Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Realize | April 1st, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Baekhyun, Soohyun, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, Sooman dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO-K, Big Bang, U-Kiss)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : Ehm, 3J~ enjoy :D

.

.

.

.

The Time: Realize | April 1st, 2012

Sunday

April 1st, 2012

07:24 AM

Mr. Shim menggenggam tangan kiri Changmin dengan lembut. Meremasnya dengan perasaan, berharap anaknya akan bangun dari komanya yang sudah berjalan selama delapan—tujuh—hari ini. Dia khawatir, bukan, dia sangat khawatir. Anak semata wayangnya, satu-satunya yang dia miliki di dunia ini sedang berada dalam kondisi antara hidup dan mati. Setelah kematian istri tercintanya, tentu saja dia tidak ingin Changmin pergi menyusul, mendahuluinya.

Walaupun begitu, Mr. Shim masih dapat bersyukur kepada Tuhan. Anaknya dan juga kekasih dari anaknya selamat dari kecelakaan tragis yang kebanyakan tak memungkinkan bagi korban akan selamat. Airbag bukanlah sebuah jaminan keselamatan, namun beruntung mereka tidak kehilangan nyawa pada kecelakaan itu. Ada beberapa kemungkinan yang mencengangkan pada kondisi fisik mereka, namun entah mengapa... mereka lolos dari segala kemungkinan itu. Sungguh sebuah mukzizat yang luar biasa untuk keduanya.

Yoochun, yang sama sekali tidak memakai sabuk pengaman sebagai si pengemudi. Seharusnya dia bisa saja meninggal dalam kecelakaan itu, atau setidaknya cacat seumur hidup. Namun apa yang didapatkannya? Yoochun sadar setelah empat hari tidak sadarkan diri. Jika dia masih hidup seperti ini, seharusnya dia mendapatkan hilang ingatan karena benturan yang sangat keras pada kepalanya. Walaupun begitu, Yoochun hanya mendapatkan luka jahit di dahinya—sekitar lima jahitan karena sebuah luka goresan yang dalam. Ada beberapa memar dan luka goresan lain di tubuhnya—akibat dari benturan dan juga kaca mobil yang pecah menusuk pada tubuhnya. Jangan lupakan pada luka basah di tangan kirinya, luka itu terbuka lagi pada hari kecelakaan, beruntung dia tidak kehabisan darah oleh semua lukanya. Dan beruntung Yoochun dibawa tepat waktu ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan paling cepat.

Tetapi Changmin... sudah hampir delapan hari ia terbaring di atas ranjang dalam keadaan koma. Keadaan yang benar-benar tak diharapakan oleh siapapun. Masih ada harapan Changmin kembali bangun dan hidup, tetapi... bagaimana jika dia tidak kembali ke dunia? Atau mungkin, bagaimana jika komanya berbulan-bulan bahkan mencapai hitungan tahun? Semuanya dapat terjadi jika saja Tuhan menghendakinya. Dan tentu saja Mr. Shim tak menginginkan hal itu, begitupula dengan Yoochun dan semua orang lainnya.

Ada kemungkinan Changmin akan lumpuh, namun para dokter sama sekali belum bisa memastikan karena kondisi komanya. Bukan hal yang sulit sebenarnya, namun benar-benar ada yang janggal pada kecelakaan mereka. Ah, bukan, maksudnya mereka benar-benar dalam lindungan Tuhan—begitu pemikiran orang-orang—karena mereka tidak meninggal, dan juga mereka tidak mendapatkan luka yang besar—setidaknya mereka benar-benar masih beruntung karena selamat dalam kecelakaan seperti itu. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa Changmin akan buta—karena kepala bagian belakangnya terbentur kaca mobil samping dengan begitu keras sehingga saraf penglihatannya terganggu. Changmin mendapatkan luka tusukan panjang dari pecahan kaca mobil, menusuk di daerah punggungnya dan menghasilkan delapan jahitan. Patah tulang pada lengan kanan, serta beberapa memar dan goresan. Kemarin—dan hari-hari sebelumnya—posisi tubuh Changmin dimiringkan, karena luka jahitan di punggungnya yang belum kering, namun posisinya hari ini berbaring seperti pada umumnya dikarenakan luka jahitan itu sudah hampir kering dalam beberapa hari ini. Setidaknya tidak apa-apa jika posisi berbaring Changmin sudah berubah seperti pasien kebanyakan, mengingat lengan kanannya yang diberi gips perlu diperhatikan.

Mr. Shim mengusap kepala Changmin dengan lembut, berharap anaknya dapat membuka mata sekarang juga. Dengan denyut jantung yang lemah tertera pada monitor ECG membuat Mr. Shim gelisah. Dia tidak ingin anaknya pergi secepat itu.

"Hanya satu permintaan Ayah, bangunlah Changmin."

.

.

The Time

Realize | April 1st, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

April 1st, 2012

11:44 AM

Yoochun membuka pintu kamar pasien—dimana Changmin berada—dengan perlahan, membawa dirinya yang duduk di atas kursi roda—dengan penyangga botol infus yang membuatnya tak usah repot memegangi infusnya. Kamar VVIP tersebut bersebelahan dengan kamar tempat Yoochun dirawat, oleh karena itu Yoochun tak perlu jauh-jauh untuk bertemu Changmin-nya. Sejak dia sadarkan diri, Yoochun tak henti-hentinya masuk ke kamar ini, meminta maaf kepada Changmin, menangis, berharap Changmin akan bangun segera.

"Hei, ini hari kedelapan kau masih diam. Sampai kapan kau akan seperti ini, hm?" tanya Yoochun dengan lembut.

Jangan tanyakan akan perasaan bersalah, tentu saja Yoochun merasa sangat bersalah. Kecelakaan itu terjadi karenanya. Dia meluapkan segala emosinya, hingga dia lepas kendali. Alasan Yoochun tak pernah marah adalah karena ketika dia marah Yoochun tak bisa memegang kendali emosinya. Dia pasti akan lepas kendali. Dia tidak akan pernah mementingkan sekitarnya. Yang akan dia lakukan hanyalah hal yang melintas dalam pikirannya. Dan selalu... apapun yang menjadi miliknya tidak boleh menjadi milik siapapun. Dan Changmin adalah miliknya. Perlu ditekankan bahwa Changmin adalah miliknya! Tidak boleh ada satu orangpun yang memilikinya.

Yoochun adalah tipe orang yang serius pada satu cinta. Boleh dia menjadi seorang player dahulu, namun ketika dia menemukan cintanya, dia akan memperjuangkan cinta itu ampai napas terakhirnya.

Dan Changmin adalah orang itu.

Bukan Yoochun namanya jika dia mudah menangis. Tetapi, perbuatannya membuat dia benar-benar menyesal. Dia membuat Changmin perlu memperjuangkan hidupnya, diantara hidup dan mati. Dan tak pernah ada satu tetes air matapun yang dapat terbendung oleh Yoochun. Setiap hari—sejak hari kesadarannya—Yoochun datang dan menangis. Memohon agar Changmin dapat bangun dan membuka matanya. Hanya itu. Hanya itu doa Yoochun untuk sekarang.

"Kau harus bangun, Min-ah." kata Yoochun lagi.

Dia meraih jemari Changmin dan meremasnya. Kali ini ada setetes air mata lagi yang jatuh dari matanya. Jika ini dunia dongeng, mungkin dengan mencium Changmin-nya atau menjatuhkan setetes air mata pada wajah Changmin-nya akan membuatnya bangun. Namun ini adalah dunia nyata. Tidak ada keajaiban seperti itu. Yang Yoochun harapkan hanya keajaiban dari doanya, dan doa seluruh orang yang mengenal Changmin.

"Aku tahu kau mendengarku, Min. Orang yang koma bisa mendengar suara dari luar, aku tahu hal itu. Karena kau masih hidup, Changminnie. Dalam kondisi vegetatif seperti ini, kau pasti bisa mendengarku."

Tidak ada suara yang menjawabnya. Hanya monitor ECG yang menampilkan beberapa line pendek yang mengartikan bahwa denyut jantungnya lemah, dan juga suara hembusan napas lemah. Hanya itu, jika suara halus jam dinding yang berdetak tidak dihitung.

"Changmin, aku sudah tidak marah padamu. Apa kau tidak mau bangun juga? Apa yang harus kulakukan agar kau bangun?" Yoochun memajukan wajahnya, menatap wajah pucat yang terbaring itu. "Kau memintaku untuk membunuh diriku sendiri pun aku siap."

Yoochun dapat mendengar ada langkah kaki dari luar, namun suaranya menjauh beberapa saat kemudian. Hanya suara beberapa orang yang melintas di koridor luar. Lucu, saking heningnya Yoochun dapat mendengar suara sesamar itu.

"Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Lihat, aku membuat tulang lengan kananmu patah. Aku bersedia untuk mematahkan lenganku juga jika kau mau. Dan punggungmu... ya Tuhan, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud. Kau boleh mencari pisau ataupun pecahan kaca dan menusuknya di punggungku jika itu dapat membuatmu senang. Maka dari itu bangunlah agar kau dapat melakukannya. Aku rela, Changmin-ah. Aku rela melakukan apapun untukmu."

Yoochun menundukkan wajahnya, melesakkannya ke ranjang disisi jemari Changmin. Terdiam selama beberapa saat, memikirkan segala perbuatannya.

"Dokter Sooman bilang... ah tunggu, apa kau tahu siapa dia? Dia yang menanganimu, menyelamatkanmu sejauh ini. Dia salah satu dokter terbaik disini." Yoochun memberikan jeda pada kalimatnya. "Dia... dia mengatakan bahwa ada kemungkinan kau akan... buta. Saraf pengelihatanmu... oh ya Tuhan aku tidak bisa mengatakannya. Tetapi aku berharap bahwa Tuhan masih sayang padamu. Lihat saja, Dia menyelamatkanmu, setidaknya kau masih bisa bernapas sekarang. Dan hal itu membuatku sangat senang. Ayolah, Sayang, setelah kau sadar kita akan kembali ke gereja. Kau tahu, sudah berapa lama kita tidak pernah beribadah, meminta perlindungan kepada-Nya? Aku tahu itu salahku, aku tidak pernah mengajakmu ke gereja. Mungkin Tuhan memberikan kita peringatan, tetapi percayalah bahwa Tuhan sangat baik. Dia membiarkan kita masih bernapas disini, membiarkan kita masih bisa untuk memuji-Nya. Berlindung kepada-Nya. Aku menyesal, aku sunggu menyesal."

Yoochun mengangkat kepalanya, menjatuhkan pandangannya ke arah Changmin yang masih terpejam.

"Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku."

Ada beberapa jeda lagi dalam ruangan itu. Keheningan mengambil alih untuk beberapa saat, ketika Yoochun diam dan mengamati Changmin.

"Banyak yang menghawatirkanmu, kau tahu? Baru saja kemarin orangtuaku pulang, kembali ke Amerika maksudku. Mereka menjenguk kita. Dan aku sudah berjanji kepada mereka, aku akan membawamu berlibur ke Amerika. Mereka ingin bertemu denganmu. Tentu saja bertemu dengan Changmin yang sadarkan diri." Yoochun berusaha terkekeh pelan dalam keinginan untuk menahan air matanya. "Oh, kau harus melihat mereka memarahiku. Lihat, aku membuat calon istriku seperti ini. Tetapi tenang saja, aku akan tetap mencintaimu, seumur hidupku. Bahkan, jika benar kau akan buta, kau boleh mengambil mataku. Aku rela mati untukmu. Yang terpenting sekarang adalah kau bangun. Marahi aku sepuasmu, pukul aku sesukamu, bahkan aku akan membawakanmu sebilah pisau jika kau benar-benar marah karena aku membuatmu seperti ini."

Yoochun berharap ada yang menjawab ucapannya, tetapi yang dia ajak bicara hanya diam. Lagi-lagi hanya diam.

"Aku tidak marah karena kau tidak menjawabku. Aku hanya akan marah lagi jika kau tidak bangun untukku."

Yoochun menjatuhkan pandangannya ke arah sebuah kalendar meja yang berada di atas nakas. Dia sudah membuat kesepakatan kepada seluruh dokter, suster atau siapapun yang akan menangai Changmin—termasuk yang menjenguk Changmin—jika pada suatu hari Changmin bangun di bawah tanggal 4 April, katakan kepadanya bahwa sekarang adalah tanggal 26 Maret. Setidaknya pada tanggal itu Changmin tidak akan memikirkan tentang Death Cycle. Dia tidak ingin, benar-benar tidak ingin Changmin memikirkan hal itu untuk sementara waktu. Beban pikiran akan membuatnya sakit dan tidak akan pulih pada waktu yang diharapkan Yoochun.

"Changmin-ah, aku tidak marah kepadamu. Sungguh, aku akan melupakan tentang apa yang kau lakukan pada hari sebelum kita mengalami kecelakaan. Mungkin itu sebuah balasan untukku. Aku tahu aku brengsek, tetapi aku tidak akan mengatakan bahwa kau brengsek. Kau hanya terpeleset pada sebuah kesalahan yang aku buat dahulu."

Yoochun meraih jemari Changmin dan mengangkatnya dengan lembut. Dengan ketinggian yang cukup rendah, hanya beberapa senti dari alas ranjang. Dengan gerakan lembut, Yoochun mencium jemari itu, cukup lama hingga ada setetes air mata lagi yang terjatuh dari matanya.

"Kumohon, bangunlah untukku."

.:o~o:.

Sunday

April 1st, 2012

01:59 PM

Soohyun menunggu nomor yang dia hubungi menjawab panggilannya. Sudah beberapa hari ini dia menghubungi Junho, menawarkannya untuk menjenguk Yoochun, atau setidaknya menjenguk Changmin. Tetapi namja itu bersikeras, dia tidak mau.

"Soohyun, aku sudah mengatakan ini beribu-ribu kali kepadamu. Aku tidak akan pernah menjenguk laki-laki brengsek itu."

Akhirnya panggilan itu terjawab juga. Walau seperti biasa, yang Soohyun dapatkan adalah nada tinggi dari namja itu.

"Setidaknya kau menjenguk Changmin. Bukankah kalian berteman? Dia masih belum sadar dari komanya."

Soohyun mendengar Junho berdecak di ujung sana.

"Begini ya, Soohyun, bukannya aku jahat, tetapi apa aku berpengaruh jika aku menjenguknya? Kurasa tidak, sama sekali tidak. Lagipula aku benar-benar tidak ingin melihat wajah laki-laki brengsek itu."

Soohyun memutar kedua bolamatanya mendapatkan reaksi seperti itu.

"Apa kau memberitahu Junsu akan kecelakaan ini?"

"Tentu saja tidak."

Soohyun menggerenyit bingung. "Kenapa?"

"Jika Yoochun mati, baru aku akan memberitahukannya."

"Kau benar-benar membencinya."

"Kau tahu hal itu. Jadi tak usah memaksaku untuk datang ke rumah sakit. Aku akan tutup teleponnya." Ada jeda sebentar dalam kalimat itu. Soohyun diam, menunggu kalimat yang akan keluar. "Beritahu aku jika Changmin sudah sadar."

Dan setelah itu panggilan terputus.

.:o~o:.

Sunday

April 1st, 2012

02:21 PM

Kring~ kring~ kring~

Begitulah kurang lebih suara telepon rumah di kediaman Yunho dan Jaejoong yang berdering sejak tadi. Jika deringan sudah mencapai dua belas kali, tentu saja yang akan menjawab panggilan itu adalah voicemail. Jaejoong bergegas turun dari lantai dua ketika samar-samar dia mendengar suara deringan telepon dari lantai bawah. Meninggalkan Taemin yang sedang bermain dengan Kai dan Minho.

Langkah yang tergesa dari Jaejoong tak membuatnya berhasil mengangkat telepon. Voicemail lebih dahulu menangkap pesan yang ingin di sampaikan oleh si penelepon. Jaejoong segera menekan tombol yang akan membuat pesan yang penelpon berikan di dengar olehnya sekarang.

"Yeoboseyo... Jaejoong hyung. Maaf aku baru menghubungimu sekarang, aku meminjam ponsel temanku di rumah sakit. Mungkin kau belum tahu, aku sudah sadar sejak empat hari yang lalu, tetapi tidak apa. Appa bilang kau menjenguk kami selama empat hari berturut-turut bahkan ketika kami baru sampai di rumah sakit, jadi kau tidak tahu bahwa aku sudah sadar sekarang. Terima kasih karena sudah menjenguk kami. Dan maaf baru memberitahumu kabar hari ini. Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu, begitu pula dengan Yunho hyung. Jaejoong hyung, Changmin belum sadar hingga saat ini. Dia masih koma. Aku... demi Tuhan aku merasa sangat bersalah. Jika kau bisa, aku ingin kau menemuiku. Kau selalu memberikan solusi terbaik akan segala masalah. Ah, dan juga karena aku sudah melanggar janjiku agar tidak menyakiti Changmin, kau boleh memukulku sepuasnya. Aku benar-benar minta maaf karena melanggar janjiku agar tidak menyakitinya. Aku tahu kau menganggap Changmin sebagai anakmu sendiri, oleh karena itu aku bersedia jika kau memukulku. Aku bersedia mendapatkan balasan dari ibu kedua Changmin. Appa tidak memarahiku, padahal aku membuat anaknya koma sekarang." Ada jeda dalam pesan itu. "Ah, banyak yang harus kubicarakan. Tetapi tidak disini. Terima kasih, Jaejoong hyung."

Tutt

"Pesan dari nomor 010-3500-7978. Sunday April 1st 2012, 02:23 PM. Tekan satu untuk mendengarkan kembali. Tekan dua untuk memanggil nomor. Tekan tiga untuk menyimpan nomor. Tekan sembilan untuk menghapus pesan."

Jaejoong masih diam di tempatnya. Pesan itu tentu saja dari Yoochun. Yoochun memberitahukan keadaannya dan... keadaan Changmin yang belum sadar dari komanya?

Jaejoong harus pergi ke rumah sakit. Dia bergegas berlari ke lantai dua, menuju kamar anaknya. Dia melihat Taemin tengah bermain dengan Kai dan Minho.

"Kai, Minho, Jaejoong Umma akan pergi ke rumah sakit. Kalian tolong jaga Taemin ya? Nanti Jaejoong Umma panggil Ryeowook hyung untuk menemani kalian. Okay?"

Taemin segera berdiri dari duduknya dan memeluk Jaejoong.

"Umma mau menjenguk Changmin hyung?"

Jaejong mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Ya. Tapi Taemin tidak bisa ikut sekarang. Besok kita akan ke rumah sakit lagi, bersama Appa. Ya?"

Taemin menggeleng dan mempererat pelukannya pada Jaejoong. "Taemin ingin ikut, Umma."

"Kalau Taemin ikut, Kai dan Minho bermain dengan siapa? Taemin disini saja, besok Umma janji kita akan ke rumah sakit lagi, okay? Lagipula ada Ryeowook hyung yang akan menemani kalian."

Minho berdiri dari duduknya dan mendekati Taemin. "Taemin disini saja. Besok kan masih bisa untuk menjenguk Changmin hyung."

Jaejoong mengangguk membenarkan ucapan Minho. "Ya. Nah sekarang Taemin jadi anak Umma yang baik ya?"

Dengan perlahan Taemin melepaskan pelukannya dari Jaejoong. Dia mengangguk pelan dengan mata yang sedikit bergetar. Jaejoong tersenyum ketika Kai berdiri dan memilih untuk memeluk Taemin.

"Nah, kan disini ada yang menemani Taemin, jadi biarkan Jaejoong Umma yang pergi sekarang ya? Lagipula rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak-anak." kata Kai dengan lembut.

Jaejoong terkekeh pelan mendengar ucapan Kai yang terdengar sok dewasa itu. Sedangkan Minho hanya memutar kedua bola matanya.

"Jangan sok dewasa, Kai."

Jaejoong tertawa dan menepuk kepala Minho dengan lembut.

"Okay, okay. Umma pergi sekarang. Jangan bertengkar ya? Ryeowook hyung akan datang secepatnya."

Setelah itu Jaejoong meraih handphone-nya dan menghubungi Ryeowook sebelum pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.

.:o~o:.

Sunday

April 1st, 2012

04:09 PM

Jaejoong membuka pintu kamar dimana Yoochun dirawat dengan perlahan. Ketika pintu terbuka setengah, dia mendapati kamar tersebut kosong. Mungkin untuk kebanyakan orang pasti akan mengira bahwa pasien sedang berada di kamar mandi, namun Jaejoong segera mengambil kesimpulan bahwa Yoochun berada di kamar Changmin, tepat di sebelah ruangannya. Jaejoong segera menutup pintu dan bergegas pergi ke ruangan samping. Dia membuka pintu itu dan segera masuk ke dalam. Matanya menangkap Yoochun yang melihat ke arahnya—dengan posisi duduk di kursi roda seraya menggenggam jemari Changmin. Jaejoong tersenyum, menutup pintu dan setelah itu menghampiri Yoochun.

"Dia masih tidur?"

Yoochun mengangguk. "Aku harap dia bangun hari ini." Yoochun membalas senyuman itu. "Kau datang. Kemana Taemin?"

Jaejoong meraih sebuah kursi—yang di sediakan disana—dan menariknya mendekati Yoochun. "Dia akan kesini besok." Dan kemudian Jaejoong duduk disana.

Setelah itu Yoochun diam, mengusapi jemari Changmin dengan lembut sebelum kembali berkata, "Nah, apa kau akan memukulku sekarang?"

Jaejoong tertawa pelan. "Lupakan akan janjimu itu. Tetapi hanya untuk kali ini! Untuk selanjutnya, jika kau berani menyakiti Changmin lagi akan kubunuh kau."

"Aku takut padamu, jujur. Kau benar-benar sosok umma yang baik."

Jaejoong berdecak kecil. "Umma yang baik tidak akan mengancam dengan membunuh. Kau menyindirku."

Kalimat itu sukses membuat Yoochun tertawa. Yoochun memiringkan posisi kursi rodanya sedikit, agar bisa berhadapan dengan Jaejoong. Namun tangannya tetap tak lepas dari jemari Changmin.

Jaejoong menarik segaris senyuman simpul. "Jadi bagaimana keadaanmu? Sungguh, kukira kau tidak akan selamat karena kudengar kau tidak memakai sabuk pengaman."

Yoochun mengangguk. "Aku tahu. Bahkan aku juga bingung. Seharusnya aku mati, atau setidaknya aku yang sedang terbaring koma sekarang. Tetapi... mengapa Changmin? Padahal dosaku lebih banyak terhadap Tuhan, seharusnya jika Ia murka, ia akan menyelesaikan hidupku pada saat itu juga."

"Itu takdir, Yoochun. Kau harus menerimanya."

"Aku tahu," Yoochun meremas jemari Changmin, memberitahunya bahwa dia merasa penyesalan itu datang lagi menyelubunginya. "Tetapi mengapa? Hanya itu pertanyaaanku. Mengapa."

"Hanya Tuhan yang tahu." kata Jaejoong. "Jadi apa sekarang aku bisa mendapatkan penjelasan mengapa kalian bisa mengalami kecelakaan mobil? Aku tahu itu takdir, tetapi pasti ada sesuat—"

"Itu salahku." Yoochun memotong. "Pada hari itu aku benar-benar berada di puncak amarah. Seumur hidup, itu adalah pertama kalinya aku semarah itu. Pernah dahulu aku sangat marah, tetapi tidak berakibat fatal seperti ini. Ya, waktu SMU dulu hanya berujung pada teman yang kupatahkan tulang keringnya."

"Alasan kau marah? Aku harus mengetahui hal-hal yang menyangkut akan Changmin."

Yoochun terdiam untuk beberapa saat. Ada gejolak amarah lagi ketika dia mengingat apa yang dilakukan Changmin dengan namja pengganggu hubungan mereka. Ingin dia membunuhnya sekarang, jika dia bisa bertemu dengannya.

"Aku tidak bisa memberitahukannya."

"Mengapa tidak bisa?"

Yoochun menggeleng pelan. "Salahku. Aku tidak bisa menjaga atau memperhatikan Changmin. Itu alasan mengapa Changmin juga bisa lepas kendali seperti itu."

Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dada. Satu kakinya bertumpu pada kaki yang satunya. Dia menatap Yoochun meminta jawaban. "Kau harus memberitahuku apa yang dimaksud dengan lepas kendali?"

"Aku tidak bisa."

"Kau harus." Jaejoong menekankan kalimatnya.

Yoochun menatap Jaejoong di hadapannya. Percuma menyembunyikan hal penting kepada Jaejoong yang menyangkut akan Changmin. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Jaejoong benar-benar menganggap Changmin sebagai anaknya. Ada perasaan sayang yang berlebih jika mereka hanya dikatakan sebagai sahabat.

"Ch-Changmin mengetahui masa laluku, maksudku masa laluku yang paling buruk. Kau juga pasti akan membenciku jika kau tahu. Dan hal itu tentu saja membuat Changmin marah atau mungkin memikirkan hal itu. Maka... dia lari kepada namja yang sejak awal sudah membuat Changmin sedikit menjauh dariku. Dan... ya kau tahu, Changmin lepas kendali. Tak bisa mengontrol emosi... dan... dan dia melakukan hal yang benar-benar membuatku marah pada hari itu."

Jaejoong mengangkat salah satu alisnya. "Apa itu... seks?"

"Kau tahu alasan mengapa aku begitu marah dan lepas kendali."

.:o~o:.

Sshh, the little secret

Aku kalau buat FF tuh spontan, jadi apa yang ada di otak langsung aku keluarin

Dan membuat YooMin kecelakaan itu benar-benar... ASTAGA! Hal itu membuat rencanaku dirubah secara BESAR-BESARAN! TIDAAAAAAAAAAKKK! *ceburin diri ke akuarium*

Dan sekarang aku harus berpikir ulang =3=

Ah, di FF ini (maaf untuk sebelumnya) ehm, Ayahnya Yoochun masih hidup ya

Dan untuk info, kalau Yoochun tuh manggil Mr. Shim pake panggilan Appa, kalau Changmin manggilnya Ayah *gak penting juga sih*

Eh, dan juga maaf kalau lama update

Aku gak males kok selama kalian masih menunggu FF ini

Aku hanya mengikuti deadlineku :3

Okay, aku cinta kaliaaaaaaaaaaaaaaaannnn :*

Els : Hehe tebak-tebakan aja *diinjek

Zhao Gui Xian : Ada maksud yang tersembunyi sih hehehe

PoLipo : Hehe maaf yaaaaa *dimutilasi* Uooohoho itu rahasia ne? Okay update!

Miaw. Miaw : Hehe itu chapter yang pendek dan gelap (?). Yosh update!

Shania9ranger : Maaf ya~ tapi chapter ini lumayan panjang kan? Kekeke *kedip-kedip genit* *ditendang

kangkyumi : Ehm, rahasia deh *author gila yang seneng maen rahasia-rahasiaan*. Yang pasti ini udah ada lanjutan yang mungkin bisa sedikit emmbantu *apanya?* kekeke *diinjek

blacknancho21 : Maafkan dakuuuu *ngerengek* hehe. Okay okay, update!

Meong : Waw waw, ayo tebak-tebakan :) *diinjek

WidiwMin : Ohoooy~ rahasia deh kekeke *dicekek. Okay, aku udah update! Yosh!

ejinki : Amin. Doain complete ya hehehe. Ne, hwaiting~

mutun : Maafkan aku cintaaaaaaaa #plak. Eh enggak kok, aku gak badmood. Ya ini FF kan di post menurut hari asli, jadi... aish susah jelasinnya. Yah yang pasti beginilah ceritanya kekeke *dicekek*. Kok malah asik sih -.-'. Ne, aku ikutan :D AMIN AMIN, makasih yaaaaaaaaaaa~ iya aku udah baca komentar kamu kok :*

MinKi Lie : Tapi yang ini lumayan panjang kan? (?). Kekeke okay, lanjuuuuut~

Leeyasmin : Rahasia deeeehh *digiling*. Tebak-tebakan aja yaaaaa :3 *disiram

MinkyuKihae : Wah, wah, bisa terjawab sedikit kan di chap ini *wink. Haha request nih ceritanya. Okay kita lihat saja nanti~

zakurafrezee : Maafkan akuuuuu T.T ah itu rahasia deh eonni *digigit. Yah, masa Silky harus mati -_- masa juga semua harus mati -_- ntar siapa yang main dong? Jangan nangis~

chidorasen : Wahahaha rahasia *disiram air aqua (?)*. Okay, update!

Ticia : Wahaha penasarannya sama aku aja gimana *wink* *ditabok*. Okay, itu semua rahasia yang akan terjawab :3

nobinobi : Hehe :D rahasia deh. Okay, update~

ukechangminnie : Ouhhh that's a secret I'll never tell *diinjek

doubleU26 : Gwenchana :) YOSH! Semangat ujian-nya! *bawa spanduk YooMin*. Okay, kita lihat saja nanti *diceburin ke sumur* Ne, fighting! Gomawo~

yui : Okay :D maafin ya pendek~. Nah chapter ini dapat membantu sedikit kan?

pumpkins : Hohoho ne update kilat! Yosh! :D

With love, Yuri Masochist

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin | Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung a.k.a ejinki | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu | Natsue | michio giichi chan | mhiakyu | missrama | Zhao Gui Xian | magiciankunai | Ruffy tabooty | EviLisa2101 | Shim Minsu | dew | jungyunhae | Shania9ranger | yui | CloudSomniaLoveYunJae | Reader menunggu | scuit | MinkyuKihae dan untuk semuanya.

Eh, ada 100 orang? :O

Just call me Yuri :)