My Little Family © Choi RinRi
Main Cast : [Kim Jongwoon & Kim Ryeowook]
YeWook couple, always.
Rated : T
Disclaimer : Super Junior is belongs to God.
Genre : Romance, Family, & Hurt/Comfort.
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, M-Preg.
.
.
[Chapter 4]
.
.
Setelah memastikan bahwa Jongie tidak berulah di dalam kelas, Ryeowook memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang terdapat di depan kelas. Ternyata Jongie memiliki banyak teman, padahal ini baru hari pertama ia masuk sekolah. Mengetahui itu membuat Ryeowook bernafas lega dan tersenyum.
Sepertinya Ryeowook tidak salah memasukan Jongie ke taman kanak-kanak ini. Metode belajarnya sangat menarik dan mudah untuk diterima anak-anak yang sedang mencoba untuk belajar, mencari wawasan baru dengan bersosialisasi dengan anak seusia mereka. Dan dari sini juga Ryeowook dapat mengenal orang lebih banyak, mereka semua sangat ramah.
"Hari pertama sekolah," seseorang berbicara, Ryeowook menoleh ke samping dan mendapati seorang namja kini duduk di sampingnya. "rasanya baru kemarin aku melihat anakku lahir dan menangis keras. Waktu memang tidak terasa." Lanjutnya. Pandangannya mengadah menatap, rindangnya daun pohon yang terdapat di depan kelas.
"Donghae, namaku Lee Donghae," namja itu kini menoleh pada Ryeowook, tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. Sebenarnya Ryeowook masih bingung, tiba-tiba ada seseorang disampingnya, mengajaknya berbicara, dan kini memperkenalkan diri padanya.
"Kim Ryeowook," Tapi akhirnya Ryeowook membalas uluran tangan namja asing itu. Tersenyum dan ikut menyebutkan namanya. "hm, hanya sendiri?" tanya Ryeowook, ia tak mendapati orang lain yang bersama namja ini, yang ia pikir mungkin saja ia datang bersama istrinya. Seperti kebanyakan orang tua murid lainnya, tapi tidak seperti dirinya.
"Ya, seperti yang kau lihat." Namja itu kembali memperlihatkan senyum terbaiknya, dan dari situ Ryeowook dapat menilai sepertinya namja ini adalah orang yang ramah.
"Istri anda.. ah, maksudku Donghae ssi-"
"Sudah meninggal, 4 tahun yang lalu," Ujarnya. Ia menjelaskan dengan raut wajah yang terlihat tenang. "tepat saat ia melahirkan anak kami."
Ryeowook tersenyum kaku mendengarkannya. Maksudnya baik, ia hanya ingin berkenalan juga dengan istri namja ini. Tapi kalau sudah seperti ini, ia jadi tak enak hati. "Ah, begitu.. maaf ya, aku jadi tidak enak." Cicitnya, kemudian menunduk dan memilih memandangi ujung sepatunya.
Tapi namja bernama Donghae itu justru hanya terkekeh pelan menanggapinya. "Sudahlah, tidak apa-apa. Aku bukan anak muda lagi yang gemar berlarut-larut dalam kesedihan." Donghae menepuk-nepuk pundak kecil Ryeowook, dan Ryeowook hanya tertegun menerima perlakuan seperti itu.
Walaupun menurutnya Donghae terlihat sok akrab, tapi sepertinya Donghae adalah orang yang menyenangkan. Wajahnya yang ceria dan bahkan masih terkesan muda, sebelum akhirnya Ryeowook tahu bahwa Donghae 1 tahun lebih tua darinya dan menyuruh untuk memanggilnya dengan sebutan 'hyung' saja. Dan Ryeowook baru tahu ternyata masih ada orang lain yang menikah di usia muda sepertinya. Hanya saja orang disampingnya ini menikah berlandaskan cinta, bukan keterpaksaan seperti dirinya.
"Anakmu sepertinya sangat cepat akrab, ya?" tanya Donghae, kemudian memperhatikan Jongie dari balik kaca yang tinggi pembatasnya hanya setinggi pundaknya. "Tidak seperti Hyukjae, dia memang sedikit pemalu." Katanya, dan tertawa pelan saat melihat putranya yang terlihat serius memperhatikan penjelasan guru.
"Eh? Hyung tahu dari mana itu putraku?" bingung Ryeowook. Kemudian ikut memperhatikan Jongie yang saat ini memperhatikan penjelasan guru, namun sedetik kemudian anak itu akan terkikik geli bersama teman disampingnya- entah menertawakan apa, dan selanjutnya ia akan kembali memperhatikan penjelasan guru. Terus seperti itu.
"Sedari tadi kau hanya memperhatikannya, Ryeowook." Jelasnya, membuat Ryeowook tertawa kecil mendengarnya. Memang benar, sejak awal datang ke kelas Ryeowook tak pernah lepas pengawasan. Walau sesekali ia mengobrol dengan beberapa orang tua murid, tapi ia akan terus memperhatikan gerak-gerik putra semata wayangnya itu. Darah AB yang mengalir di darah putranya itu membuatnya sedikit khawatir jika sifat aneh Yesung bisa menurun, siapa yang tahu jika Jongie tiba-tiba bertingkah di luar dugaan.
Setelahnya keduanya pun mulai larut dalam obrolan yang ringan. Tidak jauh saling bertukar cerita tentang putra mereka masing-masing. Atau terkadang menyinggung pembicaraan pribadi walau tak jauh lebih dalam.
"Oh, ya, kau juga hanya datang sendiri? Tidak besama suamimu?" tanya Donghae disela pembicaraan mereka. Saat itu Ryeowook sedang tertawa mendengar cerita Donghae tentang tingkah lucu Hyukjae. Tapi saat mendengar Donghae menyebut kata suami, raut wajahnya perlahan berubah dan detik itu juga ia berhenti tertawa.
"Suami? Aku sudah bercerai, hyung." jelasnya, dan saat ini Ryeowook mencoba tersenyum. Kali ini Donghae yang merasa tak enak hati. ia jadi mengerti kenapa Ryeowook merasa tak enak hati setelah menanyakan dimana istrinya, ternyata memang tidak menyenangkan karena ia sendiri merasakannya.
"Ah," Donghae hanya bisa mengusap tengkuknya dan menatap ragu pada Ryeowook.
"Santai saja, hyung!" Ryeowook tersenyum jahil, kemudian menyenggol lengan namja Donghae. Dan keduanya kembali tertawa.
"Ternyata nasib kita tidak jauh berbeda." Dan entah untuk keberapa kalinya, Ryeowook tertawa mendengarnya. Untuk hari ini, Ryeowook bisa tertawa lepas, tanpa beban, seperti seorang anak kecil. Setelah sekian lamanya, Ryeowook baru tahu bahwa tertawa itu benar-benar menyenangkan. Sudah lama ia tidak tertawa lepas seperti ini, dan ia kembali merasakannya hanya karena namja yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu.
Tal lama bel berbunyi tanda jam pelajaran sudah berakhir, murid-murid taman kanak-kanak pun mulai berhamburan keluar kelas.
"Ummaaaa!" Jongie berlari dengan riang menghampirinya, begitu pula anak-anak lainnya yang menghampiri orang tua mereka masing-masing dengan tak kalah riang.
Ryeowook membungkukan tubuhnya dan memeluk Jongie. Donghae yang melihat itu tersenyum kecil kemudian bangkit dari duduknya dan mencari Hyukjae. Tak lama, senyumnya mengembang saat melihat putranya berlari kecil ke arahnya.
"Appa!" serunya, dan Hyukjae terlihat tertawa saat melihat ayahnya itu berjongkok di hadapannya dan merentangkan kedua tangannya, memintanya untuk datang memeluknya. Tanpa menunggu lama Hyukjae pun menerjang tubuh ayahnya dan memeluknya erat.
"Itu putramu, hyung? Manis sekali," puji Ryeowook, kemudian sejenak melupakan Jongie dan berjalan mendekati sepasang ayah dan anak itu. Ia bisa melihat rona merah kini menghiasi kedua pipi Hyukjae.
Donghae terkekeh mendengarkannya, "Ya, perkenalkan dirimu, sayang." Donghae berdiri, membiarkan Hyukjae yang berada di sampingnya maju satu langkah, dan dia membungkukan tubuhnya.
"Annyeonghaseo, ahjumma. Lee Hyukjae imnida." Hyukjae memperkenalkan diri, dan Ryeowook yang mendengarnya hanya tersenyum geli.
"Hyukjae! Ummaku ini namja, tahu!" Jongie mengerucutkan bibirnya, tidak terima ibunya dipanggil dengan sebutan ahjumma.
Hyukjae yang mendengar itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ekspressinya terlihat sangat polos dan bingung. Hyukjae menarik-narik celana ayahnya, lalu bergumam sesuatu yang masih dapat didengar oleh Ryeowook. Dan Ryeowook tersenyum malu dengan wajah merona saat mendengar Hyukjae bergumam bahwa ia memiliki wajah yang cantik. Jadi awalnya Hyukjae mengira Ryeowook adalah seorang yeoja berpenampilan namja.
"Tapi ibunya Jongie ini seorang namja, sayang." Donghae mengacak rambut blonde milik Hyukjae, gemas dengan kepolosan anaknya ini. Hyukjae menganggukan kepalanya dan membulatkan mulutnya mendengar penuturan ayahnya tersebut.
"Hyukjae ah, Kim Ryeowook imnida," kali ini Ryeowook membungkukan tubuhnya, "aku ummanya Jongie, dan aku tidak keberatan jika kau ingin memanggilku dengan sebutan ahjumma." Katanya sambil tersenyum manis. Dan bagi Hyukjae, Ryeowook semakin terlihat cantik saat tersenyum seperti itu.
"Bangapta, ahjumma."
Setelah Ryeowook dan Hyukjae saling berkenalan, Donghae pun melakukan hal sama. Ia memperkenalkan dirinya pada Jongie, dan dengan cepat Jongie memanggilnya dengan sebutan Nemo ahjussi. Entah apa yang dipikirkan bocah berusia 4 tahun itu. Tapi kata Jongie, melihat Donghae membuatnya mengingat salah satu tokoh kartun favoritnya itu. Membuat Donghae berpikir apakah wajahnya terlihat seperti ikan atau tidak.
"Ryeowook ah, apa setelah ini kau ada acara?" tanya Donghae sambil menyampirkan tas Hyukjae di pundaknya, mereka pun berjalan beriringan di koridor menuju gerbang sekolah. "Hari ini aku akan pergi makan siang, mungkin di café yang berada di ujung jalan, apa kau berminat untuk ikut pergi bersama kami?" tawa Donghae.
"Ne, ikut bersama kami." Hyukjae ikut mengajaknya. Donghae mengusap lembut surai milik putranya itu. Hyukjae jarang sekali dapat akrab dengan orang yang baru dikenalnya secara cepat, tapi melihat antusiasnya untuk mengajak Ryeowook ikut serta dalam acara makan siang mereka, sepertinya Hyukjaenya yang pemalu untuk saat ini tidak berlaku. Dan Donghae tentu saja senang dengan perubahan anaknya itu.
"Apa disana ada ice cream, hyukjae ah?" tanya Jongie sambil menatap Hyukjae ke bawah, karena saat ini ia tidak berjalan seperti Hyukjae, anak manja sepertinya lebih memilih meminta gendong.
Hyukjae membulatkan kedua matanya lucu dan mengangguk semangat. "Ne! Aku pernah makan ice cream yang supeeeeeeeeer besar!" ucapnya riang, membuat Jongie ikut menatapnya dengan berbinar. Membuatnya membayangkan ice cream dengan porsi jumbo berada di hadapannya.
"Umma! Umma! Ayo kita ikut makan siang bersama Nemo ahjussi!" Jongie mengguncang pundak Ryeowook, kemudian diam saat melihat Ryeowook terlihat berpikir. Dan selang beberapa detik Jongie langsung bersorak riang saat Ryeowook mengiyakan ajakan teman barunya itu. Donghae dan Hyukjae yang mendengarnya jadi ikut senang.
"Tapi aku membawa mobil, hyung." ujar Ryeowook saat mereka kini berada di dekat gerbang sekolah. Ia berpikir mereka akan makan bersama, jadi berangkat pun harus bersama. Tapi jika ia dan Donghae sama-sama membawa kendaraan, bagaimana jadinya? Atau mungkin berangkat secara terpisah?
"Tidak, tidak, kita berjalan kaki juga bisa cepat sampai kok. Cafenya sangat dekat dari sekolah." Donghae memberi isyarat agar Ryeowook mengikutinya, "kalau mobil titipkan saja di sekolah, aku juga membawa mobil, dan kurasa tidak masalah jika kita menitipkannya sebentar disini." Ujar Donghae. Dan menurut Ryeowook itu memang saran yang bagus.
"Nah, itu cafenya." Tunjuk Donghae, "dari sini saja sudah terlihat, hanya berjarak beberapa meter. Jadi tidak masalah jika kita menempuh perjalanan dengan berjalan kaki."
Saat Ryeowook melihat café yang ditunjukan Donghae dan mendengar penjelasannya, Ryeowook tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Itu café milikku, hyung." ujar Ryeowook, tertawa geli saat melihat Donghae yang terkejut.
"Eh? Benarkah?" Donghae bertanya lagi, Ryeowook pun menganggukan kepalanya dengan mantap. "Ah, bagus kalau begitu, ini tandanya akan ada makan gratis." Donghae tersenyum jahil.
Ryeowook kembali tertawa karena Donghae yang menggodanya. "Dasar!" Ryeowook meninju pelan lengannya. Kemudian mereka pun kembali berjalan menyusuri trotoar menuju café Ryeowook yang berada di ujung jalan dari arah sekolah. Keduanya pun kembali larut dalam perbincangan ringan sampai hal-hal konyol yang membuat mereka tertawa geli. Dan siapa sangka, keduanya dapat terlihat akrab bahkan belum ada satu hari pun mereka saling mengenal.
Dan bagi Ryeowook, ternyata Donghae benar-benar orang yang sangat menyenangkan.
.
.
Yesung baru saja menyelesaikan pertemuan pentingnya bersama client barunya. Semua berjalan dengan lancar walau Yesung akui saat perbincangan pertama ia sedikit gugup. Tapi sikap tenangnya dapat membuatnya terlihat biasa dan membuat client dari luar Korea itu tersenyum puas dan sepakat untuk melakukan kontrak kerja dengannya.
Walaupun hari ini ia mendapat pencapaian yang cukup memuaskan dalam karirnya, tidak juga dapat membuatnya bersenang hati. Masih ada satu hal yang menganggu pikirannya, membuatnya tidak tenang, dan ini tentang Jongie.
Hari ini adalah hari pertama putranya lebih mengenal dunia luar, yaitu sekolah. Tapi sebagai seorang ayah yang baik, ia justru tidak hadir di saat terpenting itu. Jujur saja, ia ingin sekali menemani Jongie hari ini. Tapi jika mengingat bagaimana kesalnya Ryeowook saat datang ke kantornya seminggu yang lalu, egonya kembali muncul dan membuatnya bersikap seolah masa modoh. Gengsinya tinggi, ia tidak pernah mau menunjukan rasa bersalahnya di depan orang, terutama di depan namja bernama Kim Ryeowook itu.
Beberapa kali Yesung menghela nafas, menyamankan tubuhnya dengan bersandar di kursi kerjanya. Tapi tetap tidak bisa membuatnya tenang.
"Ya, masuk," Ujar Yesung saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk. Pintu pun terbuka dan seorang yeoja masuk keruangannya, sekertarisnya. "ada apa?" tanya Yesung saat sekertarisnya itu sudah berdiri di hadapannya.
"Kim Sajangnim, paket pesanan anda sudah datang." Ucapnya sambil menaruh benda berbentuk persegi panjang berlapis kertas sampur berwarna coklat di atas meja Yesung. Yesung meraih benda tersebut, tersenyum puas karena ia tak perlu menunggu berhari-hari dan benda pesanannya pun sudah datang. Setelah menerimanya, Yesung mengizinkan sekertarisnya untuk keluar.
Ditatapnya lekat benda berbentuk persegi panjang di tangannya itu. Tadi pagi sebuah iklan menarik perhatiannya. Iklan yang menampilkan tentang mainan anak-anak, robot yang menurutnya cukup keren (satu pendapat dengan Jongie) keluaran terbaru, membuatnya teringat putranya yang hari ini akan sekolah. Dan saat itu juga perasaan bersalah kembali menghampirinya.
Dan sebagai permintaan maaf, ia ingin memberikan robot itu pada Jongie. Tanpa berpikir dua kali Yesung segera menghubungi nomor yang terdapat di iklan tersebut. Ia tak mau repot-repot datang ke toko mainan untuk membelikan Jongie benda kesukaannya itu. Ia ingin semua serba praktis, seperti saat ini. Membayangkan bagaimana reaksi Jongie saat melihat mainan pemberiannya ini saja sudah membuatnya tersenyum tidak jelas.
Yesung segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Menunggu beberapa saat agar panggilannya diangkat oleh Ryeowook. Dan saat panggilannya terangkat, Yesung tidak mendengar suara Ryeowook, hanya suara bising yang entah darimana asalnya. Mungkin Ryeowook masih marah, pikirnya.
"Aku hanya ingin bicara dengan Jongie." Sahutnya datar, dan tanpa menunggu lama Yesung mendengar suara Jongie. Sepertinya anak itu sedang makan, jika didengar dari cara ia berbicaranya yang sedikit kesusahan.
"Telan dulu makananmu, jagoan," Yesung tersenyum kecil saat Jongie justru tertawa karena ucapannya. Dan setelahnya ia bisa mendengar Jongie bisa berbicara lebih mudah.
"Bagaimana hari pertamamu sekolah, hm?" tanya Yesung. Bukannya menjawab, tapi Jongie justru mulai berbicara dengan nada yang terdengar kesal. Ia sedang 'memarahi' Yesung karena tidak ikut menemaninya masuk sekolah.
"Appa kan sudah bilang kalau appa sedang sibuk." jawabnya beralasan, walau memang benar seperti itu. Dan ia menghela nafas saat mendengar Jongie yang semakin kesal, bahkan suaranya terdengar bergetar, sepertinya putranya itu menangis. Semakin membuat rasa bersalahnya bertambah.
"Sekarang Jongie dan umma sedang dimana?" tanya Yesung, "Appa ingin bertemu kalian," jelas Yesung sambil memperhatikan paket berisi mainan untuk putranya itu.
"Donghae? Hyukjae?" gumam Yesung. Jongie berkata bahwa sekarang ia ada di café yang berada di dekat sekolahnya, dan Yesung tak perlu bertanya alamat rincinya karena ia tahu dimana itu. Tapi yang membuatnya bingung, dia bilang sekarang sedang bersama dengan Donghae dan Hyukjae. Membuat Yesung bertanya-tanya siapa mereka. Yesung hanya mengira-ngira bahwa itu adalah nama pegawai café milik Ryeowook, mengingat Jongie sangat dekat dengan banyak pegawai Ryeowook di café.
"Yasudah, tunggu sebentar, appa akan kesana."
.
.
"ini cabang café milikmu yang ke Sembilan? Wah, kau hebat, Ryeowok ah." ujar Donghae.
Ryeowook tersipu malu, wajahnya akan selalu memerah jika sudah dipuji orang lain. "Umm… begitulah, ini juga berkat ayahku. Café ini sebenarnya milik ayahku, aku hanya meneruskan usahanya." Jelasnya, membuat Donghae mengangguk paham. "Dan hyung sendiri, hyung berkerja di bidang apa?" tanya Ryeowook, menyesap jus jeruknya dan melirik Jongie yang kembali sibuk dengan ice creamnya setelah menerima telepon dari Yesung. Begitu pula Hyukjae yang asyik menyantap ice creamnya dan sesekali bercanda dengan Jongie.
Dan soal Jongie yang menerima telepon dari Yesung- ah, namja itu, ia jadi ingat bahwa namja itu akan datang kemari menurut pengaduan Jongie.
"Sama sepertimu, aku membuka usahaku sendiri," ucapnya setelah menyuap makan siangnya, "aku membuka bengkel mobil, tersebar di beberapa tempat di kota Seoul." Jelasnya. Ryeowook mengangguk-anggukan kepalanya. Ia bergurau dengan mengatakan jika mobilnya rusak, Donghae harus mau membenarkannya dan itu harus gratis.
"Appa!"
Donghae dan Ryeowook secara bersamaan menoleh pada Jongie, bocah laki-laki itu melambaikan tangannya. Ryeowook mengernyitkan dahinya. Ia tahu Jongie melambaikan tangannya pada Yesung yang sudah berada di cafenya- entah sejak kapan. Hanya saja, yang membuatnya bingung, kenapa Yesung berjalan menuju pintu café untuk keluar. Dibanding dengan orang yang baru saja datang mengunjungi cafenya, Yesung lebih terlihat seperti orang yang sudah mengunjungi cafenya.
Yesung, masih dengan pakaian kantornya, (yang awalnya ingin keluar tapi tidak jadi karena Jongie memanggilnya) terlihat menghampiri mereka. Yesung tersenyum tipis, bahkan bisa dibilang nyaris tak terlihat.
"Hm, halo jagoan," Yesung mengacak rambut putranya tersebut, kemudian mengecup keningnya. "aku hanya sebentar." Ujar Yesung, seakan menjawab tatapan tidak suka Ryeowook. Masa bodoh dan Ryeowook pun memilih memalingkan wajah.
"Appanya Jongie?" tanya Donghae pada Yesung yang terus saja berdiri di samping Jongie, terlihat enggan untuk bergabung. Donghae mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan dengan tersenyum kecil padanya "Ah, aku Lee Donghae, aku adalah-"
"Kim Jongwoon, tapi panggil saja aku Yesung." Potong Yesung cepat, kemudian menjabat tangan Donghae, tapi tidak untuk tersenyum balik. Donghae sedikit bergidik melihat aura namja yang bisa ia tebak adalah mantan suami teman barunya itu. Hanya untuk hitungan lima detik dan Yesung pun menarik cepat tangannya.
"Jangan marah lagi, appa menyayangimu," Yesung mengecup pucuk kepala Jongie, "appa pamit." Ucapnya, kemudian pergi begitu saja tanpa sedikit pun menoleh ke belakang untuk sekedar berbasa-basi pada mantan istrinya ataupun namja bernama Donghae itu. Sama sekali tidak.
Ryeowook diam-diam memperhatikan suaminya, meliriknya hingga namja itu benar-benar meninggalkan cafenya. Ia menghela nafas. Saat ia menoleh pada Jongie, Ryeowook tahu bahwa Jongie cukup kecewa karena ayahnya itu hanya menemuinya sebentar, bahkan kurang dari lima menit. Jongie masih memperhatikan Yesung, walaupun ayahnya itu sudah masuk ke dalam mobil. Sesekali Jongie menatap sendu kotak di tangannya, kemudian berganti menatap ayahnya yang kini sudah benar-benar tidak terlihat. Jongie terlihat sedih, dan Ryeowook mengusap pundaknya untuk menyemangatinya.
"Wah, appa membawa apa, ya?" tanya Ryeowook dengan nada yang dibuat seriang mungkin. Donghae yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya, ia tahu apa yang dirasakan Ryeowook sekarang. Karena tak ingin merusak suasana hati teman barunya itu dengan bertanya yang aneh-aneh, jadi ia lebih memilih diam dan melanjutkan makan siangnya.
Jongie menoleh pada ibunya yang memang duduk di sampingnya, "Umm.. tidak tahu." Jawab Jongie acuh, sepertinya anak itu sudah kehilangan semangatnya.
"Kotaknya besar, pasti isinya sesuatu yang sangat hebat!" Ryeowook tidak menyerah, ia terus mengajak Jongie mengobrol agar putranya itu kembali ceria. "Hm, kalau kau tidak mau.. buat umma saja, ya!" Ryeowook tersenyum jahil, kedua tangannya terulur ingin mengambil kotak tersebut, tapi dengan gesit Jongi memeluknya dan tidak membiarkan Ryeowook berhasil merebutnya.
"Ini untukku, umma!" Jongie mendelik (sok) seram, kemudian menjulurkan lidahnya dan Ryeowook justru tertawa. Setidaknya ia senang karena Jongie bisa sedikit melupakan rasa sedihnya.
"Nah, sekarang habiskan ice creamnya, sudah hampir melumer." Ryeowook mengusap rambut Jongie, dan putranya itu mengangguk patuh. Jongie kembali menikmati ice creamnya, dan terkadang dengan jahil mencolekan ice cream miliknya pada pipi Hyukjae yang membuat bocah manis itu memekik lucu. Kalau tidak diganggu, Hyukjae mana ingat kalau ia datang kesini tidak hanya sendiri. Anak itu memang akan lupa segalanya jika sudah bertemu ice cream.
"Hey, suamimu tampan juga," Setelah cukup lama terdiam dan memastikan suasana kembali nyaman seperti semula, Donghae kembali menggoda Ryeowook. "hanya saja dia terlihat menyeramkan." Candanya, mau tak mau Ryeowook yang mendengarnya tertawa juga. Memang benar, sih…
"Hyung baru melihatnya dari luar, belum tahu bagaimana aslinya." Kata Ryeowook menakut-nakuti.
"Aku jadi penasaran," Jawab Donghae. "dan jika dilihat dari manapun, Jongie dan mantan suamimu itu seperti anak kembar." Lanjutnya. Dan untuk yang ini, Ryeowook tidak bisa lagi menahan tawanya.
Donghae ssi… ada-ada saja ucapannya itu.
.
.
"Ummaaaa!" Jongie berlari dengan riang mendekati Ryeowook, memeluk kakinya dengan erat dan terkekeh tanpa dosa saat Ryeowook menasehatinya untuk tidak berteriak di dalam rumah. Penghuni disini hanya dua orang, tapi Jongie selalu berteriak ketika berbicara. Seolah terdapat puluhan orang yang menempati rumah ini dan diharuskan berbicara dengan suara yang keras agar terdengar.
"Jongie bantu!" kata Jongie saat melihat Ryeowook mendorong lemari kayu berukuran sedang ke dalam sebuah ruangan. Sebenarnya dorongannya sama sekali tak berpengaruh pada lemari, tetap saja lemari itu terdorong karena tenaga Ryeowook. Tapi ia terus melakukannya. Seorang jagoan tidak akan membiarkan ibunya kesusahan, begitu katanya.
Setelah pulang dari makan siang bersama Donghae dan Hyukjae, ia dan Jongie yang memang kelelahan langsung memutuskan untuk tidur siang. Dan saat mereka terbangun di sore hari, kemudian mandi bersama (yang memang sudah menjadi kebiasan mereka), dan mengisi perut dengan kue yang dibawanya dari café, Ryeowook langsung memutuskan sore ini ia akan membongkar ulang tatanan kamar tidurnya. Akhirnya sebuah ruangan yang berada di samping kamar tidurnya akan segera berpenghuni. Ruangan kosong yang bertranformasi menjadi ruangan bernuansa anak kecil berlapis cat biru, mulai sekarang akan menjadi kamar tidur Jongie.
Ryeowook pernah menyuruh Jongie untuk tidur sendirian, ia ingin anaknya terbiasa walau usianya masih sangat kecil. Tapi Jongie menolak, dengan alasan ia takut untuk tidur sendirian. Ia berkata jujur. Dan beberapa menit kemudian setelah mengatakan itu, ia langsung menangis dan mengadu pada Yesung karena Ryeowook mengejeknya seorang jagoan yang penakut. Karena tidak mau terus diejek Ryeowook, akhirnya Jongie mau tidur sendirian- dengan syarat jika ia sudah masuk sekolah.
"Hahh.. akhirnya selesai." Ryeowook membuang nafas lega. Tersenyum lebar dan menatap puas hasil kerjanya. Single bad dengan bad cover bergambar mobil, sebuah meja nakas dan satu set lampu tidur berada di sampingnya. Lantainya dilapisi oleh karpet biru bercorak garis-garis tak beraturan, tempat untuk putranya itu jika sudah 'menebar' koleksi mainannya dan asyik bermain dengan dunianya. Dua buah kotak berukuran super besar berada di pojok kamar ini, tempat semua mainan Jongie terkumpul. Kamar Jongie tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk ditempati sendiri.
"Aku lelah, ummaaaa!" rengek Jongie, merentangkan kedua tangannya dan memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Bersikap seakan ia benar-benar kelelahan. Padahal kerjaannya saja hanya merecoki Ryeowook, atau terkadang memilih menonton televisi jika Ryeowook mulai kesal karena terus diganggunya, dan membantu ibunya- itupun hanya mendorong lemari, pekerjaan terakhir Ryeowook.
"Ya! Kerjamu saja hanya mengganggu umma!"
Jongie mengerucutkan bibirnya, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam pada Ryeowook. "Sebagai gantinya aku mau dibelikan mobil truk (mainan) yang besar, umma!" serunya cepat. Membuat Ryeowook menggelengkan kepalanya dan memijat pelan keningnya karena pusing dengan kelakuan anaknya yang semakin hari semakin berulah itu. Seingatnya, saat mengandung Jongie ia tak pernah mengidam yang aneh-aneh- setidaknya hanya ingin perut besarnya diusap oleh Kyuhyun, suami Sungmin. Tapi kenapa anaknya jadi senakal ini?
"Tidak ada mobil truk!" seru Ryeowook tak mau kalah. Ia memilih membaringkan tubuhnya pada ranjang, dan tertawa cukup keras saat Jongie berteriak kesal padanya karena sudah membuat ranjangnya berantakan. Padahal yang membereskan ranjangnya saja Ryeowook. Jongie pun menghampiri ibunya, tidur disampingnya dan memeluk pinggangnya. Ia mulai lupa dengan permintaannya tadi.
"Umma, ranjangnya sempit sekali, sih!" protes Jongie, tubuh kecilnya tidak bisa bergerak bebas, tidak seperti saat ia tidur di ranjang Ryeowook. "Aku lebih suka tidur di kamar appa dan umma." Keluh Jongie. Ryeowook hanya tersenyum tipis mendengarnya, tidak menjawabnya walaupun tadi Jongie menyebut kamar tidurnya sebagai kamarnya dan Yesung.
"Di kamar ini hanya Jongie yang menempatinya, jadi tidak masalah kalau ranjangnya hanya cukup untuk satu orang." Jelas Ryeowook. Mengusap punggung anaknya yang sedikit berkeringat, sama sepertinya karena kelelahan, dan mengecup puncak kepalanya.
"Oh begitu," mulut kecilnya membulat, mengangguk mengerti dengan ucapan ibunya tadi. "pantas ranjang umma besar, supaya cukup untuk tidur dengan appa, ya?" tanya Jongie. Kedua mata sipitnya mengerjap, terlihat polos dengan dua manik hitam yang menatapnya. Saat itulah raut wajah Ryeowook sedikit berubah.
Dalam hitungan detik ruangan itu terasa hening. Ryeowook yang tak juga berbicara dan Jongie hanya menatap bingung ke arahnya. "Hm, umma lelah sekali.." Jongie cemberut, setelah menunggu cukup lama ternyata Ryeowook hanya berkata seperti itu. Dan yang lebih menyebalkan Ryeowook tidak menjawab pertanyaannya. Tapi Jongie memilih tidak banyak protes, terlebih tadi Ryeowook bilang bahwa ia kelelahan.
"Ah, ya, tadi kau sudah membuka kotak pemberiak appa? Bagaimana? Jongie suka?" tanya Ryeowook, sebenarnya lebih terdengar mengalihkan pembicaraan.
"Appa memberikanku robot yang benar-benar keren, umma! Woaaa, umma harus lihat!" Jongie dengan riang langsung turun dari ranjangnya dengan melompat, kemudian berlari keluar kamar dan menuju kamar tidur Ryeowook tempatnya tadi menaruh robot pemberian Yesung.
Akhirnya Ryeowook bisa menghela nafas lega saat Ryeowook mulai larus dalam bahan pembicaan barunya ini. Dan Ryeowook hanya bisa berharap, semoga kebiasaan Jongie untuk bertanya yang 'aneh-aneh' segera menghilang.
.
.
"Apa yang kau lakukan?" Yesung masuk ke dalam ruang kerjanya, menatap punggung istrinya yang sedang di sibukan dengan sesuatu.
"Ah, oppa," Luna menoleh ke belakang, tersenyum kecil kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. "aku sedang membereskan ruang kerja oppa. Disini banyak buku yang tidak teratur penataannya, jadi kukumpulkan saja supaya tidak berantakan."
Yesung hanya mengangguk, kemudian ikut duduk di sofa tepat disamping Luna. Istrinya itu dengan telaten merapikan satu persatu buku yang memang sudah tak pernah disentuhnya lagi, bahkan sampulnya saja sampai terlihat kusam karena jarang dirawat. Yesung saja tidak ingat dimana terakhir kali ia menyimpan buku-buku lamanya itu, tapi Luna dapat dengan mudah mengumpulkannya.
Ketelatenan seorang yeoja memang dapat membuatnya teliti bahkan untuk hal terkecil sekalipun. Ia jadi teringat Ryeowook, mantan istrinya itu adalah seorang namja tapi memiliki ketelatenan seperti yeoja.
"Jangan terlalu banyak beraktifitas, kau harus istirahat agar tidak lelah. Lupa dengan perkataan dokter?" Kata Yesung mengingatkan, "Lihat, banyak debu di bajumu." Lanjutnya, kemudian menepuk-nepuk pelan lengan Luna.
Luna hanya tersenyum mendengar ocehan Yesung yang mengkhawatirkan kesehatannya. "Aku bukan anak balita yang hanya ingin tidur di ranjang oppa, aku juga ingin beraktifitas. Lagipula aku tidak melakukan hal-hal yang berat." Jelasnya.
"Yasudah, terserah saja."
"Ini sudah tidak dibutuhkan lagi, kan?" tanya Luna sambil memperlihatkan beberapa lembar kertas yang sudah terlihat menguning karena termasuk berkas lama. Yesung menggelengkan kepalanya, Luna pun menumpukan lembaran kertas itu pada tumpukan buku yang akan ia bungkus dengan Koran dan menaruhnya menjadi satu ke dalam kardus yang sudah disiapkannya.
"Kalau yang ini?" tanya Luna. Dan Yesung kembali menggelengkan kepalanya. Luna bergumam kecil kemudian melakukan hal yang sama pada buku di tangannya seperti yang dilakukannya pada lembaran kertas tadi. Cukup banyak buku yang tergeletak di lantai, membuat Luna merasa pinggangnya sedikit pegal karena terlalu lama menunduk. Dan sekarang ia merasa pusing.
"Luna?!" Yesung terlihat panik saat Luna memegangi kepalanya, menutup matanya dengan erat dan yeoja berambut coklat itu terdengar meringis. Mencengkram pundak istrinya dan memperhatikan Luna yang terlihat lebih pucat, karena memang biasanya Luna terlihat pucat. "Sudah kukatakan untuk istirahat! Kau harus-"
"Aku baik-baik saja, oppa." Luna tersenyum tipis, menatap lembut Yesung mencoba meyakinkan pria disampingnya itu. Ia menjauhkan tangan Yesung dari pundaknya, dan ia mulai bersikap seperti biasa. Menjadi seorang yeoja yang terlihat sehat dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
Yesung kembali diam, ia tahu Luna sedang berbohong. Walau ia tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang memiliki penyakit Leukimia, tapi ia dapat melihat bahwa Luna tersiksa dengan kondisinya. Walaupun yeoja itu selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Uh, debunya," Luna menepuk-nepuk sebuah buku yang baru saja diambilnya, mencoba tidak mempedulikan Yesung yang masih memperhatikannya dengan tatapan introgasi. Ia memperhatikan buku itu, buku menurutnya lebih terlihat seperti album foto dan meniup debunya.
Awalnya ia sempat mengira itu adalah album foto pernikahannya dengan Yesung. Dan jika memang benar, menurutnya Yesung benar-benar menyebalkan karena tega menelantarkan foto hari terpenting dalam hidupnya. "Hm, ini apa, ya?" Luna menelisik album foto dengan cover berwarna coklat di tangannya. Seingatnya album fotonya tidak ada yang seperti ini, jadi album foto ini bukan album foto pernikahan mereka.
Walau Luna tidak bertanya langsung pada Yesung, tapi ucapannya tadi menarik perhatian Yesung. Terlebih album foto itu. Yesung memicingkan mata dan mencoba mengingatnya.
"Aku satukan dengan buku-buku yang tidak terpakai itu saja, ya?" Luna menoleh pada suaminya. Memperlihatkan benda tua berbentuk persegi panjang dengan ukuran sedang itu.
"Jangan," sekali lagi Yesung memperhatikan album foto itu, "biar kusimpan." Lanjutnya, kemudian mengambil album foto itu dari tangan Luna. Memangkunya dan ia berpikir mungkin lebih baik besok saja ia membukanya. Tapi rasa penasaran mengalahkan niatnya, dan ia pun membukanya. Baru halaman awal, sebuah tulisan menyambutnya.
"Our Journey- Astaga, Luna!"
Dan pingsannya Luna membuatnya melupakan album tersebut, melemparnya begitu saja kemudian memilih menggendong istrinya dengan panik. Menyambar kunci mobilnya dan dengan tergesa ia berlari menuju garasi mobil. Membawa Luna masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
.
.
TBC
.
.
[A/N]
Karena suatu hal, saya sedikit kehilangan mood saya untuk melanjutkan fanfi. Beberapa urusan di kehidupan pribadi membuat saya semakin sulit untuk mendapatkan kembali semangat saya. Dan ya, siders yang semakin merajalela pun menjadi pelengkap haha.
Awalnya saya tidak ingin mempublish dulu, tapi setelah saya cek PM dan review yang masuk, membuat saya sedikit berubah pikiran. Ingatkan saya, saya masih berhutang untuk melanjutkan Yours dan fanfic-fanfic request-an hahaha. Ternyata membuat fanfic rated M berchapter bukan hal yang mudah, terbukti saya sering mendapat kendala saat melanjutkan Yours *loh jadi curhat* Berhubung cuman fanfic ini yang sudah hampir selesai, jadi saya memutuskan untuk mempublishnya.
Saya tahu saya kurang ajar, saya tidak pernah membalas review kalian satu persatu. Tapi jujur saya selalu membaca review kalian dengan sangat-sangat-sangat teliti, saya menghargai semua review kalian. Jadi saya memutuskan untuk menjawab beberapa review kalian, tapi tidak semua. Saya menjawab yang saya rasa pertanyaannya mencakup semua petanyaan-pertanyaan yang ada di kotak review.
beneran cuma kasihan sama Luna? Terus kenapa Luna gak bisa punya anak? Kira-kira ada cast yang muncul buat ngedeketin Ryeowook dan ngebuat Yesung cemburu ga? (Giietha1212)
Jawab: Ya, Yesung bisa dibilang seperti itu. Sebenernya untuk mengandung Luna masih bisa, tapi itu bisa bikin keselamatan tubuh dia terancam. Luna memiliki sebuah penyakit, seperti yang sudah disebutkan di chapter 1 walau tidak dijelaskan terperinci. Ya, mungkin ini semacam karma untuk Yesung XD Dan untuk Cast, sudah terjawab di chapter ini hehehe.
2.Yesung sukanya sama Ryeowook, tapi kenapa terpaksa nikahin Ryeowook? (Guest)
Jawab: Seperti yang dijelaskan di chapter 1, Yesung belum siap buat berkeluarga. Dia masih status pelajar, belum punya pekerjaan, masalah orang tuanya yang cerai belum selesai, apalagi dia ngehamilinnya kan diluar kesadaran. Jadi kalau disuruh tanggung jawab dia gak mau, dan akhirnya tanggung jawabnya dengan terpaksa.
Luna mau dibikin jadi tokoh antagonis atau gimana? (R'Rin4869)
Jawab: Untuk karakter Luna sendiri disini memang sedikit membingungkan. Ada saatnya dia menjadi antagonis karena keegoisannya, ada saatnya dia menjadi orang yang seakan-akan bersifat protagonis. Mungkin bisa digolongkan Deuteragonis.
sedikit aneh menurutku kalau Ryeowooki hamil sewaktu sekolah dan dia temannya Sungmin. Berarti anaknya Sungmin harusnya lebih muda dari anak Wookie. Atau Sungmin itu kakak kelas Ryeowook yang bedanya lebih dari 2 tahun? (Kiminkaanggi)
Jawab: Hm, jadi begini eonnie, Ryeowook hamil selang beberapa minggu setelah di'itu'in Yesung. Dia hamil saat kelas 2 SMA. Disini Sungmin dibuat satu angkatan sama Ryeowook walaupun umurnya beda satu tahun, dan mereka teman sekelas. Dan untuk anaknya Sungmin, Cho Kyungsan memang lebih muda 2 tahun dari Jongie. Cho Kyungsan umurnya masih 2 tahun, seperti yang sudah aku sebutkan di chapter 3 hehehe.
, orang tua Yesung & Ryeowook kemana? Gak tau masalah anak mereka, ya? (Hana Ryeong9)
Jawab: Ada, mungkin di chapter-chapter awal belum dimunculin. Mereka gak tau masalah anak mereka, soalnya Yesung dan Ryeowook selalu menyembunyikannya dan bersikap baik-baik saja kalau di depan orang tuanya.
Saya mau menjelaskan umur:
Jongie lahir. Luna 16 tahun, Ryeowook 17 tahun, Yesung 19 tahun. (YeWook status pernikahan, YeLun pertama kali bertemu)
Jongie 1 tahun. Luna 17 tahun, Ryeowook 18 tahun, Yesung 20 tahun. (YeWook cerai, YeLun berpacaran)
Jongie 2 tahun. Luna 18 tahun, Ryeowook 19 tahun. Yesung 21 tahun. (YeLun berpacaran)
Jongie 3 tahun. Luna 19 tahun. Ryeowook 20 tahun. Yesung 22 tahun. (YeLun menikah)
Jongie 4 tahun. Luna 20 tahun. Ryeowook 21 tahun. Yesung 23 tahun.
Disini mereka-mereka nikah muda XD alasan YeWook menikah muda taulahh apaaa :3 nah kalau YeLun menikah muda karena Luna memakai alasan ia takut hidupnya tidak lama kkk, anggap saja seperti itu-_- jujur saya pusing tujuh keliling nentuin umur mereka. Maafkan kesalahan saya untuk penjelasan umur di chapter awal.
BIG THANKS to: Giietha1212 | leny | etwina | fieeloving13 | Kiki craft Whisperer | ryeo ryeo ryeong | Choi Ryeosomnia | saltybear | Love Clouds | sycarp | Nana Kim | bluerose | Guest | ryeofha2125 | Key heart | Kim Sooyeon | Phylindan | nanissaa | EternalClouds2421 | eunsoopark58 |R'Rin4869 | ririn chubby | yws | onechel | kiminkaanggi | kim eun woon | Yulia CloudSomnia | Yewook Turtle | Devi AF | emma | melochoco | Guest | ichigo song | Kim Anna | hana ryeong9 | Drabble Wookie | Riestha-tita | Dyathy
Sayonara dan review kalian saya tunggu :-)
[CHOI RINRI]
