"Kenapa...? Kenapa harus seperti ini?" suaranya melemah, hingga lebih terdengar dalam sebuah bisikan halus.
Yesung masih tak menjawab, nafasnya memburu dengan wajah yang berkeringat. Anak rambutnya pun basah. Dengan kemauannya ia membuat keningnya menempel pada kening Ryeowook. Kedua kulit yang terasa basah kini saling bersentuhan.
"Jangan buat aku merasakan hal bodoh seperti ini." Lirih Ryeowook, bahkan terkesan memohon.
Yesung tak berbicara, namun pandangannya berkata lain. Menatap dalam dua pasang mata yang kini juga menatapnya. Ia seolah terperangkap pada sorot caramel itu, bahkan Yesung tak menyadari sudah berapa lama ia bertahan dalam posisi dengan kedua siku tangan yang menjadi penyangga tubuhnya untuk tetap berada di atas tubuh Ryeowook.
"Tapi kau sudah lebih dulu membuatku merasakan hal yang kau sebut bodoh itu." Kali ini Yesung bersuara, sebelum ia kembali menekan bibir Ryeowook dengan bibirnya yang basah.
Mereka kembali memulai ciuman itu.
Kedua mata Ryeowook terpejam dengan kepala yang mengadah saat Yesung memagutnya lebih dalam. Kedua bahu Yesung lebih naik hingga ia dalam posisi menekan bibir merah itu untuk lebih mendapatkan apa yang ia inginkan dari ciuman ini. Dengan instingnya, Ryeowok mulai membalas apa yang Yesung lakukan pada dirinya. Kecupan-kecupan yang basah dan terasa bergairah mereka lakukan secara berulang.
Baik Yesung maupun Ryeowook, keduanya tak peduli pada tetes demi tetes saliva yang mengalir di sudut bibir keduanya. Saliva yang menyatu hingga menimbulkan suara kecipak selain erangan tertahan dari mulut Ryeowook.
Mereka pun masih tak peduli saat darah keduanya berdesir hebat hingga menimbulkan perasaan menggelitik. Mereka menyukainya, mereka menikmatinya. Rasa naif dan malu mengakui timbul saat sadar bahwa mereka memang menikmati ciuman panas ini.
Yesung tak peduli walau yang sudah membuatnya menuntut dalam ciuman ini adalah mantan istrinya, Kim Ryeowook. Bibirnya semakin bermain dan lidahnya membelit lidah Ryeowook dalam gerakan menggoda. Menyeruak masuk mengaduk isi mulut Ryeowook yang terasa panas di lidahnya. Membiarkan Ryeowook menelan paksa saliva mereka yang sudah bercambur dan harus mengerang karenanya, yang Yesung akui terdengar seksi dan membuat hasratnya memuncak.
Ryeowook yang terbawa karenanya pun tak peduli. Bagaimana ia harus dibuat mengerang dalam ciuman penuh tuntutan seperti ini, bagaimana tubuhnya yang panas menggeliat saat Yesung mulai melakukan hal lain dengan menggesek dada mereka. Ia hanya mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap lidah Yesung yang semakin bermain dalam mulutnya dan dengan sisa tenaganya meremas helaian rambut namja yang terasa basah di jari tangannya.
Keduanya tak peduli dengan status atau persetan dengan bagaimana kondisi hubungan mereka selama ini.
Ya, mereka tak peduli.
Bahkan, sekalipun pada Kim Heechul yang sejak awal melihat apa yang mereka lakukan.
Mereka sepertinya tak peduli.
Atau mereka— mungkin, masih tak peduli pada Heechul yang kini berpikir; "Oh, sepertinya aku akan mendapatkan cucu baru."
.
.
.
.
My Little Family © Choi RinRi
Super Junior © God, SMEnt, and their parents.
Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, AU, M-Preg.
Don't Like? Don't read!
.
.
[Chapter 8]
Enjoy!
.
.
"Kudengar, membuat variasi tempat memang dapat membuat kesan yang berbeda dalam berhubungan seks. Selain di dalam kamar, di atas kasur."
Dengan diiringi langkahnya yang anggun, ucapannya yang terdengar sederhana dan terkesan menggoda dapat menghentikan semuanya. Dan mungkin, jika tanpa kehadirannya, saat ini tangan terampil putranya itu sudah berhasil mempreteli satu persatu kancing kemeja Ryeowook.
Dengan tergesa, Yesung bangkit dari posisinya. Menjauh dari atas tubuh Ryeowook dan ciumannya yang bahkan hampir memulai pada tahap lain pun berakhir. Kedua matanya dipaksa melebar melihat kehadiran ibunya, yang kini tersenyum penuh arti padanya. Katakan itu adalah seringai.
Ryeowook, yang masih dalam keadaan antara terkejut dan tak percaya dengan kehadiran Heechul yang tiba-tiba pun segera membenarkan diri. Menghapus benang-benang saliva yang masih tertinggal di bibirnya. Wajahnya memerah padam.
"Tapi, sepertinya berhubungan intim di kolam renang atau di dalam mobil lebih menyenangkan dibanding di sofa ruang tengah, terlebih harus menjadi tontonan orang lain." Kali ini Heechul tersenyum jahil, semakin menjadi saat melihat wajah Yesung dan Ryeowook yang memerah padam bahkan sampai ke telinga.
Detik selanjutnya, ia mendudukan tubuhnya di kursi yang berada di samping sofa yang ditempati Yesung dan Ryeowook. Terlihat begitu tenang.
"Jadi... kapan kalian akan membuat Jongie mendapat sebutan Hyung atau Oppa?"
.
"Selamat pagi, nyonya Kim." Dokter muda tersebut berjalan mendekati Luna. Langkahnya yang tanpa bunyi membuat ruangan bernuansa bau obat dan berbagai mesin medis tersebut tetap terasa lenggang.
Luna tersenyum tipis padanya. Tubuhnya masih terasa lemas bahkan hanya untuk menoleh sekalipun.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya dokter muda itu, Im Junhyung namanya. Sejak pertama kali Luna dirawat di rumah sakit ini, ia lah si terpilih tersebut. Ia menjadi pilihan Yesung untuk menangani Luna. Karena ia adalah dokter terbaik disini, dan bagi Yesung hanya orang terbaiklah yang boleh menangangi Luna.
"Lemas, dan membosankan." Ujar Luna, tanggapan tak seriusnya membuahkan tawa pelan dari sang dokter berkacamata tersebut.
Dengan tertata ia menaruh map berisi data-data penting mengenai perkembangan kesehatan Luna. "Itu hal yang wajar terjadi pada pasien yang baru sadar setelah fase kritis. Dan kau salah satunya, salah satu pasien beruntung tersebut. Kukatakan beruntung karena memang begitu kenyataannya."
Luna tersenyum lagi. Ucapan pria tersebut dapat sedikit membuatnya merasa lebih baik, anggaplah itu adalah sebuah hiburan semata baginya. Hiburan bagi pasien leukimia stadium tiga sepertinya.
"Dokter Im," ujar Luna seraya memperhatikan tiap gerak tangan dokter Junhyung yang kini sedang memeriksa tensi darahnya. "saat tidur tadi aku sempat bermimpi."
Pria bermata sipit itu melirik dari balik bingkai kacamatanya. "Oh, ya? Bermimpi apa?"
Sejenak Luna terdiam. Ia tampak memikirkan ulang niatnya untuk menceritakan hal ini. Itu hanyalah mimpi, bunga tidur, tak ada yang spesial. Tapi untuk mimpinya yang kali ini, ia terasa terusik dan batinnya merasakan hal yang lain.
"Aku bermimpi memiliki seorang anak."
Sunyi.
Ruangan yang awalnya memang sudah sunyi semakin sunyi setelah Luna bercerita tentang isi mimpinya. Entah apa yang dipikirkan Junhyung tapi saat itu juga ia menghentikan pergerakannya.
Ini bukan pertama kalinya ia mengenal Luna. Ia sudah cukup lama menangani perempuan tersebut. Walau memang tak dekat dengan Yesung, tapi dari mulut pria berstatus suaminya tersebut ia tahu bahwa selama dua tahun membangun pernikahan hingga kini mereka tidak memiliki seorang anak.
Mungkin Luna masih bisa mengandung, tapi Yesung berkata bahwa ia tak ingin mengambil resiko dengan membuat seorang pasien Leukimia di stadium mendekati akhir tersebut mengandung. Baginya itu terlalu berbahaya, dan Junhyung selaku dokter spesialis di bidang penyakit tersebut pun mengiyakan.
Karena itu, saat Luna berkata bahwa ia bermimpi memiliki seorang anak, Junhyung terdiam dan memikirkan baik-baik kalimat apa yang dapat dipilihnya untuk dijadikan respon. Karena baginya, pembicaraan seperti ini mungkin cukup sensitif untuk Luna.
"Benarkah? Apa anakmu perempuan? Atau laki-laki?" tanya Junhyung, setelah ia menyelesaikan urusannya. Tanpa menatap Luna, ia duduk di samping ranjang wanita tersebut dan berkutat dengan berkas-berkasnya. Mencatat hasil pemeriksaannya.
"Perempuan, sejak dulu aku memang ingin memiliki anak perempuan."
Junhyung mengangguk beberapa kali. Ia cukup sependapat dengan Luna, karena ia pun memiliki impian ingin memiliki satu orang anak perempuan jika saatnya ia menikah nanti.
"Anakku sangat cantik. Rambutnya hitam panjang sepertiku, kedua matanya begitu indah, dan ia memiliki senyuman yang manis. Ia seperti malaikat." Tanpa sadar Luna tersenyum saat menceritakannya. Masih teringat jelas bagaimana rupa anak perempuan di dalam mimpinya tersebut.
"Dia pasti cantik, sepertimu. Bukan begitu?" Junhyung menaikan kacamatanya seraya ikut tersenyum.
Luna mengangguk pelan. "Ya, dia sangat cantik. Dia memanggilku dengan sebutan Umma, dan saat itu aku baru merasakan bagaimana rasanya dapat dipanggil dengan sebutan Umma. Rasanya... membahagiakan."
Walaupun ia seorang namja, tapi ia dapat merasakan apa yang kini dirasakan Luna. Kali ini ia memilih diam. Selain menjadi dokternya, ia ingin menjadi pendengar yang baik saat pasiennya bercerita.
"Tapi, disaat aku merasa bahagia bersamanya, tiba-tiba aku harus berpisah dengannya," Luna menatap langit-langit ruang ICU. Walau suaranya semakin lama semakin terdengar kecil bahkan nyaris berbisik, ia terus bercerita. Bercerita sebanyak yang ia mau.
"Banyak orang yang memisahkan kami. Mereka mengambilnya, membawanya pergi, dan saat itu... aku merasa begitu hancur." Bahkan ketika kini ia sudah terbangun dari tidurnya, rasa sesak itu masih terasa hingga kini. Hingga membuatnya tanpa sadar nyaris menitikan air mata. Pandangannya memburam.
"Uljimma," hanya itu yang dapat Junhyung ucapkan. Baginya, Luna tak hanya sekedar pasiennya. Luna juga adalah temannya. Ditambah umur mereka yang tak jauh berbeda, hanya terpaut satu tahun.
Luna tersenyum, merasa bodoh karena sikapnya yang terlalu terbawa emosi hanya karena sebuah bunga tidur.
"Kau tahu hal berharga apa yang dapat kuambil dari mimpiku ini, Dokter Im?"
Junhyung terdiam, mencoba mencari jawaban walau akhirnya ia tetap bertan pada Luna. "Apa?"
Luna sesaat kembali memperlihatkan senyumnya, senyum yang terlihat begitu rapuh.
"Walaupun di kehidupan nyata aku bukanlah seorang ibu, tapi kini aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang dipisahkan dengan anaknya secara paksa. Dan itu rasanya... menyakitkan."
.
Kali ini Ryeowook dapat melihat dengan jelas, bagaimana rupa wajahnya saat ia sedang malu berat. Wajahnya memerah, tak jauh berbeda seperti kepiting rebus makanan favorite Jongie.
Dengan terburu Ryeowook memutar keran dan membiarkan air mengalir membasahi telapak tangannya. Dengan tergesa ia membasuh muka, dan berharap saat punggungnya menegak ia mendapati wajahnya tak lagi memerah di pantulan cermin kamar mandinya.
Tapi tetap sama, tetap tak berubah. Wajahnya tetap memerah.
Ini gila! Ini memalukan! Ryeowook berulang kali bersumpah serapah dalam hati. Ia sendiri tak tahu apa alasan bodoh hingga ia sampai berbuat sejauh itu dengan Yesung.
Berciuman, ia tak mempermasalahkannya sekalipun itu dengan namja asing yang baru dikenalnya sekalipun. Tapi ini, ia berciuman dengan Yesung! Dengan Kim Jongwon! Dan jelas-jelas keduanya menikmatinya!
Oh, wajahmu semakin memerah, Ryeowook!
Perlahan disentuhnya bibir merah—yang kini bertambah merah karena hasil perbuatan Yesung—itu. Rasa itu, bagaimana Yesung menciumnya, bagaimana Yesung memberi hal baru pada bibirnya, Ryeowook masih dapat mengingat jelas semua itu. Bahkan Ryeowook seolah merasa bahwa kini Yesung masih bermain dengan bibirnya. Menciumnya, memagutnya dengan mesra, melumatnya dan memberinya kesan basah, dan—
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan, Kim Ryeowook?!"
—sekali lagi Ryeowook membasuh mukanya. Kali ini tak berperasaan, bahkan sampai membuat kemeja di bagian kerah hingga dadanya ikut basah karena cipratan air. Jika bisa, ia ingin sekali menenggelamkan wajahnya pada wastafel yang terisi penuh oleh air.
"Dia mencuri ciuman pertamaku!" ujarnya kesal. Tapi sedetik kemudian wajah kesalnya berubah saat menyadari bahwa ciumannya bersama Yesung beberapa waktu yang lalu bukanlah ciuman pertamanya.
Ya, Ryeowook yakin itu. Dan ia sedikit merasa lega karena itu, juga karena ia ingat bahwa ciuman pertamanya saat ia masih duduk di bangku sekolah. Ciuman pertamanya saat ia berada di atas sekolah dan—
Tunggu! Bukankah saat itu juga yang menciummu adalah Yesung, si Kim Jongwoon itu?
Oh, lihatlah betapa buruknya ekspressi Ryeowook saat ia menyadari kebodohan keduanya.
("Jadi, yang mencuri ciuman pertamamu bukan Yesung, tapi Kim Jongwoon— begitu maksudmu, eh, Kim Ryeowook?")
.
Yesung cukup muak dengan Heechul yang sejak awal kedatangannya terus saja tersenyum penuh arti padanya. Ditambah dengan tatapannya yang terlihat sedang menggodanya, atau Yesung katakan lebih tepat sedang mengejeknya.
Sejak insiden Heechul yang memergokinya sedang—Yesung tidak mau menyebutkannya secara jelas—melakukan sesuatu bersama Ryeowook di ruang tengah, layaknya para remaja yang tertangkap basah sedang memadu kasih di dalam hotel oleh petugas keamanan, Yesung hingga saat ini merasa dunianya jatuh menghantam begitu keras.
Oh, demi apapun, gengsi yang selama ini sudah dibangunnya susah payah dan diangkatnya tinggi setinggi langit pun kini runtuh hanya karena aktifitas berduasi sekitar 15 menit itu. Dan kenapa harus Heechul yang melihatnya? Orang yang selalu menggodanya dan bersikap menjadi cupid yang ingin membuatnya rujuk kembali bersama Ryeowook?!
Bahkan Yesung masih mengingat jelas bagaimana bahagianya raut wajah Kim Heechul itu, ibunya yang cantik seperti cinderella namun kejam seperti ibu tiri.
Tapi kini ia dapat bernafas lega, dan ia harus berterima kasih pada Jongie. Putra kecilnya itu terbangun dari tidurnya, yang beruntungnya terbangun disaat pertengkaran adu mulut bagian pertama dan adu mulut bagian kedua dalam artian lain bersama Ryeowook sudah berakhir.
Karena memang niat awalnya datang ke rumah Ryeowook ingin mengajak Jongie jalan-jalan, Heechul dengan riangnya menghampiri Jongie dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar anak laki-laki itu. Dan malangnya Jongie yang tak tahu apa-apa, yang masih dalam keadaan mengantuk bahkan tangannya masih sibuk mengucek kedua matanya, harus mau tak mau menerima terjangan neneknya yang mengganti bajunya.
Dan detik kemudian anak polos berusia memasuki lima tahun itu sudah berhasil 'diculik' oleh Heechul. Mereka berdua akan menghabiskan hari minggu ini dengan jalan-jalan sampai puas. Misi berhasil.
"Astaga!" Yesung terkejut saat Ryeowook membuka pintu kamar mandi dan berteriak di hadapannya. "A-apa yang kau lakukan disini?!" tanya Ryeowook kemudian, masih diliputi rasa terkejutnya karena kehadiran Yesung yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mandi. Berdiri menghadap pintu kamar mandi dengan wajah datarnya.
"Menunggu agar aku bisa masuk ke kamar mandi... dan segera bercermin."
Satu alis Ryeowook terangkat mendengarnya. "B-bercermin?" tanya Ryeowook. Dan ia tak tahu sejak kapan cara bicaranya terdengar gugup seperti ini jika di hadapan Yesung.
"Aku ingin melihat bagaimana wajahku saat sedang malu karena—"
"Y-ya! Apa sih yang ada di kepala besarmu itu?!" potong Ryeowook cepat, wajahnya terlihat memerah padam. Lagi, lagi, dan lagi ia dibuat memerah seperti ini. "Hanya orang bodoh yang mau melakukan hal seperti itu!"
Yesung tak dapat menangkap maksud ucapan penuh nada tinggi yang Ryeowook berikan padanya. Karena itu ia hanya diam. Menatap Ryeowook yang bernafas dengan tak beraturan, dan kemudian membiarkan Ryeowook melangkah pergi dengan sebelumnya menyenggol pundaknya entah sengaja atau tidak.
Yesung tak peduli, yang lebih ia utamakan adalah kamar mandi di hadapannya ini agar ia dapat segera melakukan tujuannya.
Bercermin di hadapan cermin.
Melihat bagaimana merahnya wajahnya saat sedang malu.
Lalu membasuh mukanya saat pikiran bodoh bersarang di otaknya.
Dan berharap saat punggungnya menegak wajahnya tak lagi memerah.
Kegiatan yang baru saja Ryeowook sebut bodoh. Dan juga kegiatan yang baru saja Ryeowook lakukan.
.
Memasak adalah hal yang paling Ryeowook sukai. Dan memasak adalah kegiatan yang sering ia lakukan disaat dirinya merasa penat. Kali ini ia melakukannya, siang ini Ryeowook sudah berkutat di dapur dan memasak sesuatu. Dan kali ini juga ia memasak bukanlah karena rasa penat, ia memasak karena ingin mengalihkan pikirannya yang kacau dan mengisi perutnya yang memang berteriak meminta diisi.
Ingatkan dirinya yang memang belum mengisi perutnya sedikitpun sejak pagi. Karena Ryeowook memang awalnya ingin memasak di rumah Donghae yang pasti berakhir dengan makan siang bersama. Dan semua itu kacau karena si Kim Jongwoon itu, orang yang Ryeowook anggap sebagai orang paling menyebalkan nomor satu di dunia.
Baru saja ia memikirkannya, tiba-tiba si menyebalkan nomor satu di dunia itu sudah berdiri di belakang Ryeowook. Memperhatikan apa yang sedang ia lakukan dengan seksama. Ryeowook merutuki dirinya yang merasa berdebar sekencang ini hanya karena kehadiran mantan suaminya tersebut. Dan ia melampiaskan rasa kesalnya itu pada spatula yang ia gunakan.
"Kau sedang memasak atau... memukul genderang perang?" Yesung menatap heran Ryeowook yang membelakanginya.
"Apa pedulimu?!" tanya Ryeowook ketus.
Yesung bingung dengan sikap Ryeowook. Ia sudah mengenal Ryeowook bukan sehari atau dua hari, ia sudah mengenal lelaki itu sejak mereka masih sama-sama di bangku sekolah. Ia sudah hafal bagaimana watak dan sikap Ryeowook. Ia tahu bagaimana saat Ryeowook marah, kesal, cemberut, tapi ia tak pernah melihat wajah Ryeowook semerah itu saat sedang kesal seperti ini. Apa Ryeowook benar-benar marah, ya? Pikir Yesung.
"Wajahmu memerah."
Ryeowook dibuat bungkam saat Yesung berkata seperti itu. Ternyata tak hanya jantungnya saja yang berdetak lebih cepat, kini wajahnya pun ikut memerah. Kau ini kenapa, sih, Ryeowook?
"Apa maumu?! Sudah, menjauh sana!" usirnya, buru-buru ia mematikan kompor dan menaruh masakannya di atas piring. Saat ia menyadari masakan yang ia buat terlalu banyak dan menghasilkan dua porsi, Ryeowook sedikit ragu untuk mengambil satu piring lagi.
Di rumah ini hanya ada dirinya dengan Yesung, dan namja itu kini berdiri di belakangnya tanpa alasan. Dan jika Ryeowook mengambil satu piring lagi, ia takut jika Yesung akan merasa berbesar hati karena dibuatkan makanan olehnya. Jangan harap, ya! Pikir Ryeowook.
Tapi akhirnya Ryeowook menghela nafas, kemudian menoleh ke arah Yesung. "Kau... apa kau sudah makan?" ia memilih menunduk, rasanya jantung sialan itu berdetak kencang saat ia harus bertatapan langsung dengan Yesung. Dan Ryeowook tidak mau mengakuinya.
Yesung memperhatikan Ryeowook yang kini mengambil satu piring lagi dan membagi makanan yang ia buat menjadi dua porsi. Membuat Yesung mengerti kenapa Ryeowook bertanya seperti itu. Sebuah pertanyaan yang awalnya Yesung berpikir butuh seribu tahun lagi untuk membuat Ryeowook dapat bertanya hal seperti itu.
"Belum."
Dan pada akhirnya Yesung berbohong.
Ia sudah makan, sarapan lebih tepatnya. Ia pun masih merasa kenyang. Tapi saat dirinya melihat Ryeowook memasak dan masakannya itu ditawarkan padanya, ia merasa tak boleh untuk melewatkannya.
Ryeowook mengangguk singkat, tanpa berbicara ia membawa dua piring makanannya dan berjalan menuju meja makan. Yesung mengikutinya, dan ia mengambil tempat disana. Duduk di kursi meja makan dan membiarkan Ryeowook menaruh piring makanannya di atas meja.
Bahkan tak hanya itu, Ryeowook pun menuang air pada gelas kosong di samping piringnya. Ryeowook seakan memperlakukannya sebagai seorang suami.
Suami... suami dari Kim Ryeowook...
"Wajahmu memerah, apa itu karena masakanku tidak enak?" selidik Ryeowook. Memperhatikan Yesung yang duduk di hadapannya.
"Jangan merasa banyak tahu." Yesung menunduk, memperhatikan piringnya. "lagipula aku belum mencobanya."
Ryeowook hanya membulatkan mulutnya sebagai respon. Ia memilih menyendok makanannya dan memakannya dalam diam, Yesung pun begitu.
"Ngomong-ngomong—"
Yesung dan Ryeowook terdiam. Cukup terkejut saat keduanya baru saja berbicara di waktu yang sama.
"Kau lebih dulu," ujar Yesung
"Tidak, kau saja lebih dulu." Ujar Ryeowook.
Dan keduanya benci saat terjebak dalam situasi seperti ini. Situasi penuh kecanggungan. Mereka bahkan lebih memilih untuk bertengkar sepanjang hari dibanding diam dalam suasana canggung.
Ryeowook tahu ini, ia pernah melihatnya di beberapa drama romansa remaja di televisi. Saat dua pemain utama itu tanpa sengaja berbicara dalam waktu yang sama. Ah, ternyata ada juga ya di kehidupan nyata seperti ini.
"Ngomong-ngomong... apa kan dan Lee Donghae memang menjalin hubungan?"
Ryeowook nyaris tersedak saat Yesung bertanya hal itu. Ia mengambil minum dan menandaskannya hingga setengah. Pertanyaan Yesung benar-benar membuatnya ingin melempar sendok ke arahnya.
"Kenapa bertanya hal itu?" Ryeowook mendelik.
Yesung mengangkat bahunya. "Memangnya tidak boleh? Jawab saja."
Ryeowook mendengus, kemudian meraih alat makannya dan menyiapkan suapan selanjutnya. "Kami hanya berteman biasa." Jawabnya tanpa menatap Yesung.
"Oh," Yesung tak pernah merasa selega ini saat menerima satu fakta. Dan kini ia merasakannya, hanya karena ucapan Ryeowook tentang hanya berteman biasa itu. "tadi kau ingin bicara apa?"
"Itu... bagaimana keadaan Luna?"
"Ada angin apa sampai kau menanyakan kabar istriku?"
Ryeowook mendengus dengan wajah yang terlihat kesal. Terlebih saat Yesung berkata istriku dengan manisnya, hal itu membuatnya merasa muak.
"Hanya bertanya," walau sebenarnya tak hanya itu.
Ryeowook hanya takut, disaat nanti Luna sadar bahkan dibolehkan keluar dari rumah sakit, Yesung akan semakin gencar untuk mencoba membawa Jongie pergi darinya. Ia tahu bahwa itu adalah keinginan Luna, ia tahu bahwa selama ini Yesung pun mengiyakannya karena ia ingin merasakan bagaimana memiliki keluarga yang sempurna.
Karena ia pun tahu, Yesung hanya tak ingin Jongie merasakan bagaimana hidup sebagai anak broken home sepertinya dulu. Yesung hanya ingin membuat Jongie merasakan mendapat perhatian yang utuh dari kedua orang tuanya.
Ryeowook tahu niat Yesung dan Luna adalah untuk kebaikan Jongie, yang dalam bersamaan membuatnya merasa sakit karena harus kehilangan Jongie.
Kim Jongie.
Putranya.
Satu-satunya hal paling berharga dalam dirinya.
Sebut ia jahat karena secara tak langsung ia tak menginginkan kesembuhan Luna yang membuatnya merasa ketakutan untuk kehilangan Jongie. Tapi itu karena Ryeowook tak ingin berpisah dengan Jongie, bukankah itu hal wajar untuk dirasakan seorang ibu?
Yesung tak menjawab karena sebuah panggilan di terimanya. Dari caranya berbicara, Ryeowook dapat menebak bahwa panggilan itu dari rumah sakit. Dan itu berhubungan dengan Luna.
"Panggilan ini menjawab pertanyaanmu," Yesung menaruh ponselnya ke dalam saku, "Luna baru saja sadar dan dokter sudah memindahkannya ke ruang rawat inap."
Ryeowook tersenyum tipis, "O-oh, baguslah..." kemudian ia melanjutkan acara makannya.
Yesung menganguk. Walau belum menyelesaikan makanannya, ia memilih menyudahinya dan meminum air.
"Sudah harus pergi ke rumah sakit?" Ryeowook bertanya dengan mata yang menatap ke bawah.
Yesung yang berdiri dari tempatnya dan kini memakai jaketnya pun mengangguk sekilas. "Ya," katanya.
Kemudian sunyi.
Tak ada pembicaraan lebih lanjut di antara keduanya.
Yesung berjalan begitu saja meninggalkan ruang makan, dan itu membuat perasaan sulit di artikan kembali dirasakan Ryeowook. Ia membenci perasaan ini, peraaan tak ingin sendiri.
Ryeowook menunduk, kedua matanya terpejam rapat. Satu tangannya menggenggam dengan erat sendok makan ditangannya. Bibir bawahnya ia gigit kuat, Ryeowook ingin sekali menangis tapi ia tak tahu untuk apa. Rasanya sesak, seperti diremas dan membuatnya sulit untuk bernafas secara normal.
"Ryeowook,"
Ia cukup terkejut saat tiba-tiba Yesung sudah kembali berada di dekatnya. Berdiri disampingnya, terlebih baru saja memanggil namanya. Ryeowook menoleh dan menatapnya penuh heran.
Cup.
Tanpa diduga Yesung menciumnya, tepat di keningnya.
"Aku... ngg... pergi dulu," Yesung berbicara disaat ia mencoba mengendalikan dirinya. Entah mengapa lidahnya terasa kaku. "nanti aku akan kembali. Jaga dirimu." Setelahnya Yesung pun kembali pergi. Meninggalkan Ryeowook yang masih termangu di tempatnya.
Pandangan Ryeowook terasa kosong. Ia masih cukup terkejut dengan apa yang baru saja Yesung lakukan pada keningnya. Tangannya perlahan menyentuh keningnya, dan itu terasa nyata. Yesung memang baru saja menciumnya, dan ini bukan mimpi, khan?
Dan entah untuk keberapa kalinya, Yesung berhasil membuat Ryeowook memerah padam— yang tanpa Ryeowook ketahui jika selama di perjalanan Yesung harus menyetir mobilnya dalam keadaan wajah yang tak kalah memerah darinya.
.
"Nemo Ahjussi!"
Donghae menoleh mendengar panggilan yang cukup familiar untuknya. Dan tebakannya memang benar, diantara orang-orang yang berlalu lalang di pusat perbelanjaan ini, ia dapat melihat Jongie. Tak hanya sendiri, ia juga melihat Heechul bersamanya. Keduanya berjalan menghampirinya yang kini bersama Hyukjae.
"Halo, Jagoan! Tidak kusangka kita bisa bertemu disini." Donghae mengusap rambut Jongie dengan gemas. "Annyeong, Heechul Ahjumma. Kalian hanya berdua saja?" tanya Donghae setelah membungkukan badannya.
Heechul tersenyum manis, "Ya, seperti yang kau lihat." Jawabnya. "Halo, anak manis!" Heechul mencubit pelan pipi Hyukjae. Mendapat perlakuan manis tersebut membuat pipi Hyukjae merona. Heechul yang melihat sikap malu-malu putra Lee Donghae itu dibuat tertawa.
"Bagaimana kalau kita mengobrol di kafetaria? Aku yang akan mentraktir kalian semua!" tawar Heechul penuh semangat.
"Apa anda yakin? Porsiku dan porsi Hyukjae sangat banyak, lho!" Donghae tertawa hingga membuat kedua matanya menyipit.
Hyukjae yang berdiri di samping Donghae pun mengangguk-anggukan kepalanya antusias. "Ne! Hyukjae ingin ice cream ukuran jumbo! Ice cream strawberry!" ucapnya semangat.
"Jongie juga mau!" kali ini Jongie tak ingin kalah.
"Oh, baiklah, saat ini aku seperti sedang mengurus tiga orang bocah laki-laki." Dan ucapannya mengundang tawa Donghae lagi.
Mereka pun memutuskan untuk makan di salah satu kafetaria dan memesan apa yang mereka inginkan. Seperti biasa, Hyukjae tak pernah ingin jauh dari ayahnya. Ia mengambil tempat di samping Donghae. Sedangkan Heechul di hadapan Donghae dan Jongie duduk di sampingya.
"Ahjussi! Ahjussi! Hari ini aku senang sekali, lho!" Jongie memperlihatkan cengiran lebarnya seraya menarik-narik ujung kemeja Donghae.
"Oh, ya? Kenapa?" tanya Donghae. Ia tersenyum pada pelayan yang baru saja membawa pesanan makanan mereka.
"Hari ini aku jalan-jalan terus! Tadi pagi aku jalan-jalan bersama Appa, dan sekarang Jongiae jalan-jalan bersama Halmoni. Lihat ini! Jongie dibelikan robot yang super oleh Halmoni!" dengan semangat Jongie meraih paper bag dan mengeluarkan mainan terbarunya, memamerkannya di depan Donghae dan Hyukjae dengan bangganya.
"Waaaa! Itu keren, Jongie!" kagum Hyukjae. Semakin membuat Jongie bangga dan ia tersenyum lebar.
Heechul yang melihat kelakuan cucu kesayangannya itu hanya menggelengkan kepala, sedangkan Donghae tertawa dan terlihat antusias mendengarkan celotehan Jongie.
"Jongie, Jongie, aku juga dibelikan sesuatu oleh Appa." Kali ini Hyukjae tak ingin kalah, ia memamerkan benda yang baru saja dibelinya bersama Donghae beberapa menit yang lalu. Sebuah boneka berukuran sedang berbentuk ikan badut, atau Jongie lebih sering menyebutnya dengan sebutan ikan Nemo.
"Lucu sekali, Hyukjae! Mirip dengan Nemo Ahjussi!" ujarnya diselingi tawa.
Hyukjae ikut tertawa mendengarnya, "Ne, aku membeli ini supaya dapat memeluknya disaat aku merindukan Appa. Kadang Appa sibuk bekerja!" Hyukjae mengecurutkan bibirnya, membuat Donghae gemas dan memberinya satu kecupan di bibirnya.
Hyukjae yang pemalu dan kadang lebih banyak memilih diam, jika bersama Jongie ia jadi banyak berbicara. Donghae cukup senang akan hal itu. Jongie yang cerewet dapat memberikan pengaruh baik pada Hyukjae. Dan lihatlah, kedua anak lelaki itu mulai larut dalam obrolan mereka seputar mainan-mainan terbaru yang mereka anggap super.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Ryeowook?" tanya Donghae pada Heechul.
"Dia baik-baik saja, memangnya ada apa?" tanya Heechul.
Donghae pun menceritakan semuanya. Mulai dari rencana awalnya yang menjemput Ryeowook untuk dibawanya ke rumah, kemudian Yesung yang membatalkan niatnya dan pertengkaran itupun terjadi. Pertengkaran antara Yesung dan Ryeowook. Saat ia bercerita, Heechul justru terlihat tertawa.
"Oh, jadi semua itu berawal darimu, Hae?" tanya Heechul, masih diselingi tawa renyahnya. "Ryeowook baik-baik saja, Yesung pun begitu. Semuanya baik-baik saja, bahkan bisa dibilang lebih dari kata baik-baik saja."
Donghae terdiam sesaat, mencerna maksud ucapan Heechul. Walau ia tak mengerti, akhirnya ia lebih memilih tersenyum dan mengangguk. Setidaknya, yang terpenting keadaan Ryeowook baik-baik saja. Sahabatnya itu tak akan lagi membuatnya khawatir.
"Appa, Appa!" Hyukjae menarik-narik lengan Donghae. Membuat Donghae kini memfokuskan perhatiannya pada Hyukjae. "Jongie bilang ia akan memiliki seorang adik, aku juga mau seperti Jongie!"
"E-eh?" satu alis Donghae terangkat saat mendengarnya.
"Ne, Nemo Ahjussi! Halmoni bilang, sebentar lagi akan ada baby di rumah Jongie! Jongie akan menjadi seorang kakak!"
"Tuh, kan, Hyukjae juga ingin punya adik!" Hyukjae yang mendengar penuturan Jongie semakin dibuat menggebu untuk meminta seorang adik pada Donghae.
Donghae dibuat bingung, ia menoleh pada Heechul. Dan namja itu terlihat tertawa begitu puas.
.
"Untuk saat ini kita dapat bernafas lega, karena pasien Luna dapat melewati fase kriitisnya." Junhyung menatap Yesung yang duduk di hadapan meja kerjanya. "jika hal ini kembali terjadi, operasi penggantian sumsum tulang belakang memang harus segera dilakukan."
Yesung terlihat serius mendengarkan setiap ucapan dokter muda tersebut. "Jadi, kapan Luna bisa dibolehkan untuk pulang?" tanyanya.
"Kira-kira, sekita tiga atau empat hari lagi." Katanya. Junhyung mulai sibuk menulis beberapa resep obat yang harus ditebus Yesung.
Setelah obrolan singkatnya dengan dokter Junhyung, Yesung memutuskan untuk pamit menemui Luna yang kini sudah dipindah ruang.
Saat membuka pintunya, ia dapat melihat Luna yang sedang berbaring. Televisi menyala, tapi tatapan Luna tak terarah padanya. Pandangannya terlihat kosong, wanita itu melamun, bahkan hingga tak menyadari kehadiran Yesung di ruang inapnya.
"Luna," Yesung mengambil tempat di samping ranjang Luna. Dan butuh sekitar dua kali panggilan hingga akhirnya Luna menoleh ke arahnya.
"Ah, Oppa?" Luna tersenyum kecil, "Oppa, darimana saja?"
Yesung tersenyum setengah hati, "dari rumah Ryeowook, Jongie tidak ingin ditinggal." Ia beralasan.
Luna mengangguk pelan. Sejenak ia menutup mata, menikmati usapan lembut yang Yesung berikan di tangannya.
"Oppa," panggil Luna, suaranya terdengar parau.
"Ya?" Yesung memperhatikan Luna dengan seksama.
"Siapkan saja surat perceraiannya."
Hening. Jeda setelah kalimat itu terucap, Yesung dibuat terdiam. Bahkan usapan di tangannya pun berhenti.
Yesung menatap tajam Luna, "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Jika aku dibolehkan pulang dari rumah sakit... aku ingin kita segera mengurus surat perceraian kita." Luna menarik nafas dalam, dalam situasi seperti ini rasanya sulit sekali untuk bernafas. Rasanya seperti tercekat.
"Kita bercerai saja, Oppa."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Terimakasih sudah selalu setia menunggu kelanjutan MLF. Senang rasanya selalu dinanti :") Saya tidak pernah menyangka antusias kalian sebesar ini. Terimakasih atas kesetiaan kalian! Saya akan selalu berusaha sebaik mungkin! :D
Oke, disini YeWook sudah mulai akur ya. Kalau dilihat-lihat mereka itu seperti remaja-remaja yang malu-malu dalam urusan cinta lol. Ya, mungkin tinggal beberapa chapter lagi yang harus saya selesaikan dan MLF pun tamat. Doakan saja! :D
Terimakasih banyak, dan akhir kata review ya! :D
(ps: Saya bukan mahasiswa kedokteran, saya hanyalah seorang pelajar, jadi mohon maaf jika banyak kesalahan dalam penjabaran tentang kedokteran dan bahkan lebih dikategorikan ngawur. Saya mohon maaf dan harap dimaklumi :D )
