"Biar aku saja," ujar Yesung saat mendengar bel pintu yang berbunyi. Heechul yang baru akan pergi membuka pintu pun mengangguk, dan memilih pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang lain.
Tanpa menunggu lama dengan langkah yang sedikit cepat Yesung pun berjalan menuju pintu. Bunyi bel pintu masih terdengar, dan sekarang ia sudah memegang kenop pintu lalu memutarnya. Dan saat membuka pintu— raut wajahnya langsung berubah.
"Annyeong, Yesung ssi. Selamat malam."
Lee Donghae sekarang ada di hadapannya.
.
.
.
.
My Little Family © Choi RinRi
Main Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook
Rated : T
Disclaimer : Super Junior is belongs to God.
Genre : Romance, Family, & Hurt/Comfort.
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, M-Preg.
.
.
[Chapter 6]
.
.
Donghae merasa ada yang aneh pada namja di hadapannya ini. Ia merasa dirinya seperti orang jahat yang patut untuk diwaspadai. Bukannya menjawab sapaannya, Yesung justru hanya menatapnya intens. Memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu sebaliknya dan terus begitu.
"Yesung-ssi?" panggil Donghae sembari tersenyum kaku. Ia dapat merasakan aura yang cukup kurang menyenangkan dari mantan suami sahabatnya ini. Yesung terus memperhatikannya.
Apakah malam ini ada yang salah dengan penampilanku, inner Donghae karena terus diperhatikan.
"Siapa yang datang, Jongwoon?" merasa putranya tak juga kembali, Heechul memilih untuk menghampirinya. Ia tersenyum manis saat melihat siapa yang menjadi tamu mereka malam ini. "Lee Donghae… benar, khan?"
Seseorang memanggil namanya, membuat Donghae menoleh pada sosok lain yang berdiri di belakang Yesung. Ia tidak mengenal namja yang menurutnya kelewat cantik itu, tapi namja itu justru mengetahui namanya dengan sangat baik. "Aku Kim Heechul, kau temannya Ryeowook, khan?" tebak Heechul kembali.
Sekilas Donghae terlihat mengangguk, "Ne, Kim Heechul-ssi." ujar Donghae sembari tersenyum.
"Jangan terlalu formal, panggil saja aku ahjumma," Heechul tertawa saat berkata seperti itu, "ayo masuk, kau datang tepat waktu." ujar Heechul sembari merangkul pundak Donghae, terlihat seperti teman dekat walau faktanya mereka baru saja bertemu hari ini. Membawanya masuk dan meninggalkan Yesung yang masih mematung di tempatnya.
Yesung masih bediri di depan pintu, tangannya pun masih bertengger di kenop pintu. Sayup-sayup ia bisa mendengar Heechul yang asyik mengobrol dengan namja bernama Lee Donghae itu, atau terkadang heboh karena melihat seorang anak kecil yang menurut Heechul sangat manis bernama Lee Hyukjae.
Yesung sempat berpikir berpikir, siapa yang menjadi anak dan siapa yang menjadi tamu? Yesung ditinggal begitu saja seperti ini, sedangkan Donghae disambut begitu ramah oleh Heechul.
Oh, Yesung begitu kekanakan. Cemburu karena kedekatan Heechul dan Donghae. Ini baru permulaan, dan ia tak tahu— apa yang akan terjadi jika ia melihat kedekatan Ryeowook dan Donghae nanti.
.
.
.
.
"Hyukjae!" pekik Jongie riang saat melihat teman barunya kini berada di dalam rumahnya. Ia pun menghampirinya dengan sedikit berlari. "baru sampai, ya?"
Hyukjae mengangguk semangat, dan namja kecil itu tersenyum lebar. Tapi tak lama, raut ceria itu berubah saat melihat sesuatu yang membuatnya bingung. "Eh, Jongie habis menangis, ya?" Hyukjae penasaran, ia pun sedikit mencondongkan wajahnya dan memperhatikan Jongie dengan kedua matanya yang lucu.
"Aniya! Aku ini jagoan, mana mungkin menangis!" elaknya, kemudian mengusap kedua matanya yang memang memerah.
"Dan seorang jagoan tidak mungkin berbohong, sayang." Ryeowook keluar dari dapur sembari membawa sepiring besar berisi kimchi. Ia tersenyum geli saat melihat Jongie yang terkejut dengan perkataan ibunya itu.
"Umma!" pekiknya, membuahkan sebuah tawa dari Ryeowook yang kini sibuk menata makanan di atas meja.
Ditengah kehebohan Jongie yang kini menarik Hyukjae untuk membawanya menuju kamar tidurnya, Yesung kembali ke tengah-tengah keramaian para namja di rumah ini. Heechul masih saja terlihat mengobrol dengan Donghae, sedangkan Ryeowook juga masih dengan telaten menata satu persatu piring-piring dan gelas di atas meja.
Yesung seperti orang kehilangan arah. Ia hanya diam, berdiri di tengah-tengah ruang makan sembari memperhatikan Heechul, Donghae, dan tentunya Ryeowook secara bergantian. Ia sekilas terlihat melirik Donghae yang kini duduk di samping Heechul di sofa, dan namja yang diliriknya itu membalas tatapannya beserta senyuman ramah disela asyiknya ia menimpali obrolan heboh seorang Kim Heechul.
"Ryeowook-ah, biar kubantu."
Baru saja mereka bertemu pandang, tapi tiba-tiba Donghae membuatnya sedikit terkejut saat berkata ingin membantu mantan istrinya dan kini bangkit untuk berjalan menghampiri Ryeowook.
Ryeowook terlihat tersenyum, dan ia berkata pada Donghae agar tidak perlu membantunya karena sebentar lagi ia pun selesai dengan pekerjaannya. Lagipula ia tidak ingin merepotkan Donghae. Makan malam ini adalah balasan untuk penolakannya atas ajakan Donghae yang menawarinya makan malam bersama di luar. Hanya dengan Donghae. Hanya berdua saja tanpa Hyukjae.
Yesung diam-diam memperhatikan keduanya. Dan ia menatap malas adegan saling tolak menolak antara Donghae dan Ryeowook, yang bisa ia tebak jika ujungnya Ryeowook pun akan tetap menerima bantuan Donghae.
Dan lihatlah, kini keduanya dengan manis berjalan bersama menuju dapur dan kembali ke meja makan dengan membawa sepiring makanan. Mereka terlihat ceria hari ini, dengan diselingi obrolan ringan dan tawa renyah diantaranya.
Dan Yesung yang melihatnya, baginya terlihat menggelikan. Menjengkelkan. Menyebalkan.
Oh, apa yang membuatmu merasa seperti itu, Kim Jongwoon?
Dengan sedikit kasar ia menghempaskan tubuhnya pada sofa, duduk di samping Heechul yang juga diam-diam memperhatikannya.
"Itulah sulitnya terlalu mementingkan ego," Heechul tersenyum jahil saat Yesung menoleh padanya. "kau semakin terlihat bodoh dengan gengsimu yang tak penting itu."
Yesung mendelik, "Apa maksud Umma?"
"Anak bodoh memang sulit untuk cepat mengerti ucapan seseorang."
"Ya!"
Heechul tertawa dan membiarkan Yesung yang kini menatap kesal padanya.
"Halo, jagoan!" sapa Donghae pada Jongie yang datang bersama Hyukjae ke ruang makan. Sepertinya ia sudah cukup puas mempamerkan DVD game terbarunya pada Hyukjae.
"Nemo Ahjussi!" Jongie kembali memekik riang, kemudian menghampirinya dan meminta gendong. Seperti biasa, Jongie memang sering meminta gendong pada siapapun yang dikenalnya.
Saat datang Hyukjae sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah karena melihat Jongie, dan setelahnya keduanya justru asyik bermain di kamar Jongie. Jadi wajar saja putra dari Kim Jongwoon dan Kim Ryeowook itu baru melihat Donghae malam ini, yang baru bisa masuk ke dalam rumahnya setelah mendapat tatapan aneh dari Yesung.
"Wah, Hyukjae, Jongie pinjam appamu sebentar, ya!" goda Ryeowook sembari menata makanan di atas meja. Memperhatikan Hyukjae yang berdiri di dekat kursi meja makan.
"Ne, Ahjumma! Tapi jangan lama-lama, ya!"
Ucapan polos Hyukjae seketika mengundang tawa penghuni di rumah ini, terkecuali Yesung.
.
.
.
.
Malam ini Ryeowook terlihat senang. Sedari tadi senyuman manis tak terlihat pudar dari wajahnya. Ini untuk pertama kalinya ia bisa merasakan makan malam bersama dengan banyak orang selain bersama Jongie.
Ada putranya yang tampan, ada 'ibu'nya yang cantik, ada teman barunya yang menawan beserta putranya yang manis, dan… ada mantan suaminya— Yesung.
Jadi seperti ini ya rasanya memiliki keluarga…
Meja persegi panjang berukuran sedang itu kini terisi oleh 6 orang. Di samping kanan ada Heechul, lalu disebelahnya ada Jongie, dan Yesung yang terakhir. Sedangkan di samping kiri ada Donghae dan Hyukjae yang duduk bersebelahan, dan terakhir Ryeowook yang berada di samping Hyukjae.
Yesung dan Ryeowook, duduk berhadapan tak membuat mereka melakukan kontak mata— walau tak disangkal saling melirik terjadi diantara keduanya.
"Aku membuka usahaku sendiri, yaitu dibidang otomotif." Ujar Donghae saat Heechul bertanya tentang karirnya, "aku membuka bengkel mobil dengan memiliki beberapa cabang."
Heechul mengangguk setelah menyuap makanannya, "Pintar dalam merancang mesin mobil, ya? Maka dari itu kau membuka usaha bengkel?" tanyanya, dan Donghae terlihat tertawa saat akan menjawab.
"Membuka bengkel hanya keinginanku saja, tak ada alasan khusus, dan aku tak pernah turun langsung ke dalamnya. Karena aku sendiri tak mengerti hahaha. Aku lebih mempercayakannya pada orang-orang terdekatku," ujar Donghae, "aku tidak mengerti soal mesin. Jangankan untuk merancang mesin, dalam hal mengemudi saja aku ternilai payah. Hahaha." Jawabnya sembari tertawa.
"Sepertinya aku harus berhati-hati jika nanti satu mobil denganmu." Canda Ryeowook, kembali mengundang tawa Donghae.
"Satu mobil? Kalian sering berkencan?" dengan ekspressi yang terlihat datar tiba-tiba suara lain ikut terdengar dalam pembicaraan. Pertanyaan Yesung tadi cukup membuat perhatian yang lain kini tertuju padanya. Mungkin terkecuali Jongie dan Hyukjae yang lebih menikmati makan malam mereka dibanding mengurusi obrolan orang dewasa.
"Apa?" tanya Ryeowook. Ia sedikit tak menangkap ucapan Yesung, jadi ia meminta namja itu mengulanginya. Tapi namja itu justru hanya diam, tak lama menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, lupakan saja." Dan Yesung lebih memilih kembali melanjutkan acara makannya dalam diam.
Ryeowook menghela nafas, Heechul menggeleng pelan, sedangkan Donghae kembali menyuap makanannya sembari diam-diam tersenyum. Sebenarnya ia mendengar jelas ucapan Yesung, tapi berhubung melihat reaksi Yesung yang sepertinya tak ingin mengungkit lebih jauh tentang ucapannya, jadi ia memilih ikut diam saja.
"Ngomong-ngomong," Donghae kembali bersuara, kemudian menelan habis Bibimbap yang sebelumnya masih sibuk dikunyahnya, "ternyata temanku ini pintar memasak, ya." lanjutnya.
Ryeowook merasa wajahnya menghangat saat mendengar Donghae memujinya. Ia tersenyum simpul dan Donghae membalasnya dengan senyuman yang terlihat menawan.
"Terimakasih, Hyung."
Donghae mengangguk kecil, "Ya, dan seseorang yang pandai memasak merupakan salah satu tipikal istri idam—"
"Ukhh— uhuk! Uhuk!"
Belum selesai Donghae melengkapi ucapannya, tiba-tiba Yesung tersedak. Padahal baru saja makanan masuk ke mulutnya dan belum sempat dikunyah. Membuat pasang mata lainnya menatap padanya.
"Hati-hati, Jongwoon. Ceroboh sekali, sih." nasihat Heechul. Ia pun menyodorkan segelas air pada Yesung yang langsung diminum cepat oleh namja itu.
"Appa! Gwaenchana?" tanya Jongie setelah menelan kimchi yang awalnya memenuhi mulut kecilnya hingga pipinya terlihat menggembung.
Yesung mengangguk, dan ia tersenyum tipis, "Ne, gwaenchana."
Dan makan malam pun kembali berjalan dengan diselingi obrolan ringan ataupun tawa riang— selain tingkah-tingkah aneh Yesung. Entah itu kembali tersedak, berisik saat menggunakan peralatan makan, atau pura-pura terbatuk jika Ryeowook dan Donghae sudah larut dengan obrolan mereka.
Sepertinya kata aneh semakin melekat saja pada dirimu, Kim Jongwoon.
.
.
.
.
"Rasanya menyenangkan bisa makan malam bersamamu," ujar Donghae saat kini ia dan Ryeowook sudah berada di luar rumah. "Hyukjae terlihat senang sekali, bahkan sampai tertidur seperti ini." Donghae terkekeh pelan sembari mengusap-usap punggung Hyukjae yang kini tertidur di gendongannya.
Ryeowook tersenyum manis, "Maka dari itu, seringlah datang kemari, jangan hanya saat makan malam seperti sekarang saja," kata Ryeowook seraya menutup pintu rumahnya, ia pun berjalan menuju gerbang rumahnya dan diikuti Donghae yang berjalan di sampingnya. "Hyung juga sepertinya sudah cukup dekat dengan Umma, ya? Dia itu namja yang sedikit jutek, lho. Tapi denganmu ia bisa bersikap seramah itu." Ujar Ryeowook sembari tertawa.
Donghae tersenyum lebar mendengarnya. "Ya, begitulah, Ummamu orang yang sangat menyenangkan. Aku berpikir jika liburan sekolah untuk pergi bertamasya bersama kalian pasti akan menjadi liburan terbaik."
"Wah, ide yang bagus!" ucap Ryeowook semangat. Ia berpikir pasti rasanya akan sangat menyenangkan. "Oh, ya, ngomong-ngomong Heechul Umma itu sebenarnya bukan ibuku, tapi—"
"Mantan mertuamu." Tebak Donghae cepat, Ryeowook menganggukan kepalanya.
Ryeowook masih menunggu di depan gerbang saat melihat Donghae yang terlebih dahulu membawa masuk Hyukjae ke dalam mobilnya dan mendudukannya di jok samping tempat pengemudi. Dan ia dibuat tersenyum saat melihat Hyukjae yang sedikit merengek karena tidurnya terganggu dan Donghae segera mencium pipinya agar namja kecil itu kembali merasa nyaman dalam tidurnya.
Hyukjae hari ini benar-benar puas bermain bersama Jongie. Setelah makan malam keduanya memilih kembali menghabiskan waktu mereka dengan beberapa mainan terbaru milik Jongie yang didapatkan putranya itu dari Yesung dan juga Heechul. Atau terkadang terdengar teriakan-teriakan heboh dari dua murid taman kanak-kanak itu saat bertarung game. Hingga Ryeowook lah orang pertama yang menemukan keduanya dalam keadaan tertidur di karpet, mungkin kelelahan karena terlalu banyak bermain.
Donghae menutup rapat pintu mobilnya, kemudian berjalan menghampiri Ryeowook. "Baiklah, ini sudah hampir larut malam, aku pamit!" ujar Donghae sembari tersenyum dan mengacak rambut Ryeowook gemas. Memperlakukan Ryeowook selayaknya anak kecil. Dan mendapat respon seperti anak kecil juga saat Ryeowook yang terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Ya, hati-hati, telpon aku jika tiba-tiba kau lupa cara menyetir."
"Bodoh!" dan Ryeowook tertawa saat Donghae menjitaknya. "Sudah, ya, aku titip salam untuk Heechul Ahjumma. Semoga beliau tahan mempunyai mantan menantu sepertimu!" Donghae tersenyum jahil.
"Dasar! Sudah sana pulang!" Ryeowook yang gemas kini memberikan tinjuan ringan di lengan teman barunya itu.
Donghae mengangguk, dan ia pun melesat masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya. Ryeowook masih juga berdiri di depan gerbang, ia tak akan kembali masuk sebelum Donghae benar-benar pergi dari rumahnya. Menurutnya, masuk ke dalam rumah sebelum tamu benar-benar pergi merupakan perilaku tak sopan seorang tuan rumah kepada tamunya yang ingin pulang.
Tiba-tiba kaca mobil Donghae terbuka, menampilkan Donghae yang kini menatapnya. "Dan titipkan salamku juga pada Yesung-ssi, katakan padanya untuk terus memperjuangkan cintamu!"
"Mwo?!"
Belum sempat Ryeowook mendapat penjelasan, Donghae sudah memilih untuk melajukan mobilnya. Tidak dalam kecepatan tinggi memang, karena Donghae mungkin akan kehilangan nyawanya jika melakukannya. Payah.
.
.
.
.
Yesung sedikit terkejut saaat seseorang menepuk bahunya. Dan ia mendapati Heechul yang memperlihatkan wajah tanpa dosanya walau baru saja membuatnya terkejut. Dan memang dasarnya Yesung yang payah dalam berekspresi, ia tetap terlihat seperti tak terjadi apapun walau tadi ia dibuat terkejut.
"Jadi sekarang Kim Jongwoon memiliki hobi baru— mengintip?" tanya Heechul dengan wajah yang dibuat terkejut.
"Aku tak mengerti." Yesung bersikap tenang, walau dalam hati ia merasa dadanya bergerumuh karena tertangkap basah melakukan hal yang menurutnya sangat konyol ini.
Mengintip, terlebih yang menjadi objeknya itu adalah mantan istrinya. Oh, bukan Kim Jongwoon sekali.
"Berdiri di dekat jendela, memperhatikan sesuatu secara diam-diam dibalik gorden, atau bertingkah aneh saat objek yang dipandangi tiba-tiba tatapannya seperti terarah padamu— itu mengintip, khan?"
Yesung hanya bisa terdiam. Hancur sudah gengsi yang selama ini diangkatnya tinggi-tinggi. Hanya karena kebodohannya, Heechul membuatnya seperti orang yang salah tingkah. Telak sudah tuduhan Heechul padanya.
"Umma, aku— ah, sudahlah!" Yesung berseru kesal, sedikit menggaruk kasar rambutnya saat melihat seringaian Heechul yang membuatnya semakin kesal dan rasanya ingin memakan namja itu hidup-hidup jika saja ia tak mengingat Heechul adalah ibunya. "Aku tidak mengintip! Aku ingin cuci piring!"
Dan akhirnya itulah yang terdengar dari bibir Yesung sebelum ia memilih pergi menuju dapur untuk benar-benar mencuci piring. Sebuah kegiatan yang sangat jarang dilakukan olehnya. Meninggalkan Heechul yang tertawa geli karena alasan konyol putranya tersebut.
.
.
.
.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Yesung ketus saat menyadari Ryeowook yang tiba-tiba sudah berada di dapur, dan yang membuatnya sedikit merinding karena namja itu datang sembari terkikik seperti hantu— yang awalnya Yesung kira itu memang suara hantu, jika saja ia tak menoleh ke belakang dan mendapati Ryeowook yang bersandar di dinding dapur.
"Sejak kapan kau menjadi rajin, Jongwoon-ssi?" tanya Ryeowook dengan tatapan dan senyum jahilnya.
Yesung tak menggubris. Ia lebih memilih terus menbilas tumpukan piring kotor yang sebelumnya sudah diberinya cairan sabun. Sedikit lagi, Jongwoon… sedikit lagi selesai!
Bagi Yesung, mencuci piring bagaikan membangun rumah dengan kekuatan seorang diri. Terlihat penuh perjuangan saat Yesung yang melakukannya. Keringat bahkan sudah membanjiri wajah tampannya. Ia tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.
"Selesai." Ucap Yesung pelan, namun tersimpan kebanggan di dalamnya.
Ryeowook berjalan mendekat, kemudian mendudukan tubuhnya di kursi yang tauh dari tempat Yesung berdiri. Ia duduk dengan posisi sandaran kursi yang menghadap tubuh bagian depannya, "Kau… kapan pulang?" tanya Ryeowook, tanpa menatap Yesung yang kini meliriknya.
"Kau mengusirku?"
Ryeowook berdecak, sedikit susah jika berbicara dengan Yesung. Walau ia berbicara dengan baik-baik, Yesung selalu menganggapnya salah.
Membuatnya sedikit merindukan sosok Yesung yang dulu. Yesung yang begitu ramah padanya. Yesung yang selalu mengerti dirinya. Yesung yang selalu bisa menjadi sosok panutan dan sosok sandaran dalam bersamaan. Yesung yang jauh berkali lipat lebih baik dari Yesung yang sekarang!
Sekarang— Yesung yang menyebalkan, Yesung yang selalu ingin menang sendiri, Yesung yang jutek, Yesung yang gengsian, dan yang terpenting— Yesung yang pernah menaruh bayi di dalam perutnya dengan seenaknya sendiri!
"Oh, pendengaranmu sudah mulai bermasalah." Ujar Yesung karena tak kunjung mendengar Ryeowook menjawab pertanyaannya.
"Memang penting untuk kujawab?"
Oke. Perdebatan tak penting sepertinya akan kembali dimulai. Seperti biasa.
"Donghae itu kekasihmu?" Yesung mengalihkan pembicaraan, tapi justru topik pembicaannya ini tak bisa disebut membuat keadaan menjadi lebih baik. Yesung yang terlihat serius saat mengucapkannya.
Ia mengambil tempat di samping Ryeowook. Sesuatu yang sangat jarang Yesung lakukan, karena ia biasanya mengambil tempat dimanapun asalkan itu dapat membuatnya jauh dari Ryeowook.
Satu perubahan lagi dalam dirinya malam ini.
"Kau mau mendengarku menjawab apa? Ya atau tidak?" tanya Ryeowook, dan kini ia menoleh ke sampingnya. Memperhatikan Yesung yang saat ini lebih memilih menatap ke depan. Seakan kompor gas di hadapannya kini lebih menarik dibanding mantan istrinya.
"Tidak."
Satu jawaban, hanya satu jawaban yang singkat— tapi… Ryeowook merasa dadanya menghangat.
"Maksudku tidak tahu."
Oh, begitu…
"Aku tak peduli jika kau memiliki kekasih atau tidak."
Dan saat mendengarnya, Ryeowook merasa bibirnya menyungging sebuah senyuman miris, bahkan tanpa kemauannya sendiri.
"Ini tentang Jongie," dan Yesung menoleh pada Ryeowook. Untuk pertama kalinya, keduanya dapat berbicara dengan kontak mata yang terjadi. "aku tak ingin jika kau menjalin hubungan dengan namja itu, perhatianmu pada Jongie terbagi." Yesung menekankan.
Kali ini Ryeowook mendengus, dan ia tertawa. "Lalu kau pikir selama ini hubunganmu dengan Luna tak membuat perhatianmu untuk Jongie terbagi? Bahkan kalian berstatus suami istri!" sekali lagi Ryeowook tersenyum miris.
"Aku berbicara soal hidupmu, bukan hidupku!"
"Jangan pernah campuri hidupku!" Ryeowook merasa emosinya tersulut, ia bangkit dan kini menatap tajam Yesung dengan tangan yang menunjuk Yesung tepat di depan wajahnya.
"Aku tak suka kau berhubungan dengan Donghae! Itu saja!" Yesung pun melakukan hal yang sama, ia bangkit dari duduknya dengan emosi yang naik. Ia memang payah dalam pengontrolan emosi.
"Kau bilang ini karena Jongie? Lalu kau sebut apa hubunganmu dengan Luna? Apa?!"
"Kau—"
"Cukup!" bentakan Heechul membuat perdebatan keduanya terhenti. "Tidak bisakah kalian satu hari saja tak berdebat? Bisakan kalian berdua bersikap lebih dewasa? Kalian ini bukan lagi anak kecil!"
Baik Yesung maupun Ryeowook keduanya kini sama-sama terdiam. Yesung yang menunduk dan Ryeowook yang kembali mendudukan tubuhnya di kursi.
"Disini masih ada Jongie! Seharusnya kalian bisa lebih mengontrol emosi kalian untuk Jongie, anak kalian, bisakah?" lirih Heechul. Menatap kedua namja di hadapannya itu secara bergantian.
Heechul menarik nafas dalam, ia berpikir sepertinya ia sudah tak pelu lagi mengurusi masalah Yesung dan Ryeowook. Keduanya sudah sama-sama dewasa, ia tahu mereka bisa menyelesaikannya sendiri. "Jongwoon, Ryeowook, sebaiknya kalian beristirahat. Ini sudah larut malam."
"Aku mau pulang." Ujar Yesung, kemudian memilih melesat pergi. Meninggalkan Heechul yang untuk kesekian kalinya menghela nafas, dan meninggalkan Ryeowook yang kini menatap punggungnya nanar.
"Wookie," Heechul tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya.
Tak berpikir panjang, Ryeowook segera menghambur ke pelukan namja itu dan menangis sebanyak yang ia mau.
"Uljimma…"
.
.
.
.
"Oppa," Luna tersenyum kecil seraya mengusap pipi namja yang kini tertidur dengan kepala yang bersandar di ranjangnya. Yesung terlihat lelap dalam tidurnya, bahkan sinar matahari pagi yang masuk melalu ventilasi jendela kamarnya pun tak mampu membangunkan namja itu dari tidurnya.
Tak lama Yesung terdengar bergumam pelan, dan dalam hitungan detik berikutnya namja itu terbangun dari tidurnya. Tubuh Luna yang berbalut pakaian khas pasien rumah sakitlah yang pertama kali dilihatnya saat membuka mata.
Luna tersenyum saat melihat Yesung yang kini mengucek kedua matanya dan mencoba membiasakan diri dengan cahaya pagi. "Selamat pagi…"
Yesung mendongkak, dan ia tersenyum tipis. "Pagi."
"Kapan Oppa datang kemari?"
"Kemarin malam, saat kau sudah tidur," Jawab Yesung. Namja itu menarik kursi yang didudukinya agar lebih dekat dengan ranjang yang ditiduri Luna. "bagaimana hari ini? Sudah merasa lebih baik?"
"Tentu," jawab Luna seraya memainkan poni Yesung yang mulai memanjang, "aku sehat."
Yesung menggeleng, "tidak ada orang sehat yang terbaring di rumah sakit." Ujarnya yang dibuahi kekehan pelan yeoja di hadapannya itu.
Dalam diam Yesung memandangi keadaan Luna. Semakin hari bukannya semakin baik, ia merasa Luna justru semakin memburuk. Wajahnya terlihat pucat, pipi yang awalnya terlihat berisi pun kini berubah layaknya orang berpipi tirus. Tubuhnya semakin kurus. Dan yang paling membuatnya bergidik adalah tranfusi darah yang terus mengalir. Luna memang harus secara rutin menjalani tranfusi.
"Kau terlihat rapuh," Yesung mengusap pelan rambut yeoja itu, dan ia membisu saat beberapa helai rambut dengan mudahnya kini terurai di telapak tangannya. Ia tidak bodoh untuk menebak bahwa kerontokan rambut Luna bukanlah karena salah pemakaian nutrisi rambut.
"Aku kuat." Ujar Luna pelan, atau lebih cocok disebut berbisik. "Oppa— ukhh…" Luna meremas kuat seprai ranjangnya saat tiba-tiba rasa pusing dirasakannya. Rasanya sakit, sangat sakit.
"Luna? Gwaenchana?!" Yesung bertanya, tapi Luna hanya menggeleng lemah sembari menutup erat kedua matanya. Yeoja itu terlihat sangat kesakitan dengan beberapa kali ringisan yang terdengar dari mulutnya.
Selang setelah Yesung memencet tombol yang dapat memanggil suster maupun dokter ke kamar ini, cairan pekat mengalir dari hidung yeoja tersebut. Dan Luna nyaris kehilangan kesadarannya.
"Luna! Bertahan!"
.
.
.
.
Yesung menunggu dengan perasaan bergerumuh. Ia tidak suka saat-saat seperti ini, membuatnya teringat dengan beberapa cerita masa lalu yang juga mengalami hal yang sama. Dan jika mengingatnya, sungguh ia sangat membenci situasi seperti itu.
Takut kehilangan, inilah yang dirasakannya sekarang.
Kini ia hanya bisa diam menunggu di kursi tunggu. Menunggu Dokter yang kini sedang menangani Luna yang terus mengeluarkan darah dan mengerang kesakitan. Penanganan yang cepat membuahkan pemindahan kamar inap Luna. Dokter memutuskan untuk memindahkannya ke ruangan ICU.
Yesung terlihat gelisah. Kadang ia menyenderkan punggungnya, atau menumpukan keningnya pada sandaran kursi, dan kali ini ia memilih untuk menelusupkan wajahnya pada kedua tangan yang dilipat di atas kedua kakinya.
Ia hanya sendirian. Karena memilih untuk bersama Luna juga adalah pilihannya sendiri. Jujur saja, yang paling dibutuhkannya saat ini adalah seorang teman. Seseorang yang dapat sedikit menenangkan hatinya. Memberikannya semangat, atau juga menemaninya sampai penanganan dokter selesai.
Tapi semua itu tidak dialaminya.
Ia tipikal orang yang tertutup, bahkan nyaris bisa disebut anti sosial karena ia yang tidak ingin bergaul. Hidupnya begitu-begitu saja. Bangun pagi, berangkat bekerja, pulang larut, lalu seperti itu seterusnya. Atau mungkin selingannya hanya mampir ke rumah Ryeowook untuk bertemu Jongie. Ia bukan tipikal namja yang senang menghabiskan waktu untuk meminum soju bersama teman-teman kantornya. Dan untuk teman kantor, banyak yang dikenalnya, tentu saja karena ia merupakan seorang pemimpin. Tapi tak ada satupun yang dekat dengannya. Hanya hubungan teman biasa.
"Ini,"
Ditengah lamunannya, sebuah suara terdengar, dan ia yakin itu ditunjukan untuknya. Yesung mendongkak, sebuah kotak bekal makanan berada di hadapannya. Dan saat ia mendongkak kembali, wajah Ryeowook lah yang dilihatnya.
"Ryeowook?" Yesung menatap tak percaya, "Kau—"
"Jangan banyak bertanya, nanti akan kujelaskan." Ryeowook dengan ekspressi datarnya, yang mungkin ditirunya dari Yesung, kini memilih untuk duduk di samping namja yang masih memperhatikannya. Melihatnya dengan wajah yang penuh penasaran.
Yesung memilih menurut. Dan ia memperhatikan dengan detail segala sesuatu yang kini di lakukan Ryeowook. Namja itu membawa sebuah paper bag, dan dari dalam sana Ryeowook mengambil sebuah sumpit dan juga tempat minum yang Yesung yakini adalah milik Jongie.
"Kenapa memperhatikanku terus? Buka bekalnya, aku sudah membuatnya susah payah untukmu." Ujar Ryeowook, tanpa menyadari bahwa Yesung kini merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat!
Jadi… Ryeowook membuatnya khusus untuk Yesung? Begitu?
Yesung membuka kotak bekal pemberian Ryeowook. Dan langsung saja ia dapat merasakan perutnya bergerumuh meminta diisi saat melihat apa isinya. Gimbap, kesukaannya.
Yesung benar-benar pasif. Bahkan, saat Ryeowook berkata untuk tidak banyak bertanya, Yesung melakukan lebih dari itu. Ia tak banyak bertanya, dan bahkan sama sekali tak berbicara apapun! Namja itu hanya diam, memandangi bekal pemberian Ryeowook yang kini dipangkunya dengan tampang yang terlihat bodoh.
Ryeowook berdecak pelan, "Pegang ini," Ryeowook mengalungkan tempat minum bergambar tokoh kartun di leher Yesung. Dan Yesung yang memang tipikal penurut pun memegang tempat minum khas anak kecil itu. Saat Yesung melirik Ryeowook, ia dapat melihat namja itu mulai menyumpit bekalnya. "Sekarang buka mulutmu," Ryeowook menyodorkan sumpitnya.
Kedua alis Yesung terangkat, "Ap— ummh!" belum sempat ia bertanya, Ryeowook sudah memasukan Gimbap ke dalam mulutnya.
"Telan dan habiskan." Perintah Ryeowook, seperti apa yang sering ia katakan pada Jongie jika sedang menyuapi. Jika biasanya ia menyuapi putranya, kali ini ia sedang menyuapi Appa dari putranya. "Bagaimana? Enak, khan?" tanya Ryeowook.
Yesung dengan mulut yang penuh mengangguk pelan. Kedua matanya menatap Ryeowook, dan mantan istrinya itu terlihat tersenyum senang.
"Aku tahu kau pasti belum makan dan terlalu sibuk mengurusi istrimu," ujar Ryeowook, kemudian kembali bersiap untuk menyuapi Yesung lagi. "dan Heechul Umma menyuruhku untuk menemuimu dengan membawa bekal, ia akan marah jika tahu kau sakit. Dan Heechul Umma juga yang memberitahuku bahwa kau sedang di rumah sakit." Jelasnya.
Yesung mengumpat dalam hati saat Ryeowook kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya yang bahkan masih sibuk mengunyah. Demi Tuhan, sebenarnya Ryeowook berniat menyuapinya atau membunuhnya?
Yesung tahu ini adalah sebuah keganjalan jika Ryeowook tiba-tiba saja peduli padanya. Mereka tidak pernah akur, saling mementingkan diri sendiri, sering bertengkar, dan sebuah keajaiban jika tiba-tiba salah satu dari mereka dapat bersikap manis seperti yang Ryeowook lakukan sekarang. Dan ia mulai mengerti alasan apa yang menyebabkan Ryeowook bersikap seperti ini. Ternyata karena ibunya.
"Hey, kau ini lapar atau apa? Makan dengan perlahan!" dan kali ini Ryeowook mengomel saat Yesung yang tersedak. Sebenarnya ini salahnya sih, belum sempat yang di mulut ditelan oleh Yesung, Ryeowook sudah memasukan sumpitan Gimbap yang selanjutnya.
Ternyata diam-diam mengerjai orang itu memang menyenangkan.
Yesung menepuk-nepuk dadanya, sedangkan Ryeowook terus saja mengomel dan bahkan tangannya sudah menyiapkan sumpitan selanjutnya. Sama sekali tidak membantu. Ia menunduk dan teringat bahwa Ryeowook juga memberinya sebotol air. Ia sedikit kesusahan saat membukanya. Ia bingung bagaimana cara membuka tempat minum yang menurutnya laknat itu. Dan setelah mencari-cari cara, akhirnya Ryeowook jugalah yang membukakan untuknya dengan menekan salah satu tombol sambil mengatainya bodoh.
Tak!
Tutup minuman berbentuk bulat itu pun terbuka dengan cepat, dan munculah sebuah sedotan panjang yang menyembul di tengahnya. Tanpa berpikir panjang, persetan dengan tempat minum yang membuatnya terlihat seperti anak taman kanak-kanak ini, Yesung segera meminumnya.
Akh, lega rasanya!
"Nah, suapan selanjutnya!"
"Ryeowook— mphh!"
"Kunyah cepat!"
.
.
.
.
"Halmoni, kenapa sih hari ini Umma tidak mengantar Jongie ke sekolah? Kenapa Halmoni yang mengantar Jongie?"
"Ummamu sedang berpacaran dengan Appamu, jadi yang mengantar Jongie ke sekolah hari ini adalah Halmoni."
"Eh?!"
.
.
.
.
"Habis!" seru Ryeowook sembari menutup kotak bekalnya dengan semangat, kemudian kembali memasukannya ke dalam paper bag yang dibawanya. Ryeowook terlihat senang, sedangkan Yesung bernafas lega. Meskipun ia merasa tertolong karena Ryeowook membuat kebutuhan perutnya terpenuhi, tapi ia juga sempat merasa bahwa Ryeowook membuatnya tersiksa.
"Kau— tidak mengucapkan terimakasih, eoh?" Ryeowook memicingkan kedua matanya seraya menunjuk-nunjuk wajah Yesung dengan ibu jarinya.
Yesung hanya meliriknya sekilas, "Memang itu perlu?"
"Ya!" seru Ryeowook, "Jika bukan karena Heechul Umma yang meminta, aku mana mau datang menemuimu!"
"Memang kau pikir aku mau bertemu denganmu?" tanya Yesung seraya menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Sudah berlalu sekitar setengah jam yang lalu saaat Yesung merasa gelisah dan tak nyaman, tapi kini ia terlihat begitu santai dan terlihat tenang hanya karena kini Ryeowook bersamanya. Seolah ia lupa bahwa di dalam Luna sedang mengalami fase krisis.
Jika tak ingat rumah sakit, mungkn Ryeowook akan membalas ucapannya dengan kata-kata yang lebih pedas dan berujung mereka yang pasti akan bertengkar. Tapi kali ini Ryeowook memilih diam dan mengalah.
Datang ke rumah sakit— sudah. Bertemu Yesung— sudah. Memberinya makanan, bahkan sampai menyuapinya— sudah. Lalu apalagi? Kenapa kau terlihat enggan pergi dari dudukmu, Kim Ryeowook?
"Ngomong-ngomong…" Yesung menoleh. Ya, kali ini menoleh, bukan melirik. "terimakasih."
Ryeowook berkedip beberapa kali. Ia terpana saat melihat seyum Yesung yang sebenarnya terlihat sangat tipis. Dan suara berat itu… saat Yesung berterimakasih karenanya—
"Apa yang kau lihat?"
Dan dalam sekejap Yesung mampu merusak apa yang baru saja dipikirkan Ryeowook.
"Tidak." Jawab Ryeowook.
"Bagaimana keadaan Luna?"
"Kristis."
Ryeowook membulatkan mulutnya, "Semoga ia dalam keadaan baik-baik saja."
"Aku pun berharap begitu."
Dan kemudian hening.
Ryeowook merutuki dirinya karena dapat terjebak dengan manusia yang kaku dalam berekspresi seperti Yesung. Ia diam sembari memikirkan apalagi yang akan dilakukannya. Antar memilih pulang, atau menyusul Jongie dan Heechul ke sekolah, atau—
"Kau sangat mencintai Luna?"
Bertanya hal yang lebih dalam pada Yesung.
Yesung menatap lurus ke depan, "Jika kau bertanya apa aku peduli padanya, akan kujawab Ya."
Ryeowook mendengus, "Dan aku tidak bertanya seperti itu." Ujarnya. "Kutanya, kau sangat mencintai Luna?"
"Tidak."
"Mwo?!"
Yesung kembali menatap Ryeowook, merasa risih dengan reaksi super heboh yang diberikan Ryeowook atas jawabannya. "Waeyo?"
"Aniya, kupikir kalian saling mencintai. Maka dari itu kau sampai menikahinya dalam waktu cepat, bahkan jaraknya tak jauh dengan… perceraian kita. Hahaha." Ryeowook tertawa. Ya, tertawa, tawa yang terdengar begitu sumbang.
"Aku menikahinya karena aku peduli padanya. Aku ingin melakukan hal yang belum sempat kulakukan pada Appaku." Dan ucapan Yesung ini menjadi awal ia untuk kembali mengingat cerita masa lalunya. Ditambah Ryeowook yang terlihat penasaran dan menuntut penjelasan, akhirnya ia pun bercerita.
"Appaku, Kim Hankyung— dia seorang pengidap Leukimia, dan ia meninggal disaat penyakitnya itu memasuki stadium 3." Ujar Yesung memulai ceritanya. "dan kau tahu apa yang lebih menyedihkannya lagi?" tanya Yesung, Ryeowook menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Ia meninggal tepat sehari setelah perceraiannya dengan Umma."
Ryeowook menutup mulutnya yang membulat, "Omo… lalu?"
"Appa dan Umma bercerai karena permintaan Appa. Dan Umma yang tak tahu apapun tentu saja meminta penjelasan, dan ia mulai memberi tuduhan yang macam-macam pada Appa, contohnya saja tentang perselingkuhan yang sebenarnya tak pernah sama sekali dilakukan Appa."
"Lalu?"
"Sebenarnya alasan Appa ingin bercerai dengan Umma hanya karena ia tak ingin membuatnya sedih. Alasan konyol memang. Tapi itulah Appaku."
"Aku… Aku tidak mengerti." Tanggap Ryeowook sembari memperhatikan Yesung yang terlihat serius saat bercerita.
"Intinya, Appa lebih memilih melihat Umma membencinya dibanding harus melihat Umma menangis karenanya. Appa tahu umurnya tak akan lama, dan Umma selama ini tak pernah mengetahui penyakit Appa. Ia semuanya tahu setelah Appa meninggal." Yesung tersenyum miris, dan mungkin ia akan menangis jika saja saat ini ia tak bercerita pada Ryeowook, yang notabenya orang utama yang selalu membuatnya harus mengangkat gengsinya tinggi-tinggi.
"Itulah alasan Umma hingga di umurnya yang sekarang tetap memilih sendiri, tanpa pasangan. Ia sangat mencintai Appa. Dan ia berkata tak akan pernah menangis karena Appa, itulah janjinya sesuai permintaan Appa sendiri." Yesung menatap Ryeowook, kemudian kembali membuka mulut. "maka dari itu ia selalu terlihat jutek, galak, dan cerewet. Semua itu untuk menutupi sisi lemahnya, aku tahu itu."
Ryeowook mematung mendengar cerita Yesung. Kedua matanya memerah, ia ingin menangis karena terbawa suasana. Seolah ia bisa merasakan posisi Heechul saat itu. Ia tak menyangka bahwa Kim Heechul yang selalu terlihat keras itu sangatlah lembut di dalamnya.
"Jika saat itu aku tahu Appa memiliki penyakit Leukimia, mungkin aku akan segera mengambil tindakan untuk membawanya pergi ke rumah sakit. Aku menyesal tidak bisa menyelamatkannya." Yesung menunduk, terlihat rautnya yang penuh penyesalan, "Maka dari itu, aku ingin membantu orang-orang yang memiliki penyakit Leukimia seperti Appa agar dapat bertahan hidup— salah satunya seperti Luna." Ucapnya menutup ceritanya.
"Aku tak pernah berpikir bahwa ceritanya akan seperti itu."
"Ya, begitulah."
Untuk saat ini, keduanya melupakan masalah-masalah yang sering terjadi di antara mereka. Ryeowook memilih untuk menjadi pendengar yang baik dan Yesung yang bercerita dengan terperinci.
Dan keduanya tak tahu, apakah keadaan yang seperti ini akan bertahan lama atau tidak.
"Oke, sudah kujelaskan, khan? Jadi kau tak perlu bertanya apapun lagi. Membuatku pusing."
Ryeowook mendengus. Baru saja ia melihat sosok Yesung yang terlihat bijaksana dan berwibawa, kini sosok menyebalkan itu kembali muncul. Ingin sekali rasanya ia menggetok kepala besar itu dengan tempat minum— Ah, ngomong-ngomong soal tempat minum…
"Ternyata kau terlihat imut juga memakai tempat minum milik Jongie." nilai Ryeowook sembari menatap jahil Yesung yang kini terlihat memikirkan ucapannya.
Dan Yesung baru menyadari sedari tadi tempat minum dengan tali berwarna kuning cerah milik putranya itu sampai sekarang masih bertengger di lehernya.
"Aishh! Diamlah!"
.
.
[TBC]
.
.
[A/N]
Wohoooo! Ngebut banget saya ngetiknya XD Update disela ujian blok hehehe. Ngaret banget sih emang, maafkan saya-_-
Nah, YeWook sedikit-sedikit mulai akur ya :3 Biarpun keduanya masih sok-sok jaim gitudeh hihihi. Dan di akhir cerita saya sudah jelaskan alasan kenapa Yesung mau nikahin Luna, ya mungkin seperti itulah kiranya alasan Yesung hehe. Berhubung banyak yang nanyain juga.
Chapter ini saya belum bisa balas review satu-satu ya, tapi chapter depan saya bakal usahain. Janji deh! :3
BIG THANKS to: fieeloving13 | lenyclouds | R'Rin4869 | kim hyojung | Kim Min Ah | Kim Jongmi | .16 | Ri Yong Kim | nanissaa | EternalClouds2421 | sushimakipark | ddangkomom | krw's | Wooks | aca sewingline7 | ririn chubby | eunsoopark58 | Guest | niisaa9 | ichigo song | kiki craft | etwina | sycarp | jongwookie | yewook turtle | ryeo ryeo ryeong | Yulia CloudSomnia | yewook yeoja | eun ra | Devi AF | Dyathy | TabiWook | PurpleAddict |Phylindan |ryeofha2125 | hyukjae lee | hideyatsutinielf | Giie-tha1212 | Guest | Cloud'sHana | Kim Anna | Clouds jonglee | ji in | AiiuRyeong9 | himalayavenus | babyryou | Ryeo2119 | Tina KwonLee | qithienfivedhie | ByunnieFan | ryeosun | hanazawa kay
Terimakasih sudah review. Review kalian membuat kalian menjadi bagian dalam cerita ini, salah satu yang pernah diucapkan readers saya (yang bakal terus saya inget^^)
Mari kita saling menghargai— saya buatkan karya saya untuk menyenangkan kalian, kalian mengomentari karya saya untuk menyemangati saya.
Sayonara dan saya tunggu review kalian :-)
1 Juni 2013
Untuk semua readers yadong-ku,
[CHOI RINRI]
