Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Fuss | March 22nd, 2012
Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Baekhyun, Soohyun, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO-K, Big Bang, U-Kiss)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 3G :) Kejutan di 3H ekekekekeke
.
.
.
.
The Time: Fuss | March 22nd, 2012
.
Thursday
March 22nd, 2012
01:02 AM
Yoochun membuka pintu kamar secara perlahan. Bukan maksudnya untuk pulang dari rumah sakit pukul satu dini hari seperti ini, namun ada beberapa hal yang perlu ia lakukan. Terlebih dia juga malas untuk bertemu dengan Changmin. Matanya menangkap sosok Changmin yang terlelap dihadapan laptopnya yang masih menyala. Sepertinya pemuda itu tak sengaja tertidur disana. Yoochun melepas seragamnya dan menggantinya dengan pakaian tidur. Tak berniat untuk mandi malam, mengingat suhu kota Seoul kali ini adalah minus empat derajat celcius. Suhu yang cukup dingin di awal musim semi yang seharusnya hangat, bukan?
Yoochun berjalan ke arah ranjang. Otaknya sudah memerintahkan dia untuk segera mengambil waktu untuk tidur. Namun dia urungkan niatnya ketika melihat Changmin meringkuk pelan.
Sepertinya namja itu kedinginan.
Sekesalnya Yoochun kepada Changmin, dia masih sangat mencintai namja itu. Dia masih punya hati untuk tidak membiarkannya tertidur dengan kepala di atas meja, di malam—pagi—yang cukup dingin ini. Dia masih punya hati ketika dia berjalan menghampiri Changmin dan segera mengangkat tubuh itu dengan hati-hati. Menggendongnya ala bridal style dan membaringkannya dengan lembut di atas ranjang. Setelah itu Yoochun meraih selimut dan segera menyelimuti tubuh Changmin hingga sebatas leher sebelum Changmin menggeliat pelan, namun dia tidak terbangun dari tidurnya.
Yoochun berjalan ke arah laptop Changmin dan mematikannya. Setelah itu dia melenggang keluar kamar—setelah menutup pintu—dan tidur di ruang tengah, bersama Silky yang kebetulan dia temukan sedang terlelap disana.
.
.
The Time
Fuss | March 22nd, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Thursday
March 22nd, 2012
05:44 AM
Changmin menggeliat pelan di atas ranjang. Matanya perlahan terbuka sebelum dia mengambil posisi duduk. Setelah dia membawa kesadaran sepenuhnya, dia baru tersadar bahwa dirinya tidur di atas ranjang. Seingatnya dia sedang berada di hadapan laptop, meneliti tentang Death Cycle yang tengah dia pelajari. Namun mengapa dia bisa berada disini sekarang? Bahkan laptopnya sudah menutup di atas meja.
Ah,
Yoochun. Tentu saja.
Tetapi—
Changmin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
—kemana Yoochun sekarang?
Changmin segera menyingkapkan selimutnya dan berdiri turun dari atas ranjang. Dia berjalan keluar dari kamarnya setelah membuka pintu kamar dan turun dari lantai dua. Pandangannya segera tertuju kepada sesosok namja yang tidur di salah satu sofa ruang tengah—posisi tangga berhadapan dengan ruang tengah sehingga Changmin bisa melihatnya. Di sofa yang satunya terdapat Silky yang juga sedang tidur disana.
Yoochun sangat baik walaupun dia sudah membuatnya kesal kemarin.
Changmin tentu saja takut. Dia bersalah, dia tahu. Dan semua orang yang bersalah selalu takut, bukan?
Dan juga nada dinginnya kemarin. Ya Tuhan, sungguh, Changmin tak ingin mendengarnya lagi dari mulut kekasihnya.
Changmin tersenyum tipis. Dia membalikkan tubuhnya untuk kembali naik ke lantai dua, namun sebuah suara menghentikannya.
"Jauhi Kyuhyun."
Kalimat perintah itu membuat Changmin membalikan pandangan dan arah tubuhnya. Changmin yakin Yoochun tak mungkin mengigau dengan kalimat itu. Dia melihat kekasihnya membuka mata dan kemudian mengambil posisi duduk disana.
Changmin ingin sekali menolak perintah itu, namun apa alasannya? Karena Kyuhyun adalah partner dalam menelusuri Death Cycle? Oh, tentu saja Yoochun tak akan menerima alasan seperti itu. Selama ini Changmin berhasil mencari semuanya sendiri, tanpa bantuan Kyuhyun. Ya mungkin penuturan Kyuhyun tentang kematian Sungmin membantu, namun itu hanya sedikit. Hal itulah yang membuatnya mengetahui Death Cycle, selanjutnya Changmin yang menyelami sendiri.
Lalu, apa yang akan menjadi alasannya?
Apakah dia akan berkata dengan jujur bahwa hatinya terbagi untuk dua orang? Yoochun dan... Kyuhyun?
Ya Tuhan, Changmin tidak akan mengambil resiko sebesar itu.
Lalu apa yang harus ia katakan?
Kata 'baiklah' atau 'tidak akan'?
Changmin memejamkan matanya, berusaha berpikir untuk mencari satu jawaban. Apa dia harus berbohong lagi? Mengatakan 'baiklah' namun di belakang dia masih akan melakukan kontak dengan Kyuhyun? Atau berkata 'baiklah' dengan artian bahwa dia memang akan benar-benar menjauhi Kyuhyun? Selama-lamanya? Atau juga dia akan menjawab 'tidak akan' yang tentu saja akan memancing amarah Yoochun?
Kata perpisahan dari Yoochun adalah suatu hal yang tak ingin Changmin dengar, namun... menjauhi Kyuhyun bukan sebuah jawaban yang tepat.
Jadi...
"Ba-baiklah."
...memilih untuk berkata 'baiklah' namun di belakang masih akan melakukan kontak. Okay, kau sangat berani untuk membohongi Yoochun, Changmin-ah. Apa yang akan terjadi jika seandainya Yoochun tahu?
Mungkin kau akan mati di tangannya.
"Kau yakin dengan kata-katamu?"
Jangan... kumohon jangan berbicara dengan nada seperti itu.
"A-aku yakin."
"Apa kau bisa mempertanggungjawabkan ucapanmu?"
Tidak. Aku tidak bisa mempertanggungjawabkan ucapanku. Namun melihatmu seperti ini... bukan jawaban yang tepat.
"Ya."
Yoochun merubah sedikit mimik wajahnya, yang sama sekali tak bisa Changmin baca apa artinya.
.:o~o:.
Thursday
March 22nd, 2012
02:33 PM
Pagi ini Changmin ikut kembali ke rumah sakit bersama Yoochun. Tanpa harus memberitahu alasannya, tentu dia sudah tahu mengapa.
Karena Yoochun benar-benar takut Changmin akan berpaling kepada Kyuhyun. Oleh karena itu namja ini benar-benar menjaga Changmin-nya. Membuatnya menjadi manusia overprotective yang menghilangkan sifat aslinya.
Changmin tidak suka hal itu.
Yoochun sedang berada di ruangannya, sementara Changmin sedang berjalan-jalan di koridor rumah sakit, untuk menghilangkan kebosanan. Jika dipikir-pikir sudah hampir tiga bulan ini—sejak Changmin tahu tentang Death Cycle—dia sudah melupakan PSP-nya. Sungguh tak bisa disangka untuk maniak game seperti dirinya.
Karena tak memperhatikan jalan, tubuhnya menabrak seseorang dengan tidak sengaja.
Bruk!
Orang yang ditabraknya meringis pelan—terkena bahu Changmin dengan sangat keras, namun beruntung karena orang yang ditabraknya tak sampai terjatuh. Changmin sendiri hanya berpindah sedikit dari posisi awalnya, tabrakan itu tak terlalu keras untuknya. Changmin melihat sosok yang ditabraknya, dia memandangnya dengan tatapan... ketakutan?
"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Tadi aku melamun dan—"
Namja pirang yang ditabraknya itu segera melenggang pergi ke arah yang dia tuju. Meninggalkan Changmin yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Jika dilihat dari penampilannya tentu saja namja itu bukan dokter maupun pasien disini. Mungkin dia sedang terburu-buru karena seseorang tengah berada dalam kondisi kritis sekarang. Ah, itu bukan urusan Changmin. Tentu saja dia tidak usah pusing-pusing memikirkan hal itu.
Changmin segera melanjutkan langkahnya, menuju ke arah lift dan membawa dirinya ke lantai dasar. Setelah keluar dari lift dia segera melenggang ke arah pintu utama bangunan itu. Membawa dirinya keluar dan segera berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit.
Nah, apa yang harus dia lakukan sekarang? Menunggu sampai malam hingga Yoochun telah selesai dari pekerjaannya di rumah sakit? Hanya diam?
Tentu saja Changmin tidak ingin melakukan hal itu.
Ah, aku bisa menghubungi Junho dan memintanya bertemu disini. Aku akan membicarakan tentang saudara kembarnya.
Changmin segera meraih handphone-nya untuk menekan tombol hijau pada kontak bernama 'Kim Junho', namun sebelum dia melakukan sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Hei, Changmin!"
Changmin segera menoleh dan mendapati Junho berjalan menghampirinya. Namun dia tak sendiri sekarang. Ada anak kecil—seumuran Taemin—berjalan berdampingan dengannya, dengan tangan yang di genggam.
"Oh, hai Junho Hyung. Baru saja aku mau menghubungimu." Changmin mengembalikan handphone ke dalam celana jeansnya. "Ah, siapa anak kecil yang lucu ini?"
Junho tersenyum seraya mengacak rambut anak kecil itu. "Namanya Kim Baekhyun. Dia anak—"
"Anakmu?"
Junho tertawa. "Aku menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tetapi bukan karena dia anak dari saudara kembarku."
"Oh," Changmin bergumam pelan dan berjongkok di hadapan anak kecil bernama Baekhyun itu. "Annyeong Baekhyun-ah. Aku Changmin, teman Junho. Bangapseumnida ne?"
Bibir kecil yang tipis itu menarik segaris senyuman. Junho menepuk kepalanya lembut, seolah mengatakan bahwa dia anak yang baik karena membalas senyuman Changmin dan bersikap ramah.
"Annyeong Changmin Hyung." kata Baekhyun.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Changmin seraya menengadahkan kepalanya. Junho mengangguk memperbolehkan. Changmin mengembalikan pandangannya dan melihat Baekhyun sudah melebarkan kedua tangannya. Changmin tersenyum senang. Dia segera menarik tubuh kecil itu dan membawanya ke dalam sebuah gendongan.
"Aku tak menyangka dia bisa langsung akrab kepada orang lain." kata Junho, melihat Changmin berdiri dari posisinya.
"Dia anak yang baik." kata Changmin. Mencubit pelan pipi anak kecil berwajah cantik itu. Changmin mengarahkan pandangannya kepada Junho. Wajahnya berubah miris sebelum berkata, "Aku turut berduka atas kematian saudara kemb—"
Junho membelalakan matanya. Dia segera memotong ucapan Changmin. "Darimana kau dapat bualan itu?"
"Bualan?"
Junho menggeleng pelan. "Tunggu! Jadi sebenarnya siapa kau? Mengapa kau tahu bahwa aku mempunyai saudara kembar bernama Kim Junsu? Darimana kau dapat berita bahwa dia meninggal? Darimana kau tahu segalanya?"
Changmin yang mendapati nada suara Junho mulai meninggi segera mengibaskan tangannya, meminta maaf. "Aku bisa menjelaskan semuanya. Sungguh, jangan berpikir macam-macam denganku. Aku bukan orang jahat, aku bersumpah. Aku seorang detektif. Aku menyelidiki kasus yang berhubungan dengan saudaramu."
Junho menggerenyitkan keningnya. "Berhubungan? Bagaimana bisa? Junsu tak pernah terlibat dalam masalah apapun yang berhubungan dengan hukum."
"Jelasnya bukan seperti itu. Semuanya sangat panjang dan aku memang berniat untuk memberitahumu. Aku memerlukan banyak informasi dari Hyung tentang kematian dari Jun—"
"Tunggu, tunggu. Biar kuluruskan. Junsu belum meninggal."
"APA?"
Baekhyun sedikit terlonjak kaget karena teriakan Changmin. Dia menatap kearah dua pemuda itu bergantian. "Junho Appa, ada apa?"
Changmin membulatkan matanya tidak percaya. Dia bergerak gelisah. Apa dia salah orang?
"Sebentar, a-apa Junsu mempunyai phobia.. ma-maksudku dia seorang Paraskavedekatriaphobia?"
Kali ini Junho yang membulatkan matanya lagi. "Bagaimana kau tahu semuanya? Kau harus menjelaskan semuanya padaku, Shim Changmin!"
"A-aku akan menjelaskan semuanya. Tapi a-aku juga tidak mengerti... me-mengapa bisa... astaga! Ya Tuhan, aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi!"
"Sungguh, mengapa kau mengetahui semua hal tentang Junsu? Apa yang sedang kau cari, huh?"
Changmin mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Demi Tuhan maafkan aku jika membuatmu curiga atau apapun. Aku berani bersumpah bahwa aku orang baik. Aku melakukan ini semua untuk menyelamatkan orang-orang. Ma-maksudku benar-benar sebuah keberuntungan karena aku bertemu denganmu. Junsu berhubungan dengan kasus ini dan... dan... ya Tuhan aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padamu. Y-yang kutahu ada berita bahwa Junsu meninggal pada Desember tahun 2007. Dan aku yakin Junsu yang dimaksud adalah saudara kembarmu. Mana mungkin ada banyak orang yang bernama Kim Junsu yang phobia terhadap hari Jumat tanggal Tigabelas?"
"Tetapi Junsu belum meninggal. Pada kenyataannya dia masih hidup sekarang walaupun... memang pada tahun 2007 bulan Desember itu Junsu mengalami kecelakaan."
"Ke-kecelakaan? Seperti apa?"
Junho menggeleng pelan. "Aku sendiri bingung dan tidak tahu bagaimana pastinya, yang pasti sekarang dia—"
"Junho Appa, itu Umma!" suara Baekhyun memotong kalimat dari Junho. Jari kecil itu menunjuk ke sebuah arah, membuat Changmin dan Junho segera mengikuti kemana arah telunjuk kecil itu.
Ada seseorang berpakaian dokter, yang Changmin kenal sebagai teman dari Yoochun juga—walau tak terlalu akrab—mendorong sebuah kursi roda dimana ada seseorang yang duduk disana. Dia tersenyum, melihat ke arah mereka. Namun Changmin yakin ada yang salah dengan orang itu—yang Changmin tebak bahwa dialah Kim Junsu.
"Dia buta dan lumpuh sekarang."
Dan kalimat dari Junho itu membuat Changmin menyadari apa yang salah dari namja itu. Baekhyun bergerak pelan dalam pelukan Changmin, meminta dilepaskan. Changmin berjongkok sedikit, melepaskan pelukan Baekhyun dan membuat anak itu segera berlari menghampiri 'ibu'nya.
"Kemarin setelah bertemu denganmu aku tak sengaja bertemu dengan Soohyun—dokter itu. Dia adalah teman kami di sekolah dasar. Itu jawaban jika kau bertanya mengapa Junsu bisa bersama Soohyun. Kami tinggal di Korea sebelumnya, lalu kami pindah ke Australia, ke tempat orangtua kami ketika usia kandungan Junsu masih beberapa minggu—atau satu bulan, aku lupa. Dan setelah itu kami kembali lagi kesini."
"Ke-kemana Ayah Baekhyun?" tanya Changmin. Matanya mengarah kepada Junsu yang tengah memperkenalkan Baekhyun kepada Soohyun. Mereka tertawa, terlihat bahagia.
Pandangan Junho segera berubah, seolah menyiratkan kebencian disana. Dia menggeleng pelan sebelum mengatakan, "Anggap saja lelaki brengsek seperti dia sudah mati."
Changmin mengangguk mengerti. Dia tidak ingin membuka luka—atau dendam—seseorang yang sudah terkubur sejak lama.
"Okay. Maafkan aku jika membuatmu bingung, tetapi setelah ini aku pasti akan banyak mencari waktu untuk berbicara kepada Junsu. Banyak hal yang harus kutanyakan. Apa... ada sesuatu yang dapat membuatnya... eum tertekan? Ma-maksudku seperti sebuah trauma?"
"Apa yang akan kau tanyakan kepadanya?"
Changmin mengulum bibir bawahnya. "Seputar kecelakaannya. Tentang bagaimana cara dia selamat dari Death Cycle."
"Dari apa? Death Cy—apa yang kau bicarakan?"
"Akan kujelaskan nanti. Kau perlu waktu untuk mencerna semuanya."
Junho mengangguk. "Aku tidak tahu apa dia akan tertekan atau tidak dengan pertanyaan itu. Yang pasti, hal yang paling membuatnya tertekan adalah... ya lelaki brengsek itu. Aku benar-benar berharap dia sudah mati sekarang. Atau setidaknya dia mendapatkan balasan yang setimpal. Sebuah karma atau apapun yang dapat membuatnya—"
"Changmin!"
Ada sebuah suara lagi yang menginterupsi kegiatan mereka.
Changmin dan Junho mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Changmin dapat melihat Yoochun berdiri beberapa meter dari tempat mereka. Wajahnya yang semula panik—karena mencari dirinya, mungkin—berubah menjadi kaget.
Junsu yang semula sedang tertawa bersama Baekhyun menghentikan tawa mereka. Tangannya bergerak, mencoba mencari sesuatu... seperti perlindungan? Yang pasti Soohyun segera menenangkan Junsu yang bergerak panik.
"Ju-Junho... a-apa... a-apa i-itu suara d-dia?"
Changmin mengarahkan pandangannya bingung ke arah Junsu. Namun belum sempat dia mengatakan apapun, matanya sudah menangkap bahwa Junho berlari ke arah Yoochun dan segera menonjok kekasihnya pada bagian rahang—atau leher, Changmin tidak tahu karena pandangannya tertutupi oleh tubuh Junho.
Yang pasti Changmin segera berteriak dan menghampiri mereka—dengan Yoochun yang jatuh terbaring di rumput sedangkan Junho di atas tubuhnya, tangannya menarik kerah kemeja dalam balutan jas dokter yang Yoochun kenakan dan bersiap untuk memukulnya lagi.
Tentu saja Junho masih ingat bagaimana paras dari laki-laki brengsek yang sudah menghamili saudara kembarnya tanpa bertanggung jawab.
"Aku berharap kau mati setelah ini, Park Yoochun!"
Tu-tunggu...
Changmin terdiam selama beberapa saat, menghentikan langkahnya yang belum sampai mendekati mereka. Junho... mengenal Yoochun? Dan... dan berharap Yoochun mati?
A-apa jangan-jangan...
Changmin mengarahkan pandangannya kepada Junsu yang tengah memeluk Baekhyun di kursi rodanya. Sedangkan Soohyun yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi berusaha menenangkan Junsu yang mulai ketakutan.
...orang yang dimaksud Junho adalah... Yoochun?
Buagh!
Changmin dapat mendengar sebuah pukulan lagi. Matanya segera teralih, menangkap Junho yang berhasil memukul kembali wajah kekasihnya. Yoochun tak melawan. Entah karena luka jahitan di tangannya yang masih basah atau... karena suatu hal lain?
Buagh!
"Berhenti!"
Changmin segera menghampiri mereka dan mendorong tubuh Junho menjauh. Dia merendahkan tubuhnya dan mengusap darah yang mengalir dari sudut bibir Yoochun.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jauhi bajingan itu Changmin! Jauhi dia! Biarkan aku membunuhnya!"
Bajingan?
"Dia kekasihku, Junho Hyung!"
Junho berhenti bergerak. "Ke-kekasihmu?"
"Ya! Dia kekasihku!"
Changmin membantu Yoochun untuk berdiri. Dia mengusap pipi yang mulai membiru itu dengan lembut, namun namja itu hanya meringis pelan dan berusaha menjauhi tangan Changmin dari wajahnya.
"Tolong, tolong jelaskan apa yang terjadi disini?" tanya Changmin, berusaha untuk menahan rasa emosi dan penasarannya.
Junho mencoba menahan amarah. Pandangannya teralih ke arah Soohyun. Dia memerintahkan Soohyun untuk membawa Junsu dan Baekhyun pergi dari tempat itu. Yoochun terdiam. Matanya mengarah pada sosok dalam kursi roda itu dan sosok anak kecil yang mengikutinya.
Setelah Soohyun membawa Junsu pergi—masuk ke dalam bangunan rumah sakit—Junho mengembalikan pandangannya.
"Aku berharap kau mati." kata Junho. Tangannya kembali mengepal, langkahnya maju untuk kembali melayangkan sebuah pukulan terhadap Yoochun.
Changmin mendorong dada Junho kasar. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kekasihmu itu adalah laki-laki brengsek yang menghamili saudaraku! Dia tidak mau bertanggung jawab!"
Jadi... benar bahwa Yoochun yang...
"Yoochun..." Changmin mengarahkan pandangannya ke arah Yoochun yang tengah mengusap darah dari sudut bibirnya.
Yoochun menoleh, menatapnya dengan tatapan bersalah. "Maafkan aku, Changmin."
"Jadi... B-Baekhyun..."
"Aku tidak ingin lelaki brengsek ini menjadi ayah Baekhyun! Kami sudah cukup bahagia tanpa ada dirinya!"
Changmin mengguncangkan bahu Yoochun perlahan. "Hyung, jelaskan padaku semuanya."
Yoochun menggeleng pelan. "Kau tidak akan mengerti, Min."
"Hyung, kumohon. Aku perlu tahu semuanya."
Yoochun menggeleng lagi.
"Kuharap kau memutuskan hubunganmu dengan Yoochun, Changmin. Dia brengsek! Dia benar-benar brengsek!"
Dan setelah kalimat itu terlontar, sebuah pukulan kembali Yoochun terima di rahangnya.
Buagh!
"Berhenti!"
Changmin mendorong bahu Junho lagi secara kasar dan berteriak di hadapan wajahnya.
"Kau tidak bisa menilai orang dengan sembarang!"
"Kau tidak tahu bagaimana dia yang dahulu!" Terlanjur terbawa emosi, Junho membentak Changmin juga.
"Aku tahu dia! Aku kenal dia! Kau tidak bisa seenaknya me—"
"Dia benar Changmin. Kau tidak tahu aku dahulu."
Changmin menggeleng. "Aku mengenalmu, Hyung! Aku tahu kau! Aku tahu bahwa kau berub—"
"Orang sebrengsek dia mana mungkin bisa berubah!"
Changmin menggigit bibir. Dia menggenggam tangannya sendiri dengan erat.
"Sebaiknya kau pergi, Junho Hyung."
Belum sempat Junho melakukan apapun, Changmin sudah kembali mendorong dadanya.
"Kumohon Hyung. Tinggalkan kami berdua, kami perlu meluruskan hal ini."
Junho hendak melawan, namun ketika pemikirannya tertuju kepada sebuah hak dia memilih untuk meninggalkan keduanya. Changmin punya hak untuk mengusirnya. Changmin perlu tahu semuanya dari mulut kekasihnya sendiri. Junho tahu hal itu.
Setelah Junho pergi meninggalkan tempat itu, mereka berdua memilih untuk diam. Tentu saja bergelut dengan pemikiran masing-masing. Hanya angin musim semi yang menemani mereka.
"Maafkan aku, Changmin."
Akhirnya sebuah kalimat lolos dari kerongkonganita suaranya. Changmin menunduk ke bawah, melihat rumput-rumput yang bergoyang di sekitar sepatunya.
"Siapa Junsu sebenarnya? Dia bukan hanya teman, 'kan?"
Ada jeda dulu dalam obrolan mereka.
"Dia... mantan kekasihku."
"Lalu?"
Kembali jeda dalam pembicaraan mereka. Angin berhembus, membuat rambut keduanya berkibar lembut. Yoochun sama sekali tidak memperdulikan darah yang masih mengalir dari luka sobekannya—mungkin terlalu keras pukulan itu karena darah masih keluar dari sana.
"Aku menghamilinya dan tidak bertanggung jawab."
Kemudian terdiam lagi. Changmin tidak tahu emosi apa yang harus dia keluarkan sekarang. Marah? Sedih? Atau...
"Jangan tinggalkan aku karena hal ini, Min. Dia masa laluku."
"Tapi kau membuat anak kecil seperti Baekhyun tak punya ayah."
"Kau harus mengerti, Min. Kami masih sangat muda waktu itu. Dan aku... tentu saja aku masih belum bisa mempertanggungjawabkan apa yang kuperbuat. Aku harus mem—"
"Kau punya anak, Hyung."
Yoochun dapat melihat setetes darahnya jatuh mengenai salah satu helai rumput.
"Aku tahu."
Changmin menggeleng pelan. Dia membalikan tubuhnya dan melangkahkan kaki. Menjauhi sosok Yoochun yang masih terdiam disana.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Satu kalimat yang sama yang mereka ucapkan secara bersamaan.
.:o~o:.
Thursday
March 22nd, 2012
10:21 PM
Changmin berbaring di ranjangnya bersama Yoochun. Mereka saling diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang dipikirkan Yoochun, yang pasti Changmin sedang emmikirkan satu hal. Memikirkan tentang pengakuan Yoochun tadi siang.
Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Dia sendiri tidak tahu.
Mereka hanya saling diam dengan posisi yang saling memunggungi satu sama lain. Di sisi lain Yoochun juga hanya diam, tidak tahu harus melakukan apa.
Meminta maaf kepada Changmin? Sudah ia lakukan sejak tadi, namun namja itu hanya diam. Tak bereaksi apapun. Penjelasan singkat itu membuatnya sadar akan sesuatu. Yoochun memang brengsek. Namun Changmin sendiri tahu bahwa Yoochun sudah berubah. Sewaktu masa kuliah dahulu Changmin sangat tahu bagaimana Yoochun di kenal orang-orang. Player, mengandalkan harta, ketampanan, dan kepintaran... namun Changmin tahu, benar-benar tahu bahwa Yoochun-nya sudah berubah 180 derajat ketika bersama dirinya.
Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Changmin..." suara Yoochun terdengar berbisik. "...maafkan aku."
Dosa itu tak mudah untuk dimaafkan. Apalagi ketika bayangan kalimat Junho terngiang dalam benaknya.
"Kuharap kau memutuskan hubunganmu dengan Yoochun, Changmin. Dia brengsek! Dia benar-benar brengsek!"
.:o~o:.
Maaf belum membalas review lagi
With love, Yuri Masochist
Big thanks for my beloved readers
MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin| Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | ejinki | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu dan untuk semuanya.
Mari berteman :)
PS: Baekhyun tuh EXO-K ya
