Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Strange | March 18th, 2012
Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO, Big Bang, U-Kiss)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 3E, enjoy please~ I'm so so so so so sorry~ I will shut my f*cking mouth
.
.
.
.
The Time: Strange | March 18th, 2012
.
Sunday
March 18th, 2012
01:01 AM
Changmin mendesah pelan seraya memijit pelipisnya. Setelah kejadian yang cukup mengerikan di malam itu, mereka segera bergegas ke rumah sakit. Tentu saja dengan Changmin yang masih kaku dengan gerakannya. Pasalnya, sosok yang muncul dan berteriak tepat dihadapannya cukup membuatnya ketakutan. Cukup membuat dia tidak bisa mengucapkan apapun ketika mengingat wajah sosok itu.
Demi Tuhan, sosok itu sungguh mengerikan.
Bahkan berkali-kali lipat lebih menyeramkan daripada sosok fiksi yang biasa dia tonton di film horror.
Matanya bergerak, menatapYoochun—duduk di atas ranjang—yang tengah membicarakan sesuatu dengan Jungmo. Tangan Yoochun sudah dijahit beberapa jam yang lalu, sekitar delapan belas jahitan di setiap luka. Jungmo yang menanganinya. Bayangkan saja, luka sobekan sekitar sepanjang limabelas sampai enambelas senti itu memang sangat panjang, dan mengeluarkan banyak darah. Wajar Yoochun mendapatkan jahitan sebanyak itu.
Yoochun menghentikan obrolannya dengan Jungmo, matanya menangkap Changmin yang tengah menatapnya dari dekat jendela.
"Kemari, Min." kata Yoochun.
Changmin berjalan perlahan ke arah Yoochun. Jungmo menyingkir dari tempatnya, memilih untuk menjauh beberapa langkah. Yoochun segera menarik pinggang Changmin dengan tangan kanannya dan kemudian membenamkan wajahnya di dada namja tinggi itu.
"Ssh, jangan pergi."
Changmin menggeleng, Yoochun merasakannya. Tubuh Changmin terasa kaku, mungkin gara-gara kejadian beberapa jam yang lalu. Sebenarnya mereka tidak tega untuk meninggalkan Silky di rumah. Namun apa daya? Setelah itu Changmin segera membawa Yoochun menaiki mobil, bergegas pergi ke rumah sakit. Bukannya melupakan anjing kecil mereka, namun membawa Silky ke rumah sakit sepertinya bukan hal yang benar. Lagipula Changmin harus bertindak cepat saat itu, mengingat kedua luka—yang terus mengeluarkan darah—yang Yoochun dapat di tangan kirinya.
"Kau dalam bahaya, Minnie-ah."
Changmin terdiam. Jarinya meraih helaian rambut Yoochun dan memainkannya.
Aku? Dalam bahaya? Sepertinya bukan aku, tetapi kau hyung. Aku yang menyebabkan semuanya. Dia mengatakan bahwa aku tidak boleh menggagalkan rencana kematian, walau aku sendiri tidak tahu caranya. Dan Dia mengancamku dengan melukaimu. Jika aku tidak ingin kau terluka, itu artinya aku hanya perlu duduk diam dan menunggu siapa yang mati berikutnya. Changmin menatap Yoochun perlahan. Tetapi aku tidak mungkin menghentikan semua ini. Aku tidak ingin ada korban berjatuhan lagi. Tapi... apa aku harus mengorbankan Yoochun? Demi banyak nyawa yang mungkin dapat kuselamatkan?
"Kau harus berhati-hati, Min-ah."
Changmin menggeleng pelan. "Kau yang seharusnya berhati-hati hyung."
.
.
The Time
Strange | March 18th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Sunday
March 18th, 2012
08:04 AM
Changmin membuka pintu rumahnya yang tidak ia kunci sejak kemarin malam. Gegabah memang, namun beruntung, sepertinya tak ada pencuri yang masuk ke dalam rumah mereka. Yoochun masih berada di rumah sakit. Changmin memilih pulang ke rumah. Dia berjanji hanya akan mengambil handphone-nya dan handphone Yoochun, maka dari itu kekasihnya memperbolehkan. Namun ada baiknya jika dia mandi dahulu—mengingat bajunya yang terkena darah dari Yoochun.
Changmin masuk dan mendapati Silky tertidur di ruang tengah, menghindari dapur yang masih berantakan dan penuh darah—walau tak terlalu banyak. Changmin melihat handphone Yoochun dan juga handphone-nya berada di meja ruang tengah. Changmin segera meraihnya sebelum mengambil tempat duduk di salah satu sofa.
Ada beberapa panggilan tak terjawab di handphone-nya.
27 Missed Calls
Changmin menekan tombol yang memperlihatkan daftar panggilan tak terjawab.
Missed Calls
YunJae's Home (21)
2012.03.17 04:33 PM
Jaejoong Umma (19)
2012.03.17 06:14 PM
010-3144-2908 (2)
2012.03.02 06:21 PM
Eh, nomor siapa ini?
Changmin segera menekan tombol hijau, menyambungkan dia dengan si pemilik nomor yang tidak di kenal.
Tutt... tutt... tutt...
"Yeoboseyo."
Changmin tersenyum pelan mendengar suara yang dia kenal dari sebrang line telepon.
"Oh, ini nomor barumu Kyuhyun-ah?" tanya Changmin.
Changmin mendengar Kyuhyun terkekeh disana. "Kau sudah dapatkan lagi handphone-mu?"
"Ya. Eum, aku... ada kecelakaan kecil."
"Kecelakaan? Astaga! Kau tidak apa, Changmin-ah?"
"Bukan, bukan aku." Changmin menghela napas. "Yoochun hyung."
"Oh, syukurlah."
Changmin menggerenyitkan dahinya mendengar kalimat itu.
Dari sebrang sana tersengar suara Kyuhyun yang terdengar panik, mendapati Changmin terdiam setelah mendengar kalimatnya. "Ah, ma-maksudku syukurlah kau tidak apa-apa, Minnie-ah."
Minnie?
Hanya Yoochun yang memanggilnya Minnie.
"Changmin? Hei, kau masih disitu?"
Changmin kembali dari batinnya dan menanggapi Kyuhyun. "Ya. Ah, Kyuhyun, aku akan mandi. Aku tutup teleponnya, ya?"
"Ah, okay. Katakan cepat sembuh kepada Yoochun hyung, dariku."
Changmin tersenyum tipis. "Aku tidak bisa mengatakannya."
"Huh? Wae?"
"Kau tahu bukan bahwa aku tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi denganmu? Jika aku mengatakan kau menitipkan ucapan cepat sembuh, dia akan tahu bahwa salah satu dari kita menghubungi."
Kyuhyun terkekeh pelan. "Ah, ya, kau benar."
"Kalau begitu aku tutup teleponnya sekarang. Bye."
"Bye."
Tutt
Setelah itu Changmin menekan kontak nomor rumah Jaejoong. Dia harus meminta maaf karena tidak mengangkat telepon darinya. Dan juga, mungkin ada sesuatu yang penting karena tidak biasanya Jaejoong menghubunginya sebanyak ini.
Tutt... tutt... tutt... tutt...
"Yeoboseyo."
Changmin dapat mendengar suara Jaejoong di ujung sana. Namja itu berniat untuk mengucapkan kata maaf, namun ucapan Jaejoong menyelanya.
"Ah, Changmin. Mengapa kau tidak me—"
"Maafkan aku, Umma."
"Aish! Kau tahu? Aku dan Taemin khawatir disini! Taemin mem—"
"Taemin? Apa dia bermimpi buruk lagi?"
"Jangan memotong ucapanku!"
"Maafkan aku."
"Ya, ya. Changminnie, kemarin orang yang kalian panggil dengan nama Dia datang lagi ke dalam mimpi Taemin. Dan Dia mengatakan sesuatu tentang darah. Apa kau tidak apa-apa, Changminnie?"
Darah?
Yoochun.
"A-aku tidak apa-apa, Umma. Aku baik-baik saja. Tetapi, Yoochun hyung..."
"Yoochun? Apa yang terjadi pada Yoochun? Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia baik-baik saja, Umma. Dia terluka namun sudah dijahit beberapa jam yang lalu, dan dia masih berada di rumah sakit sekarang."
"Astaga! Bagaimana bisa?"
Changmin menggeleng pelan, walau dia tahu Jaejoong tak akan bisa melihatnya. "Aku tidak tahu, Umma. Semuanya terjadi... ah aku tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti, jika Taemin bermimpi lagi kumohon segera hubungi aku."
"Aku menghubungimu namun kau yang tidak mengangkat telepon dariku!"
"Aku minta maaf, Umma. Aku benar-benar minta maaf."
Changmin dapat mendengar Jaejoong menghela napas disana. "Okay, kali ini Umma maafkan. Tetapi tidak untuk selanjutnya!"
Changmin tersenyum. "Gomawo Umma."
"Ya, ya. Ah, apa kau akan kesini hari ini? Taemin ingin menemuimu."
"Jika aku tidak sibuk, aku akan kesana. Tetapi aku tidak berjanji."
"Okay. Katakan semoga lekas sembuh kepada Yoochun."
"Tentu."
Dan setelah itu sambungan telepon terputus secara sepihak.
.:o~o:.
Sunday
March 18th, 2012
12:14 PM
Changmin terngah berdiri dihadapan rumah Jaejoong, setelah menekan bel sebanyak dua kali. Sebelumnya dia telah kembali ke rumah sakit, memberikan handphone Yoochun dan meminta izin kepadanya untuk pergi ke rumah Jaejoong. Sebagai jaminan, dia menyuruhnya untuk menghubungi Jaejoong. Untuk memastikan bahwa Changmin memang pergi kesana, dan Yoochun setuju dengan hal itu.
Cklek
Ketika pintu terbuka, Changmin mendapati Taemin segera memeluk tubuhnya. Changmin tersenyum, dia mengangkat tubuh Taemin dan menggendongnya.
"Hyung jahat!"
Changmin segera mencium helaian rambut anak kecil itu berkali-kali. Meminta maaf. Changmin membawanya masuk ke dalam, menuju ruang tengah.
"Sayang, siapa yang datang?"
Ada suara Jaejoong dari arah dapur. Changmin menurunkan Taemin di atas sofa ketika anak itu menjawab pertanyaan ibunya.
"Changmin hyung, Umma."
"Okay, Umma akan membuat makan siang."
Changmin tersenyum pelan seraya mengambil tempat duduk di samping Taemin. Jarinya terulur, mengacak rambut lembut itu lagi.
"Hyung, kenapa kemalin tidak mengangkat telepon daliku?"
"Ah, maaf Taeminnie. Ada sesuatu yang membuatku tak bisa mengangkat telepon darimu. Ah, jadi apa kemarin Dia datang lagi? Eum?"
Taemin mengangguk seraya memeluk lengan Changmin. Changmin menariknya ke dalam pelukan, menenangkannya.
"Boleh hyung tahu ceritanya?"
Taemin mengangguk, tentu saja. Dia sudah berjanji untuk selalu menceritakan seluruh mimpinya mengenai Dia kepada Changmin.
"Dia berbisik kepadaku, hyung. Sualanya menyelamkan. Dia bilang ingin dalah. Aku takut kau celaka, hyung."
Changmin mengecup dahi Taemin ketika dirasakannya tubuh anak itu bergetar. Mencoba menahan tangis.
"Kau tahu bagaimana rupa-Nya, Sayang?"
Taemin menggeleng. Dia menggigit kuku jempolnya. "Hanya bayangan. Tetapi menyelamkan, hyung."
"Taemin-ah."
Changmin dan Taemin mengarahkan pandangannya ke sumber suara, ke arah Jaejoong yang berdiri dengan apron merahnya. Jaejoong menghampiri Taemin dan menepuk kepala anak itu.
"Aish, bukankah Taemin sudah janji kepada Umma untuk tidak menggigiti kukumu?" kata Jaejoong seraya menarik lembut jempol Taemin menjauhi mulutnya. Taemin berdiri, melepaskan dirinya dari pelukan Changmin. "Kau mau memilih es krim untuk pencuci mulut?"
Taemin mengangguk gembira. Dia loncat dari arah sofa dan segera berlari ke arah dapur. Sangat cepat dia menghilangkan rasa takutnya dengan rasa gembira.
Jaejoong tersenyum dan kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Changmin, yang juga menatapnya.
"Changminnie," kata Jaejoong lembut. "Aku khawatir kepada Taemin."
"Aku juga Umma." jawab Changmin ketika Jaejoong duduk di sampingnya.
"Dia masih kecil, Changmin. Dia masih terlalu kecil untuk dihantui mimpi-mimpi seperti itu."
"Aku tahu, Umma." kata Changmin. "Aku sedang berusaha untuk menghentikan semua ini. Aku mencobanya, Umma."
Jaejoong menggeleng pelan. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Sejauh ini aku sudah mulai bisa mempelajari bagaimana siklus ini terjadi." ucap Changmin, membuat Jaejoong menggerenyit bingung. "Umma, kita benar-benar tidak sedang menghadapi hal sepele. Kita menghadapi seorang... Dewa."
.:o~o:.
Sunday
March 18th, 2012
03:05 PM
Changmin berjalan menyurui trotoar.
Banyak bunga-bunga yang mulai bermekaran, mengingat sekarang sudah memasuki musim semi. Suasananya hangat, lebih nyaman melewati musim ini dengan kekasih. Namun, berbeda dengan Changmin. Dia masih mengalami pergulatan batin.
Keinginannya sejak beberapa bulan yang lalu adalah mengetahui cara kematian orang-orang dalam Death Cycle. Cara mengetahui urutannya, mencari siapa korban selanjutnya dan juga cara menghentikannya.
Dia ikut campur. Bahkan perbuatannya terlalu ikut campur.
Changmin takut. Dia mengatakan kepadanya bahwa kemarin adalah pelajaran pertama untuknya, dengan cara menyakiti Yoochun. Apa jika dia terlalu menyelami siklus ini sesuatu yang lebih buruk akan terjadi kepada Yoochun?
Dia tidak mau hal itu terjadi, namun dia juga tidak mau melihat korban selanjutnya.
Dia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu saat jika saja yang akan mati selanjutnya adalah dirinya. Atau Yoochun. Bahkan Kyuhyun.
Aish! Kenapa bisa menjadi sesulit ini?
Srrr
Changmin merasakan ada yang mengalir dari dalam hidungnya. Jarinya terangkat, segera menyentuh sesuatu yang mengalir itu. Dan ketika Changmin melihat jarinya, agak tersentak karena dia melihat darah membasahi jarinya.
Mimisan.
Tetapi... mengapa tiba-tiba?
"Awas!"
Bruk!
Ckiiit
BRAK!
Changmin merasakan ada seseorang yang mendorong tubuhnya, membuat mereka terjatuh menghempas bagian lain di trotoar dengan sangat keras. Kemudian yang Changmin dengar adalah suara debuman keras disertai dengan teriakan orang panik. Gerakan tadi membuat Changmin menutup matanya, refleks. Dan sekarang dia mencoba membuka mata ketika mendengar suara deru napas seseorang yang terengah, yang berada di atas tubuhnya.
"Gwenchana? Gwenchana?"
Orang yang berada di atas tubuh Changmin bertanya dengan panik. Changmin membelokkan pandangannya, melihat ke sumber suara yang lebih bising. Ada mobil yang menabrak sebuah salon. Tabrakan yang sangat keras melihat kaca—dinding—salon yang pecah seluruhnya dan juga bagian depan mobil yang penyok.
Itu adalah tempat Changmin berdiri sebelumnya.
"Hei! Kau tidak apa-apa? Astaga! Hidungmu berdarah!"
Changmin mengembalikan pandangannya ke arah laki-laki yang menyelamatkannya. Jika dia tidak mendorong tubuhnya menjauh, mungkin dirinya sudah terapit oleh dinding salon dan juga bagian depan mobil itu.
Mungkin dia akan mati?
"Gw-gwenchana."
Kepala Changmin terasa agak berat, mungkin gara-gara benturan kepalanya yang menabrak jalan. Laki-laki itu menyingkir dari atas tubuh Changmin. Dia segera mengambil posisi duduk dan kemudian membantu Changmin untuk melakukan hal yang sama.
"G-gomawo." kata Changmin pelan.
Orang itu segera mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Dia menyeka darah yang masih mengalir dari lubang hidung Changmin dengan hati-hati.
"Apa kau terluka di bagian lain?"
Changmin menggeleng tidak tahu. Namun ketika dirasakan sikut kirinya terasa perih, Changmin mengangguk.
Orang itu mengangkat lengan Changmin secara perlahan. Menemukan sebuah luka di sikut kirinya. Luka sobekan yang mengeluarkan darah. Mungkin karena gesekan dari sikut ketika mereka jatuh menabrak trotoar.
"Hidungku memang sedang berdarah, bukan karena hal ini."
Orang itu mengangguk mengerti. Dia melirik ke tempat tabrakan—yang berjarak kurang dari satu meter dari mereka—melihat orang-orang yang berupaya mengeluarkan si pengemudi.
"Orang itu pingsan." kata Changmin.
"Mereka akan membawanya ke rumah sakit." Laki-laki itu mengembalikan pandangannya ke arah Changmin. "Kau tidak apa-apa? Kepalamu terbentur keras tadi. Maafkan aku. Aku sangat panik."
"Aku tidak apa-apa. Aku justru sangat berterima kasih kepadamu. Terima kasih."
"Sama-sama." kata laki-laki itu. "Oh, namaku Kim Junho. Namamu?"
"Ah, aku? Aku Shim Changmin. Terima kasih sekali lagi."
Junho tersenyum. Dia mengangkat tubuhnya berdiri dan setelah itu membantu Changmin.
"Aku antar kau ke rumah sakit."
"Tidak usah." Changmin tertawa pelan. "Aku akan kesana sendiri."
"Tapi bagaimana jika kau—"
"Kekasihku bekerja disana. Aku tidak ingin merepotkan. Sungguh, terima kasih karena telah menolongku."
"Tapi—"
"Aku tidak apa-apa. Lagipula ini luka kecil. Yang seharusnya dikhawatirkan adalah si pengemudi itu."
"Aku tahu." Junho mengangguk mengerti. Matanya melihat ke arah orang-orang yang sibuk menunggu ambulans datang, berusaha mempertahankan si pengemudi yang pingsan itu dengan nyawanya. Junho mengembalikan pandangannya dan menatap Changmin. "Dimana kekasihmu bekerja?"
Changmin tersenyum. "Seoul National University Hospital."
"Ah, rumah sakit besar itu?"
Changmin mengangguk. "Ne."
.:o~o:.
Sunday
March 18th, 2012
03:28 PM
Changmin berjalan perlahan di koridor rumah sakit. Sikutnya terasa perih, sama sekali belum diobati. Orang yang hampir menabrakanya tadi sudah dilarikan ke ruang Unit Gawat Darurat—di rumah sakit ini—untuk penanganan awal yang dapat menyelamatkan nyawanya.
Ketika langkahnya berhasil membawa dia ke ruangan dimana Yoochun dirawat—untuk beberapa waktu karena luka jahitan yang masih basah—Changmin segera masuk ke dalam sana. Dia melihat Yoochun tengah memainkan handphone-nya. Namun ketika Changmin melangkahkan kakinya masuk, Yoochun segera menoleh. Yoochun tersenyum. Belum sempat dia mengatakan apapun, matanya sudah menangkap sesuatu yang ganjil.
Gerakan kaku dari tangan kiri Changmin. Bajunya yang sedikit kotor dan kusut dan juga bekas merah—yang samar—di atas mulutnya.
"Apa yang terjadi, Changmin-ah?" tanya Yoochun panik.
Changmin menggeleng pelan dan memilih untuk duduk di kursi samping ranjang Yoochun. Yoochun mengambil posisi duduk, meraih tangan kiri Changmin yang membuat pemuda itu meringis.
"A-aish... ap-appo..."
"Astaga! Apa yang terjadi kepadamu, Minnie-ah?"
Changmin menggeleng lagi ketika Yoochun memiringkan tangannya sedikit dan melihat luka dari sana. Yoochun panik. Dia berniat turun dari ranjang namun Changmin menahannya.
"Aish, apa yang terjadi?"
"Tadi aku hampir tertabrak mobil."
Yoochun mendorong tangan Changmin yang menahannya. Dia segera turun dari ranjang dan berniat untuk mengambil beberapa kapas dan obat merah yang terletak di kotak P3K—yang tergantung di salah satu dinding, antisipasi dokter jika ada luka kecil di setiap ruangan.
"Aish, sudah kukatakan kau harus berhati-hati!"
"Maafkan aku." kata Changmin pelan.
Dia pasrah saja ketika Yoochun menariknya ke kamar mandi, untuk mencuci lukanya sebelum memberikan obat merah dan membalutnya dengan kapas dan plester.
Yoochun segera menyalakan keran wastafel, membiarkan air mengalir dari sana dengan volume yang agak keras. Dia mendekatkan sikut Changmin ke aliran air, membuat Changmin harus menunduk untuk memudahkan Yoochun melakukannya.
"Syukurlah kau tidak mengalami luka serius." kata Yoochun, masih sibuk dengan pekerjaannya membersihkan luka itu dengan hati-hati.
Changmin meringis kecil ketika dirasakannya luka itu bersentuhan dengan air yang cukup dingin. Terasa perih untuknya. Changmin dapat melihat darahnya mengalir ke arah saluran pembuangan.
"Aku bersyukur ada yang menolongku, hyung. Jika orang itu tidak ada, mungkin aku sudah tertabrak dan aku pasti... entahlah." kata Changmin.
Dan setelah itu otaknya berputar. Mengingat sesuatu ketika dia memutar kembali kejadian saat orang itu memberitahukan namanya.
"Oh, namaku Kim Junho. Namamu?"
Tunggu...
Kim Junho?
Changmin tidak bodoh. Dia tahu bahwa di Korea tentu saja banyak orang yang bernama Kim Junho. Namun, dia bisa berharap jika Kim Junho ini mempunyai saudara kembar bernama Kim Junsu yang merupakan korban di siklus tahun 2007! Itu mungkin bisa terjadi! Jika benar, itu artinya Changmin berhasil menemukan keluarga korban yang mungkin dapat memberikannya informasi.
"—padamu. Aku tidak mau kau terluka atau apapun. Kau pikir aku tidak apa-apa melihatm—"
Kalimat Yoochun terdengar samar di indra pendengarannya. Benaknya lebih memilih untuk memperdebatkan sesuatu.
Aish! Kapan aku bisa bertemu lagi dengannya dan menayakan hal ini?
"—ini. Kau mengerti, Shim Changmin?"
Changmin terkesiap. Dia melihat Yoochun yang menatapnya.
"Ne?"
Yoochun memandangnya, mencoba untuk sabar. Ketika dirinya mengkhawatirkan dia, kekasihnya itu lebih memilih untuk melamun. Aish!
.:o~o:.
Maaf belum bisa membalas review
Saya menghargai apapun yang kalian berikan di kotak review
Dan juga, saya benar-benar meminta maaf untuk pihak yang merasa sakit hati atas ucapan saya
Sungguh, saya minta maaf
With love, Yuri Masochist
Big thanks for my beloved readers
MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri |VitaMinnieMin |Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey dan untuk semuanya.
Aku menganggap kalian sebagai teman, bukan sebagai author dengan readers
