Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Involved | February 24th, 2012
Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Junsu dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee udah ada semuanya, EXO nyempil satu)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : Ini chapter 2H. Kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.
.
.
.
.
The Time: Involved | February 24th, 2012
.
Friday
February 24h, 2012
06:03 AM
Changmin mengambil selembar roti dari dalam plastik berisikan beberapa roti tawar dan menumpukannya di atas sandwich yang dia buat. Dia tersenyum memandang dua buah sandwich di piring berbeda buatannya. Kemudian Changmin berjalan ke arah lemari pendingin, membuka dua pintu itu dan meraih sebotol jus jeruk dari dalam sana. Dia membawa botol jus jeruk itu ke meja makan, dimana Yoochun sudah duduk di salah satu kursi di sana seraya membaca koran. Changmin kembali ke meja dapur dan membawa dua buah gelas tinggi dan meletakkannya juga di meja. Setelah itu dia kembali ke meja dapur dan membawa dua piring berisikan sandwich itu hingga meja makan. Changmin segera mengambil tempat duduk di hadapan Yoochun.
Yoochun menghentikkan aktivitas membaca korannya. Dia melipat koran itu dan meletakkannya di ruang kosong di meja makan. Yoochun memperhatikan Changmin yang menuangkan jus jeruk ke dalam dua gelas, mendorong satu yang sudah penuh kehadapan Yoochun.
Yoochun tersenyum ketika Changmin menjatuhkan pandangan kepadanya. Changmin hanya tersenyum tipis dan kemudian mulai meraih sandwich miliknya dan menggigitnya dalam gigitan kecil. Yoochun mengikutinya. Mereka mengunyah dengan gerakan pelan.
"Hyung, hari ini banyak pekerjaan tidak di rumah sakit?" tanya Changmin.
Yoochun mendongak ke arahnya dan mengangkat bahu. "Entahlah. Kenapa sayang?"
"Aniya. Aku hanya bertanya. Aku rasa aku akan pulang telat hari ini."
Yoochun mengangguk mengerti. Dia mengambil satu gigitan lagi pada sandwich dan mengunyahnya.
"Ah, hyung. Apa kau punya kerabat bernama Kim Junsu? Aku masih penasaran dengan Kim Junsu yang meninggal pada Desember 2007 itu."
"Uhuk..." Yoochun tersedak makanannya. Changmin segera menyodorkan gelas jus milik Yoochun, menyuruhnya untuk segera minum. Yoochun meraih gelas jus itu dan segera menyesapnya sebagian.
"Gwenchana?"
Yoochun mengibaskan tangannya, menandakan bahwa dia baik-baik saja. Dia mengusap ujung bibirnya pelan dan beralih menatap Changmin.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Changmin berdecak pelan. Tangannya memainkan tomat yang terselip ke luar, membuat saus tomat mengotori jarinya. "Tadi aku sudah bilang kalau aku masih penasaran dengan orang bernama Kim Junsu itu. Apa hyung mempunyai kerabat bernama Kim Junsu? Mungkin saja jika Kim Junsu yang aku cari adalah salah satu dari temanmu. Dunia begitu sempit, bukan?"
Yoochun meraih jus-nya dan menyesapnya lagi. Bukan, bukannya dia tak ingin menjawab pertanyaan Changmin, namun mendengar nama itu membuatnya merasa berat walaupun Changmin sudah pernah mengucapkan nama itu. Entahlah, dia sedang mengingat seseorang sekarang.
"Hyung?" Changmin menjilat saus tomat di jarinya. "Jadi kau punya tidak?"
"Tidak mungkin Kim Junsu yang kukenal adalah Kim Junsu yang kau maksud."
"Astaga hyung. Aku hanya bertanya." Changmin memutar kedua bolamatanya. "Jadi kau punya teman bernama Kim Junsu?"
Yoochun meletakkan sandwich di atas piring kembali. Dia menatap Changmin yang balas menatapnya penasaran. "Y-ya. Aku punya teman bernama Kim Junsu di SMU dulu, dan dia sudah meninggal."
"Meninggal?" Changmin menghentikan aktivitas makannya. "Apakah dia meninggal pada bulan Desember 2007?"
"Changmin, banyak orang yang bernama Kim Junsu di dunia ini. Banyak pula orang bernama Kim Junsu yang mati di bulan Desember tahun 2007. Tak mungkin Kim Junsu yang kau maksu—"
"Hyung kenapa sih? Aku hanya bertanya padamu namun sepertinya kau sulit sekali untuk menjawab pertanyaanku?"
"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin kau mengurusi sesuatu yang tidak penting, okay? Kim Junsu yang kau maksud maupun yang kumaksud sudah meninggal. Mereka tak mungkin bisa membantu apa yang kau cari. Jadi tak usah mengurusi sesuatu yang memang sudah tak berguna lagi. Kau sudah terlihat agak pucat lagi Changminnie. Aku tak ingin kau sakit lagi."
Changmin menggeleng. Rasanya dia sudah kehilangan nafsu makan, dia lebih tertarik untuk melanjutkan pembicaraan ini.
"Okay, sekarang hyung jawab dengan jujur. Apa Kim Junsu temanmu itu phobia terhadap Jum'at tanggal tigabelas? Maksudku dia adalah seorang Paraskavedekatriaphobia?"
"Kenapa kau bisa bertanya se-spesifik itu?"
"Aku dapat informasi hyung."
Yoochun mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dia membuang napas bersamaan dengan gerakan tangan turun dari wajahnya. "Di dunia ini banyak orang yang bernama Kim Junsu yang takut pada tangg—"
"Aku anggap itu jawaban 'iya' dari mulutmu, hyung."
Yoochun membuka mulutnya, hendak untuk mengucapkan sesuatu namun Changmin lagi-lagi mendahuluinya—setelah sebelumnya Changmin memotong kalimatnya.
"Nah, ini adalah info terakhir yang aku dapat selama ini. Katakan 'iya' jika Kim Junsu yang kau kenal mempunyai kembaran bernama Kim Junho."
Yoochun mengatupkan mulutnya. Dia menatap Changmin dengan tatapan datar seolah tak ada emosi apapun dalam dirinya sekarang. Berbanding terbalik dengan sebuah perasaan bersalah yang tiba-tiba datang bergejolak di hatinya. Ada sebuah masa lalu yang sudah lama ia pendam.
"Jawab aku hyung." Changmin menatap Yoochun dengan tajam.
Yoochun menyerah. Dia tak dapat mengelak semuanya. Perasaan bersalah di hatinya terlalu besar untuk menyembunyikan hal ini.
"Kim Junsu yang kukenal adalah Kim Junsu yang kau maksud."
.
.
The Time
Involved | February 24th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Friday
February 24h, 2012
10:14 AM
Berniat untuk pergi ke toilet di kantor NCIS lantai tujuh ini, sebuah panggilan masuk menghentikannya. Changmin lebih memilih meraih handphone di saku celananya dan menghirauhkan si penelpon. Alisnya menggerenyit ketika dia membaca sebaris nama layar.
Changmin menekan tombol hijau dan mendekatkan handphone-nya ke telinga. "Yeoboseyo?"
Ada beberapa kalimat yang dilontarkan oleh si penelpon. Changmin menggerenyit, berdecak pelan dan setelah itu menggerutu. "Apa? Belum cukup? Uang itu masih belum cukup? Berapa lagi yang harus kukeluarkan?"
Changmin mendengar orang itu membalas ucapannya dalam bahasa Jepang. Changmin menggertakan giginya kesal. "Jangan menggerutu dalam bahasa Jepang! Kau pikir aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan?"
Ada beberapa jeda disana. Si penelpon mengucapkan beberapa kalimat lagi yang membuat Changmin memutar kedua bolamatanya. Dia mengusap wajahnya pelan dan menggeleng. "Okay, maaf. Itu sudah harga di Jepang?"
Changmin memilih untuk duduk di salah satu sofa—di depan jendela tempat untuk beristirahat di lantai itu. Dia memandang keluar—ke arah jalan raya yang sibuk di hari menjelang siang seperti ini.
"Baiklah, baiklah. Kita masih punya waktu. Ya, aku akan berusaha. Terima kasih karena sudah membantuku."
Sebelum telepon tertutup, sebuah jeda kembali datang dalam percakapan itu. Changmin memutar kedua bolamata untuk yang kedua kalinya.
"Ya. Akan kuberikan uangmu setelah itu."
Dan setelah itu sambungan telepon terputus. Changmin membiarkan handphone-nya jatuh ke atas sofa. Dia menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa dan memejamkan matanya. Sedangkan jarinya menekan pelipis yang mulai terasa berdenyut.
"Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Ayah tak akan memberiku."
.:o~o:.
Friday
February 24h, 2012
01:22 PM
Kibum berniat untuk menghampiri Eunhyuk di mejanya namun ketika dia merasakan saku celana bergetar, Kibum menghentikkan langkahnya. Dia memilih untuk meraih handphone-nya dan melihat siapa yang menghubunginya. Dan matanya sedikit membesar melihat deretan angka yang di tampilkan di layar.
Incoming Call
010-3200-4719
Orang itu lagi.
Kibum menekan tombol hijau dengan ragu dan setelah itu sambungan telepon terbuka. Kibum hanya diam membiarkan si penelpon yang membuka pembicaraan.
"Ternyata seperti ini rasanya menunggu, Kim Kibum."
Tubuh Kibum menegang mendengar suara itu lagi. Suara yang membuat tenggorokannya terasa serak dan kesulitan untuk mengeluarkan suara. Kibum hendak mengucapkan sebaris nama, namun lidahnya terasa kelu dan kaku. Dia sama sekali tak bisa mengucapkan nama itu.
"Aku mencarimu."
Tutt
Sambungan telepon terputus dari sebrang. Kibum diam untuk beberapa waktu, menyimpulkan segala kalimatnya.
"Apa benar..."
Tanpa harus menunggu waktu lagi, Kibum mengurungkan niatnya untuk menghampiri Eunhyuk dan lebih memilih untuk datang ke meja Shindong. Terlihat Shindong tengah bermain game di komputernya. Kibum segera menyodorkan layar handphone-nya ke wajah Shindong, membuat namja bertubuh lumayan besar itu memberikan perhatian padanya dan memandangnya dengan tanda tanya.
"Tolong lacak nomor ini untukku."
Setelah mendengar permintaan itu, Shindong segera menjeda game-nya. Kursornya menekan tombol minimize dan segera masuk ke dalam program untuk melacak nomor. Shindong melihat nomor yang Kibum tunjukkan dan dengan jarinya yang lincah dia mengetikkan nomor itu pada satu kolom.
010-3200-4719
Ada waktu menunggu sekitar beberapa detik sebelum nomor itu terlacak dan menunjuk pada sebuah alamat. Mungkin sudah lama Kibum tak pergi ke tempat itu, namun tentu saja ingatannya masih bisa menyimpan bahwa dia pernah disana. Dia pernah sekolah disana. Dan tentu saja, tempat itu adalah tempat bertemunya dia dengan namja itu beberapa tahun yang lalu.
"Neul Paran High School? Apakah ini nomor orang yang selalu 'menerormu', Kibum-ah?"
Kibum mengacuhkan pertanyaan yang Shindong berikan padanya. Pikirannya sedang teralih pada sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa di masa lalunya. Peristiwa yang membuat dia menjadi salah satu dari kehidupan namja itu, menjadi salah satu yang tidak dapat dilepaskan.
"Kim Kibum, kumohon, jadilah kekasihku."
"Hyung, kita baru saling mengenal selama tiga minggu, apa itu tak terlalu cepat?"
"Aniya, Kibum-ah. Cinta bisa datang kapan saja, dan aku merasakan cinta ketika aku pertama kali melihatmu. Aku yakin kau juga begitu Kibum-ah."
"Ta-tapi hyung..."
"Kumohon Kibum-ah... aku mencintaimu. Aku akan memberikan segalanya untukmu. Kumohon Kibum-ah..."
"A-aku..."
"Kibum-ah—"
"H-hyung, kau tak perlu memberikan aku apapun. Aku hanya butuh cinta... yang tulus dari seseorang."
"Itu aku Kibum-ah. Aku akan memberikan cintaku yang paling tulus untukmu. Aku berjanji. Kumohon... jadilah kekasihku."
"..."
"Kumohon..."
"Ba-baiklah hyung..."
"Aku sangat mencintaimu, Kibum-ah!"
"—Bum! Kibum-ah! Hei Kibum-ah!"
Kibum mengerjapkan matanya berapa kali dan melihat telapak tangan Shindong sudah berada di depan wajahnya. Dia melihat Shindong yang menatapnya bingung.
"Apa kau melamun?"
"A-ah, ani..." Kibum menjatuhkan pandangannya ke arah handphone-nya dan kemudian ke arah layar komputer. "Terima kasih atas bantuannya."
Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Tetap bersembunyi disini atau pergi ke gedung SMU-nya dahulu dan berharap bisa menemui orang yang menghubunginya. Dia berharap orang itu bukan dia. Bukan dia yang membuat Kibum ketakutan sekarang.
"Bukankah kau ada di penjara?"
.:o~o:.
Lama tidak datang dan kembali dengan chapter yang bisa dikatakan pendek, maafkan saya /\
Maaf banget~ aku gak ada ide untuk scene baru hehe
Tapi tenang, next chap akan tetap ada kok hehe
Sekarang mudah-mudahan chingu bisa menebak-nebak sesuatu kekeke
Oh ya, aku belum bisa bales review sekarang, maaf yaaaaaaa~ *bungkuk-bungkuk*
Pokonya, semoga kalian bisa enjoy sama FF ini (Amin~) dan untuk new readers, semoga kalian juga betah ya~ :D (Amin X3)
Eh, saya juga mau bilang, saya lagi bikin FF baru hehe, oneshot, semoga selesai (Amin~ amin!)
Saya mau kasih summary hehe (?) untuk FF itu
"Lalu? Bukankah kau juga sering pergi ke cafe berdua dengan Kibum sementara pacarmu, Eunhyuk, tak ikut?"
"Itu berbeda. Aku dan Kibum jelas berteman, tetapi Siwon dan Kyuhyun berceda cerita. Tadi aku melihat Siwon dan Kyuhyun... berciuman."
.
"Siwon hyung! Kau membunuhnya? Astaga! As-astaga!"
.
"Ssh, Kyuhyunie, diam disitu."
.
Hidup dalam dendam dan kebencian akan melahirkan sebuah kekuatan.
.
Udah ah segitu aja, baru diketik 5 lembar soalnya hehe =..=
Cast-nya udah ketebak mungkin hehe *ketawa geje* -w-
Okay, maaf tak bisa berlama-lama untuk bersama kalian (sok asik) sampai jumpa di next chap ^o^/ *lambai-lambai laptop*
Big thanks for readers MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon
| anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin |ma'on clouds |Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | truee TR | ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie dan untuk semuanya.
Okay, mind to review? X3
