Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Foe | April 8th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), Se7en (masih bingung ni orang masuk maincast apa kagak)

+ Other Cast : YunJae, Taemin, Jungmo, Zhoumi, Junsu, Junho (kembaran Junsu), KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun

+ Cameo : Ryeowook, Henry, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Soohyun, Sooman, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), Narsha

+ Say 'Goodbye' to : Jay, Sungmin, Donghae, Kibum, Kai

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 4C lolololol maaf ya nambah cast lagi m(_ _)m

.

.

.

.

The Time: Foe | April 8th, 2012

.

Sunday

April 8th, 2012

07:20 AM

"Sepertinya Kevin bisa membantuku, Hyung."

Yoochun menatap Changmin yang duduk di hadapannya. Pagi ini mereka sedang berada di kamar Changmin, seperti biasa. Yoochun duduk di sofa sedangkan Changmin duduk di kursi rodanya, berhadapan dengan Yoochun.

Jari Yoochun terulur. Merapikan poni Changmin yang sedikit menutupi pengelihatannya. "Tetapi, kalau bisa jangan memberatkan dia."

"Dengan adanya Kevin, mungkin Death Cycle akan tertebak, Hyung."

"Caranya?" tanya Yoochun. "Changmin, bukankah korban Death Cycle dipilih secara tiba-tiba? Jika orang yang meninggal karena takdir Tuhan, mungkin anak indigo bisa mengetahuinya secara kasar. Orang yang akan meninggal akan terlihat tanda-tandanya sekitar seminggu sebelum kematian. Tetapi Death Cycle terjadi secara tiba-tiba. Maksudnya orang yang akan menjadi korban saja tidak ada tandanya, jadi bagaimana anak indigo bisa tahu?"

"Mungkin Kevin bisa tahu rencana Dia." kata Changmin pelan.

"Berapa persen kemunkinan itu?"

Changmin mengulum bibirnya sebelum menjawab. "Sebelum aku membicarakan ini denganmu, kemungkinan ada delapanpuluh persen. Sekarang... sekitar limabelas persen."

"Kau mengerti bukan bahwa ini permainan Dia? Kau sendiri yang sering mengatakan itu padaku, bukan?"

Changmin mengangguk perlahan. "Iya Hyung. Aku tahu."

"Begini ya, Sayang, jika seandainya Kevin bisa tahu siapa yang akan menjadi korbannya, apa kau tahu cara menghentikan Death Cycle? Hanya tahu siapa korbannya bukan berarti kau bisa menghentikan kematiannya, 'kan? Para korban meninggal secara tiba-tiba, seperti yang kita lihat pada Kibum. Apa kau bisa menghentikannya?"

Changmin terdiam selama beberapa saat. Benar juga. Mengapa Yoochun bisa menjadi lebih pintar tentang Death Cycle daripada dia? Apa gara-gara Changmin lebih terfokus pada korban selanjutnya sehingga dia tidak memikirkan bagaimana cara kematian itu berjalan?

"Tidak sih, Hyung."

"Nah, jadi menurut Hyung, dengan adanya Kevin, dia sama sekali tidak terlalu membantu untuk Death Cycle. Mungkin jika kau tiba-tiba tertimpa musibah dia bisa membantumu. Tetapi, menurut Hyung dia tidak bisa membaca bagaimana Death Cycle berjalan, atau setidaknya apa yang direncanakan oleh Dia."

"Tetapi kemarin dia mengatakan padaku bahwa aku dalam bahaya. Itu artinya dia bisa membaca masalah ini, 'kan Hyung?" tanya Changmin, masih berharap bahwa Kevin bisa membantunya.

"Dia membaca auramu, sepertinya. Dia hanya tahu kau dalam bahaya, tetapi dia tidak tahu bahaya apa yang dimaksud. Dan menurut Hyung, bahaya yang sedang mengincarmu adalah Dia. Kau sendiri yang bilang bahwa disaat kau koma, kau merasa bahwa Dia menyiksamu di tempat yang sangat panas, bukan?"

"Ya." Changmin mengangguk pelan. Memperhatikan Yoochun yang menatapnya serius. "Bahkan dia mengancamku akan banyak hal. Kasarnya, dia membatasi seluruh pergerakanku. Aku akan melakukan ini, dia memberikan bayaran lain. Aku akan melakukan itu, dia mengancamku dengan hal lain."

"Itu yang dimaksud dengan 'kau dalam bahaya'. Kesimpulannya kau hanya perlu diam agar kau selamat."

Ani. Bukan agar aku yang selamat, tetapi kau. Dia mengancam akan membunuhmu jika aku memberitahu orang-orang tentang Death Cycle. Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?

"Hyung," Changmin memanggil Yoochun lagi dengan nada pelan. "Jika seandainya—ini hanya seandainya, jangan dianggap serius. Jika seandainya... aku bisa menghentikan Death Cycle, namun dengan cara mengorbankan banyak nyawa—bahkan lebih banyak dari korban Death Cycle setiap tahun—apakah itu bagus?"

Yoochun mengangkat salah satu alisnya. "Maksudmu?"

"Misalnya, aku memberikan ratusan nyawa kepada Dia sebagai bayaran agar dia menghentikan Death Cycle. Apa... apa pilihanku benar?"

Yoochun membuang napasnya secara perlahan. Jarinya menarik dagu Changmin dan menatapnya. "Jadi kau memilih untuk membunuh banyak nyawa demi delapan nyawa yang bisa kau selamatkan?" Changmin hanya diam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Yoochun. "Jika bisa, aku yang akan mengorbankan nyawaku agar Dia menghentikan siklusnya. Kau tidak boleh egois dengan cara mengorbankan banyak nyawa demi orang yang kau kenal bisa selamat."

Ah, tunggu!

Orang yang aku kenal?

Aku... aku mengenal Sungmin. Aku mengenal Donghae, Kibum dan Kai.

Sungmin memang permain pertama... tapi... bukan berarti dia pemain utama! Benar! Sungmin memang pemain pertama tetapi dia bukan pemain utama!

Dan yang meninggal selalu orang-orang yang pemain utama kenal.

Jadi... pemain utamanya adalah...

Aku?

Aku tak ingin mengakui hal ini, tetapi... aku selalu dapat mendengar Dia, maksudku Dia berkomunikasi denganku. Dia mengancamku. Dia yang memerintahku. Itu... itu artinya... aku memang si pemain utama.

Oh tidak! Ya Tuhan, mengapa hal ini terjadi padaku?

"—Min? Sayang? Hei, jangan melamun!"

"Ah!" Changmin mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hyung! Semuanya tergantung padaku, Hyung! Nyawa orang-orang ada padaku! Aku harus mencari cara untuk menghentikan siklus ini! Aku harus melakukannya!"

"Kau tahu bagaimana caranya? Kurasa, dari semua siklus yang kau catat dari tahun 1996 sampai 2011 kemarin belum ada siklus yang bisa dihentikan?"

Changmin tersenyum. "Setidaknya aku harus mencari cara untuk terhindar dari Death Cycle. Maksudku, Kim Junsu bisa selamat, mengapa orang lain tidak bisa? Itu jawaban yang harus aku cari!"

Kau yang menyinggung tentang Junsu. Kuharap kau melupakan masa laluku dengan dia.

.

.

The Time

Foe | April 8th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

April 8th, 2012

09:09 AM

"Kudengar pacarmu salah satu dokter disini ya?"

Changmin mengangkat alisnya, bertanya pada Kevin. Sekarang keduanya sedang berada di kamar rawat Changmin. Kevin bilang dia sudah meminta izin kepada Kiseop untuk bermain kesini sebentar, jadi dia hanya datang sendiri.

"Tahu darimana?"

Kevin terkikik pelan. "Kemarin aku tak sengaja mendengar obrolan dua suster yang sering datang ke kamar Kiseop. Mereka berbicara tentangmu, katanya kau beruntung karena mendapatkan dokter bernama Park Yoochun itu."

Changmin merubah mimik wajahnya. "Cih, apa gadis-gadis genit itu berniat untuk merebut Yoochun-ku? Biasanya aku lihat di film-film, suster-suster selalu genit kepada sang dokter."

Kevin tertawa mendengar kalimat itu. Dia menepuk pundak Changmin yang duduk di kursi rodanya. "Tenang saja. Mereka hanya menilai. Lagipula, kudengar dari Dokter Alexander—dokter yang menangani Kiseop-hyung—kedua suster itu berpacaran. Namanya Yuri dan Jessica."

"Oh." Changmin membulatkan mulutnya dan mencoba untuk menghapus rasa malunya karena memperlihatkan rasa cemburunya kepada orang lain. "Awas saja jika mereka berani genit kepada Yoochun-hyung."

Kevin tertawa renyah mendengar ucapan itu. "Beruntunglah karena di Korea sudah tidak dilarang hubungan sesama jenis. Jadi, hubunganmu dengan Yoochun tidak menjadi topik pembicaraan negatif oleh suster-suster itu."

"Lagipula, mereka juga menyimpang, bukan?"

"Ya." Kevin tertawa lagi seraya mengambil posisi duduk di sofa. "Kau terlalu cemburu."

"Mana mungkin aku tidak cemburu. Aku tidak ingin Yoochun-hyung berpaling pada orang lain."

Sudah cukup aku membuatnya sakit. Aku tidak ingin dia yang menyakitiku sekarang.

Kevin yang semula tertawa, mengubah mimik wajahnya secara perlahan. "Oh ya, kau baru kehilangan seseorang ya? Apa aku benar?" tanya Kevin hati-hati.

Changmin mengerjapkan matanya dan kemudian mengangguk. Rasa sedih datang lagi ketika dia mengingat bahwa Kai sudah pergi sekarang.

"Dia masih kecil. Umurnya masih enam tahun. Mengingat bagaimana luka yang membuatnya meninggal membuatku sedih."

Kevin tersenyum samar. "Aku turut berduka."

"Aku menyalahkan diriku sendiri akan kematiannya."

"Mengapa?" tanya Kevin tidak mengerti.

"Aku tidak bisa menghentikan kematiannya."

"Kematian memang tidak bisa dihentikan, bukan? Itu sudah takdir Tuhan."

"Tetapi ini bukan takdir Tuhan!"

Kevin memandang Changmin tak mengerti dengan kalimat yang diucapkannya dengan keras itu. Changmin mengatupkan mulutnya segera. Memilih diam ketika Kevin bertanya.

"Apa maksudmu?"

Oh tidak! Bagaimana bisa aku kelepasan? Kevin tidak boleh tahu tentang Death Cycle. Ya Tuhan, Kevin tidak boleh tahu akan hal itu.

"A-aku hanya asal bicara."

Kevin memandang Changmin dengan tidak percaya. Changmin menelan ludahnya kasar.

"Kau berbohong."

"Ani." kata Changmin, mencoba tersenyum. "Maksudku... aku sedikit tidak percaya bahwa kematian itu takdir Tuhan. Karena... karena banyak orang yang... entahlah. Aku hanya asal bicara tadi." kata Changmin bohong.

Tatapan Kevin kepada Changmin masih tidak percaya. Changmin tidak tahu kalimat apa lagi yang harus dia ucapkan agar Kevin tidak curiga.

"Ah, kurasa Kiseop menunggumu. Biasanya juga Yoochun datang kesini pada jam-jam seperti ini. Jadi, bagaimana jika kita mengobrol lagi sore nanti?"

.:o~o:.

Sunday

April 8th, 2012

01:33 PM

Changmin duduk di kursi roda, menghadap ke arah jendela, sendirian di kamarnya. Baru saja Yoochun kembali ke kamarnya. Jungmo memintanya untuk mengganti perban di lengan kirinya, maka dari itu Changmin sendiri lagi sekarang. Ayahnya sudah beberapa hari tidak menjenguknya. Dia pasti sibuk, Changmin memaklumi hal itu.

Ah, dia berharap bisa bertemu lagi dengan Junho. Meminta izin kepadanya untuk menanyakan banyak hal tentang Death Cycle kepada Junsu. Penuturan Junsu akan sangat berguna baginya. Dia sekarang sudah mengetahui bahwa dialah pemain utama. Oleh karena itu, Changmin perlu menyelesaikan hal ini.

Eh, bagaimana kabar Kyuhyun ya? Sudah lama sekali mereka tidak berhubungan. Apa Kyuhyun tahu tentang kecelakaan ini?

Cklek!

Changmin mendengar suara pintu terbuka. Mungkin itu Yoochun, atau mungkin juga Kevin. Oh bisa jadi itu ayahnya, Jaejoong atau siapapun yang mau menjenguk dirinya. Mungkin juga itu dokter ataupun suster. Maka dari itu Changmin tidak berniat untuk menoleh—sekedar untuk melihat—toh nanti orang itu akan mendekatinya.

Suara langkah kaki semakin mendekat. Changmin hanya diam saja, menunggu. Tetapi orang yang datang itu masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Jadi, Changmin memilih untuk memutar kursi rodanya, agar bisa melihat siapa yang datang.

"Hai, Changmin. Bagaimana keadaanmu?"

Changmin menggerenyitkan dahinya ketika dia melihat sosok seorang namja—yang dia perkirakan berumur lebih tua darinya—berdiri dihadapannya dengan sebucket mawar kuning dan ungu yang dirangkai dengan sempurna. Namja itu tersenyum, memberikan bucket mawar itu kepada Changmin. Changmin menerimanya dengan ragu.

"A-apa kita pernah saling... mengenal?" tanya Changmin hati-hati, takut menyinggung perasaannya. Seingatnya Changmin tidak pernah bertemu dengan namja ini. Jadi, siapa dia?

"Oh, aku Choi Dongwook." Namja itu mengulurkan tangannya ke arah Changmin. Changmin meletakkan sebucket mawar kuning dan ungu itu di pangkuannya. Mencoba membalas jabatan tangan namja itu dengan tangan kanannya yang masih diberi gips. "Ah, tidak usah dipaksakan." Dia menarik tangannya. "Oh, kau boleh memanggilku Se7en-hyung. Aku lebih senang dipanggil begitu."

Changmin masih memandangnya tidak mengerti.

"Ah, sudah kuduga. Mr. Shim memang tidak pernah menceritakannya kepadamu, ya?"

Pertanyaan itu semakin membuat Changmin bingung.

Laki-laki bernama panggilan Se7en itu tersenyum. "Aku mulai darimana ya? Hm, begini, jadi ayahku dan ayahmu sudah berteman sebelum kau dan aku lahir. Mereka berteman dekat, bahkan sangat dekat. Lalu aku lahir, dan... ah ayo kita skip. Ayahku bilang waktu umurku dua tahun dan kau baru saja lahir, ayahku berencana untuk menjodohkan kita. Tetapi itu masih niatnya, dia belum memberitahu hal ini kepada ayahmu." Se7en memberikan jeda sebentar, memperhatikan reaksi Changmin yang menatapnya tidak percaya. "Rencana itu belum bisa dia beritahukan kepada ayahmu karena pada saat itu keluargaku pindah ke Los Angeles, ayah pindah bekerja ke NCIS LA. Lalu, di suatu negara, kebetulan mereka bertemu. Disana umurku masih sepuluh tahun, itu artinya umurmu delapan tahun. Ayahku memberitahu keinginannya kepada ayahmu. Ayahmu ragu. Dia bilang dia akan memberitahumu akan hal ini ketika umurmu sudah menginjak duapuluh tahun. Lagipula ayahmu itu selalu menuruti keinginanmu, jadi terserah anaknya."

Se7en tertawa kecil sebelum dia kembali bercerita.

"Agak lucu juga ya? Aku baru datang dan langsung memberitahukan hal ini kepadamu."

Changmin hanya diam. Dia memandang Se7en dengan bingung.

"Ah, biar kulanjutkan. Setelah itu ayahmu dan ayahku lost contact. Mereka tak bertemu dan berkomunikasi lagi selama bertahun-tahun. Dan pada suatu hari, aku dan ayahku diminta oleh NCIS Singapore untuk membantu menangani kasus pembunuhan berantai di hotel Kavier. Dan ketika sedang melihat TKP, ayahku bilang bahwa Mr. Shim juga datang kesini, dengan anaknya. Oh, sekedar untuk pemberitahuan, aku sudah tahu tentang rencana perjodohan ini sejak umurku delapan tahun. Oleh karena itu aku sangat ingin sekali melihatmu, bertemu denganmu. Dan disana, aku melihatmu. Ingin aku menyapa, tetapi aku sudah disuruh kembali ke LA karena kasus baru, sedangkan ayahku masih disana."

Se7en mengacak rambut Changmin secara lembut, membiarkan namja itu memproses segalanya.

"Nah, disana ayahku menagih janjinya. Dan ternyata, Mr. Shim mengatakan bahwa kau sudah punya kekasih, dan dia tidak bisa memaksamu untuk memutuskan kekasihmu. Jadi, yang bisa ayahku lakukan hanya membuang napas. Keinginannya selama bertahun-tahun pupus sudah. Jadi kesimpulannya, aku adalah tunanganmu jika kau tidak bertemu dengan orang yang menjadi kekasihmu sekarang."

Changmin yang tidak sengaja membuka mulutnya membuat mulutnya tertutup kembali. Dia agak kaget dengan cerita itu. Apa yang dikatakan namja bernama Se7en ini benar? Apa ia hanya salah satu teman dari temannya yang menjahilinya? Tetapi... bagaimana dia bisa tahu banyak? Ah, maksudnya dia tahu bahwa Changmin ikut ke Singapura Januari lalu.

"K-kau tidak sedang bercanda, 'kan?"

Se7en tersenyum. "Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Sebelumnya maaf karena aku tiba-tiba menceritakan hal ini, padahal niat utamaku hanya untuk menjengukmu saja. Tetapi aku tidak tahan untuk mengatakannya, aku menyesal karena baru bertemu denganmu ketika kau sudah punya kekasih. Ah, andai saja aku tidak terlambat. Mungkin kita sudah bertunangan sekarang."

"Ba-bagaimana cara agar aku percaya pada ceritamu?"

Se7en tersenyum lagi. "Aku datang kesini tidak sendiri. Aku bersama ayahmu. Tetapi dia bilang dia harus menemui kekasihmu, jadi aku datang ke kamarmu sendiri. Sebentar lagi dia juga akan datang. Dan untuk pemberitahuan lagi, aku pindah sekarang. Maksudku aku bekerja di NCIS Korea sekarang, pindah dari LA—tetapi ayahku masih tetap disana. Alasan aku pindah kesini; pertama karena aku memang ingin, kedua karena aku berharap masih ada kesempatan untukku. Rencana perjodohan konyol yang diinginkan ayahku benar-benar mengikat padaku. Aku benar-benar ingin memilikimu. Apalagi setelah melihatmu sekarang. Mendengar tentang sifat, kebiasaan dan hal-hal yang kau benci dan kau suka dari mulut ayahmu membuatku semakin tertarik kepadamu."

Changmin menggeleng pelan. "Tapi aku sudah punya pacar."

"Aku tahu." kata Se7en. "Tetapi bukan berarti harapanku pupus, benar?"

Changmin hanya diam ketika Se7en menarik kepala Changmin dengan lembut dan mengecup helaian rambutnya dengan tempo lama. Bukannya ingin berhianat kepada Yoochun, tetapi mendengar pengakuan Se7en membuat Changmin tidak bisa berkutik. Oh, tidak. Changmin yakin tidak ada debaran baru di jantungnya. Tetapi... kegigihan namja yang ingin memilikinya ini sungguh membuat Changmin kagum.

"Mawar kuning yang aku berikan mempunyai arti kesembuhan. Sedangkan yang ungu mempunyai arti cinta pada pandangan pertama." ucap Se7en lembut, dengan posisi yang masih mencium rambut Changmin.

Cklek!

Pintu terbuka. Changmin segera mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan melihat ada ayahnya bersama Yoochun berdiri di ambang pintu. Se7en tersenyum. Menjauhkan dirinya dengan lembut dan setelah itu menyapa.

"Ah, kau Park Yoochun itu ya? Salam kenal. Aku Choi Dongwook, tetapi kau dapat memanggilku Se7en. Mr. Shim bilang kita seumuran."

Yoochun memandang Se7en dengan tatapan tak suka. Dia berjalan mendekat ke arah Changmin. Mr. Shim hanya tersenyum seraya menutup pintu.

"Nah, Yoochun. Jadi, seperti yang sudah Appa ceritakan tadi, dia adalah calon tunangan Changmin sebelumnya. Tetapi tenang saja, pertunangan itu batal karena Changmin sudah memilih Yoochun. Benar bukan?"

Yoochun mendekatkan bibirnya ke telinga Changmin, berbisik. "Apa saja yang dia lakukan tadi?"

Changmin menggeleng pelan. "Dia hanya memberiku bunga, memberitahukan tentang rencana pertunangan yang gagal total itu dan... ya Hyung melihat sendiri bahwa dia... mencium rambutku."

"Dan kau diam saja?"

"Demi Tuhan, Hyung, jangan marah padaku. Tadi aku masih shock mendengar pengakuannya, dan aku hanya bisa diam ketika dia mencium rambutku."

"Yoochun, Changmin, tidak baik berbisik di depan orang." kata Mr. Shim agak tegas.

Yoochun segera menjauhkan wajahnya dari Changmin dan tersenyum meminta maaf. "Maaf Appa."

"Nah, Dongwook, kuharap kau bisa melupakan keinginan ayahmu itu. Kau bisa lihat sendiri bukan bahwa Changmin sudah memilih Yoochun? Bahkan jika mereka sudah pulih, mereka akan bertunangan, dan setelah itu menikah."

"Aku mengerti." kata Se7en. "Tetapi tidak ada salahnya menunggu, bukan?" lanjutnya seraya tersenyum licik.

Mr. Shim hanya dapat mengangguk mengiyakan. Dia tidak bisa membalas ucapan itu. Dia tahu bahwa sifat Se7en yang begitu gigih untuk mendapatkan keinginannya tak bisa ditahan oleh siapapun. Dan inilah yang ditakutkan Mr. Shim sekarang. Dia takut Se7en akan merebut Changmin disaat dia sudah percaya bahwa Yoochun akan menjaga anaknya dengan baik.

"Oh, hanya sedikit informasi untukmu," kata Yoochun. Wajahnya menunduk, mencium pelipis Changmin agak lama dengan matanya yang masih menatap Se7en dengan tajam. "Pilihanmu untuk menunggu adalah sebuah kesalahan. Karena selama apapun kau menunggu, Changmin tidak akan jatuh padamu."

"Oh, kalau begitu aku tidak akan menunggu. Aku merebut disini."

.:o~o:.

COMPLICATED!

Oh maaf kalau kalian gak suka dengan kehadiran Se7en, tapi aku sukaaaaa X3

Jadi lebih rumit 'kan? Percintaan makin rumit, Death Cycle juga makin rumit kekeke *dilemparkesumur*

Jangan kelewat chapter sebelumnya lho~ ada chapter 4, 4A dan 4B :)

MinkyuKihae : Ya, sepertinya hehehe :D

MinKi Lie : Huooo yosh! Saya udah update! Tadinya mau bikin Kemaru, tapi jadinya KiVin hehehe :D

Natsue : Ya sepertinya begitu sih hehehe. Wah dia baik-baik aja kok di rumah saya *diinjekMinho*. Wah, ini udah yang palin fast nih, kan pake sp**dy (apaan coba?). Hahaha tuh kan, banyak yang kelewat chapie 4 nya hehe :D

pumpkins : Semoga saja bisa hehehe. Wah, tanggung jawab? Aku menghamili anak orang? *rusuh* *digoreng*. Haha siiiipp ini update fast~

chidorasen : Ne gomawo juga udah review :3. Wah ada saatnya itu (tapi saya juga gak tau kapan) *dilemparkemonas*. Wew, rahasia :p (author sarap). Yosh! Semangaaaaaaaaaaattt! With love too, Yuri Masochist X*

Miaw. Miaw : Ya, chapter tenang sebelum tegang *ups. Semoga saja hahaha. Waaahh, muka Kevin dan Kiseop gampang diinget kok, kaya muka saya *disate*. Semangaaaaattt! Aku? Dari bandung :3. Ne gomawo ya unnie~

zakurafrezee : Main T.T tapi yang ini lumayan panjang kok. Ehehehe gimana ya? *diinjek* terserah nanti deh kekekek

PoLipo : Mianhae T.T yang ini lumayan panjang gak? Semoga deh hahahaha *dicekik*

ressijewelll : Ne, aku baru kelas 2 SMA :) Makasih ya :D. Yosh! Saya sudah update XD

Meong : Yang 365 nyawa itu pilihan dari Dia. Kalau Changmomo pilih ngebunuh 365 orang di tahun ini, maka Death Cycle 2012 berhenti. Jumlahnya 365 karena biar sama kaya jumlah hari dalam satu tahun, kalau kaya gitu kan tingkat kesulitannya gede :) makasih ya udah koreksi, aku kasih penjelasannya aja. Semoga aja Kevin bisa bantu kekekeke *kabur*. Ne, ini sudah updaet yosh! :D

zen hikari : Gwenchana :D. Hoho makasih ya. Yosh! Update nih! X)

KaiHyun : Wah, jangan minta maaf. Saya aja kadang susah bacanya soalnya banyak banget nama :). Thank you so much *hug back and give u a kiss* *digoreng*

Lee Hyuknie : Wah gomawoooo :D. Siip ini lanjut kok hehehe

saera park : Waw hebat baca kebuuuuut *tepuk tangan* salut deh :) makasih ya udah luangin waktu buat baca FF , aku udah update sekarang :D. Gomawo yaaaaaaaa~

mutun : Mianhae~ aku butuh cast baru untuk kebutuhan cerita T_T

shim minsu : Yosh! Sekarang udah update lagi! Semoga saja ya kekekeke. SEMANGAT! Gomawo yaaaaaa~

Ticia : Yap. Yang di koridor rumah sakit waktu gak sengaja tubrukan. Yap. Eh kenapa merinding? :/ pasti karena kedatanganku ya? (emangnya lu apaan thor?)

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin | Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung a.k.a ejinki | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu | Natsue | michio giichi chan | mhiakyu | missrama | Zhao Gui Xian | magiciankunai | Ruffy tabooty | EviLisa2101 | Shim Minsu | dew | jungyunhae | Shania9ranger | yui | CloudSomniaLoveYunJae | Reader menunggu | scuit | MinkyuKihae | Reinatta | vitthia | anon | Cho min ri | Yui-chunnie | KaiHyun | cho-choi | E.V.E | puzzpitjewelforever | moonHJ | Lee Hyuknie | saera park dan untuk semuanya.

Siapa yang namanya kesebut 2 kali? :/ atau ada yang belum kesebut? Kasih tau ya :)

Just call me Yuri :)

With love, Yuri Masochist

PS : Kalau ada yang reviewnya gak kebales di 4B, itu artinya ketika aku publish chap ini kalian baru review, jadi aku gak tau. Mianhae~