkaca-kaca, dia akan menangis lagi. Dia tak mau melihat situasi ini. Situasi dimana adalah detik-detik terakhir untuk kedua orangtuanya. Dan semua itu karena ulahnya.
"Dokter, kami kehilangan kedua pasien ini."
Thursday
February 2nd, 2012
11:00 AM
Donghae mengerjapkan matanya ketika sekelilingnya berubah. Sekarang dia sedang berdiri di samping pintu dalam sebuah rumah yang bisa dikatakan lumayan mewah. Dia tak mengerti mengapa dia berada disini. Yang pasti, dia tahu akan situasi ini.
PLAK!
Donghae dapat melihat seorang wanita menampar wajah seseorang yang berdiri dihadapannya. Yang mempunyai wajah yang sama persis sepertinya. Ah, bukan. Itu adalah Donghae beberapa tahun yang lalu, tepat setelah dia pulih dari kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
"Kau membunuh kedua orangtuamu!"
Dan yang berada dihadapan dirinya yang dulu adalah tante dan juga kakek dan nenek dari ibu Donghae. Tantenya—kakak dari ibunya—memandang Donghae dengan tatapan marah. Berbeda dengan kakek dan nenekmu. Mereka hanya memandangmu, diam tanpa bisa melakukan apapun.
"Jika kau tak bisa mengontrol emosimu, jangan membawa mereka untuk pergi bersamamu!"
PLAK!
Satu tamparan lagi. Donghae yang yang dulu hanya dapat diam tanpa melakukan apapun. Dia menyadari bahwa semua adalah kesalahannya. Kesalahannya yang tak bisa mengontrol emosi membuatnya kehilangan kedua orangtuanya. Hanya karena masalah kecil.
"Maafkan aku..."
"Kau tak berhak untuk minta maaf! MEREKA SUDAH MATI SEKARANG!"
PLAK!
Thursday
February 2nd, 2012
12:00 PM
Donghae terjatuh dari posisinya ketika semuanya kembali menjadi hamparan salju yang luas. Dia tak kuasa untuk tidak menahan air mata yang meluncur mulus di pipinya. Dia tak memperdulikan rasa perih di tengkuknya. Dia hanya tak ingin memori itu kembali terbuka.
"Kumohon... ya Tuhan, berhentilah mempermainkan aku... sungguh ini terlalu sakit dari segalanya..."
Thursday
February 2nd, 2012
01:00 PM
"Aku mengakui bahwa ini adalah dosaku... tetapi kumohon... jangan buat aku seperti ini."
Thursday
February 2nd, 2012
02:00 PM
"Aku sama sekali tak mengerti dengan semua yang terjadi disini... tetapi jika ini semua akan mengakhiri penderitaanku... aku siap..."
Thursday
February 2nd, 2012
03:00 PM
"Biarkan aku mati untuk menyusul mereka..."
Thursday
February 2nd, 2012
04:00 PM
JLEB!
Satu tusukkan di punggung Donghae membuat Donghae membulatkan matanya yang basah karena air mata. Tusukkan itu sangat dalam. Merobek punggungnya. Dengan perlahan, Donghae menolehkan pandangannya ke belakang.
Thursday
February 2nd, 2012
05:00 PM
"Hyu—Hyukie..."
JLEB!
Satu tusukan lagi Donghae terima di punggungnya. Donghae terbatuk pelan. Dia merangkak dan berusaha menjauh dari sosok Eunhyukie-nya.
"Wae Hyukie? Wae?"
"Kau pemain kedua Hae. Sudah seharusnya kau untuk mati."
JLEB!
Kali ini di perutnya.
Thursday
February 2nd, 2012
06:00 PM
Donghae merangkak mundur. Dia melihat Eunhyuk yang memegang pisau berlumuran darahnya. Menatapnya dengan senyuman. Senyuman yang biasanya membuat Donghae tenang namun kali ini malah menyiksanya.
"A-apa yang kau katakan?"
Thursday
February 2nd, 2012
07:00 PM
"Aku hanya menjalaskan tugas dari dia, untuk membawamu ke Neraka."
"Di-dia? Siapa?"
Thursday
February 2nd, 2012
08:00 PM
Eunhyuk terkekeh pelan seraya berjalan mendekati Donghae. Donghae semakin memundurkan tubuhnya, mencoba menjauh. Namun rasa sakit dengan dua luka tusuk di punggung dan satu di perut membuatnya kesulitan. Donghae bangkit dari posisinya secara perlahan.
"Katakan ji-jika semua ini ha-hanya... mimpi..."
"Sayangnya, ini bukan mimpi My Fishy."
Thursday
February 2nd, 2012
09:00 PM
"Please..."
"Dia sudah menunggumu disana. Ayo cepat! Kemarilah!"
Donghae menggeleng seraya memegang luka tusuk di perutnya. Darah sudah membasahi tangannya—bahkan bajunya. Dia menatap Eunhyuk dengan tatapan nanar.
"Aku akan melakukan apapun untukmu Hyukie, tetapi kumohon... mengapa kau melakukan hal ini?"
Thursday
February 2nd, 2012
10:00 PM
Donghae hanya dapat menggeleng lagi. Eunhyuk memajukan langkahnya dengan sangat cepat dan kini dia sudah berdiri dihadapan Donghae. Menatapnya dengan seringai.
"Aku mencintaimu, Hyukie-ah..."
Eunhyuk mengecup bibir Donghae pelan.
"Sayangnya aku tidak."
JLEB!
Thursday
February 2nd, 2012
11:00 PM
"Ba-bangunkan aku Hyukie-ah..."
JLEB!
"Kau akan bangun sebentar lagi..."
"Akh..."
JLEB!
"Di Neraka..."
"Hy-Hyukiehh..."
JLEB!
"Menjadi budaknya."
JLEB!
"Dan aku hanya akan tertawa..."
"Hhh..."
JLEB!
"Melihatmu menderita disana."
Friday
February 3rd, 2012
12:00 AM
"Selamat tinggal Lee Donghae. Berbahagialah karena kau adalah salah satu pemain dalam permainan ini."
"H-Hy-Hyuk...kiehh..."
Eunhyuk mengecup kedua kelopak mata Donghae yang mulai menutup secara perlahan.
"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."
Dan Dua Februari-mu sudah berakhir.
.:o~o:.
ASLI! BARU SELESAI DAN BELUM DI EDIT APALAGI DI BACA ULANG!
AKU BENER-BENER BURU-BURU HOSH HOSH
Mian kalau aneh. Maaf aku gak bisa bales review sekarang. Ayo bacaa Next chap, aku post dua chap hari ini ^o^
SARANGHAE~ 3
THANKS UNTUK SEMUANYA :D
Review? :3
