Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Fact | February 18th, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Junsu dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee udah ada semuanya, EXO nyempil satu)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : Ini chapter 2G. Kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.

.

.

.

.

The Time: Fact | February 18th, 2012

.

Saturday

February 18th, 2012

12:02 AM

"Sudah ada titik terang?"

Yoochun mengusap kepala Changmin kemudian menciuminya. Dia berdiri di belakang kursi yang diduduki Changmin dan memperhatikan kekasihnya yang sedang melakukan rutinitas begadangnya. Mencari sebuah jawaban untuk segala kasus kematian bersiklus ini.

Changmin membiarkan Yoochun mengusapi kepalanya, toh dia juga nyaman dengan perlakuan itu. Matanya tetap terfokus ke arah layar laptop dimana dia masih belum mempunyai jawaban untuk segala pertanyaannya. Semuanya terlalu rumit dan membingungkan.

"Hyung, mengapa orang bernama Kim Junsu ini tak diketahui cara kematiannya? Maksudku, berhari-hari aku mencari informasi tentang Kim Junsu ini aku tak mendapatkan informasi apapun selain fakta bahwa dia adalah korban di siklus tahun 2007, tepatnya di bulan Desember." Changmin mengetikkan beberapa kata di situs pencarian dan kemudian mendesah kecewa. "Bahkan, hubungannya dengan korban Satu Januari—Im Shinra—di tahun itu pun tidak diketahui."

Yoochun tersenyum tipis mendengar keluhan Changmin. Dia merendahkan jarinya ke arah dagu Changmin dan mengangkatnya. Membuat Changmin mendengadahkan wajahnya dan mendapati Yoochun mencium bibirnya dengan sangat lama. Hanya kecupan lembut, tanpa ada nafsu disana.

"Selamat ulang tahun, nae Changminnie."

.

.

The Time

Fact | February 18th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Saturday

February 18th, 2012

09:58 AM

"Kyuhyun, maukah kau menunggu untuk beberapa waktu lagi?"

Kyuhyun menggerenyitkan dahinya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Changmin. Kini mereka tengah berada di ruang pertemuan—seperti biasa—dan mereka duduk berhadapan. Kyuhyun menautkan jarinya sendiri, menatap Changmin tak mengerti. Changmin hanya tersenyum simpul. Hari ini dia tak membawa lembaran-lembaran kertas yang berisi tentang kasus kematian setiap bulan itu. Dia hanya datang dengan tangan kosong, dengan sebuah keyakinan dan kepercayaan.

"Jika kau bebas, apa hal pertama yang akan kau lakukan?"

Kyuhyun semakin menggerenyitkan dahinya tak mengerti. Changmin terkekeh pelan. Dia menepuk tangan Kyuhyun dengan lembut.

"Jawab saja, kurasa itu pertanyaan yang mudah."

"Mm," Kyuhyun mengulum bibirnya sendiri. "Aku akan pergi ke makam Sungmin."

"Setelah itu?"

Kyuhyun menyipitkan matanya. "Kenapa kau bertanya akan hal itu?"

"Aku hanya bertanya." Changmin mengangkat bahunya dan tersenyum.

"Aku—aku akan mengambil tabunganku dan menyewa tempat tinggal."

"Lalu?"

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya dengan matanya yang semakin menyipit. "Kenapa kau ingin tahu segala hal?"

Changmin terkekeh dan mencondongkan tubuhnya juga ke arah Kyuhyun. "Karena aku seorang detektif."

"Itu bukan jawaban, Changmin."

"Jadi, jawaban apa yang ingin kau dengar?" Changmin menatap Kyuhyun dengan tatapan menantang.

Kyuhyun berdecak pelan. "Kenapa aku selalu berada di posisi yang sulit? Eurggh..."

"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, Kyuhyun-ah."

"Argh!" Kyuhyun menarik rambutnya kasar dan menggeram. "Kau ini... eurrgh, mengapa membuatku bingung? Eoh?"

Changmin tertawa. Dia menepuk tangan Kyuhyun yang berada di kepalanya sendiri, membuat Kyuhyun menatapnya dan menghentikan remasan di rambutnya. "Mungkin kau hanya perlu menjawab... 'karena kau peduli terhadapku, Changmin-ah'."

Dan ada sebuah atmosfir kecanggungan lagi diantara keduanya.

Shit, jangan katakan kalau aku benar-benar... jatuh cinta kepadanya.

"O-oh ya, C-Changmin... selamat ulang tahun."

Changmin memandang Kyuhyun dengan tatapan 'darimana kau tahu ini hari ulang tahunku?' dan Kyuhyun hanya menggigit bibir melihatnya. Dia memang merasa canggung dengan kondisi seperti ini. Debaran jantungnya sudah memompa tak terkendali.

"Jung Yunho itu yang memberitahuku."

.:o~o:.

Saturday

February 18th, 2012

11:11 AM

"Saengil chukae Shim Changmin! Whuooooo!"

Changmin tersenyum memperhatikan teman-temannya di kantor NCIS yang kini tengah menjerit mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Ada Kibum dengan sebuah kue tart yang dipegangnya, diarahkan kepada Changmin dimana ada dua buah lilin dengan angka dua dan tiga yang menyala. Ada Eunhyuk yang tengah tertawa bersama Shindong dan juga para temannya yang lain. Dan juga ada ayahnya, tersenyum ke arah Changmin dan kemudian menghampiri anaknya. Sungguh, suasana yang sangat ramai di sebuah kantor yang penuh dengan kesibukan.

Mr. Shim segera memeluk Changmin, menepuk punggungnya berulang kali dan kemudian terkekeh. "Sudah duapuluhtiga tahun ternyata. Kau cepat tumbuh ya? Seingat Ayah, kemarin Ayah baru saja mengantarmu masuk TK."

Ucapan itu dibalas oleh tawa kecil dari Changmin. Setelah pelukan terlepas, Changmin mendapat tepukan lembut di kepalanya. "Terima kasih, Ayah."

Ayahnya tersenyum. Dia mendorong tubuh Changmin mendekati kue tart yang dipegang Kibum. Kibum tersenyum, menyodorkan kue itu dan meminta Changmin untuk meniupnya.

"Ayo, ucapkan permintaanmu."

Changmin mengangguk. Dia melirik semua orang yang tengah menatapnya, menarik napas dan kemudian memejamkan matanya.

Tuhan, mungkin doaku terdengar bodoh untuk-Mu. Tetapi, aku hanya ingin Engkau membiarkanku bersama Yoochun selamanya. Kumohon, jika dia memang jodohku, jangan buat perasaanku selalu mempermainkanku. Aku bahkan Engkau pun tahu bahwa aku adalah milik Yoochun, tetapi mengapa kau membiarkan hati ini memilih orang lain? Tolong berikan aku satu jawaban, agar aku bisa memilih satu dan membuang yang satunya.

"Amin. Fuuuh~,"

Dan semuanya bersorak, menepukan tangan mereka ketika Changmin meniup kedua api kecil di lilin itu. Changmin tersenyum, belum hendak dia berucap, seseorang sudah menyiramnya dengan air dari belakang.

Byuuur~

Changmin terkesiap. Yang pertama dia rasakan adalah dingin di ujung kepala, tengkuk hingga bajunya. Mulutnya terbuka karena kaget, sementara orang-orang yang berada di hadapannya hanya tertawa. Changmin membalikkan tubuhnya, memberikan death glare kepada siapa yang berani menyiramnya. Namun, tatapan membunuh itu hilang ketika dia melihat siapa yang menyiramnya.

"Saengil chukae, Changmin hyung!"

Changmin menghela napasnya melihat Taemin yang berada di gendongan Yunho dengan sebuah ember kecil di tangannya. Disampingnya ada Jaejoong yang hanya tersenyum. Jaejoong melangkah mendekati Changmin, mengacak rambutnya yang basah karena air dan tertawa.

"Kau tumbuh dengan cepat, Changmin-ah."

Changmin tertawa kecil. Dia berniat untuk memeluk Jaejoong namun Jaejoong segera mengambil satu langkah mundur menjauhinya.

"Eits, tidak ada acara peluk-pelukan. Kau basah Changmin."

Changmin menyeringai. Dia berbalik menghadap Taemin dalam gendongan Yunho dan melebarkan seringainya.

"Eum, euh... Ch-Changmin hyung... T-Taemin tidak belmakcud men-nenyilam hyung... i-itu Appa yang menyuluh Taemin..."

Changmin menggeleng pelan dengan seringai yang tetap ia tunjukan kepada Taemin. Dengan segera dia merebut Taemin dari pelukan Yunho dan menggelitikinya.

"Ahh... ahahaha Ch-Chan—ahaha—Changmin hyung... maafkan Tae-Taemin ahahaha... ahhh Umma! Appa... tolong... ahahaha lepas... hyuuuung... ahahaha..."

Dan semua yang ada di tempat itu hanya tertawa melihat tingkah mereka. Mungkin... mungkin ini adalah sebuah kesempatan untuk tertawa, sebelum ada sesuatu yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

.:o~o:.

Saturday

February 18th, 2012

09:54 PM

Hari sudah menjelang malam. Setelah merayakan ulang tahunnya di restoran yang telah dipesan oleh ayahnya—bersama dengan seluruh orang yang dekat dengan Changmin di kantor NCIS, termasuk Yunho, Jaejoong dan Taemin—Changmin pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Memang itu adalah keinginannya untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya jika ada sesuatu yang dia pikirkan. Dan kini memang ada sesuatu yang dia pikirkan.

Perasaannya.

Apakah dia sangat jahat ketika dia dan Yoochun tengah melebur menjadi satu, dia masih bisa mengingat sosok itu dalam benaknya? Sosok yang baru dia kenal selama kurang dari dua bulan?

Ingin Changmin memaki dirinya sendiri, mengatakan kepada dunia bahwa dia adalah orang yang paling bodoh di dunia ini. Bagaimana tidak? Setelah dua tahun mereka melalui masa-masa berdua, dia bisa dengan mudahnya merasakan debaran lain dihatinya? Dengan orang yang belum Changmin kenal sepenuhnya. Seharusnya dia benar-benar bersyukur kepada Tuhan karena dia beruntung telah memiliki Yoochun. Yoochun yang selalu ada untuknya. Yoochun yang selalu menemaninya. Yoochun yang tak pernah sekalipun marah kepadanya. Sungguh, Changmin belum pernah mendengar ataupun melihat Yoochun marah terhadapnya. Yoochun adalah laki-laki paling romantis yang pernah Changmin kenal. Dan dia harus bersyukur akan hal itu, akan fakta bahwa Yoochun itu miliknya dan dia adalah milik Yoochun.

Changmin sampai di depan rumahnya. Matanya menyipit. Dia yakin di malam hari seperti ini matanya masih bisa melihat dengan jelas, namun mobil siapa yang berada di depan garasi rumahnya? Itu bukan mobil Yoochun, Changmin yakin akan hal itu. Mungkinkah mobil teman Yoochun? Ah, tidak mungkin rasanya ada mobil orang lain yang terparkir di depan garasinya ketika yang terlihat dari luar rumah hanya lampu dapur yang menyala. Tak mungkin ada tamu di tengah kegelapan, bukan?

Dengan dahi yang menggerenyit, Changmin mendekati mobil Lexus GS 350 F Sport itu dengan hati-hati. Dengan jarak dekat seperti itu, Changmin bisa melihat ada sebuah kartu berwarna merah yang di selipkan di samping spion kanan mobil. Changmin meraih kertas itu dan membukanya.

For my everything, Shim Changmin.

Changmin tersenyum simpul membaca sebaris kalimat yang ditujukan kepadanya. Tak perlu bertanya untuk tahu siapa yang memberikannya sebuah mobil ini. Changmin melipat kertas itu dan belum sempat ia melakukan suatu hal lagi, sebuah tangan sudah melingkar di matanya. Menutupi pengelihatannya. Changmin menarik senyumannya semakin lebar dan dengan lembut dia menyentuh tangan yang berada di matanya.

"Tak usah membuang uangmu dengan melakukan hal ini." kata Changmin pelan.

Changmin dapat merasakan ada hembusan napas hangat di tengkuknya. Tubuhnya sedikit merinding, namun Changmin menikmati perlakuan itu.

"Apapun akan kulakukan, untukmu."

Ucapan itu terdengar sangat lembut dengan suara khas dari pemiliknya. Changmin merasakan satu tangan melingkar di perutnya, sementara tangan lain masih menutupi pengelihatannya. Changmin menyentuh tangan di perutnya. Dia membiarkan dagu Yoochun berada di bahunya.

"Kenapa kita tak masuk ke dalam rumah? Tidak baik mengumbar kemesraan di depan orang-orang yang melintas."

"Tak ada orang yang lewat disini."

Suara itu dibuat sebagai bisikan. Lembut dan menggodanya. Changmin terkekeh pelan kemudian.

"Chunie, kasihan Silky di dalam rumah."

"Sshh, diamlah. Aku ingin menikmati saat-saat seperti ini."

Dan akhirnya Changmin mengalah. Dia membiarkan pengelihatannya masih di blokir, membiarkan satu tangan itu masih melingkar di perutnya. Dia menikmati sentuhan itu.

Angin di luar masih berhembus dengan perlahan. Namun rasanya cukup dingin menusuk kulit. Ini masih musim dingin. Salju masih belum mencair. Rasanya, menunggu untuk musim semi terlalu lama.

Setelah bertahan selama beberapa menit, Yoochun melepaskan tangannya dari mata Changmin. Changmin mengerjapkan matanya sebentar, menyesuaikan pengelihatannya dan kemudian membalikkan pandangannya. Dan seketika yang dia dapat adalah sebuah ciuman. Ciuman yang sangat lembut namun menuntut. Changmin segera membalikkan tubuhnya untuk membalas ciuman itu. Dia membiarkan Yoochun merengkuh pingganggnya, menariknya mendekati pintu rumah dan segera membuka pintu.

Masih dengan posisi berciuman—yang sangat enggan untuk terlepas—keduanya melepaskan alas kaki dengan mudah, dengan bantuan kaki masing-masing. Yoochun menendang pintu hingga menutup. Sudah dua tahun kurang tinggal bersama di rumah ini membuat Yoochun sama sekali tak lupa dimana letak ruangan ataupun benda-benda di dalam kegelapan. Maka dari itu, dia dapat dengan mudahnya mendorong tubuh Changmin, menuntunnya menaiki tangga dengan pergulatan lidah yang menghasilkan kecapan-kecapan saliva.

Dengan langkah mereka yang hati-hati akhirnya keduanya sampai di lantai dua. Yoochun segera menggiring langkah keduanya ke arah pintu kamar mereka. Setelah sampai, tangan Yoochun menekan handel pintu dan membuatnya terbuka. Segera keduanya masuk ke dalam, masih dengan mulut yang bersatu. Masih merasakan bibir dari lawannya. Yoochun menendang pintu hingga pintu itu kembali menutup. Gelap namun tak segelap di ruangan lain di rumah itu. Lampu memang tak dinyalakan oleh Yoochun, hanya dua buah lilin yang masing-masing diletakkan di meja nakas di samping ranjang king size mereka. Yoochun bahkan Changmin sudah tak ingat dimana Silky sekarang, mungkin anjing mereka sudah tertidur di suatu tempat di rumah itu. Yang ada di benak mereka sekarang adalah saling memliki seutuhnya.

Changmin mengerang pelan ketika Yoochun menggigit lidahnya dan kemudian menghisapnya. Dia menghempaskan tubuhnya terhadap ranjang dan membiarkan Yoochun ikut terjatuh di atas tubuhnya. Merasa pasokan udara di paru-parunya semakin menipis, Changmin mendorong pelan dada Yoochun dan membuat ciuman mereka terhenti.

Keduanya saling menatap di tengah penerangan yang sangat minim. Namun hal itu membawa suasana romantis untuk keduanya. Changmin berusaha mengatur napasnya, menatap Yoochun yang tengah menatapnya. Mulutnya terbuka, dia yakin ada tetesan saliva di sudut bibirnya.

Seharusnya dia benar-benar bersyukur kepada Tuhan karena dia adalah milik Yoochun.

Yoochun mengecup bibir Changmin dengan lembut. Berbeda dengan ciuman bernafsu yang membuat bibir Changmin membengkak. Dia menurunkan tangannya, meraih ujung kaos yang Changmin kenakan. Changmin melengkungkan punggungnya, memudahkan Yoochun untuk membuka kaos itu dengan ciuman yang terlepas secara singkat. Yoochun membuang kaos Changmin ke sembarang arah, kemudian dia membuka kaosnya sendiri dan kembali mencium Changmin dengan lembut. Tangan Yoochun bergerak untuk melepaskan materi lain yang melekat di tubuh keduanya. Hingga yang ada sekarang hanya dua insan yang tengah bergumul tanpa busana di atas ranjang.

Yoochun mengusap rambut Changmin yang mulai berkeringat dengan gerakan lembut. Membuat jarak diantara keduanya dan menatap mata Changmin secara intens.

"I just want you to stay with me forever."

Dan tanpa harus menunggu waktu lagi, Yoochun membawa Changmin ke dalam dunia dimana itu adalah milik mereka berdua. Tidak ada satupun yang bisa mengusik keduanya. Changmin memeluk punggung di atas tubuhnya dengan erat ketika Yoochun benar-benar memiliknya. Memberikan tanda kepemilikan di sekujur tubuhnya. Erangan pelan keluar dari mulut Changmin setiap Yoochun bergerak di dalam tubuhnya. Meleburkan tubuh mereka menjadi satu. Changmin tak mengeluarkan suara yang berisik seperti kemarin-kemarin, dia mencoba untuk mendesah dengan lembut di tengah suasana romantis mereka.

Yoochun terlihat begitu menekuni pekerjaannya. Gerakannya bisa dikatakan begitu lembut, tidak kasar maupun cepat. Semuanya mereka lakukan dengan tempo lambat dan perlahan. Terbukti bahwa dengan keadaan seperti itu, keduanya lebih bisa merasakan arti cinta masing-masing. Menikmati segala bentuk cinta mereka.

"Aku bahagia ketika kita berdua."

Changmin membuka kelopak matanya setelah sebelumnya dia menutup matanya. Belum, mereka belum mencapai puncak cinta mereka. Bukan niat Yoochun untuk menganggu moment romantis yang diiringi dengan desahan lembut yang membelai pendengaran ini, dia hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.

"Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?"

Changmin mengangguk pelan menjawab pertanyaan khusus dari Yoochun untuknya. Matanya setengah terbuka, dia begitu menikmati kegiatan yang tengah keduanya lakukan. Irama napasnya terdengar normal, namun ada kala ketika Yoochun menemukan titiknya napas Changmin menjadi semakin cepat.

"Maka dari itu..." Yoochun mengerang pelan. "jangan pernah pergi dariku."

Jika orang-orang menganggapnya berlebihan, mereka adalah orang bodoh yang tak tahu arti dari mencintai. Yoochun begitu mencintai Changmin-nya. Sampai-sampai dia tak akan pernah bosan untuk meminta Changmin agar tetap bersamanya. Dan Changmin bukanlah orang bodoh yang tak mengerti hal itu. Dia begitu menghargai Yoochun yang sangat mempertahankan dirinya. Berbeda dengan dirinya sendiri yang mudah terlena kepada orang lain.

Gerakan Yoochun sama sekali tak berubah. Tetap dengan lembut seolah Changmin adalah kaca tipis yang mudah pecah. Tak berniat untuk menyakiti Changmin-nya, Yoochun bergerak dengan sangat pelan.

"Aku rela mati untukmu, Changmin."

Changmin tahu bahwa dia terlalu bodoh jika dia berniat untuk menkhianati atau meninggalkan Yoochun. Changmin yakin bahwa dia adalah orang yang sangat beruntung daripada orang yang paling beruntung di dunia.

"Aku mencintaimu, Shim Changmin."

Dan setelah itu, suara Changmin melengking tinggi ketika dia mengeluarkan hasratnya. Sebelumnya dia sudah berjanji untuk membuat suasana ini sangat romantis, dengan suara rendah yang terdengar sangat menggairahkan. Namun Yoochun membuatnya gila. Dia tidak bisa meminimkan suaranya ketika Yoochun mengeluarkan hasratnya juga di dalam tubuh Changmin. Hal itu membuat Yoochun menggeram rendah. Memejamkan mata dan menengadahkan wajahnya ketika dia memberikan seluruh cintanya kepada Changmin.

Setelah itu suasana sunyi kembali menyelimuti keduanya. Mereka butuh waktu untuk mengatur napas dan memulihkan kesadaran mereka. Peluh sudah melapisi tubuh keduanya. Itulah bukti dari segala yang telah mereka lakukan. Untuk bukti cinta satu sama lain.

Yoochun mengusap pipi Changmin tanpa mau beranjak dari posisinya. Dia suka dengan ketenangan seperti ini. Rasanya sangat damai dan membuatnya tenang. Sunyi seperti ini membuatnya dapat medengarkan detak jantung Changmin yang memompa sangat cepat, mengartikan bahwa sosok di bawah tubuhnya adalah miliknya.

"Hanya satu permintaanku untukmu," Yoochun mencium bibir Changmin dengan lembut. "jangan pernah pergi dariku."

.:o~o:.

SAENGIL CHUKA HAMNIDA~
SAENGIL CHUKA HAMNIDA~
SARANGHANEUN URI CHANGMINNIE X3
SAENGIL CHUKA HAMNIDA~
*seret YooMin ke dalam kamar*
Nah, Yoochun-ah, Changmin milikmu sekarang. Bersenang-senanglah!
*smirk

Okay, pertama-tama saya mau mengucapkan "Selamat ulang tahun, Changmin. Aku harap kau dapat menemukan kebahagiaanmu bersama Yoochun." #permintaanterselubunghoho

Nah, yang kedua terima kasih untuk kalian yang membaca FF ini sampai sejauh ini *big hung+kiss* saranghae~

Dan ketiga, saya mau balas review~

Meong : Yupp hehe... wah, aku pengen nonton filmnya dong *googling* haha itu rahasia nanti. Gomawo~

Park YUIrin : Iya hoho, jadi telah post kan ToT entahlah, Junchan kan udah mati di Desember 2007 ohoho. Nah, jadi suka YooMin ya haha. Gomawo ya~

lee jungmin : Itu rahasia perusahaan *wink* Junsu-nya udah mati di Desember 2007. Hehe gomawo ya~

kangkyumi : Okay~ ^o^ gomawo ya~

X : Sebelumnya saya mau bertanya, apakah Anda membaca balasan review saya? Oh, kalau iya itu artinya Anda penasaran dengan FF ini karena Anda terus membuka chapter selanjutnya, dan itu bukan fitnah. Okay, pertama saya bingung terhadap Anda. Jadi Anda sebenarnya siapa? Tiba-tiba 'nongol' di chapter ke delapan belas ini? Apakah Anda silent readers yang baru memberikan review? Oh, sangat memalukan sekali jika Anda protes akan hal 'seme harus lebih tinggi dari uke' sekarang. Kemana saja selama ini? Baca FF ini? Itu artinya Anda menikmati FF ini bukan? Oh, kalau saya salah bahwa Anda baca dari awal itu artinya Anda baru baca FF ini di chapter 2F kemarin. Tetapi bukankah itu sangat memalukan juga mengingat Anda baru baca satu chapter dan tiba-tiba protes dengan apa yang saya tulis dengan kalimat yang membuat saya menggerenyitkan kening? Oh, saya menerima pendapat dengan terbuka, tetapi apa Anda tidak tahu bahwa saya memberikan bold pada kata-kata yang menurut saya penting? Begini saja, kita ambil dari chapter 2C yang berjudul Agaze. Disana saya menulis kalimat "Hm, sebelumnya maaf kalau pertanyaan para readerdeul—yang sudah saya anggap sebagai chingudeul yang sangat baik *peluk satu-satu*-belum terjawab ya. Namanya juga genre mystery *alesan*. Ah, untuk semua yang sudah review dan berhasil membaca dari chapter satu hingga sekarang tidak sampai bosan, saya benar-benar berterima kasih banyak *kecup basah*." dan saya memberikan bold pada kata-kata yang saya anggap penting. Apakah kata yang saya bold membuat orang yang membacanya jengkel? Jika Anda menjawab 'iya' itu artinya—bukan bersifat menyinggung—namun Anda sepertinya tidak normal. Bold bukan berarti marah, tegas atau menantang. Bold bisa dipakai untuk kata-kata yang dianggap penting. Contohnya ya kalimat yang saya tulis itu. Saya menganggap readerdeul dan chingudeul yang sangat baik adalah kata spesial dari saya yang perlu di bold. Dan juga saya memberikan kalimat spesial untuk readers berupa "Ah, untuk semua yang sudah review dan berhasil membaca dari chapter satu hingga sekarang tidak sampai bosan, saya benar-benar berterima kasih banyak *kecup basah*" karena saya menganggap kalian sangat penting demi kelancaran pembuatan FF ini. Kalimat itu tak membuat orang yang membacanya menjadi jengkel bukan? Anda salah mengartikan kalimat yang saya tulis di author's note chapter 2F kemarin. Saya memberikan bold pada kata beromantica ria dan kita fokus pada kasus karena saya menganggap kata itu spesial dalam artian bahwa itu adalah sebuah penekanan untuk membuat kita menyadari bahwa unsur romance dan mystery harus diberikan secara seimbang. Dan juga saya memberikan bold pada SALAH BESAR dan seme tidak dipengaruhi oleh tinggi dan juga pada nama seme selalu di depan dan uke di belakang. Okay, kita kembali pada kalimat Anda. Anda mengatakan bahwa "setiap orang kan punya pendapat yg berbeda, kesukaan yg berbeda,, jadi kalo banyak yg protes kayak gitu, itu berarti lebih banyak orang yg suka liat seme tinggi..". Nah, Anda sendiri yang mengatakan bahwa setiap orang mempunyai pendapat dan kesukaan yang berbeda, sementara saya suka melihat Changmin menjadi uke dari Yoochun. Kenapa Anda tidak membiarkan saya berpendapat dan mengekspresikan kesukaan saya ketika Anda mengatakan jika banyak yang protes itu artinya banyak orang yang lebih suka melihat seme lebih tinggi. Tanpa sadar, Anda juga mengekang hak saya dengan menyuruh saya mengganti pairing lewat kalimat "itu berarti lebih banyak orang yg suka liat seme tinggi..". Ah, maaf, apakah Anda mengerti dengan maksud saya? Mungkin saya berbicara berbelit-belit. Jadi kesimpulannya Anda boleh mengkritik saya, tetapi lihat dulu, apakah tidak memalukan dengan cara tiba-tiba datang dan memberikan review yang mungkin saja Anda memang tidak bermaksud tetapi secara tidak sadar membuat saya sakit hati membacanya. So, siapa yang membuat jengkel disini? Saya berterima kasih karena Anda mau meluangkan waktu Anda yang berharga untuk memberikan review kepada saya. Jika Anda ingin membalas review saya, saya memberikan Anda tempat di kotak review. Maaf, ini adalah balasan review terpanjang dari saya. Chayooo~

Miaw. Miaw : Wah, belum baca nih hahaha. Okay, saya udah update~

widiwMin : Yoochun gak akan sendirian kok. Kan ada Sliky *wink* dan juga author #plak. Hahaha yosh, aku sudah publish ;D

Cloud1124 : Annyeong juga Cloud-sshi ^^. Nyeahahaha siapa juga yang mau dikasih tugas untuk nyelidikin siklus kematian kekeke. Okay, ini udah update~ gomawo 3

someone : Yup, aku aja sering liat orang pacaran cewenya lebih tinggi daripada cowonya haha. Nah, aku setuju #tos. Okay, gomawo ya~ 3

truee TR : Dia itu aku #plak. Bukan ding, bercanda. Okay, ini lanjutanya~

doubleU26 : Eits, Changminnie punya Yoochun *lempar Changmin Yoochun ke dalam kamar*. Oh Tuhan, aku turtu berduka cita chingu :'( rest in peace untuk adikmu. Adik aku yang nomor 2 dan 3 juga udah meninggal chingu *softly hug*. Okay, untuk semuanya makasih ya chingu~ 3

zakurafrezee : Kibum dapet pesan dari t*lk*msel hehe #plak. Astaga, jadi kalau gak boleh ada yang mati gimana ceritanya FF ini? Apakah saya yang harus mati? *ambil taling tambang, gantungin diri ke pohon cabe* #plak. Gomawo ya chingu~

Soldier of Light : Haha, itu yang nelponin saya, saya kangen ama Kibum *dilempar ke sumur*. Thanks ya~ *hug* oke oke kita lanjuuuut~

ukechangminnie : Okay, gak apa-apa kok ^^. Eits, jangan peluk mereka pas di bathtub, biarkan mereka beromantica ohoho. Yup, kalau namanya MinKyu itu artinya Min seme. Pasti gak suka Min jadi seme ya ahahaha? Okay, aku udah publish di ulang tahun nae Changminnie *digaplok Uchun*. Thanks ya~ 3

Nah, aku kasih kalian cintaku (?) maksudku aku cinta kaliaaaaaaaaaaaaannnn~ *big hug*

Big thanks for readers MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon
| anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin |ma'on clouds |Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | truee TR | ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X dan untuk semuanya.

Okay, mind to review? X3