Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Elapsed | March 2nd, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Junsu dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee udah ada semuanya, EXO nyempil satu)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : Ini chapter 2K. Kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan. Saya sangat berterima kasih untuk yang mendukung saya hingga sejauh ini *usap ingus* saya terharu~

.

.

.

.

The Time: Elapsed | March 3nd, 2012

.

Friday

March 2nd, 2012

03:56 AM

Kibum duduk gelisah di atas ranjangnya. Dia baru saja terbangun oleh getaran handphone-nya di atas meja nakas di samping ranjang. Ada sebuah pesan masuk ke dalam handphone-nya. Dari nomor itu lagi. Dari seseorang yang membuatnya ketakutan setengah mati.

One new message

From : 010-3200-4719

Aku menunggumu hari ini.

Menunggu? Apa maksudnya pesan ini?

.

.

The Time

Elapsed | March 2nd, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Friday

March 2nd, 2012

05:54 AM

Taemin turun dari lantai dua kamarnya. Dia masih memakai piyama bergambar pikachu pemberian dari Onew dan Key beberapa hari yang lalu. Jika digambarkan untuk orang yang baru bangun tidur, Taemin akan terlihat dengan mata yang masih setengah terbuka, mulut yang menguap dan jalannya yang lambat. Namun kali ini Taemin sedikit berlari, wajahnya tak terlihat seperti masih mengantuk walaupun rambutnya masih berantakan.

Jaejoong yang tengah membuat sarapan di dapur menoleh mendengar suara gaduh dari tangga. Dia melihat Taemin berlari ke arah ruang tengah. Jaejoong segera mematikan kompor dan meninggalkan kegiatannya untuk mengupas bawang. Dia mengusap tangannya ke apron sebelum menyusul Taemin ke ruang tengah. Dapat Jaejoong lihat, Taemin meraih telepon rumah yang diletakkan di dekat vas bunga—di samping sofa panjang—dan segera menekan tombol-tombol untuk mencari satu kontak.

"Taemin, siapa yang akan kau telepon pagi-pagi seperti ini? Kai dan Minho?"

Pertanyaan dari Jaejoong sama sekali tidak di gubris oleh Taemin. Sosok kecil itu sibuk menunggu jawaban dari orang yang dia telpon, menunggu telepon tersambung. Jaejoong menggeleng pelan. Dia berjalan menghampiri Taemin sebelum akhirnya dia mendengar anaknya mengucapkan suatu nama.

"Changmin hyung?"

Changmin? Untuk apa Taemin menelpon Changmin?, batin Jaejoong.

"Changmin hyung, bica datang kecini?"

Ada jeda disana. Jaejoong melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan anak kecil yang umurnya hampir menginjak enam tahun itu.

"Ta-tapi hyung—"

Taemin diam ketika Changmin memotong ucapannya. Dia membiarkan Changmin berbicara sementara dia mendengarkannya.

"H-hyung, D-Dia datang lagi..."

Jaejoong menggerenyitkan dahinya mendengar nama Dia. Siapa Dia yang Taemin maksud? Apakah Dia yang Taemin maksud adalah Dia yang membuat Taemin menangis karena memimpikannya sebulan yang lalu? Yang membuatnya ketakutan dan menangis? Yang membuatnya selalu ingin merengek kepada Jaejoong agar Changmin datang ke rumahnya?

"Di-Dia bilang... becok... a-ada la-lagi yang pelgi... T-Taemin i-ingat kepadamu hyung... Tae-Taemin takut..."

Jaejoong segera menghampiri Taemin yang terlihat hampir menangis, dia dapat mendengar dari nada suaranya. Jaejoong segera memeluk Taemin dan merebut telepon itu dari tangannya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan, Changmin?"

Jaejoong dapat mendengar Changmin tergagap di sebrang sana. Jaejoong merasakan Taemin meremas baju bagian bahunya dengan erat dan dia dapat mendengar isakan lembut dari anaknya.

"Mengapa Taemin menangis? Apa yang terjadi?"

Ada beberapa jeda lagi yang dilakukan oleh Jaejoong ketika Changmin berbicara di ujung sana.

Jaejoong berdecak pelan. "Aku harap kau menemuiku setelah ini."

.:o~o:.

Friday

March 2nd, 2012

06:11 AM

"Minho hyung, pulang sekolah kita langsung main bersama Taemin lagi ya?"

Minho menoleh ke arah Kai yang duduk di sebrang meja makan, berhadapan dengannya. Minho mengangguk seraya menggigit roti selai kacang miliknya. Kai merekahkan senyuman, dia meraih gelas berisi penuh susu dan menyesapnya.

Key mengambil tempat duduk di samping Kai. Dia memperhatikan suami, anak dan keponakannya yang sibuk dengan sarapannya.

"Appa, Kai ingin mainan baru." kata Kai kembali memulai percakapan.

Onew menoleh ke arah Kai dan mengangguk. Bukan berniat untuk mengacuhkan tetapi ia terlalu sibuk dengan acara makannya. Mana bisa makanan buatan istrinya ia tolak, walaupun itu hanya roti berselai yang bisa semua orang buat dengan mudahnya.

Suasana sarapan di rumah kediaman mereka berjalan seperti biasa. Mereka memakan santapannya dengan begitu lahap. Key tersenyum senang. Tangannya meraih garpu untuk memakan makanannya.

"Oh, ya, Umma, aku ingin mengatakkan sesuatu tentang Taemin."

Key menoleh ke arah anaknya bersamaan dengan Onew dan Minho, sepertinya mereka tertarik dengan apa yang akan diucapkan oleh Kai.

Key mengangguk mempersilahkan. "Mengatakan apa, Kai?"

"Eum..." Kai mengulum bibir bawahnya. Lidah kecilnya menjilat selai kacang yang bersisa di bibir. "Taemin sering menangis."

Seketika itu juga Onew dan Key tertawa pelan. Minho menggelengkan kepalanya sedangkan Kai memandang ketiganya bingung.

"Kau juga sering menangis Kai." kata Minho.

"Ani! Bukan itu!" Kai menaikkan suaranya.

Onew dan Key menghentikkan tawanya. Keduanya memandang Kai bingung, begitu pula dengan Minho.

"Pernah Taemin bercerita padaku, dia bilang dia takut ketika ada seseorang yang datang ke mimpinya. Taemin memanggilnya dengan sebutan Dia. Dan Taemin selalu menangis ketika menceritakannya. Jika Changmin hyung datang, Taemin selalu menceritakan tentang mimpinya dan akhirnya menangis juga. Itu semua karena Dia. Aku penasaran, siapa Dia yang Taemin maksud itu, Umma, Appa."

Onew dan Key menghentikkan acara makan mereka, sementara Minho terdiam mendengar penjelasan itu.

Apakah Taemin menangis karena mimpi itu ketika aku melihatnya menangis di pangkuan Changmin hyung?, batin Minho. Ada apa dengannya?

"Ah, Kai, itu hanya mimpi buruk biasa. Kau juga sering mengalami mimpi buruk bukan?" Key berusaha memperbaiki pemikiran. "Jangan menganggap yang aneh-aneh."

.:o~o:.

Friday

March 2nd, 2012

08:22 AM

"Kau akan ke pemakaman Sungmin hari ini?"

Heechul menoleh ke arah Hangeng yang menatapnya bingung. Heechul mengangguk dan tersenyum. Dia meraih jaketnya dan segera mengenakannya. Wajar saja suaminya bertanya akan hal itu, pakaian yang dia kenakan sudah memberitahu secara bisu bahwa dia memang akan pergi ke pemakaman Sungmin, untuk mengunjungi adiknya.

"Apa kau mau ikut?" Heechul bertanya seraya berbalik.

Hangeng tersenyum sangat tulus. Kakinya melangkah—berjalan mendekati Heechul. Dia mencium bibir Heechul sekilas dan kemudian mengusap kepalanya sayang.

"Aku tidak akan membiarkan istriku pergi sendiri." katanya.

Heechul berjinjit sedikit—walaupun perbedaan tinggi mereka hanya berkisar sekitar dua senti—dan berniat untuk mencium bibir suaminya lebih dahulu, namun sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.

"Oh, apa kami boleh ikut?"

Hangeng dan Heechul menoleh ke arah pintu kamar mereka, ke sumber suara. Mereka dapat melihat Zhoumi dan Henry sudah berdiri disana, memandang mereka dengan senyuman.

"Hehe," Zhoumi terkekeh. "maaf mengganggu."

Heechul menjauhkan tubuhnya dari Hangeng dan membalas senyuman mereka. "Tentu. Ayo bersiap."

.:o~o:.

Friday

March 2nd, 2012

09:09 AM

Kyuhyun berjalan perlahan melewati beberapa makam yang berjajar di sebuah pemakaman. Tangannya membawa sebucket mawar hitam, untuk melambangkan kematian. Langkahnya terasa berat mengingat dia sudah tak pernah bertemu dengan orang yang akan dilayatnya selama dua bulan ini, dan akan berlanjut hingga dia meninggal nanti. Kyuhyun berhenti di hadapan sebuah makam dengan batu nisan, yang bertuliskan nama seseorang yang sangat dia kenal.

R.I.P

Lee Sungmin

Kyuhyun tersenyum tipis dan segera mengambil posisi jongkok di samping batu nisan itu. Dia meletakkan sebucket mawar hitam darinya di hadapan batu nisan. Kemudian jarinya terulur, menyentuh permukaan tanah yang menimbun mayat seorang manusia.

"Hei, kau merindukanku?" Kyuhyun tertawa pelan, membiarkan angin yang menjawab suaranya. "Aku tak menyalahkanmu karena aku di penjara. Aku yang meminta maaf padamu karena baru sekarang aku bisa menemuimu. Kemarin aku bebas, aku senang. Dan kemarin aku harus segera menyewa tempat tinggal. Aku mendapatkan satu, harganya tak terlalu mahal. Rumahnya minimalis dan sangat nyaman. Maaf, aku tak bisa tinggal di rumah kita lagi. Rumah itu sudah dijual oleh keluargamu. Dan sekali lagi maaf, aku baru bisa menemuimu sekarang. Sulit untuk mendapatkan informasi dimana kau dimakamkan, itu membuatku agak pusing."

Kyuhyun tersenyum memandangi timbunan tanah itu.

"Ah, boleh aku bercerita sesuatu padamu?"

Tentu saja tak akan ada yang menjawab. Hanya hembusan angin dingin—yang agak membuat merinding—membelai kulitnya.

"Mungkin kau menganggapku lelaki brengsek, benar bukan? Aku baru saja kehilanganmu selama dua bulan tetapi hati sialanku ini sudah berpaling pada seseorang. Astaga, kau tahu betapa brengseknya aku sekarang? Hm?"

Kyuhyun menundukkan tubuhnya, tertawa perih.

"Kau boleh memukulku jika kau mau. Kau boleh memakiku lewat mimpi jika kau mau. Tetapi... kau tahu, membohongi perasaan sendiri sangat menyakitkan, bukan? Dan aku tak ingin membohongi perasaanku sendiri." Kyuhyun mendecih pelan. "Aku tidak mau membohongi diriku sendiri, mengatakan bahwa aku masih mencintaimu. Jangan salahkan aku, salahkan hati ini yang berpaling begitu saja. Bukannya aku bisa melupakanmu dengan mudah, bukan karena itu, tetapi karena perilaku seseorang terhadapku. Dia membuatku gila, kau tahu? Bahkan dia juga gila karena rela menghabiskan waktunya untuk membantuku. Lagipula... jika kau menjadi aku, kau juga tidak akan bisa menolak sosok namja yang membuatku menjadi sejahat ini padamu. Apa kau pernah menemukan orang yang baru mengenalmu, dia langsung membantumu hingga sejauh ini? Hingga kau dapat merasakan kebebasan keluar dari penjara seperti ini? Jika kau menjadi aku, kau juga akan menjadi orang brengsek, benar bukan Sungmin-ah?"

Kyuhyun mengusap matanya dengan satu tangan. Dia lelah jika harus membohongi perasaannya. Katakan bahwa dia mengambil langkah dan kesimpulan yang terlalu terburu-buru, sangat cepat, tetapi... hati itu memang bukan untuk Lee Sungmin lagi.

"Maafkan aku. A-aku tak bisa mencintaimu lagi. Tapi bukan berarti aku melupakan kenangan manis kita berdua. Tidak, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku bersyukur karena mengenalmu. Aku bersyukur karena aku pernah memilikimu. Aku bersyukur bahwa kita pernah bersama. Namun... maaf... bolehkah aku egois sekarang? Aku tahu aku terlalu brengsek. Aku tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih, namun bolehkah aku egois, sekali saja? Aku tidak peduli dia akan membalas cintaku atau tidak, aku akan menyimpan perasaan ini jika begitu. Tetapi aku hanya ingin jujur satu hal padamu..." Kyuhyun menarik napasnya. Rasanya jantung itu memompa begitu cepat ketika dia akan mengucapkan sebuah nama dalam kalimatnya. "...aku mencintai Changmin."

Dan kemudian Kyuhyun mendesah pelan.

"Maaf. Aku akan meninggalkan cintaku padamu sekarang."

"Ch-Cho Kyuhyun?"

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan segera mengarahkan pandangannya ke belakang, ke sumber suara yang dia kenal. Suara seseorang yang membencinya, baik itu sebelum Sungmin meninggal ataupun ketika dia masih hidup. Dia melihat Heechul berdiri disana, bersama seorang lelaki yang menggandeng tangannya. Dan ada dua orang yang tak Kyuhyun kenal di belakang mereka.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Kyuhyun dapat mendengar intonasi dingin yang dilontarkan Heechul untuknya. Heechul mendekati Kyuhyun dengan langkah cepat, dia marah. Kyuhyun segera berdiri dari posisinya. Belum sempat dia membuka mulutnya, sebuah pukulan keras Kyuhyun terima di rahangnya.

Buagh!

Karena pukulan itu Kyuhyun tersungkur beberapa langkah dan jatuh, beruntung karena tak menginjak makam Sungmin. Lelaki—yang Kyuhyun perkirakan adalah suami dari Heechul—segera menahan tubuh Heechul.

"Chulie, apa yang kau lakukan?"

"Aish! Han, lepaskan aku! Mengapa pembunuh itu berada disini? Cih, kau tak pantas menampakkan wajahmu di hadapan Sungmin! Mengapa kau berada disini? Mengapa kau tidak di penjara?"

Kyuhyun menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih. Dia dapat merasakan rasa amis di mulutnya. Pasti pukulan itu menghasilkan sobekan kecil di sudut bibirnya.

"Heechul, tenanglah."

"Pergi kau dari sini! Pergi kau!"

"Heechul, ini pemakaman. Zhoumi, tolong bawa Kyuhyun pergi."

Kyuhyun dapat melihat laki-laki yang di panggil Zhoumi itu mendekat ke arahnya. Laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut berwarna merah yang tersenyum kepadanya. Dia membantu Kyuhyun berdiri dan merapikan bajunya.

"Kau tak apa? Maafkan istri kakakku."

Kyuhyun tersenyum memaklumi. Lagipula wajar saja Heechul marah kepadanya. Semua orang beranggapan bahwa dialah penyebab Sungmin meninggal. Sebagai seorang kakak, Heechul wajar untuk marah, bukan?

"Gwenchana. Lagipula aku akan pergi sekarang."

"Maaf. Aku bukan berniat mengusirmu. Itu hak-mu untuk datang kesini, tapi—"

Kyuhyun memotong ucapannya. "Gwenchana."

Dan entah hanya kesimpulan dari Kyuhyun atau bukan, Kyuhyun mendapatkan senyuman yang memiliki arti dari Zhoumi. Kyuhyun tak tahu apa arti senyuman itu, namun ia yakin bahwa senyuman itu bukan senyuman biasa, bukan senyuman permintaan maaf. Ada arti lain disana.

"Cepat pergi dari sini!"

Kyuhyun menarik bibirnya untuk mengulas sebuah senyuman, sebagai ucapan terima kasih karena Zhoumi telah membantunya. Bibirnya terasa sakit, namun dia tak peduli akan hal itu. "Ah, sekedar untuk pemberitahuan. Jika Heechul hyung bingung mengapa aku ada disini, katakan kepadanya bahwa aku sudah bebas. Maaf karena sudah membuatnya seperti ini. Aku berjanji tak akan mengganggu kehidupannya lagi."

Kyuhyun mengambil langkah menjauhi makam. Sebelum langkahnya semakin menjauh, Kyuhyun berbalik dan menundukkan tubuhnya. "Maafkan saya." Dan setelah itu dia memilih untuk meninggalkan pemakaman. Untuk pergi dari rumah baru Sungmin setelah memberitahukan perasaan barunya.

Aku... orang brengsek ya?

.:o~o:.

Friday

March 2nd, 2012

06:32 PM

Mata Changmin teralih pada getaran hanpdhone di meja yang membuatnya terganggu dari kegiatan menonton—atau lebih tepatnya melamun—di hadapan televisi. Changmin segera meraih handphone-nya dan melihat ada nomor yang tidak ia ketahui.

Incoming Call

010-3126-2291

Changmin menggerenyitkan dahinya sebelum dia memilih untuk mengangkat telepon tersebut.

"Yeoboseyo." ucap Changmin.

"Yeoboseyo."

Changmin mengangkat salah satu alisnya mendengar suara dari sebrang sana. "Kyuhyun?"

"Ah, kau hapal suaraku ternyata."

Changmin tertawa pelan. "Hei, bagaimana keadaanmu? Maaf aku tak bisa menemuimu di hari kebebasanmu."

Changmin mendengar Kyuhyun terkekeh lembut disana. "Gwenchana. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu."

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Changmin dapat melihat Yoochun datang ke arah ruang tengah dan memperhatikannya. Yoochun memang berada di rumah hari ini. Bahkan sejak lusa kemarin Yoochun memang tak pergi ke rumah sakit, laki-laki itu menghawatirkan Changmin-nya.

"Ah, ngomong-ngomong darimana kau dapat nomorku?"

"Jung Yunho." Terdengar kekehan pelan. "Aku memaksanya."

Changmin mengangguk mengerti mendapatkan jawaban itu—walaupun dia tahu Kyuhyun tak bisa melihatnya. Changmin melihat Yoochun berdiri di dekat sofa tempat dia duduk, memperhatikannya dengan serius.

"Ch-Changmin, banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu."

"Hm, apa itu?"

Changmin mendengar jeda sebentar pada percakapan mereka. "Eum, bisa kau datang ke rumahku? Aku tak yakin bisa membicarakan ini di telepon."

"Okay. Kirimkan pesan dimana alamatmu berada." kata Changmin.

Kyuhyun mendesah pelan disana. "Okay. Ah, Changmin, apa kau ingat tanggal berapa sekarang?"

Changmin mengedarkan pandangannya, berharap menemukan kalendar. Matanya mendelik ke berbagai arah namun dia tak menemukannya. Yang dia temukan adalah Yoochun yang masih memperhatikan setiap gerakan dan ucapannya. "Molla. Memangnya sekar—"

"Sekarang tanggal dua Maret, itu artinya besok adalah Tiga Maret."

Changmin terkesiap. Itu dia! Dia menunggu hari itu datang tetapi dia sendiri melupakannya. Ah, betapa bodohnya dia. Changmin segera berdiri dari duduknya dengan gerakan cepat, seperti gerakan orang yang tak sengaja menduduki air dan segera berdiri agar air tak membasahi celananya. Ekspresinya berubah menjadi waspada.

"Ah, baiklah, baiklah. Berikan alamatmu segera, aku akan menemuimu."

Dan ketika Changmin memutuskan sambungan telepon, dia merasakan Yoochun meremas pergelangan tangannya agak kasar. Gerakan tiba-tiba itu membuat handphone Changmin terjatuh, beruntung karena sofa berada tepat di bawah tangan Changmin, jadi dapat dia pastikan bahwa handphone-nya jatuh tanpa membentur lantai. Changmin mengarahkan pandangannya ke arah Yoochun yang menatapnya serius.

"Jangan pergi keluar rumah." katanya dingin.

Changmin menggerakkan tangannya, berupaya melepaskan cengkraman dengan perlahan. "Kau tak bisa mengurungku, hyung."

"Siapa itu?" tanya Yoochun.

"Bukan ur—"

"Siapa itu?" Yoochun menekankan pertanyaan.

Changmin menghentikkan gerakannya. "Kyuhyun."

"Untuk apa kau pergi kesana?"

"Hyung," Changmin mendesah pelan. "Hyung tahu sendiri bukan tentang kematian berurut itu? Aku harus memastikan bahwa Kyuhyun bukanlah orang selanjutnya yang akan meninggal besok. Hyung harus tahu, tanggal Tiga Maret hanya beberapa jam lagi dari sekarang, dan aku harus mencegah sebelum jatuh korban lagi. Hyung tahu sendiri 'kan bahwa hanya kau dan Kyuhyun yang percaya akan ceritaku tentang kematian ini? Aku harus memastikan bahwa dia bai—"

"Kalau begitu, aku ikut denganmu."

Changmin membulatkan matanya. "I-ikut? T-tapi kan... hyung tid—"

"Kita masuk mobil sebelum aku berubah pikiran."

.:o~o:.

Friday

March 2nd, 2012

07:14 PM

Yoochun mematikan mesin mobilnya ketika mereka sampai di depan sebuah rumah minimalis—yang terlihat nyaman—di sebuah alamat yang lumayan jauh dari rumah mereka. Matanya melirik ke arah Changmin yang duduk di jok samping kemudi. Dia menundukkan wajahnya. Muram.

Sungguh, menurut Yoochun, ini adalah masa-masa buruk dalam hubungan mereka. Sebelumnya hubungan mereka selalu ditemani oleh tawa, atau oleh perbuatan romantis dari Yoochun sendiri. Mungkin mereka pernah bertengkar, pernah saling diam, tapi tak seburuk ini.

Changmin yang pertama keluar dari mobil, disusul oleh Yoochun. Setelah memastikan bahwa mobilnya terkunci, Yoochun mengambil langkah menyusul Changmin yang lebih dahulu berjalan mendekati pintu rumah berwarna hitam itu. Yoochun melihat Changmin mengetuk pintu itu tiga kali dan setelah itu dia mendengar suara agak gaduh dari dalam.

Cklek

Ketika pintu terbuka, yang pertama Changmin dan Yoochun lihat adalah sosok Kyuhyun dalam balutan kaos berwarna putih dan celana jeans selutut. Dia tersenyum ke arah Changmin, namun senyuman itu memudar ketika dia melihat Yoochun di balik tubuh tinggi itu.

"Oh, kukira kau datang sendiri, Changmin-ah?" kata Kyuhyun. Dia memberikan jalan kepada Yoochun dan Changmin untuk masuk ke dalam rumah. "Silahkan masuk. Maaf masih berantakan, aku belum membereskan semuanya."

Changmin mengangguk memaklumi. Kyuhyun menutup pintu rumahnya. Setelah itu dia membimbing Yoochun dan Changmin untuk masuk ke ruang tengah yang terlihat sudah tertata rapi, mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa.

"Beruntung karena orang tuaku masih sering mengirimiku uang dalam jumlah besar, jadi aku dapat menyewa rumah dan segala perabotan ini." Kyuhyun tertawa perih sebelum dia menjatuhkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan sofa dimana Yoochun dan Changmin duduk. "Ya, walaupun mereka brengsek tetapi mereka cukup membantu."

Changmin mengangkat alisnya, berkeinginan untuk bertanya namun ketika Kyuhyun beranjak dari kursinya, Changmin membatalkan niatnya.

"Kalian ingin minum apa?"

Changmin menggeleng. "Tidak usah Kyuhyun-ah. Kita tak punya waktu banyak. Ada yang harus kita bicarakan."

Kyuhyun mengangguk mengerti dan kembali duduk di sofanya. "Oh, baiklah."

"Jadi bagaimana denganmu? Apa di tengkuk lehermu sekarang terdapat simbol itu?"

Setelah pertanyaan dari Changmin terlontar, Kyuhyun mengatupkan mulutnya. Pertanyaan itu membuatnya mengingat akan kejadian dimana mereka berciuman, untuk yang pertama kalinya salam jalinan pertemanan. Ketika Changmin berniat untuk melihat tengkuknya, kemudian mereka saling menjatuhkan pandangan dan akhirnya tergoda satu sama lain. Kejadian itu membuat dirinya—

Tunggu! Kyuhyun melihat Yoochun menatapnya tajam. Ah, betapa bodohnya dia. Apa yang dia harapkan? Apa dia mengharapkan Changmin kembali memeriksa tengkuknya dan membuat kejadian itu kembali terulang? Dihadapan mata kekasihnya? Ayolah, jangan menjadi manusia brengsek seperti ini, Kyuhyun-ah.

"A-aku sudah memeriksa tengkukku tadi—tepat sebelum kalian sampai disini—dan aku tak menemukan apapun." jawab Kyuhyun.

"Okay." Changmin membenarkan posisi duduknya. "Apa kau mempunyai gambaran tentang siapa yang akan menjadi korban selanjutnya? Maksudku, sangat sulit untuk menebaknya. Sungmin dan Donghae tidak saling mengenal, tetapi mengapa Donghae dapat menjadi korban kedua? Itu membuatku bingung akan polanya. Dari informasi yang kudapat, Dia akan membunuh orang yang berhubungan dengan si pemain pertama. Dan pemain pertama itu Sungmin, bukan? Tetapi mengapa Donghae bisa menjadi korban? Itu artinya korban selanjutnya sulit untuk ditemukan, bukan? Aku takut harus ada yang mati lagi besok."

Kyuhyun menggeleng pelan mendengar pertanyaan bertubi dari mulut Changmin. Pandangannya berusaha menjauh dari tatapan Yoochun, dia yakin bahwa Yoochun tengah menatapnya dengan pandangan tak suka. Kekasih mana yang akan merasa baik-baik saja ketika kekasihnya sendiri dekat dengan orang lain? Bahkan kekasihnya rela untuk membantunya bebas dari penjara? Kyuhyun yakin, jika dia menjadi Yoochun dia sudah sangat marah sekarang.

"Okay, aku menamai kematian berurut ini dengan sebutan Death Cycle—agar kita dapat lebih mudah membicarakannya. Aku takut tak bisa mencegah kematian si korban Tiga Maret ini. Tetapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghentikkannya, bahkan aku tidak tahu bagaimana cara mengetahui siapa korban selanjutnya. Kau punya ide, Kyuhyun?"

"Aku tak bisa memberikan jawaban."

"Apakah kita harus tetap diam seperti ini hingga mendengar kabar kematian seseorang lagi?"

Kyuhyun menggeleng. "Itu bukan keputusan yang bagus, Changmin-ah."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

Changmin mendesah pelan seraya memijat pelipisnya. Dia melirik Yoochun yang duduk di sampingnya, menatapnya. Mengunci tatapannya.

"A-aku tak tahu, sungguh."

Changmin mengangguk memaklumi. Selama ini dia yang mendalami tentang Kematian Bersiklus atau Death Cycle ini. Tentu saja Kyuhyun tak mengetahui banyak sebanyak apa yang Changmin ketahui—walaupun dia selalu memberitahukan Kyuhyun tentang apa yang terjadi terhadap Sungmin. Kyuhyun menjatuhkan kembali pandangannya ke arah Kyuhyun, untuk berpikir, namun tak sengaja matanya menangkap sedikit luka sobek di ujung bibir itu.

"Kyuhyun-ah? Apa yang terjadi pada bibirmu? Neo gwenchana?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, dengan nada khawatir yang membuat Kyuhyun terkesiap. Yoochun menarik napasnya, berusaha menetralkan sesuatu yang membuat tangannya ingin mengepal sekarang. Membuatnya tidak nyaman.

Changmin berdiri dari duduknya. Yoochun dan Kyuhyun menyaksikan pergerakan itu. Dengan segera Yoochun menahan tangan Changmin sementara Kyuhyun mengibaskan tangannya.

"Aku tidak apa-apa."

"Dia tidak apa-apa."

Kalimat itu terlontar secara bersamaan dari dua mulut yang berbeda. Dengan intonasi yang juga berbeda. Yang satu dengan intonasi panik sedangkan yang satunya dengan intonasi dingin.

Changmin mengarahkan pandangan ke arah keduanya secara bergantian. Ada Kyuhyun yang menatapnya dengan pandangan 'Aku tidak apa-apa, sungguh. Jangan khawatirkan aku.' sedangkan pandangan dingin dari Yoochun yang seolah berkata 'Dia baik-baik saja. Jangan berlebihan.'.

Changmin akhirnya memilih untuk kembali duduk setelah menimbang-nimbang. Dia merutuki perbuatannya dalam hati. Dia memang berlebihan. Dia mengkhawatirkan seseorang yang bukan miliknya, yang sama sekali tidak terlihat kesakitan.

Argh, bodoh! Kenapa aku harus panik seperti itu? Changmin menolehkan pandangannya ke arah Yoochun secara perlahan. Yoochun menatapnya dengan mimik wajah yang tak terbaca. Aku pasti menyakiti hatinya lagi. Tenangkan dirimu Shim Changmin. Jangan ikuti egomu. Jangan bertindak terburu seperti anak kecil. Kyuhyun bukan milikmu, tekankan sekali lagi. Kyuhyun. Bukan. Milikmu. Kau adalah milik Yoochun. Jangan melakukan sesuatu yang membuat dirinya marah. Kau sudah terlalu banyak melakukan dosa, Shim Changmin.

Entah berhasil atau tidak, mungkin kalimat itu dapat membuat Changmin kembali sadar dari perbuatannya yang selalu mengikuti egonya, yang mengikuti seluruh keinginan baik sadar maupun tidak sadar dari dirinya.

"E-eum... mungkin sebaiknya kita harus memikirkan bagaimana cara mencari calon korban Tiga Maret dan cara menghentikan kematiannya segera, sebelum hari berganti."

Kyuhyun tahu bahwa jika dia tidak menghancurkan suasana canggung yang tiba-tiba tercipta, dia akan mendapatkan tatapan buruk lagi dari Yoochun. Bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Dia tak akan menyalahkan Changmin yang menghawatirkannya. Dia hanya menyalahkan dirinya sendiri karena datang di waktu yang tidak tepat untuk melayat Sungmin dan membuat dia bertemu dengan Heechul. Yang sudah dia tahu dengan jelas bahwa kakak dari Sungmin itu akan sangat membencinya setelah kematian dari Sungmin sendiri. Pukulan yang sangat wajar untuk dia terima, tapi tak seharusnya Changmin melihat luka itu. Dia tahu bagaimana reaksi Changmin jika melihatnya terluka seperti ini—sama seperti ketika dia berada di rumah sakit jiwa karena telah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Mungkin itu hanya rasa... simpati.

Dia hanya kasihan kepadamu, Cho Kyuhyun. Changmin hanya bersimpati padamu. Jangan pernah berharap lebih dari itu.

"Kau benar," Changmin bergumam. "Tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku benar-benar tidak tahu."

Kyuhyun mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Berusaha menenangkan perasaannya. Dia harus fokus pada Death Cycle, bukan pada rasa bergemuruh di dadanya.

"Begini... aku hanya mengusulkan sesuatu. Apa mungkin, orang yang akan menjadi korban Tiga Maret adalah orang yang berhubungan dekat dengan temanmu—ah, siapa namanya? Donghae?—itu?" ucap Kyuhyun.

Changmin menggeleng pelan. "Sepertinya aku tak setuju. Bukankah Donghae dan Sungmin tidak saling mengenal? Orang yang tidak saling kenal saja bisa menjadi korban, jadi kupikir bukan orang yang dekat dengan Donghae korbannya."

"Tapi aku rasa tidak ada salahnya untuk mencurigai, untuk waspada."

Changmin mencerna kalimat yang dilontarkan Kyuhyun. Memang, semuanya tidak ada salahnya untuk di coba. Tetapi dia tak punya banyak waktu untuk hal itu.

"Tapi aku tak yakin..."

"Okay, okay. Untuk mempersingkat waktu, bagaimana jika kau menghubungi seluruh orang yang sekiranya akan menjadi korban Tiga Maret. Suruh mereka untuk memeriksa tengkuk dan juga suruh mereka untuk menghubungimu jika ada sesuatu yang ganjil terjadi. Sesuatu yang bersifat sangat aneh. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bersiap jika saja ada pengaduan tentang apa yang kau suruh pada mereka. Kita harus cepat untuk mencari si calon korban sebelum waktu berakhir."

Changmin menyipitkan matanya. "Tapi itu terlalu banyak dan—"

"Hubungi orang yang sekiranya berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan Donghae. Kau bilang kau tak ingin melihat korban lagi, bukan?"

Changmin mengangguk pelan. Tangannya mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya.

"Aku benar-benar berharap bukan dia yang menjadi korbannya."

Changmin menekan sebuah kontak dan menghubunginya.

.:o~o:.

YOSH! SELESAI JUGA CHAPTER INI~

Sesuai janji, hari ini update dan lebih panjaaaaaaaaaaaaaaaang bukan?

Nah, untuk mempersingkat waktu juga, saya mau pamit untuk membuat chapter besok (eum, chapter ini aja baru selesai beberapa detik yang lalu). Jadi, maaf, saya benar-benar minta maaf belum bisa membalas review m(_ _ )m

Untuk kalian yang membaca FF ini saya berterima kasih banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk~ sangat banyaaaaaaaaaaaaaakkk sekali *big hug and deep kiss* #plak hehe

Dan juga untuk readers baru atau yang baru review juga terima kasih :D. Saya tak mempermasalahkan bahwa kalian baru review sekarang, yang pasti ketika reviewers bertambah itu memberikan semangat untuk saya.

Untuk kalian semoga tidak bosan X3

Untuk readers baru selama datang :D

Dan untuk semuanya, terima kasih atas doanyaaaaaaa~ :,)

Big thanks for readers MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon
| anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin |ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | HyeFye | Madamme Jung | Arisa tanaka | jinki jung dan untuk semuanya.

Okay, mind to review my beloved readers? :*

PS: Saya menceritakan banyak orang di chapter ini agar kalian menebak... siapa? Hehehe *smirk