Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Hurt | April 2nd, 2012
Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Baekhyun, Soohyun, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, Sooman dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO-K, Big Bang, U-Kiss)
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 3K yang begitu pendek. Maafkan aku~
.
.
.
.
The Time: Hurt | April 2nd, 2012
.
Monday
April 2nd, 2012
08:53 AM
Yoochun duduk di kursi rodanya, memandangi Changmin yang masih memilih untuk tidur dalam komanya. Yoochun sama sekali tidak akan bosan untuk melakukan kegiatan seperti ini, andaikata ini akan terjadi seumur hidupnya. Dia ingin, sangat menginginkan bahwa dialah orang pertama yang Changmin lihat ketika matanya terbuka. Ketika namja yang begitu dicintainya kembali ke dunia. Hal itu pasti akan menjadi salah satu moment paling berharga bagi Yoochun sendiri.
"Coba lihat, wajahmu begitu pucat. Kuharap kau bangun hari ini dan aku akan memberikanmu sebuah ciuman permintaan maaf."
.
.
The Time
Hurt | April 2nd, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Monday
April 2nd, 2012
10:22 AM
Jungmo mempercepat langkahnya ketika dia melihat Dokter Sooman—salah satu dokter terbaik dan juga senior di Seoul National University Hospital—keluar dari ruangan dimana Changmin dirawat. Dia memanggilnya dengan nada sopan—tanpa berteriak—dan laki-laki berumur paruh baya itu menghentikan langkahnya dan berbalik, menghadap ke arah Jungmo yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Ah, Jungmo-ssi, ada apa?" tanyanya ramah.
Jungmo memasukan kacamata berbingkai hitam yang sebelumnya ia kenakan dan menyimpannya di saku jas. "Begini, aku... aku hanya ingin menanyakan tentang kondisi Changmin."
"Belum ada tanda-tanda dia akan sadar dari komanya."
"Aku berharap bukan jawaban itu yang kudengar."
Sooman menghela napasnya dan menggeleng pelan. "Tetapi itu adalah kenyataannya. Yoochun mencoba berkomunikasi dengannya setiap hari, namun Changmin tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Entahlah, aku berharap komanya tidak akan berjalan lebih dari berminggu-minggu."
"Aku juga tidak berharap seperti itu. Ah, terima kasih Sooman-ssi."
"Santailah, Jungmo-ssi. Jika ada lagi yang ingin kau tanyakan, temui aku saja."
"Ne." Jungmo menunduk sedikit, memberikan hormat. "Terima kasih."
Sooman tersenyum. Setelah itu dia kembali berjalan, menuju tempat yang ia tuju.
Jungmo tersenyum tipis. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya dan berjalan menuju ruang rawat Changmin. Dia perlu menemui Yoochun sekarang.
Jungmo membuka pintu secara perlahan, menampilkan sosok Yoochun yang menoleh ke arahnya—dengan tangan yang menggenggam tangan Changmin. Yoochun tersenyum tipis. Mengembalikan pandangannya ke arah Changmin dan mengusap tangannya.
"Kapan dia akan bangun?" tanya Yoochun pelan. Dia menggeleng, menampilkan raut sedihnya. "Apa kau tahu?"
Jungmo berjalan menghampiri Yoochun. Melihat kondisi Changmin dari dekat. "Secepatnya. Aku berharap begitu. Jangan berhenti berdoa, Yoochun-ah."
"Aku tidak pernah berhenti berdoa untuknya." kata Yoochun pelan.
Jungmo mengangguk. Ada yang perlu dia bicarakan kepada Yoochun. Sekedar untuk menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Tetapi, melihatnya begitu mengharapkan Changmin untuk bangun sekarang membuatnya merasa semakin iba. Tidak ada cara lain yang dapat membuatnya bahagia, selain Changmin yang membuka matanya.
Yoochun mendongakan kepalanya dan menoleh ke arah Jungmo. "Ah, apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan? Tidak mungkin kau kemari tanpa tujuan."
"Tidak ada." Yoochun memandangnya dengan tatapan tidak yakin, membuat Jungmo mendesah pelan dan mengalah. "Okay. Sebenarnya aku kesini hanya sekedar untuk menghiburmu—dengan cara yang sama sekali belum aku pikirkan—karena melihatmu begini setiap hari membuatku iba." Jungmo mengeluarkan kacamata dari dalam saku jas dan mengenakannya. "Tapi, mungkin aku hanya dapat membantu dengan doa. Aku hanya dapat memberikanmu itu. Mungkin, dengan banyaknya doa untuk Changmin, Tuhan akan membuatnya bangun."
Yoochun mengangguk pelan dan kembali menatap Changmin. Jarinya terulur, menyentuh wajah Changmin yang sedikit ternoda dengan luka goresan, lebam dan jahitan dengan lembut. Seolah-olah Changmin adalah sesuatu yang dapat hancur jika diperlakukan dengan kasar. "Kuharap begitu. Terima kasih, Jungmo-ah."
Jungmo menepuk pundak Yoochun pelan. Dia tersenyum, menarik napas dan kemudian berkata, "Baiklah. Aku tidak bisa melakukan banyak tetapi kuharap Changmin bisa sadar secepatnya. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku. Aku akan keluar dulu."
Yoochun mengangguk, mempersilahkan. Setelah itu Jungmo keluar dari kamar VVIP itu dan menghilang di balik pintu yang menjadi batas antara kamar dengan koridor.
Jari Yoochun mengusap pipi Changmin dengan lembut. Tersenyum, senyum yang begitu menenangkan namun sedetik kemudian senyuman itu berubah menjadi senyum miris.
"Kau harus bangun untukku. Aku sangat merindukanmu, Sayang. Kumohon maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini."
Seperti biasa, yang menjawab kalimat Yoochun hanyalah suara mesin ECG, detak jam dinding, dan juga deru napas masing-masing yang terdengar tipis.
Jari Yoochun naik secara perlahan, menyentuh dahi namja tinggi itu dan mengusapnya dengan lembut.
"Banyak yang menghawatirkanmu, kau tahu? Bahkan Taemin, Minho dan Kai juga begitu. Apa kau tega melihat kami yang begitu mengharapkanmu untuk membuka mata?"
Mencoba untuk mendapatkan jawaban namun lagi-lagi hanya hening yang Yoochun dapatkan. Namun namja itu tidak akan mungkin menyerah semudah itu. Walaupun Changmin tak menjawab segala ucapannya, Yoochun yakin Changmin mendengar segala kalimatnya. Tentu saja alam bawah sadarnya yang menangkap semua itu.
"Jika aku bisa, aku akan memutar waktu dari awal. Dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin aku bisa membawamu ke Amerika, dan kau tidak akan bertemu dengan namja itu."
Yoochun terkekeh pelan dan kemudian mengusap pipi Changmin.
"Tentu saja hal ini tidak akan terjadi. Mungkin kita sedang menikmati hidup kita berdua sekarang. Tanpa ada seorangpun yang mengganggu hubungan kita."
Kekehan itu hilang secara perlahan. Berganti lagi dengan raut sedih yang penuh harapan.
"Tetapi, kenyataannya bukan seperti itu. Kau... kau sedang terbaring koma sekarang, dan..." Yoochun menarik napas ketika rasa bersalah itu datang lagi ke pikirannya. "...dan aku yang membuatmu seperti ini. Aku tidak sanggup jika kau terus sep—"
Yoochun menghentikan kalimatnya. Matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya serasa berhenti detik itu juga. Ada gerakan pelan di kelopak mata yang tertutup itu. Gerakan kecil yang sangat berarti bagi Yoochun. Dan belum sempat dia melakukan apapun, kelopak mata yang terbuka secara perlahan itu membuatnya seperti melihat sebuah keajaiban.
"Ch-Changmin?"
Yoochun tak dapat membendung rasa bahagianya. Dia menahan dirinya untuk tidak segera memeluk tubuh lemah itu. Banyak kalimat yang ingin dia ucapkan, melihat kedua mata itu terbuka, namun sebuah nama yang terlontar dari bibir pucat itu membuat Yoochun mengurungkan keinginannya.
"K-Kyu...hyun?"
Deg!
Demi Tuhan, rasanya sakit sekali!
Yoochun berusaha tersenyum dan membunuh rasa sakit di dadanya. Memilih utnuk berdiri dari kursi rodanya dengan perlahan dan merendahkan wajahnya, menatap wajah pucat yang baru kembali ke dunia.
"Ini aku, Sayang."
Bola mata Changmin bergerak lemah. Matanya tak sepenuhnya terbuka, bahkan terlihat hampir menutup lagi. Ketika Yoochun mengusap kembali pipinya, kedua bola mata itu menangkap sosok Yoochun di hadapannya.
"A-aku... d-dim—"
"Sshh," Yoochun mengusap kening Changmin dengan lembut. "Jangan banyak bicara. Kau baik-baik saja disini. Aku akan memanggil dokter untukmu."
Yoochun menarik napasnya selagi jarinya mengusapi wajah Changmin dengan lembut. Bukan hanya rasa sakit biasa, tetapi rasa yang benar-benar menyakitkan ketika kekasihmu memanggil nama orang lain pada saat pertama dia sadar dari kondisi antara hidup dan matinya.
.:o~o:.
Monday
April 2nd, 2012
10:27 AM
Kyuhyun duduk di tepi ranjangnya, memperhatikan handphone milik Changmin di tangannya. Handphone itu berada padanya sejak kejadian pagi hari itu. Dimana Yoochun memukulinya karena sadar atau tidak dia telah merebut Changmin dari sisinya.
Dan dia tidak bisa melakukan apapun ketika dia mendengar bahwa mobil yang dikendarai oleh Yoochun dan Changmin mengalami kecelakaan dari salah satu berita di saluran TV swasta. Menjenguknya bukan jawaban yang tepat, kecuali jika ia ingin mendapatkan banyak pukulan lagi di wajahnya. Namun sepertinya duduk diam memikirkan namja itu juga bukan jawaban yang tepat. Kyuhyun sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi Changmin sekarang. Apakah namja itu selamat ataukah tidak. Dia hanya bisa membantu dengan doa, yang entah akan diterima oleh Tuhan ataukah tidak. Dirinya sudah cukup menjadi orang yang hina. Merusak hubungan orang lain dengan cara yang tidak terlihat.
"Changmin, bagaimana keadaanmu? Sungguh, maafkan aku."
.:o~o:.
Pertama, maaf jika chapter ini sangat pendek
Aku hanya ingin kalian tahu, jika aku publish FF ini pagi hari—entah itu dini hari atau shubuh atau juga pagi dimana matahari baru menyingsing—itu artinya aku tidak tertekan saat membuat chapternya. Tetapi jika aku publish pada sore atau malam hari, itu artinya chapter ini baru saja aku buat dengan terburu-buru. Jadi, maaf jika hasilnya tidak banyak.
Dan artinya, chapter ini baru saja aku buat beberapa detik yang lalu. Astaga, maafkan aku karena ini sangat pendek. Yang pasti besok aku akan publish lagi :D so biarkan aku membuat chapternya sekarang, okay?
Big thanks for my beloved readers
MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin | Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung a.k.a ejinki | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu | Natsue | michio giichi chan | mhiakyu | missrama | Zhao Gui Xian | magiciankunai | Ruffy tabooty | EviLisa2101 | Shim Minsu | dew | jungyunhae | Shania9ranger | yui | CloudSomniaLoveYunJae | Reader menunggu | scuit | MinkyuKihae | Reinatta | vitthia | anon | Cho min ri dan untuk semuanya.
Eh, ada 104 orang? :O
Just call me Yuri :)
With love, Yuri Masochist
