Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: April 4th, 2012

Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), YunJae, HanChul, HaeHyuk, Taemin, Junsu, Junho (kembaran Junsu), OnKey, Minho, Jonghyun, Kai, Kibum, Jungsoo, Yesung, Sungmin, Zhoumi, Henry, Siwon, Baekhyun, Soohyun, Kangin, Jungmo, Eli, T.O.P, GD, Seungri, Jay, Sooman dan cast lain menyusul (Maincast banyaknya dari Super Shinki a.k.a DBSJ a.k.a DongBangSuJu. Cameo dari SHINee, EXO-K, Big Bang, U-Kiss)

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : CHAPTER 4! Maaf kalau kurang greget ne? Mungkin kalian akan terkejut melihat siapa korbannya? Hehehe *kabur

.

.

.

.

Satu jam menjelang pukul 00:00

Jaejoong berjalan dari arah dapur menuju ruang keluarga, dimana disana ada anaknya bersama Minho dan Kai yang sedang menonton sebuah film berjudul "Smurfs". Jarinya membawa dua cangkir teh manis untuknya dan untuk Yunho yang juga sedang mengawasi ketiga anak kecil yang tengah berada dalam acara menginap mereka. Ketika dia sampai disana, Jaejoong segera mendudukan tubuhnya di samping Yunho—di sofa panjang yang menghadap ke teleivsi—dan memberikan salah satu cangkir kepada Yunho sebelum menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

"Anak-anak, ini sudah hampir larut malam. Ayo tidur. Apalagi Minho, besok kau sekolah."

Taemin menggeleng dengan mata yang menatap lurus ke arah televisi yang menyiarkan makhluk-makhluk kecil berwarna biru itu beraksi. "Cebental lagi film-nya celecai, Umma."

Minho menguap pelan. Bagaimana bisa dia tahan untuk tidak mengantuk setelah seharian itu dia menghabiskan waktu di sekolah dengan bermain, dan juga setelah menjenguk Changmin di rumah sakit dia bermain lagi bersama Kai dan Taemin—seperti kejar-kejaran sudah cukup membuatnya kelelahan. Sama halnya seperti Kai. Dia menyandarkan kepalanya di sofa yang di duduki Jaejoong dan Yunho—karena ketiganya duduk di lantai yang beralaskan karpet—dan berusaha untuk tetap terjaga, walaupun matanya sudah menolak untuk terbuka.

"Taemin, lihat. Kasihan Minho dan Kai. Mereka sudah mengantuk, Sayang." kata Jaejoong lembut. Yunho mengusap rambut Jaejoong dengan gerakan halus, sesekali mengecup puncak kepalanya.

"Cebental lagi, Umma."

Jaejoong menggeleng pelan mendapatkan jawaban itu. Dia mendongakan kepalanya sedikit, menatap Yunho di sampingnya. "Yun, suruh anak itu tidur."

"Kalau dipaksa, nanti Taemin menangis."

"Tapi kasihan Minho dan Kai, Yun. Aku tidak enak kepada Onew dan Key."

"Lagipula sebentar lagi film-nya berakhir. Tunggu saja."

"Aish." Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

Yunho tersenyum. Mengecup bibir itu lembut dan kemudian tangannya beralih ke perut Jaejoong dan mengusapnya. "Kira-kira anak kita yeoja atau namja ya?"

"Aku ingin yeoja." kata Jaejoong. Yunho menatapnya dengan pertanyaan. "Entahlah. Rasanya lucu punya anak namja dan yeoja. Kau sendiri, Yun?"

"Aku sih menerima apapun, Boo."

"Kalau begitu, kita tunggu saja sampai anak ini lahir. Okay?"

Yunho tersenyum. Mendekatkan kembali wajahnya ke arah Jaejoong, berniat untuk menciumnya namun sebuah suara menginterupsinya.

"Umma, film-nya cudah celecai. Kai dan Minho hyung cudah tidul. Jadi bagaimana?"

Jaejoong mengangkat kepalanya dari bahu Yunho dan meletakkan cangkir teh-nya di meja—yang posisinya dimiringkan karena ketiga anak kecil itu memilih untuk menonton di karpet dimana sebelumnya itu adalah tempat meja—dan berdiri, begitupula dengan Yunho.

"Taemin sikat gigi saja lebih dahulu. Nanti Umma yang bangunkan mereka untuk sikat gigi, ya?"

Taemin berdiri dari duduknya dan segera naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. "Okay!"

Jaejoong tersenyum. Dia menundukan wajahnya dan membangunkan kedua anak yang tertidur itu dengan lembut. "Kai, Minho, ayo sikat gigi dulu."

.

.

The Time

April 4th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Wednesday

April 4th, 2012

12:00 AM

"Aku jadi tidak bisa tidur lagi." kata Kai seraya memiringkan tubuhnya, menghadap Taemin yang berada di tengah, di antara Kai dan Minho di ranjang berukuran queen size itu.

Taemin mengangguk setuju, menarik selimut yang menyelimuti tubuh ketiganya dan menariknya hingga dagu. "Kalau Taemin memang belum mengantuk." Dan setelah itu dia menoleh ke kiri, dimana Minho berbaring. "Minho hyung cudah tidul."

"Bagus. Jadi kita bisa mengobrol berdua. Ya Taemin-ah?"

Taemin mengangguk manis. Melebarkan kedua tangannya, membuat Kai memeluknya.

"Taemin kedinginan."

"Aku sudah memelukmu, 'kan? Apa sudah hangat?"

Taemin mengangguk lagi dan Kai tersenyum melihatnya. Rasanya memeluk Taemin sangat menyenangkan bagi Kai sendiri. Kai dapat mencium aroma strawberry dari shampoo yang Taemin gunakan menguar di sekitar hidungnya.

"Kai, Taemin ingin belcelita lagi pada Kai."

"Tentang apa?"

Taemin menggigit bibir bawahnya ragu. Kai mengangkat jarinya, menyentuh bibir Taemin sekedar untuk memperingatkannya agar tidak menggigit bibir mungilnya.

"Taemin bingung, cudah bebelapa hali ini Taemin tidak mendapatkan mimpi buluk."

"Itu bagus, dong?" kata Kai. Namun dibalas oleh gelengen pelan dari Taemin.

"Tapi Taemin punya filasat buluk, Kai. Taemin takut."

Kai mempererat pelukannya terhadap Taemin. Berusaha menenangkannya. Walaupun dia masih kecil, tetapi keinginannya untuk melindungi Taemin memang membuatnya bertingkah seperti orang dewasa.

"Itu hanya perkiraanmu saja. Tidak akan ada hal buruk terjadi, Taemin."

"Tapi aku takut, Kai."

Kai tersenyum seraya menggeleng. "Tenang saja, aku akan melindungimu."

Secara perlahan, Taemin menarik segaris senyuman di bibirnya, sebelum mengulumnya hingga basah. Dia senang, entah mengapa begitu senang ketika Kai memperlakukannya dengan begitu lembut. Begitu spesial. Dengan keberanian diri, Taemin mengecup pipi Kai dengan bibirnya yang basah karena salivanya.

Kai merekahkan senyumannya lebih lebar. Dia mempererat pelukannya terhadap Taemin dan memejamkan matanya secara perlahan. Berniat untuk tidur, mendekap Taemin dalam pelukannya. Posisi ini sangat dekat. Terasa nyaman dan menyenangkan.

"Taemin, kalau sudah besar nanti mau tidak aku ajak ke bulan?" tanya Kai dengan matanya yang masih terpejam.

Kai menunggu jawaban namun hanya hening yang terdengar. Aroma dari shampoo yang Taemin kenakan sudah tidak tercium dalam indra penciumannya. Dia merasa tidak memeluk tubuh Taemin lagi sekarang. Bahkan Kai merasa tidak berbaring di atas ranjang lagi, ada angin yang menerpa tubuhnya.

Di tengah rasa penasarannya, Kai membuka kedua matanya.

Dan semuanya berubah.

Dia berbaring di hamparan rumput hijau yang luas. Ada beberapa pohon di sekitarnya, dimana bunga dan daun-daun baru kembali tumbuh. Seperti awal musim semi yang terjadi sejak kemarin-kemarin. Langitnya berwarna biru, tidak cerah tetapi juga tidak mendung. Kai mengerjapkan matanya. Dia tidak mengerti, mengapa dia bisa berada disini sekarang? Bukankah sebelumnya dia tengah memeluk Taemin di atas ranjang? Tetapi, mengapa dia berada di tempat yang sama sekali tidak dia kenali?

Kai bangun dari posisi awalnya dan berdiri. Dia menatap bingung, memutar tubuhnya untuk melihat sekelilingnya. Hanya ada hamparan rumput hijau yang luas dengan beberapa pohon yang mengelilingnya.

Dimana Taemin?

Dimana Minho?

Dimana dia sekarang?

"Taemin?"

Apa yang terjadi kepadanya?

Apa ia bermimpi? Secepat itu?

Kai rasa dia baru saja memejamkan matanya.

Dengan rasa bingung dalam benak anak kecil berumur enam tahun itu, Kai menyentuh pipinya secara perlahan. Masih basah karena ciuman dari bibir Taemin. Semuanya terasa nyata. Begitupula dengan tempat ini. Mana mungkin ia bermimpi!

Kai mengarahkan pandangan ke arah pakaiannya. Masih memakai piyama pokemon, seperti sebelumnya ketika dia sedang berbaring di ranjang Taemin dan memeluknya. Tetapi... dimana dia? Dimana yang lainnya?

Kai benar-benar tidak mengetahui, apa yang tengah terjadi kepadanya, dan dimana dia sekarang.

Wednesday

April 4th, 2012

01:00 AM

Bagi seorang anak kecil seperti Kai, tentu sangat mengejutkan dengan kejadian yang menimpa dirinya. Dia bersumpah tengah memeluk Taemin dan tidak sedang bermimpi saat itu. Tetapi mengapa ketika dia membuka matanya, dia berada di tempat lain yang tidak dia kenali. Tempat yang tiba-tiba hadir, dan tak ada satu orangpun disini.

"Umma!"

Dia tidak tahu harus memanggil siapa, yang pasti saat ini Kai hanya ingin bertemu dengan siapapun.

Wednesday

April 4th, 2012

02:00 AM

"Umma! Appa! Taemin!"

Kai melangkahkan kakinya secara perlahan. Tempat ini begitu indah jika ia boleh jujur. Banyak bunga yang bermekaran, penuh dengan warna. Angin yang berhembus begitu menyejukkan. Dan warna hijau yang mendominasi tempat ini begitu indah. Tetapi tetap saja tempat ini sangat menakutkan bila muncul secara tiba-tiba, terlebih Kai hanya seorang diri disini.

Oh ya Tuhan, apa yang terjadi?

"Umma? Ada yang bisa mendengarku?" tanya Kai pelan.

Selama ini dia mencoba menjadi sosok yang berani di hadapan Taemin. Membuktikan kepada Minho dan semua orang bahwa dia bisa menjaga namja kecil yang dia sukai. Kai masih kecil, dia tahu. Tetapi dia sudah mengerti arti dari keinginannya untuk bersama dengan Taemin.

Namun sekarang Kai takut. Bahkan sangat takut. Dia yakin tidak sedang bermimpi sekarang, karena semuanya terjadi begitu nyata. Tapi, bagaimana bisa semuanya berubah dengan waktu yang begitu singkat?

Jadi, dimana dia dan orang-orang sekarang?

Wednesday

April 4th, 2012

03:00 AM

Kai pernah berjanji kepada orangtuanya untuk menjadi anak kecil yang pemberani. Jadi, hal seperti ini tidak boleh membuatnya takut. Mungkin ini memang mimpi, dan Kai harus menemukan cara untuk membuatnya terbangun.

Sepertinya menyenangkan—jika ini adalah salah satu video game.

Kai melihat ada sebuah bangunan di hadapannya—walau agak jauh. Seperti sebuah toko mainan. Jika ini benar hanya bunga tidurnya, Kai lebih baik menikmatinya bukan? Ah, sepertinya dia bisa menemukan seseorang di dalam sana.

Maka dari itu Kai mempercepat langkahnya untuk mencapai toko mainan itu. Langkahnya bahkan bisa disebut berlari, karena dia merasa bahwa mimpi ini menyenangkan.

Setelah beberapa saat ia berlari, Kai sampai di hadapan sebuah toko itu—tepat di hadapan sebuah dua pintu yang terbuat dari kaca, dimana dia bisa melihat keadaan di dalam sana. Banyak mainan yang berjajar, tetapi tidak terlihat ada orang di dalam sana. Oleh karena itu, daripada menebak-nebak siapa yang akan dia temui disana—jika benar akan ada orang—Kai memilih untuk mendorong salah satu pintu itu dan masuk ke dalam sana.

Wednesday

April 4th, 2012

04:00 AM

Keadaan di dalam sana tidak aneh. Hampir seperti toko mainan yang sering ia datangi di dunia nyata, bersama orangtuanya. Ada banyak boneka yang tersusun rapi di rak panjang, ada juga beberapa mobil-mobilan, robot, boneka badut kecil dan beberapa set mainan lain.

Kai tersenyum tipis. Jika dia bisa membawa barang-barang ini kepada Taemin, mungkin dia akan senang.

Kai melangkahkan kakinya ke arah rak panjang di sebelah kanan yang berisi boneka-boneka barbie—di dalam box berwarna pink dengan plastik transparan di depan yang memperlihatkan isinya. Di rak sebelah kiri terdapat beberapa boneka beruang, kelinci, kucing, anjing, babi dan lain-lain. Banyak sekali macamnya. Ah, andai ini bukan mimpi, mungkin Kai benar-benar akan membawakan beberapa mainan untuk Taemin.

Langkah Kai hampir menjauhi rak berisi boneka binatang dan barbie, namun sebuah suara—yang terdengar sangat jelas karena begitu heningnya tempat itu—membuat anak kecil itu menghentikan langkahnya. Kai memilih untuk diam, mencoba mendengarkan suara apa yang berasal dari apa.

Krrt...

Krrt...

Kai menggigit bibir bawahnya, agak takut dengan situasi ini.

Wednesday

April 4th, 2012

05:00 AM

Krrt...

Krrt...

Krrt...

Kini setelah bunyi aneh—seperti benda berkarat yang diputar—itu terdengar, suara lain mendominasi tempat itu. Membunuh suasana hening yang semula menemaninya. Ada suara music box yang mengalun dengan lembut, membuat bulu kuduk Kai berdiri mendengarnya. Suara yang tiba-tiba itu membuatnya merinding, dan tentu saja mencoba untuk sok berani sudah tidak bisa lagi Kai lakukan.

Kai mengurungkan niatnya untuk menoleh ke belakang, dia memilih untuk melanjutkan langkahnya. Agak cepat dari sebelumnya.

Suara music box terdengar lebih jelas. Kai mencoba menoleh ke belakang, namun kakinya menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh.

Bruk!

Dan hal itu membuat posisinya tersungkur di lantai sekarang.

Kret...

Kai merintih kecil, merasakan denyutan nyeri di lutut dan dagunya yang terbentur lantai dengan cukup keras. Matanya tertutup, gerakan refleks ketika dia terjatuh. Berniat untuk bangkit, Kai membuka matanya untuk berdiri dari posisi terjatuhnya.

Bruk!

Sebuah boneka terjatuh tepat di hadapan wajahnya. Mata Kai sempat membulat kaget. Rasanya sangat menakutkan ketika melodi dari music box itu masih mengalun, menemaninya.

Sebuah boneka badut kecil yang terjatuh di depannya. Badut yang menyeringai, sepertinya tidak layak untuk menjadi mainan anak-anak. Kai mengacuhkan boneka itu, memilih untuk berdiri ditopang dengan sikunya, namun sebuah suara yang muncul membuat Kai berhenti.

"Nyeahahaha!"

"Umma!"

Boneka itu bersuara, membuka mulutnya seperti manusia. Kai refleks mendorong mundur tubuhnya, dan berteriak karena kaget.

"Nyeahahaha!"

Berusaha untuk membuat dirinya kembali tenang, Kai mengirimkan perintah kepada dirinya sendiri bahwa boneka itu memang didesain untuk tertawa seperti itu. Cukup membuat bulu kuduknya tak terlalu tegang, namun ketika boneka badut kecil itu kembali tertawa, tubuh Kai menegang kembali.

"Nyeahahaha!"

"Itu hanya boneka, Kai. Seperti boneka yang kau miliki di rumah."

"Selamat datang, Kai."

Kai membulatkan matanya lebih lebar. Ketika badut itu memanggil namanya, tubuh Kai benar-benar menegang dan dia begitu ketakutan.

"Play with me."

Dan boneka kecil itu berjalan mendekati Kai. Kai segera berdiri dari posisi jatuhnya, namun belum berhasil dia berdiri ada sesuatu yang menahan kakinya. Membuatnya kembali terjatuh dan menghantam lantai dengan sangat keras.

Bruk!

Wednesday

April 4th, 2012

06:00 AM

Kai menolehkan pandangannya, mendapati ada beberapa boneka barbie yang menahan kakinya. Sosoknya tidak seperti barbie kebanyakan. Mereka rusak, bahkan ada noda merah pada tubuh mereka.

"Ayo bermain, Kai."

Mereka tertawa dengan suara yang menakutkan, menahan kaki Kai yang mulai meronta. Beberapa boneka barbie itu naik ke atas kakinya dan berjalan.

"Umma! Tolong! Umma! Appa!"

Kai bergerak panik, meronta agar bisa lepas. Ketika badut itu semakin mendekat, Kai menghempaskannya dengan kasar, sehingga menjauh dari dirinya.

"Umma! Appa!"

Kaki Kai menendang-nendang, kemudian merangkak dan menendang lagi. Cukup membuatnya bisa lepas, dan Kai segera berdiri kemudian berlari.

"Umma, apa yang terjadi disini?"

Kai mempercepat larinya, tepat ketika ada sebuah boneka beruang yang melompat dan mendarat di tengkuknya.

"Argh! Umma tolong!"

Tangan Kai berusaha melepaskan boneka beruang yang tertawa itu, dan hal itu membuat larinya terhenti. Kai dapat melihat boneka-boneka lain berjalan mendekatinya. Mata Kai membulat ketakutan, bahkan sudah memanas sekarang.

"Lepaskan! Umma! Appa! Tolong!"

Kai yakin boneka tidak akan di desain untuk menyakiti anak kecil. Namun dalam usahanya untuk melepaskan boneka beruang itu, Kai merasakan ada sesuatu yang mencakar bahu kanannya. Rasanya sangat sakit dan perih.

"Argh! Umma!"

Kai menjerit, benar-benar ketakutan. Tangannya berusaha melepaskan beruang yang kini berbisik di telinganya.

"Ayo kita bermain permainan Persembahkan Jiwa Kepada Dia."

"ARGH!"

Kai menghempaskan boneka itu dengan kasar dan kembali berlari sebelum boneka lain menangkapnya.

"Nyeahahaha!"

"Kai, ayo kesini!"

Kai mempercepat larinya. Bukan pilihan yang bagus untuk mencapai pintu utama, disana masih banyak boneka-boneka yang kini terlihat menakutkan. Maka dari itu, ketika melihat sebuah pintu kayu di hadapannya, Kai segera membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Tanpa menunggu waktu, Kai memutar kunci yang tergantung di lubang kunci itu.

"Hhh... hhh..."

Kai berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan. Dia mendudukan dirinya di depan pintu—dengan posisi yang membelakangi pintu itu dan melihat bahu kananya.

Wednesday

April 4th, 2012

07:00 AM

Tiga luka cakaran itu membuatnya mengeluarkan darah. Rasanya sangat sakit. Kai menggigit bibir bawahnya ketika jarinya mencoba untuk menyentuh luka itu.

Nyuut~

"Argh!" Kai menjerit, bersamaan dengan gerakan jarinya yang menjauh. "Umma... hiks... Kai dimana? Appa tolong Kai."

Bugh! Bugh! Bugh!

Pintu yang disandari Kai bergerak, seperti gerakan mendobrak secara paksa. Kai menangis. Memejamkan matanya, berdoa kepada Tuhan.

"Tuhan, bangunkan Kai. Ini mimpi buruk, Tuhan. Bangunkan Kai. Kai mohon. Kai mohon bawa Kai kepada Umma dan Appa."

Bugh! Bugh! Bugh!

"Umma!"

Kai membuka matanya yang sudah basah karena air mata. Sering dia berjanji kepada ayahnya untuk tidak pernah menangis—kecuali untuk situasi yang benar-benar menyedihkan. Namun Kai mengingkari janjinya sekarang. Disini dia takut, sangat takut dengan keadaan ini.

Bugh! Bugh! Bugh!

"Kai, buka pintunya~."

Kai menggeleng seraya menahan tangisnya yang mengencang di setiap dorongan paksa pada pintu kayu itu. Dia takut, sangat takut.

"Umma, tolong aku! Umma!"

Dan tak sengaja matanya menangkap apa yang ada di hadapannya. Di dalam ruangan yang belum Kai ketahui ruangan apa ini.

Wednesday

April 4th, 2012

08:00 AM

Sebuah gudang dimana lebih banyak mainan yang berada disini. Mata Kai mengeluarkan air mata, ketika dia melihat banyak sosok kecil dari mainan yang keluar dari box-nya dan berjalan mendekatinya.

"Ayo kita bermain, Kai."

Kai menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba berdiri dari posisi duduknya. Kai dapat melihat ada banyak boneka dan mainan yang berjalan mendekatinya.

Tidak punya banyak waktu, Kai memantapkan sebuah pilihan. Jarinya mendekat ke arah kunci yang masih menggantung di lubang kunci, memutarnya secara perlahan hingga terdengar bunyi 'klik'.

Ketika ada sebuah boneka anjing yang melompat menuju kakinya, Kai segera membuka pintu itu dan menerobos sesuatu yang tidak dia ketahui apa yang memblokir jalannya.

Bruk!

Prang!

Jleb!

Begitulah kira-kira suara yang timbul akibat benda-benda yang saling bertabrakan. Kai berlari dan menabrak meja—dimana ada vas bunga disana. Membuat vas bunga itu jatuh dan pecah, kemudian salah satu boneka yang berkumpul di depan pintu itu menusuk Kai dengan salah satu pecahan vas tepat di lengan bawahnya.

"ARGHH!"

"Jangan jadi anak nakal, Kai."

Kai tidak memperdulikan rasa sakit di lengannya dan air mata yang membasahi pipinya. Dia memilih untuk segera bangkit, melihat celah untuk pergi dan segera melarikan diri ke arah pintu dimana ia masuk. Melewati banyak boneka dan mainan yang menghalanginya.

"Sedikit lagi. Sedikit lagi. Ayo Kai!"

Dia hampir mencapai pintu, namun larinya kembali terhenti ketika sesuatu yang keras mengenai punggungnya.

Kai merintih kesakitan, namun dia mencoba untuk segera berdiri. Tak ada keinginan untuk melihat benda yang memukulnya. Sepertinya sesuatu seperti kayu. Dan Kai meyakini hal itu ketika mendengar alunan melodi music box dari dekat kakinya.

"Kemari Kai. Ayo kita bermain."

"Nyeahahaha!"

Kai menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan segera melanjutkan langkah hingga ia berhasil membuka pintu keluar, dan membuatnya terbebas dari ruangan itu.

Wednesday

April 4th, 2012

09:00 AM

Tanpa mengulur banyak waktu, Kai segera berlari menjauhi bangunan itu. Berlari secepat-cepatnya hingga suara-suara menakutkan itu sudah tidak terdengar. Kai menangis, namun ia harus bertahan.

"Kai, bangun! Bangun! Ini mimpi buruk! Hanya mimpi buruk!"

Kai memusatkan pikirannya untuk berlari, mengalihkan rasa sakitnya. Yang terpenting dia harus menjauh dari tempat itu. Entah kemana, yang pasti hingga bangunan itu sudah tidak terlihat.

Wednesday

April 4th, 2012

10:00 AM

"Hhhh... hhh..."

Deru napas Kai terdengar tidak teratur. Merasa kakinya sudah tidak kuat untuk berlari, Kai menjatuhkan dirinya di atas rumput hijau. Yang jaraknya sudah lumayan jauh dari toko mainan itu.

"Hhh... hhh..."

Kai melihat pecahan vas yang masih tertusuk di lengannya. Dari sisinya mengeluarkan cairan merah yang kental, membuat mata Kai semakin memanas kembali.

"Umma... Appa... keluarkan Kai dari sini."

Kai menangisi lagi keadaannya. Sungguh, hal ini begitu sulit untuk seorang anak kecil seperti Kai. Rasanya sangat menakutkan. Terlebih lagi dia berada disini sendiri sekarang.

Kai menarik piyama bagian atasnya dan kemudian menggigitnya. Dia sering melihat ini di film-film. Menggigit sesuatu dapat meredam jeritan kesakitannya dan antisipasi agar Kai tidak menggigit lidahnya ketia berteriak.

Dengan takut, jemari kecil yang bergetar itu meraih pecahan vas yang terbuat dari kaca dan menariknya perlahan. Baru gerakan kecil, Kai sudah menjerti tertahan.

"Hrrnnggg!"

Tusukan itu begitu menyakitkan bagi Kai. Dia memperkeras gigitannya pada piyama, dan mencoba kembali usahnya untuk mengeluarkan pecahan kaca itu.

"Hrrrnnghh!"

Sedikit keluar dari lukanya, menghasilkan darah yang mengalir.

Kai meringis, membiarkan air mata lolos lagi dari matanya. Dia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa melepaskan potongan vas ini. Setelah memejamkan matanya beberapa saat, Kai menggigit piyamanya sangat keras dan bersiap.

Grnnyk...

Rasanya sakit ketika pecahan itu lepas secara perlahan.

Grrnnyk

"ARGHHH!"

Jeritan itu lolos keluar dari mulut kecil itu ketika dia berhasil mengeluarkannya.

Jari Kai yang berlumuran darah membuang pecahan kaca itu, jauh darinya. Kai menggigit bibir, menahan tangis yang hampir saja lolos lagi.

"Hiks... Umma... Kai ingin pulang."

Wednesday

April 4th, 2012

11:00 AM

Kai memejamkan matanya lagi, menahan agar air matanya tidak keluar. Sungguh, mengapa hal ini bisa terjadi kepadanya? Apa yang telah dia lakukan sehingga mendapatkan mimpi seperti ini? Mimpi ini terasa begitu nyata, bahkan rasa sakit ini sangat menyakitkan.

"Aku ingin pulang."

Wednesday

April 4th, 2012

12:00 PM

Kai membuka matanya secara perlahan. Dia merasa lemas sekarang. Apa karena darahnya yang tidak berhenti keluar?

Belum sempat melakukan apapun, mata Kai telah tertuju ke sekelilingnya. Dia mengambil posisi duduk. Memperhatikan sekelilingnya bahwa tempat itu bukan hamparan rumput hijau lagi, melainkan sebuah ruangan gelap yang tertutup.

"Sekarang dimana aku?" tanya anak kecil itu lemah.

Dia melihat ada tumpukan kain di ujung ruangan—di sisi tumpukan kardus bermacam ukuran. Seperti film action yang sering ia saksikan bersama ayahnya, Kai segera berdiri dan bernat meraih salah satu kain itu. Tentu saja untuk menahan darah yang mengalir dari lukanya, yang ia pelajari dari film-film yang pernah ditontonnya.

Kai memilih salah satu kain yang tak terlalu panjang. Memutarnya di bagian luka. Menarik salah satu sudut dengan gigi dan yang satunya dengan tangan, kemudian mengikatnya. Sedikit meringis kecil, tetapi rasanya lebih baik.

"Sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku ingin Umma."

Wednesday

April 4th, 2012

01:00 PM

Krrkk...

Kai mendengar sebuah suara dari tumpukan kardus. Hal itu membuatnya kembali ketakutan, menggeleng dan menangis pelan.

"Umma. Kumohon, Umma. Aku ingin bangun dari mimpi ini."

Krrkk...

Suara itu terdengar lagi. Kai berjalan mundur, menjauhi kardus-kardus itu.

Krrkk...

"Nyeahahaha!"

Dan suara itu suara yang Kai kenal sebelumnya. Suara dari boneka badut kecil, boneka yang membuatnya sangat ketakutan.

Wednesday

April 4th, 2012

02:00 PM

"Ayo kita bermain, Kai."

Kai menggelengkan kepalanya ketika melihat ada beberapa sosok boneka badut itu mulai bermunculan dari belakang kardus. Kai memundurkan kembali langkahnya, hingga sebuah dinding menghentikan pergerakannya.

"Ayo Kai. Nyeahahaha!"

Kai menggeleng. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, mencari jalan untuk lari atau melawan.

"Nyeahahaha!"

Kai melihat sebuah pintu di sisi kirinya—namun jaraknya agak jauh darinya. Boneka-boneka kecil itu semakin mendekat dan waktu semakin menipis. Itu artinya Kai harus segera berlari menuju pintu dan melarikan diri.

Setelah menarik napas, Kai mempersiapkan kakinya dan kemudian berlari. Tepat ketika badut-badut kecil itu mengejarnya, dengan lari yang bisa dikatakan lebih kencang daripada Kai. Kai menggigit bibir bawahnya. Berharap kakinya dapat membawa ia menuju pintu dengan tepat waktu.

"Jangan lari Kai."

Setelah kalimat itu terlontar, ada sebuah boneka badut yang melompat dan mendarat di kepala Kai. Kai menjerit, berusaha melepaskan badut itu namun beberapa badut lagi lebih dahulu menangkap tubuhnya.

"ARGHH! ARRGGHH! LEPASKAN AKU!"

"Nyeahahaha!"

Ada satu badut lagi yang mendarat di tengkuk leher Kai. Memeluknya dengan erat, bahkan dapat dikatakan mencekiknya. Kai tetap melanjutkan larinya, dengan tangan yang masih berusaha melepaskan badut itu.

"Nyeahahaha!"

Salah satu badut tertawa sebelum menggigit telinga kiri Kai.

"ARRGH!"

Kai yakin gigitan itu mengeluarkan darah. Dia memukul badut itu sekuat tenaga, sebelum para badut kecil berhasil menjatuhkan tubuhnya.

"Menjauh dariku! ARGH!"

Kai meronta. Seluruh bagian tubuhnya tak berhenti untuk bergerak, mencoba lepas dari tangan-tangan tajam yang beberapa menyakiti bahkan melukai kulitnya.

Wednesday

April 4th, 2012

03:00 PM

"Lepaskan aku!"

Kai berhasil membuat beberapa badut itu menjauh karena gerakannya. Kai merangkak, sebelum akhirnya berdiri dan menabrakan dirinya pada pintu kayu sehingga terbuka, dan membawanya keluar dari ruangan itu.

Wednesday

April 4th, 2012

04:00 PM

Kai segera berlari dengan kepala yang menoleh ke belakang. Takut jika badut-badut itu mengejarnya. Dapat dia dengar samar-samar tawa menakutkan dari badut itu.

Bruk!

Kai menabrak sesuatu karena tidak memperhatikan jalannya. Membuatnya terjatuh dari posisinya. Kai menengadahkan kepalanya perlahan, melihat apa yang membuat larinya terhenti.

Wednesday

April 4th, 2012

05:00 PM

"U-Umma? Appa?"

Wajah Kai berubah menjadi sumringah melihat kedua sosok yang sangat ingin dipeluknya sekarang. Kai berdiri dari posisinya secara perlahan. Membiarkan air mata terjatuh dari matanya sebelum dia memilih untuk memeluk kedua tubuh itu.

"Kalian datang untuk Kai?"

Wednesday

April 4th, 2012

06:00 PM

Bruk!

Tak disangka oleh Kai, ibunya—Key—mendorong tubuh kecil itu dan membuatnya terjatuh lagi. Kai menatap keduanya tak mengerti.

"W-wae U-Umma?"

Key menggeleng. Onew bergerak, mendekati Kai dan mengangkat tubuhnya.

"A-Appa? Apa yang—"

Wednesday

April 4th, 2012

07:00 PM

Buagh!

Onew membenturkan kepala Kai ke sebuah batu yang lumayan besar di hamparan rumput hijau itu.

Kai merintih. Kepalanya terasa sangat berat dan pengelihatannya menjadi berkunang-kunang.

Buagh!

Kepalanya dihantamkan lagi.

Wednesday

April 4th, 2012

08:00 PM

"A-Appa..."

"Kami membencimu." kata Key dengan suara yang berbeda.

Dia mendekati Kai yang terbaring lemah di rumput. Ayolah, untuk anak kecil seumuran Kai dia bisa terbilang kuat menghadapi semua ini. Tetapi tetap saja dia anak kecil. Dia tetap lemah, rapuh dan tak berdaya. Apa lagi dengan perlakuan seperti ini.

"U-Um...ma..."

Wednesday

April 4th, 2012

09:00 PM

Buagh!

Sekarang sebuah batu berukuran sedang yang dipukulkan ke kepala Kai. Membuat sebuah luka yang mengeluarkan darah. Namun luka itu belum cukup untuk membuatnya pingsan. Kai masih sadar walau dia hampir kehilangan kesadaran—bahkan mungkin nyawanya.

"U-Um...mah..."

Buagh!

Buagh!

Buagh!

Tiga kali pukulan bertubi-tubi oleh ibunya menggunakan batu yang dipegangnya. Membuat lebam dan luka. Wajah Kai bisa dikatakan rusak dengan pukulan itu.

Sungguh mengenaskan.

Buagh!

Wednesday

April 4th, 2012

10:00 PM

Kai sudah tidak dapat mengeluarkan suara selain rintihan-rintihan kecil. Matanya yang lebam sudah tidak bisa ia gunakan untuk melihat dengan jelas. Tubuhnya sangat lemah. Dia mengangkat tangannya sedikit, ingin menyentuh wajah ibunya.

"Hnn..."

Hanya seperti itu suara yang bisa ia keluarkan. Key membuang batu itu. Kali ini mendekatkan tangannya ke wajah Kai yang sudah terbilang rusak dan mengarahkan jarinya ke mata lebam itu.

Wednesday

April 4th, 2012

11:00 PM

Kai dapat melihat dengan samar bahwa jari-jari itu sudah sangat dekat dengan matanya, bahkan sudah menekan. Kai dapat mendengar suara ayahnya yang tertawa samar, sebelum dia mendapatkan sebuah tekanan di matanya.

"Hnnnhh..."

Key menusukkan jari telunjuk dan jempolnya di bola mata itu. Berusaha menyusup untuk mencongkel matanya keluar.

Kai ingin merintih. Namun suaranya tidak bisa keluar, dia terlalu lemah.

Krrnnkk

Suara itu terdengar ketika jari-jari ibunya mencoba untuk mengeluarkan mata anaknya. Kai merintih, berdoa dalam hati agar yang ia lalui ini hanya sebuah mimpi buruk.

Dan doanya tidak terkabul ketika Kai merasakan jari itu terlepas dari matanya—sebelum berhasil mencongkel matanya. Namun yang ia dapatkan setelah itu adalah sebuah pukulan keras dari sebuah batu yang menghantam matanya.

Membawanya pada gerbang kematian.

Thursday

April 5th, 2012

12:00 AM

"Selamat tinggal Lee Jongin. Berbahagialah karena kau adalah salah satu pemain dalam permainan ini."

Key dan Onew mengusap puncak kepala Kai. Memperhatikan tarikan napas terakhir yang dapat Kai rasakan.

"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."

Dan Empat April-mu sudah berakhir.

.:o~o:.

NEXT!

Maaf kalau kurang greget oyeeeeee~