Reborn
Disclaimer : Fairy Tail © Hiro Mashima
Pairing : Gruvia
Warning : mungkin typo (tolong periksa)
inspirasi : komik shoujo yang judulnya gumi lupa, film The Vow (kyaa Tatumm)
~dibutuhkan saran, kritik yang membangun~
ENJOY :)
.
.
.
.
.
Ini adalah sesapan ketiganya pagi ini sambil membaca koran hari Minggu. Baru saja sampai paragraf pertama, ovennya berdenting tanda roti panggang kejunya sudah matang. Diletakkannya koran dan secangkir kopi hitam panas itu di atas meja minimalis itu untuk mengambil rotinya yang sudah matang.
Aroma roti yang baru dipanggang dengan keju mozzarella yang meleleh di atasnya makin membuat pria berumur 28 tahun itu semakin lapar. Ia sudah siap membuka mulut untuk gigitan pertamanya, sampai-sampai smartphone touch screen yang sedang populer masa kini miliknya itu mengeluarkan nada panggilnya. Tsk, sangat mengganggu ritual sarapan pagi indahnya.
"Hey hey hey sobat! Selamat pagi! Bagaimana kencanmu kemarin malam? Sukses tidak?" cerocos laki-laki dari sebrang telepon.
Kencan kemarin malam? Sukses? Jauh dari kata sukses! Wanita pemabuk itu membuat dompet dan pundaknya pegal. "Yaaa begitulah." Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari mulut pemuda berambut raven itu.
"'Ya begitulah'? Keren! Tidak pernah ada pria yang berkata seperti itu sehabis kencan dengan Cana! Semua pria yang berkencan dengan teman kampusku itu selalu mencaci maki ku habis-habisan! Kau yang pertama untuk tidak mencaci makiku, Gray!" ucap pemuda di sebrang telepon kegirangan, membuat Gray memutar bola matanya. 'Jelas saja mereka mencaci maki dirimu!' gerutunya dalam hati.
"Kau tahu Lyon? Sebaiknya kau sudahi saja misi 'Kencan Buta Platinum untuk Gray' mu itu. Percuma saja," kata Gray yang pada akhirnya menggigit roti kejunya. Dia berharap penolakan halusnya membuat pemuda yang suka mencomblangkan orang-orang itu benar-benar menghentikan semua hal yang membuatnya kepayahan ini.
"Tidak! Tidak sampai sahabatku ini mendapatkan wanita impiannya!" Dasar. Sahabatnya yang bernama Lyon itu sungguh bersikukuh agar Gray cepat-cepat mempunyai pacar dan akhirnya menikah. Ya dirinya memang sudah lama melajang. Terakhir dia berpacaran dengan wanita ketika umurnya 21 tahun dengan wanita yang entah dia lupa namanya. Itu pun hanya bertahan hanya sampai tiga bulan.
Berbeda dengan sahabat silvernya yang pada saat berumur 25 tahun sudah menaiki altar dengan wanitanya yang berambut pink tua. Siapa namanya? Ah, Chelia. Bahkan sekarang pasangan romantis—Gray lebih suka menyebutnya 'norak'—itu sudah mempunyai anak laki-laki berumur dua tahun.
Gray pun juga ingin menikah, tinggal di rumah sederhana—bukan di apartemen khusus untuk satu orang seperti sekarang—dengan istri tercintanya, dan memiliki anak-anak yang lucu-lucu…ah sungguh idaman setiap orang di muka bumi. Namun, ia belum menemukan orang yang cocok. Tepatnya, dia tidak bisa melupakan orang 'itu'. Atau mungkin belum? Tidak tidak, kata 'tidak' merupakan kata yang tepat. Hey! Kencannya dengan Cana kemarin malam adalah kencannya yang diatur oleh Lyon yang ke 20 dan bayangan orang 'itu' tetap muncul di dalam mimpinya. Baiklah, Gray merasa seperti harem king sekarang.
Gray menghela napas panjang sebelum menyeruput kopi hitamnya yang sudah agak mendingin. "Aku bisa mencari—"
Belum saja Gray selesai berbicara, Lyon langsung memotongnya. "Kabar baik! Chelia bilang dia mempunyai sepupu yang masih lajang, dia berumur—umurnya berapa sayang?" kemudian terdengar sayup-sayup suara istri Lyon yang menjawab pertanyaannya, "ya dia berumur 25 tahun, dan namanya adalah—namanya siapa sayang?" sekali lagi, tukang pamer itu—begitulah Gray menjulukinya—bertanya dengan setengah berteriak dan kemudian istrinya menjawab dengan panggilan 'sayang' juga, "kau dengar sendiri suara istriku yang cantik itu? Namanya Meredy. Terdengar bagus kan? Dan dan aku akan meneleponmu secepatnya umm mungkin lusa untuk jadwal kencanmu dengan dia. Dan setelah aku tutup telepon ini, kau akan menerima foto Meredy di HP mu. Oke bye!"
"Oi Tung—"
TUT TUT TUT TUT.
Untuk ke-20 kalinya, Gray gagal menampik jadwal kencan butanya. "Dasar, si cerewet itu. Untung kau sahabatku!" gerutu Gray sebelum ia kembali melanjutkan sarapan paginya yang beberapa kali tertunda.
Cih, makanan serta minumannya sudah dingin. Ketika bertemu nanti, dia bersumpah akan menjitak kepala Lyon sebanyak 20 kali. Ya, sebanyak dengan jumlah kencan-kencan butanya yang gagal.
DRRT DRRT. Kali ini, smartphone bergambar apel digigit itu mengeluarkan nada tanda satu pesan bergambar masuk. Ah ya, Lyon berkata bahwa ia akan mengirimkan foto Meredy setelah mereka menyudahi acara telepon-menelepon mereka. Tapi Gray membiarkan smartphonenya dan lebih memilih menghabiskan sarapannya yang kelewat enak itu.
=oo=
Sekali lagi Gray memeriksa penampilannya di cermin yang ada pojok di kamar tidurnya. Rapi. Harus rapi. Ia tak ingin guru-guru senior mencibir dirinya seperti yang mereka lakukan kepada koleganya yang bernama Loki. Pemuda yang umurnya sama dengannya itu selalu berpenampilan seenaknya seperti salahsatunya membuka tiga kancing kemejanya. Biar seksi katanya. Dasar salah tempat. Lebih baik si tukang gombal itu bekerja menjadi host di café daripada menjadi guru di sekolah menengah atas.
Setelah mengencangkan dasinya, Gray langsung menyambar tasnya dan melangkah keluar kamar. Ketika melewati meja makan, ia mengambil smartphone hitamnya. Tiba-tiba ia ingat akan satu pesan bergambar yang ia buka. Ah hal itu bisa menunggu, tapi rapat guru untuk menyambut tahun ajaran baru? Lambungnya yang menjadi taruhannya.
=oo=
Kepala sekolah yang sudah tua itu berdehem sebelum akhirnya dia mengutarakan kalimat pembuka acara rapat di Minggu pagi ini. "Selamat siang, para staf guru." Yang kemudian dijawab oleh selamat pagi juga dan anggukan tanda penghormatan oleh semua guru yang mengelilingi meja rapat.
"Pembahasan rapat hari ini adalah tentang pembagian wali kelas dan penyusunan jadwal mata pelajaran," ucap Makarov—nama kepala sekolah itu— sambil memakai kacamata bacanya dan kemudian mengangkat beberapa lembar kertas untuk dibacakan. "Pertama adalah pembagian wali kelas." Makarov berdehem lagi. "Porlyusica-sensei," panggilnya.
Seorang wanita berwajah keriput namun tak ada uban di antara helaian rambut pinknya itu berdiri dari tempat duduknya. "Hai," katanya.
"Anda tahun ini bertugas menjadi wali kelas 3-D," ucap Makarov. Porlyusica-sensei mengiyakan sebelum dirinya kembali duduk.
"Jura-sensei," panggil Makarov pada orang kedua.
Laki-laki tinggi berkepala botak namun mempunyai kumis dan jenggot panjang berwarna coklat tua itu berdiri dari tempat duduknya yang berada tepat di depan Gray. "Hai," katanya persis seperti Porlyusica tadi.
"Anda tahun ini bertugas menjadi wali kelas 1-A." Jura hanya mengangguk dan kembali duduk.
Makarov pun kembali memanggil nama demi nama yang sudah ada di kertas yang ia pegang. Di awal-awal, guru-guru senior lah yang lebih dulu dipanggil, setelah itu barulah guru-guru baru atau guru-guru muda yang dipanggil.
"Gray-sensei." Gray yang sedang bengong memikirkan sesuatu langsung kaget ketika namanya dipanggil. Dia pun berdiri dengan sangat gelagapan.
"H-Hai!" ucapnya lebih menjurus ke kategori teriak.
"Anda tahun ini bertugas menjadi wali kelas 2-B." kelas dua eh tahun ini? Ini adalah tahun yang berat. Biasanya anak kelas dua adalah anak-anak yang paling susah diatur daripada anak kelas tiga atau satu. Karena bagi mereka, kelas dua adalah saatnya mempuas-puaskan diri untuk santai dan menikmati masa SMA sebelum menjadi kelas tiga dan sibuk dengan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Gray tak terlalu menyalahkan pola pikir seperti itu, karena ia pernah muda juga.
Gray pun mengangguk tanda mengerti dan kembali duduk. Kemudian otaknya kembali melayang-layang dan membuat dia melamun. Matanya terlihat menatap langit-langit, namun sesungguhnya, matanya sedang menatap bayangan gadis berambut biru muda bergelombang yang selalu ia rindukan 15 tahun terakhir ini. Ia tak percaya sudah hampir kepala tiga begini dirinya masih mempercayai kenyataan kejadian itu. kejadian yang bila ia ceritakan pada orang lain yang pasti akan menertawakannya dan kemudian menganggap dirinya gila. Kejadian yang seperti cerita-cerita di komik anak perempuan kakaknya waktu remaja namun ia pernah benar merasakannya. Kejadian itu, saat-saat yang ia rindukan dan selalu ia ulang dalam mimpinya. Dan kejadian itu pula yang membuatnya selalu galau 15 tahun terakhir ini.
Kemana lagi harus aku mencari reinkarnasimu? Ini menggelikan bahwa aku masih percaya dengan itu, tapi aku bukan pria yang suka ingkar janji, apa lagi dengan gadis yang aku cintai. Ne, Juvi? Apa kau bereinkarnasi jadi hewan, tumbuhan, atau manusia lagi?
=oo=
Rapat kemarin merupakan rapat yang panjang. Gray saja baru sampai rumahnya pada pukul delapan malam. Padahal rapat dimulai pada pukul sembilan pagi. Hampir dua belas jam Gray duduk dengan kolega gurunya untuk membicarakan tentang jadwal mata pelajaran yang harus sempurna dan tidak ada tabrakan jadwal sama sekali. Saat sampai di rumah, dia harus melanjutkan pekerjaan sebagai guru: menyusun jadwal materi-materi yang akan diajarkan dari semester awal sampai dengan semester akhir agar dirinya tidak kewalahan nantinya.
Jadilah ia begadang sampai jam dua pagi hanya untuk hal ini. Membuat dirinya mempunyai kantung mata yang benar-benar kelihatan saat Gray sedang bercermin dan mencuci muka di kamar mandi. Uh, kopi hitamnya pagi ini sepertinya harus lebih pekat. Ia tak mau ketiduran saat pelajaran berlangsung dan mengecewakan murid-muridnya.
Gray menatap foto dari pesan bergambar dari Lyon kemarin. Rambut pink muda panjang bergelombang, mata berwarna hijau yang meneduhkan, dan senyum yang cukup manis. Semua wanita yang selalu dikenalkan Lyon berambut panjang gelombang. Itu karena dirinya bilang bahwa tipenya adalah gadis yang berambut panjang dan bergelombang…..dan berwarna biru muda. Tentu saja ia tak bilang soal biru muda. Bisa-bisa Lyon menceramahinya habis-habisan karena ketahuan belum melupakan Juvia Mizukawa.
Ingat bahwa dirinya buru-buru, Gray langsung mematikan smartphone-nya dan kemudian memakai sepatu pantopel hitamnya sebelum bergegas pergi ke sekolahnya tempat dirinya mengajarkan pelajaran geografi pada murid-muridnya. Hari pertama begini ia harus berangkat pagi-pagi karena rekannya yang bernama Jura tadi pagi meng-sms-nya untuk menemuinya pagi-pagi di sekolah. Katanya dia meminta untuk tukar kelas dengan Gray. Entah apa alasannya untuk lebih memilih menjadi wali kelas dua yang pastinya lebih merepotkan. Tentu saja hal itu harus dilakukan pagi-pagi karena harus meminta persetujuan Makarov sang kepala sekolah. Dan yang pasti permintaan itu pasti akan dikabulkan mengingat Jura adalah guru senior dan sahabat Makarov juga. Cih, negosiasi jaman sekarang.
=oo=
Entah sudah yang keberapa kalinya gadis remaja itu mengubah-ubah model rambutnya. Dari ponytail, twintail, kepang satu, kepang dua, poni dijepit, dan sekarang berakhir dengan model acak-acakan. Apa hanya dirinya yang repot seperti ini saat hari pertama masuk SMA? Dirinya meniup beberapa helai rambutnya yang menutupi sebelah matanya.
Baginya, hal ini wajar. Karena hey! Ini adalah SMA. Yang kata orang-orang banyak adalah momen paling indah dan enggan dilupakan ketika kau tua nanti. Momen indah ketika kau mendapatkan pacar, pulang bergandengan tangan dengannya, hari Minggu kencan dengannya…ahhh pipi gadis berambut biru agak bergelombang itu bersemu merah ketika membayangkan momen-momen bahagia itu.
"Juvia, sedang apa dirimu? Cepat turun dan sarapan kemudian berangkat sekolah! Ini adalah hari pertamamu!" teriakan dari lantai satu rumahnya membuat gadis yang dipanggil Juvia itu tersentak dan kemudian buru-buru menyisir rambutnya yang akhirnya hanya digerai saja.
"HAAAAAIIIIII,"
to be continue
