Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: March 3rd, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Junsu dan cast lain menyusul (Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu, SHINee udah ada semuanya, EXO nyempil satu)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : CHAPTER 3 OLALALA. Please kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan.

.

.

.

.

Satu jam menjelang pukul 00:00

Kibum sibuk mengobrak-abrik meja kerja di dalam kamarnya. Tidak berantakan sebenarnya, hanya saja dia perlu menemukan handphone-nya. Bukan salahnya karena tidak menyadari dimana handphone-nya sejak tadi, namun pekerjaannya yang membuatnya melupakan hal itu. Sudah sekitar empat jam yang lalu dia sibuk di hadapan komputernya, memeriksa hasil-hasil analisa darah untuk mencocokkannya dengan beberapa calon tersangka pembunuhan yang baru-baru ini terjadi di dekat Neul Paran High School, sekolahnya dulu.

"Aish! Dimana?"

Wajar jika dia panik. Seharusnya pukul sepuluh tadi dia menghubungi Eunhyuk, dia sudah berjanji ketika di kantor tadi siang. Eunhyuk yang memintanya. Tadi siang Eunhyuk meminta Kibum untuk menghubunginya, dia bilang ada hal yang harus dia katakan. Menyangkut Donghae seperti biasanya.

Memang di apartement-nya dia tidak memasang telepon rumah. Percuma jika memasang telepon rumah, dia jarang berada di apartement-nya, lebih sering menghabiskan waktu di kantor NCIS atau di rumah Eunhyuk dan Donghae—walau sekarang rumah itu hanya dapat dikatakan sebagai rumah Eunhyuk saja. Kibum membuang napasnya. Dia takut Eunhyuk akan panik karena dia tidak menepati janjinya. Kibum bukan orang yang suka mengingkari janji dan Eunhyuk tahu hal itu.

Kibum berlari ke arah ruang tamu dan mulai menggeledah untuk mencari handphone-nya. Sudah banyak tempat dia geledah, seperti; kamar mandi, laci, tempat tidur dan beberapa tempat atau daerah yang memungkinkannya untuk melupakan handphone-nya.

Ketika matanya menangkap ruangan itu, dia langsung menemukan handphone-nya yang menyala dan bergetar di atas sofa. Kibum mengusap dadanya lega. Dia segera meraih handphone-nya bersamaan dengan terputusnya panggilan yang masuk ke nomornya.

27 Missed Calls

4 New Messages

Kyuhyun menggerenyitkan dahinya. Apa Eunhyuk begitu khawatir hingga ada duapuluh tujuh panggilan yang tidak terjawab?

Kibum menekan tombol 'show' pada layar sentuh handphone-nya dan segera muncul list 'missed call'.

Missed Calls

Shim Changmin (5)

2012.03.02 10:58 PM

Lee Hyukjae (4)

2012.03.02 11:05 PM

010-3200-4719 (18)

2012.03.02 11:14 PM

Astaga, mengapa orang itu masih berusaha menghubunginya? Kibum segera menekan tombol 'back' dan melihat empat pesan yang masuk ke nomornya.

From : Lee Hyukjae

Kibumie, kau kemana?

From : Shim Changmin

Kibum, periksa tengkuk lehermu ketika kau membaca pesan ini. Jika ada sesuatu yang ganjil terjadi, segera hubungi aku. Ini bukan main-main.

From : Lee Hyukjae

Kibumie, kau dapat pesan dari Changmin? Hei, Changmin serius. Kau ada dimana? Masih di kantor atau sudah pulang?

From : 010-3200-4719

Hari ini.

Deg!

Pesan terakhir membuat Kibum membeku secara tiba-tiba. Kenapa dia harus dihadapkan dengan masalah seperti ini? Sungguh, dia sama sekali tidak ingin untuk bertemu dengan si 'penerornya', yang sudah dia pekirakan bahwa orang itu adalah dia. Dia yang pernah masuk ke dalam kehidupannya.

Kibum segera melangkahkan kakinya ke pintu utama. Tangannya dengan cepat mencari kontak Eunhyuk dan menghubunginya. Dia tak ingin membuat Eunhyuk—yang notabenenya adalah sahabatnya, sama seperti Donghae dan Changmin—khawatir kepadanya. Namun tak ada jawaban dari sebrang sana. Kibum mengulangi panggilannya.

Tutt... tutt... tutt... tutt...

Langkah kaki sudah membawanya keluar dari apartment. Kini Kibum berada di sebuah lift yang dia naiki untuk menuju basement. Sinyal yang dia dapatkan hanya sedikit, namun masih cukup untuk menghubungi seseorang. Namun, setelah deringan ke duabelas telepon terputus, tak ada jawaban.

"Ayolah, jangan marah."

Lift membawanya ke basement ke tiga dari lantai dasar. Tak terlalu bawah namun sepertinya dia tidak akan menemukan banyak orang yang baru memarkirkan mobil ataupun menaiki disana. Ini sudah terlalu malam untuk berpergian. Lagipula cuaca masih dingin di luar sana, dengan suhu enam derajat celcius yang lumayan namun angin malam yang menusuk membuat Kibum menyesal karena tidak membawa jaketnya.

Kibum melangkahkan kakinya, berusaha mencari mobilnya. Mungkin gara-gara buru-buru pulang dari kantor NCIS tadi sore, dia lupa dimana memarkirkan mobilnya. Di lantai ini atau satu lantai di bawahnya? Ah, Kibum harus segera menemukan mobilnya.

Langkah Kibum terhenti ketika dia merasakan handphone yang berada dalam genggamannya bergetar. Mungkin saking terburu-burunya ia sampai lupa bahwa ia harus menghubungi Eunhyuk, untuk memberitahukan bahwa dia baru menemukan handphone yang lupa ia simpan dimana dan baru sempat menghubunginya sekarang.

Bukan sebuah panggilan yang masuk ke dalam nomornya, melainkan sebuah pesan.

Kibum segera membuka pesan itu membacanya.

One new message

From : 010-3200-4719

Aku sudah bebas satu bulan yang lalu. Dan sekarang aku telah menemukanmu. Ini adalah waktu yang tepat, untuk kita.

Tubuh Kibum kembali menegang membaca pesan itu. Dengan cepat dia melanjutkan langkahnya, berusaha mencari mobilnya dengan segera. Tak disangka, dia sama sekali belum menemukan mobilnya.

"Aish!"

Drrt... drrt... drrt...

Ah, handphone-nya kembali bergetar.

Kibum memberanikan diri untuk melihat layarnya, mungkin ada pesan atau panggilan dari Changmin maupun Eunhyuk. Namun dia salah, yang dia terima adalah panggilan dari penerornya.

Incoming Call

010-3200-4719

Kibum menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan telepon. Langkahnya dia percepat, kedua matanya berputar mencari letak mobilnya.

Drrt... drrt... drrt...

Incoming Call

010-3200-4719

Kibum kembali menekan tombol merah dan mempercepat langkahnya. Dia mulai ketakutan sekarang.

Drrt... drrt... drrt...

Incoming Call

010-3200-4719

Ada panggilan lagi darinya. Tanpa berpikir panjang, Kibum mematikan handphone-nya dan membuat dia menghentikan langkah. Dia menekan tombol merah di bagian atas dengan agak lama, membuat handphone itu redup dan akhirnya mati. Kibum menghela napas. Jangan salahkan dia jika Eunhyuk ataupun Changmin tak bisa menghubunginya lagi. Ini karena orang yang menerornya, membuatnya ketakutan.

Kibum menaikkan wajahnya ketika mendengar langkah kaki dengan samar.

Tuk... tuk...

Otot wajahnya mengejang, bukan karena marah melainkan takut. Kibum mengedarkan pandangannya secara berkeliling. Berupaya untuk menemukan sesuatu, namun yang dia temukan hanya tiang-tiang besar penyangga gedung dan juga beberapa mobil yang terparkir dengan jarak yang saling terpaut jauh. Membuat basement yang biasanya penuh dengan mobil kini terlihat kosong, luas. Hal itu membuat dirinya lebih ketakutan, seperti tak memiliki tempat bersembunyi.

"284.342.400 detik..."

Ada suara samar yang berat terdengar, entah dari sudut mana. Mata Kibum membulat sempurna mendengar suara itu. Napasnya terasa hampir berhenti ketika dia mendengar suara langkah semakin mendekat, namun dia sama sekali tak dapat menemukan siapapun.

"4.739.040 menit..."

Tuk... tuk...

Suara langkah dari sepatu itu terdengar nyata dan semakin jelas. Seperti orang yang sengaja untuk membuat suara dengan langkah kakinya. Kibum segera melanjutkan langkahnya dengan cepat dan waspada. Dia harus segera menemukan tempat aman yang penuh dengan orang-orang untuk membuatnya merasa tenang.

"78.984 jam..."

Suara itu terdengar sangat dekat, begitupula dengan langkahnya. Dan sekarang, Kibum sudah benar-benar tahu bahwa orang yang menerornya adalah orang yang dia takutkan selama ini. Tapi bagaimana bisa... dia?

Kibum segera menekan tombol yang dia gunakan untuk mematikan handphone-nya agar menyala kembali. Dia menekannya dengan agak lama dan terburu. Jarinya terasa dingin. Dia tak ingin mendengar suara itu apalagi untuk bertemu dengan pemiliknya,

"3.291 hari..."

Suara yang menggema di tempat itu membuat Kibum memilik untuk mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari. Ada sekelebat bayangan yang dia lihat melintasi tiang-tiang besar penyangga gedung. Handphone-nya sudah kembali menyala. Jari Kibum bergerak panik, mencari kontak bertuliskan 'Shim Changmin'.

"108 bulan..."

Suara itu sangat dekat, bahkan lebih dekat. Kibum memantapkan hatinya untuk berlari. Yang dia butuhkan adalah melihat orang lain untuk menyatakan bahwa dia selamat dari orang itu.

Napas Kibum mulai terdengar terengah karena berlari. Dia masih mendengar deringan dari handphone-nya karena Changmin belum menjawab sambungan itu. Kibum mengumpat, namun tak berhenti berlari. Sesekali dia menoleh ke belakang.

"Kibum-ah!"

Ada suara Changmin di sebrang sana. Kibum bersyukur di dalam hatinya. Dia membalikkan pandangannya tepat ketika sebuah tangan mencengkram lengannya.

"Sembilan tahun. Aku menunggumu selama sembilan tahun, Kibumie."

Deg!

Handphone dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Tubuhnya menegang, benar-benar terkejut, rasanya seperti tersengat aliran listrik berjuta-juta volt. Matanya membulat lebar melihat sosok yang ternyata sama seperti dugaannya—walaupun penampilannya berubah, Kibum masih bisa mengenali sosok itu.

Sosok yang membuatnya ketakutan sampai saat ini. Namja berperawakan jangkung dengan mata yang dapat membiusnya. Tubuhnya yang kekar tak membuat Kibum lupa pada sosoknya dahulu.

"Si-Si-Siwon h-hyung?"

"—Kibum! Hei! Kau dimana? Apa yang terjadi? Hei! Kibum, jawab aku! Kibum-ah! Kib—"

Trak!

Kaki panjang milik orang yang Kibum panggil dengan nama 'Siwon' itu menginjak handphone-nya yang kebetulan tak mati ketika jatuh membentur lantai. Namun injakan keras itu berhasil membuat handphone itu akhirnya mati, dan memutuskan sambungannya terhadap Changmin.

"Sembilan tahun aku menunggumu hingga keluar dari penjara. Apa kau merindukanku, Kibumie?"

Jantungnya memompa lebih cepat, bukan karena terjerat namun karena ketakutan. Kibum merasakan aliran darahnya terhenti, membuatnya merasa seperti seluruh tubuhnya berubah suhu, dingin, sungguh sangat dingin. Cengkraman pada lengannya mengencang ketika Kibum meronta pelan.

"Aku sudah membunuh orang-orang yang berniat untuk memilikimu sembilan tahun yang lalu, Kibum-ah. Aku tak apa jika kau memasukkanku ke dalam penjara. Karena yang terpenting adalah aku bisa kembali mendapatkanmu sekarang." Siwon berujar seraya mendekatkan mulutnya ke telinga Kibum. Kibum menggigit bibir bawahnya, merasa bahwa dia adalah orang yang paling ketakutan sekarang. Hembusan napas itu membelai gendang telinganya. "Kau milikku Kim Kibum."

Tangan Siwon yang bebas turun perlahan, meraih perut Kibum. Merasakan tubuhnya terlalu sulit untuk melakukan sesuatu, Kibum hanya dapat menggeleng dan mencoba meronta.

"P-please... please le-lepaskan aku hyung..."

"Ani..." Siwon berbisik di telinga Kibum. Menarik tubuhnya hingga tak ada jarak di antara mereka dan mulai menjilat cuping telinga putih itu. "Kau harus membantuku menghapus rasa rinduku setelah kita tak bertemu selama sembilan tahun."

"E-enhh..." Jilatan lembut pada telinga yang turun hingga ke lehernya membuat Kibum menggigit bibir bawahnya, menahan desahan. Tangan Siwon yang berada di perut rata itu mulai masuk ke dalam kaos tipis yang Kibum kenakan, meraba perutnya dan membuat Kibum seolah adalah properti miliknya.

"Le-lepashh... a-aku membencimuhh hyung..."

"Aku mencintaimu Kibumie."

Kibum berdoa dalam hati agar Changmin segera menemukannya. Sentuhan pada perutnya berhenti—Siwon mengeluarkan tangannya. Kibum tak tahu kemana tangan itu pergi, yang pasti setelah itu dia mendengar sebuah suara yang ia kenal. Suara yang sering Siwon tunjukkan kepadanya, tepat sebelum dia membunuh orang-orang yang mendekatinya dulu.

Click.

Sebuah pisau lipat.

Kaos yang Kibum kenakan tersingkap lagi. Kibum menahan napas dan suara yang ingin keluar dari dalam mulutnya. Namun, yang dia rasakan kini bukanlah tangan kekar milik Siwon, namun sebuah permukaan dingin yang tajam menelusuri perutnya.

Bukannya tak ada kesempatan untuk melarikan diri, tetapi kini dia sangat takut. Takut jika Siwon akan melakukan sesuatu yang akan membuat nyawanya melayang.

Kibum memilih untuk tak melakukan apapun ketika ujung tajam pisau itu naik ke arah dadanya, menuju putingnya.

"Jangan mencoba untuk pergi sayang. Kau tak tahu betapa tersiksanya aku ketika aku tak bisa menemuimu selama sembilan tahun ini? Eum?"

Kibum memejamkan matanya sangat rapat, berharap dia dapat melawan hasrat untuk mendesah ketika Siwon melumat lehernya. Kibum mengutuk dalam hati, mengapa dia bisa begitu lemah ketika dihadapkan dengan mantan kekasihnya ini? Kibum menengadahkan kepalanya, berusaha mencari dimana letak CCTV. Dia harus mencari pertolongan. Dia harus pergi dari orang yang begitu terobsesi akan dirinya.

Namun, belum sempat Kibum menemukan apa yang dicarinya, Siwon telah lebih dahulu mendorong tubuh Kibum dengan gerakan kasar dan cepat ke salah satu tiang besar penyangga—rangka—gedung apartement itu. Kibum meringis pelan ketika punggungnya menyentuh permukaan dinding tiang dengan kasar. Siwon segera menghimpit tubuhnya, menarik kedua tangan Kibum dan menahannya di atas kepala.

"Sshh, jangan mencoba untuk melakukan apapun. Tak akan ada yang dapat memisahkan kau dariku."

Pisau itu kini beralih pada pipi Kibum yang memucat. Pisau itu menelusuri permukaan pipi dengan gerakan pelan, yang tentu membuat Kibum menahan napasnya. Bolamata Kibum mengikuti kemana pisau itu berjalan, walaupu Siwon sibuk menjilati telinganya kembali.

"K-ku-kumohon... lepashh... lepaskan a-aku..."

"Kau benar-benar milikku, Kibumie. Kau hanya milikku."

Kibum menggeleng pelan. "Hyung, kau gila hyung. Kau gil—"

Sret!

"Ahh!"

"Aku gila! Aku gila karenamu, Kibumie!" Siwon membentak seraya menarik pisaunya menjauhi pipi Kibum, membuat aliran darah tipis keluar dari luka sayatan yang Siwon buat di pipi Kibum. Siwon tertawa pelan sebelum menjilat darah dari pipi Kibum. "Sshh, aku memang gila Kibumie. Kau milikku. Hanya milikku." Dan suaranya kembali lembut.

Kibum menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih dan panas di pipinya. Sekarang dia hanya berharap ada seseorang yang menolongnya. Ada seseorang yang dapat membantunya keluar dari situasi ini.

"Ku-kumohon..."

"Choi Siwon! Angkat tangan!"

Mungkin Tuhan masih sayang kepada Kibum. Ada sebuah suara yang menyelamatkannya, yang membuat Siwon menghentikkan aksinya. Siwon menoleh ke sumber suara—di belakang tubuhnya—dan Kibum dengan susah payah mencoba untuk melihat siapa yang datang.

Changmin, Yoochun, orang yang Kibum ketahui bernama Kyuhyun—Kibum mendengar kabar bahwa orang itu sudah bebas, Eunhyuk dan beberapa polisi—termasuk Yunho—yang sudah mengacungkan senjata.

Terima kasih, Tuhan.

"Lemparkan pisau itu dan angkat tanganmu!"

Itu Changmin. Changmin yang berteriak. Terima kasih, Changmin.

Bukannya mengikuti apa yang telah diperintahkan, seolah tidak takut pada beberapa moncong senjata yang diarahkan kepadanya, Siwon menarik tubuh Kibum kehadapannya dan kemudian memiting lehernya. Membuat Kibum sama sekali tak dapat berkutik walau kedua tangannya sudah tak dikuasai oleh Siwon. Siwon tertawa meremehkan.

Para polisi mulai bertindak, termasuk Yunho. Mereka bergerak, berusaha mengepung Siwon dan Kibum dengan hati-hati. Siwon mendengus, dia mengarahkan sisi tajam pisau itu ke arah leher Kibum.

"Jika kalian mendekat, aku akan bunuh diri bersama Kibum!" ancam Siwon.

Kibum merasakan tubuhnya bergetar ketakutan. Bahkan salivanya sendiri tak dapat meluncur dengan mudah di kerongkongannya. Mata Siwon terlihat nyalang, berusaha melindungi Kibum-nya agar tetap bersamanya.

"Angkat tanganmu!" perintah Yunho.

.

.

The Time

March 3rd, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Saturday

March 3rd, 2012

12:00 AM

"Kau tak akan bisa membawa Kibum!" jerit Siwon. Dia terlihat sangat mempertahankan Kibum, seperti seekor binatang buas yang mempertahankan santapannya dari hewan lain.

Kibum menatap Changmin, meminta tolong. Dia takut terhadap Siwon, sungguh, namja yang sedang menahannya itu benar-benar gila. Benar-benar terobsesi akan dirinya. Siwon seperti orang yang kecanduan, dan candunya adalah Kim Kibum.

"Kumohon..." Kibum berbisik lemah ke arah Changmin. Walaupun tak dapat Changmin dengar, namun dia dapat membaca bahasa bibirnya.

Kibum dapat melihat para polisi mengepungnya dengan sangat waspada, walaupun mereka bukan team Special Weapons and Tactics namun polisi juga sudah terlatih bukan?

Kibum dapat melihat Changmin mengangguk ke arahnya, menyuruhnya untuk tenang. Sejenak, Kibum dapat merasakan ketenangan pada dirinya. Dia mengangguk dan memejamkan matanya sebentar, berusaha melupakan rasa sakit di pipinya.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

4 detik.

Kibum merasakan ada hembusan angin dingin di telinganya. Tunggu, bagaimana bisa ada hembusan angin dingin sementara dia sedang berada di basement? Basement tak mungkin terasa dingin. Kibum tak mendengar suara Siwon dan para polisi yang saling berteriak memerintah ataupun melawan. Bahkan, Kibum tak merasakan ada tangan yang memiting lehernya, yang menahan lehernya agar tak bergerak.

Di tengah rasa penasarannya, Kibum membuka kedua matanya.

Dan semuanya berubah.

Dia berada di hamparan salju yang luas. Salju dingin yang membuat tubuhnya agak menggigil. Kibum tahu bahwa salju memang masih belum sepenuhnya mencair, mengingat musim dingin berakhir pada awal Maret dan salju akan mencari sekitar beberapa hari lagi—mungkin. Namun dia tak mengerti, mengapa dirinya berada disini sekarang? Bukankah dia sedang menjadi sandera Siwon, mantan kekasihnya?

Kibum memutar tubuhnya untuk melihat sekelilingnya. Hanya ada hamparan salju yang luas dengan beberapa bangunan yang mengelilingnya.

Dimana sahabatnya?

Dimana Siwon?

Dimana orang-orang yang tengah mengepungnya?

Dimana dia sekarang?

Kibum bersumpah tengah berada pada situasi menegangkan sekarang. Dan dia juga bersumpah bahwa dia baru bertemu dengan Siwon yang pada detika sebelumnya tengah menyandera dirinya. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Dimana dia sekarang?

"Ha-hallo?"

Apa yang terjadi kepadanya?

Kibum menyentuh pipi kirinya secara perlahan, berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi sekarang. Ada darah, saliva, dan luka gores. Ini nyata! Ini nyata! Apa yang telah Siwon lakukan kepadanya dan apa yang tengah terjadi pada dirinya sekarang adalah nyata!

Kibum melihat ke arah pakaiannya, masih sama seperti ketika dia menginjakkan kakinya keluar dari pintu apartment-nya, menuju basement dan berakhir pada bertemu Siwon.

Kibum benar-benar tidak mengetahui, apa yang tengah terjadi kepadanya, dan dimana dia sekarang.

Saturday

March 3rd, 2012

01:00 AM

Banyak pertanyaan yang berputar di otaknya. Tentang dimana dia sekarang. Tentang apa yang terjadi kepadanya. Kibum yakin bahwa apa yang dialaminya pasti hanya mimpi. Mungkin Siwon memukulnya hingga pingsan ketika dia menjadi sanderanya. Namun, bagaimana caranya bangun dari mimpi ini?

Apakah dia harus berjalan dan mencari tahu?

Saturday

March 3rd, 2012

02:00 AM

Kibum melangkahkan kakinya secara perlahan. Mengikuti nalurinya untuk mencari pertolongan. Persetan bahwa ini adalah mimpi atau semacamnya, yang jelas dia harus menemukan sesuatu yang dapat menjawab segala pertanyaannya.

Saturday

March 3rd, 2012

03:00 AM

Kibum dapat melihat sebuah bangunan di hadapannya. Dia tahu tempat apa ini. Neul Paran High School. Sekolahnya dahulu.

Dengan rasa penasarannya, Kibum memilih untuk masuk ke dalam bangunan itu. Melewati lapangan yang terutup oleh salju yang mulai menipis. Mencari pintu utama dari sekolanya dan mulai masuk ke dalam.

Kibum tak tahu mengapa dia masuk ke dalam, yang pasti dia harus mendapatkan satu jawaban.

Setelah membuka pintu utama, Kibum berjalan pelan melewati koridor panjang menuju kelas-kelas. Sepi, Kibum dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri. Tetapi dia bertekadi untuk mencari bantuan, kepada siapapun atau mencari sebuah jawaban. Dia tak memperdulikan pipinya yang terasa perih.

Ada suara samar dari dekat tempat loker—seingat Kibum. Seperti sebuah percakapan. Kibum berjalan menghampiri. Berbelok melewati koridor lain dan menyaksikan sesuatu yang membuat dia terkejut.

Saturday

March 3rd, 2012

04:00 AM

"Kim Kibum, kumohon, jadilah kekasihku."

Itu dia. Dirinya semasa SMU. Dia ingat kejadian itu, benar-benar ingat. Dan Kibum dapat melihat dengan jelas pada dirinya sewaktu SMU dahulu, ketika Siwon menariknya kesini dan akhirnya memenjarakannya dengan kedua tangan terhadap salah satu pintu loker.

"Hyung, kita baru saling mengenal selama tiga minggu, apa itu tak terlalu cepat?"

Kibum terdiam di tempatnya berdiri. Matanya terfokus pada sosok dirinya dahulu, ketika Siwon menyatakan perasaannya. Ketika Siwon sebagai kakak kelasnya—kelas dua—menyatakan cinta kepadanya yang masih bernotabene sebagai anak baru kelas satu di sekolah itu.

"Aniya, Kibum-ah. Cinta bisa datang kapan saja, dan aku merasakan cinta ketika aku pertama kali melihatmu. Aku yakin kau juga begitu Kibum-ah."

Pertama kali melihatmu. Ya, pertama kali melihat ketika masa orientasi sekolah yang dilaluinya beberapa minggu yang lalu—pada waktu SMU.

"Ta-tapi hyung..."

"Kumohon Kibum-ah... aku mencintaimu. Aku akan memberikan segalanya untukmu. Kumohon Kibum-ah..."

Kibum akui bahwa dia juga menyukai Choi Siwon. Laki-laki yang sangat berkarisma di Neul Paran High School. Namun apakah tak terlalu cepat?

"A-aku..."

"Kibum-ah—"

"H-hyung, kau tak perlu memberikan aku apapun. Aku hanya butuh cinta... yang tulus dari seseorang."

Kibum masih ingat, akhirnya dia menyerah kepada Siwon yang terus mendesaknya. Dia akhirnya membuat satu keputusan pada hari itu.

"Itu aku Kibum-ah. Aku akan memberikan cintaku yang paling tulus untukmu. Aku berjanji. Kumohon... jadilah kekasihku."

"..."

"Kumohon..."

"Ba-baiklah hyung..."

Kibum menerima pernyataan cinta itu.

"Aku sangat mencintaimu, Kibum-ah!"

Kibum menggeleng pelan melihat bayangan masa lalunya. Seharusnya dia tidak menerima pernyataan cinta Siwon pada hari itu. Hal itu membuatnya terkekang dan tak bisa bergerak sebebas mungkin seperti sebelumnya.

Tiba-tiba sekeliling Kibum berubah. Berubah menjadi ruang kelas dimana Kibum dapat kembali melihat dirinya ketika SMU dahulu. Ketika Siwon menghimpitnya di dinding keals yang sudah sepi dengan tatapan mata penuh amarah.

"Sudah kukatakan, jauhi Jay dan Jungmo! Mereka berdua menyukaimu!"

Kibum—di masa SMU—mendengus mendengar ucapan Siwon. Tentu dia dapat melakukan hal itu. Dia masih belum mengenal pribadi Siwon. Tentang pribadinya yang mempunyai sebuah obsesi, obsesi pada dirinya Kim Kibum. Dan obsesi itu melahirkan sebuah kontrol pada pemikiran manusia, bahwa dia akan melakukan hal apapun—termasuk tindakan kriminal—hanya untuk melindungi apa yang menjadi miliknya, obsesinya.

Dan Kibum tak tahu bahwa dia adalah obesesi bagi Siwon. Candu bagi Choi Siwon.

"Mereka akan mendapatkan pembalasan yang setimpal karena sudah berani menyentuhmu walaupun hanya seujung rambut."

Saturday

March 3rd, 2012

05:00 AM

Kibum pada masa itu tak mengerti dengan maksud dari kalimat Siwon. Namun akhirnya dia mengerti ketika Siwon kembali menemui dirinya di ruangan itu keesokan harinya. Dengan tangan yang berlumuran darah.

Kibum melihat semuanya berputar, bayangan itu berputar, berubah dari bayangan ketika Siwon marah kepadanya kini menjadi ketika Siwon menemuinya dengan darah di seluruh seragamnya.

Kibum merasa bahwa dia tak sanggup untuk melihat masa-masa lalunya. Ketika dia bersama dengan Choi Siwon.

Ketika Siwon masuk ke dalam ruangan itu, Kibum—pada masa itu—melihat bahwa sosok itu datang dengan pakaian dan wajah yang berlumuran darah. Tubuh Kibum menegang. Dia harap Siwon bercanda dengan hal ini.

"Kau milikku Kim Kibum."

Kibum mendengus. Dia tak suka dengan sifat Siwon yang selalu mengekangnya. Kemarin Jay hanya mengusap rambutnya dan Siwon terlihat sangat berlebihan ketika memarahinya. Begitu pula dengan Jungmo, kemarin Jungmo hanya mengusapi tangannya yang tak sengaja terjepit meja dan kursi, tetapi Siwon sepertinya terlalu berlebihan. Maka dari itu, Kibum menetapkan hatinya untuk memutuskan hubungan mereka hari ini juga. Hari ini tepat ketika dia baru datang ke sekolah pada pagi hari. Namun, tak disangka bahwa Siwon akan menemuinya lagi sepulang sekolah, pada sore hari. Di kelasnya yang sepi dengan baju yang berlumuran darah, yang Kibum tak tahu apakah darah itu palsu ataukah asli. "Tapi tidak untuk sekarang. Hyung ingat, aku sudah bukan milikmu lagi."

"Tapi aku mencintaimu Kibumie."

"Aku sangat membencimu."

"Kau sangat mencintaiku Kibumie!"

Kibum mengelak. "Tidak hyung! Aku tidak mencintaimu! Aku sangat membencimu!"

"Aku melakukan semua hal untukmu Kibumie."

"Jika itu yang kau katakan padaku, maka aku minta kau pergi sekarang juga."

Siwon mendekati Kibum yang berdiri di ujung ruangan, paling belakang. "Aku tidak akan melepaskanmu."

"Kau harus pergi sekarang juga!"

Siwon tertawa seperti orang yang kesetanan. Dia memperlihatkan kedua tangannya ke arah Kibum yang kini sudah bergetar ketakutan. "Aku sudah membunuh Jay. Semuanya kulakukan agar tak ada namja lain yang mendekatimu."

Kibum membuka mulutnya, lebar. Tak percaya dengan apa yang baru dikatakan oelh namja itu. "A-apa? Hyu-hyung, ka-kau gila..." Tubuh Siwon semakin mendekati dirinya dan Kibum dapat mencium bau amis dari darah segar.

Darah itu asli.

"Kau tak lihat darahnya di tanganku ini?"

Kyuhyun menggeleng dan menggigir bibir. "Ka-kau gila hyung... kau gi-gila..."

"Mungkin aku harus membunuh Jungmo setelah ini."

"Jangan membunuh Jungmo hyung! Kau gila! Aku akan melaporkanmu, hyung! Aku akan memasukanmu ke dalam penjara! Jangan—"

"Tak akan kubiarkan seseorang menyentuhmu selain aku!"

Saturday

March 3rd, 2012

06:00 AM

Kibum menutup matanya ketika bayangan itu terulang. Terulang kembali di depan wajahnya. Dia dapat mendengar ada suara kursi dan meja yang didorong atau terdorong secara paksa. Ada suara jeritan minta tolongnya dan kemudian suara sesuatu yang terdengar keras. Kibum dapat mendengar juga suara kain yang di sobek secara paksa dan juga tangis pilunya.

Itu adalah saat-saat ketika Siwon memerkosa Kibum secara paksa setelah dia menunjukkan darah Jay kepadanya.

"Hy-hyunghh... enhh to-tolonghh..."

"Engh... Kibumie... kau milikku. Hanya milikku."

Dan itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup Kibum. Ketika dia kehilangan kesuciannya secara paksa oleh mantan kekasihnya. Itulah alasan mengapa Kibum tak ingin bertemu dengan Siwon lagi. Orang itu terlalu terobsesi pada dirinya.

"Kumohon... siapapun bangunkan aku dari mimpi buruk ini."

Saturday

March 3rd, 2012

07:00 AM

Kibum membuka matanya secara perlahan ketika dia sudah tak mendengar suara desahan paksa, tangisan dan permintaan tolong dari mulutnya ketika dia masih SMU dahulu. Kibum tak menemukan apapun lagi tentang masa lalunya. Yang dia lihat di sekelilingnya lagi-lagi adalah hamparan salju yang luas.

Saturday

March 3rd, 2012

08:00 AM

Kibum menggeleng pelan melihat sekelilingnya. Mengapa dia berada di sebuah tempat dimana dia diperlihatkan kepada kenangan buruk yang sudah dia lupakan bertahun-tahun lamanya? Itu membuat dadanya sakit, kepalanya terasa pening. Dia benar-benar tak tahu, apa yang sedang terjadi disini.

Saturday

March 3rd, 2012

09:00 AM

Kibum melihat ada sosok yang berjalan ke arahnya. Dari kejauhan dan Kibum tak dapat melihat dengan jelas bagaimana atau siapa sosok itu.

Yang pasti, sosok itu berjumlah lebih dari satu. Bahkan sangat banyak.

Namun, mata Kibum menyipit ketika kumpulan sosok itu mendekat dan dia mengali salah seorang yang berjalan paling depan.

"Do-Donghae?"

Saturday

March 3rd, 2012

10:00 AM

Lee Donghae. Itu benar adalah Lee Donghae. Donghae sahabatnya yang meninggal pada tanggal Dua Februari, yang membuat pernikahannya dengan sahabatnya juga—Eunhyuk—dibatalkan. Tetapi... mengapa dia... ada disini?

"Kibum, ayo berkumpul bersama kami."

Kibum dapat mendengar Donghae berbicara kepadanya. Kibum menggeleng pelan, merasa bahwa ada yang ganjil dengan apa yang terjadi di hadapannya.

"Ayo, kau tak ingin membuat Dia menunggu, bukan?"

Kali ini yang berbicara adalah namja yang berdiri di belakang Donghae. Kibum kenal wajahnya namun tak kenal secara pribadi dengan orangnya. Dia adalah Lee Sungmin. Orang yang kabarnya dibunuh oleh Cho Kyuhyun, namja yang Changmin perjuangkan kebebasannya. Tetapi... mengapa ada mereka dengan orang-orang lain yang tak Kibum kenal?

Saturday

March 3rd, 2012

11:00 AM

"A-apa yang sebenarnya terjadi? Dimana aku sekarang?" teriak Kibum frustasi.

Donghae tersenyum "Ayo. Ikutlah bersama kami. Kau akan membuat Dia senang."

Saturday

March 3rd, 2012

12:00 PM

"Dia? Siapa Dia yang kau maksud?"

Sungmin tersenyum. "Dia adalah seseorang yang mengendalikan permainan ini, kau tahu?"

Kibum menggerenyitkan dahinya. "Permainan? A-apa maksudmu?"

Saturday

March 3rd, 2012

01:00 PM

Kibum dapat melihat tubuh Donghae dan Sungmin tiba-tiba berlumuran darah, penuh luka tusuk seperti mayat mereka. Kibum juga menyaksikan perubahan itu pada orang-orang lainnya yang berjalan di belakang tubuh Donghae.

Sekarang tubuh Kibum menegang.

Saturday

March 3rd, 2012

02:00 PM

"Kau adalah pemain selanjutnya."

Saturday

March 3rd, 2012

03:00 PM

Dan ketika kalimat itu terlontar, Kibum dapat melihat orang-orang yang juga berbalut luka dan darah berlari menuju ke arahnya. Kibum terkesiap bersamaan dengan matanya yang melebar. Dia dapat melihat orang-orang itu berbondong-bondong berlari ke arahnya. Dan Kibum benar-benar tak mempunyai waktu untuk lari.

Saturday

March 3rd, 2012

03:00 PM

Dan yang pertama Kibum rasakan adalah gigitan keras dari salah seorang manusia dengan kepala yang pecah dan mulutnya yang sobek hingga ke telinganya. Gigitan yang sangat keras dan menusuk di tangan kirinya. Kibum dapat merasakan ada darah yang mengalir dari gigitan itu. Gigitan yang terlalu menusuk untuk ukuran manusia biasa.

"Aarggh!"

"Ayo Kibum, ikutlah bersama kami."

Saturday

March 3rd, 2012

04:00 PM

Dan kemudian salah satu sosok dari banyak yang berbondong itu datang dengan sebilah pisau tajam di tangannya. Menusukkannya tepat di perut Kibum.

JLEB!

Kibum tertunduk ketika darah merembes keluar.

Saturday

March 3rd, 2012

05:00 PM

Tusukan itu terasa sangat perih dan panas. Kibum mencoba untuk berbalik, untuk kabur dari situasi itu.

JLEB!

Dan satu tusukan lagi di perut yang Kibum dapat adalah tusukan dari orang yang Kibum kenal. Sosok itu, Choi Siwon yang menyeringai.

"Kau milikku, Kim Kibum."

Saturday

March 3rd, 2012

06:00 PM

"Ikutlah bersama Dia, maka kau akan 'bahagia' disana."

Saturday

March 3rd, 2012

07:00 PM

Kibum meringis mendapatkan satu tusukan lagi di tubuhnya. Kibum menggigit giginya. Dia sama sekali tidak tahu terhadap apa yang terjadi kepadanya.

"Pergilah ke Neraka. Beruntunglah karena kau telah dipilih untuk permainan ini."

JlEB!

Ada tusukan lagi, namun kali ini di dadanya.

Saturday

March 3rd, 2012

08:00 PM

"Ennhh... a-apa y-yanghh t-terjadi pa-padakuhh?"

Kibum meringis dan mengeluarkan setetes air mata.

"A-aku pi-pikir... a-aku tak pernah me-melakukan do-dosa apapunhh y-yangh sulit u-untuk dimaafkan... t-tetapi me-mengapa Tuhan membawaku ke Ne-Neraka? E-eum? A-apa gara-gara a-aku su-sudah tak suci?"

Siwon menyeringai. Dia mnepuk kepala Kibum yang tertunduk kesakitan.

"Bukan Tuhan yang membawamu ke Neraka, tetapi Dia."

Saturday

March 3rd, 2012

09:00 PM

Sekarang ada banyak sosok yang mengelilingi Kibum. Tertawa, menggapai dirinya yang tengah kesakitan. Jika dia harus mati sekarang, dia tak apa, tetapi mengapa dia harus masuk ke Neraka?

"O-oh... aku hanya ber-bermimpi..."

Saturday

March 3rd, 2012

10:00 PM

Siwon tertawa pelan mendengar kalimat itu. Dia mendekatkan sebilah pisau yang dipegangnya ke arah kepala Kibum.

"Sebenarnya kau tak bermimpi."

Saturday

March 3rd, 2012

11:00 PM

Dan kemudian suara Siwon berubah menjadi sangat berat. "Aku akan menunjukan Neraka kepadamu."

Itu bukan Siwon. Mungkin itu adalah Dia.

JLEB!

Satu tusukan lagi, di kepalanya, berhasi membuat Kim Kibum kehilangan nyawanya.

Sunday

March 4th, 2012

12:00 AM

"Selamat tinggal Kim Kibum. Berbahagialah karena kau adalah salah satu pemain dalam permainan ini."

Siwon tertawa pelan seraya melemparkan pisaunya. Dia berjalan menjauhi tubuh Kibum bersama sosok-sosok lain—termasuk Sungmin dan Donghae. Mereka adalah korban-korban di siklus sebelumnya, yang sudah menjadi budak-Nya. Dan sosok Siwon seketika berubah, menjadi sosok seseorang yang kerap disebut dengan nama Dia.

"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."

Dan Tiga Maret-mu sudah berakhir.

.:o~o:.

ASLI! BARU SELESAI DAN BELUM DI EDIT APALAGI DI BACA ULANG!

AKU BENER-BENER BURU-BURU GARA-GARA BARU PULANG

Dibikin sekitar 3 jam yang lalu untuk memenuhi deadline

Maafkan saya, ini kelalaian saya hingga harus membuat chapter dengan mepet seperti ini

Mian kalau aneh. Maaf aku gak bisa bales review sekarang. Ayo baca next chap, aku post dua chap hari ini ^o^

SARANGHAE~ 3

THANKS UNTUK SEMUANYA :D

PS: Aku milih untuk mati kalau gak bisa menuhin jadwal untuk post FF hari ini (omongan sompral, sembarang, jangan ditiru, SAYA STRESS ToT)