Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Mirth | April 3rd, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Baekhyun, Soohyun, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, Sooman dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO-K, Big Bang, U-Kiss)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 3L sebelum 4 April. Who's next?

.

.

.

.

The Time: Mirth | April 3rd, 2012

.

Tuesday

April 3rd, 2012

06:11 AM

"Aku tidak suka cara pemikiranmu." kata Jungmo.

Yoochun mendongakan kepalanya dan melihat Jungmo yang menatapnya tidak suka—di dekat jendela sedangkan dia duduk di sisi ranjangnya.

"Perlu kau tahu bahwa orang yang sadarkan diri dari koma terkadang tidak pernah tahu dengan apa yang harus dia lakukan atau katakan. Kau sendiri bukan yang memberitahu padaku tentang kisah Joey Hopkins yang mengatakan 'fuck off' kepada ibunya ketika dia pertama sadar dari komanya selama 41 hari? Sedangkan anak itu sama sekali tidak tahu mengapa dia ingin sekali mengucapkan hal itu." Jungmo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya. "Itu artinya Changmin juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau katakan. Mungkin saja, hal terakhir yang dia ingat adalah masalahnya bersama Kyuhyun. Jadi ketika dia membuka mata nama itu yang melintas di pikirannya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa—"

"Tetap saja itu artinya dia memikirkan namja sialan itu."

Jungmo menggeleng tidak suka. Dia sangat tahu pasti bahwa Yoochun merasa sangat sakit ketika dia benar-benar menghawatirkan Changmin, menunggunya setiap hari walaupun kondisinya sendiri masih belum pulih, tetapi yang dia dapatkan adalah nama orang lain yang disebut oleh namja itu. Sungguh, rasanya sangat menyakitkan ketika kekasihmu melakukan hal itu. Dua tahun yang mereka lalui bersama seolah tidak ada artinya. Itu membuat Yoochun benar-benar sakit, kecewa, sedih bahkan marah.

"Jadi kau menyalahkan Changmin?"

"Aku tidak pernah menyalahkan Changmin. Sudah jelas bahwa itu adalah salah Kyuhyun yang masuk ke dalam hubungan kami."

Jungmo mengeluarkan tangannya dari saku jas dan melipatnya di depan dada. "Coba aku tanya satu hal padamu. Mengapa hal itu bisa terjadi?"

Dan pertanyaan itu membuat Yoochun memilih untuk bungkam. Jika ditanya seperti itu, tentu saja kesalahan ada pada dirinya. Walaupun kesalahan itu terjadi secara tidak terlihat.

"Kedekatan pertama Changmin dan Kyuhyun, kau bilang terjadi mulai bulan Januari—karena Changmin mengurusi kasus Kyuhyun, bukan?" Jungmo menunggu Yoochun mengangguk untuk menjawab pertanyaannya, namun yang dia dapatkan hanyalah diam. "Hari demi hari tentu saja berlalu. Dan jika kau benar-benar kekasih yang sangat mencintai Changmin, tentu saja kau akan mengawasi gerak-geriknya, sebelum dia benar-benar jatuh seperti ini."

Benar. Kau benar, Jungmo. Pertama aku hanya bersikap biasa karena bukan pertama kalinya Changmin membantu orang lain dalam sebuah kasus. Kecurigaan itu muncul ketika sikap Changmin yang benar-benar sangat peduli terhadap Kyuhyun, berbeda dengan para klien lainnya. Tetapi aku tetap saja diam, curiga dalam batinku sendiri. Aku bahkan tidak melakukan apapun kepada Changmin ketika ia memeluk Kyuhyun dan mencium rambutnya di hadapanku. Aku seharusnya sudah melakukan hal yang membuat Changmin menjauhi Kyuhyun, sebelum dia berhasil membebaskan namja itu dari penjara. Namun, aku terlambat. Ketika Kyuhyun bebas dari penjara, itu adalah bahaya terbesar bagi hubungan kami. Dan akhirnya, jatuh pada kejadian di hari itu. Yoochun menggenggam tangannya keras, bahkan kuku jarinya yang tidak panjang itu terasa menusuk kulit telapak tangannya. Dan tentu saja hal itu terjadi karena kelalaianku. Aku tidak bisa menjaganya. Aku hanya curiga tetapi tidak melakukan apapun selama dua bulan lebih itu. Aku baru bersikap overprotective belakangan ini, dan hal itu... terlambat. Changmin sudah jatuh dalam emosinya. Dia belum bisa membaca emosinya. Dan mengetahui masa laluku, membuat dia semakin merasa bahwa aku bukanlah pria yang baik untuknya.

"—Chun! Yoochun! Hey!"

Yoochun mengerjapkan matanya dan menatap Jungmo kembali.

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Jadi, apa kau sudah memikirkan kesalahanmu?"

Mau tidak mau Yoochun mengangguk pelan menjawab pertanyaan salah satu teman baiknya. "Aku mengakui itu kelalaianku sejak awal."

"Kau memang harus mengakui hal itu. Kau tahu bagaimana emosi Changmin, oleh karena itu kau mempunyai kewajiban untuk mengontrolnya—maksudku kau benar-benar harus menjaganya."

"Dia benar-benar anak kecil dimataku."

Jungmo mengangguk setuju.

.

.

The Time

Mirth | April 3rd, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Tuesday

April 3rd, 2012

07:32 AM

Satu sendok sup lagi yang masuk ke dalam mulut Changmin pagi ini. Changmin duduk di ranjangnya, menyandar di sandaran ranjang rumah sakit yang dinaikan. Sedangkan Yoochun duduk di sebuah kursi yang memang berada di kamar VVIP itu—Yoochun menolak menggunakan kursi roda lagi sejak hari ini karena dia merasa sudah bisa berjalan dengan baik. Dia menjauhkan wajahnya ketika Yoochun berniat untuk menyuapinya sesendok sup lagi.

Yoochun hanya menghela napas dan meletakkan sendok itu dalam mangkuk sup. Memperhatikan Changmin yang mengembalikan pandangan ke arahnya.

Ada beberapa saat dimana mereka kalah oleh keheningan di ruangan itu. Changmin hanya diam, memperhatikan Yoochun namun tidak ke matanya sedangkan Yoochun sendiri memperhatikan bagaimana Changmin melihatnya.

"Aku bahagia ketika kau sadar. Kemungkinan bahwa kau akan buta ternyata tidak terjadi. Padahal keadaanmu begitu parah. Kau dinyatakan akan lumpuh, buta, dan bisa saja kau meninggal pada kecelakaan itu." Yoochun melihat Changmin sudah melihatnya ke arah mata. "Tetapi kau masih hidup. Aku sangat bahagia, benar-benar bahagia ketika kau sadar dari kom—"

"Jangan membohongi dirimu sendiri." Changmin memotong kalimat Yoochun yang belum selesai. "Jangan pernah membohongi dirimu sendiri hanya untuk tersenyum di depanku. Kau sakit, aku tahu. Maafkan aku kemarin. Aku tidak tahu mengapa nama itu yang keluar dari mulutku. Bukan keinginanku ketika melakukannya. Kau harus tahu, ketika aku tak sadarkan diri aku berada di suatu tempat. Dan aku berharap aku tidak pergi kesana lagi."

Changmin menarik napas sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. Dia merasa tubuhnya masih lemah, belum terlalu mampu untuk mengatakan banyak hal. Tetapi dia perlu, demi kelangsungan hubungannya dengan Yoochun. Yoochun menarik jemari kiri Changmin dan menggenggamnya.

"Disana sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Tempatnya sangat panas, dan aku merasa diriku terbakar disana. Aku buta, bisu dan lumpuh. Aku tidak bisa melakukan apapun, hanya dapat merintih dalam hati, mendengar ada suara berat yang menyiksaku. Kurasa itu Dia. Namun seringkali, di tengah rasa sakitku, aku bisa mendengar suaramu memanggil namaku. Itu membuatku bertahan, dan aku ingin kembali ke kehidupan nyata. Dimana aku bisa melihatmu..." Changmin melepaskan tangan Yoochun yang menggenggam jarinya. Dia mengulurkan jari itu setelahnya dan mengusap pipi Yoochun dengan lembut. "...secara nyata seperti ini."

Yoochun menarik segaris senyuman lembut, dan Changmin membalasnya dengan tulus.

"Aku sadar aku yang salah. Aku masih mengingat kejadian di pagi itu. Aku harus menerima balasan yang setimpal. Dan melihatmu menabrakan mobil pada truk itu membuatku pasrah, bahwa jalan ini yang harus kuterima. Setidaknya, jika aku mati, aku mati di tanganmu. Dan itu rasanya lebih baik daripada aku hidup dan menyiksa dirimu seperti ini."

Yoochun menggeleng pelan mendengar kalimat itu. "Kau tidak salah, Sayang."

"Tentu saja aku salah."

"Itu terjadi karena kau tidak bisa mengerti dirimu sendiri. Dan aku tidak bisa menyalahkanmu. Masih banyak orang yang tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Dia bisa mengerti akan orang lain, tetapi dia tidak bisa membaca dirinya dan hal itu membuat dia akan jatuh ke dalam emosi yang tidak bisa dia kendalikan. Dan hal itu terjadi padamu." Yoochun membuang napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku percaya padamu. Kejadian di hari itu terjadi karena kau tidak bisa mengontrol emosimu. Aku tahu kau pasti kaget pada masa laluku, dan hal itu membuat dirimu mengambil suatu kesimpulan bahwa aku masih orang brengsek untukmu. Perlu kau tahu satu hal, aku sangat mencintaimu dan tak akan pernah kulepaskan dirimu. Tak akan pernah aku membiarkan dirimu direbut oleh orang lain. Termasuk oleh Kyuhyun."

Setelah kalimat itu terlontar, keheningan berhasil kembali menguasai keadaan. Tidak terlalu lama, sampai Yoochun kembali berucap.

"Changmin, perlu kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu."

Dan akupun begitu. Aku juga mencintaimu, Yoochun hyung. Tetapi mengapa hatiku tidak pernah bisa lepas dari Kyuhyun? Aku sadar bahwa aku juga sangat mencintaimu, itu alasan mengapa aku ingin kembali hidup ketika aku mendengar suaramu. Tetapi... oh Tuhan, tolong bunuh perasaanku terhadap Kyuhyun. Itu salahku, aku tahu. Aku sangat menyadari bahwa aku juga sangat mencintai Yoochun, tetapi mengapa selalu ada ruang untuk Kyuhyun di hatiku?

"Aku tahu hal itu. Dan aku mengatakan ini benar-benar tulus dari hatiku." Changmin menarik napas dan tersenyum. "Aku sangat mencintaimu."

Dan aku akan berusaha untuk membunuh perasaanku terhadap Kyuhyun. Walau, ketika berada di dekatnya, hal yang ingin aku lakukan adalah melindunginya.

Yoochun meletakkan mangkuk sup itu di meja nakas samping ranjang. Berdiri dari duduknya dan mencium Changmin di bibir dengan lembut.

"Aku lebih mencintaimu. Bahkan cinta ini melebihi cintaku terhadap diriku sendiri."

Tuhan, aku hanya ingin satu orang yang mengisi hatiku. Dan cukup Yoochun-lah orangnya.

.:o~o:.

Tuesday

April 3rd, 2012

09:44 AM

Kyuhyun bergerak gelisah di kamarnya. Sudah sejak tadi dia berjalan mondar-mandir disana. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu, dia memikirkan sesuatu yang sangat penting menurutnya.

Besok tanggal 4 April dan dia masih belum tahu bagaimana kondisi Changmin.

Bagaimana jika dirinya yang menjadi korban besok? Atau mungkin orang yang berada di sekelilingnya? Atau bagaimana jika itu Changmin? Oh tidak, dia bahkan belum mengetahui bagaimana keadaan Changmin sekarang. Pembawa berita itu mengatakan bahwa kemungkinan korban tidak akan selamat, dan setelah itu Kyuhyun tidak tahu bagaimana selanjutnya. Apa mereka benar tidak selamat, atau tidak?

"Aku berharap malam itu tidak pernah terjadi. Melihatmu bersama Yoochun lebih baik daripada sama sekali tidak tahu bagaimana kabarmu."

Walau hati ini masih berharap bahwa kau menjadi milikku.

.:o~o:.

Tuesday

April 3rd, 2012

01:57 PM

"Changmin hyung, ayo cepat sembuh. Nanti kita belmain lagi belsama." Taemin merengek dengan suara imut seraya menggoyangkan tangan kiri Changmin dengan lembut.

Changmin terkekeh pelan melihat tingkah anak kecil itu. Begitupula dengan Jaejoong dan Yoochun yang juga berada di ruangan itu, tempat Changmin berada.

"Taemin, jangan terlalu bersemangat." kata Jaejoong memperingatkan.

Minho berjalan mendekati Taemin dan meraih tangannya. Membuat tangan Taemin terlepas dari lengan Changmin.

"Changmin hyung masih harus istirahat, jangan diganggu dulu." kata Minho lembut.

Kai mengerucutkan bibirnya sebelum dia mendekati Taemin juga dan menariknya ke sebuah pelukan. "Lebih baik main bersama Kai saja."

"Aniya." Minho berusaha melepaskan Taemin dari pelukan Kai. "Bermain bersama Minho hyung saja."

"Aish, diamlah hyung!" Kai mempererat pelukannya pada Taemin. "Jangan mengganggu kami."

"T-Taemin tidak bica belnapas, K-Kai-ah."

"Ya! Kau dengar sendiri, 'kan?" Minho mendorong tubuh Kai dan membuat pelukan itu terlepas.

Jaejoong segera mendekati mereka, takut jika kedua anak itu bertengkar.

"Ish, sudah, sudah. Jangan bertengkar. Kalian bisa bermain bersama. Taemin mau bermain dengan Kai dan Minho, 'kan?"

Taemin mengangguk manis, memperlihatkan sebuah lengkungan senyum di bibir mungilnya.

"Jangan beltengkal. Kalian saudala, jadi tidak boleh beltengkal. Kata Umma, kalau beltengkal, nanti tidak punya teman. Nanti Taemin tidak mau belmain dengan kalian lagi."

Jaejoong mengangguk seraya mengacak rambut anaknya. Taemin melebarkan senyuman, senang dengan perlakuan itu. Sedangkan Yoochun dan Changmin hanya tertawa pelan melihat mereka.

"Aku jadi ingin punya anak." kata Yoochun, berbisik di telinga Changmin.

Wajah Changmin memerah samar mendengar kalimat itu. Dia menoleh dan melihat Yoochun yang menatapnya penuh harap. "Jangan membuatku sedih. Kau tahu bahwa aku tidak bisa hamil, bukan?"

"Aku tahu." Yoochun mengecup hidung Changmin lembut. "Tetapi, tidak ada salahnya untuk terus mencoba, bukan? Jika keinginan kita kuat, Tuhan pasti memberikan kebahagiaan untuk kita. Bisa saja Ia memberikan rahim secara tiba-tiba pada dirimu. Kau tahu bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bukan?"

"Itu benar." Jaejoong memotong percakapan pribadi mereka. "Kau harus percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku namja, dan aku tidak bisa hamil. Aku dan Yunho selalu berharap, hingga akhirnya kami memilih untuk mengadopsi Taemin untuk menjadi anak kami." Jaejoong memberikan jeda pada kalimatnya, berjalan mendekati Yoochun dan Changmin dan menatap mereka dengan senyuman. "Dan aku sangat bahagia sejak beberapa hari yang lalu. Aku... dinyatakan punya rahim dan sekarang aku sedang mengandung anak Yunho di umur empat minggu."

"Dan Taemin akan punya adik!" kata Taemin berteriak. Beruntung karena Taemin sama sekali tidak punya pikiran bahwa jika anak itu lahir, kasih sayang padanya akan menipis. Dia begitu senang menantikan adiknya.

"Aku baru bisa memberitahu kalian sekarang. Alasan aku baru hamil sekarang karena memang sel telurku tidak banyak dan lemah."

Changmin tersenyum bahagia mendengar hal itu. Dia melebarkan tangan kirinya—hanya tangan kiri karena tangan kanannya masih memakai gips—untuk memberikan Jaejoong pelukan selamat. Jaejoong segera mendekat, membiarkan Changmin memeluknya.

"Kau akan punya adik baru."

"Aku turut bahagia, Umma."

Yoochun juga tersenyum, ikut senang dengan berita itu. "Selamat ya, Jaejoong hyung."

Jaejoong melepaskan pelukan itu dan tersenyum ke arah Yoochun. "Terima kasih."

"Hal apapun memang bisa terjadi, ya?" kata Minho, yang juga turut senang mendengar berita itu.

Kai mengangguk. Diam-diam menarik kembali Taemin ke dalam pelukannya dan berkata. "Dan suatu hari nanti aku akan menikahi Taemin. Itu juga bisa terjadi, iya 'kan?"

Minho yang mendengar kalimat itu segera membulatkan matanya, menatap Kai dengan tatapan cemburu sedangkan Taemin sendiri sedikit tersipu dengan ucapan itu.

Changmin tertawa. "Apakah itu sebuah lamaran?"

Jaejoong ikut tertawa pelan. Menggeleng melihat tingkah tiga anak kecil itu.

"Aku yang akan menjadi suami Taemin suatu hari nanti."

"Tentu saja setelah kau berhasil melewati mayatku."

Pertengkaran kecil dari Kai dan Minho—dengan ucapan yang terdengar sok dewasa itu—sukses membuat ketiga orang dewasa di ruangan itu tertawa. Sedangkan Taemin, tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya ketika dia diperebutkan.

"Aish, Kai, Minho, jangan terlalu sering menonton drama."

.:o~o:.

Tuesday

April 3rd, 2012

03:21 PM

"Kau mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Shindong seraya menatap Eunhyuk yang sudah bersiap untuk pulang dari kantor NCIS.

Eunhyuk menoleh, melihat ke arah Shindong yang menatapnya penuh tanda tanya.

"Ya. Setelah aku memesan kue untuk ulang tahunku besok. Aku ingin Donghae melihatku tersenyum, melihatku merelakan kepergiannya dan bisa bahagia di hari ulang tahunku walau tanpa dirinya."

Wajah Shindong berubah menjadi miris. Dia menekan tombol 'close' pada game di komputernya sebelum kembali berucap.

"Donghae pasti senang melihatmu tidak terpuruk."

"Kuharap begitu." kata Eunhyuk. "Andai aku bisa menyusulnya, mungkin itu dap—"

"Hush, jangan bicara seperti itu Eunhyuk-ah. Jangan sampai kalimatmu dikabulkan. Aku tidak mau kehilangan teman baikku lagi, setelah Donghae dan Kibum telah pergi."

"Aku hanya mengatakan keinginanku. Tenang saja, aku akan tetap hidup untuk mereka berdua, terutama untuk Donghae."

Shindong mengangguk. "Kuharap kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu suatu hari nanti."

Eunhyuk tersenyum mendengar doa untuknya. "Begitu juga untukmu, Shindong. Ah, nanti aku akan pergi ke rumah Junho dan Junsu—tetapi entah kapan. Kau mau ikut?"

Shindong mengangguk. "Tentu saja. Tapi..." Shindong menggantung kalimatnya. "Maaf tentang berita kematian Junsu itu. Aku mendengarnya dari salah satu teman SMU kita bahwa saudara kembar Junho telah meninggal. Dan dia juga berkata bahwa dia mendapatkan berita itu dari orang yang sangat mengenal Junho."

"Sudahlah. Lupakan hal itu. Mungkin itu hanya sebuah kesalahan informasi. Mendengar Junsu masih hidup sudah membuatku senang."

"Aku juga." kata Shindong. "Sudah lama aku tidak bertemu mereka."

"Sudah lama juga aku tidak bertemu Junsu. Hm, kira-kira bagaimana keadaannya sekarang ya?"

.:o~o:.

Ehm, Changmin gak tau tanggal berapa sekarang karena dianya juga gak nanya ke Yoochun

Eh, yang kisah Joey Hopkins itu nyata lho

Hehe, saya gak suka FF M-Preg tapi kayaknya no problem untuk The Time

Okay, maafkan saya karena belum balas review (kuharap kalian tahu apa alasannya melihat aku publish malam hari)

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin | Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung a.k.a ejinki | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu | Natsue | michio giichi chan | mhiakyu | missrama | Zhao Gui Xian | magiciankunai | Ruffy tabooty | EviLisa2101 | Shim Minsu | dew | jungyunhae | Shania9ranger | yui | CloudSomniaLoveYunJae | Reader menunggu | scuit | MinkyuKihae | Reinatta | vitthia | anon | Cho min ri | Yui-chunnie | kaihyun dan untuk semuanya.

Siapa yang namanya kesebut 2 kali? :/ atau ada yang belum kesebut? Kasih tau ya :)

Just call me Yuri :)

With love, Yuri Masochist

.

WHO'S NEXT?