My Little Family © Choi RinRi
Main Cast : [Kim Jongwoon & Kim Ryeowook]
YeWook couple, always.
Rated : T
Disclaimer : Super Junior is belongs to God.
Genre : Romance, Family, & Hurt/Comfort.
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, M-Preg.
.
.
[Chapter 2]
.
.
"Aku ingin membawa Jongie untuk tinggal bersamaku… dan Luna."
Suara itu, pernyataan itu, segalanya terus saja terngiang di pikiran Ryeowook. Seolah Yesung berada didekatnya sekarang, membisikannya, dan terus mengulang-ulang kalimat itu bahkan hingga Ryeowook merasa muak.
Setelah kejadian yang sudah berlalu sejak setengah jam yang lalu, saat Yesung menyatakan keinginannya untuk membawa Jongie di kereta gantung, Ryeowook sama sekali tak berbicara apapun. Bahkan ketika Yesung mengantarnya sampai ke dalam kamar dan menidurkan Jongie di ranjang, Ryeowook sama sekali tak ingin menatap pria itu. Mengucapkan terima kasih karena pria itu telah menemani mereka malam ini pun tidak.
Rasanya ia ingin marah, kemudian menampar keras pria yang sudah bertingkah seenaknya namun entah kenapa sesuatu menahannya untuk tak melakukannya. Dan ia sendiri bingung kenapa.
Tak hanya itu, Yesung kembali melanjutkan pembicaraan mereka, atau lebih tepatnya pembicaraannya sendiri karena Ryeowook sama sekali tak menimpali. Ryeowook memilih diam. Seolah melakukan propaganda ini itu agar Ryeowook menyetujui keinginannya. Dan Yesung tahu bahwa Ryeowook memikirkan semua ucapan-ucapannya, setidaknya walau sedikit.
Ryeowook menyenderkan bahunya di kepala ranjang, kemudian menarik nafas dan menetralkan pikirannya hingga ia bisa merasa tenang, walau sedikit.
"Appa…"
Ryeowook menoleh, kemudian mengulas senyum saat tahu bahwa Jongie bergumam. Ia merebahkan tubuhnya di samping Jongie, memeluknya dan mengusap rambut hitamnya. Mungkin Jongie bermimpi, pikirnya.
"Tidak ada appa…" bisik Ryeowook, dan tentu saja ia bisa berbicara seperti itu karena Jongie tak mendengarnya, putranya itu tertidur. "Hanya ada umma, hanya ada kita…"
Di rengkuhnya tubuh kecil Jongie, membuat Jongie menghadapnya dan Ryeowook memeluknya dengan lembut. Mengusap punggungnya dengan pelan agar Jongie tetap tertidur dengan nyenyak.
"Jongie…" Ryeowook memejamkan mata, "Apa kau menyayangi umma?" tanyanya. Dan dijawab deru nafas Jongie yang halus, putra kecilnya itu tentu saja tak mendengarnya.
"Jika kau disuruh memilih antara umma atau appa… mana yang kau pilih, sayang?" Ryeowook merasa dirinya benar-benar konyol karena pertanyaan bodohnya itu. Walau begitu, Ryeowook merasa nafanya tercekat. Rasanya sesak, dan itu membuat Ryeowook ingin menangis walau ia sendiri tak mau melakukannya.
"Umma menyayangimu, jangan tinggalkan umma…"
.
.
"Oppa…" panggil Luna, dan Yesung yang di berdiri di belakangnya menyahut. Luna menatap Yesung dari pantulan cermin di hadapannya. Memperhatikan Yesung yang sedang merapikan rambutnya dengan sisir.
"Apa oppa sudah membicarakan tentang itu dengan Ryeowook oppa?" tanyanya hati-hati. Sebelah tangannya mengusap helaian rambut yang tergerai di pundaknya. Hanya sekedar mengusap, tapi cukup membuat beberapa helai rambut terselip di antara sela-sela jarinya. Dan Luna hanya tersenyum miris melihatnya.
"Sudah." Jawab Yesung singkat.
"Lalu… apa Ryeowook oppa setuju?" tanya Luna lagi. Ia mendongkak, menatap Yesung kini tak kunjung membuka suara. Hanya diam, bahkan pria itu pun berhenti menyisiri rambutnya.
"Walau aku belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, tapi aku dapat merasakan bagaimana perasaan Ryeowook oppa sekarang. Aku tahu pasti dia menolak. Jadi… lebih baik kita tidak usah memaksakan keinginan, oppa." Jelasnya, dan ia mencoba tersenyum saat ini.
"Tidak…" Yesung menaruh sisir di meja, kemudian membungkuk dan melingkarkan tangannya di leher Luna yang duduk di depan meja rias. "Aku akan berusaha, jangan khawatir." Katanya. Kemudian mencium lembut pipi istrinya tersebut.
"Aku tidak yakin, oppa. Memisahkan ibu dan anak… sepertinya itu terdengar jahat sekali," Luna menunduk. Baginya, ia hanya akan terlihat antagonis jika ia terus memaksa Yesung membawa Jongie ke rumah ini. Walau jauh dilubuk hatinya, ia sangat menginginkan seorang anak. Walau tak langsung lahir dari rahimnya. "Kita bisa mengasuh anak di panti asuhan, oppa."
"Tidak, aku hanya ingin anak yang berasal dari darah dagingku sendiri. Aku tak mau jika harus mengambil dari panti asuhan." Yesung menekankan. Dan ia tak tahu, bahwa perkataannya tadi membuat hati Luna mencelos.
"Maaf oppa… aku tak bisa memberikanmu keturunan." Setetes air mata mulai membasahi pipinya, bahkan jatuh mengenai tangan Yesung yang melingkar di lehernya, "Aku gagal menjadi seorang istri, aku hanya bisa menyusahkanmu. Maafkan aku…" sambungnya. Suaranya bergetar dan terisak.
"Apa yang kau katakan?" Yesung menarik wajah Luna, membuatnya menatap kedua matanya. "Jangan pernah lagi berkata seperti itu, aku tak suka." Tegasnya. Kemudian menghapus air matanya. Yesung melepas dekapannya dan memutar kursi yang di duduki Luna agar menghadapnya, dan ia bersimpuh di depannya.
"Oppa, bisa berjanji satu hal padaku?" Luna menggenggam erat kedua tangan Yesung, menatap pria di hadapannya itu dengan kedua matanya yang memerah.
"Apa?"
"Terus bersamaku oppa," ujarnya, dan Yesung belum berniat membuka mulut untuk menanggapi ucapan Luna tadi. "Mungkin aku egois, tapi aku tak mau oppa bersama dengan orang lain." Jelasnya.
"Aku sampai sekarang masih bersamamu."
"Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, kan?" Yesung bisa merasakan genggaman tangan Luna semakin mengerat. Seolah yeoja itu takut kehilangannya, takut jika sedikit saja ia melonggarkan genggamannya, seseorang akan dengan mudah merebut Yesung darinya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Yesung, mengadah dan membalas tatapan Luna yang menatapnya.
"Aku… a-aku takut… aku takut oppa meninggalkanku… dan kembali pada Ryeowook oppa." Jelasnya dengan terbata. Dari tatapannya, Yesung dapat menebak bahwa Luna ingin menangis lagi. "Berjanjilah oppa untuk tidak melakukannya." pinta Luna.
Yesung hanya diam, dan semakin membuat Luna merasa resah. "Oppa… berjanjilah." pintanya lagi, atau mungkin kali ini lebih digolongkan dengan kata memohon. Dan sama seperti sebelumnya, Yesung tetap diam.
"Ini sudah malam, ayo tidur. Wajahmu sudah terlalu pucat."
Dan akhirnya itulah yang terdengar oleh Luna. Yesung tidak menjawab, justru berkata lain dan seolah mengalihkan pembicaraan. Yesung justru meninggalkannya, memilih membaringkan diri di ranjang dengan sebelumnya mengecup pipi Luna dan mengusap rambutnya lembut.
"Oppa!"
Yesung yang awalnya sudah memeluk guling dan memunggunginya pun membalik. "Apa lagi?" tanyanya, menatap Luna yang kini menggigit bibirnya, tangannya terkepal dengan erat. "Ayo tidur, bukankah kau selalu bilang bahwa aku tidak boleh tidur terlalu larut karena besok harus bekerja. Aku lelah, Luna." Jelasnya, dan kembali berbalik memunggungi Luna.
"K-kau… hiks… kau tidak menjawab pertanyaanku! Apa kau tidak bisa berjanji padaku?" Luna berbicara dengan nada yang meninggi, dan ia tahu bahwa Yesung mendengarkannya dengan baik. Ia tahu pria itu hanya pura-pura tidur dan lari dari pertanyaannya tadi. Dan ia merasa sesak karenanya.
"Ya, aku memang tidak bisa berjanji."
Luna tersenyum pahit mendengarnya. Benar dugaannya. Yesung tak pernah serius padanya. Ternyata dua tahun mendampinginya memang tak memiliki arti sedikit pun untuk pria itu. Ia semakin meyakinkan diri, bahwa Yesung menikahinya hanya karena rasa kasihan, bukan karena mencoba untuk belajar mencintainya. Yang sampai kapanpun hati pria itu tak akan pernah terbuka untuknya, ia tahu itu.
Tapi selama ini Luna pun selalu membohongi diri, ia selalu membohongi keyakinannya dengan berkata bahwa Yesung mencintainya, sangat mencintainya, dan akan selalu bersamanya. Menjadi miliknya dan akan tetap seperti itu. Tak akan berubah.
"Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, sama seperti yang kau ucapkan."
Alasan, Luna tahu bahwa Yesung hanya beralasan saja. Harusnya selama ini pria itu bisa berterus terang, harusnya pria itu langsung saja bahwa tak mencintainya, hanya kasihan padanya, dan yang terpenting… ia mencintai orang lain, dan itu adalah Kim Ryeowook. Walau dengan Yesung berkata seperti itu hanya akan membuatnya sakit.
Dan sekali lagi Luna tahu, bahwa Yesung memang mencintai Ryeowook walau bagaimana pun kerasnya pria itu mencoba menyangkalnya.
Perasaan tidak bisa dibohongi, bukan?
.
.
"Gila! Benar-benar tidak tahu malu!"
Ryeowook mengernyit, sedikit menjauhkan tubuhnya dan menutup rapat telinganya. Pria di sampingnya ini benar-benar berisik. "Hyung!" serunya, dan pria di sampingnya itu hanya terkekeh menyadari kekesalan sahabat lamanya itu.
"Oke, oke, aku minta maaf. Aku kesal, sih!" katanya. Kemudian meminum jus yang disiapkan Ryeowook untuknya di atas meja.
Pagi ini Ryeowook sengaja mengundang sahabatnya itu untuk datang ke rumahnya. Awalnya Ryeowook ingin mengajaknya bertemu di salah satu café, tapi sahabatnya itu menolak dengan alasan malas. Ia lebih suka bertemu di rumah saja. Karena Ryeowook yang juga sama malasnya jika harus datang ke rumah sahabatnya itu dengan alasan jauh, jadilah sahabatnya itu yang datang mengunjunginya.
Cho Sungmin, sahabatnya itu lebih suka diam di tempat yang nyaman, contohnya saja rumah. Bersantai-santai di sofa dengan ditemani jus dan camilan. Tipikal orang yang tidak suka dengan keramaian, mengingatkan Ryeowook pada seseorang.
"Lalu kau jawab apa?" tanyanya lagi. Sebelah tangan namja berparas manis itu kini mulai disibukan dengan setoples keripik kentang di tangannya. Dalam kamusnya, mendengarkan curahan hati seseorang tak akan terasa lengkap tanpa camilan ditangannya. Begitulah. Sedangkan kedua mata bulatnya sesekali memperhatikan putranya yang berumur 2 tahun, Cho Kyungsan yang kini asyik bermain robot mainan bersama Jongie di samping sofa.
"Aku tak menjawab apapun." Jawab Ryeowook, memangku dagunya di bantal sofa yang ia peluk. Menghela nafas tanda ia benar-benar bingung sekarang.
"Kenapa? Kau jawab saja, aku tak akan memberikan Jongie, seenaknya saja kau! Begitu!" Sungmin berbicara dengan nada tinggi, padahal keripik kentang masih penuh di dalam mulutnya. Makan sambil berbicara, hebat juga dia.
"Tapi hyung… hahh aku susah menjelaskannya!" Ryeowook mengacak rambutnya, kesal dengan dirinya sendiri. Ia terlihat kacau sekali di depan Sungmin.
"Katakan Ryeowook," untuk kali ini Sungmin merelakan toples keripik itu menjauh darinya, disimpannya di atas meja agar bisa lebih serius menanggapi cerita Ryeowook. Lagipula masalah pria kecil ini bukanlah masalah yang enteng.
"D-dia bilang… ini untuk masa depan Jongie…" Ryeowook menunduk, menyembunyikan kedua matanya yang mulai memerah. "Jika sudah besar nanti, Jongie pasti akan tahu bagaimana status asli kedua orang tuanya. Dia bilang, keluarga yang sempurna tak hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Tapi keluarga yang sempurna adalah keluarga yang memiliki sebuah ikatan yang utuh, dan Jongie berhak mendapatkannya." Jelasnya, mengingat semua ucapan Yesung yang diucapkannya kemarin malam.
Sungmin ikut prihatin, ditambah saat Ryeowook mendongkak ia dapat melihat air yang menggenang di pelupuk matanya. Ia mengusap pundak kecil sahabatnya itu. Memberinya semangat tanpa harus dalam bentuk ucapan.
"Aku tahu, dengan sangat jelas aku tahu apa maksud perkataan si bodoh itu." Sungmin tersenyum kecil, dan ia berharap Ryeowook untuk saat ini dapat tersenyum sepertinya. Walaupun jika ia berada di posisi Ryeowook, belum tentu ia akan sekuat Ryeowook seperti saat ini.
"Kalaupun kau merelakannya, aku tak yakin Jongie akan hidup bahagia. Walau ia berada dalam keluarga yang sempurna, seperti yang si bodoh sebutkan itu." Sungmin mengangkat bahunya, ia sendiri tidak yakin jika Jongie akan bahagia ketika hidup bersama Yesung dan istrinya itu.
"Coba kau lihat putramu itu…"
Sungmin memutar tubuh Ryeowook, membuat Ryeowook dapat melihat jelas Jongie yang kini sedang bermain bersama Kyungsan. Celotehannya, segala ekspressi lucunya, dan suara nyaringnya… hahh, betapa polosnya putranya itu.
"Kau ingat kembali, bagaimana perjuanganmu mempertahankan Jongie."
Tatapan Ryeowook meredup, seolah ia menuruti semua ucapan Sungmin. Mengingatnya kembali, semua memori usang yang bahkan awalnya jika berbentuk benda ingin sekali ia bakar hingga hangus.
Bagaimana untuk pertama kalinya ia dikejutkan dengan hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan ia hamil. Saat ia mendapat kenyataan keras bahwa Yesung menolak kehadiran Jongie di perutnya. Ketika ia harus berjuang sendiri melalui masa-masa kehamilan yang begitu melelahkan. Dan bagaimana kerasnya cacian beberapa orang yang tahu bahwa ia hamil tanpa seorang ayah. Hingga perjuangan terakhir saat ia bertaruh nyawa melahirkan Jongie hingga akhirnya Jongie dapat hidup hingga sekarang.
Yesung baginya hanya angin lalu, suami yang hanya dalam status pernikahan. Tidak bersikap seperti suami pada umumnya. Ryeowook sering menangis saat malam hari, tidak bisa tidur karena rasa tidak nyaman yang dirasakannya di perut besarnya. Atau ia juga akan menangis saat keinginan aneh yang sering dialami ibu hamil pada umumnya tidak terpenuhi. Dan ia benci jika harus mengingatnya kembali.
"Semua itu tidak mudah, butuh perjuangan, dan kau melawannya dengan kesendirian. Kau sudah berkorban terlalu banyak, apa kau rela melepaskan Jongie begitu saja?" Sungmin kembali bertanya. Ia sama sekali bukan bermaksud memojokan Ryeowook, ia hanya ingin membuat sahabatnya itu sadar. Dan sekarang ia bisa melihat pundak Ryeowook yang bergetar, Ryeowook menangis.
Ryeowook kembali berbalik menghadap Sungmin, ia hanya tak mau Jongie tahu bahwa sekarang ia menangis. "Kau benar, hyung… kau benar."
Sungmin tersenyum, kemudian menarik Ryeowook dan memeluknya. "Ayo menangis sepuasmu di pundakku, kalau itu bisa sedikit meringankan bebanmu." Sungmin mengusap punggung Ryeowook, dan perlahan ia bisa merasakan bahwa Ryeowook mulai berhenti menangis.
"Maaf aku terlihat cengeng," Sungmin terkekeh. Saat seperti ini, masih saja Ryeowook dapat memperlihatkan wajah imutnya. Lihat, wajahnya yang memerah dan ia mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang menggembung. Kedua tangannya sibuk menghapus air yang membasahi pipinya.
"Huh, make up ku luntur, kan!" kesal Ryeowook.
Sungmin tersenyum geli mendengarnya. Ia tahu bahwa pria kecil ini tak sekuat yang dikatakannya, ia terlalu lemah hingga selalu menggunakan tameng sifat bawelnya agar tak terlihat orang. Seperti saat ini, Ryeowook masih saja bersikap 'sok biasa saja' padahal namja itu baru saja menangis. Bahkan sampai membuat pundak Sungmin basah.
"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik, hm?" tanya Sungmin, mengusap rambut Ryeowook saat melihat pria kecil itu menganggukan kepalanya.
"Umm, terima kasih, hyung." jawabnya sembari tersenyum.
"Ya, satu pesanku, Ryeowook ah," Sungmin kembali mengusap pundak Ryeowook, "Jangan pernah memberikan Jongie padanya, walau si bodoh itu terus berbicara meminta Jongie hingga mulutnya berbusa sekalipun. Jangan pernah, Jongie milikmu."
"Ya! Jongie milikku, hyung!"
"Bagus, milikmu, hanya milikmu!"
Ryewook terkekeh mendengarnya. Memang ia tak pernah salah memilih Sungmin untuk menjadi teman curhatnya. Sahabat lamanya, seorang sahabat yang ditemuinya saat ia masih bersekolah. Mereka satu sekolah, dan menjadi teman sekelas hanya dalam dua tahun. Karena setelahnya, Ryeowook tak mungkin melanjutkan sekolah dalam keadaan perut yang membesar, kan?
"Ah, tunggu sebentar." Sungmin merasa ponsel yang berada di saku celana jeansnya bergetar, "Halo?" ucap Sungmin saat mengangkat panggilannya. Dan setelahnya Sungmin sibuk berbicara dan Ryeowook tidak terlalu menyimaknya karena kini ia menonton acara masak di televisi yang baru saja dinyalakannya.
"Hm, mister Cho?" tebak Ryeowook setelah melihat Sungmin mematikan sambungannya.
Sungmin mengangaggukan kepalanya, "Ya, begitulah." kemudian memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Dia itu berlebihan sekali, ini masih pagi tapi dia sudah menyuruhku untuk tidak pulang terlalu siang. Lagipula dia kan sibuk, urusi saja pekerjaan kantornya itu. Hah, apa suami-suami di dunia ini memiliki sifat overprotective seperti itu?" keluh Sungmin.
"Ya, kau menyindirku? Jangan bertanya hal seperti itu padaku, aku mana tahu!" Ryeowook menekuk wajahnya sebal, membuat Sungmin tertawa saat itu juga. Ryeowook mana tahu, mempunyai suami 'yang benar-benar seorang suami' pun belum pernah. Ada-ada saja.
"Hahaha, maka dari itu, carilah suami yang bisa menjadi ayah baru untuk Jongie!" Sungmin mengerling jahil, kemudian menyenggol pinggang Ryeowook hingga membuat pria kecil itu sedikit mengaduh.
Seorang suami? Ayah baru untuk Jongie? Benar juga, selama ini ia tak pernah sedikit pun memikirkan hal itu. Selama ini pikirannya hanya berpusat pada Jongie, untuk memikirkan masalah cinta pun ia tak sempat. Ia masih berumur 21 tahun, sepertinya masih pantas saja untuk mencari pendamping hidup. Ah, Ryeowook jadi geli sendiri dengan pemikirannya ini.
"Kau ini manis, pengusaha sukses yang memiliki cafe dengan banyak cabang, aku yakin banyak pria di luar sana yang akan tertarik padamu." Sungmin semakin gencar menggodanya, ia senang saat melihat wajah Ryeowook yang memerah.
"Aishh, itu terlalu rumit untuk kupikirkan, hyung," Ryeowook merasa risih juga dengan bahan pembicaraan mereka sekarang. Malu lebih tepatnya.
"Ah, atau sebenarnya kau ingin kembali pada si bodoh itu, hm?" dan kali ini Sungmin kembali tertawa lepas, disampingnya Ryeowook hanya diam dan seakan membeku dengan wajah yang memerah padam. "Benar, kan! Hahahaha." Sambungnya, membuat Ryeowook menggeleng keras.
"T-tidak! Mana mungkin aku menginginkan itu!" sangkal Ryeowook, dan kini Sungmin justru menatapnya dengan mata yang memicing, seolah sedang mengintrogasinya dan membuatnya merasa terpojok.
"Benarkah?"
"Hyung!" Ryeowook memekik, lalu menghadiahi Sungmin dengan lemparan bantal yang sebelumnya dipeluknya itu. Sungmin justru kembali tertawa. "lagipula aku sedang memfokuskan diri pada Jongie. Tahun ini memasuki ajaran baru dan penerimaan siswa, Jongie akan masuk sekolah." Jelasnya.
"Ah, jinjja!" seru Sungmin spontan, dan sedikit membuat Ryeowook bernafas lega karena Sungmin melupakan bahan pembicaraan mereka yang tadi dan berhenti menggodanya. "Aku sampai lupa, Jongie sekarang sudah berumur 4 tahun, kan?"
"Hahh… ne, hyung." sesaat Ryeowook menghela nafas, "Pasti akan sangat melelahkan untukku. Minggu depan ia akan kudaftarkan di taman kanak-kanak yang berada di dekat salah satu cabang cafeku."
.
.
"Kenapa mendadak sekali, sih?" keluh Yesung. Saat ini Ryeowook datang ke kantornya, meminta waktunya untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tentang Jongie.
"Aku 'kan bilang pendaftarannya minggu depan, apanya yang mendadak?" kata Ryeowook tak habis pikir. Masih ada waktu beberapa hari, apa pekerjaan Yesung benar-benar membuat sibuk sampai meluangkan waktu untuk anaknya bahkan hanya untuk sehari pun tak bisa?
Yesung sedikit melonggarkan dasinya, kemudian mendiamkan Ryeowook karena kini ia menghubungi seseorang dari telepon yang berada di mejanya. Yang Ryeowook tahu sekarang Yesung sedang berbicara dengan sekertarisnya. Yesung sedang mengecek jadwalnya, apakah minggu depan ia akan sibuk seperti biasa atau tidak.
"Tidak bisa, minggu depan aku kedatangan seorang client penting. Sudah lama aku menginginkan untuk bekerja sama dengannya." Kata Yesung, kemudian menaruh kembali gagang telepon di tempatnya.
Ryeowook berdecih, "Sepenting itukah? Bahkan kau tak bisa meluangkan waktumu sedikit saja untuk anakmu? Bahkan dihari terpenting dalam hidupnya?" Ryeowook menatap tajam pria yang kini justru seolah membuang muka.
"Aku bekerja pun untuk kepentingan Jongie, kan? Untuk biaya hidup Jongie, kan? Kenapa kau tidak bisa mengerti?"
"Kau yang tidak bisa mengerti! Urusi saja pekerjaanmu, dan untuk biaya hidup jangan pikir aku tak mampu! Aku bisa membiayai Jongie tanpa bantuanmu, aku pergi!" Ryeowook bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan Yesung yang kini hanya bisa mendengus kesal.
"Ya! Terserah apa katamu saja!"
.
.
Hari ini adalah hari pertama Jongie sekolah, dan duplikat Yesung itu ternyata cepat sekali akrab dengan orang-orang asing yang baru saja ditemuinya. Mudah bergaul, satu tipe dengan Ryeowook, dan jelas jauh berbeda dengan Yesung.
Ryeowook tersenyum jika mengingat kembali bagaimana hari pertama Jongie masuk sekolah. Bocah laki-laki itu bilang bahwa ia merasa gugup, dan Ryeowook tak habis pikir anak sekecil Jongie dapat merasakan hal seperti itu.
Ryeowook juga sempat memekik kecil di malam hari, saat mereka 'bahu membahu' menyiapkan apa saja yang akan Jongie pakai ke sekolah. Jongie, dengan polosnya memasukkan beberapa mainan ke dalam tas sekolah bergambar monster miliknya. Mulai dari mobil-mobilan, robot tentara, hingga PSP pun ikut dimasukkannya. Tentu saja membuat Ryeowook pusing sendiri, kenapa putranya ini berpikir sekolah sama dengan bertamasya?
Dan Ryeowook sempat dibuat gelagapan saat Jongie berkata- "Umma, appa dimana? Sunkyu pergi bersama appa dan ummanya, kenapa aku tidak?"tanyanya, saat Jongie melihat tetangga sebelahnya, yang juga berumur sama dengannya dan akan mendaftar di sekolah yang sama keluar rumah. Menyapanya dengan kedua tangan yang menggandeng erat masing-masing tangan orang tuanya.
Dan jika Ryeowook ingin tahu, Jongie cemburu berat saat melihat pemandangan seperti itu. Ia juga ingin merasakan hal yang sama. Dan Ryeowook lagi-lagi hanya bisa beralasan bahwa Yesung sibuk, sebuah alasan pamungkas yang sering Jongie dengar hingga ia merasa bosan sendiri. Dan berakhirlah bibir Jongie yang mengerucut di sepanjang perjalanan mereka menuju sekolah, ia marah.
Tapi Ryeowook akhirnya dapat bernafas lega, karena saat pertama kali ia membuka pintu mobil dan menyuruh Jongie keluar, putra kecilnya itu seolah lupa bahwa ia sedang kesal. Karena setelahnya, kedua mata sipitnya langsung berbinar saat melihat sebuah bangunan yang tak terlalu besar dengan dekorasi tembok berwarna-warni dan tempelan bunga dimana-mana menyambutnya. Ditambah sebuah taman bermain kecil-kecilan juga ada disana. Jongie senang.
"Belajar dulu, baru boleh bermain." Nasihat Ryeowook saat putranya itu menarik paksa tangannya dan membawanya menuju salah satu arena permainan disana. Dan Jongie hanya bisa mengangguk pasrah dan menuruti perkataan ibunya. Karena seorang jagoan tak akan pernah berani membantah apa yang dikatakan oleh orang tuanya, begitulah yang Jongie ingat dari kata-kata yang pernah Yesung ucapkan saat anak kecil itu merengek meminta dibelikan gulali namun Ryeowook tidak memberikannya karena saat itu ia sedang terkena radang ternggorokan.
Jongie yang memang memiliki sifat cerewet, dengan mudah dapat menarik perhatian beberapa teman barunya karena suara nyaringnya yang terdengar jelas saat bocah itu memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri. Tidak gugup seperti apa yang ia katakan pada Ryeowook sebelumnya. Bahkan, setelah Jongie selesai memperkenalkan diri, beberapa orang tua yang melihat Jongie pun sampai mencubiti pipi bulatnya saking gemas melihat tingkahnya.
Dan yang paling Ryeowook ingat, beberapa gadis-gadis cilik terlihat merona saat melihat Jongie memperkenalkan diri. Membuat Ryeowook tersenyum geli menyadari 'kembaran Yesung' ini mudah sekali mencuri hati teman-teman perempuannya.
Jongie melambaikan tangannya riang, dan Ryeowook yang melihatnya dari arah kaca jendela kelasnya pun melakukan hal yang sama. "Semangat!" seru Ryeowook, mengepalkan tangan dan menunjukan pada putra kecilnya yang kini sibuk berkutat dengan buku gambar dan crayon di tangannya.
Di hari pertama masuk sekolah, guru memberi tugas pada murid taman kanak-kanak itu untuk menggambar bebas. Sebagai tahap awal dan pemanasan sebelum mereka mulai belajar serius besok. Semua menurut dan mulai mengeluarkan peralatan 'tempurnya', tak terkecuali Jongie.
Jongie kembali sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan terlalu sibuk hingga membuat seorang bocah lelaki disampingnya, yang ia bilang seperti nanas karena warna rambutnya berwarna kuning, penasaran dan kini memperhatikannya dengan seksama.
"Yey, selesai!" seru Jongie, kemudian menaruh asal crayonnya. Dan melirik Ryeowook yang kini sedang mengobrol dengan orang tua murid lainnya, sebelum ia mengelap tangannya yang penuh dengan coretan crayon ke seragamnya. Harus diam-diam jika tak ingin kena marah karena ketahuan ibunya. Jagoan yang bertranformasi menjadi anak nakal untuk saat ini.
"Kau menggambar apa, Jongie?" tanya Key, temannya tadi sambil melirik Jongie yang kini memperhatikan hasil karyanya dengan serius.
"Keluargaku. Bagus, kan?" pamernya, bangga dengan hasil coretan tangannya. Sedangkan Key justru terlihat bingung saat melihatnya. Di kertas berukuran persegi panjang itu terlihat tiga gambar lingkaran, dengan ukuran yang berbeda-beda. Dan masing-masing lingkaran itu memiliki garis panjang yang Jongie anggap lurus, dan ia tak menerima protes jika Key menilai itu lebih terlihat seperti mie. Dan lagi, masing-masing garis (yang Jongie tetap anggap lurus) itu memiliki cabang, yang Key pikir awalnya adalah akar pohon, sebelum Jongie menjelaskan bahwa itu adalah tangan dan kakinya.
Tapi jika dilihat dari jauh dan jarak minimal tiga meter, terlihat seperti gambar tiga orang, sih. Hanya saja tak memakai baju dan berbadan lurus.
"Ini appaku, ini ummaku," tunjuk Jongie dengan ujung telunjuknya yang bahkan dua kali lipat lebih kecil dari ukuran crayon yang baru saja dipakainya. Coba saja jari itu tidak menurun dari Yesung, mungkin tak akan sekecil itu ukurannya. "Dan yang ditengah ini adalah aku." Ucapnya, kemudian tersenyum lebar setelah selesai menjelaskan.
"Kenapa tidak mirip?" bingung Key, yang kini membandingkan gambar yang menurut Jongie adalah dirinya, dengan wajah si pembuat. "Kenapa matanya bulat besar, matamu kan sipit?" cetus Key, seketika membuat Jongie meraba bagian matanya. Dan mendesis saat menyadari perkataan Key itu memang benar.
"Lihat itu, kenapa kepala appamu besar sekali?" Key kembali mengoreksi, sampai bibirnya maju beberapa centi saking seriusnya mengomentari. Menurut Key, dibanding kepala, lingkaran yang Jongie sebut adalah kepala ayahnya itu lebih terlihat seperti balon.
"Ish, kepala appaku memang besar, tahu!" pekik Jongie tak mau kalah karena karyanya yang dibuatnya dengan susah payah dikomentari oleh Key begitu saja.
"Ini, rambut ummamu lebih mirip dengan rambut ummaku! Ah, kau meniru, ya?" tuduh Key dengan mata yang kini memicing, dan menunjuk-nunjuk wajah Jongie seenaknya.
"Tidak! Ini gambar ummaku! Bukan ummamu!" Jongie sedikit menggeser buku gambarnya, tidak terima saat ibunya disebut meniru ibunya Key. Padahal rambut yang Jongie gambar hanyalah terbuat dari garis-garis asal yang Jongie gambar dan terlihat begitu menakjubkan menurut si pembuat, tapi kenapa sampai dipermasalahkan seperti ini? Hah, anak kecil.
"Lihat! Itu ummaku, rambutnya miripkan dengan gambarmu itu?" Key menunjuk seseorang yang berdiri di depan pintu kelas, seorang namja berwajah manis yang kini sedang mengobrol bersama namja lainnya yang ternyata suaminya, ayah Key. "Itu rambut ummaku, tahu!" kekeuhnya, dan Jongie yang memperhatikan itu mau tak mau memperhatikan namja yang Key sebut dengan sebutan umma.
Sedikit mirip sih, hanya saja pria itu tidak berponi, berbeda dengan Ryeowook. "Tapi ummaku juga sama memiliki rambut seperti ini!" kali ini Jongie yang memperlihatkan Key pada ibunya. "Mirip, kan?"
"Ah, ini juga seperti sepatu ayahku! Kau menirunya, ya?" tuduh Key, lagi. Mengalihkan pembicaraan dibanding ia harus mengiyakan ucapan Jongie. Entah apa yang dipikirkannya, tapi ia tetap yakin gambar berbentuk lonjong tidak sempurna yang Jongie buat dan diwarnai dengan warna hitam yang terlihat berantakan itu adalah sepatu ayahnya.
"T-tidak!"
"Mengaku! Lihat sepatu yang dipakai appaku itu. Aku benar, kan?" katanya, kembali menunjuk ayahnya dan membuat Jongie melihatnya.
"Tapi ini sepatu appaku!"
"Mana appamu? Aku ingin lihat." Kali ini Key menantang. Bagi orang dewasa, melihat dua anak kecil ini berdebat adalah sebuat tontonan lucu yang menggemaskan, ditambah ekspressi mereka yang benar-benar membuat siapapun yang melihatnya ingin sekali mencubitnya. Tapi bagi Jongie dan Key, ini adalah hal yang sangat-amat-serius untuk diperdebatkan. Jangan sampai kalah!
Dan saat Key berkata seperti itu, seketika ekspressi Jongie berubah. Jangankan untuk melihat sepatunya, melihat orangnya pun ia tak bisa. Membuatnya kembali teringat pada gadis cilik yang menjadi tetangga sebelahnya itu, saat ia cemburu melihat Sunkyu bisa pergi ke sekolah bersama kedua orang tuanya, sama seperti Key.
"Appaku tidak ada." Lirihnya, namun masih bisa terdengar oleh Key.
"Kok tidak ada, sih? Jongie tidak punya appa?" tanya Key dengan polosnya, ia mana tahu tentang persoalan pelik orang dewasa. Ia hanya berbicara apa yang ada di pikirannya.
"Appaku ada, kok!" jawab Jongie cepat. "Appa sering hilang, tapi jika aku meneleponnya pasti tiba-tiba sudah ada di rumah." Jelas Jongie tak kalah polos.
"Tapi kenapa appaku tidak pernah hilang? Dia selalu ada di rumah tanpa harus aku meneleponnya, Jongie." Kata Key lagi, dan sejak itu Jongie hanya bisa menutup mulut.
Benar juga. Kenapa ia tidak seperti Key? Kenapa appanya selalu menghilang dan muncul secara tiba-tiba? Apa ia anak yang nakal sampai membuat appanya itu tidak betah di rumah? Tapi appanya itu sering berkata bahwa ia adalah seorang jagoan, jadi ia bukan anak nakal. Tapi- hah, Jongie jadi bingung sendiri.
"Kau marah ya, Jongie? Kenapa cemberut?" tanya Key, kemudian menggeser duduknya agar dapat lebih berdekatan dengan Jongie, ia takut jika teman barunya itu marah. Beruntungnya ia sudah menyelesaikan tugas gambarnya lebih cepat dari Jongie. Menggambar dua buah gunung, gampang saja.
"Tidak, kok." Jongie menggelengkan pelan kepalanya, walau raut sedih masih terlihat di wajahnya. "Umm… Key, kau mau tahu kenapa appaku sering menghilang?" tanya Jongie, dan disambut anggukan antusias dari Key.
"Karena appaku adalah seorang superman! Dia sering menghilang tiba-tiba untuk menolong orang-orang yang kesusahan, dia seorang pahlawan!" jelasnya dengan wajah yang terlihat yakin. Dan siapa sangka, penjelasan Jongie tadi membuat Key menatap kagum padanya. Dengan mulut yang membulat dan mata yang terlihat berbinar.
"Waaaah! Kau beruntung sekali, Jongie!"
Dan lagi, Jongie tersenyum dengan bangganya, bahkan kali ini menepuk-nepuk dadanya seperti gaya para pahlawan pembela kejahatan yang sering dilihatnya di televisi.
"Tentu, aku memiliki appa dan umma yang hebat!"
.
.
[A/N]
Publishhhhhhh. Dan disini saya benar-benar berharap kalian mereview, mengomentari, meninggalkan jejak, atau apapun itu sebutan lainnya. Akhir-akhir ini jam publish saya semakin ngaret. Saya lesu sih. Silent readers bertebaran, padahal saya buat cerita ini kan untuk kalian juga. Ayolah, sedikit menghargai karya saya;) Saya pun menghargai segala bentuk komentar, tapi tidak untuk bash chara.
Saya mau menjelaskan soal Yesung dan Luna, berhubung Ryeo ryeo ryeong memang menanyakan hal itu. Jadi YeLun (saya sedikit males sebenernya nyatuin nama mereka) ini udah mulai berhubungan waktu Yesung masih terikat pernikahan sama Ryeowook. Tapi maksud Yesung disini tuh simpati aja sama Luna yang sakit, tapi Luna malah salah mengartikan dan malah lovey dovey gitu kkk. Dan Luna tahu kalo Yesung udah punya Ryeowook, tapi ia tetep mengedepankan egoisnya buat dapetin Yesung, berhubung dia juga tau Yesung nikahin Wookie terpaksa aja. Dan akhirnya setelah selang setaun cerai bareng Wookie, Yesung pun nikahin Luna hehehe. Ngerti kan?
Ah, ya, saya dapet pertanyaan lagi. Soal pemakaian kancing, terimakasih ya Mutsuchi udah ngoreksi sampai sedetail itu xD saya sampai mraktekin di rumah ._. sebnernya saya sendiri kalo ngancingin baju dari atas atau bawah hahahaha xD
BIG THANKS to: yws | yunip | Light Antares | whisperer | LiyahELF | kim jongkie | Love Clouds | ichigo song | melochoco| AmuHinaChan | Yewook Turtle | Kim Sooyeon | bang3424 | choi Ryeosomnia | Guest | R'Rin4869 | ririn chubby | giietha1212| RianaClouds | raerimchoi | Phylindan| eunsoopark58 | Han Rae Soo | Guest2 | fieeloving13 | sycarp | 10rh| YuliaYWS | Evil Roommate | etrenalclouds2421| nanissaa | YumeeWook |Guest | kim eun woon | | melochoco | Mutsuchi | Guest3 | ryeo ryeo ryeong | TabiWook
Oke segitu aja cuap-cuapnya. Mohon maaf atas penulisan kata karena saya ngetik kilat berhubung udah jam 1 pagi. Sayonara dan samapi berjumpa lagi!
"Ayo lestarikan Fanfic YEWOOK yang mulai langka! Hwaiting~!"
