Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Incarnation | March 17th, 2012
Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO, Big Bang, U-Kiss)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 3D, enjoy please~ I'm so so so so so sorry~ I will shut my f*cking mouth
.
.
.
.
The Time: Incarnation | March 17th, 2012
.
Saturday
March 17th, 2012
06:23 AM
"Umma, apa hali ini Changmin hyung akan kecini?"
Jaejoong mengarahkan pandangannya ke arah Taemin yang tengah menyuapkan sesendok nasi goreng buatannya ke dalam mulut kecilnya. Kali ini mereka hanya sarapan berdua karena Yunho sudah berangkat lebih awal, pukul empat tadi karena ada panggilan dari kantor kepolisian. Dia menggeleng, tentu saja dia tidak tahu. Jaejoong menumpukan kedua tangannya di atas meja dan menatap Taemin yang duduk bersebrangan dengannya.
"Apa Taemin dapat mimpi buruk lagi?"
Taemin berhenti mengunyah. Sendoknya menggantung di mulut walau jarinya masih memegang sendok itu. Dia mengangguk pelan menjawab pertanyaan ibunya. Mana mungkin dia berani berbohong terhadap Jaejoong, bukan?
"Tentang apa lagi, Sayang?"
"Eum, itu..." Taemin melepas sendoknya dan meletakannya di atas piring. "... Dia."
"Apa yang kali ini dikatakan Dia kepadamu?"
Taemin membungkam mulutnya. Jarinya meraih sendok dan memutarnya pada nasi goreng. Wajahnya menunduk. Taemin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangis hanya karena menceritakan hal itu. Tetapi, dia tidak kuat jika dihantui secara terus menerus.
"Dia ingin dalah, Umma."
.
.
The Time
Incarnation | March 17th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Saturday
March 17th, 2012
09:12 AM
"Apa yang kau lakukan?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika Kyuhyun membuka pintu utama dan mendapati Changmin segera masuk ke dalam rumahnya. Dia menyembulkan kepalanya keluar dan melihat sekitar, namun tidak ada apapun. Hanya taksi—yang Kyuhyun yakini telah mengantar Changmin kesini—melaju menjauhi rumah itu. Dahi Kyuhyun menggerenyit bingung. Dia menutup pintunya dan menatap Changmin.
"Ada yang mengejarmu? Ada apa?"
Changmin menggeleng menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Jadi ada apa?"
"Ganti nomor handphone-mu." kata Changmin.
Kyuhyun mengangkat salah satu alisnya. "Kenapa?"
"Seminggu yang lalu aku tidak kerumahmu, maaf. Dan juga maafkan aku karena tidak mengangkat teleponmu ataupun membalas pesanmu. Yoochun menahanku."
"Maksdumu?"
"Ganti nomormu segera. Aku akan menyimpan nomor barumu dengan nama kontak yang berbeda di handphone-ku. Agar dia tidak curiga."
Kyuhyun yang semula bingung menarik segaris senyuman di bibirnya. Dia senang, tentu saja.
Apa dirinya sudah mempunyai arti bagi Changmin?
Arti yang spesial, misalnya.
"Okay. Nanti siang aku akan membeli nomor baru." kata Kyuhyun, mendorong punggung Changmin dan membawanya ke ruang tengah.
Belum sempat Changmin mengatakan sesuatu, matanya sudah melebar ketika dia melihat kondisi ruang tengah. Banyak box-box besar, perabotan yang tersisa sedikit dan kain putih dimana-mana. Ada apa ini?
"Apa yang akan kau lakukan, Kyuhyun?"
Kyuhyun berjalan ke arah dapur, yang dibatasi oleh dinding setinggi pinggang untuk memisahkannya dengan ruang tengah. Kyuhyun membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu yang bisa diminum di dalam sana.
"Aku belum memberitahumu, maaf. Aku berniat memberitahumu kemarin-kemarin, namun kau tidak mengangkat teleponku." Kyuhyun meraih dua botol jus jeruk dari dalam sana dan menutup pintunya. "Aku akan pindah rumah."
"Pindah? Kemana?"
Kyuhyun berjalan menghampiri Changmin. Ketika jaraknya masih terpaut sekitar satu meter, Kyuhyun melemparkan salah satu botol di tangannya dan Changmin segera menangkapnya. Changmin menggerenyitkan dahi ketika Kyuhyun duduk di salah satu sofa ruang tengah.
"Si brengsek itu—" Kyuhyun melihat Changmin menatapnya bingung. Kyuhyun terkekeh pelan seraya membuka tutup botol minumannya. "Maksudku ayahku. Dia membelikanku rumah baru, lumayan jauh dari sini, tapi tenang saja, masih di Seoul kok." Kyuhyun menyesap jus jeruknya ketika Changmin berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya.
"Aku bingung, mengapa kami—pihak kepolisian maksudku—tak bisa menemukan dimana orang tuamu berada ketika kau masih di penjara?"
Kyuhyun terkekeh pelan seraya meletakkan botolnya di meja. Dia memiringkan posisi duduknya, menatap Changmin dengan senyuman. "Orang tuaku tinggal di luar negeri, juga kakak perempuanku. Mereka memegang sebuah perusahaan terkenal—maaf, aku harus menyembunyikan nama perusahaan itu. Hanya karena aku tidak mau menerusi pekerjaan mereka, mereka membenciku. Ah, tidak, sebelum itu juga mereka sudah tidak peduli terhadapku. Mereka lebih sayang kepada kakak perempuanku karena dia anak yang penurut, berbeda denganku yang sering membangkang mereka. Tapi mereka selalu mengirimiku uang, seperti sekarang. Dan beberapa hari yang lalu, ayahku mengirimku e-mail, dia mengatakan bahwa dia sudah membelikanku rumah. Awalnya aku tidak mau, tetapi kakakku memaksaku juga—lewat e-mail. Dan itu alasan mengapa kalian tidak bisa menemukan orangtuaku, karena jika ditanya pun mereka akan mengatakan bahwa mereka hanya punya satu anak, yaitu kakakku."
Changmin mengurungkan niat untuk membuka pembuka botol minumannya. Kali ini dia benar-benar tertarik dengan kehidupan namja itu.
"Jika mereka tidak peduli terhadapmu, mengapa mereka mengirimimu uang?"
"Pesan dari nenek. Sejak dahulu hanya nenek dan kakekku yang peduli terhadapku. Orangtuaku memang brengsek. Dan aku memang tidak pernah bahagia."
"Keluargamu memegang perusahaan apa?"
Kyuhyun menyesap kembali jusnya sebelum menjawab pertanyaan Changmin. "Kau tidak usah tahu. Mereka menyembunyikan identitasku, maka dari itu aku juga menyembunyikan identitas mereka. Dan tenang saja, perusahaan orangtuaku bukan perusahaan gelap jika kau curiga."
"Baiklah. Itu hak-mu." Changmin membuka tutul botol minumannya dan menyesapnya sebagian.
"Jadi, selama seminggu ini kau kemana? Diam di rumah, begitu?"
Changmin tertawa pelan. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang agak basah. "Aku?" Changmin meletakkan botol minumannya di atas meja, tanpa menutupnya. "Aku menghabiskan waktu dengan mencari alamat-alamat keluarga korban—aku mengambil dari siklus 2007 karena itu terjadi di Korea, walau di Korea Utara. Aku hanya mendapat sedikit, dan aku tak yakin mereka masih tinggal disana, ini sudah lama dari 2007. Dan juga Yoochun menahanku untuk pergi kemanapun, bahkan ke kantor NCIS pun dia menitipkanku pada Eunhyuk. Ya Tuhan, aku benci dengan sifat overprotective-nya sekarang. Dia seperti Yoochun yang tidak kukenal. Padahal aku ingin bertemu denganmu."
Ingin bertemu denganku?
Benarkah?
Kyuhyun terkekeh, membuat suasana canggung kemudian. Changmin memilih untuk meraih kembali botol jus jeruknya dan menyesapnya lebih banyak. Kyuhyun menghela napas kemudian. Matanya menerawang ke atas sedangkan bibirnya menarik sebuah garis senyuman.
Apa dia punya harapan?
Kyuhyun melihat Changmin dari sudut matanya. Namja itu tengah bergerak canggung, memilih untuk menatap langit-langit.
Sepertinya.
"A-ah, Ch-Changmin, jadi kau kesini dengan cara... kabur?"
Changmin mengangguk pelan. "Bahkan handphone-ku masih berada di tangannya."
"Apa yang membuat Yoochun menahanmu?"
Changmin terdiam beberapa saat. Menghela napas sebelum menjawab, "Kau."
"Aku?"
Jangan pura-pura bodoh, Cho Kyuhyun.
"Jadi kapan kau akan pindah?" Changmin mengalihkan topik pembicaraan.
Kyuhyun mendesah kecewa. "Lusa." jawabnya.
"Baiklah. Aku harap aku bisa mengantarmu ke rumah barumu."
Kyuhyun tersenyum tipis. "Terima kasih."
.:o~o:.
Saturday
March 17th, 2012
04:45 PM
"Umma, Changmin hyung tidak mengangkat teleponnya cejak tadi."
Taemin berjalan pelan ke arah Jaejoong yang duduk di salah satu sofa dengan telepon rumah—tanpa kabel—di tangannya. Tangan kecilnya memberikan telepon itu pada Jaejoong, menatapnya dengan wajah khawatir.
"Taemin khawatil Umma. Taemin khawatil kalena Dia mengatakan bahwa Dia ingin dalah."
Jaejoong menarik tubuh Taemin dan membawanya ke dalam gendongan. Dia mengusap rambut Taemin dengan lembut dan menciumnya beberapa kali. "Umma akan bilang kepada Appa untuk melihat keadaan Changmin hyung, okay?"
"Ta-tapi Umma, mengapa tidak kita yang kecana?"
Jaejoong menggeleng pelan. "Kau yang dapat mimpi itu. Umma takut kau yang dalam bahaya, Sayang."
.:o~o:.
Saturday
March 17th, 2012
07:55 PM
Changmin berjalan menuju rumahnya. Sepulang dari rumah Kyuhyun dengan menggunakan taksi, Changmin memilih turun dari taksi sekitar satu kilometer dari rumahnya. Dia memilih untuk berjalan kaki, sebagai alasan kepada Yoochun bahwa dia hanya mencari angin dan tak sengaja tertidur di taman, jadi dia baru pulang pukul segini. Alasan konyol yang Changmin harap Yoochun mempercayainya—walau Changmin tahu Yoochun tidak sebodoh itu.
Hatinya sedang bergelut dengan kenyataan.
Dengan sikap Yoochun yang berubah membuat Changmin semakin jatuh kepada Kyuhyun. Jangan salahkan Kyuhyun. Ini salah Changmin sendiri. Dia tidak mempertahankan cintanya, dia lebih memilih untuk menggali lebih dalam tentang Cho Kyuhyun. Untuk mengenalnya.
Kyuhyun hanya berharap menemukan kebahagiaan dan Changmin secara tidak sengaja jatuh kepada Kyuhyun, melupakan Yoochun yang telah bersamanya selama dua—hampir tiga tahun—ini. Namun, Changmin tentu saja tidak bisa melepaskan Yoochun. Dia tahu dia mencintainya. Hanya saja hatinya terbagi dua sekarang.
Yoochun dan Kyuhyun.
"Argh!" Changmin mengacak rambutnya frustasi. Mengapa dia bisa berada di situasi sulit sekarang?
Dia berusaha untuk mengacuhkan Kyuhyun, namun tetap saja dia tidak bisa. Dia terlalu penasaran, khawatir, dan juga... sayang kepada Kyuhyun? Argh, Changmin tidak tahu mengapa!
Langkahnya semakin dekat dengan pintu rumah. Matanya menyipit, berusaha mencari sosok Yoochun yang Changmin perkirakan sudah berdiri di depan pintu rumah dan bersiap untuk mengintrogasinya.
Tidak ada apapun.
Changmin mempercepat langkahnya, dan indra pendengarannya mendapatkan gonggongan Silky yang begitu keras. Tidak biasanya anjing itu menggonggong hingga terdengar keluar rumah. Hal itu membuat Changmin waspada. Dia semakin mempercepat langkahnya yang berhasil membawanya ke pintu rumah. Dengan cepat diputarnya kenop pintu sehingga terbuka. Lampu padam, namun Changmin tidak peduli. Yang sekarang berada dalam pikirannya adalah apa yang terjadi? Ada pencuri? Penyusup? Atau... sesuatu yang lebih buruk?
Changmin segera mencari sumber suara, dimana gonggongan itu terdengar sangat keras dari arah dapur. Dengan mencoba berjalan di tengah gelapnya ruangan, Changmin berhasil mencapai dapur.
"Hyung?" panggilnya, agak keras. Changmin melangkahkan kakinya, tak sengaja menendang sesuatu yang menghasilkan bunyi nyaring.
Dia mendengar ada rintihan pelan dari sana. Dan kemudian lampu menyala—walau masih berkedip-kedip. Changmin berusaha menangkap apa yang terjadi.
Semua perabotan di dapur berserakan di lantai. Silky menggonggong menghadap jendela. Dan, Yoochun...
"Yoochun hyung..."
Duduk bersimbah darah di lantai.
"Astaga! Yoochun hyung!"
Changmin segera berlari mendekati Yoochun. Kakinya menendang segala perabotan yang menghalangi jalannya. Terlihat darah itu berasal dari lengan kirinya. Sebuah sayatan panjang yang menghasilkan banyak darah.
Mata Yoochun melebar. Dia segera menarik Changmin ke dalam pelukannya—membiarkan darahnya mengotori Changmin.
"Diam! Tetap bersamaku! Ada yang datang..." katanya.
"Siapa?"
Changmin mengarahkan pandangannya ke segala arah. Silky masih menggonggong menghadap jendela. Sedangkan matanya menangkap sesuatu di salah satu dinding ruangan.
4 April
"Siapa yang menulis itu hyung? Siapa yang datang hyung? Apa yang terjadi?"
Yoochun menggeleng. Dia mengeratkan pelukannya terhadap Changmin, menjaga Changmin dari sesuatu seolah ada yang bisa merebutnya.
"Ssh, dia tidak terlihat."
Gonggongan Silky semakin keras. Changmin menatap khawatir ke arah Silky. Apa yang terjadi? Apa yang datang adalah Dia? Tapi apa yang dilakukan-Nya? 4 April? Itu masih lama! Sekarang masih tanggal 17 dan... dan apa maksudnya ini?
Sret!
Ada sekelebat bayangan hitam yang melintas di hadapan mereka. Cepat. Sangat cepat. Yoochun mengeratkan pelukannya terhadap Changmin. Dia tidak takut jika dirinya terluka lagi, mengeluarkan luka dan darah lagi. Tetapi dia lebih takut jika Changmin yang terluka disini.
Sret!
Bayangan itu melintas lagi dihadapan mereka, sangat cepat. Changmin dapat merasakan Yoochun lebih bahkan sangat mengeratkan pelukannya. Namja itu begitu melindungi dirinya.
Sret!
"Pergi kau!" Yoochun berteriak keras.
Belum sempat Changmin menoleh, dia merasakan ada seseorang yang berbisik di telinganya. Dengan suara yang berat, dan terasa panas di telinganya.
"Pelajaran pertama. Jangan pernah mencoba untuk menggagalkan siklus kematian."
"Argh!"
Setelah itu Changmin dapat merasakan ada sesuatu yang memotong jarak mereka, membuat tubuh Changmin terlepas dari pelukan Yoochun dan tersungkur. Mata Changmin dapat menangkap ada sekelebat bayangan lagi yang menabrak Yoochun. Membuat pemuda itu berteriak, merintih kesakitan. Changmin bergerak panik. Dapat dia lihat ada satu goresan lagi di tangan kirinya, menambah luka di samping luka yang sebelumnya. Luka yang datang secara tiba-tiba. Changmin segera memeluk Yoochun, berusaha melindunginya dari sesuatu yang tidak terlihat itu.
"Pergi! Pergi!"
Sekelebat bayangan itu berlarian di ruangan itu. Membuat gonggongan Silky semakin keras, mengarah ke segala ruangan. Pandangan Changmin bergerak waspada. Berusaha mencari kemana sosok itu berhenti.
Namun setelah itu, dia mendapatkan ada sesosok makhluk di hadapannya.
"Adolebit in inferno!"
Satu kalimat yang tak Changmin mengerti apa maksudnya membuat tubuhnya membeku seketika. Makhluk yang berteriak keras dengan suara berat dihadapannya membuat dia menyadari sedang berhadapan dengan siapa.
.:o~o:.
Seperti yang aku bilang diatas
I will shut my f*cking mouth
Maaf untuk segala yang aku katakan di chapter sebelumnya, maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi
Aku minta maaf ke semua pihak
Aku sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat meminta maaf yang sebesar-besarnya
Maafkan aku
Kali ini aku akan diam
Terima kasih untuk semuanya
Aku menghargai review kalian, sungguh
Dan aku mencintai kalian, benar-benar mencintai kalian
Love you guys,
Yuri Masochist
Big thanks for my beloved readers
MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari dan untuk semuanya.
