Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Groundless | March 21st, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO, Big Bang, U-Kiss)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 3F :)

.

.

.

.

The Time: Groundless | March 21st, 2012

.

Wednesday

March 21st, 2012

04:19 AM

Changmin mengerjapkan matanya berulang kali. Tidak terganggu oleh suara ataupun hal lain yang biasanya dapat membangunkan orang-orang. Dia hanya berpikir bahwa ini sudah waktunya untuk bangun.

Ketika dia membuka mata sepenuhnya dan mengambil posisi duduk, Changmin dapat melihat Yoochun sedang membuka gorden besar—yang menghalangi kaca sebagai dinding—berhadapan dengan ranjang. Hal itu membuat Changmin bisa melihat keadaan pada pukul empat pagi seperti ini. Masih gelap, tentu saja.

"Min, kau akan ke kantor NCIS sekarang?" tanya Yoochun, yang menyadari bahwa Changmin sudah bangun—walau Yoochun sama sekali tak menoleh ke belakang untuk melihat Changmin.

Changmin mengacak rambutnya dengan tangan kanan, menyingkap sedikit selimutnya membuat celana tidurnya terlihat.

"Ani. Wae Hyung?"

Yoochun berbalik dan melihat Changmin dalam keadaan baru bangun tidurnya. Yang dapat menggoda siapapun yang melihatnya. Beruntung karena ini masih pagi—bahkan sangat pagi—sehingga belum ada orang yang berkeliaran di luar, di sekitar kompleks perumahan tempat tinggal mereka. Yoochun segera menghampiri Changmin, naik ke atas ranjang.

"Hari ini ikut saja ke rumah sakit, ya? Aku takut jika kau sendirian."

Changmin hanya mengangguk saja. Lagipula dia perlu berbicara dengan Jungmo dan Zhoumi, mengenai foto-foto hasil autopsi dari mayat ketiga orang korban di siklus kematian. Dia butuh foto-foto yang lengkap, untuk jaga-jaga jika dia butuh sesuatu untuk di pelajari. Maka dari itu dia harus ikut ke rumah sakit.

Belum sempat Changmin melakukan apapun, Yoochun sudah membawanya ke dalam sebuah ciuman. Sudah cukup lama juga mereka tidak melakukannya. Berniat untuk membalas ciuman itu ketika Yoochun mendorong tubuhnya kembali berbaring di ranjang, Changmin membatalkan niatnya. Dia mengingat akan jahitan yang masih basah di lengan Yoochun—walau sekarang di perban. Persetan dengan luka di sikutnya, dia tidak peduli. Itu hanya luka kecil. Berbanding terbalik dengan luka milik Yoochun.

Changmin mendorong dada itu dan membuat ciuman terlepas. "Aish! Tanganmu!"

"Biarkan." Yoochun mendekatkan kembali bibirnya ke bibir Changmin namun namja di bawah tubuhnya itu mendorong kembali dadanya. "Wae?" tanya Yoochun. "Kita sudah hampir satu bulan tidak melakukannya, bahkan aku yakin sudah lebih dari satu bulan."

Changmin memutar kedua bola matanya. Syukurlah, Yoochun mulai kembali seperti biasa karena beberapa hari ini Changmin memang menjauhi Kyuhyun—tentu saja hanya dihadapan Yoochun. Di belakang, mereka masih berkomunikasi lewat telepon. Dengan kontak nomor baru Kyuhyun yang diberi nama Woo Janghyun. Membuat Yoochun sama sekali tidak curiga ketika Changmin mengatakan bahwa itu adalah nomor teman SMU-nya dahulu.

Yoochun segera mencium kembali bibir Changmin karena tidak mendapat tanggapan apapun darinya. Changmin mendorong kembali dada Yoochun, membuat Yoochun dengan terpaksa melepas kembali ciumannya.

"Wae, Chagiya?"

Wajah Changmin bersemu merah dipanggil seperti itu. Sudah lama dia tidak mendengar suara sexy dari kekasihnya, yang memanggilnya dengan nada yang sangat menggoda dirinya.

"Tanganmu. Ya ampun, luka itu masih basah!"

Yoochun menggeleng pelan. Wajahnya segera menelusup ke perpotongan rahang dan bahu Changmin. Menciumi lehernya dengan lembut.

"Kan sudah di perban." kata Yoochun.

Changmin memutar kedua bola matanya lagi. Tangannya kembali mendorong dada Yoochun, membuat jarak terbentang lagi diantara mereka.

"Astaga, Min-ah. Apa lagi? Aku rindu padamu, Minnie."

"Setidaknya tutup dulu gorden itu."

Yoochun menyeringai. Dia menarik selimut yang hampir terjatuh dari atas ranjang dan menutupi tubuh keduanya.

"Dengan begini tidak ada yang lihat, bukan?"

"Aish, tetap saj—empphh... hnnhhh..."

.

.

The Time

Groundless | March 21st, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Wednesday

March 21st, 2012

09:27 AM

Changmin dan Yoochun sudah sampai di rumah sakit beberapa menit yang lalu.

Changmin duduk di salah satu kursi yang berada di ruangan Yoochun. Bukannya Yoochun sedang tak sibuk, tak menangani pasien, namun Jungmo melarangnya untuk menangani pasien sejauh ini, mengingat luka jahitan yang baru berumur empat hari itu. Yoochun menerima saran dari temannya itu, mengingat semuanya untuk kebaikannya sendiri. Dan yang dia lakukan sekarang hanya duduk di ruangannya, mengurusi beberapa dokumen tentang penyakit-penyakit dan sebagainya, dan tentu saja mengawasi Changmin.

"Berapa lama lagi waktu istirahat?" tanya Changmin.

Yoochun mengangkat pandangannya dari kertas-kertas dan menatap Changmin yang duduk di hadapannya. Kemudian matanya melirik ke arah jam dinding di ruangan itu dan setelah itu mengembalikan pandangannya. "Beberapa jam lagi. Kenapa?" tanya Yoochun. Terkekeh pelan sebelum kembali bertanya. "Apa kau lapar? Astaga, kita baru saja sarapan beberapa jam yang lalu."

"Bukan Hyung!" Changmin memutar kedua bola matanya. "Aku ingin menemui Jungmo Hyung dan juga Zhoumi-ge."

"Untuk? Kukira kau masih lapar." kata Yoochun seraya meletakkan kertas-kertasnya di atas meja. "Karena sebenarnya aku masih 'lapar'."

"Aish! Ada hal yang harus kubicarakan mengenai mayat Sungmin, Donghae dan Kibum! Ish!"

Mendengar jawaban dari wajah yang sedikit bersemu merah itu membuat Yoochun tertawa puas. Tak ada hal yang lebih menyenangkan dalam hidupnya selain berdua bersama Changmin, walau hanya sekedar menggoda kekasihnya.

"I love you." kata Yoochun lembut.

Changmin tersenyum. Namun, ada yang mengganjal di hatinya ketika dia mengatakan, "I love you too."

.:o~o:.

Wednesday

March 21st, 2012

12:14 PM

"Maaf karena menyita waktu kalian, Jungmo Hyung, Zhoumi-ge."

Jungmo dan Zhoumi mengibaskan tangannya. Tanda mereka tidak keberatan. Yoochun tersenyum sebelum menyesap jus jeruknya. Siang ini mereka tengah berada di kantin yang biasa digunakan untuk para dokter atau perawat lainnya beristirahat. Bukannya tidak sibuk, namun untuk dokter muda seperti Zhoumi, Yoochun dan Jungmo tentu saja tidak terlalu diberatkan untuk menangani pasien. Mereka belum terlalu lama menjadi dokter, lagipula mereka hanya ahli di bidang-bidang tertentu.

"Aku ingin menayakan beberapa hal kepada kalian." kata Changmin, menatap dua orang namja berseragam yang duduk di hadapannya dengan makan siang mereka. "Apa kalian menemukan sesuatu yang ganjil pada tubuh Sungmin, Donghae ataupun Kibum, selain tanda misterius di tengkuk mereka?"

Jungmo menatap Zhoumi yang duduk di sampingnya. Memang si namja berambut merah yang lebih menangani ketiga mayat itu, tentu saja dia lebih tahu.

"Sejauh yang aku tahu tidak ada. Hanya itu saja yang aneh." Zhoumi menyesap teh miliknya. "Oh, ada! Tubuh mereka seperti membeku, maksudku seperti mereka telah berbaring di salju selama beberapa waktu. Setahuku mereka semua meninggal di dalam ruangan, benar bukan? Jadi sedikit ganjil juga melihat tubuh yang membeku ketika mereka sama sekali tak tersentuh salju sedikitpun."

Changmin mengangguk mengerti. Memproses informasi itu ke dalam ingatannya.

Jungmo menambahkan. "Yang lebih ganjil adalah luka mereka. Darimana datangnya? Ayolah, bagaimana bisa ketika ada orang yang di sandra dan di sekeliling dia dikelilingi banyak orang sementara dia tiba-tiba mati dengan luka tusuk yang tidak tahu darimana asalnya? Astaga! Itu sangat aneh dan menakutkan!"

"Aku setuju padamu." kata Zhoumi lagi. "Aku kasihan kepada Kyuhyun. Dia tidak bersalah namun di penjara, ya walau dia sudah bebas sekarang."

"Kita ambil contoh Donghae. Ada kamera CCTV yang merekam pergerakan dia, dan kemudian dia tiba-tiba mati. Ya Tuhan, bagaimana bisa ada kejadian seperti itu?"

Yoochun mengangguk setuju. "Kibum lebih mengagetkan. Aku menyaksikan bagaimana luka itu tiba-tiba muncul dan membawa nyawanya pergi."

"Aku tahu, aku tahu." Changmin mengikuti permbicaraan. "Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana bisa mereka mendapatkan luka-luka itu?"

Jungmo tertawa kecil seraya mengangkat tangannya. "Kuserahkan tugasku kepada detektif sepertimu. Aku tidak tahu apapun. Aku hanya seorang dokter muda yang beruntung karena ketika SMU dahulu tidak dibunuh oleh Siwon."

"Aish, aku jadi takut mati." ucap Zhoumi.

Yoochun tertawa kecil mendengarkan ocehan kedua namja yang duduk dihadapannya.

Ketika Changmin memakan makanannya, Zhoumi kembali membuka suara dengan topik yang berbeda. "Oh ya, Changmin, bagaimana kabar Kyuhyun?"

Changmin berhenti menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Ekor matanya melirik ke arah Yoochun di sampingnya, dan dia menangkap bahwa kekasihnya itu tengah menatapnya dengan tajam. Changmin berusaha bersikap biasa dengan cara memasukan sendok itu ke dalam mulutnya dan mengunyah makanan.

"Aku sudah lama tidak melakukan kontak dengannya."

Changmin berharap Yoochun ataupun Zhoumi dan Jungmo tak menangkap nada bohong dari suaranya.

"Benarkah?" kali ini Yoochun yang bertanya.

Changmin menoleh ke arah Yoochun, mencoba mengelabuinya. "Kau tidak percaya padaku? Selama ini kau lihat sendiri bukan bahwa aku hanya diam di rumah, kau mengawasi pergerakanku, kau tidak melihat aku ataupun Kyuhyun saling menghubungi dan... kau bisa menilai sendiri, 'kan?"

"Jadi kemana kau pergi sebelum sosok itu menyerangku? Menghasilkan luka disini?"

Changmin mencoba membiasakan dirinya dengan sandiwara ini. "Aku mencari angin keluar dan tak sengaja tertidur di taman. Maafkan aku tak memberitahumu."

"Jangan berbohong padaku."

Ukh! Nada dingin itu lagi? Kemana Yoochun yang tadi pagi? Yang mengucapkan kata cinta kepadanya? Kemana dia yang Changmin kira sudah kembali lembut seperti biasanya?

Ini seperti sebuah pelajaran untukmu, Shim Changmin.

Jangan pernah membiarkan Yoochun mendengar nama Kyuhyun.

"Aku tidak berbohong." kata Changmin. "Aku tidak berani berboh—"

"Jika kau tidak berani membohongiku, lalu apa yang kau lakukan ketika di mobil waktu itu? Kau mengatakan bahwa pesan yang kau terima dari Kyuhyun adalah pesan dari Eunhyuk."

"I-itu..."

Jungmo dan Zhoumi yang menyaksikan hal itu mulai melihat hal yang tidak beres. Mereka saling berpandangan, bingung harus melakukan apa.

"Kau bisa menjelaskan sesuatu padaku?"

"A-aku..."

Zhoumi yang merasa bersalah karena sepertinya dia membawa mood Yoochun menjadi jelek memilih untuk melakukan sesuatu.

"Aku tidak bermaksud—maksudku... Yoochun-ah, tenangkan dirimu. Apa kau tidak percaya kepada pacarmu, eoh?"

"Aku hanya bertanya." kata Yoochun dingin.

"Tapi pertanyaanmu seolah menyudutkan Changmin. Ayolah, kulihat daritadi kalian tertawa berdua, sungguh membuat iri siapapun. Tetapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau bertanya kepada Changmin seolah-olah dia be—"

"Aku tidak memintamu ikut campur, Zhoumi."

"Maaf jika aku ikut campur. Dan maaf juga aku menanyakan Kyuhyun kepada Changmin. Itu pertanyaan refleks, okay? Aku sedang teringat kepada namja manis itu dan—"

"Namja manis?" Changmin mengangkat salah satu alisnya. "Jangan bilang kalau kau menyukai Kyuhyun, Zhoumi-ge?"

Pertanyaan refleks dari Changmin untuk Zhoumi tentu membuat Yoochun semakin berada di ambang kesabarannya.

"Bukan begitu." Zhoumi berusaha mengelak. "Aku hanya spontan saja mengatakan bahwa dia namja manis, karena kenyataannya memang begitu, bukan?"

"Oh, jadi Zhoumi-ge ingin merebut Kyuhyun darik—" Changmin yang tersadar dari kalimatnya segera menatap Yoochun dengan hati-hati. "Bu-bukan maksudku..."

"Lanjutkan kalimatmu." Perintah Yoochun dengan nada dingin.

Jungmo dapat merasakan atmosfir menyeramkan di sekitar mereka.

Oh, jangan katakan jika Yoochun akan marah sekarang.

"Ma-maksudku—"

"Lanjutkan kalimatmu. Aku ingin mendengarnya."

Demi Tuhan! Changmin ingin sekali mengutuk mulutnya yang sama sekali tidak bisa dia kendalikan hanya dengan mendengar nama Cho Kyuhyun!

"Maafkan aku. A-aku hanya tak ingin ji—"

Pandangan itu begitu dingin dan menusuk.

"Lanjutkan kalimatmu."

Zhoumi kembali bertindak. "Demi Tuhan maafkan aku! Aku tidak ada niat untuk memancing siapapun!"

Jungmo mengangguk dan memilih untuk bersuara. "Aku yakin maksud dari kalimat Changmin karena dia tidak ingin Kyuhyun—yang sudah dia anggap sebagai teman dekat atau sahabat—direbut oleh Zhoumi, karena kita semua tahu bahwa Zhoumi telah memiliki Henry." Jungmo menatap Zhoumi tajam. Jujur saja, dia tidak akan suka jika seandainya Zhoumi benar-benar menyukai Kyuhyun. Dia tidak ingin Henry yang lembut itu disakiti. Ayolah, semua orang pun akan miris melihat Henry andaikata itu terjadi.

"Aku tidak meminta kalian berdua ikut campur ke dalam masalah pribadi kami."

"Kami tidak ikut campur. Kami hanya meluruskan." kata Jungmo.

"Aku hanya refleks berbicara. A-aku kasihan jika saja Henry dicamp—"

"Jangan mengambil kalimat dari Jungmo. Aku bertanya padamu untuk mendengar kembali kalimatmu. Kalimat yang masih menggantung itu. Aku ingin mendengarnya."

"Demi Tuhan, jangan kau tekan Changmin seperti ini!" kata Jungmo.

Yoochun menggertakan giginya, tanda dia benar-benar kesal.

"Aku tidak akan mengulangi kalimatku yang memintamu untuk melanjutkan kalimatmu, Shim Changmin."

Ya Tuhan, kau akan marah!

"Aku... sudah kukatakan bahwa aku teringat kepada kekasihnya Zhoumi-ge."

Yoochun mendengus. "Apa kau tak mengerti dengan pertanyaanku? Aku memintamu untuk melanjutkan kalimatmu, apakah itu sulit?"

Belum ada. Belum ada bentakan sama sekali. Tapi nada sedingin itu... sungguh, Changmin ingin mencekik dirinya sendiri sekarang juga.

"Kau harus menjernihkan pikiranmu, Yoochun."

Jungmo yang sudah tidak tahan dengan kondisi seperti itu memilih untuk berdiri, meraih tangan Changmin dan membawanya pergi menjauhi Yoochun dan Zhoumi. Yoochun menggertakan giginya semakin keras. Dia juga tidak tahu mengapa, yang pasti dia sudah sangat sensitif sekali jika mendengar nama Cho Kyuhyun. Hal itu membuatnya ingin membunuh manusia saat itu juga.

"Aku benar-benar minta maaf, Yoochun-ah."

Yoochun melihat Zhoumi yang memandangnya dengan tatapan bersalah. Yoochun menggenggam tangannya keras sebelum memilih untuk pergi juga dari tempat itu.

.:o~o:.

Wednesday

March 21st, 2012

12:28 PM

"Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Yoochun." ucap Jungmo.

Changmin melirik ke arah Jungmo yang berjalan di sampingnya.

Ini bukan tentang yang terjadi kepada Yoochun. Ini tentang dirinya. Tentu saja Yoochun akan marah jika kekasihnya sendiri hampir saja mengatakan bahwa dia mengklaim Kyuhyun sebagai miliknya.

Argh!

Changmin bersumpah ingin menabrakan kepalanya ke dinding hingga dia tidak sadarkan diri dan lupa ingatan. Setidaknya hal itu tidak membebaninya dengan pikiran yang membayangkan bahwa Yoochun akan benar-benar marah sekarang.

Changmin benci hal ini. Changmin benci ketika hatinya mengatakan bahwa dia mencintai dua hati. Dia seperti orang brengsek yang menghianati Yoochun, sebagai sosok yang paling sempurna yang melengkapi hidupnya. Tapi... Kyuhyun. Dia candu tersendiri untuk Changmin. Ketika bersamanya dia bersumpah ingin menghentikan waktu, walaupun hanya sebentar.

Ah, dosa apa yang telah dia perbuat sehingga menjalani persoalan yang begitu rumit ini?

"Dia sering berlaku dingin ketika dia marah. Tapi... aish, membayangkan nada dari kalimatnya tadi membuatku merinding." kata Jungmo.

Changmin mengangguk pelan mendengar kalimat itu. "Aku tahu aku yang salah."

"Oh tidak, Yoochun juga salah. Dia membuatm—"

"Yoochun hyung sama sekali tidak salah. Dia baik, sangat baik. Dan permintaannya tadi membuatku sadar bahwa aku telah membuatnya sakit hati. Mungkin bukan untuk yang pertama, tetapi untuk yang sekian."

Entah mereka akan melangkah kemana, yang pasti mereka hanya mengikuti koridor rumah sakit di lantai paling bawah. Tidak ada tujuan, Jungmo hanya berniat membawa Changmin pergi dari situasi yang dia pikir membuat Changmin tertekan, bingung dan juga bersalah.

"Apa kalian pernah bertengkar?"

Changmin mengangguk. "Tentu. Tetapi karena hal sepele. Biasanya karena makanan."

"Apa dia pernah memarahimu secara langsung? Melakukan kontak fisik?"

"Kau tahu bahwa Yoochun hyung adalah orang yang paling baik di dunia ini? Paling baik melebihi apapun. Aku bahkan tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata. Dia selalu sabar menghadapiku. Pasti aku pernah membuatnya kesal atau kecewa, namun, perlakuan yang paling kasar yang pernah kudapat adalah nada dinginnya itu. Aku merasa ingin mati jika dia seperti itu. Sejauh ini tak pernah kudapatkan Yoochun hyung memukulku, mungkin pernah mencengkram tanganku dengan keras."

Jungmo bergidik pelan mendengar penjelasan itu. "Jika aku jadi kau, aku sama sekali tidak bisa membayangkan jika pada suatu hari Yoochun akan benar-benar marah."

"Tetapi," Changmin melihat sekitar, mereka sudah berada di luar bangunan rumah sakit. Di taman belakang yang sangat besar dan dipenuhi oleh banyak tumbuhan yang mulai tumbuh di musim semi ini. "Aku selalu berharap dia bisa memukulku atau memarahiku. Mungkin hal itu akan membuatku sadar, maksudku, aku tahu bahwa aku benar-benar childish. Aku seperti anak kecil yang tidak dapat mengatur emosi dan melihat sekeliling."

Aku tidak bisa berhenti mencintai seseorang ketika aku sudah memiliki orang lain.

"Saranku, meminta maaflah kepadanya ketika mood-nya sudah mulai membaik. Sebaiknya jangan sekarang. Permasalahn tidak dapat diselesaikan dengan emosi yang masih bertempur melawan kata hati. Percayalah padaku, Yoochun akan memaafkanmu jika kau memang benar-benar tidak menyukai Kyuhyun." Setelah mengatakan kalimat itu, Jungmo menatap Changmin dengan pandangan curiga.

Changmin terperanjat dengan kalimat yang diterima oleh indra pendengarnya.

Perasaan takut selalu ada. Apa rasa cintanya terhadap Kyuhyun terlihat sangat menonjol di mata orang-orang?

"A-aku—"

"Changmin!"

Belum sempat Changmin menyelesaikan kalimatnya, sebuah panggilan yang ditujukan untuknya membuat kedua namja itu menoleh ke arah gerbang yang terletak di taman belakang rumah sakit itu. Disana ada seorang namja yang melambai ke arah Changmin. Namja itu melewati gerbang besar yang memang dibuka—dan tentu saja dipenuhi oleh orang-orang yang keluar masuk rumah sakit—dan menghampiri mereka.

"J-Junho? Bagaimana bisa kau ada disini?"

Junho terkekeh pelan. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Jungmo dan memperhatikannya beberapa detik.

"Oh, jadi ini kekasihmu?"

Changmin membulatkan matanya dan kemudian tertawa pelan. "Tentu saja bukan. Dia temanku, salah satu dokter juga disini."

Jungmo tersenyum sebelum memberitahukan namanya. "Jungmo."

"Ah, aku Junho. Kim Junho. Ah, berapa usiamu? Mungkin akan lebih sopan jika aku memanggilmu 'Hyung' jika kau lebih tua dariku."

"Tahun ini aku duapuluh enam tahun."

"Oh, tentu saja aku harus memanggilmu 'Hyung'. Tahun ini aku menginjak umur duapuluh lima."

Changmin ikut membuka suara. "Kalau begitu aku akan memanggilmu Junho Hyung."

Junho mengangkat alisnya. "Memangnya berapa umurmu Changmin-ah?"

"Duapuluh tiga." Kemudian dia tertawa lagi. "Okay, okay. Mengapa kita jadi membicarakan umur seperti ini?" Changmin mendapati kedua namja itu juga tertawa. "Ah, Jungmo hyung. Junho yang menyelamatkanku ketika ada mobil yang hampir saja menabrakku. Jika dia tidak ada, aku tak bisa membayangkan ada dimana aku sekarang."

"Beruntung sekali. Terima kasih Junho-ah. Jika kau tidak ada mungkin aku tidak bisa mendapati Changmin sedang menjahiliku di kemudian hari."

"Sama-sama. Oh ya, bagaimana kabar si pengemudi itu? Apa dia baik-baik saja?"

Jungmo mengangguk menjawab pertanyaan itu. Tentu saja bukan dia yang menangani korban itu, namun temannya yang melakukan. Dan Jungmo terkadang menanyakan perkembangan dari orang yang hampir menabrak Changmin itu kepada temannya. "Dia masih tak sadarkan diri, tetapi tidak ada luka serius. Beruntunglah dia."

"Syukurlah. Setidaknya tidak ada nyawa yang melayang, bukan?"

Changmin mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan dari Junho. Ternyata orang itu menyenangkan juga, ya?

Eh, bukankah Changmin ingin menanyakan sesuatu?

"Ah, Junho hyung, aku lupa menanyakan hal ini kepadamu." kata Changmin, memilih untuk segera menanyakan hal itu. "Apa kau mempunyai saudara kembar?"

Junho menatap Changmin bingung. "Apa kau dapat membaca pikiran seseorang atau apapun? Meramal mungkin?"

Changmin menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak. Jadi kau benar mempunyai saudara kembar?" Junho mengangguk ragu menjawabnya. Changmin sumringah. Semoga tebakannya benar. Semoga saja. "Dan namanya Kim Junsu. Apa benar?"

Junho kembali memandang Changmin bingung, bahkan sekarang dia membulatkan matanya. Demikian pada Jungmo.

"Ba-bagaimana bisa kau tahu?"

Changmin ingin sekali menanyakan hal-hal mengenai Death Cycle. Namun belum tentu juga Junho mengetahui tentang detail kematian saudara kembarnya, bukan? Maka dari itu Changmin lebih memilih untuk menyimpan pertanyaannya dan mecari waktu yang tepat. Dia tidak ingin membuat Junho lebih kaget jika dia menanyainya dengan berbagai hal.

"Jadi bagaimana hyung bisa berada di sekitar sini?"

Junho mengembalikan ekspresi kagetnya seperti semula. Dia tersenyum kemudian. "Rumah baruku ada di sekitar sini. Dan aku sering jalan-jalan keluar."

Changmin mengangguk senang.

Semoga Kim Junsu saudara kembar Kim Junho ini adalah orang yang dicari oleh Changmin.

"Kalau begitu, boleh aku minta nomor handphone-mu, Hyung?"

.:o~o:.

(maaf belum membalas review, saya harus sekolah)

With love, Yuri Masochist

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | ejinki | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n dan untuk semuanya.

Mari berteman :)

PS: For eL-ch4n, chingu~ maafin aku ya, di chapter sekian aku ngomongin FF kamu dan aku berbicara sesuatu yang tentu akan membuat chingu sakit hati. Choesonghamnida~ sungguh, maafkan aku. Demi Tuhan aku ini childish banget. Aku gak bisa ngontrol emosi. Waktu itu aku gak sengaja nemu FF chingu, dan setelah itu temen aku ngasih tau aku tentang FF juga di wordpress, yang reviewnya juga banyak banget (tapi FF straight dan aku sama sekali gak mau baca), otomatis bikin aku down banget. Masalahnya aku udah tiga bulan bersama FF ini dan aku berusaha untuk memberikan yang terbaik. Tapi… aish, aku juga tertekan gara-gara gak menang lomba FF. Aku kira yang menang tuh FF-nya bagus banget, tapi… waktu aku baca tuuuuhh… entahlah pokoknya aku tertekan disana. Jadi kebawa emosi kemana-mana. Cheosonghamnida chinguyaaaa~ jeongmal cheosonghamnida~