Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Reemergence | March 10th, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Jay, dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO, Big Bang, U-Kiss)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : Ini chapter 3C olalala. Kasih review jika FF ini ingin dilanjutkan. Saya sangat berterima kasih untuk yang mendukung saya hingga sejauh ini *usap ingus* saya terharu~. Butuh perjuangan untuk membuatnya.

.

.

.

.

The Time: Reemergence | March 10th, 2012

.

Saturday

March 10th, 2012

07:19 AM

"Jadi, apa Siwon akan menjadi tersangka dan masuk penjara lagi?" tanya Yoochun yang duduk di sofa, menunggu Changmin yang tengah memakai sepatunya.

Changmin menggeleng seraya meraih tali sepatu yang sudah terpasang dan membuatnya simpul pita. Changmin mendongak setelah itu dan melihat Yoochun menatapnya.

"Kasus ini ditutup untuk publik. Kematian Donghae dan Kibum mempunyai saksi dan bukti, oleh karena itu kasus ini dibatasi untuk masyarakat karena dapat terbilang tidak masuk akal. Mungkin untuk sekarang polisi atau orang-orang di NCIS lainnya tidak akan percaya akan Death Cycle, tetapi yang pasti aku akan membuktikan pada mereka bahwa apa yang aku ucapkan adalah benar."

"Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang memberikanmu info di blog mereka? Apa mereka tahu tentang Death Cycle?"

Changmin berdiri dari duduknya ketika kedua sepatu sportnya sudah terpasang sempurna. "Ani. Mereka hanya tertarik dengan kisah-kisah orang-orang yang menyaksikan kerabat mereka atau siapapun mati secara tiba-tiba. Jadi mereka hanya mengumpulkan data seputar tanggal kematian, tempat dan urutan setiap tahun. Mereka tidak mengambil kesimpulan bahwa kasus ini aneh, maksudku menyangkut dengan... err Dewa Kematian."

"Tapi... tentang simbol itu?"

Changmin mendekati Yoochun yang berjalan mendekati pintu utama—melihat Changmin sudah siap berangkat ke kantor NCIS sedangkan dirinya harus pergi ke rumah sakit. "Banyak yang menganggap simbol itu sebagai simbol suatu perkumpulan—seperti freemason mungkin? Dan mereka tidak terlalu menghiraukan hal itu. Mereka lebih tertarik dengan kematian secara tiba-tiba. Lagipula, dari luka di tubuh korban banyak yang berhubungan dengan tengkuk—contohnya leher putus, cakaran di tengkuk, sayatan, luka bakar dan sejenisnya—yang membuat simbol itu tidak terlihat atau mungkin samar. Lagipula, di dunia ini tidak hanya satu orang yang mengikuti trandsetter dengan mentato simbol itu pada tengkuk leher atau bagian tubuh lain—berawal pada tahun 2001 orang-orang mulai membuat tato seperti itu. Cih, bodoh, mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan apa dan siapa."

.

.

The Time

Reemergence | March 10th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Saturday

March 10th, 2012

10:22 AM

Eunhyuk membawa keranjang belanjaan berwarna biru yang penuh dengan beberapa keperluan—berupa beberapa bungkus ramen, telur, susu, mentega, roti, selai strawberry, puding dan minuman bersoda—ke kasir di dalam sebuah minimarket. Memberikannya kepada pegawai kasir dan setelah itu mengeluarkan dompet dari dalam celana jeans-nya sementara pegawai kasir itu menghitung jumlah harga barang yang dia beli.

Eunhyuk membawa pandangannya ke arah pintu minimarket—pintu otomatis yang terbuat dari kaca transparan—dan memperhatikan keadaan di luar sana. Jalan raya yang cukup ramai di hari menjelang siang seperti ini.

Ah, rasanya hidupnya terlalu sepi sekarang. Tak ada Donghae, kekasihnya. Yang selalu menemani dia di setiap waktu hidupnya. Yang sudah mewarnai hidupnya selama ini. Yang selalu membuatnya bahagia. Dan juga tak ada Kibum, sahabat baiknya. Dan, ah, dia berat jika harus mengingat Junsu, sahabat baiknya sejak SMU. Walaupun mereka berbeda sekolah—kecuali Junho, saudara kembar Junsu, dia satu sekolah bersama Eunhyuk ketika SMU—namun mereka adalah tetangga dahulu. Otomatis walaupun dengan sekolah yang berbeda mereka masih bisa akrab, bukan?

Dirinya, Junho dan Shindong, yang bersekolah di SMU Gwangnam selalu penasaran dengan pacar Junsu yang merupakan teman satu kelas Junsu—di SMU Cheungdam. Bukan keinginan Junsu dan Junho berbeda sekolah, namun orang tua mereka yang memerintahkan, dengan alasan agar Junsu bisa mandiri, tidak manja kepada Junho maupun Eunhyuk. Hal itu membuat Junho dan Eunhyuk tak mengetahui siapa pacar Junsu yang selalu membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

Ya, tapi itu masa lalu. Eunhyuk sudah tidak penasaran pada pacar Junsu sewaktu SMU itu, toh Junsu sudah tidak ada sekarang. Setelah mendengar kabar kematian Junsu pada Desember 2007—informasi dari Shindong—Eunhyuk sudah kehilangan satu sahabatnya. Dan kini, Kibum telah pergi, begitupula dengan Donghae. Junho sudah tak ada kabar sejak mereka lulus SMU. Hanya ada Shindong, dan juga sahabat baru, si monster makan NCIS itu.

"—tuan? Tuan?"

Eunhyuk mengerjapkan matanya ketika dia tersadar dari lamunannya. Dia melihat pegawai kasir itu menatapnya bingung.

"Semuanya segini Tuan." kasir itu menujuk ke arah monitor harga yang menampilkan beberapa angka.

Eunhyuk mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada si pegawai. Setelah menghitung, pegawai itu memberikan uang kembalian dan struk belanjaan kepada Eunhyuk yang segera meraihnya dan memasukan ke dompet. Eunhyuk menyimpan kembali dompetnya sebelum membawa dua kantung plastik putih berisi barang-barang yang dibelinya.

"Terima kasih Tuan. Datang kembali."

Petugas kasir itu tersenyum ramah kepada Eunhyuk yang hanya melenggang keluar dari minimarket. Kakinya membawa dia berjalan di trotoar, menuju rumahnya yang berjarak tidak jauh dari sana. Eunhyuk berusaha membaca jam pada jam tangan di tangan kirinya, membuat dia tidak memperhatikan jalan. Dan dari arah yang berlawanan, ada seseorang juga yang tak memperhatikan langkah kakinya.

Bruk!

Eunhyuk tersentak ketika tubuhnya menabrak tubuh seseorang—beruntung dia tidak terjatuh dan juga orang yang ditabraknya tidak jatuh. Eunhyuk meringis kecil, kemudian mendongak. Dan matanya membulat lebar ketika melihat sosok seseorang yang juga memandangnya kaget disana.

"Ju-Junho?"

"Eunhyuk?"

Junho tersenyum ketika kata yang mereka ucapkan bersamaan. Eunhyuk tertawa pelan, dia merasakan Junho menariknya ke dalam sebuah pelukan erat.

"Hei, sudah lama aku tidak melihatmu!"

"Aku juga." kata Eunhyuk.

"Rasanya sudah sangat lama sekali."

Eunhyuk mengangguk pelan sebelum berucap, "Euh, Junho-ah? Bisa kau lepaskan pelukanmu? Ki-kita menghalangi orang-orang yang lewat."

Junho terkekeh sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu dan menarik Eunhyuk ke arah salah satu bangku kosong yang berada di trotoar. Mereka segera mengambil posisi duduk sebelum kembali tertawa ringan.

"Kau berubah." kata Junho. Mengacak rambut bleaching Eunhyuk—yang Junho yakin beberapa tahun yang lalu masih berwarna hitam.

Eunhyuk meletakkan kedua kantung plastik yang lumayan besar itu di samping kakinya. Dia memukul pelan lengan Junho yang tertawa.

"Kau juga berubah. Lihat, kau lebih berotot sekarang." kata Eunhyuk.

Junho dan Eunhyuk tertawa dengan pembicaraan ringan itu.

"Ah, Eunhyuk-ah, bagaimana kabarmu?"

"Aku baik." Eunhyuk menarik segaris senyuman. "Kau sendiri?"

"Aku juga baik." Senyum yang semula berada di wajah itu memudar secara perlahan. "Eunhyuk-ah, aku turut berduka atas kematian calon suamimu, aku dapat info kemarin dari Shindong dan juga teman SMU kita yang lain—sulit sekali untuk mencari kontak mereka, begitupula denganmu. Beruntung karena kemarin aku tak sengaja bertemu dengan salah satu teman kita."

Senyuman Eunhyuk berubah sangat lembut, namun masih menyiratkan kesedihan disana. Junho bergerak panik, takut Eunhyuk akan menangis.

"Ah, Eunhyuk-ah, sungguh maafkan aku, aku tidak bermaksud—maksudku aku... aku—"

"Gwenchana." Eunhyuk memotong kalimat Junho. "Aku sudah merelakannya pergi. Itu takdir Tuhan."

Junho tersenyum miris. Dia menarik kembali Eunhyuk ke dalam pelukannya dan menepuk punggung itu lembut. "Maafkan aku. Sungguh."

"Tidak apa-apa." kata Eunhyuk. "Aku juga turut berduka atas kematian Junsu, ya walaupun itu sudah bertahun-tahu—"

"Tunggu!" Junho menyela dan melepaskan pelukan itu. "A-apa kau bilang?"

"Saat kelulusan SMU—tahun 2005 lalu—pada bulan Agustus kau dan Junsu tiba-tiba pindah dari rumah kalian, banyak yang mengatakan kalian pergi ke Australia, ke tempat orang tua kalian. Dan, pada Desember 2007, aku dapat kabar dari Shindong—dia dapat kabar dari teman di SMU dulu—bahwa Junsu meninggal karena kecelakaan di Australia sana. Maafkan aku baru mengucapkan duka sekarang, aku tahu mungki—"

"Eunhyuk-ah." Eunhyuk yang berusaha menahan air matanya menatap ke arah Junho. Junho mengusap hidungnya, menarik napas dan menatap Eunhyuk lembut. "Kami kembali ke sini dari Australia dua hari yang lalu."

Eunhyuk menggerenyitkan keningnya, tak mengerti. "Ka-kami? Apa maksudmu? Kau dan orang tuamu?"

Junho menggeleng pelan seraya mengulum bibirnya. "Aku dan... Junsu. Dia masih hidup sekarang."

.:o~o:.

Saturday

March 10th, 2012

01:56 PM

Henry menatap khawatir ke arah handphone-nya. Sudah berulang kali dia menghubungi kekasihnya, Zhoumi, namun tak diangkat. Mungkin dia sedang mempunyai pasien, tapi Henry menghubunginya sejak tadi pagi, mana mungkin dia tidak punya waktu sedikit hanya untuk mengangkat telepon darinya bukan? Henry berharap pada panggilannya yang ke duapuluh tiga ini dia mendapatkan jawaban.

"Yeoboseyo."

Air muka Henry berubah senang, dia segera mendekatkan handphone-nya ke telinga dan berucap. "Ah, Mimi-ge, akhirnya kau—"

"Aku sibuk. Sampai nanti."

Tutt

Dan sambungan telepon terputus. Henry terdiam. Menjauhkan handphone-nya secara perlahan dari telinga.

"Kau tak pernah dingin kepadaku, Mimi-ge."

.:o~o:.

Saturday

March 10th, 2012

01:58 PM

"Kyuhyun-ah, bagaimana jika kita berbicara di kantin? Mungkin kita bisa minum sesuatu atau—"

Kyuhyun tersenyum menolak. Sekarang dia sedang berada di ruangan dengan pintu luar yang bertuliskan 'Dr. Zhoumi'. Tentu saja ini adalah ruangan milik Zhoumi. Zhoumi duduk di kursi yang berhadapan dengan Kyuhyun, terhalang oleh meja berbentuk persegi panjang yang penuh dengan berkas-berkas yang tersusun rapi. Zhoumi membenarkan letak kaca mata di hidungnya, tersenyum memandang Kyuhyun.

Kyuhyun membuka mulutnya sebelum berucap. "A-ah, disini saja. Aku hanya sebentar."

Zhoumi mengangguk mengerti. Kemudian mencondongkan tubuhnya, menumpukan lengannya di atas meja.

"Baiklah. Ada apa kau menemuiku? Apa kau sakit?"

"Bukan." Kyuhyun membenarkan posisi duduknya. "A-aku hanya ingin menanyakan... tentang keadaan Heechul hyung tepat ketika dia mendengar bahwa Sungmin meninggal karena aku membunuhnya."

Zhoumi bergerak kaku, curiga. Namun Kyuhyun segera mengibaskan tangannya, memperbaiki pemikiran.

"Tapi aku bersumpah demi Tuhan bahwa bukan aku yang membunuh dia!" Kyuhyun menggigit bibir bawahnya yang sudah tak terdapat luka sobekan. "Mu-mungkin kau sudah tahu tentang kasus ini dari Changmin."

"Aku tahu simbol di tengkuk itu. Aku pernah membaca dari sebuah blog."

"Dari blog?" Kyuhyun menggerenyitkan dahinya.

"Ya. Tentang Neraka dan iblis-iblis... begitulah. Aku tak terlalu mengerti. Ada nama-nama seperti Lucifer, Semyazza, Buer, euh... apa lagi ya? Oh, dan ada yang tertulis tentang perjanjian, tapi aku tidak tahu perjanjian tentang apa itu."

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya, tertarik dengan pembicaraan ini. "Apa kau ingat apa yang ditulis pada perjanjian itu?"

Zhoumi terkekeh kecil. "Mana ada perjanjian yang disebarluaskan begitu saja? Pemilik blog itu juga tidak tahu tentang perjanjian apa itu. Tapi, katanya, memang ada sebuah perjanjian pada belasan tahun yang lalu."

Kyuhyun diam sebentar, berusaha menyerap segala informasi baru ke dalam ingatannya. "Ah, kembali ke pembicaraan awal. Jadi, apa reaksi Heechul hyung ketika dia mengetahui bahwa—"

"Begini," Zhoumi membuka kacamata yang membingkai matanya dan meletakan di meja. "Sebelum Sungmin meninggal pun Heechul hyung sudah tidak suka padamu—menurut info dari kakakku, suaminya Heechul hyung. Apalagi setelah kematian Sungmin? Aku sarankan kau tidak bertemu dengan Heechul hyung. Kau tahu bukan bahwa... ah, aku pribadi saja tak ingin melihatnya marah, dia sangat menakutkan."

"Aku tahu," kata Kyuhyun pelan. "Tapi aku merasa bersalah. Apa... jika aku tak berhubungan dengan Sungmin—maksudku tidak mengenalnya—kejadian ini tak akan terjadi menimpanya? Aku seperti pembawa sial."

"Pembawa sial bagaimana?" tanya Zhoumi heran. "Begini ya, Kyuhyun-ah, jika kematian Sungmin terjadi karena kau, mana mungkin Donghae dan Kibum juga masuk ke dalam kasus—yang Changmin bilang bahwa kasus ini bukan menyangkut manusia, tetapi menyangkut akan simbol itu—padahal kau tidak pernah bertemu dengan keduanya bukan? Itu bukan salahmu dan kau bukan pembawa sial."

"Tapi... pernah kudengar dahulu, pembawa sial itu tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Apa kau tahu? Aku sama sekali tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Mendapatkan Sungmin pun harus dibenci oleh Heechul hyung, bahkan aku sendiri tak tahu alasan Heechul hyung membenciku. Dan setelah Sungmin meninggal, semakin banyak kesialan menimpaku, maksudku aku menjadi tersangka dan di penjara selama dua bulan—walau aku pernah di pindahkan ke rumah sakit jiwa dalam wilayah yurisdiksi pengadilan selama beberapa hari, atau minggu. Setelah itu..." Kyuhyun menggantungkan kalimatnya.

Aku mencintai seseorang yang sudah dimiliki orang lain.

"Setelah itu?" Zhoumi meminta Kyuhyun untuk melanjutkan kalimatnya.

Kyuhyun menggeleng, mengusap wajahnya. "Lupakan. Aku memang tak pernah bahagia."

"Kau bisa bahagia, Kyuhyun-ah." kata Zhoumi. Melanjutkan kalimat di dalam hatinya. Aku bisa membahagiakanmu.

.:o~o:.

Saturday

March 10th, 20121

10:44 PM

From : Cho Kyuhyun

Changmin, bisa kau ke rumahku? Aku tidak memaksa sekarang, besok atau lain hari pun tak apa.

Tanpa berpikir panjang, Changmin menekan tombol 'reply' setelah membaca pesan yang baru masuk ke dalam handphone-nya.

To : Cho Kyuhyun

Aku akan kesana.

Dan setelah itu dia menekan tombol 'send'.

Pandangannya kemudian teralih ke arah Yoochun—yang duduk di tempat kemudi—berkonsentrasi dengan jalanan. Changmin menaikkan lengannya, melihat jam tangan yang melingkar disana. Changmin tahu ini sudah malam, hampir pukul sebelas malam. Apakah Yoochun akan memperbolehkannya pergi ke rumah Kyuhyun? Sendiri?

Changmin tak yakin akan hal itu.

Drrt... drrt...

Changmin melihat handphone-nya dan membaca balasan dari Kyuhyun.

From : Cho Kyuhyun

Aku menunggumu.

"Pesan dari siapa?"

Changmin tersentak sebelum sempat untuk menekan tomblo 'reply' kembali. Dia menoleh, melihat Yoochun yang masih menatap ke depan.

"Te-teman."

"Kyuhyun?"

Changmin menggigit bibir. Dia tahu bahwa sekarang Yoochun akan lebih sensitif jika mendengar nama Kyuhyun.

"Eunhyuk." Changmin berusaha untuk membuat suaranya sebiasa mungkin.

Yoochun menghentikan laju kendaraannya di depan lampu merah yang menyala. Jalanan memang sepi, mengingat mereka sedang melaju di kawasan yang tidak terlalu ramai. Kendaraan lain yang satu arah dengan mobil Yoochun menerobos lampu merah, melihat tak ada kendaraan dari sisi lain di perempatan itu. Mungkin jika mereka sedang terburu-buru untuk sampai rumah, Yoochun juga akan menerobos lampu merah. Namun dia memilih untuk menghentikan mobilnya dan meremas tangannya sendiri.

"Berikan handphone-mu."

Changmin membulatkan matanya mendengar perintah itu. Tangannya bergerak, berusaha menjauhkan handphone-nya.

"Berikan handphone-mu."

Changmin masih diam mendengar perintah itu. Jarinya tergerak, berusaha menghapus pesan dari Kyuhyun dengan pandangannya yang tetap mengarah pada Yoochun.

"Berikan handphone-mu sekarang."

Kini ada nada penekanan di kalimat itu. Tubuh Changmin menegang, ketakutan. Apa Yoochun akan marah setelah ini?

Sebelum Changmin sempat menghapus pesan itu, Yoochun mendorong Changmin hingga posisi duduknya berubah, punggungnya menabrak kaca pintu mobil dengan lumayan keras. Changmin meringis, tepat ketika Yoochun berhasil meraih handphone-nya. Pandangan Yoochun berubah dingin ketika melihat layar handphone. Dia mematikan handphone itu dan melemparkannya kasar ke jok belakang.

"Jangan pernah berbohong padaku."

Kalimat itu terasa sangat dingin dan menekan. Yoochun kembali pada duduknya, melajukan kembali kendaraannya tepat ketika lampu berubah menjadi hijau.

Changmin diam. Batinnya sedang bergelut dengan keinginan dan kenyataan. Mungkin Yoochun tak menunjukkan kemarahannya dengan frontal, namun perlakuan itu cukup membuat Changmin membayangkan apabila Yoochun benar-benar marah kepadanya.

Demi Tuhan, aku benci kau yang seperti ini.

.:o~o:.

Manusia adalah makhluk egois dan serakah.

Ingin mendapatkan sesuatu yang lain ketika dia sudah memiliki sesuatu yang lebih berharga.

—Changmin

Dan manusia tidak pernah bisa menahan keinginannya untuk mendapatkan kebahagiaan, walau dia akan merusak sesuatu milik orang lain.

—Kyuhyun

Dan tentu saja, orang yang telah memiliki sesuatu yang berharga, tak ingin di rampas orang lain begitu saja.

—Yoochun.

This is the problem of love and reality

.:o~o:.

Saya belum bisa bales review m(_ _)m

Maaf baru datang sekarang

Terima kasih untuk doanya~

Saya mau menjawab dan memberi tahu beberapa hal

Umur saya 16 tahun, kelas 2 SMA (untuk yang bertanya hal ini)

Untuk umur cast, agar lebih mudah, check disini

50 Mr. Shim a.k.a Changmin's Appa (ayahnya Changmin ulang tahunnya kemarin tanggal 9 (di FF ini maksudnya))

26 Jaejoong

26 Siwon

26 Yunho

25/26 Heechul

25/26 Jungmo

25/26 Leeteuk

25/26 Yesung

25 Hangeng

25 Kangin (walau muncul di flashback doang, tetep aku kasih umur (?))

24/25 Donghae(hm, Donghae gak mungkin ulag tahun ke 25, 'kan?)

24/25 Eunhyuk

24/25 Junho

24/25 Junsu

24/25 Kibum (kayaknya Kibum umurnya cuma nyampe 24 deh -,-)

24/25 Onew

24/25 Shindong

24/25 Yoochun

23/24 Key

23/24 Ryeowook

23/24 T.O.P

23/24 Zhoumi

23 Changmin

23 Kyuhyun

23 Sungmin

22/23 Eli

22/23 G-Dragon

22/23 Henry

22/23 Jonghyun

6/7 Minho

6 Kai

5/6 Taemin

0/1 Silky a.k.a Mimax (umurnya masih bulanan)

Yang pake "/" a.k.a garis miring artinya belum ulang tahun di tahun ini. Jadi umurnya masih sekian tapi kalau udah ulang tahun jadi sekian :)

Kalau ada yang terlewat maaf~

Tidak apa-apa memberikan kritik dan sejenisnya :) kemarin saya masih childish (sekarang juga masih kayaknya)

Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan

Terima kasih karena kalian sudah menjadikan saya sebagai salah satu author favorit dan juga FF favorit :) saranghaeyoooo~

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'horn dan untuk semuanya.

With love, Yuri Masochist.

PS : Readers berkurang dari hari ke hari, apa cerita ini membosankan? :'(