Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Laconic | February 15th, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Key, Onew, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee udah ada semuanya, EXO nyempil satu)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : Ini chapter 2E. Kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.

.

.

.

.

The Time: Laconic | February 15th, 2012

.

Wednesday

February 15th, 2012

12:02 AM

Setelah Yoochun menekuni sesuatu yang sejak tadi dicarinya, akhirnya dia dapat menemukan titik itu dan menghujamnya dengan lebih keras. Membuat tubuh dibawah tubuhnya melengkung, memeluknya dan kemudian melengking tinggi. Suara yang begitu dirindukan Yoochun akhir-akhir ini. Dimana dia tahu bahwa Changmin adalah miliknya. Benar-benar miliknya ketika pemuda itu melepaskan hasratnya dengan memeluk tubuh diatasnya dan memanggil namanya. Memeluk tubuh Yoochun yang kini menggeram rendah ketika hasratnya keluar di dalam tubuh Changmin.

Butuh waktu untuk membuat keduanya mengambil napas senormal mungkin. Peluh melapisi kedua tubuh itu, namun hal itu membuktikan bahwa mereka saling menikmati kegiatan itu. Menikmati cinta yang disalurkan satu sama lain. Dan, Yoochun yang pertama memulai percakapan, ketika dia menyibakkan poni Changmin tanpa mau beranjak dari posisinya, walaupun dia tahu Changmin sudah penuh sekarang.

"Maaf tak mengabarimu." Pemuda itu berkata dengan begitu lembut.

Changmin tersenyum simpul seolah mengatakan bahwa hal itu bukan masalah lagi. Dia sudah cukup tenang bahwa Yoochun sudah berada bersamanya lagi sekarang, bahkan tepat diatas tubuhnya. Changmin menaikkan tangannya dari punggung Yoochun kearah tengkuk lehernya. Dia memeluk tengkuk itu dengan erat ketika dirasakannya Yoochun mulai bergerak lagi di dalam tubuhnya.

"Jangan me-memulai uhh..." ucapan Changmin di tengah desahan membuat Yoochun semakin melanjutkan aktivitasnya, tidak berniat untuk berhenti.

"Aku benar-benar merindukanmu... nghh... aku sangat merindukanmu. Jangan pernah pergi dariku Shim Changmin..."

Dan dua baris kalimat itu seperti sebuah perintah di telinga Changmin. Dia akan menuruti segala perintah itu jika saja pikirannya tak beralih lagi kepada seseorang.

Mengapa disaat seperti ini aku masih bisa memikirkanmu, Kyuhyun-ah? Aku butuh waktu berdua bersama Yoochun, tetapi mengapa...

.

.

The Time

Laconic | February 15th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Wednesday

February 15th, 2012

06:21 AM

"... bisakah? Jangan, aku masih punya tabungan di bank lain." Changmin menarik salah satu kursi di meja makan dan duduk disana, dengan telepon rumah yang masih diapit oleh bahu dan telingannya. "Bukan, bukan disana. Ya, jangan dulu cairkan uangnya. Aku perlu waktu."

Changmin melihat Yoochun berjalan ke ruang makan dengan pakaian dokternya yang sudah rapi. Changmin tersenyum tipis dan kembali pada teleponnya.

"Ya. Nanti aku kabari lagi. Ya, terima kasih."

Tutt

Changmin memutuskan sambungan telepon dan kemudian meletakkan telepon itu di atas meja. Dia kembali menatap Yoochun yang mengambil tempat duduk dihadapannya.

"Telepon dari?"

"Ah, teman." jawab Changmin.

Changmin turun dari kursinya—yang belum lama ia duduki—dan berjalan ke arah meja dapur. Sudah menjadi ingatan pokok di otak Yoochun bahwa Changmin-nya memang tidak bisa memasak. Begitupula dengan dirinya sendiri. Namun, hanya sekedar memanggang roti atau memasak telur untuk sarapan, Yoochun tahu bahwa Shim Changmin-nya bisa melakukan hal itu.

Yoochun ikut keluar dari duduknya. Dia berjalan pelan ke arah Changmin yang sibuk mencari letak pemanggang roti yang diletakkan di rak atas. Dengan gerakan lembut, Yoochun memeluk tubuh Changmin dari belakang. Menghirup aromanya yang tercium sangat wangi di indra penciuman Yoochun.

Changmin terkekeh pelan ketika dia menyentuh lengan Yoochun yang melingkar di perutnya. "Kenapa akhir-akhir ini kau begitu manja?"

Yoochun menggeleng pelan dan menelusupkan wajahnya di antara perpotongan bahu dan wajah Changmin. Dia menghirup sebanyak-banyaknya wangi Changmin untuk dia rekam di dalam ingatannya.

"Karena aku takut kehilanganmu. Aku benar-benar takut hal itu akan terjadi."

.:o~o:.

Wednesday

February 15th, 2012

09:56 AM

Changmin masuk ke dalam ruangan kerja ayahnya. Tangannya membawa sebuah map yang berisikan lembaran-lembaran kertas. Pintu tertutup ketika salah satu tangan Changmin yang bebas menutup pintu tersebut. Dia berjalan mendekati meja kerja ayahnya dan duduk di salah satu kursi yang sudah di siapkan. Ayahnya memandang Changmin dengan penuh tanda tanya.

Mungkin untuk beberapa saat ini hanya hening yang menyelimuti ruangan itu. Tak ada yang memulai percakapan. Hanya terdengar suara gesekan dari satu kertas ke kertas lain ketika Changmin membuka map dan memilih beberapa dari banyak kertas.

Ayahnya membenarkan posisi duduknya, berdeham pelan kemudian mulai berucap. "Kau mungkin benar, kematian Donghae memang tak masuk akal walaupun luka di tubuhnya memang berasal dari tusukkan pisau."

"Sudah kukatakan, apa yang terjadi kepada Donghae hyung bukan sesuatu yang dapat dicerna oleh akal sehat. Ayah melihat sendiri rekaman CCTV itu bukan?"

Ayahnya mengangguk, tepat ketika Changmin menyodorkan dua buah foto kepadanya.

"Begitupula dengan Sungmin. Semuanya bukan kesalahan Kyuhyun, semuanya terjadi secara tidak normal, tidak nyata dan tidak terlihat."

Ayahnya memperhatikan kedua foto di tangannya. Alisnya berkerut memandang kedua foto itu. Wajahnya mengangkat, menatap Changmin untuk bertanya.

"Itu adalah foto dari tengkuk leher Sungmin dan Donghae hyung. Itu simbol Neraka, Ayah."

"Neraka? Apa kau tak sedang bercanda, Changmin?"

Changmin menggeleng. Dia meraih lembaran kertas berisi daftar kematian seluruh bulan Januari dan Februari dari tahun 1996 sampai 2012. Dia menyodorkan kertas itu ke arah ayahnya yang menerima dengan kening yang masih berkerut.

"Ayah, sekarang bukan pembunuh yang kita hadapi, melainkan Dewa Kematian."

.:o~o:.

Wednesday

February 15th, 2012

11:17 AM

"Ya, lebih mahal?" tanya Changmin seraya membenarkan posisi handphone yang dia pegang di telinganya.

"Aku pikir bisa. Tetapi apakah tidak bisa ditambah lagi?"

Changmin berjalan ke arah toilet di lantai tujuh kantor NCIS dan masuk ke dalamnya. Ada sebuah obrolan privasi yang sedang dia perbincangkan dengan seseorang di ujung telepon. Entah siapa, yang pasti Changmin sedikit lebih sibuk akhir-akhir ini. "Oh, ya. Terima kasih karena sudah bekerja sama."

Changmin mematikan sambungan telepon dan kemudian meletakkan handphone-nya di atas meja dimana wastafel berada. Dia menatap pantulan dirinya di hadapan cermin kemudian mengulas segaris senyuman.

"Sedikit lagi."

.:o~o:.

Wednesday

February 15th, 2012

02:21 PM

"Ayah mungkin percaya dengan cerita dan seluruh bukti dariku, tetapi... aku tak yakin hakim akan mempercayai apa yang akan kujelaskan."

Changmin melipat kedua tangannya di dada dan membenarkan posisi duduknya—yang menurutnya agak kurang nyaman. Dia menatap Kyuhyun yang balas menatapnya di hadapannya, di dalam ruang pertemuan seperti biasa.

Ada sedikit atmosfir kecanggungan diantara keduanya. Dimana sejak insiden ciuman kemarin mereka menjadi agak takut untuk menatap ke dalam mata. Ada suatu gejolak perasaan bahagia dan bersalah yang berkadar sama.

"Eum, mungkin kau memang tidak bisa untuk—yeah meyakini hakim. Mungkin memang sudah takdirku untuk berada disini."

Changmin menggeleng tak suka. Dia meraih tangan Kyuhyun dan membungkusnya dengan kedua telapak tangannya. Menggenggam tangan itu erat dan menatap matanya. "Percayalah padaku. Kau akan bebas. Aku berjanji padamu."

.:o~o:.

Wednesday

February 15th, 2012

08:16 PM

Changmin melipat ujung handuk yang melingkar di pinggangnya. Dengan langkah perlahan dia mendekati pintu kamar mandi di kamarnya dan juga kamar Yoochun. Sayup-sayup dia mendengar suara air yang mengalir di dalam bathtub. Changmin melirik ke arah Silky yang tertidur di atas kursi tempat biasa dia bekerja—untuk begadang. Dan kemudian bibirnya menarik segaris senyuman simpul.

Dengan gerakan pelan, Changmin meraih kenop pintu kamar mandi dan memutarnya. Sudah Changmin pastikan bahwa pintu itu tak akan dikunci oleh seseorang yang kini sedang mandi di dalam sana. Changmin dapat melihat dengan jelas bahwa Yoochun tengah menikmati air hangat di dalam bathtub dengan mata yang terpejam. Tak berniat untuk membuat Yoochun menyadari kehadirannya, Changmin menutup pintu secara perlahan dan mendekati Yoochun setelah itu. Dia membuka handuknya dan mengaitkannya di salah satu penyangga handuk di dekat cermin. Changmin yang kini sudah telanjang segera masuk ke dalam bathtub, membuat Yoochun membuka matanya dan membiarkan Changmin kini berada di atas tubuhnya—dengan posisi yang membelakanginya.

Yoochun memeluk tubuh itu dari belakang, dan Changmin menyandarkan punggungnya di dada Yoochun. Posisi kepalanya berada di samping kepala Yoochun.

"Kenapa tiba-tiba?"

Changmin menggeleng pelan menjawab pertannyaan yang ditujukan Yoochun untuknya. Dia melesakkan kepalanya di bahu Yoochun dan kemudian memejamkan matanya. "Aniya."

Yoochun tersenyum. Dia mengecup puncak kepala Changmin dan kemudian menciumi surai lembutnya. "Kau tahu? Jika aku boleh memilih tentang apa yang ingin kulakukan di dunia ini, jawabannya adalah ketika kita hanya berdua dan tak ada seorang pun yang dapat mengusik ketenangan kita."

Changmin terkekeh pelan. Dia menyentuh tangan Yoochun yang melingkar di perutnya.

"Jadi, kau tidak hamil ya?" Yoochun mengusap perut rata itu dengan lembut.

"Aku memang tidak hamil, hyung."

"Padahal, aku ingin kau hamil."

Changmin tertawa lembut. "Kau ingin melihat perutku membuncit dan membuatku harus diam berbulan-bulan di dalam rumah untu kelahiran seorang anak?"

Yoochun mengangguk. Dia menelusupkan wajahnya di leher Changmin dan menghirup aromanya. "Setidaknya itu membuatmu bersama denganku selamanya. Tak ada yang dapat mengganggu hubungan kita," ada jeda disana. "begitupula dengan Cho Kyuhyun itu."

Changmin membuka matanya dengan cepat. Dia menoleh ke arah Yoochun dan membuat namja itu menjauhkan wajahnya dari leher Changmin. "Please hyung, aku ingin kita berdua sekarang. Jangan ucapkan nama lain selain namaku."

Entah itu karena Changmin memang ingin menghabiskan waktu bersama Yoochun atau dia ingin agar Yoochun tak mengungkit sesuatu yang berhubungan dengan dirinya bersama Kyuhyun. Entahlah, hanya Changmin sendiri yang dapat mengetahui maksud dari kalimatnya.

Changmin membalikkan tubuhnya sehingga dia dan Yoochun berhadapan sekarang. Cipratan air keluar sedikit dari dalam bathtub yang masih penuh—keran sudah menutup sebelum Changmin masuk ke dalam kamar mandi. Dia memandang Yoochun dengan tatapan sayunya, memegang pinggiran bathtub dan kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yoochun. Yang langsung dibalas liar oleh Yoochun.

Changmin merasakan ada sesuatu yang ingin masuk ke dalam tubuhnya. Benda tumpul yang sudah mengeras karena gesekan tubuhnya ketika mereka berpelukan dengan obrolan ringan sejak tadi. Changmin mendesah pelan. Dia mencari posisi yang tepat untuk menghujamkan tubuhnya kepada benda tumpul milik Yoochun itu. Yoochun mengerang nikmat ketika miliknya sudah memasuki tubuh Changmin. Ada desahan lega yang disusul dengan erangan pelan. Changmin meremas sisi bathtub ketika dia menggoyangkan pinggulnya untuk mencari kenikmatan. Yoochun tersenyum melihat tubuh yang sedang bekerja di atasnya. Dia memegang pinggul Changmin dan menuntunnya ke arah yang tepat. Yang dapat memberi keduanya kenikmatan.

Aku hanya ingin seperti ini. Ketika kau menjadi milikku selamanya. Tolong, putarlah waktu agar kau tak bertemu dengan namja itu.

.:o~o:.

Nah, apa YooMin moment-nya cukup?

I hope so~ hihi

Mian ya saya belum bisa bales review, tadi saya pasang alarm jam 3 buat post ini FF, eh baru ke bangun jam segini. Telat kaaaaaann~ saya mau sekolah soalnya, belum ngapalin buat ulangan =..=

Jadi mian ya chingudeul, aku belum bisa bales review

Pokoknya aku benar-benar berterima kasih kepada kalian *mewek*

Makasih untuk yang menantikan FF ini *big hug*

Saya lebih senang kalau kalian menumpahkan apa yang kalian rasa setelah baca FF ini di kotak review. Gak apa-apa ngerusuh atau apapun juga. Itu lebih baik daripada Silent Readers, bukan? X3

Big thanks for readers MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon
| anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin |ma'on clouds |Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | truee TR | ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | dan untuk semuanya.

FF INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI

Please say something ^o^

Review? :*