Namaku Kim Jongie.
Ayahku Kim Jongwoon, dan ibuku Kim Ryeowook.
Ayahku sangat tampan. Nenek pernah bilang, jika aku adalah duplikat ayah saat dirinya masih kecil. Ayah sangat baik, ia selalu membelikanku banyak mainan dan menyebutku seorang jagoan.
Aku memang jagoan! Kim Jongie adalah seorang jagoan yang hebat!
Aku senang saat ayah bersamaku. Menemaniku bermain, membelikanku ice cream, menggendongku, mengusap rambutku sebelum tidur, dan banyak hal lainnya. Ayah akan selalu bersikap baik walaupun ibu sedang memarahiku. Ayah akan membelaku. Ayah sangat sangat sangaaaaaaaat baik!
Ayahku adalah ayah terhebat di dunia ini!
Dan ibuku sangat manis, walau ia adalah seorang namja. Walaupun hampir genetik ayah lebih menonjol pada fisikku, tapi ibu sepertinya tak ingin kalah. Ia mewariskan bibir merah berbentuk mungil ini padaku. Kata ayah, bibirku sangat indah. Karenanya ia sering mencium bibirku sebelum tidur.
Ah, aku jadi malu.
Ibu sangat baik padaku, sama seperti ayah. Walau terkadang ibu sering sekali mengomel dan sifat cerewetnya membuatku sebal sendiri. Terutama jika aku sudah memintanya untuk dibelikan mainan baru. Pasti ia akan langsung berkata; Jongie, kita harus berhemat. Uang akan lebih berguna jika digunakan untuk hal lain dibanding untuk ditukar dengan mainan baru.
Huh!
Walau begitu, aku sangat menyayangi ibuku, sama besarnya seperti aku menyayangi ayahku. Dan sama besarnya juga seperti mereka yang menyayangiku.
Dan juga seperti ayah yang menyayangi ibu.
Atau ibu yang menyayangi ayah.
Hah, aku cinta keluarga ini. Aku cinta keluarga kecilku!
.
.
.
.
My Little Family © Choi RinRi
Super Junior © God, SMEnt, and their parents.
Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, AU, M-Preg.
Don't Like? Don't read!
.
.
[Chapter 7]
Enjoy!
.
.
Kringg!
Suara bel pertanda berakhirnya pelajaran, yang juga pertanda bahwa kegiatan belajar mengajar hari ini telah usai pun terdengar. Suara itulah yang selalu dapat membuat murid taman kanak-kanak ini berlonjak gembira.
Senyuman terpantri di wajah ceria mereka. Masing-masing disibukan dengan kegiatannya yang membereskan beberapa alat tulis untuk dimasukan kembali ke dalam tas. Sama halnya seperti Jongie.
Sembari memasukan peralatan tulisnya ke dalam tas, anak kecil itu terkikik geli mengingat apa yang baru saja ditulisnya di lembaran paling belakang buku tulisnya. Menulis sembari mendengarkan dengan seksama apa yang guru jelaskan, Jongie dapat melakukannya dengan baik. Ia memang tergolong jenius untuk anak berusia memasuki 5 tahun.
Jongie melangkah lebih dulu, keluar kelas dan duduk di bangku panjang yang berada di depan kelas. Kedua tangannya menggenggam tali tas. Ia menunggu Ryeowook menjemputnya. Hari ini Ryeowook memang sudah berkata padanya jika tak bisa menemani Jongie di sekolah dan akan datang saat jam pulang. Itupun sedikit telat.
Hari ini Ryeowook turun langsung dalam mengelola bisnisnya. Salah satu cabang cafenya dipercaya untuk dijadikan sebuah acara perayaan. Sebagai penanggung jawab, Ryeowook harus berada disana.
Jongie tidak keberatan. Ia percaya tidak akan terjadi aksi penculikan jika Ryeowook tak berada di dekatnya selama sekolah. Lagipula ia masih memiliki paman Nemo-nya disini. Namja itu pasti akan menjaganya.
"Ayo pulang bersama kami, Jongie." Baru saja memikirkannya, suara paman Nemo-nya terdengar. Jongie mendongkak, menatap Donghae yang sebelah tangannya terulur padanya.
"Tidak, Nemo Ahjussi. Jongie menunggu Umma saja." Tolaknya.
"Apa kau yakin, hm?" Donghae kembali bertanya. Hyukjae disebelahnya menatap lekat Jongie. Namja kecil itupun ikut bersuara, meminta Jongie untuk pulang bersama mereka. Walau akhirnya Jongie tetap menolak.
"Ya, Umma sudah berjanji akan menjemputku." Begitu kata Jongie.
"Baiklah, kami pulang lebih dulu. Annyeong!" ujar Donghae diselingi sebuah usapan lembut yang ia berikan pada pucuk kepala Jongie.
Jongie tersenyum, ia melambaikan tangan serta berucap pada pasangan ayah-anak itu untuk menjaga keselamatan selama di perjalanan pulang.
Jongie mengadah, menatap rindangnya daun pohon yang berdiri tegak di hadapannya. Mengisi rasa bosannya selama menunggu Ryeowook. Suara berisik beberapa murid lainnya mengundang perhatian Jongie. Ia dapat melihat banyak orang tua yang setia menunggu anaknya dari awal datang hingga pulang.
Orang tua. Terdiri dari ayah dan ibu. Dua orang. Berpasangan.
Melihat itu, tiba-tiba membuat Jongie murung.
Jongie menunduk, terlebih saat ia melihat salah satu teman perempuannya yang kini menggandeng masing-masing sebelah tangan orang tuanya. Anak itu terlihat gembira, begitu juga orang tuanya.
Kapan aku bisa seperti itu? Jongie berharap dalam hati.
Jangankan untuk bisa merasakan posisi seperti teman perempuannya itu, saat inipun Jongie dapat menghitung berapa kali ia dapat tinggal satu atap bersama kedua orang tuanya dalam satu bulan. Lengkap dengan ayah dan ibu.
Ryeowook sudah sering membicarakan ini sebelumnya pada Jongie. Appamu sibuk atau Appa sedang tidak bisa diganggu atau Appa mungkin nanti datang. Ia sudah sering mendengarnya, bahkan sampai membuatnya bosan.
Entah hari ini perasaan anak itu sedang sensitive atau bagaimana, tapi Jongie merasa kedua matanya memanas. Ia adalah anak laki-laki, dan tak seharusnya anak laki-laki mudah menangis, itulah yang sering dikatakan ayahnya. Tapi untuk saat ini rasanya Jongie ingin menangis.
Ia ingin seperti yang lain.
Bisa selalu bersama kedua orang tuanya.
Bisa mengenggeam masing-masing sebelah tangan kedua orang tuanya dalam tawa bahagia.
Bisa merasakan bagaimana ditunggu atau setidaknya dijemput oleh kedua orang tuanya saat sekolah.
Dan dari yang paling sederhana saja, ia ingin merasakan bagaimana rasanya tidur dalam satu ranjang bersama kedua orang tuanya, dan saat pagi ia masih dapat merasakan dekapan kedua orang tuanya di tubuhnya.
Tapi… kenapa ia sulit sekali mendapatkannya?
"Maaf Umma terlambat, ne?" Jongie dapat merasakan dua tangan yang menangkup masing-masing pipinya. Kini Ryeowook berada di hadapannya, dengan wajah yang terlihat bersalah dan sedikit berkeringat.
"Ayo kita pulang." Ajak Ryeowook, bangkit dari posisinya yang sebelumnya berjongkok di depan Jongie. Dan sepertinya Ryeowook tidak menyadari dengan apa yang dipikirkan putranya beberapa menit yang lalu.
Jongie tak banyak berbicara, ia hanya mengangguk dan meraih tangan Ryeowook untuk di genggamnya. Ryeowook merasa genggaman tangan mungil itu mengerat, membuatnya tersenyum dan ia balas menggenggamnya hangat.
"Umma, apa hari ini Appa sedang sibuk?" Tanya Jongie saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Ia menoleh, memperhatikan Ryeowook yang terlihat serius mengemudi.
Ryeowook terdengar bergumam, sebelum ia menjawab; "Mungkin, memang kenapa?" tanyanya balik.
Jongie tak langsung menjawab, ia terlebih dahulu menunduk. Memainkan ujung celananya.
"Aku ingin bertemu Appa."
"Eh?" ucapannya membuat Ryeowook menoleh.
.
"Oppa, aku mencintaimu." Begitu kata itu terluncur dari mulut yeoja di hadapannya, Yesung dibuat terkejut. Kedua matanya sedikit melebar dengan alis yang nyaris terpaut.
"Jadikan aku yeojachingumu! Atau bahkan jadikan aku sebagai istrimu, Oppa." kali ini Yesung dibuat sedikit panik saat melihat yeoja itu tampak ingin menangis. Kedua tangannya digenggam erat, membuat Yesung bingung harus bersikap seperti apa.
Mendapat pernyataan cinta secara langsung dari seorang yeoja adalah hal pertama yang dialaminya.
"Luna, aku masih berstatus sebagai seorang suami."
"Dan bukankah Oppa berkata jika Oppa akan bercerai dengannya!?" kali ini suaranya terdengar meninggi. Dan yeoja itu tak bisa lagi bertahan untuk tak menangis. "kupikir, selama ini sikap perhatian oppa padaku karena rasa cinta, sama seperti yang kurasakan. T-tapi ternyata, itu semua karena rasa kasihan, khan? Karena Oppa kasihan pada yeoja yang mungkin sebentar lagi akan mati ini, khan!?"
'Plak!'
Luna dibuat terkejut saat sebuah tamparan keras diterimanya. Pipinya terasa panas, kedua matanya yang berair menatap kosong ke depan. Tangan ringkihnya perlahan menggapai pipinya. Menyentuhnya. Benar… ini sebuah tamparan… dan yang melakukan ini adalah dia…
"Sudah berapa kali kukatakan bahwa kau akan sembuh!?" kali ini Yesung yang berbicara dengan suara tinggi. Menatap tajam yeoja yang kini masih menangis di atas ranjangnya.
Sesaat ruangan pasien itu terasa lenggang. Tak ada lagi yang berbicara. Satu-satunya suara terdengar dari isakan kecil Luna. Melihat itu, membuat Yesung merasa bersalah. Ia hanya tak suka jika yeoja dihadapannya ini bersikap pesimis. Ia muak mendengar kata mati.
Dengan lembut Yesung menarik tubuh yeoja itu, memeluknya. Mengusap punggungnya dan bibirnya mengucap kata maaf. Ia masih berdiri di samping ranjang pasien hingga akhirnya Luna berhenti menangis.
"Kau akan sembuh, Luna. Kau akan sembuh." Ujar Yesung. "sikapku selama ini padamu sebatas karena aku tak ingin kau berakhir seperti Appaku. Membiarkan Appaku mati karena penyakit ini adalah sebuah penyesalan mendalam yang mungkin akan kurasakan seumur hidup."
"Oppa…" Luna kembali menangis, namun kali ini tanpa suara. Kedua tangannya melingkar di pinggang pria tersebut.
"Jika aku tak bisa menyelamatkan Appaku, biarkan aku melakukannya pada orang lain. Dan itu adalah dirimu. Aku juga menyayangimu, rasa sayang seperti seorang sahabat. Atau bahkan seperti kakak pada adiknya."
"Tapi aku mencintaimu!" Luna memberikan pukulan kecil pada lengan pria di hadapannya tersebut. "sikapmu membuatku mencintaimu, Oppa!"
"Aku tahu, tapi—"
"Selama ini aku bertahan karena Oppa! Karena aku mencintai Oppa!"
"Karena aku mencintai Oppa!"
"Aku mencintaimu, Oppa!"
"Aku mencintaimu, Oppa!"
"Aku mencintaimu, Oppa!"
"Aku mencintaimu, Oppa!"
"Sajangnim?" ragu-ragu yeoja berkacamata itu mendekati sang direktur. Pria berpangkat atasannya itu terlihat tertidur. Ia menepuk-nepuk pelan punggung pria yang kini tertidur dengan posisi kepala yang menelungkup di atas meja tersebut.
"H-hah?" sadar Yesung tiba-tiba. Menatap sang sekretaris dengan wajah yang terlihat kusam dan kedua mata yang menyipit. Sikap yang jarang sekali diperlihatkannya pada sang pegawai.
Yeoja itu hanya tersenyum canggung melihat keadaan Yesung yang berantakan. Baginya, Yesung adalah seorang pemimpin yang terlihat disiplin. Ini untuk pertama kalinya ia melihat raut lelah di wajah tampan pria itu, bahkan sampai menemukannya yang sedang tertidur di ruangannya.
"Oh, astaga, aku ketiduran," ujar Yesung sembari merapikan berkas-berkasnya yang berantakan, tersebar tak tertata di atas mejanya. Lalu memasukannya dalam satu map. "maaf kau harus melihat ini. Dan terimakasih sudah membangunkanku." Katanya.
Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Membenarkan letak dasi yang sedikit miring dan menepuk-nepuk pundak berbalut jas hitamnya.
Sial! Umpat Yesung. Ini adalah hal paling memalukan yang pernah ia lakukan, terlebih di hadapan bawahannya. Beberapa menit yang lalu ia memang merasa sangat mengantuk, disebabkan kurang tidur. Dan ia tak menyangka ia bisa sampai ketiduran seperti ini. Semalaman penuh ia memang terjaga di depan ruangan Luna.
Dan ngomong-ngomong soal Luna… ia baru sadar jika tadi ia sempat bermimpi tentangnya. Mimpinya seperti sebuah kaset yang memutar ulang kejadian bebearapa tahun lalu. Saat dimana Luna menyatakan cinta padanya. Dan mimpinya itu sama persis seperti yang ia alami di kehidupan nyata.
Ada apa ini?
"Sajangnim?" entah untuk keberapa kalinya, sekretarisnya itu memanggilnya. Entah saat pertama kali yeoja itu mengetuk pintu ruangannya, masuk ke dalamnya, hingga saat menepuk-nepuk pundak untuk membangunkannya.
"Ah, ya, maaf." Yesung tersadar dari lamunan sesaatnya. Kemudian ia merubah posisi duduknya untuk lebih tegak. "Ngomong-ngomong, ada keperluan apa?" tanya Yesung, setelah mendapatkan kembali sikap wibawanya. Ia bersandar di kursi kebesarannya.
Yoeja itu tersenyum memaklumi. Kemudian menjawab pertanyaan atasannya. "Ada yang ingin bertemu dengan anda, Sajangnim." Jawab yeoja itu.
"Siapa?"
"Ryeowook-ssi dan putranya, Sajangnim."
.
"Aku tak bisa lama, ya." Ujar Yesung pada Ryeowook, yang kini duduk di sampingnya.
"Kau sudah mengatakan itu berulang kali. Tidak bosan, ya?" Tanya Ryeowook diiringi lirikan sinisnya.
Ryeowook jadi berpikir, betapa bodohnya Kim Jongwoon ini. Sudah mengatakan aku tak bisa lama berulang kali, tapi pria itu tak jua tampak ingin pergi dari sini. Dasar aneh.
Yesung tak menjawab. Ia diam dan matanya tertuju pada Jongie yang kini sedang mengantri untuk membeli ice cream pada seorang penjual ice cream keliling di tempat ini. Begitu juga Ryeowook, tak lama ia melakukan hal yang sama. Hingga keduanya sama-sama terdiam, memperhatikan putranya yang dengan disiplin menunggu giliran.
Jongie lah yang membuat keduanya berada di taman ini. Yesung masih ingat dengan jelas, bagaimana Jongie yang merengek di kantor. Memintanya untuk pergi bersamanya. Awalnya ia menolak, tapi saat melihat Jongie yang menangis keras, dan ia yakin beberapa pegawainya dibuat terganggu, akhirnya Yesung menyetujuinya juga.
Sedangkan Ryeowook, namja itu hanya diam di kursinya sembari memijat keningnya. Pusing dengan keributan yang ditimbulkan Jongie, juga bingung harus melakukan apa. Ia memilih membiarkan Jongie yang terus merengek hingga menangis dan menarik-narik jas Yesung sampai membuatnya tak beraturan.
"Tak terasa Jongie tumbuh begitu cepat."
Ryeowook menoleh saat mendengar Yesung yang tiba-tiba berucap. Sepertinya ingin membuka obrolan dalam kecanggungan ini. Dan Yesung jarang sekali melakukannya, itu sebabnya Ryeowook sempat dibuat heran.
"Ya, anak itu tumbuh sehat dan sangat aktif." Tanpa sadar Ryeowook tersenyum, dan tanpa sadar juga Yesung memperhatikannya.
"Ryeowook," dengan nada pelan Yesung berucap. Membuat Ryeowook menarik senyumnya menghilang dan menatap pria itu. Ryeowook berpikir jika Yesung akan mengatakan sesuatu yang penting.
"Ya?" respon Ryeowook. Entah mengapa, Ryeowook merasa berdebar. Terutama tatapan pria itu, sungguh membuatnya terasa terhisap dalam lingkaran hitam di bola matanya.
"Terimakasih…"
"U-untuk…?" seketika Ryeowook menjadi kaku.
"Ya… sudah memberiku seorang putra seperti Jongie." Ujar Yesung. "terima kasih sudah mendidiknya dengan baik."
Bagai romansa muda yang sering Ryeowook lihat di televisi, ia dibuat berdebar hanya dengan kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan mantan suaminya tersebut. Ryeowook dibuat diam dengan mulut yang mengatup. Wajahnya memanas, dan semburat merah dengan seenak hati kini berada di pipinya.
Jantungnya berdetak lebih cepat, sial… sial… sial! Rutuknya salam hati.
Yesung kan hanya mengucapkan terima kasih, itupun untuk sesuatu yang berhubungan dengan Jongie. Kenapa harus berdebar seperti ini, sih!?
"Y-ya, sama-sama…" itulah jawaban Ryeowook. Terdengar bodoh dengan sikapnya yang terlihat salah tingkah.
Ryeowook menunduk, karena Yesung yang kini tengah memperhatikannya. Memperhatikannya begitu intens hingga membuat Ryeowook malu jika harus balas menatap. Aduh, kau ini kenapa sih, Ryeowook?
"Appa! Umma!"
Oh, Ryeowook benar-benar berterimakasih pada Jongie yang menyelamatkannya. Jongie si breaking ice yang benar-benar menguntungkan posisinya. Anak itu terlihat berlari dengan satu cup ice cream cokelat berada di tangannya.
"Lama mengantri, jagoan?" tanya Yesung. Mengacak rambut hitam putranya lalu menariknya untuk duduk di sampingnya, berada ditengah antara dirinya dan Ryeowook.
"Um! Yeoja-yeoja itu terlihat tak sabaran. Aku harus mengalah pada mereka." Ujar Jongie dengan pipi yang menggembung. Ia pun menyendok ice creamnya dan menyuapnya dengan semangat.
"itulah sikap seorang jagoan. Kau harus mengalah pada seorang yeoja, karena kau ini seorang namja."
Mendengar nasihat ayahnya membuat Jongie mengangguk beberapa kali. "Oh, begitu, ne." gumamnya. "Lalu, Appa dan Umma kan sesama namja. Jadi, siapa yang mengalah jika ada keributan seperti saat aku membeli ice cream?"
"Eung…"
Dan bukannya mendapat jawaban, sepertinya Jongie harus puas hanya dengan sebuah dengungan yang terdengar dari mulut kedua orang tuanya.
.
Besok kita main lagi, ya, Appa! Jongie ingin jalan-jalan, tapi besok hanya dengan Appa saja. Besoknya lagi Jongie jalan-jalan dengan Umma saja. Dan besoknya lagi kita jalan-jalan bersama. Pokoknya Appa harus mau dan jangan sibuk-sibuk terus, seperti yang dikatakan Umma. Huh!
Appa cepat pulang, ne? Jongie sayang Appa!
Yesung terkekeh pelan mendapat pesan singkat yang baru saja dikirim oleh Jongie melalui nomor Ryeowook. Putranya itu ternyata sudah pintar mengirim pesan, membuatnya berpikir untuk membelikannya sebuah ponsel. Tapi apa baik-baik saja ya jika anak berumur 5 tahun seperti Jongie dibelikan ponsel? Piker Yesung.
Saat ini ia sudah berada di kantornya. Duduk di ruangannya dan ia berjanji tak akan lagi tertidur.
.
Esoknya, Yesung benar-benar menuruti keinginan Jongie. Yesung datang ke rumah Ryeowook, menjemput Jongie dan mengajaknya untuk berjalan-jalan, setidaknya itulah yang dipikirkan Jongie. Hingga anak kecil itu tahu, tempat tujuan mereka untuk bersenang-senang ini adalah rumah sakit.
Yesung masih belum sepenuhnya melupakan keinginannya untuk membawa Jongie ke dalam kehidupannya, seperti yang pernah ia ucapkan pada Ryeowook beberapa waktu yang lalu. Ia tahu bahwa ia mendapat penolakan dari Ryeowook, tapi ia akan terus mencobanya.
Mungkin saja ia akan berhasil, khan?
Hari ini, seperti biasa, Yesung datang ke rumah sakit untuk menemui Luna. Tapi kali ini ia datang tak sendiri, ia datang bersama Jongie.
"Appa! Tempat ini bau obat, Jongie tidak suka!" celoteh Jongie yang kini sedang digendong oleh ayahnya itu.
Kedua mata sipitnya melihat ke berbagai arah, dan menurutnya tempat ini benar-benar payah. Selain memiliki bau yang tak menyenangkan, di tempat ini tak satupun ia menemukan arena bermain. Hanya taman-taman kecil yang ditumbuhi rerumputan hias dan beberapa orang yang berlalu lalang.
Yesung hanya tersenyum tipis, tak menanggapi ucapan Jongie dan terus berjalan menuju ruang ICU. Tempat Luna yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Tertidur di ruangan yang banyak orang sebut sebagai ruangan bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
"Lihat itu, Jongie," ujar Yesung saat keduanya kini sudah berada di dalam ruang ICU.
Jongie menurut, kedua matanya semakin menyipit saat ia memperhatikan seseorang yang terbaring di ranjang. Terlihat sedang tidur dengan berbagai macam benda entah apa itu ia tak tahu berada di kamar tersebut, yang menurut Jongie seperti saluran air yang terpasang di tangan dan hidung.
"Ahjumma…" gumam Jongie saat ia mengingat siapa yeoja itu.
Yeoja yang pernah ditemuinya saat untuk pertama kalinya ia bisa menghabiskan malam di Namsan Tower bersama kedua orang tuanya. Malam yang indah untuknya, tapi tidak untuk kedua orang tuanya.
"Umma… bisakah Jongie memanggilnya dengan sebutan Umma?" tanya Yesung. Perlahan mencoba membujuk Jongie agar putranya itu mau menerima Luna sebagai ibunya, karena bagaimanapun yeoja itu adalah istrinya.
"Umma? Aku sudah punya Umma, Appa," Jawab Jongie polos. "aku tidak mau punya Umma lagi."
Yesung menghela nafas.
Anak kecil tak pernah berbohong, itulah kalimat yang pernah Yesung dengar dari ibunya. Walau Jongie tak mengerti maksud tujuannya, tapi ia tahu saat menjawab pertanyaannya Jongie bicara langsung dari isi hatinya.
Jongie hanya menganggap Ryeowook sebagai ibunya. Ya… mungkin ini akan sedikit sulit.
Karena kau keras kepala, sekarang nikmatilah putramu yang juga memiliki watak sepertimu, Kim Jongwoon.
Dengan pelan Yesung menarik salah satu kursi dan menaruhnya di samping ranjang yang ditiduri Luna. Yesung mendudukinya, sedangkan Jongie memilih Yesung memangkunya dibanding duduk di kursi yang lain.
"Ini sudah pagi, Appa. Kenapa Ahjumma masih tidur?" tanya Jongie yang kini sedang dipangku Yesung. Mendongkak dan menatap polos ayahnya, "Umma pasti akan marah jika Jongie tidak bangun pagi." Dan Kim Jongie sepertinya mulai mencurahkan isi hatinya.
Yesung tertawa kecil. Ia mengusap rambut hitam Jongie dan mengecup pucuk kepalanya. "Belum saatnya bangun, mungkin nanti." Katanya. Jongie mengangguk beberapa kali.
Ruangan ini begitu sunyi. Hanya ada satu-satunya suara yang berasal dari sebuah benda berbentuk kotak yang berbunyi. Jongie memperhatikan itu, kotak yang menurutnya seperti televisi. Hanya saja berukuran lebih kecil dari televisinya di rumah. Jongie dibuat penasaran.
"Ahjumma kapan bangun, sih?" tanya Jongie. Bosan juga sedari tadi hanya diam. "Umma selalu berkata pada Jongie, anak yang baik harus bangun pagi." Ujar Jongie dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Ahjumma semalam tidur larut," alasan Yesung. "Umma selalu mengajarkan hal-hal yang baik, ne?"
Jongie mengangguk semangat. "Tentu! Umma adalah Umma yang hebat!" tersimpan kebanggaan saat Jongie mengatakannya.
"Appa ingin bertanya," bisik Yesung. "Jika Ahjumma yang menjadi Umma Jongie— maksud Appa… menggantikan…" Yesung terdengar menggantungkan ucapannya. Jongie berkedip beberapa kali mendengarnya, antara bingung dan penasaran dengan apa yang akan diucapkan Yesung selanjutnya.
"Misalnya Umma Jongie adalah Ahjum—"
"Aniya! Jongie tidak mau!"
Bahkan belum sempat Yesung menyelesaikan ucapannya, anak laki-laki itu sudah memotong ucapannya dengan cepat.
"Ummaku adalah Kim Ryeowook, dan Appaku adalah Kim Jongwoon." Ujar Jongie sembari tersenyum lebar.
Ucapannya itu seketika membuat Yesung bungkam.
.
'Minggu yang cerah, bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama di rumahku? Ajari aku memasak, Hyukjae ingin makan masakanmu seperti kemarin malam."
Ryeowook tersenyum tipis saat melihat isi pesan yang dikirim Donghae pagi ini. Ryeowook mendudukan tubuhnya di sofa dan kedua tangannya siap mengetik balasan untuk Donghae.
'Masakanku memang yang terbaik! Hahaha.'
Send.
Bukannya menjawab tawaran Donghae, Ryeowook justru hanya membalasnya dengan kalimat seperti itu. Ryeowook terlihat masih memikirkan tawaran Donghae. Apakah ia akan menyetujuinya atau diam di rumah dan menunggu Jongie yang kini bersama Yesung sampai pulang ke rumah. Tapi jika di pikir-pikir, sepertinya ia akan mati bosan jika terus di rumah.
Jadi, ya… sepertinya ia akan menyetujuinya.
Ponselnya bergetar, satu balasan dari Lee Donghae diterimanya.
'Jadi jawabannya ya atau tidak?'
Ryeowook terkekeh, kali ini ia berniat mengerjai Donghae.
'Kau ingin jawaban apa dariku, Hyung? Ya atau tidak?'
Pesan terkirim. Sembari menunggu balasan, Ryeowook menyalakan televisi dan mulai menikmati acara pagi sembari menyesap teh yang sejak awal sudah di siapkannya. Tak lama ponselnya kembali bergetar, menimbulkan suara karena ponsel yang diletakannya di atas meja kaca.
'Dasar bodoh! Bersiaplah, jam 11 nanti akan kujemput.'
Itulah jawabannya. Membuat Ryeowook menggeleng sembari tersenyum geli. Sekarang masih jam 8 pagi, ia masih memiliki waktu sekitar 3 jam lagi. Cukup lama untuk bersiap diri agar hari ini Kim Ryeowook terlihat menarik.
Oh, apa yang sedang kau pikirkan, Ryeowook?
.
Yesung sedikit kesulitan saat membuka dan menutup pintu mobilnya. Jongie yang tertidur mengharuskannya untuk keluar dari dalam mobil sembari menggendong Jongie, dan bocah lelaki itu masih saja tetap tertidur.
Sepulang dari rumah sakit, Yesung mengajaknya menuju game center, dan setelahnya keduanya pun menghabiskan waktu di sebuah café untuk mengisi perut. Jongie cukup puas bisa berjalan-jalan dengan Appanya.
Kapan lagi ia bisa merasakannya?
Baru ia akan membuka gerbang, seseorang mendahului niatannya, dan orang itu tentu saja sang pemilik rumah— Ryeowook.
Melihat dari tampilannya yang rapi, tanpa perlu menebak Yesung pun sudah tahu bahwa mantan istrinya itu akan pergi. Yesung menatap Ryeowook dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terlihat rapi, tapi juga tak terlalu formal. Sepertinya Ryeowook juga akan berjalan-jalan.
"Mau kemana?" tanya Yesung.
Ryeowook yang merasa diperhatikan terlalu intens itu pun membuang muka. "Ke rumah temanku." Jawab Ryeowook seadanya.
Samar-samar mantan suaminya itu tersenyum kecut. "Lee Donghae?" tanyanya.
Ryeowook membenarkan posisi arloji di tangannya seraya menggumam pelan. Acuh tak acuh ia menjawab pertanyaan Yesung, yang menurutnya terlalu ingin tahu.
"Bagus, disaat aku mengurus Jongie, kau justru ingin pergi meninggalkan rumah. Bersantai dan melepas tanggung jawabmu menjadi seorang ibu."
Telak, ucapan Yesung benar-benar menusuk.
Ryeowook berusaha mengatur dirinya saat mendengar ucapan pedas namja di hadapannya tersebut. Demi apapun, Ryeowok masih sadar diri jika mereka masih berada di depan gerbang. Tidaklah lucu jika mereka harus beradu mulut di luar rumah, yang mungkin saja akan mengundang perhatian para tetangga.
Terlebih di antara mereka terdapat Jongie, seakan namja kecil itu satu-satunya penghalang bagi mereka untuk tak segera memulai pertengkaran seperti biasa.
"Apa urusanmu?" desis Ryeowook. Tak ingin kalah menatap sinis kedua mata hitam mantan suaminya tersebut. "aku bahkan tak melarang kau untuk pergi menemui Luna. Masa bodoh."
"Kau lupa statusmu apa? Kau memiliki seorang anak." Timpal Yesung sembari melirik Jongie yang berada di gendongannya. Terlelap dengan kepala yang bersandar pada bahu lebarnya. "pergi sesuka hati tanpa memikirkan Jongie."
"Lalu kau juga lupa statusmu apa? Kau juga memiliki seorang anak." Jawab Ryeowook seraya tersenyum sinis, membalik ucapan Yesung hingga membuat namja itu mampu terdiam beberapa saat. "Jangan karena kau sudah memiliki istri, kau melupakan—" belum sempat Ryeowook melanjutkan ucapannya, sebuah mobil hitam melaju ke arahnya.
Itu adalah mobil milik Donghae.
Perlahan mobil itu terhenti dan terparkir di depan gerbang rumah Ryeowook. Klakson terdengar, dan perlahan kaca pintu mobil pun turun. Menampilkan wajah kekanakan Donghae dengan senyum lebarnya. Kehadiran Donghae sejenak dapat membuat ketegangan mantan pasangan suami istri itu menyurut.
"Sudah siap, Ryeowook-ah?" tanya Donghae dari balik pintu mobilnya.
Ryeowook mengangguk beberapa kali, ia balas tersenyum. "Tentu, Hyung." jawabnya.
Yesung mendengus, kehadiran namja itu benar-benar tak membuatnya merasa lebih tenang. Bahkan, yang terburuk, Donghae sama sekali tak menganggap kehadirannya. Hanya menyapa Ryeowook dan dengan seenak hati ingin membawa Ryeowook pergi bersamanya.
Yesung tak menyukai itu.
Bagi Ryeowook, kehadiran Donghae yang menjemputnya dapat membuat moodnya sedikit kembali. Dengan menggenggam sisi jaketnya, Ryeowook pun berjalan menghampiri Donghae— setidaknya itu yang ingin ia lakukan sebelum sebuah tangan menahan lengannya.
"Ryeowook tak jadi pergi, dia ada urusan."
Ryeowook menoleh cepat ke belakang. Menatap tak percaya ucapan Yesung yang menurutnya benar-benar tak masuk akal itu. Pandangan intimidasi diberikannya pada Yesung.
"Mwo?!" tanya Ryeowook sedikit berteriak.
"Ah, jinjja?" tanya Donghae memastika.
"Ya, urusan yang sangat penting dan mendadak." Ujar Yesung, sebenarnya sangat asal.
"Yasudah, mungkin lain waktu saja." Sambungnya sembari tersenyum kaku.
Meskipun sedikit kecewa, tapi ia tak mungkin memaksakan keinginannya. Diakuinya jika ia sedikit bingung dengan keputusan yang diterimanya, tapi Donghae tak bertanya lebih, terlebih yang berkata seperti itu adalah Yesung. Mungkin saja memang benar jika keduanya memiliki urusan, dan ia tak mungkin untuk mencampurinya.
"T-tapi, Hyung—" Ryeowook ingin mencegah Donghae yang bersiap melajukan mobilnya. Baru satu langkah, tapi tubuh kecilnya kembali tertarik kebelakang saat dirasa lengannya ditarik keras oleh Yesung.
Bahkan belum sempat Donghae ingin pamit, Yesung sudah lebih dulu menarik Ryeowook dan membawanya masuk ke dalam. Ia berpikir Yesung benar-benar memiliki tenaga lebih hingga dapat menarik tubuh Ryeowook dan menggendong Jongie dalam waktu yang bersama.
"A-ahh…" Donghae sendiri bingung harus berkata apa.
Mulutnya terbuka, ia ingin berkata sesuat, tapi kalimat yang ingin diucapkannya justru pergi kemana. Ia mengusap tengkuknya, memperhatikan Ryeowook yang terlihat beradu mulut dengan Yesung dari gerbang rumahnya yang masih terbuka.
Tiba-tiba ia teringat pada Hyukjae yang ditinggalnya berdua dengan Ahjumma pengurus rumah. Ia sudah berjanji pada putranya itu untuk tak pergi terlalu lama, jadilah ia memilih untuk melajukan kembali mobilnya dan kembali pulang…
—tanpa Ryeowook.
.
Yesung benar-benar pintar. Namja itu membuatnya kesal disaat Jongie berada di dekat mereka. Dalam dirinya, Ryeowook berjanji tak akan kehilangan kontrol emosi jika di hadapan Jongie. Tapi kini, Yesung memancing emosinya dan sialnya ia sama sekali tak bisa melampiaskan amarahnya.
Dengan kesal Ryeowook menghempaskan tubuh kecilnya pada sofa. Menunggu Yesung yang kini memilih menuju kamar Jongie untuk menidurkan putra kecilnya tersebut. Menunggu namja itu untuk menghampirinya dan menjelaskan apa alasan Yesung untuk tidak memperbolehkannya pergi ke rumah Donghae dengan berkata bahwa dirinya memiliki urusan.
Ya, urusan, kali ini Yesung benar-benar mewujudkan ucapannya tentang urusan. Sekarang Ryeowook memiliki urusan, urusan dengan Yesung.
Yesung keluar dari kamar Jongie. Dengan ekspresi yang datar ia berjalan menghampiri Ryeowook.
"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Ryeowook pelan, terdengar dingin.
Yesung tak menunjukan ekspresi yang berarti. Menatap malas Ryeowook dan mengendikan kedua bahunya. "Kupikir tugasmu memang di rumah, bersama Jongie, bukan berkeliaran dengan namja lain." Ujarnya santai.
"Oh…" Ryeowook membulatkan bibirnya, menatap Yesung dengan ekspresi yang dibuat terkejut. Perlahan tapi pasti ia bangkit dari sofa, melangkah pelan mendekati Yesung. "tolong jelaskan tentang berkeliaran dengan namja lain, Jongwoon-ssi." tanya Ryeowook penuh penekanan.
"Kau pergi bersama Donghae disaat Jongie bersamaku. Kau seolah memanfaatkan keadaan untuk dapat bersamanya." Ujar Yesung, merasa ucapannya sudah cukup jelas.
Ryeowook tentu saja tak terima dengan ucapan Yesung, terlebih tak sedikitpun ucapan yang disebutkan Yesung adalah benar.
"Jaga ucapanmu!" bentak Ryeowook. "Aku tak serendah itu!"
"Kupikir tidak."
Deg!
"Seharusnya disaat anakmu pergi, kau menunggu di rumah sampai ia pulang. Bukan bersenang-senang bersama namja lain. Kau bisa menjadi seorang ibu atau tidak?" tanya Yesung kemudian. "sudah seharusnya sejak awal kau menyetujui keinginanku untuk mengambil Jongie."
Bagai tertusuk ribuan pedang, rasa perih kini dirasakan Ryeowook, terlalu perih hingga membuat tekatnya untuk tak menangis di depan Yesung pun runtuh. Kalimat Yesung terlalu menyakitkan. Ia tak bisa menahannya, perlahan ia merasa pandangannya memburam, bersamaan dengan indra perasanya yang merasakan pipinya kini basah.
Ia menangis.
Seperkian detik Yesung dibuat menutup rapat mulutnya. Ryeowook tak pernah menangis dengan mudah di hadapannya. Tapi kini, Ryeowook menangis dengan mudahnya.
"Belakangan ini aku cukup senang karena merasa hubungan kita membaik," ujar Yesung pelan. "tapi kini, kau kembali memancing amarahku."
Yesung memilih untuk memalingkan muka. Memutus kontak matanya pada Ryeowook yang kini menatapnya. Menatap dengan kedua mata yang tersirat kepedihan.
"Kau pergi sesukamu, bahkan tanpa memberitahuku terlebih dahulu."
Mati-matian Ryeowook menahan isakannya. Ia menggigit kuat bibirnya, mengambil nafas sebanyak yang ia mau, hingga akhirnya ia membuka mulut dan berbicara, "Aku memberitahumu."
"Oh, ya?" tanya Yesung, tertawa mendengus mendengarnya. Yesung sedikit tak percaya, jika memang Ryeowook berniat memberitahunya, kenapa tak dari awal saja saat mereka bertemu pagi ini?
"Mana ponselmu?" tanya Ryeowook cepat.
"Di dalam dashboard mobil," jawab Yesung.
Memang benar, Yesung sama sekali tak berbohong. Itu adalah keinginan Jongie. Namja kecil itu kesal jika ayahnya terus menerima telepon dari kantor. Itu membuat waktu liburan berharganya dengan sang ayah terganggu. Maka dari itu, saat mereka pergi ke rumah sakit, bermain di game center, dan terakhir pergi ke café, Yesung sama sekali tak menyentuh ponselnya dan menaruh di dalam dashboard mobil.
Cukup, Ryeowook ingin sekali menghentikan pertengkaran bodoh ini. Ia merogoh saku kemejanya, mengambil ponsel dan jemarinya mulai bergerilya di atas layar.
"Ini," ujar Ryeowook, masih dengan suara bergetar. Khas orang yang sedang menahan tangis. Tangannya terulur ke depan, tepat di hadapan Yesung. Dengan layarnya yang kini menghadap wajah mantan suaminya tersebut.
Yesung memperhatikan layar ponsel Ryeowook dalam diam. Ryeowook menunjukan outbox di menu messagenya. Terlihat jika Ryeowook di saat satu jam yang lalu mengirim pesan padanya. Berkata jika Ryeowook akan berkunjung ke rumah Donghae karena permintaan Hyukjae yang meminta dibuatkan masakan, dan ia menitipkan Jongie. Hanya sebentar, Ryeowook bahkan menyebutkan jika ia berjanji tak akan lama.
"Masih ingin mengataiku berkeliaran dengan namja lain?"
Ryeowook maju satu langkah.
"Masih ingin mengataiku rendah?"
Lagi, Ryeowook memperpendek jarak diantara keduanya dengan melangkah.
Sekitar tiga langkah yang tersisa hingga keduanya benar-benar dalam jarak yang dekat. Yesung yang memang minim dalam berekspresi hanya diam. Menatap intens Ryeowook yang semakin menyudutkannya dengan kata-katanya.
"Apa maumu?!"
Trak!
Ryeowook membentak bersamaan dengan dibantingnya ponsel di tanganya tersebut. Membuat Yesung sedikit berjenggit mundur. Ia tak menyangka jika Ryeowook akan semarah ini padanya.
"Kau tak pernah mengerti bagaimana rasanya berada di posisiku!"
Tanpa diduga sebelumnya, Yesung melangkah mendekat pada Ryeowook dan mendorong pundaknya hingga namja itu jatuh tertidur di atas sofa. Dan yang lebih tak di duga, Yesung memposisikan tubuhnya di atas Ryeowook tanpa alasan.
Ryeowook menghentikan tangisannya, menggigit kuat bibirnya merasakan sorot tajam yang diberikan Yesung padanya. Bulu kuduknya meremang hingga lengan hanya karena sebuah tatapan tajam. Ryeowook memalingkan wajahnya, merona menyadari posisi mereka yang terbilang dekat dan intim.
Saat Ryeowook menyuruh Yesung untuk menyingkir dari tubuhnya, namja itu justru mencengkram kedua pundak kecilnya.
Yesung memajukan wajahnya, hingga membuat hidung dan keding mereka nyaris bersentuhan. "Jauhi Lee Donghae." Ujarnya tajam.
Ryeowook tersenyum sinis. "Apa urusanmu?"
Yang Ryeowook harapkan adalah sebuah jawaban, tapi Yesung justru memberinya sebuah ciuman. Bibir yang terasa dingin kini menekan bibirnya. Tindakan tak terduga Yesung membuat Ryeowook terkejut. Kedua matanya membulat sempurna, hingga akhirnya menutup rapat secara paksa saat Yesung menggigit bibirnya.
Ryeowook masih memiliki kesadarannya. Yang saat ini sedang menciumnya, menekan belakang kepalanya hingga sedikit terangkat, atau kini memberi lumatan pada bibirnya adalah mantan suaminya. Pria yang sudah berstatus sebagai suami orang lain, dan pria yang baru saja melontarkan kata-kata kasar hingga membuatnya menangis.
Ryeowook mencoba menyingkirkan Yesung, memberinya pukulan keras pada dadanya dan tendangan. Tapi Yesung justru menangkap kedua tangannya dan menahannya di atas kepala dengan cengkraman yang keras. Kakinya pun dijepit oleh kedua kaki Yesung.
Ia merasa jika Yesung seperti orang kerasukan. Ryeowook masih tetap menolak bahkan ketika dengan paksa Yesung memasukan lidahnya yang terasa panas di mulutnya. Hingga akhirnya ciuman panas itu berakhir karena kebutuhan keduanya akan oksigen. Meninggalkan benang-benang saliva pada bibir mereka.
Ryeowook mengasis udara dengan mulut yang terbuka dengan mata yang terpejam erat. Dan bagi Yesung itu terlihat seksi. Diusapnya ujung bibir Ryeowook yang basah oleh liur keduanya.
Deruan nafas keduanya beradu. Terasa panas hingga menaikan suhu tubuh mereka. Sekelebat perasaan aneh menggelitik keduanya. Keduanya tak tahu apa yang menjadi alasan kongkrit hingga ciuman ini terjadi, dan orang yang paling harus dipertanyakan adalah Yesung.
Yesung sendiri bingung, apa yang baru saja ia lakukan adalah sebuah spontanitas dalam keadaannya yang tengah kacau. Yesung tidak tahu, Ryeowook tidak tahu—
…dan keduanya juga tidak tahu jika sejak awal masih ada satu pasang mata yang memperhatikan keduanya.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Annyeong! Masih adakah yang menunggu kelanjutan My Little Family? Maaf atas keterlambatan update ataupun saya yang sering menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama. Maaf ;-;
Saya sempat kepikiran mau terusin MLF kalau Yours tamat. Tapi… sampai sekarang aja Yours belum lanjut, gimana mau terusin MLF? Aduh sedih ih sedih ;; Jadinya saya liat ulang chapter-chapter sebelumnya di MLF. Dan saya akhirnya bisa melanjutkan chapter 7 dalam satu hari. Alhamdulillah banget ya ;;
Udahan ah curhatnya. Mau balasin review dulu untuk yang tidak login^^
Giietha1212 Ya, eonnie~ YeWook di chapter selanjutnya pun mulai terlihat akur haha. Dan untuk Luna, aku gak bisa menjamin umurnya itu ya :B Ngomong-ngomong soal 3 FF lamaku itu, mungkin akan dilanjut setelah Yours dan My Litte Family tamat, jadi bersabarlah eonnie XD
Devi AF Agak aneh emang, tapi itulah alasan kenapa Yesung nikahin Luna hehe. Makhluk AB memang memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain lol.
dyahYWS Oke chapter 7 sudah update, silakan dibaca dan review lagi ya! ^^
melochoco Luna mati? Saya tidak bisa memastikan ya lol. Donghae disini belum dijelaskan secara gambling apa dia menyukai Ryeowook atau tidak. Jadi…ya, tunggu saja hehe.
cloud prince Gengsian, aneh, pola pikiran sulit ditebak, itulah karakter Yesung di fanfic ini. Jadi jangan aneh ya kalau dia nyebelin XD Saya paling semangat kalau baca review yang panjang dan membahas isi fanfic saya secara terperinci seperti reviewmu. Sampai bingung mau jawab apa dulu XD Intinya, saya ucapkan terimakasih banyak atas pujian dan dukungannya. Benar-benar membuat saya semangat! ^^ Dan segala isi reviewnya, astaga bikin saya senyum-senyum sendiri waktu bacanya X3
ririn chubby ngomong-ngomong kata terakhir, itu saya salah copy paste lol-_- saya nge-copy dari fanfic Yours hehe. Bagaimanapun menyebalkanya YeLun, moment mereka sebenarnya cukup penting di fanfic ini. Jadi harus sabar ya XD Donghae masih belum bisa saya jabarkan secara gambling disini, jadi untuk perasaan dia sebenarnya ikuti terus perkembangan fanfic ini saja ya! XD Oke chapter 7 sudah update, silakan dibaca dan review lagi ya! ^^
KimEunHoonWook Oke chapter 7 sudah update, silakan dibaca dan review lagi ya! ^^
Yulia CloudSomnia Bertambahnya chapter semakin bertambahnya pula moment YeWook hohoho. Jadi tunggu saja, ya!
Kin Anna Mau itu ribut, ataupun saat-saat moment manis, kalau udah YeWook yang ngalamin pasti serasa dunia milik sendiri XD
yumi Oke chapter 7 sudah update, silakan dibaca dan review lagi ya! ^^
teukkk kamu nangis? Aigoo XD yang lebih sad? Mungkin fanfic lama Eonnie yang judulnya Still With Me atau Spring Love bisa menjadi pilihan /promosi/
bluerose Saya akan selalu menghargai review, setelat apapun itu, jadi tak masalah ^^ Semua pertanyaanmu akan terjawab seiring bertambahnya chapter /ceritanya sok misterius/
Guest Annyeong! Kkk~ Terimakasih atas pujian untuk fanfic ini dan dukungan untuk saya yang baru saja melewati masa ujian X3 YeWook memang selalu bisa membuat shippernya menggila! /kibar banner YeWook/
Girrafe Itulah namanya cinta, bagaimanapun keadaannya, orang yang sudah terlanjur mencintai seseorang akan terus berusaha mendapatkan yang tercinta itu /ceritanya bijak/ ya, salah satunya seperti karakter Luna di fanfic ini hehe.
wooks Di fanfic manapun, Kim Jongwoon memang selalu terkesan menghibur walau seberapa tinggi pun gengsinya XD YeWook akur? Masih harus sabar nunggu ya haha.
hyeojin08 dibuat ngakak? Wah, terimakasih sudah merasa terhibur hehehehe XD
murniclouds Wah, terimakasih banyak ya pujiannya! X')
Guest keren? Aduh /pegang hidung/ terimakasih X')
Arum Halo arum :D ini sudah lanjut kok. Maaf ya telat m(_ _)m
ji in Oke chapter 7 sudah update, silakan dibaca dan review lagi ya! ^^ fight!
Guest Senyum-senyum sendiri? Aigoo XD Yes, kita lestarikan fanfic YeWook!
babyryou Jaim dan gengsi, dua kata yang dapat menggambarkan YeWook di fanfic ini XD
yeon Helo Yeon! Tidak masalah baru baca atau coment kapan, saya tetap menghargai :D review itu ga harus pakai akun kok, ga pakai juga bisa^^ Yesung&Ryeowooknya sedikit gengsian, jadi mungkin sedikit susah untuk cepat bersatu XD tapi tunggu kelanjutannya aja ya!
Park Ji Hee YeWook disini memang berantem terus, tapi itu justru momentnya lol XD
Jongie Kim Halo Jongie! Waduh kamu review juga cerita hidup kamu? /ini apa/ seneng ketemu readers yang pakai nama Kim Jongie XD Ne, Appamu disini labil. Ummamu gengsian. Jadi sabar aja ne jadi anak mereka lol XD
YL Cerita ini memang sedikit membingungkan, ditambah karakter tokoh utama yang terkesan labil. Tapi itu dibuat untuk mendukung cerita :D Semoga suka ya hehehe. Luna mati? Lihat nanti aja ya._.
Dhia Bintang ya, kira-kira seperti itu^^ Yesung disini seperti bunglon, sikapnya berubah ubah hehehe. Ikuti terus kelanjutannya^^7
Maaf bila ada nama yang terlewat ataupun salah pengetikan.
Terimakasih untuk followers, favoriters, dan reviewers fanfic ini. Terimakasih banyak, terimakasih! :"D dan maaf untuk keterlambatan update yang benar-benar keterlaluan m(_ _)m
Salam hangat,
Choi.
