Entah ini mimpi atau bukan. Gadis bersurai biru yang tak kasat mata itu masih dilanda rasa bingung. Beberapa kali tangannya yang dapat menembus dimaju-mundurkan ke tempat pancuran air minum yang berada di sebelah bangku taman. Lucu. Pikirnya begitu.

Bintang-bintang di langit menjadi satu-satunya tontonan Juvia yang sedang duduk di salahsatu bangku taman tempat dirinya dulu ketika hidup bermain. Matanya menerawang ke atas. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

"Terserah. Kalau hal itu bisa membuatmu bereinkarnasi."

Jawaban Gray tadi masih berhasil membuatnya bersemu merah. Entah mengapa mengingatnya kembali berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Apakah dirinya masih mencintai pria itu? Tidak tidak! Sama sekali tidak boleh!

"Menghantui Gray-sama eh? Bahkan Juvia sendiri tak punya rencana apa-apa untuk menghantui Gray-sama," dia berguman sendiri sambil melihat bintang-bintang yang berkelip. Seakan menjawab gumanan gadis itu.

Benda langit yang indah itu mengingatkan dirinya pada salahsatu cerita menajubkan yang selalu diceritakan neneknya ketika ia datang berkunjung saat hari libur. Setiap bintang mewakili setiap manusia kata neneknya. Ketika ada bintang jatuh, maka di belahan bumi entah bagian mana…ada seseorang yang meninggal dan berhasil bereinkarnasi. Juvia tersenyum kecut mengingat cerita itu. Ia sudah meninggal namun tidak bereinkarnasi. Apakah bintangnya belum jatuh? Atau dirinya tak diizinkan bereinkarnasi? Dosa apa yang telah ia buat? Memikirkan hal itu semakin membuat dirinya mengantuk dan berakhir berbaring di bangku taman.

Reborn

Disclaimer : Fairy Tail © Hiro Mashima

Pairing : Gruvia

Warning : mungkin typo (tolong periksa)

inspirasi : komik shoujo yang judulnya gumi lupa, film The Vow (kyaa Tatumm)

~dibutuhkan saran, kritik yang membangun~

ENJOY :)

.

.

.

.

.

"…ngun…oi bangun!"

Juvia tersentak dari tidurnya hingga beralih posisi menjadi posisi duduk. Ditonggakkan wajahnya dan ia bisa melihat wajah Gray yang masih datar dan dingin seperti biasa.

"G-Gray-sama…." Gumannya. Yang disebut namanya hanya berbalik dan langsung berjalan keluar taman menuju sekolah. Tanpa menghiraukan Juvia sedikit pun.

Gadis yang masih memakai seragam sailornya itu langsung berdiri dari bangku taman dan pergi menyusul Gray. Hati tak bisa bohong. Perasaan senang yang ironis ini menyelimuti hari keduanya sebagai hantu. Walau dirinya masih tidak terlalu yakin mengapa ia dikirim Kami-sama ke dunia lagi.

=oo=

Gray's POV

Sial. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi di pelajaran Gildarts-sensei. Kejadian kemarin sungguh membuatku hampir gila. Ah tidak, sejak kejadian terkutuk itu sebulan lalu pun aku sudah dalam kategori hampir gila. Mungkin dari kemarin aku sudah berhasil masuk kategori gila.

Yang benar saja? Ketika kemarin aku berkunjung ke pigura simbolis kematian Juvia aku melihat arwah Juvia. Aku kira itu hanya ilusiku saja karena merasa sangat bersalah. Aku mencap diriku sendiri sebagai menyebab kematian Juvia. Ya…setelah aku "menolaknya" aku melihat kerumunan heboh dan ada mobil ambulans di perempatan lampu merah itu. Saat aku menerobos masuk…ku lihat tubuh Juvia terkapar lemah tak berdaya dengan darah di sekujur tubuhnya. Jujur, dadaku sangat sesak saat melihat kejadian itu. Entahlah…seperti aku kehilangan sebagian nyawaku. Dan aku tak mau kejadian itu terjadi untuk kedua kalinya.

Seharusnya…aku tidak menolaknya. Bukan, bukan agar dia tidak mati. Melainkan karena aku menyukainya. Sangat. Namun ketika dia "menembak" diriku. Itu terlalu tiba-tiba. Aku gugup seketika dan mulut ini langsung mengeluarkan kata-kata penolakan yang membuat dirinya sakit hati. Benar kata Juvia, aku memang bodoh…

"Juvia dendam…terkutuklah kau Gray-sama…" sebuah tangan keluar dari tembok kelas. Dari suara yang sok-sokan seperti hantu ini dan memanggilku dengan sulfix sama….dia pasti Juvia.

Aku mendiamkan dirinya. Haknya untuk menggangguku. Semoga dengan begini, aku bisa membuatnya bereinkarnasi dan bisa bertemu lagi dengannya di kehidupannya yang baru. Ah, Gray…kau terlalu berharap. Bisa saja ia akan hidup kembali seribu tahun yang akan datang. Bahkan kuburanmu sudah terkikis waktu.

"Gray-sama….huuuwoooo…takutlah pada kekuatan menembus Juvia…." Pfft. Caranya menakutiku membuat aku ingin tertawa terbahak-bahak. Namun, aku tak mau dihukum oleh Gildarts-sensei.

=oo=

Bahkan saat istirahat….

"Gray-sama…Juvia akan menarikmu ke kegelapan…" Lagi-lagi trik menembus. Walau kali ini ada peningkatan. Juvia mengeluarkan setengah tubuhnya dan berpose ala hantu-hantu di obake.

Aku memutar mata bosan. "Jujur saja Juvia, kau payah dalam hal menghantui." Ucapku to the point dengan muka datar seperti biasa. Ehem, muka ini bukan dibuat-buat oke? Ini sudah dari sananya.

"Hee? Benarkah? Padahal Juvia merasa sudah cukup menakutkan…" Juvia berkata sambil cemberut. Membuatku ingin mencubit pipinya.

Ah….aku tepat berada di depan ruang seni. Biar aku ajarkan bagaimana cara menghantui yang benar. Dengan segera aku mengambil sebuah topeng hasil karya anak murid yang cukup menyeramkan dan memakainya.

"Oi Juvi…aku dendam…." kataku meniru dirinya.

"HUWAAAAAA!" Hee? Begini saja sudah kabur?

End of Gray's POV

=oo=

Juvia duduk di bangku taman sekolah sambil menopang pipinya dengan kedua tangannya. Pipinya ia gembungkan tanda bahwa dia sedang sebal.

"Gray-sama terlalu susah untuk Juvia hantui…" gumannya kecewa kemudian merenggangkan kedua tangannya, "lagi pula…apa benar Juvia bangkit kembali ke dunia ini untuk menghantuinya?" dirinya pun menatap ke arah langit biru yang cerah. Berharap menemukan jawaban di atas sana. Namun percuma…hanya ada awan yang bergerak lamban yang mendiamkannya.

"Mew…."

Terdengar lirihan suara anak kucing dari atas pohon. Kucing berbulu putih itu seperti minta tolong karena dia tidak bisa turun dari pohon. Juvia ingin menolong kucing malang itu, namun dia tak bisa menyentuh apa pun di dunia ini.

Lirihan kucing itu makin menjadi, membuat Juvia tak tahan ingin menolongnya. Dahinya berkerut tanda ia sedang memikirkan jalan keluarnya. Tak lama, dirinya mendapatkan satu-satu nya ide. Tanpa buang waktu lagi, Juvia segera berlari ke tempat 'itu'.

….

Ini sangat aneh mengingat dirinya sudah menjadi hantu namun ketika dia habis berlari dari lantai satu ke lantai tiga tetap terengah-engah. Tapi itu tak penting, yang terpenting adalah memberitahu Gray bahwa ada kucing yang sangat butuh pertolongan dari mahluk yang bisa menyentuh benda dunia ini.

"Psst…Gray-sama…" panggil Juvia yang menembuskan tubuhnya hingga pinggang di tembok kelas. Sangat kebetulan bahwa tempat duduk Gray di pojok kiri kelas.

Gray yang sedang menulis tugas yang diberikan Wakaba-sensei tersentak kaget. "A-apa?" bisik Gray sekecil mungkin, berharap teman sekelasnya tak mendengarnya.

"I-itu….." Juvia pun menceritakan masalah yang baru saja dihadapinya dengan tampang memelas. Dia memang tak bisa melihat kucing sengsara.

"Di pohon taman sekolah? Baiklah…" Gray tak menyadari bahwa volume suaranya cukup untuk membuat semua murid di kelasnya menengok ke arahnya. Untung saja Wakaba-sensei sedang tertidur. Laki-laki tua itu sama sekali tak terganggu. Dasar makan gaji buta.

Tak mempedulikan tatapan teman-teman sekelasnya yang menatapnya heran, Gray langsung berlari menuju tempat yang Juvia katakan.

=oo=

Kucing putih itu kini berhasil diselamatkan dari pohon taman sekolah. Mahluk berbulu lembut itu kini sedang menggesek-gesekan badannya manja dalam dekapan Juvia.

"Mew…" dia mengeong lucu.

"Juvia kira itu artinya terima kasih" kata Juvia yang kemudian mengelus lembut sang kucing sampai dia mengdengkur. Juvia tersenyum manis dibuatnya.

"Aa," ucap Gray singkat. Dia memandang ke arah lain.

"Etto…maaf membuat Gray-sama meninggalkan kelas,"

"Baka, kau kan sedang menghantuiku. Kenapa harus minta maaf?" Gray menyentil dahi Juvia pelan. Membuat Juvia melonggo seketika sebelum terkekeh pelan. Hal itu membuat Gray menyunggingkan satu sudut bibirnya.

=oo=

Seminggu telah berlalu dengan hal-hal yang tidak direncanakan Juvia. Selama itu ia tak "menghantui" Gray layaknya definisi "menghantui" itu sendiri. Dia hanya mengikuti kemana pun Gray pergi. Untungnya laki-laki itu sama sekali tak keberatan, malah mengajak Juvia mengobrol bila mereka hanya berdua. Juvia beranggapan bahwa Gray melakukan itu karena dirinya tak enak bila mengacuhkan dirinya atau menginginkan Juvia cepat-cepat bereinkanasi dan pergi dari hadapannya. Apapun alasannya Juvia tak peduli lagi, selama dia bisa di dekat seorang Gray Fulbuster.

Ya….

Dia masih mencintai Gray-sama nya.

Juvia menghela napas. Sudah sekitar tiga puluh menit ia menunggu di gerbang sekolah. Ini sudah waktunya kelas bubar namun Gray belum kunjung keluar gedung. Tak mungkin dia piket karena dia tahu betul hari apa Gray piket. Sudah lelah menunggu, Juvia memutuskan untuk mencarinya.

Kakinya telah membawanya ke depan gedung serba guna. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri mencari seseorang berambut raven acak-acakan yang selalu berwajah datar. Namun nihil, di sini sudah se—

"Aku menyukaimu."

—tunggu! Tempat ini belum sepi. Dia mendengar sesuatu dari samping gedung serba guna. Dari kalimatnya sepertinya ada seorang gadis yang menyatakan perasaan. Ah masa bodo. Itu sama sekali bukan urusannya, lagi pula menguping itu tak baik bukan?

"Jadilah pacarku, Gray-kun."

DEG!

Ia bisa merasakan detakan jantungnya yang sampai membuat perut dan tenggorokannya bergetar. Siapa? Siapa orang yang sedang menyatakan perasaan kepada Gray? Kakinya bergerak dengan sendirinya, otaknya telah gugur melawan perasaan di hatinya.

"Kumohon…"

Kini Juvia bisa melihat seorang gadis berambut pirang pucat pendek yang membelakanginya dan sedang berhadapan dengan Gray yang hanya memasang ekspresi datar. Ekspresi yang sama yang ia tunjukan kepada Juvia waktu itu.

"Aku mencintaimu, Gray-kun." Gadis itu pun lalu memeluk Gray. Adegan itu sungguh membuat Juvia merasakan kembali sakit di dadanya.

Sekali lagi otaknya berkhianat padanya. Di kepalanya terputar lagi memori-memori terkutuk yang terjadi sebulan lalu bagaikan film dokumenter tua. Dia memegang dada kirinya yang terasa sakit dan mulai terisak pelan….

"Ju-Juvia?!"

…Namun cukup untuk Gray dengar.

Lagi, kejadian sama seperti bulan lalu. Juvia membalikan badannya dan lekas berlari. Walau ia tahu ia tak bisa lagi berharap mati.

"Untuk apa kau menyebut nama orang yang sudah mati, Gray-kun?" tanya Nano Leaf—nama gadis itu— mengangkat salahsatu alisnya dengan muka agak sebal karena Gray menyebut nama perempuan lain yang bahkan sudah mati. Gray menatap Nano tajam, membuat gadis itu bergidik ngeri.

Mati….

Tidak. Baginya Juvia belum mati. Selama Juvia masih dapat ia lihat, dia belum mati.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Nano, Gray langsung mendorong tubuh Nano dan berlari kencang mengejar Juvia yang ia harap masih tak terlalu jauh.

=oo=

Angin yang menerpa rerumputan dan semak belukar bahkan tak dapat menerpa rambut atau membelai pipinya dengan lembut. Begitu saja udara yang bergerak kencang itu melewati tubuh Juvia yang tembus pandang. Hanya air mata kesedihan yang sedari tadi mengalir deras di pipi Juvia yang sedang duduk memeluk kedua lututnya yang terlipat. Dia menghela napas panjang di antara sunyinya malam berbintang. Sungguh tak adil padahal suasana hatinya sedang kelabu namun langit terlihat sangat ceria.

Dipandanginya sungai yang memantulkan cerahnya langit malam yang terkadang bergemericik karena ulah dari penghuni sungai itu. Sekelebat bayangan Gray tiba-tiba muncul di permukaan sungai.

"Cih!" dirinya menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya. Dia sungguh membenci dirinya karena tak bisa berhenti mencintai pemuda itu.

"Padahal sudah disakiti berkali-kali…" gumannya sambil terkekeh sarkasme.

"Siapa?"

DEG! Mata Juvia membulat ketika telinganya menangkan suara nge bass yang sangat familiar itu.

"G-Gray-sama!" pekik Juvia gelagapan. Tak menyangkan dirinya tertangkap basah oleh pemuda yang sedang terengah-engah itu. bulir-bulir keringat yang menetes dari pelipisnya membuat Juvia menyimpulkan bahwa Gray berlari-larian hanya untuk mencarinya. "K-Kau…berlari begitu untuk…."

"…ya tentu saja untuk mencari hantu aneh menyebalkan berambut biru muda yang mati sekitar sebulan yang lalu." Juvia menundukkan kepalanya kecewa setelah mendengar lontaran Gray yang memotong kalimatnya.

"Tapi aku menyukai hantu itu." akhirnya Gray mengutarakan perasaannya juga.

Juvia menyeka air matanya dan kemudian berkata, "Juvia tahu Juvia adalah hantu sekarang. Yang berbeda alam dengan Gray-sama, yang tak bisa menyentuh Gray-sama lagi. Tapi," Juvia menarik napas dalam-dalam. Menahan air mata yang hampir keluar. "T-tapi…Juvia tak bisa meli—t-tak bisa terus-terusan hidup di dunia ini…"

'Juvia tak bisa melihat Gray-sama bahagia dengan gadis lain…'

"J-Juvia bahagia melihat Gray-sama dengan gadis yang tadi…"

'Itu membuat Juvia sakit hati…'

"Gray-sama tak perlu menghibur Juvia dengan berkata Gray-sama menyukai Juvia. Karena pada akhirnya kita tak bisa bersatu. Kita tak bisa bertemu lagi setelah Juvia bereinkarnasi." Juvia masih tersenyum. Kini, air matanya kembali mengalir.

'Juvia tak mau pisah dengan Gray-sama…'

Gray terdiam. "Maaf…" katanya tak lama kemudian, "maaf untuk menyakitimu berkali-kali. Maaf sudah membuatmu menderita bahkan sampai saat-saat terakhirmu hidup. Maaf sudah membuatmu tak bisa bereinkarnasi. Maafkan aku yang bodoh ini." Tangan Gray seakan-akan menyentuh pipi Juvia. Ya, tangannya memang terlihat sedang berada di pipi Juvia, tapi sebenarnya tangannya hanya bisa merasakan ruang kosong. Juvia tercengang. Walau pipinya tak bisa merasakan apa-apa, ia bisa merasakan hangatnya sorot mata Gray untuknya.

"Tapi Juvia bilang tak—"

"—kau tak pandai berbohong, Juvi. Terlihat jelas di matamu bahwa kau sedang mengeluh dan bersedih karena aku."

'Kenapa?'

Gray tersenyum tulus melihat Juvia hanya melongo menatapnya bingung. "Karena aku selalu memperhatikanmu."

Sekali lagi, Gray membaca pikirannya.

Bersamaan dengan munculnya lengkungan indah dari bibir Juvia, muncul juga cahaya yang membuat tubuhnya bersinar. Tak luput dari itu, cahaya kecil seperti cahaya kunang-kunang menari indah di sekitar tubuh Juvia yang makin bersinar.

"Arigatou," kata Juvia yang tersenyum makin lebar. Sudah saatnya eh Kami-sama?

Mata Gray membulat, ia mempunyai firasat buruk. "A-ada apa? Kenapa kau bersinar?"

"Urusan Juvia di dunia sudah tuntas, Gray-sama."

Rambut gelombang indah milik Juvia mengambang indah seolah dia berada di dalam air. Tubuhnya makin tembus pandang dari biasanya.

"Kini…saatnya Juvia untuk pergi, untuk bereinkarnasi…"

Tak rela. Hanya itu yang ada di benak Gray. Ia tak mau Juvia pergi dari hidupnya untuk kedua kalinya. Ia tak akan membiarkan Juvia pergi lagi.

"Kita tak bisa bertemu lagi setelah Juvia bereinkarnasi." Kata-kata Juvia tadi terus diputar berulang-ulang oleh otaknya. Membuat dadanya terasa sakit. Ia ingin bersama dengan gadis itu selamanya, menghabiskan hidup bersamanya. Walau pun dia hantu sekali pun. Gray tak peduli.

Gray memajukan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan tubuh Juvia. Tanpa berpikir apa-apa, direngkuhlah tubuh gadis yang disayanginya itu erat.

Seharusnya tak bisa bersentuhan. Seharusnya Gray langsung jatuh ke rerumputan. Namun, Kami-sama berkehendak lain…

"Jangan…pergi…" Gray menenggelamkan wajahnya di bahu Juvia. Berharap dengan cara itu bisa menahan Juvia pergi untuk selama-lamanya. "Aku tak mau kau menghilang dari hidupku."

Juvia tersentak, kemudian tatapan matanya meneduh. Dia membalas pelukan Gray dan mengelus pelan rambut raven acak-acakan yang selalu menjadi favoritnya. "Kalau begitu, berjanjilah untuk mencari reinkarnasi Juvia," hiburnya. Walau ia tahu itu tak mungkin.

"Aku berjanji…" jawab Gray yang semakin mengeratkan pelukannya pada Juvia. "Aku akan terus mencari…" lanjutnya.

Juvia merasakan desiran hangat yang menyenangkan dalam dadanya. Dirinya menangis haru. "Sekali lagi…."

Tubuh Juvia semakin transparan. Dia bisa merasakan bahwa tubuhnya ditarik ke atas dengan lembut. Perlahan-lahan, Juvia menghilang. Yang tersisa hanya serpihan cahaya yang melayang-layang di sela-sela rambut Gray. Seakan itu adalah sentuhan terakhir Juvia.

"…terima kasih…"

Ia yakin…suara bergema yang indah itu adalah milik Juvia…

"Tunggu aku di kehidupanmu yang selanjutnya, Juvia. Aku pasti akan membahagiakanmu." Beberapa detik setelah Gray mengikrarkan janjinya, salah satu bintang di langit jatuh. Dan saat itu juga pun Gray tersenyum, dia bisa melihat bayangan Juvia yang tersenyum di dalam bintang jatuh itu.

"Sampai jumpa…Juvi…" ucap Gray dengan bibir yang agak bergetar.

Ia sudah tak dapat membendung tangisannya lagi. Cairan hangat yang sudah menumpuk di matanya, kini terbebas dari bendungan yang kokoh. Ia menutupi matanya yang sembab dengan lengan kanannya.

Untuk pertama kalinya dari tujuh tahun terakhir…tangis Gray pecah…

…bersamaan dengan tangisan pertama seorang bayi perempuan berambut biru muda di sebrang sana.

The End?

A/N : Phew! setelah sekian lama gak nulis ff galau, agak susah juga menghayatinya =w=" ah btw selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan :D *kipas kipas pake duit THR* *woy* jadi...apakah cerita antara Gray dan Juvia akan begitu saja berakhir? akan kah Gray benar-benar bisa menemukan reinkarnasinya Juvia? lihat saja di chapter selanjutnya! iyaa ini masih berlanjut kok. lihat tuh ada tanda tanya abis kata the end ._. kenapa kayak gitu? biar keren XD *plok*

pembalasan review :

celine-nee-sama : ahahah makasihh semoga chapter ini makin seru :3

pororo-chan :ah makin ke sini ff Gruvia makin banyak kok XD habis di manga fairy tail belakangan ini banyak banget gruvia moment nya *brb fangirling di instragram* *plak*

CelestyaRegalyana : makasiiihh :D semoga ini membunuh rasa penasaranmu~

tak lupa Gumi ucapkan terima kasih juga kepada silent reader yang malu-malu buat review :3 review aja~ Gumi gak gigit kok huehuehuehuehue