My Little Family © Choi RinRi

Main Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook

Rated : T

Disclaimer : Super Junior is belongs to God.

Genre : Romance, Family, & Hurt/Comfort.

Warning : Shounen-ai, OOC, OC, M-Preg.

.

.

[Chapter 5]

Nb: italic text = flashback.

.

.

"Leukimia stadium 3," gumam seorang dokter yang kini berhadapan dengan Yesung. "bagaimana bisa pasien menjalani rutinitas normal seperti kebanyakan orang sehat?" tanyanya tak percaya.

Yesung yang mendengarnya hanya bisa menunduk, ia sendiri bingung harus menjawab apa. Ia tahu, perkataan dokter tadi bukanlah sebuah gurauan. Leukimia stadium 3, stadium yang mendekati akhir, dan fase seseorang yang pada normalnya sudah pasrah pada keadaan— yang mungkin kapanpun akan segera merenggut nyawanya.

"Aku… tidak tahu." Jawabnya. Dokter di hadapannya itu hanya bisa menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sesaat ia menatap Yesung— yang saat ini memilih untuk tak menatapnya, kemudian dokter tersebut menulis sesuatu di lembaran kertas.

"Untuk beberapa hari pasien harus menjalani rawat inap, saya akan melakukan imunisasi biologi secara rutin," Ujar dokter tersebut, menaikan kacamata minusnya yang sedikit melorot dan menatap Yesung dengan raut serius. "imunisasi biologi modern dapat membuat tingkat kekambuhan maupun penyebaran untuk pasien kanker akan menurun lebih jauh." Jelasnya.

Yesung mengangguk, "Arraseo. Apa ada efek samping?" tanyanya, dan ia dapat sedikit bernafas lega saat melihat namja berstatus dokter yang menangani Luna itu menggeleng sembari tersenyum kecil.

Menurut pemeriksaan dokter, Luna pingsan karena kelelahan. Sudah bisa ditebaknya. Luna diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit, membuat Yesung meng-cancel beberapa pertemuannya besok dan menyuruh bawahannya untuk menggantikannya. Ia tak mungkin membiarkan Luna sendirian, mengingat Luna yang tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.

Yesung sendiri heran, Luna terus bersikap seolah ia adalah seorang wanita yang sehat. Walau faktanya, ia terus mengalami hal-hal yang biasa terjadi pada penderita Leukimia. Luna sering mengalami lelah yang berkepanjangan, berat badannya juga terus merosot walaupun konsumsi makanannya seperti biasa. Wajahnya semakin hari semakin pucat. Dan Yesung pernah dibuat panik saat melihat darah yang mengalir di hidung yeoja tersebut, tapi Luna tetap bersikap biasa saja.

Setelah selesai melakukan pembicaraan dengan dokter dan menerima resep obat yang harus ditebusnya, Yesung bangkit dari duduknya. Menjabat tangan dokter muda tersebut lalu membungkukan badan, Yesung pamit untuk keluar ruangan.

Baru saja dokter specialis kanker itu menyandarkan pungungnya pada kursi dan melepas kacamatanya, pintu ruangannya kembali terbuka. Ternyata Yesung.

"Dokter," Yesung menyembulkan kepalanya di balik pintu, "jika imunisasi biologi tak terlalu memberikan pengaruh yang bagus, tindakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Dokter tadi kembali memakai kacamatanya, dan menegakan tubuhnya.

"Dua pilihan, kemoteraphy atau operasi penggantian tulang sumsum belakang."

.

.

.

.

"Halmoni!"Jongie berteriak riang, kemudian berlari dan menghampiri seseorang yang baru saja membuka pintu rumahnya. Orang yang baru saja disebut Jongie dengan panggilan nenek itu tertawa kecil. Terlebih saat melihat cucunya itu mengangkat kedua tangannya, meminta untuk digendong.

"Aish, kau berat sekali. Mau membuat halmoni patah tulang, ya?" candanya, dan Jongie tertawa lebar mendengarnya.

"Ya, turun dulu, Jongie. Halmoni baru saja datang, masih lelah." Kata Ryeowook yang baru saja keluar dari dapur setelah menyiapkan makanan untuk menyambut orang tua Yesung, mantan mertuanya.

Kim Heechul— nama ibu Yesung, hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Aniya, tidak apa-apa, Ryeowook ah. Lagipula aku merindukan Jongie, aku sudah lama tidak menggendong anak nakal ini." Katanya. Dan Jongie menjulurkan lidahnya pada Ryeowook sebagai tanda bahwa kali ini ia menang. Benar-benar anak nakal.

"Halmoni, bawa oleh-oleh untukku, tidak?" Jongie memeluk leher Heechul, dan sedikit memajukan kepalanya melewati pundak Heechul untuk melihat barang apa saja yang dibawa Heechul di belakang tubuhnya.

"Tentu!" jawabnya, membuat Jongie bersorak riang. Saat itu juga ia meminta turun dari gendongan Heechul. Kemudian membawa barang-barang yang Heechul bawa, meskipun sedikit kesulitan karena berat. Sebuah plastik putih berukuran besar dan beberapa paper bag kini di tangannya, lalu ia menyeretnya menuju ruang tengah dengan semangat.

Ryeowook yang melihat itu hanya menggeleng pelan.

"Selamat datang, umma," Sambut Ryeowook, kemudian memeluk tubuh ramping Heechul, "umma semakin hari semakin cantik saja." Godanya sambil tersenyum manis.

"Ya! Sudah pintar merayu, Kim Ryeowook?"

Ryeowook tertawa, kemudian membawa Heechul untuk duduk di ruang tamu. Membiarkan Jongie yang sibuk mengobrak-abrik barang belanjaan Heechul. Dan ia tak akan bertanggung jawab jika teriakan Heechul yang menggelegar akan terdengar karena melihat ulah anaknya yang hyperaktif itu.

Ryeowook meninggalkan Heechul yang duduk di sofa, berjalan menuju dapur dan mengambil minuman dan makanan kecil yang memang sudah disiapkannya sejak awal.

"Menantu yang pintar, kau tahu saja kalau umma memang sedang kehausan." Ujarnya sambil tertawa, Ryeowook yang memang sudah hafal dengan tingkah mantan mertuanya itu hanya tersenyum kecil menanggapinya.

Menantu— bahkan setelah Yesung dan Ryeowook bercerai, Heechul masih tetap memanggil Ryeowook dengan sebutan seperti itu. Dan Ryeowook tidak diperbolehkan untuk menolak.

"Musim panas memang menyebalkan. Lihat, kulitku jadi terlihat kering," ujar Heechul setelah meminum sirupnya, berkata dengan wajah yang dibuat terlihat sedih. "huh, aku jadi takut kerutan semakin bertambah di wajahku. Sepertinya besok aku harus pergi ke salon." Dan Heechul pun mengeluarkan benda keramatnya dari tas kecil yang disampirnya, sebuah cermin berbentuk oval.

Ryeowook dibuat geli melihat tingkah Heechul. Bahkan di umurnya yang sudah memasuki kepala empat pun, Heechul masih terus memperhatikan tampilannya dan bergaya seperti anak muda. Astaga, ibu dari Kim Jongwoon ini… makhluk berdarah AB memang memiliki keunikan tersendiri.

"Umma, bagaimana liburan musim panasmu di Jepang?" tanya Ryeowook, wajahnya terlihat berbinar. Ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan bagaimana cerita Heechul semasa liburan di Jepang bersama teman-temannya itu.

Siang ini Heechul baru saja pulang berlibur dari Jepang bersama teman-temannya. Dan saat pulang, Heechul langsung memutuskan untuk datang mengunjungi Ryeowook dan Jongie. Ia merindukan kedua namja tersebut, terutama cucu kecilnya itu— yang terus merengek di telepon, meminta Heechul segera pulang dan membawakannya mainan.

Inilah keuntungannya tak bersuami, Heechul bisa pergi bebas kemanapun dan kapanpun yang ia mau. Ya, Heechul memang sudah bercerai dengan suaminya. Hampir sekitar 5 tahun yang lalu, tepat saat Yesung berkata bahwa ia menghamili Ryeowook. Jika diingat, masa lalu adalah masa terberat untuk keluarganya. Disaat rumah tangganya dalam masalah, putranya justru menambah masalah baru.

Tapi jika ia terlahir kembali— ia pun akan tetap memilih jalan hidupnya yang sekarang. Karena dari semua itulah, ia bisa merasakan bagaimana mempunyai seorang menantu yang manis dan cucu yang menggemaskan, walau tidak lama.

"Halmoni! Dvd dan kaset game terbaru?! Woaaa, ini keren!" heboh Jongie sambil berlari ke arah Heechul yang sedang menceritakan pengalamannya selama liburan di Jepang. Kedua tangannya mengangkat tinggi sebuah kardus kecil berisi kaset-kaset game.

Awalnya Heechul ingin membelikan robot atau mobil mainan, tapi Ryeowook bilang agar ia tidak membelikan barang itu. Jongie sudah memiliki banyak, bahkan di kamar saja sampai ditampung di dalam dua box berukuran besar.

Jongie langsung melesat menuju kamarnya, dan ia mulai asyik berkutat dengan barang-barang yang menurutnya begitu menakjubkan itu.

"Dasar, Jongie semakin hari semakin mirip Jongwoon, anak itu akan lupa segalanya jika bertemu dengan sesuatu yang disukainya."

"Aigoo, tentu saja, umma. Dia anaknya."

Dan Heechul tertawa menanggapinya.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yesung setelah mendudukan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang. Kemudian menaruh buah-buahan di atas meja.

"Aku baik, oppa," jawab Luna sambil tersenyum lemah. "maaf merepotkanmu."

"Tak apa," ujar Yesung, "memang sudah kewajibanku. Mau memakan buah?" tawar Yesung, dan dijawab gelengan pelan oleh Luna. Yesung yang awalnya sudah meraih plastik berisi buah pun kembali menaruhnya di meja.

"Oppa," panggil Luna pada Yesung yang kini sedang sibuk menata barang-barang yang berada di meja, membuatnya agar terlihat lebih rapih.

"Ya?"

"Kalau aku sudah tidak ada— m-maksudku, jika aku tidak bisa bertahan lama… apa kau akan mencari penggantiku?"

Gerakan Yesung yang awalnya ingin mengambil gelas berisi air pun terhenti. Ia menoleh, dan menatap tajam Luna, "Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Jangan bertanya sesuatu yang tidak pernah bisa kuperkirakan."

"Jadi benar oppa akan mencari penggantiku jika aku tidak lagi ada?" lirih Luna, kedua matanya mulai terasa berair.

"Aku tidak berkata seperti itu. Dan berhenti berkata tentang menginggalkan dunia, tidak terselamatkan, atau apapun itu. Kita tidak bisa mengetahui batas umur seseorang." Yesung menegaskan. "Kau akan sembuh, Luna."

"Tapi oppa—"

"Saat ini kau hanya kelelahan."

Luna memalingkan wajahnya, saat ini ia berusaha untuk tak menangis. Kenapa Yesung tak pernah bisa mengerti maksud ucapannya…

"Stadium 3, oppa…" lirihnya, dan Luna mulai merasakan setitik air mata mulai mengalir di ujung matanya. "apa masih ada harapan untuk orang sepertiku?"

Yesung terdiam. Baginya sendiri, ia tidak bisa memastikan apakah Luna masih bisa bertahan atau tidak— walau pada dasarnya ia akan terus mencoba untuk menyelamatkan Luna. Entahlah, ia hanya manusia biasa, yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah meyakinkan yeoja dihadapannya ini untuk tetap bertahan. Seperti ucapannya dulu—

'Hanya karena oppa, aku masih mau bertahan.'

Cukup lama mereka sama-sama terdiam, hingga akhirnya suara ponsel Yesung yang berdering mengisi keheningan di kamar inap itu.

"Sebentar," Yesung keluar dari kamar, lalu menghampiri bangku panjang yang berada di depan kamar inap Luna. Dan mendudukan tubuhnya disana.

Saat ia merogoh sakunya dan mendapati ponselnya bergetar dengan sebuah nama yang terpampang disana, sebelah alisnya terangkat. "Umma?" dan tanpa menunggu lama, ia pun mengangkat panggilan tersebut.

Yesung mulai berbicara dengan Heechul, dengan raut wajahnya terlihat berubah-ubah. Kadang Yesung merenggut kesal, karena ibunya itu selalu saja memotong ucapannya. Atau lain lagi jika Yesung mulai mejauhkan ponselnya dari telinganya dengan mata yang mendelik, ibunya itu benar-benar cerewet. Membuat telinganya terasa berdengung, tidak jauh berbeda jika ia sedang berbicara dengan Ryeowook ataupun Jongie.

Setelah perbincangan mereka di telepon, Yesung akhirnya bisa bernafas lega. Ibunya benar-benar berisik, berbicara dengan nada tinggi dan tempo cepat. Membuat Yesung tidak sepenuhnya bisa menangkap apa maksud pembicaraan mereka tadi. Hanya beberapa point saja, seperti—

"Umma baru saja pulang dari Jepang, dan malam ini aku diminta datang menemuinya di rumah Ryeowook." Ujar Yesung saat ia sudah kembali mendudukan tubuhnya di samping Luna. Ia memegang dengan hati-hati punggung tangan Luna yang disaluri oleh infuse.

"Yasudah, oppa datang saja, umma pasti merindukan oppa." Luna tersenyum kecil. Sebenarnya ia juga ingin datang menemui Heechul, hanya saja kondisi tubuhnya yang benar-benar dalam fase buruk membuatnya harus terbaring di ruang inap.

Tapi kalaupun ia dalam keadaan sehat— Heechul belum tentu ingin bertemu dengannya. Mengingat bagaimana sikap Heechul padanya saja sudah membuatnya tersenyum miris. Heechul tak pernah menganggapnya sebagai istri Yesung, sebagai anggota keluarga Kim, apalagi sebagai menantunya. Perlakuan dan perkataan Heechul sudah terlalu banyak menyakitinya, ia sendiri tak mengerti kenapa Heechul terlihat begitu membencinya.

Yang ia tahu, Heechul hanya menganggap Ryeowook— yang notabenya justru sudah menjadi mantan istri Yesung, tidak sepertinya yang sampai saat ini masih berstatus istri putranya tersebut. Ia sering sekali iri melihat perlakuan lembut Heechul pada Ryeowook. Sering membuatnya berpikir, betapa beruntungnya hidup Ryeowook.

Ryeowook memiliki tubuh yang sehat— tidak sepertinya. Ryeowook juga bisa memiliki seorang anak walaupun ia adalah seorang namja— tidak sepertinya. Ryeowook dapat membuat Heechul yang memiliki sikap keras menjadi lembut— tidak sepertinya. Dan yang paling membuatnya iri, Ryeowook memiliki orang yang diam-diam mencintainya— tidak sepertinya, lagi.

Walau Yesung belum terlalu menunjukan secara gamblang jika namja itu mencintai Ryeowook, tapi ia yakin bahwa suaminya itu cepat atau lambat akan semakin menunjukannya. Tatapan matanya, raut wajahnya, sikapnya, semua berbeda jika Yesung sudah berhadapan dengan Ryeowook.

Entah mengapa, ia begitu kuat dengan presepsinya ini— walau sejujurnya hatinya semakin sakit saat mengingat itu.

"Jika aku pergi malam ini, aku akan membuatmu sendiri. Kau tidak keberatan?"

Luna menggeleng pelan, kemudian tersenyum dan meraih tangan Yesung dengan pelan. "Tidak masalah," ucapnya pelan, "masih ada para perawat dan dokter yang akan terus mengunjungi kamarku secara rutin, aku tidak akan sendirian."

Sekilas Yesung terlihat ragu, tapi ketika Luna kembali meyakinkannya, Yesung akhirnya menyetujuinya.

"Baiklah, malam ini aku akan datang menemui ummaku."

.

.

.

.

"Semakin lama kau semakin sukses saja, Ryeowook ah." puji Heechul, membuat Ryeowook tersipu karenanya.

"Ya, aku bersyukur sekali. Dalam hitungan bulan jumlah pengunjung di café semakin meningkat." ujar Ryeowook.

Heechul mengangguk, kemudian menyesap minumannya. Heechul cukup banyak bercerita pada Ryeowook saat di rumah, dan namja yang selalu ia anggap sebagai menantu itu pun tak henti-hentinya menatap antusias padanya. Sesekali mulut kecil Ryeowook membulat, saat Heechul menceritakan pengalaman yang menakjubkan di Jepang. Membuat Heechul jadi gemas sendiri dengan wajah polos mantan menantunya tersebut.

Setelah cukup lama berbincang— karena bosan juga, Heechul meminta Ryeowok untuk menemaninya berbelanja. Padahal dari Jepang saja ia sudah banyak berbelanja, tak terhitung berapa benda yang dibelinya. Tidak ada kata puas jika berbelanja untuk seorang Kim Heechul. Setelah cukup lama berbelanja di pusat perbelanjaan, ditambah Jongie yang terus merengek meminta pulang, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri 'perburuan'.

Tapi berhubung perut mereka terdengar berteriak meminta diisi, akhirnya Ryeowook menyarankan untuk mampir sebentar ke cafenya dan mereka pun menghabiskan waktu makan siang disana.

"Jongie, makan pelan-pelan," kata Heechul saat melihat cucunya itu makan dengan terburu-buru. Banyak saus yang tercecer di sekitar mulut anak itu, "dasar." Heechul mengambil tisu dan mengelap mulut Jongie. Sedangkan anak itu hanya memperlihatkan cengiran lebarnya.

"Aku lapar sekali, halmoni!" serunya, kemudian kembali menggulung spageti dengan garpunya dan kembali memakannya dengan cepat. Cara makannya berantakan, khas cara makan anak kecil sepertinya.

Heechul menghela nafas. Walau dilihat dari fisik Jongie benar-benar terlihat seperti duplikat Yesung, tapi sikap dan wataknya lebih cenderung pada Ryeowook. Yesung lebih tenang, putranya itu pasti tak akan mengeluarkan sepatah kata pun saat makan— berbeda dengan Jongie. Walau mulutnya masih penuh, anak itu terus saja berceloteh. Mungkin karena sifat cerewet Yesung menurun juga pada Jongie.

"Ya, ada apa?" tanya Heechul saat melihat Ryeowook yang kembali duduk di tempatnya. Ryeowook tadi memang sempat meminta izin pada Heechul untuk mengangkat panggilan saat dirasa ponselnya bergetar. Dan sekarang, setelah selesai berbicara di telepon, raut wajah namja pendek itu terlihat gelisah.

"Aku bingung, umma," Adunya, kemudian menghela nafas panjang. "hari ini kita akan makan malam, tapi salah satu temanku mengajak keluar untuk makan malam bersama juga. Hah, aku tidak tega untuk menolaknya, dia orang yang baik." jelasnya. Ryeowook menaruh sikunya di meja, kemudian menangkup pipinya dengan sebelah tangannya. Jari-jari lentiknya bergantian mengetuk-ngetuk pipi tirusnya. Ia terlihat sedang berpikir.

"Aishh, lalu?"

"Entahlah, umma. Aku sendiri bingung harus bagaimana." Keluhnya.

"Yasudah, ajak saja dia untuk makan bersama kita."

Langsung saja Ryeowook menegakan tubuhnya saat mendengar usul Heechul, "Eh? Bolehkah, umma?" tanya Ryeowook, wajahnya terlihat berbinar.

Heechul memutar kedua matanya, "Hah… kenapa tidak?"

Membuat Ryeowook tersenyum senang mendengarnya.

.

.

.

.

Sejak awal, rumahnya memang selalu sepi. Dan sekarang, setelah Luna masuk rumah sakit dan diharuskan untuk menjalani rawat inap, rumahnya semakin terasa lenggang. Jika biasanya ada suara yeoja yang menyambutnya saat pulang, sekarang hanya angin semilir yang menerpanya saat membuka pintu.

Sore ini Yesung memutuskan untuk pulang. Mengecek keadaan rumah dan setelahnya ia akan bersiap untuk datang ke rumah Ryeowook. Terakhir bertemu seminggu yang lalu saat Ryeowook menyuruhnya untuk datang di hari pertama Jongie sekolah. Dan sekarang, ia sudah merasa serindu ini dan tak sabar untuk bertemu.

"Merindukan Jongie maksudku, dasar bodoh." entah Yesung berbicara dengan siapa, tapi saat ini ia terlihat kesal sendiri. Mendengus saat pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi otaknya.

Sekarang masih jam 3 sore, dan ia berpikir tidak ada salahnya jika ia beristirahat sebentar. Mungkin tidur satu jam tidak masalah. Ia berjalan menuju kamar tidurnya, dan sesuatu mencuri perhatiannya saat baru saja sebelah tangannya menyentuh kenop.

Pintu ruangan kerjanya yang terbuka lebar. Ia jadi ingat, kemarin ia terlalu panik sampai lupa menutup pintu. Jangankan untuk menutup pintu, hanya untuk memikirkannya saja ia tak sempat. Ruangan kerjanya berada tepat di samping kamar tidurnya, jadi ia tak perlu melangkah terlalu jauh untuk pergi kesana.

Kedua matanya yang sipit semakin menyipit saat ia melihat sesuatu tergeletak di lantai ruangan kerjanya. Dan saat ia mengambilnya, ia jadi teringat. Album foto.

"Aku sempat melupakannya," gumam Yesung, kemudian mengambil buku tersebut dan membawanya menuju kamar tidur. Hilang sudah niat awalnya untuk beristirahat dan tidur selama satu jam (dia berjanji tak akan lebih), rasa penasarannya mengalahkan rasa lelahnya.

Yesung duduk di atas ranjang dan bersandar dengan nyaman. Ia memperhatikan album foto di tangannya itu dengan seksama. Ia bukan tipe orang yang pelupa, tapi kenapa ia sama sekali tak bisa mengingat album foto tersebut.

Yesung mulai membukanya, pandangannya disambut oleh sebuah tulisan tangan (yang menurut Yesung sangat buruk) dari sebuah tinta pena yang terlihat memudar warnanya.

"Our Journey, Art VoiceArt Voice?!" saat itu juga tubuh Yesung menegak. Ia ingat sekarang, album foto yang dibuat saat ia masih duduk di bangku sekolah. Bersama teman-temannya di klub musik, Art Voice namanya. Pantas ia lupa, album foto itu sudah berumur lama. Mungkin ia akan mengingatnya jika saja ia merawatnya dengan benar dan tak menaruhnya sembarangan.

Tanpa sadar ia tersenyum tipis. Saat ia membuka halaman selanjutnya, sebuah foto menyambutnya. Fotonya bersama teman-temannya yang sedang berjajar, memasang formasi layaknya orang-orang yang ingin difoto pada normalnya. Ia mencoba mengingat kapan ia bersama anggota Art Voice mengambil gambar. Saat ia melihat pakaian yang digunakannya saat itu, barulah ia ingat. Foto yang diambil saat Art Voice mengadakan perjalanan mendaki gunung dan berlibur bersama.

Masing-masing anggota Art Voice memiliki pertemanan yang sangat dekat. Mereka sering sekali berkumpul bersama, bermain bersama, bahkan bukan untuk membicarakan tentang bahasan ekstrakulikuler. Seperti tidak ada batasan junior dan senior. Bahkan sampai untuk urusan 'curhat' pun mereka lebih memilih menceritakan pada sesama anggota dibanding teman di kelas. Persahabatan yang sangat erat.

Sleeping Princess— itulah yang Yesung baca saat membuka lembaran selanjutnya. Tertempel sebuah foto yang seseorang yang mereka sebut dengan sebutan putri tidur.

"Ryeowook?"

.

.

"Yeay, selesai!" Sungmin berteriak senang, membuat teman-teman di satu ekstrakulikulernya menatap bersamaan ke arahnya. "Tadaaa! Bagus, kan?" bangga Sungmin. Memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi dikerjakannya. Disaat teman-temannya (yang siang ini datang untuk bermain ke rumahnya) sibuk mengobrol, bercanda, atau bahkan makan seperti Henry, ia sibuk mengerjakan yang entah itu penting atau bukan.

"Album foto?" Kyuhyun orang pertama yang menanggapi. Sungmin yang mendengar itu mengangguk semangat, sedikit berdebar menunggu kata apa yang akan Kyuhyun katakan selanjutnya tentang karyanya itu. "Biasa saja,"

Semua tertawa mendengar ucapan Kyuhyun, terkecuali Sungmin yang langsung melemparnya dengan bantal. "Tidak punya selera seni!" dumel Sungmin.

Kyuhyun mengangkat bahu acuh, kemudian kembali membaringkan tubuhnya di sofa dan asyik menonton acara musik di televisi. Membuat Sungmin kesal sendiri melihatnya.

"Bagus, kok." ujar Siwon yang kini sedang disuapi potongan buah oleh Kibum, kekasihnya. Membuat Sungmin seperti mendapat pencerahan karena mendapat pujian setelah mendapat cibiran dari Kyuhyuh, "hanya saja— menurutku terlalu feminim." sambung Siwon dengan wajah yang terlihat tanpa dosa.

Sontak, tujuh namja yang berada di kamar tidur Sungmin itu kembali tertawa. Memang benar jika Siwon menyebut album foto itu terlalu feminim. Walau bersampul coklat (dan sedikit membuat heran karena Sungmin tidak memakai warna pink), Sungmin membuat gambar bunga terlalu banyak. Dan beberapa gambar lucu lainnya seperti kepala kelinci dan kucing.

Cocok sekali jika dijadikan sebagai cover buku dongeng anak berusia lima tahun.

"Kalian! Aku sudah membuat ini dengan susah payah, tahu!" kesal Sungmin, bibirnya terlihat mengerucut. "Aku kan sengaja membuat ini untuk kenangan kita…"

Semua diam saat mendengar ucapan Sungmin, terlebih raut wajahnya yang kini terlihat sedih.

"Maksudmu?" tanya Yesung setelah meminum jus jeruknya. Menatap Sungmin sambil kembali memakan keripik yang sedari tadi memang 'dikuasai'nya. Ia bersandar di ranjang yang sedang ditiduri oleh Ryeowook. Tangannya sesekali bergerak ke belakang, menyodorkan keripik pada Ryeowook yang berbaring memiring dan langsung menangkap keripik itu dengan mulutnya.

Sungmin mengetuk-ngetukan crayon pada pipinya. Warna crayon itu adalah biru, tapi saat terkena crayon pipinya justru berwarna merah. Oh, pipinya bersemu sekarang. "Umm, aku tidak mau moment bersama kalian hilang begitu saja," katanya sembari menunduk malu-malu, "aku ingin setiap kegiatan yang kita lakukan diabadikan menjadi foto dan dikumpulkan dalam album foto ini."

Yesung mulai mengerti. Ketua dari Art Voice itu mengambil album foto buatan adik kelasnya tersebut. Memperhatikannya, dan jika dilihat-lihat memang benar kata Siwon jika album yang dibuat Sungmin untuk Art Voice ini memang terlihat feminim sekali.

Saat ini ada Yesung, Ryeowook, Kyuhyun, Henry, Siwon, dan Kibum yang datang ke rumah Sungmin. Mereka duduk membentuk lingkaran di lantai, terkecuali Kyuhyun yang memilih berbaring di sofa dan Ryeowook yang berbaring di ranjang Sungmin.

"Hey, kalian tahu apa yang menarik dari foto ini?" ucap Sungmin dengan semangat. Layaknya paduan suara yang selalu kompak, kelima temannya itu menggelengkan kepalanya secara bersamaan. "Kalian bisa memasukan foto apapun yang kalian mau disini. Foto narsis, bagus, jelek, bahkan sampai yang terlihat konyol kita kumpulkan disini. Terserah saja. Yang terpenting itu foto anggota Art Voice." jelas Sungmin dengan tersenyum cerah. Membuatnya membayangkan foto-foto apa saja yang akan dimasukannya nanti.

"Kalau begitu aku akan menyimpan banyak fotoku di album foto ini," kata Yesung dengan percaya diri. Mendengar itu Sungmin langsung menepuk jidatnya, berbeda dengan Kyuhyun atau Henry yang sudah heboh menyorakinya.

Yesung hanya tertawa menanggapinya. Ia kembali meraih toples keripiknya— toples keripik milik Sungmin lebih tepatnya. Seperti inilah jika Art Voice sudah datang ke rumah Sungmin, selain akan membuat kamarnya tidak berbentuk, mereka juga akan dengan mudahnya menghabiskan persediaan makanan di rumahnya.

Sejenak Yesung terdiam, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya bingung. Seperti sebelumnya, jika memakan keripiknya Yesung pasti juga akan membaginya pada Ryeowook. Dengan manisnya ia menyuapi namja yang paling manja di tim-nya. Tapi sudah cukup lama tangannya bergerak ke belakang, ia tak juga mendapatkan sambutan dari mulut Ryeowook yang biasanya langsung melahapnya.

"Eh?" Saat Yesung menoleh ke belakang, barulah ia tahu bahwa Ryeowook ternyata tertidur. Pantas saja disaat yang lain heboh, ia tak mendengar suara melengking terdengar diantaranya. Yesung tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba pemikiran jahil terlintas di pikirannya. Ia naik ke atas ranjang Sungmin. "Ming, cepat foto!" ujar Yesung dengan suara sekecil mungkin agar tak membuat Ryeowook terbangun. Sungmin menatapnya bingung. Saat Yesung menunjuk-nunjuk Ryeowook yang sedang tertidur, barulah ia mengerti dan mengangguk dengan mulut yang membulat.

Sungmin segera mengambil kamera miliknya yang berada di meja belajar. Memposisikan diri untuk siap memfoto. Sedangkan yang lain memperhatikan dengan mengigit bibir menahan tawa. Membayangkan seperti apa reaksi Ryeowook saat tahu bahwa ia difoto saat tertidur.

"Ya! Apa yang kau lakukan, hyung?!" seru Sungmin sedikit keras.

"Gege! Diamlah!" Henry segera membekap mulut Sungmin agar tak kembali berteriak. Takut membuat Ryeowook bangun.

"Aishh, Cepatlah! Aku sudah pegal!"

"Nde!"

.

.

Yesung terdiam dengan wajah yang memerah padam. Melihat foto Ryeowook yang sedang tertidur seperti ini, membuatnya malu sendiri mengingat tingkah bodohnya dulu. Mungkin tak ada yang aneh melihat foto Ryeowook yang sedang tertidur— jika saja tak ada Yesung di atasnya.

Kedua tangannya berada di masing-masing kepala Ryeowook. Kepalanys merunduk, membuat jarak yang sangat dekat dengan wajah Ryeowook. Yesung terlihat menutup mata dan bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pangeran yang ingin membangunkan putrinya dari tidur panjangnya seperti cerita dongeng yang pernah dilihatnya di televisi.

Kenapa aku bisa bertingkah sebodoh ini, rutuk Yesung saat ini. Ia malu melihatnya, sangat malu. Seingatnya, saat Ryeowook sadar dan melihat foto itu ada di dalam album, Ryeowook yang wajahnya memerah langsung memukuli Yesung dengan bantal sebanyak sembilan kali. Yesung tahu karena Yesung menghitungnya.

Ia tak bisa membayangkan jika Ryeowook kembali melihat foto yang menurutnya sangat bodoh ini.

Ia menggelengkan kepalanya cepat, kemudian memilih untuk pergi ke kamar mandi dan mendinginkan kepalanya dengan air shower yang mengalir.

.

.

.

.

"Uhh, kau semakin berat saja, jagoan!" ujar Yesung sambil menepuk bokong Jongie.

"Seorang jagoan harus memiliki tubuh yang kuat dan besar, appa!" seru Jongie semangat. Kemudian memperlihatkan lengannya, seolah ia sedang memerkan otot seperti para atlit angkat besi yang sering ia lihat di televisi. Membuat Yesung tertawa geli. Lengan sekecil itu, apa yang bisa dipamerkan?

Yesung baru saja sampai di rumah Ryeowook, dan Jongie langsung menyambutnya dengan suaranya yang nyaring lalu meminta gendong padanya— seperti biasa. Sebenarnya sekarang masih sore, tersisa waktu sekitar empat jam sebelum makan malam. Tapi berhubung Heechul meminta Yesung untuk membantu menyiapkan makan malam, jadilah ia datang lebih awal.

"Halmoni mana?" tanya Yesung. Merasa namja yang sudah melahirkannya itu tak juga terlihat. Sebenarnya ia juga ingin menanyakan dimana Ryeowook, tapi… tidak jadi. Ia merasa gengsi.

"Ada apa? Merindukanku?" merasa terpanggil, Heechul pun keluar dari dapur. Menampakan dirinya di depan Yesung dengan tubuh yang terbalut apron berwarna merah muda. Dengan gambar kepala kelinci yang lucu di bagian depannya. Membuat namja bercucu satu itu semakin terlihat cantik walau hanya dalam balutan apron dan bahkan di usianya yang tidak muda lagi.

Yesung tersenyum kecil, kemudian menurunkan Jongie dari gendongannya dan menghampiri ibunya. Ia pun memeluk Heechul, "Bagaimana kabar, umma? Kulihat kerutan di wajah umma bertambah." Tanya Yesung setelah melepas pelukannya. Kedua matanya menatap (sok) serius wajah Heechul yang menurutnya tetap cantik seperti anak remaja, walau tadi ia berkata lain.

"Ya! Anak kurang ajar!" Heechul melayangkan jitakannya pada kepala Yesung— yang selalu membuatnya heran karena putranya bisa memiliki kepala sebesar itu padahal ia dan mantan suaminya tidak seperti sepertinya.

Yesung mengaduh, ia mengusap kepalanya sembari terkekeh.

"Aishh, jinjja! Jangan asal main ambil saja, tanganmu kotor!"

Yesung menoleh ke arah dapur, sebuah suara yang bergitu dihafalnya terdengar berteriak heboh. Saat ia kembali menoleh ke arah Heechul, ia dapat melihat ibunya itu memijat keningnya sembari menggeleng pelan. Sudah bisa ditebak, pasti tidak jauh dari Jongie. Putranya itu berulah dengan mencicipi makanan buatan Ryeowook dengan tangannya.

"Jangan," cegah Heechul, kemudian menarik pergelangan tangan putranya itu. Yesung bilang ia akan 'mengamankan' Jongie, tapi ibunya itu justru melarangnya. Membuatnya bingung. "aku saja yang mengurus Jongie, kau bantu istrimu itu menyiapkan makanan."

Yesung mendengus mendengarnya, "Umma…"

"Ah, oke, mantan istrimu." timpal Heechul sedikit malas. Heechul segera mendorong punggung Yesung, menyuruh putranya itu untuk segera menemui Ryeowook di dapur.

Yesung menghela nafas, pasrah saja. Lagipula, sekeras apapun ia menolak perkataan Heechul, pasti ibunya itu akan terus memaksanya. Jadi, untuk saat ini ia menurut saja.

Tak lama Jongie pun keluar dari dapur, dengan kaki kecilnya yang terlihat berlari dan ia tertawa tanpa dosa. Mengusili ibunya adalah hal yang paling menyenangkan baginya. Heechul yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia jadi khawatir kerutan di wajahnya bertambah seperti yang dikatakan anak bodohnya (Heechul yang bilang) jika Jongie terus membuat ulah dan membuatnya pusing.

"Nah, Jongie, lebih baik kau bantu halmoni menata meja makan, nde?"

"Siap, halmoni!"

.

.

"Kau seperti maling saja," ujar Ryeowook tiba-tiba, "masuk ke dapur dengan mengendap-ngendap seperti itu." katanya sambil melirik Yesung yang berada di dekatnya, kemudian kembali sibuk memotong sayuran.

Yesung mendengus, "Terserah katamu saja," timpalnya. Ia mencuci tangan, kemudian mengambil apron yang menggantung di balik pintu dapur. "ini permintaan umma, dia menyuruhku membantumu." jelas Yesung saat melihat Ryeowook yang berhenti memotong sayuran dan menoleh padanya, menatap bingung kenapa ia ikut memakai apron.

Dalam diam Ryeowook memandangi Yesung yang kini berbalut apron berwarna kuning gading bermotif bunga. Tanpa sadar membuatnya tertawa geli.

"Ada yang lucu?" tanya Yesung sedikit ketus.

"Ani," Ryeowook menggigit bibirnya, menahan agar tawanya tidak meledak. "hanya saja kau terlihat aneh memakai apron itu." tunjuk Ryeowook dengan lirikan matanya.

Sebelah alis Yesung terangkat, kemudian ia menatap tubuhnya sendiri dari dada hingga ujung kaki. Menggelikan sekali melihat dirinya sendiri berbalut apron yang biasa dipakai para ibu rumah tangga seperti ini.

"Kenapa? Kau ingin menukar dengan yang kupakai?" tanya Ryeowok saat melihat Yesung melepas ikatan tali apron yang dipakainya dengan sedikit kesal, "banyak gambar hati yang lucu di apronku, loh. Mau memakainya?" goda Ryeowook, senyum jahil tak bisa disembunyikan lagi saat melihat raut wajah Yesung yang terlihat semakin kesal.

"Diamlah!" mau tak mau, Yesung pun kembali mengikat tali apron yang terpasang di belakang pinggangnya. Ryeowook yang melihat itu jadi tertawa.

"Yasudah," Ryeowook mengangkat bahunya acuh, "tolong isi panci dengan air, jangan terlalu penuh." ujar Ryeowook sambil memasukan sayur-sayuran yang sudah dipotongnya ke dalam mangkuk besar dan mencucinya.

Yesung menurut, kemudian melakukan apa yang dikatakan Ryeowook. Setelah selesai, ia memilih untuk duduk di kursi pojok dapur. Sambil diam-diam memperhatikan Ryeowook yang dengan telaten meracik bumbu-bumbu yang diperlukan untuk bahan masakan.

"Sudah lama aku tidak melihatmu tertawa seperti tadi," ujar Yesung. Sambil berpura-pura sibuk melihat-lihat buku resep masakan yang Ryeowook taruh di atas meja.

Kening Ryeowook mengkerut mendengarnya, "Kau pikir aku tidak bisa tertawa?" tanyanya sedikit sinis.

"Kupikir begitu."

"Ya!"

Kali ini Yesung yang tertawa karena melihat Ryeowook yang kesal. Secepat kilat ia menghindar saat Ryeowook melemparnya dengan sendok karena menganggu. Dan saat tak sengaja 'benda' miliknya terbentur ujung meja, kali ini Ryeowook yang tertawa keras. Terlebih melihat raut wajah Yesung yang kesakitan membuatnya benar-benar puas tertawa sore ini.

"Sial, kalau sampai rusak bagaimana bisa aku membuat adik untuk Jongie?!" ujar Yesung tanpa sadar, kemudian mengusap akses terpentingnya sembari kembali duduk di kursi.

Butuh sepulu detik hingga Yesung sadar dengan ucapannya tadi. Terlebih wajah Ryeowook yang kini memerah padam mendengarnya.

'Astaga… kenapa hari ini aku terlihat sangat—'

"Bodoh!" seru Ryeowook, lalu kembali memfokuskan kegiatannya. Wajahnya benar-benar padam. Yesung bodoh, Yesung bodoh, Yesung bodoh, entah berapa kali ia menyebutkan kata itu dalam hati. Karena itu, ia memotong wortel dengan sedikit keras, bahkan sampai menimbulkan suara keras.

Terlepas dari tingkah bodoh mereka saat ini, setidaknya keduanya menyadari bahwa setelah cukup lama mereka berdua perang dingin, baru sekarang mereka kembali merasa bisa melakukan perbincangan dengan candaan ringan.

.

.

.

.

Hari pun berganti malam, dan ketiga namja di rumah tersebut semakin terlihat sibuk. Yesung ikut membantu Heechul menata makanan di meja, sedangkan Ryeowook sedang menenangkan Jongie yang menangis karena baru saja dibentaknya. Ryeowook kesal karena sedari tadi Jongie terus mengusilinya. Cukup ayahnya yang mengusilinya saat di dapur, dan sekarang berganti anaknya. Siapa yang tidak kesal?

"Biar aku saja," ujar Yesung saat mendengar bel pintu yang berbunyi. Heechul yang baru akan pergi membuka pintu pun mengangguk, dan memilih pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang lain.

Tanpa menunggu lama dengan langkah yang sedikit cepat Yesung pun berjalan menuju pintu. Bunyi bel pintu masih terdengar, dan sekarang ia sudah memegang kenop pintu lalu memutarnya. Dan saat membuka pintu—raut wajahnya langsung berubah.

"Annyeong, Yesung ssi. Selamat malam."

Lee Donghae sekarang ada di hadapannya.

.

.

.

.

[A/N]

Sedikit penjelasan, dulu Yesung dan Ryeowook tuh bukan pacaran. Mereka hanya sahabat. Dan untuk perasaan masing-masing, tanya mereka saja ya! :3 *kedip kedip* hehehe.

Buat sekarang saya gabisa jawab satu-satu pertanyaan kalian, saya lagi di warnet dan waktu terbatas *ini curhat* *penting banget*

Tapi saya ga pernah bosan buat bilang terima kasih pada kalian. Sudah setia untuk mengikuti fanfic ini, terlebih untuk kalian yang sudah me-review. Dan untuk silent readers— ah, saya udah bosen buat ngebahasnya sih sebenernya hehe. Apa sesulit itukah untuk review? Hihihihi :-)

Review, favorite, following fanfic ini benar-benar membuat saya senang! Terima kasih^^ *bow*

Mari kita saling menghargai—saya buatkan karya saya untuk menyenangkan kalian, kalian mengomentari karya saya untuk menyemangati saya.

Sayonara dan saya tunggu review kalian :-)

24 April 2013

Untuk semua readers terbaikku,

[CHOI RINRI]