My Little Family © Choi RinRi

Main Cast : [Kim Jongwoon & Kim Ryeowook]

YeWook couple, always.

Rated : T

Disclaimer : Super Junior is belongs to God.

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort.

Warning : YAOI, Out Of Character, Some Typo(s), M-Preg.

.

.

[Chapter 2]

Nb: italic text = flashback.

.

.

"Aku pulang." Yesung melepas sepatunya, menaruhnya di rak dan mengambil alas kaki lainnya sebagai pengganti. Suasana rumah yang sepi menyambutnya, memang selalu saja seperti ini. Tak pernah berubah, mengingat di rumah ini hanya ada dua orang penghuni, ia dan istrinya.

"Oppa!" Yesung tersenyum, membalas senyuman manis yang diberikan yeoja yang kini menghampirinya dan memeluknya, istrinya. Yeoja itu langsung saja keluar dari dapur saat mengetahui seseorang membuka pintu depan rumahnya, suaminya sudah pulang.

"Aku baru saja menyiapkan makan siang, ayo kita makan bersama." Ucapnya, kemudian menarik tangan Yesung dan suaminya itu menurut.

Yesung duduk di kursi meja makan, dihadapannya tersaji makanan yang baru saja dibuat oleh Luna, istri yang sudah dinikahinya hampir selama 2 tahun itu. Makanan dengan ukuran hanya untuk dua porsi, Luna tidak pernah membuat masakan dalam jumlah porsi banyak. Ia tidak ingin semua terbuang sia-sia, mengingat rumah ini hanya ditinggalinya dan suaminya.

"Oppa belum makan, kan?" Luna mengambil piring, menaruh nasi secukupnya disana dan memberikannya untuk Yesung. Suaminya menggeleng pelan, menjawab pertanyaannya tadi.

"Terima kasih." Ucap Yesung saat menerima piringnya, kemudian menaruh menu lain disana, dan mulai memakannya dalam hening. Luna pun ikut melakukannya. Yesung selalu menerapkan kedisiplinan dalam hal apapun, termasuk dalam hal makan seperti saat ini. Ia tidak pernah membiarkan istrinya untuk terbiasa berbicara dalam makan. Ia tidak suka, ia menyukai ketenangan. Satu-satunya suara detak jarum jam yang terdengar di ruangan bernuansa putih tersebut.

Namun semua berbeda, jika ia sudah berada di satu meja bersama Ryeowook dan Jongie. Ia membebaskan kedua orang itu untuk melakukan apapun. Ia tidak akan marah saat Jongie banyak berbicara saat makan, atau bahkan berteriak-teriak tak jelas sekalipun. Dan Yesung juga tidak akan melarang Ryeowook jika namja itu sudah mengomel tak jelas di meja makan saat melihat putranya tak menghabiskan porsi makanannya.

Semua berbeda, tentu saja.

.

.

"Selamat pagi, hyung!" sapa ceria menyambutnya, seorang namja dengan tinggi yang hanya mencapai rahangnya kini berjalan di sampingnya. Kedua tangan pendeknya menggenggam dua buah buku, dengan jilid bersampul dan ukuran halaman yang tebal. Sama sepertinya, namja itu baru saja datang ke sekolah.

"Pagi, Ryeowook ah." Sapanya balik. Hanya menyapa, tanpa balik tersenyum, dan itu membuat Ryeowook merengut. Ada yang aneh dengan kakak kelas di sekolahnya ini, tidak seperti biasanya.

"Kok lesu 'sih, hyung? Kalau pagi-pagi harus semangat, dong!" kata Ryeowook, menunjukan kepalan tangannya pada Yesung yang masih saja tak memperhatikannya, terus berjalan dengan pandangan yang lurus ke depan.

Mendengar itu, ternyata cukup membuat Yesung menyunggingkan ujung bibirnya. Senyum pertamanya pagi ini, dan itu diberikan untuk Ryeowook, adik kelasnya yang juga anggota perkumpulan klub musik di sekolah yang dipimpinnya.

"Ya, Ryeowook ah. Hyung masuk ke kelas dulu, ne? Annyeong!" pamit Yesung saat mereka sudah berada tepat di depan kelasnya.

Ryeowook mengangguk dengan semangat. "Ne, jangan lesu lagi ya, hyung!" ucapnya sembari terkekeh pelan, dan Yesung juga melakukan hal sama saat melihat tingkah Ryeowook yang begitu bersemangat pagi ini.

"Ya, semangat!"

Ryeowook memperhatikan Yesung hingga namja itu benar-benar memasuki kelasnya, kemudian kembali berjalan menuju kelasnya.

.

.

"Nah, sudah selesai." Ryeowook tersenyum kecil, memperhatikan Jongie yang baru saja dipakaikan baju olehnya. Setelah mengancingkan dua kancing teratas, Ryeowook menepuk pelan pundak putranya dan berdiri, ia memang harus berjongkok saat memakaikan Jongie baju.

Seperti janji Ryeowook siang tadi, malam ini ia akan membawa Jongie jalan-jalan. Namsan tower adalah tujuan mereka kali ini.

"Umma…"

Ryeowook yang sedang berkaca untuk merapikan tatanan rambutnya pun menoleh. "Kalau kau meminta untuk membawa mainanmu nanti, umma tidak mengijinkan." Jawab Ryeowook, bahkan belum sempat Jongie berkata apapun. Ia hanya berkata sesuai feelingnya, menurutnya Jongie pasti sedang berencana membawa robot mainan pemberian Yesung tiga hari yang lalu itu, dilihat dari Jongie yang kini asyik menggerak-gerakan tangan robotnya itu sambil menunggunya selesai bersiap-siap.

"Aniya!" Jongie menggembungkan pipinya, ibunya ini benar-benar sok tahu sekali. "Appa kemana, umma? Appa ikut pergi, kan?" tanyanya, sebenarnya itulah yang sedari tadi ingin Jongie katakan.

"Appa sibuk, appa harus bekerja, sayang. Jadi dia tidak bisa ikut bersama kita."

Penjelasan Ryeowook membuat Jongie mengerucutkan bibirnya sebal. Padahal ia sangat berharap ayahnya ikut malam ini. Berjalan-jalan bersamanya, menggendongnya saat berjalan menuju namsan tower, atau ikut menemaninya makan malam disana hingga ia puas.

"Ta-tapi… tadi siang appa bilang hari ini sedang libur bekerja, kok!"

"Jongie, appamu sedang sibuk, jadi-"

"Appa bohong sama Jongie! Appa tidak sayang Jongie!"

Ryeowook menghela nafas, jika sudah melihat Jongie yang seperti ini, pasti susah untuk membujuknya. Sejak Jongie kecil, Ryeowook selalu membiasakan untuk memenuhi apa yang Jongie inginkan, hingga akhirnya di usianya yang memasuki 4 tahun pun Jongie jadi terbiasa untuk dipenuhi keinginannya. Dan jika sudah cemberut seperti ini, biasanya hanya Yesung yang dapat membuatnya kembali menjadi anak manis.

"Ya, terpaksa…" Ryeowook menghela nafas, lagi. Kemudian mengambil ponselnya di meja nakas dan mencari sebuah nama di kontaknya. Kemudian menunggu beberapa menit hingga seseorang mengangkat panggilannya.

.

.

"Ryeowook ah! Aku pulang duluan, ne? Sampai jumpa!"

Ryeowook menoleh, kemudian mengangguk dan memberikan senyuman saat temannya pamit untuk pulang. "Ne, hati-hati di jalan!" sapanya balik, kemudian kembali sibuk pada pekerjaannya saat pintu kelas sudah tertutup rapat. Di kelasnya hanya ada ia sendiri.

Beginilah rasanya menjadi anggota kedisiplinan di sekolah, selain aktif di klub musik. Berdiam di sekolah sampai hampir malam pun bukan menjadi hal yang baru untuknya. Hari ini adalah jadwal piketnya, jadi hari ini juga ia mendapat giliran untuk pulang lebih lama.

Diliriknya arloji di tangannya, hari sudah menjelang malam karena waktu menunjukan pukul enam lewat. Ia harus bergegas, jika tak ingin pulang terlalu malam.

Setelah mengunci rapat pintu kelasnya, ia pun mulai mengecek satu persatu kelas. Jika melihat Ryeowook sekarang, sepertinya pribahasa jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja memang benar adanya. Jangan berpikir karena badannya yang pendek kurus, ia terlihat seperti anak kecil yang penakut. Ia pemberani, katanya.

Sambil melempar-lempar asal kunci kelasnya, ia terus saja bersiul dengan santainya setiap kali melewati lorong-lorong sekolah dan memeriksa satu persatu kelas. Seperti tak menyadari bahwa sekarang ia benar-benar sendiri disini, hanya ruangan-ruangan kosong yang menemaninya, dan harus diperiksanya untuk dinyalakan lampunya dan dikunci rapat pintunya.

Ia tak pernah takut apapun, sekalipun hantu tanpa kepala seperti yang ia lihat di televisi itu.

Di sekolah memang ada penjaga, hanya saja penjaga sekolah itu lebih sering berjaga di depan sekolah. Hanya tinggal menunggu staf kedisiplinan sekolah untuk memberinya laporan dan kunci setiap kelas yang sebelumnya sudah dititipkan padanya.

"Terakhir, atap sekolah." Kata Ryeowook, saat semua kelas sudah di periksanya. Sekolah ini terdiri dari banyak kelas, dan cukup membuat Ryeowook lelah. Tubuhnya kecil kurus, dan semakin kuruslah jika terus melakukan kegiatan ini setiap minggunya.

"O-omo!" Baru saja ia membuka pintu atap, sesuatu mengejutkannya. Kedua matanya membulat sempurna, dan sebelah tangannya membekap mulutnya sendiri. Bukan hantu, jika itu Ryeowook tidak akan memekik seperti ini.

Ia tak menyangka, waktu sudah menunjukan hampir malam, tapi masih saja ada murid yang berkeliaran di sekolah. Terlebih ini di atap, seperti tidak ada kerjaan saja. Jika hanya itu mungkin tidak masalah, Ryeowook hanya perlu menyuruhnya pulang dan semua akan beres. Tapi ini tidak.

Murid itu, yang diketahuinya seorang namja, dengan santainya duduk bersandar di penyanggah sisi balkon yang terbuat dari batang-batang besi yang tinggi. Wajahnya tidak terlalu terlihat jelas, karena langit sudah sangat gelap, membuat Ryeowook tidak dapat mengenalinya. Dan yang paling membuat Ryeowook terkejut, kini sebotol minuman di tangan murid tersebut, botol minuman yang Ryeowook yakini adalah minuman beralkohol.

Dengan langkah dihentak dan mata yang memicing tajam, Ryeowook menghampirinya. "Kau!" sebelah tangannya menujuk murid laki-laki di hadapannya tersebut, murid yang Ryeowook rasa sepertinya benar-benar tidak tahu malu. Sudah tertangkap basah, tapi masih saja bersikap santi seperti ini. Mengacuhkannya dan justru hanya diam sambil menundukan kepalanya.

"Sekolah melarang keras murid untuk membawa minuman seperti itu!" Ryeowook berteriak, ia benar-benar kesal. Baru pertama kali selama dua tahun menjadi anggota kedisiplinan, ia menemukan kasus pelanggaran seperti ini. Benar-benar memalukan nama sekolah saja.

"Kau dalam masalah! Kau harus-"

"Apa… aku harus apa?"

Bau alkohol langsung menusuk indra penciumannya, benar-benar tajam sampai membuat Ryeowook harus menutup hidung. Kedua matanya masih memicing dan menatap tajam namja di hadapannya.

"Astaga… kau pasti mabuk!" Ryeowook menggeleng dan menatap tak percaya namja di hadapannya itu. Ia yakin, pasti namja ini salah satu murid sekolah bermasalah yang sering berurusan dengannya. Tapi tiba-tiba rasa yakinnya itu menghilang, berubah menjadi rasa terkejut yang sangat. Saat murid itu perlahan mengangkat wajahnya dan kini menatapnya, kali ini ia benar-benar dibuat tak percaya.

"Ye-yesung… hyung…"

Kedua matanya membulat, lagi. Ia tak pernah tahu bahwa Yesung bisa melakukan hal seperti ini, hal yang bahkan belum pernah dilakukan oleh murid paling nakal di sekolah ini sekalipun. Baginya, Yesung adalah panutannya saat sedang di klub musik, Yesung juga seorang kakak kelas yang ramah dan baik. Tapi untuk sekarang, rasanya ia sulit percaya.

"Aku harus apa…" dengan sedikit terhuyung Yesung bangkit, dan dengan sigap Ryeowook memegangi tubuhnya saat melihat Yesung yang hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

"Apa aku harus diam saja?" Yesung kembali bertanya, dan tak sedikitpun Ryeowook tanggapi karena ia tahu Yesung sedang mabuk. Bau alkohol di mulutnya benar-benar menyengat. "Atau aku menyetujui keputusan mereka? Aku bingung hahaha…"

Setelah menyampirkan tas Yesung di pundaknya, Ryeowook melingkarkan sebelah tangan Yesung di lehernya, kemudian dengan sedikit menyeret mencoba membawa Yesung untuk pergi dari tempat ini. Ia menatap sekilas namja di sampingnya itu, ia jadi ikut sedih jika melihat Yesung seperti ini. Yesung adalah orang yang baik, dan ia tahu pasti ada sesuatu yang mengganggunya hingga ia seperti ini. Pantas saja pagi tadi Yesung hyung tidak seceria biasanya, pikirnya.

"Bodoh… egois… ya… itulah mereka hahaha…"

"Hyung, jika kau memiliki masalah, seharusnya kau cerita saja padaku, jangan seperti ini…"

Kini Ryeowook terus menimpali ocehan-ocehan yang dikeluarkan Yesung, walau ia tahu namja itu tak sedikitpun mendengarkannya. Dan setelah banyaknya omongan yang dikeluarkan Yesung, Ryeowook tahu apa yang menyebabkan Yesung bisa seperti ini.

Masalah, tentu saja karena itu. Dan itu bersumber dari kehidupan pribadinya, keluarganya. Sedari tadi Yesung seolah mengutarakan isi hatinya, dan menunjukannnya bukan pada satu orang karena ia terus saja menyebut kata 'mereka'. Ditambah Yesung menyebut-nyebut kata cerai walau tak terlalu jelas, hingga Ryeowook dapat menyimpulkannya sendiri tanpa banyak berbicara lagi. Oke, itu cukup pelik, siapa juga anak yang menginginkan hal seperti itu?

"Hyung- astaga!"

Yesung memeluknya tiba-tiba, tentu Ryeowook terkejut dan langsung saja meronta saat dirasa Yesung memeluknya terlalu erat, ia sulit bernafas.

"Jangan seperti ini… aku menyayangi kalian…" Yesung kembali menengguk minuman dari botol di tangan kanannya, dan Ryeowook mengetahui itu walaupun tak melihatnya langsung.

Yesung kembali membuatnya terkejut, saat ujung botol minuman ditangannya dengan tiba-tiba diarahkan pada mulut Ryeowook. Mendorongnya dan memaksa Ryeowook untuk meminumnya. Sebelah tangannya mencengkram kuat dagu namja yang terus saja meronta meminta dilepaskan. Mengangkatnya dan membuatnya mengadah, semakin membuatnya mudah untuk terus mencekokinya dengan alkohol.

Bunyi deguman cukup keras terdengar saat Yesung mendorong Ryeowook hingga jatuh dan punggungnya menyentuh aspal, masih dengan mulut yang dicekoki alkohol. "Telan, telan sampai habis…" alkohol mengalir di sudut bibir Ryeowook, dan Yesung yang berada di atas Ryeowook menjilatinya dengan pelan.

Saat Ryeowook mulai kehilangan kesadaran, dan Yesung pun tak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Satu malam, hanya satu malam, dan dari waktu yang singkat itulah menjadi awal terjadinya cerita yang panjang.

Dan Ryeowook bersumpah, jika ia tahu ini akan terjadi dalam hidupnya, ia tidak akan pernah mau menjadi anggota kedisiplinan, yang jutsru membuat dirinya sendiri menjadi murid yang tidak disiplin sekarang.

.

.

"Oppa…" Luna menaruh satu jarinya di bibir Yesung, menahannya untuk mendekat dan tersenyum kecil saat melihat tatapan Yesung yang menajam dengan kening yang mengkerut. Ia ingin protes, namun terhenti saat melihat Luna yang kini melirik meja kecil di samping ranjang mereka. Di atasnya sebuah ponsel bergetar, tanda ada panggilan masuk, dan itu adalah ponsel milik Yesung.

"Angkat dulu." Kata Luna, dan semakin tersenyum geli saat melihat wajah Yesung yang mengkeruh. Dengan sedikit tak rela Yesung bangkit dari atas tubuh istrinya, kemudian dengan sedikit kasar mengambil ponsel dan akan merutuki siapapun si penelpon itu, yang sudah berani menganggu kesenangannya malam ini.

'Santai sedikit!'

Yesung sedikit menjauhkan ponsel hitamnya dari telinganya, seseorang disana berteriak dengan keras, mungkin ia kesal karena mendengar suara Yesung yang menjawab panggilannya dengan membentak.

"Ck, Kim Ryeowook." Ucap Yesung saat membaca nama kontak yang kini menghubunginya, dan dengan suara yang pelan karena tidak ingin namja itu mendengarnya. Tadi Yesung memang tak sempat membaca nama kontak yang meneleponnya itu.

"Ya, ya, sekarang katakan apa maumu?" Yesung tahu orang yang kini menghubunginya sedang menggerutu tak jelas. Selain itu, ia juga dapat mendengar suara lainnya yang kini merengek meminta sesuatu yang entah apa itu Yesung tak tahu. Yang ia tahu, pasti suara itu milik Jongie, siapa lagi?

'Kau ini selalu saja berbicara dengan sinis padaku! Kenapa 'sih?'

Mendengar itu, Yesung mengacak rambutnya kesal. Luna yang kini bersandar di kepala ranjang hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang kini duduk di pinggir ranjang. Ia tahu yang menelepon itu adalah Ryeowook, karena hanya sedang menelepon dengan namja itulah Luna dapat melihat ekspressi suaminya seperti itu. Kadang kesal, marah-marah sendiri, cemberut, atau beberapa ekspressi lain yang sulit Luna artikan.

"Cepat katakan saja! Kau mengganggu acaraku!"

'Oh, ya? Benarkah? Hahahaha, kasihan sekali, pasti rasanya sangat tidak menyenangkan. Kasihan sekali…'

Ryeowook semakin membuatnya jengkel, kini namja itu justru mengejeknya, puas saat tahu bahwa kini ia benar-benar tersiksa. Kim Ryeowok sialan, batinnya.

"Bicara atau sambungan akan kumati-"

'Appa!'

Lagi-lagi Yesung harus menjauhkan ponselnya, kali ini suara dari orang yang berbeda terdengar, walau masih sama tersengar nyaring untuk ukuran seorang namja. Kenapa orang-orang itu senang sekali berbicara dengan nada tinggi 'sih, Yesung kembali menggerutu dalam hati.

Jongie baru saja merebut ponsel Ryeowook dengan paksa, menurutnya ibunya itu terlalu lama. Padahal ia sudah tidak sabar untuk pergi jalan-jalan malam ini, bersama kedua orang tuanya tentunya.

'Appa dimana?!'

Sebenarnya Jongie saat ini sedang membentak ayahnya, berbicara dengan suara yang sedikit meninggi agar ayahnya itu tahu bahwa ia sekarang sedang kesal. Tapi bagi Yesung, suaranya itu justru terdengar begitu lucu, membuatnya benar-benar ingin mencubitnya jika saja Jongie sekarang ada bersamanya.

"Jongie, appa sedang-"

'Jongie tidak mau tahu! Appa sekarang kesini!'

Dan setelahnya, yang terdengar hanya bunyi sambungan yang terputus, Jongie memutuskannya secara sepihak, semakin membuat Yesung mendengus kesal.

"Aishhh! Anak ini!"

.

.

Hanya satu kata, dan dengan kalimat sesingkat itu mampu membuat Ryeowook seperti menerima banyak tusukan panah yang menusuk ke tubuhnya, tepat dihatinya.

"Apa? Ta-tapi aku-"

"Gugurkan, Ryeowook. Aku bilang, gugurkan."

Jujur saja, Yesung sebenarnya tidak ingin seperti ini. Masalah dengan kedua orang tuanya saja belum selesai, dan sekarang ia di hadapkan dengan masalah baru. Ditambah, ia melakukannya di umurnya yang masih berstatus seorang pelajar, dan ia melakukannya diluar kesadaran. Jika disuruh bertanggung jawab, jelas saja Yesung tidak mau, mana bisa begitu?

Ia belum siap menjadi seorang ayah, tentu saja. Ia belum mempunyai pekerjaan, jika anaknya lahir nanti mau diberi apa? Lagipula, masalah keluarganya pun belum selesai, kenapa harus mendapat masalah baru. Dan lagi, ini kasus menghamili anak orang lain, benar-benar memalukan.

Dan Ryeowook sukses membuat Yesung terdiam di tempat saat ia memberinya satu tamparan keras di pipinya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan namja yang diam tanpa sedikitpun berniat mengejarnya. Dan Yesung tak tahu bahwa Ryeowook meninggalkannya sambil menangis.

"Maaf …"

.

.

"Yeaaaa appa!" Jongie berteriak senang, saat melihat sebuah mobil hitam yang begitu di hafalnya kini terparkir di depan pagar rumahnya. Sesuai keinginannya, kini Yesung datang menemui Jongie.

Ryeowook memilih membiarkan Jongie yang sudah berlari keluar rumah dan mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil Yesung. Sepertinya malam ini anak itu benar-benar bersemangat. Ryeowook memakai mantel dan membawa syal untuk Jongie, kemudian menggendong sebuah tas kecil di punggungnya. Lalu keluar rumah.

"Jongie kan bisa pergi hanya bersama umma…"

"Tidak mau!" Jongie menggeleng kuat, kemudian mengerucutkan bibirnya sebagai tanda ia menolak perkataan Yesung tadi. Ia mulai mengeluarkan jurus andalannya, Jongie benar-benar mirip dengan Ryeowook jika sedang marah, ditambah dengan sifat keras kepalanya itu.

"Lalu, apa aku boleh ikut, Jongie?"

Ryeowook yang baru saja akan mengunci pintu rumahnya tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah suara lainnya, ia pun membalikan tubuhnya dan menatap dari teras rumahnya untuk memastikan tebakannya. Dan memang benar, suara itu memang miliknya, Luna. Nyonya Kim itu ternyata tidak mau ditinggal sendiri di rumah.

"Dasar si bodoh, untuk apa dia membawa istrinya itu?" gumam Ryeowook pelan. Dan jika boleh jujur, Ryeowook memang tidak menyukainya. Bukan, ia sama sekali tidak menyukai Luna, terserah saja Yesung ingin berhubungan dengan siapapun ia tidak peduli, bahkan dengan ratusan yeoja sekalipun. Hanya saja, ia tak suka dengan kehadirannya disini, ia takut Jongie berpikir yang macam-macam tentang yeoja itu. Lagipula Jongie masih sangat kecil, belum saatnya ia mengetahui semuanya.

Luna keluar dari mobil dan menutup pintunya, kemudian ikut bergabung dengan Yesung dan Jongie yang berada di depan mobil, dengan Jongie yang duduk di atas bagian depan mobil.

"Umm?" Jongie yang memang tak mengerti hanya memiringkan kepalanya dan menatap bingung yeoja dengan tinggi yang tak jauh berbeda dari ibunya tersebut. Hanya saja, Ryeowook tetap lebih cantik dari Luna, menurut Jongie.

"Ahjumma…"

Yesung terkikik geli, dengan polosnya Jongie memanggil istrinya tersebut dengan sebutan ahjumma, dan tentu saja Luna tidak mau. Ia tidak setua itu untuk dipanggil ahjumma.

"Ah, jangan panggil aku ahjumma…" Luna mengibaskan sebelah tangannya tanda menolak. Jongie memang jarang bertemu Luna, maka dari itu ia tak bisa mengingat dengan jelas siapa yeoja di hadapannya itu. Terlebih, di pikirannya hanya ada ummanya, appanya, mainannya, dan permen-permen manis yang paling disukainya.

"Panggil saja aku-"

"Umma, panggil dia umma, sayang." Yesung memotong ucapannya, berbicara dengan tenang dan menatap Jongie dengan lembut. Mendengar itu, membuat Luna menunduk dengan semburat merah yang menghiasi wajahnya.

"Oppa…"

"Biarkan saja," Yesung berbisik, kemudian tersenyum kecil padanya.

Jongie awalnya hanya diam saja, keningnya mengkerut dan ia tampak sedang berpikir. Mencerna apa maksud perkataan ayahnya tadi, kenapa ia harus memanggil yeoja asing ini dengan sebutan umma? Memangnya dia siapa?

Namun tiba-tiba Jongie kembali bersuara. "Umma!" seru Jongie, dan membuat Yesung dan Luna yang berada di depannya tersenyum puas.

"Dengar? Dia memanggilmu umma." Yesung kembali berbisik, dan Luna menganggukan kepala dengan senyum manis yang terpasang di wajahnya. Saat Jongie turun dari atas mobilnya dengan sedikit melompat, baik Yesung maupun Luna awalnya berpikir bocah laki-laki itu akan memeluknya.

"Umma!" Tapi tidak, dengan langkah yang sedikit terburu justru Jongie meninggalkan keduanya dan menghampiri seseorang yang baru saja membuka pintu pagar setinggi 3 meter di rumahnya itu, Ryeowook.

"Ini ummaku, ahjumma!" kata Jongie, kemudian menarik tangan Ryeowook untuk membawanya mendekat pada dua orang dewasa itu, seolah memamerkan pada mereka bahwa namja yang kini bersamanya adalah ibunya yang paling hebat, ibu terbaik satu-satunya, dan hanya ia yang memilikinya.

Ryeowook yang tidak tahu apa-apa hanya diam, kedua matanya menatap bingung ketiga orang itu secara bergantian, seolah bertanya 'ada-apa-ini'.

"Ini umma dan appaku, ahjumma!" seru Jongie dengan riang, lagi. Dan kali ini kedua tangan kecilnya menggenggam erat masing-masing tangan kedua orang tuanya.

Tanpa menyadari, bahwa Yesung dan Ryeowook keduanya sama-sama hanya tersenyum kaku, rasanya benar-benar canggung. Sedangkan yeoja di hadapannya hanya diam, sembari mencoba menyembunyikan ekspressi dari perasaannya yang sulit di artikan.

Mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna, kan?

.

.

Dari awal Yesung memang tak menjelaskan apa tujuannya pergi ke rumah Ryeowook malam ini, karena Yesung sendiri pun tak tahu. Dan jika ia sudah tahu bahwa tujuan Yesung adalah untuk pergi jalan-jalan bersama mantan istri dan anaknya itu, Luna akan berpikir ulang untuk meminta ikut pergi bersamanya.

Baginya, ia hanya seperti benalu saat sudah berada di antara ketiga orang tersebut, diantara seorang ayah, ibu dan satu orang anak. Seperti tadi, saat keempatnya sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju Namsan Tower, Jongie terus saja asyik berceloteh dengan kedua orang tuanya. Tanpa sedikitpun mengajaknya berbicara.

Dan sekarang, saat ketiga orang itu memutuskan untuk masuk ke dalam, Luna lebih memilih untuk tinggal di dalam mobil dengan se-cup kopi hangat di tangan yang menemaninya. Yesung bilang, udara malam tidak bagus untuk kondisi tubuhnya, dan sebagai istri yang baik ia menurut.

Lagipula ia tak ingin mengganggu acara senang-senang keluarga 'bahagia' itu.

Jika diingat lagi, pertemuannya dengan Yesung terbilang cukup singkat. Dan pertemuan mereka terbilang cukup tidak menyenangkan, diawali Yesung yang saat itu baru saja melihat keadaan Jongie yang baru saja lahir, menemukannya saat itu pingsan di koridor rumah sakit.

Luna adalah pasien di rumah sakit itu, pasien yang diharuskan untuk tetap berada di rumah sakit dalam waktu yang lama karena kondisinya benar-benar tidak baik. Tapi tetap saja, Luna tetap memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya. Ia bosan di kamar, ia ingin mencari angin segar, namun karena sifat keras kepalanya itulah yang membuatnya susah sendiri.

Ia benar-benar berterima kasih pada Yesung, pria yang dengan berbaik hati menolongnya. Dan perkenalan mereka tak hanya sampai disitu. Atas permintaan Luna, dan juga kemauan Yesung sendiri, pria itu secara rutin sering mengunjungi Luna untuk sekedar mengecek keadaannya seperti apa. Dan semua itu Yesung lakukan hanya karena rasa simpati, jika tak ingin dibilang kasihan.

Entah mengapa, hanya karena Yesung, pria asing yang baru dikenalnya selama beberapa hari, membuatnya kembali mempunyai semangat untuk hidup. Maka dari itu, dengan tekat yang besar ia berkata bahwa ia memiliki perasaan yang lebih dari seorang teman pada pria yang memiliki umur 5 tahun lebih tua darinya itu. Ia yang memulai, dan Yesung berkata bahwa ia akan mencoba menjalaninya.

Dan saat itu, Luna memang tahu bagaimana status Yesung, kehidupan Yesung, segala apapun tentang masalah yang dihadapinya. Dan ia sedikit mengedepankann rasa egoisnya untuk tetap memiliki pria itu, dan berjanji akan membuatnya kembali memiliki rasa semangat untuk hidup, sama seperti apa yang di rasakannya kini.

Hanya karena Yesung, ia masih bisa mencoba untuk bertahan, sampai sekarang.

.

.

"Kim Jongie!" Entah untuk keberapa kali Ryeowook memekik, dan Yesung yang duduk disampingnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Putranya benar-benar tak bisa diam, bergerak ke kanan, atau kadang bergerak ke kiri, tak sadar bahwa mereka kini berada di dalam kereta gantung.

"Appa! Umma! Itu rumah kita!" heboh Jongie, sebelah tangannya menunjuk-nunjuk di bawah sana dari balik jendela, entah bangunan apa yang Jongie maksud. Dan jelas saja itu bukan rumah 'mereka', seperti yang Jongie katakan, ada-ada saja.

"Ya, ya, terserah apa katamu saja." Timpal Yesung seadanya. Jongie malam ini terlihat benar-benar senang. Karena untuk pertama kalinya, dalam hidupnya, ia dapat pergi bersama kedua orang tuanya. Moment yang sangat sulit didapatkannya.

"Indahnya…" kali ini Jongie berbicara dengan pelan, dan dengan posisi duduk yang tenang. Kedua matanya masih memperhatikan pemandangan di bawah sana. Kota Seoul di malam hari, dan bagi anak sekecil Jongie, ia sudah cukup mengerti bahwa kota kelahirannya benar-benar memiliki keindahan yang luar biasa di malam hari.

Sekitar tiga menit suasanan di dalam kereta gantung yang awalnya bising itu mulai sunyi, hanya terdengar suara mesin-mesin kereta gantung yang bekerja. Entah kemana lenyapnya suara nyaring Jongie yang sedari tadi ribut berceloteh ini itu.

"Dia tertidur," dan Yesung adalah orang pertama yang menyadari bahwa putranya yang aktif itu mulai tertidur, dilihat dari gerakan kepalanya yang terhuyung seiring berjalannya kereta gantung.

"Aigoo…" Ryeowook terkekeh geli mengetahuinya, dan Yesung yang berada di sampingnya memperhatikan itu. Sudah lama, hampir memasuki 4 tahun ia tak melihat ekspressi mantan adik kelasnya yang semacam itu. Ia jadi rindu, sosok Ryeowook yang ceria disaat masa-masa mereka masih berteman baik di jaman sekolah.

Dan sekarang, hanya ada Kim Ryeowook yang hobi menyindir, keras kepala, mudah marah, atau terkadang terlihat jual mahal. Seperti itulah sosoknya yang sekarang dimata Yesung.

"Apa yang kau lihat?" Suara Ryeowook membuyarkan lamunannya. Sial, ia tertangkap basah.

"Apa? Aku sedang memperhatikan berapa jauh jarak kereta ini, dan berapa lama kita akan terus disini. Kau pikir apa?"

Ryeowook berdecih pelan, ia tahu Yesung sedang menyangkal. Jelas-jelas tadi pria di sampingnya itu menatapnya, lelucon macam apa itu?

"Terserah." Jawab Ryeowook acuh, kemudian memilih pindah dari tempatnya dan duduk di samping Jongie yang tertidur. Ia jadikan pahanya sebagai bantalan, dan menidurkan kepala Jongie disana. Mengusap rambutnya dengan sayang, layaknya perlakuan lembut seorang ibu untuk anaknya.

"Ryeowook ah…" Yesung memanggil Ryeowook, dengan kedua mata yang menatap pemandangan luar dari balik jendela. Selalu saja seperti itu, baik Yesung maupun Ryeowook, jika keduanya sedang berbicara seperti ini lebih memilih tanpa menatap satu sama lain. Entah apa alasannya.

Ryeowook mengadah, sebagai tanda bahwa ia menyahutnya.

"Ada yang sedang aku pikirkan…" Masih tanpa menatapnya, Yesung melanjutkan ucapannya.

"Apa?" respon Ryeowook, dan untuk kali ini Yesung menoleh. Memposisikan tubuhnya yang awalnya menyamping kini menghadap Ryeowook. Dan mau tak mau, Ryeowook menatap Yesung yang juga menatapnya. Jarak mereka cukup dekat, bahkan kedua lutut mereka pun hampir bersentuhan.

"Aku…"

Entahlah, jika Yesung sudah berbicara dengan nada serius, Ryeowook selalu merasakan hal yang tidak menyenangkan akan mendatanginya. Dan tebakannya tidak meleset, saat Yesung kembali berbicara,

"Aku ingin membawa Jongie untuk tinggal bersamaku… dan Luna."

.

.

[Author's Note]

Haloooooo saya kembali datang kkk. Oh, ya, saya sedikit kaget loh baca review kalian semua ._. Banyak yang protes gara-gara Ryeowooknya selalu saya siksa. Aduuuuuuuh serius deh di fanfic ini Ryeowooknya ga saya siksa kok, 'cuman' di fanfic ELL dan Yours saja kkkk *muka tanpa dosa*

Dan ya…. gaada yang jawab istrinya yesung tuh luna yaa. Banyak yang jawab Ming, buat orang ketiga saya ga akan tega buat make ming yang unyu unyu itu u_u Kenapa saya milih Luna? Simple kok, karena badan dia ga terlalu jauh bedanya sama Ryeowook, jadi kan kalau saingan (?) nanti masih seimbang. Tadinya saya mau pakai yoona/krystal, tapi mereka ga cocok saingan sama Ryeowook *plak*

Okedeh segitu aja, jangan lupa reviewnya kawaaaaaaaan.

"Ayo lestarikan Fanfic YEWOOK yang mulai langka! Hwaiting~!"